Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian

Pringsewu, PMII Cabang Tegal. Ratusan pelajar MAN Pringsewu sejak awal menyatakan penolakannya atas kunci jawaban gelap dengan acara istighotsah di masjid Jabal Nur Kompleks MAN Pringsewu, Jumat (11/4). Untuk kepercayaan diri, mereka berdoa bersama, bersembahyang sunah hajat, dan persiapan belajar intensif sebelumnya.

Dalam menghadapi UN, pelajar tidak boleh mencukupkan pada persiapan fisik semata. Persiapan mental, kata Kepsek MAN Pringsewu Samsurizal, juga sangat perlu.

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian

Samsurizal mengimbau seluruh siswa-siswi peserta UN 2014 untuk tidak percaya kepada kunci jawaban dan menyesatkan. Karena, kunci jawaban disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan motif mengambil keuntungan pribadi.

PMII Cabang Tegal

"Yakinlah kepada kemampuan sendiri. Yakinlah Allah akan menolong kalian. Yakinkan di hati bahwa kita mampu karena Allah menolong kita," tegas Samsurizal dalam sambutannya.

PMII Cabang Tegal

Di akhir sambutan, Samsurizal tidak lupa berpesan kepada siswa-siswi MAN Pringsewu untuk meminta doa dan restu semua pihak terutama kedua orang tua dan seluruh dewan guru agar diberi kemudahan dalam UN dengan hasil maksimal.

Istighotsah ini diawali dengan sembahyang sunah hajat dan ditutup dengan doa pendek yang dipimpin seorang guru Sofwan. Sebelum bubar, mereka berjabat tangan dengan dewan guru MAN Pringsewu. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Halaqoh, Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah PMII Cabang Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji!

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Sebagai salah satu rukun kelima dalam Islam, ibadah haji wajib dilakukan oleh setiap umat Islam. Namun kewajiban itu hanya diperuntukkan bagi yang mampu (mustathî‘), baik secara ekonomi, fisik, maupun keamanan. Rasulullah mewanti-wanti bagi mereka yang mampu tapi tak mau melaksanakannya.

“Tapi bagi yang tidak mampu, juga jangan memaksakan diri,” kata KH Muhaimin Zain saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid An-Nahdlah, di Lantai 1 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (12/9).

Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Memaksakan Diri Berangkat Haji!

Menurut ketua umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh Nahdlatul Ulama (JQHNU) ini, untuk memenuhi kewajiban haji tak boleh mengorbankan kewajiban lain, seperti memutus keberlangsungan matapencaharian atau mengganggu terpenuhinya kebutuhan dasar.

“Tidak boleh menjual modal usaha. Tida menjual tanah yang menjadi kebutuhan inti. Tidak boleh menjual yang menjadi kebutuhan keluarga,” tuturnya.

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Kiai Muhaimin dalam kesempatan itu juga menjelaskan tentang perjalanan haji sebagai simbol keseteraan semua manusia. Di tanah suci, hamba Allah dari berbagai penjuru dunia berkumpul tanpa membedakan jabatan, status sosial, kelas ekonomi, ras, atau bangsa.

“(Semua) memakai pakaian dua lembar yang sama, mengucapkan kalimat yang sama, dan melakukan amalan yang sama,” katanya.

Momen Idul Adha ini, lanjutnya, juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang hampir tak pernah makan daging selama setahun karena tak mampu membelinya. Merekalah para fakir dan miskin. Momen tersebut berlangsung hingga hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) selesai.

“Jangan sampai kita terus menyimpan daging untuk diri sendiri. Jika hari tasyriq masih ada kelebihan daging, maka harus dibagikan kepada tetangga,” pintanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Daerah, Halaqoh PMII Cabang Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Bandung, PMII Cabang Tegal

Bencana yang datang di Indonesia secara bertubi-tubi telah menimbulkan korban dengan jumlah yang luar biasa besarnya seperti yang terjadi di Aceh, Pengandaran Jogja dan lainnya. Besarnya korban tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana.

Upaya untuk menghadapi bencana tersebut harus dilakukan oleh semua fihak, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) Dr. Syahrizal Syarif PhD. mengungkapkan bahwa masyarakat atau komunitas memiliki peranan penting dalam mengantisipasi dan menangani terjadinya bencana.

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Nahdlatul Ulama yang memiliki banyak pesantren yang merupakan sumber rujukan masyarakat dalam berbagai hal bisa juga berperan dalam mengantisipasi terjadinya bencana. “Makanya sekarang harus digalakkan pesantren siaga bencana,” tandasnya dalam acara workshop Penanganan Bencana Berbasis Pesantren yang diselenggarakan oleh LPKNU di Bandung, Rabu.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua PBNU HM Rozy Munir. Pesantren yang memiliki kohesifitas dan jaringan luas di seluruh Indonesia merupakan modal penting yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi terjadinya bencana.

Sementara itu wakil rektor ITB bidang pendidikan Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI mengungkapkan bahwa kondisi  alam Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Karena itu kehidupan masyarakat harus dibangun dengan budaya hidup dengan bencana seperti gempa.

PMII Cabang Tegal

Ia mencontohkan negara Jepang yang sangat sering terjadi gempa dan masyarakat disana sejak usia dini sudah dikenalkan bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa yang bisa datang sewaktu-waktu. Pemerintah juga telah mensosialisasikan standard prosedur yang harus dilakukan oleh penduduk ketika terjadi bencana seperti tsunami sehingga bisa meminimalisir jumlah korban.

Lemahnya kesadaran terhadap bencana juga diakui oleh wakil gubernur Jabar H. Nu’man Abdul Hakim yang membuka acara tersebut. Mantan aktifis PMII tersebut menceritakan saat terjadi gempa yang mengguncang Jakarta beberapa waktu lalu. Saat itu, ia sedang berada di gedung DPR RI. “Ada gempa, orang-orang malah lari ke lift, bukannya ke tangga darurat. Mereka tidak tahu protapnya (prosedur tetap) bagaimana kalau ada bencana,” tandasnya.

Kondisi yang terjadi di kalangan elit Indonesia ini tentu menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Jika elitnya saja tidak faham bagaimana menghadapi bencana, bagaimana dengan rakyatnya?

Banyak masalah yang belum terselesaikan dalam mengantisipasi terjadinya bencana di Indonesia. Banyak daeah yang belum memiliki peta rawan bencana, siapa yang berhak mengumumkan akan terjadinya suatu bencana sampai dengan masalah dana untuk mengatasi bencana.

PMII Cabang Tegal

Beberapa daerah yang sudah memiliki peta rawan bencana adalah Malang dan Jakarta. Sementara Padang sudah membuat perda untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang diantara isinya adalah saat terjadi tsunami, gedung bertingkat tiga ke atas menjadi milik publik yang bisa diakses siapa saja sehingga setiap orang bisa berlindung disana dan radio-radio lokal dibawah koordinasi pemerintah.

Workshop kali ini merupakan rangkaian awal dari upaya mempersiapkan pesantren di daerah rawan bencana agar bisa membantu mulai dari mengantisipasi sampai dengan penanganan pasca bencana. Tiga pesantren yang masing-masing mewakili daerah rawan bencana, PP Nurul Islam Jember berkaitan dengan tsunami dan longsor, PP Darussalam Magelang berkaitan dengan gunung meletus dan PP Assidiqiyah Jakarta berkaitan dengan banjir dan kebakaran. Sejumlah badan otonom dan lembaga yang berkaitan dengan penanganan bencana juga terlibat dalam acara tersebut. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Halaqoh, Sejarah PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Perintis Radio NU Soloraya ini Mantan Anggota MTA

Karanganyar, PMII Cabang Tegal. Kiai Parsono Agus waluyo saat ini dikenal sebagai salah satu tokoh penggerak NU di kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar selain dakwahnya lewat radio, majalah, dan kaset. Ia mempunyai jama’ah pengajian rutinan yang tersebar di berbagai daerah di Kabupaten Karanganyar. Namun siapa sangka kiai yang menjadi perintis berdirinya radio NU di Soloraya ini dulunya adalah anggota Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), salah satu organisasi yang sering bersebrangan dengan NU.

“Dahulu saya sekolah STM saja, kemudian saya di datangi oleh para santri yang tergabung dalam ISKAR (Ikatan Santri Karanganyar) dan diajak untuk nyantri di pesantren. Awalnya ajakan tesebut saya abaikan dan saya memilih untuk ikut MTA,” ujar kiai Parsono saat bercerita di kediaman PMII Cabang Tegal, Selasa (29/4).

Perintis Radio NU Soloraya ini Mantan Anggota MTA (Sumber Gambar : Nu Online)
Perintis Radio NU Soloraya ini Mantan Anggota MTA (Sumber Gambar : Nu Online)

Perintis Radio NU Soloraya ini Mantan Anggota MTA

Tetapi saya salut dengan kegigihan ISKAR pada saat itu, meski sudah mengetahui bahwa saya telah ikut MTA, mereka tak segan mendatangi saya lagi dan mengajak untuk nyantri dengan ajakan yang baik dan menarik, lanjutnya.

Hingga akhirnya saya terbujuk untuk nyantri di pesantren Ringin Agung Pare Kediri Jawa Timur. Di pesantren saya mengembangkan ketrampilan elektro yang saya peroleh dengan membuat radio, Alhamdulillah usai boyong dari pesantren radiolah yang menjadi salah satu sarana dakwah NU yang saya lakukan.

Dan brosur serta rekaman selama saya MTA pun saat ini masih ada, namun saya tak ingin memperdebatkannya karena yang terpenting saat ini adalah terus memasang strategi untuk mengembangkan dakwah Aswaja ala NU, pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Anam)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Syariah, Halaqoh PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Sudah bangsa Indonesia kembali ke khittah kebudayaan dengan tetap menjaga sikap kritis. Maka IKA-PMII menawarkan, konsep pribumisasi kebudayaan yang berangkat dari prinsip al-muhafadhatu ‘alal-qadim as-shalih, melestrarikan tradisi yang baik.

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan

Kedua IKA-PMII menilai bahwa modernitas dan tradisionalitas tidak didudukkan secara berhadap-hadapan, tapi komplementer, saling melengkapi. Ini berangkat dari prinsip wal-akhdu bil-jadid al-ashlah, mengambil hal baru yang lebih baik.

Demikian Ngatawi al-Zastrouw menyampaikan hasil pembahasan tim materi panitia Munas Ikatan Alumni (IKA) PMII dalam aspek kebudayaan pada Rabu (26/6).

PMII Cabang Tegal

Tawaran IKA PMII dalam aspek kebudayaan yang dikemas dalam acara Pra Munas ke-5 di Gedung Kunthi Wanitatama, Yogyakarta itu berangkat dari pembahasan panjang tentang tiga strategi yang digunakan penjajah dalam menghancurkan kebudayaan Indonesia. 

PMII Cabang Tegal

“Ada tiga strategi yang digunakan penjajah dalam menghancurkan kebudayaan. Pertama, dimasukkannya sistem sekolah dalam pendidikan. Sehingga spiritualitas dianggap beban dan penghambat kemajuan.

Kedua, hegemoni pencamplokan tradisionalitas. Tradisionalitas dan spiritualitas didudukkan secara berhadap-hadapan. Sehingga keduanya tidak akan pernah bersanding. 

Ketiga, brain wash (pencucian otak, red.) melalui media massa dan sebagainya yang semuanya menggunakan standar modernitas,” tuturnya di tengah hadirin yang menyesaki ruangan.  

Pihaknya mengungkapkan pula bahwa konstruksi kebudayaan Indonesia pada dasarnya adalah rasionalitas dan spiritualitas. Tapi hal itu telah digerus oleh kebudayaan barat yang hanya mengandalkan rasionalitas. Padahal  hati atau rasa dan laku atau budi pekertilah yang melahirkan kebudayaan nusantara.

“Kemudian para wali datang dan dilakukan konstruksi ulang. Mereka melakukan rajutan kebudayaan. Menyatu tapi tidak melebur,” imbuhnya.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Halaqoh, Budaya PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Tertarik Islam Indonesia, Al Azhar akan Buka Studi Islam Berbahasa Indonesia

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Salah satu perguruan tinggi ternama di Mesir, yaitu Universitas Al-Azhar Kairo, ingin membuka jurusan Bahasa Indonesia. Keinginan ini tidak terlepas dari keterikan civitas akademika Universitas Islam tertua itu terhadap kajian Islam Indonesia yang damai dan harmonis.

Tertarik Islam Indonesia, Al Azhar akan Buka Studi Islam Berbahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertarik Islam Indonesia, Al Azhar akan Buka Studi Islam Berbahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertarik Islam Indonesia, Al Azhar akan Buka Studi Islam Berbahasa Indonesia

Hal ini terungkap saat Kafilah Majelis Hukum Al Muslimin Universitas Al-Azhar Kairo diterima Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Jakarta, Jumat (03/07) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.?

“Al-Azhar serius untuk menyebarkan Islam Wasathiah di daratan Afrika dan Bumi Barat. Namun, melihat kenyataan bahwa Indonesia merupakan salah satu tempat yang harmonis, moderat, dan damai Islamnya, Syaikh al-Azhar berharap, Universitas al-Azhar bisa menimba ilmu di Indonesia,” terang Saeed Atia Ali mewakili Kafilah.

PMII Cabang Tegal

Kafilah Mesir ini ? terdiri atas Saeed Atia Ali, Hosny Metwally dan Ahmed Shaykowy. Mereka bersilaturahim ke Kementerian Agama dengan didampingi Duta Besar Mesir untuk Indonesia Bahaa Dessouri, Konsellor Ahmed Eid, dan Pembina Ikatan Alumni Al-Azhar Kairo Quraish Shihab. Ikut hadir mendampingi Menag, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Muchtar Ali, Kabiro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri (KLN) A Gunaryo, Kabag TU Pimpinan (Sesmen) Khoirul Huda, dan Kabid KLN Agus Sholeh.

“Selain itu, ada keinginan dari al-Azhar untuk membuka Jurusan Bahasa Indonesia, yakni Studi Islam Dengan Bahasa Indonesia,” tambah Saeed Atia Ali menyampaikan keinginan Syaikhul al-Azhar, Syeikh Ahmad Thayyib dan para pemimpin al-Azhar untuk mendirikan jurusan Bahasa Indonesia di Kampus terbesar di Timur Tengah tersebut.

PMII Cabang Tegal

Menurut Atia, ? maklumat dari Syaikh al-Azhar yang menyatakan: “Perhatikan Bangsa Indonesia yang baik ini, karena Indonesia mampu menjalankan Islam yang moderat, toleran dan cinta damai. Maka timbalah ilmu di Indonesia”.

Dikatakan Atia, bahwa selain bersilaturahim, tujuan kedatangan Kafilah ke Indonesia adalah untuk melakukan koordinasi, apa yang bisa dikontribusikan untuk Pemikiran Islam yang moderat dan cinta damai dari Indonesia. Sebab, menurut al-Azhar, Indonesia adalah model realistis sebuah Islam yang mempunyai budaya damai dan menjunjung tinggi perdamaian.

“Senang sekali kami berkunjung ke negara ke-2 kami, untuk bersama-sama bekerja sama, mengekspor budaya damai dalam Islam,” tambah Ahmed Shaykowy.

Al-Azhar prihatin, lanjut Shaykowy, karena akhir-akhir ini, dunia Islam kacau balau akibat kekerasan atas nama agama. Meski, sebenarnya itu terjadi karena masalah politik, namun hal ini telah mencoreng Islam di dunia.

Menag, dalam silaturahim tersebut menyatakan, bahwa Universitas al-Azhar merupakan salah satu kekuatan Islam. “Atas nama pemerintah dan pribadi, kami mengucapkan terima kasih tak terhingga dan apresiasi atas upaya yang dilakukan Universitas al-Azhar, termasuk akan dibukanya Studi Islam Berbahasa Indonesia,” terang Menag.?

“Ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami dan semoga bermanfaat bagi Umat Islam,” tambahnya.

Menag melihat, setidaknya ada dua hal, yang bisa dilakukan, agar bisa lebih membangun peradaban umat manusia agar lebih baik. Pertama adalah bagaimana Islam lebih mengedepankan aspek akhlaqnya. Karenanya, Menag menggarisbawahi bahwa orientasi pendidikan anak-anak ? ke depan, tidak semata ibadah mahdlah saja, namun juga diimbangi dan dibarengi dengan memperbaiki akhlaq. “Karena itulah esensi Islam, agar ke depan, perilaku Umat Islam bisa lebih baik dan mampu berperan dan mewarnai peradaban ini,” jelasnya.?

“Ada kesalehan sosial, ini yang utama, dan hal ini berpusat pada akhlaq. Sengketa terjadi, karena rendahnya akhlaq, dan sesungguhnya Islam hadir untuk memperbaiki akhlaq,” imbuhnya.

Kedua, lanjut Menag, perlunya kesadaran bahwa keberagaman dan kemajemukan, adalah sesuatu yang given, yang sunnatullah. Karenanya, tidak bisa diingkari, tapi disikapi dengan arif. Salah satu cara adalah dengan membangun musyawarah dan dialog, dan menjauhi cara-cara kekerasan. “Dan al-Azhar mempunyai komintmen yang tinggi untuk hal ini, dan sesuai dengan mayoritas masyarakat Indonesia,” imbuh Menag. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Halaqoh PMII Cabang Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila

Pekalongan, PMII Cabang Tegal



Dewan Koordinasi Nasional Corp Barisan Pelajar (DKN CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengingatkan peran dan tugas CBP bukan hanya sebagai pasukan keamanan internal, akan tetapi bertugas sebagai garda depan Nahdlatul Ulama dalam rangka membentengi dari masuknya paham radikalisme anti-Pancasila di tingkat pelajar serta mengawal ideologi Aswaja an-Nahdliyah dan menjaga keutuhan NKRI.

Demikian dikatakan DKN CBP IPNU Dede Rosyadi pada acara pengukuhan Pengurus Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) CBP IPNU dan Korp Pelajar Putri (KKP) IPPNU Jawa Tengah Periode 2017 - 2019, Ahad (16/4) di Gedung Bakorwil 3 Kota Pekalongan.

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas CBP dan KPP Pelajar NU Bentengi Pelajar dari Ideologi Anti-Pancasila

Dikatakan, upaya yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengganti Pancasila serta upaya memecah belah keutuhan NKRI adalah menjadi tugas utama CBP dan KPP khususnya dalam lingkup pelajar di lingkungan Nahdlatul Ulama.

"Ada tugas penting bagi CBP dan KPP sebagai garda depan membantu NU membentengi pelajar dari gerakan ideologi anti-Pancasila, radikalisme dan intoleransi yang saat ini sudah masu di kalangan pelajar," ujar Rosyadi.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu, Komandan DKW CBP IPNU Jawa Tengah Ferial Farhan kepada PMII Cabang Tegal mengatakan, dipilihnya Kota Pekalongan sebagai tempat pengukuhan, yakni sebagai upaya mengingatkan kembali sejarah terbentuknya CBP dan semangat akan lahirnya KPP yang dilakukan pada tahun 1964 oleh Asnawi Latif.?

Dikatakan, dengan semangat ini diharapkan akan muncul spirit baru dari kader-kader CBP dan KPP se-Jawa Tengah yang lebih besar dan lebih bangga menjadi kader CBP dan KPP yang loyal terhadap organisasi.?

Sebagaimana diketahui, kehadiran CBP yang semula bernama Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan lembaga yang dibentuk pada tahun 1963 dalam hal itu di latar belakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Ganyang Malaysia “, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Repuplik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak).

PMII Cabang Tegal

Kondisi riil yang terjadi pada saat itu untuk lebih jelas conteksnya yaitu politik luar negeri, terjadi pertentangan antara gagasan Presiden Soekarno yang anti Emperalisme dengan pihak barat yang berupaya menancapkan kukunya di wilayah Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno mengintruksikan kepada elemen bangsa untuk segera membentuk sukarelawan perang dan siap menggayang Malaysia.

Intruksi Presiden tersebut secara lansung membuat seluruh elemen bangsa bersiap sedia untuk melawan Imperalisme yang akan kembali menancapkan kukunya di wilayah Asia Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari elemen bangsa merasa terpanggil untuk berjuang bersama melawan iperalisme dari bangsa barat, yang terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyin yang kemudian dinamakan Sukarelawan Pelajar.

Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Yogjakarta yang pada saat itu merupakan lokasi dari kantor pusat PP IPNU, dan di barengi dengan parade militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan wujud dari kesiapan RI untuk Menggayang Malaysia.

Sejak saat itulah kemudian Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh Asnawi Latif tersebut berjuang demi memperjuangkan negara dan bangsa untuk keutuhan NKRI. Sukarelawan ini yang merupakan embrio atau cikal bakal bagi berdirinya Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang kemudian ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 1964 dengan nama Corps Brigade Pembangunan (CBP), yang kemudian dikenal dengan “Doktrin Pekalongan”. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Halaqoh PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock