Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2018

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Bandung, PMII Cabang Tegal

Bencana yang datang di Indonesia secara bertubi-tubi telah menimbulkan korban dengan jumlah yang luar biasa besarnya seperti yang terjadi di Aceh, Pengandaran Jogja dan lainnya. Besarnya korban tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana.

Upaya untuk menghadapi bencana tersebut harus dilakukan oleh semua fihak, pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) Dr. Syahrizal Syarif PhD. mengungkapkan bahwa masyarakat atau komunitas memiliki peranan penting dalam mengantisipasi dan menangani terjadinya bencana.

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LPKNU : Galakkan Pesantren Siaga Bencana

Nahdlatul Ulama yang memiliki banyak pesantren yang merupakan sumber rujukan masyarakat dalam berbagai hal bisa juga berperan dalam mengantisipasi terjadinya bencana. “Makanya sekarang harus digalakkan pesantren siaga bencana,” tandasnya dalam acara workshop Penanganan Bencana Berbasis Pesantren yang diselenggarakan oleh LPKNU di Bandung, Rabu.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ketua PBNU HM Rozy Munir. Pesantren yang memiliki kohesifitas dan jaringan luas di seluruh Indonesia merupakan modal penting yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi terjadinya bencana.

Sementara itu wakil rektor ITB bidang pendidikan Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI mengungkapkan bahwa kondisi  alam Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Karena itu kehidupan masyarakat harus dibangun dengan budaya hidup dengan bencana seperti gempa.

PMII Cabang Tegal

Ia mencontohkan negara Jepang yang sangat sering terjadi gempa dan masyarakat disana sejak usia dini sudah dikenalkan bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa yang bisa datang sewaktu-waktu. Pemerintah juga telah mensosialisasikan standard prosedur yang harus dilakukan oleh penduduk ketika terjadi bencana seperti tsunami sehingga bisa meminimalisir jumlah korban.

Lemahnya kesadaran terhadap bencana juga diakui oleh wakil gubernur Jabar H. Nu’man Abdul Hakim yang membuka acara tersebut. Mantan aktifis PMII tersebut menceritakan saat terjadi gempa yang mengguncang Jakarta beberapa waktu lalu. Saat itu, ia sedang berada di gedung DPR RI. “Ada gempa, orang-orang malah lari ke lift, bukannya ke tangga darurat. Mereka tidak tahu protapnya (prosedur tetap) bagaimana kalau ada bencana,” tandasnya.

Kondisi yang terjadi di kalangan elit Indonesia ini tentu menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Jika elitnya saja tidak faham bagaimana menghadapi bencana, bagaimana dengan rakyatnya?

Banyak masalah yang belum terselesaikan dalam mengantisipasi terjadinya bencana di Indonesia. Banyak daeah yang belum memiliki peta rawan bencana, siapa yang berhak mengumumkan akan terjadinya suatu bencana sampai dengan masalah dana untuk mengatasi bencana.

PMII Cabang Tegal

Beberapa daerah yang sudah memiliki peta rawan bencana adalah Malang dan Jakarta. Sementara Padang sudah membuat perda untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang diantara isinya adalah saat terjadi tsunami, gedung bertingkat tiga ke atas menjadi milik publik yang bisa diakses siapa saja sehingga setiap orang bisa berlindung disana dan radio-radio lokal dibawah koordinasi pemerintah.

Workshop kali ini merupakan rangkaian awal dari upaya mempersiapkan pesantren di daerah rawan bencana agar bisa membantu mulai dari mengantisipasi sampai dengan penanganan pasca bencana. Tiga pesantren yang masing-masing mewakili daerah rawan bencana, PP Nurul Islam Jember berkaitan dengan tsunami dan longsor, PP Darussalam Magelang berkaitan dengan gunung meletus dan PP Assidiqiyah Jakarta berkaitan dengan banjir dan kebakaran. Sejumlah badan otonom dan lembaga yang berkaitan dengan penanganan bencana juga terlibat dalam acara tersebut. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Halaqoh, Sejarah PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus

Sumenep, PMII Cabang Tegal

Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Gerakan Pemuda Ansor se-Jawa Timur berlangsung di Gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Batuan Sumenep, Jawa Timur, 9-10 April 2016). Salah satu jenjang kaderisasi di organisasi pemuda NU ini menjadi ajang konsolidasi antarpengurus di berbagai tingkatan.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jatim H. Rudi Tri Wahid menyampaikan, untuk menjamin konsistensi dan keberlanjutan kaderisasi di tubuh organisasi pemuda Nahdliyyin, diperlukan adanya konsolidasi antarpengurus, dari pimpinan ranting, anak cabang, cabang, wilayah hingga pusat.

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

PKL GP Ansor Se-Jatim, Ajang Konsolidasi Antarpengurus

“Jika konsulidasi dan komunikasi antarpengurus ini terjaga mulai dari tingkatan bawah hingga pimpinan pusat maka Ansor ke depan akan menjadi ikon organisasi kepemudaan yang andal dan disegani,” terangnya.

PMII Cabang Tegal

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Sumenep Muhri menjelaskan, Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) ini merupakan salah satu upaya dalam membentuk kader-kader Gerakan Pemuda Ansor untuk siap mengawal ulama, menjaga aqidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Selain menjaga aqidah dan keutuhan NKRI, PKL juga bertjuan untuk menyiapkan kader-kader GP Ansor di masing-masing cabang agar menjadi pemimpin yang visioner,” tegas mantan Ketua PC PMII Sumenep ini.

PMII Cabang Tegal

Bupati Sumenep A Busyro Karim yang hadir dalam kesempatan itu menerangkan, sebuah organisasi yang bisa menjawab tantantangan globalisasi ke depan membutuhkan pemimpin yang visioner, inovasi, dan organisasi yang berbasis massa riil serta pola managemen yang baik. “Dan ketiga ini semua ada di Gerakan Pemuda Ansor,” imbuhnya disambut tepuk tangan para hadirin.

Untuk diketahui, peserta kegiatan PKL ini diikuti oleh 21 PC GP Ansor Kabupaten/Kota se- Jawa Timur. Turut Hadir dalam kegiatan tersebut Rukman Bashori, Ketua Bidang Kaderiasasi PP GP Ansor serta sejumlah instruktur dan pengurus PW GP Ansor Jatim, serta jajaran pengurus PCNU setempat. (Mohammad Madani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Amalan, Aswaja PMII Cabang Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Pesantren Hadi Sakti Taklukkan Darul Falah 5 Gol tanpa Balas

Mataram, PMII Cabang Tegal - Pertandingan Sepak Bola Liga Santri Nusantara yang mempertemukan Pesantren Hadi Sakti Kota Mataram dan Pesantren Darul Falah Mataram berakhir dengan skor 5-0 untuk Pesantren Hadi Sakti.

Bermain di lapangan TNI AU? ? Rembige Kota Mataram, Ahad (21/8) sore. Para pemain Hadi Sakti? kerap memainkan umpan pendek. Mereka menggunakan formasi 3:4:3 dalam melawan tim? kesebelasan Pesantren Darul Falah asuhan Rais Syuriyah PCNU Kota Mataram TGH Mustiadi Bahar.

Pesantren Hadi Sakti Taklukkan Darul Falah 5 Gol tanpa Balas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Hadi Sakti Taklukkan Darul Falah 5 Gol tanpa Balas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Hadi Sakti Taklukkan Darul Falah 5 Gol tanpa Balas

Serangan Srinata dengan nomor punggung 7 kerap menembus pertahanan lawan bagian delapan sehingga menghasilkan gol dengan kedudukan 1-0 pada babak pertama. Tidak lama kemudian, Pesantren Hadi Sakti menggandakan keunggulan menjadi 2-0 melaui tendangan pemain nomor 4. Skor 2-0 bertahan hingga babak pertama berakhir.

Di babak kedua, Pesantren Darul Falah kembali kebobolan 3 gol tanpa balasan melalui tendangan nomor 4, 9, dan 10 hingga kemengan Hadi Sakti atas Darul Falah 5:0.

PMII Cabang Tegal

Di hari yang sama Pesantren Bayyinul Ulum Lombok Utara yang meraih juara Zona NTB tahun 2015 lalu menang telak dengan skor 4-1 atas kesebelasan Pesantren Al-Islahudiny Kediri Lombok Barat. (Hadi/Alhafiz K)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Lomba, Kajian PMII Cabang Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

Purworejo, PMII Cabang Tegal. Dalam rangka memperingati HUT ke-68 Republik Indonesia, para ? pecinta alam asal Purworejo, Jawa Tengah, melakukan pendakian Gunung Sumbing, Jumat (16/8). Yang menarik, selain mengibarkan bendera merah putih, peserta dari IPNU Cabang Purworejo mengibarkan bendera NU sebagai lambang kesetiaan NU terhadap NKRI.

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

Koordinator kegiatan Bejo Suhartanto (40) mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk memupuk rasa cinta kepada Negara, kewajiban mengisi kemerdekaan bagi peserta sebagai generasi penerus bangsa serta motivasi hidup yang bisa diambil dari sepanjang perjalanan. Hal itu sesuai dengan tema pendakian yaitu ekspedisi merah putih.?

“Di puncak Sumbing kita menggelar upacara bendera. Walaupun dengan perlengkapan dan peralatan seadanya, namun upacara tersebut berlangsung dengan hikmad.”ujar lelaki yang akrab dipanggil mbah Bejo ini, Ahad (18/8) kemarin.?

PMII Cabang Tegal

Bejo menambahkan, selain upacara bendera juga dilaksanakan refleksi perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Pada refleksi tersebut, para peserta diajak berdiskusi tentang pentingnya memahami hakekat perjuangan para pahlawan.?

“Jutaan pahlawan gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Semua tahu tentang hal itu, namun banyak yang tidak memahaminya sehingga hal itu menjadi penting untuk kita refleksikan kemarin.”imbuhnya.

PMII Cabang Tegal

Salah seorang peserta Ahmad Naufa Khoirul Faizun (24) mengaku banyak mengambil pelajaran dan bangga bisa mendaki gunung dengan ketinggian 3371 meter diatas permukaan laut tersebut meski banyak rintangan yang menghampiri.?

“Ketika pendakian anggota kita ada yang sakit, terpelanting dan hampir putus asa, namun anggota lain memotivasi dan saling membantu hingga kebersamaan begitu menyatu. Kekuasaan Allah benar-benar saya rasakan ditengah belantara dan jalan curam yang jika saja ada hujan tentu kita sudah tak tahu lagi nasibnya.” Ujarnya.

Lebih lanjut Naufa mengatakan, kesan yang diambil dari pendakian ini adalah pelajaran berbagi satu sama lain. Menurutnya sesuatu yang mustahil bisa mencapai puncak Sumbing tanpa kebersamaan, perasaan senasib antar peserta serta kekompakan. “Kita tidak mungkin bisa mencapai puncak kalau kita tidak membunuh ego. Sikap itu tentu sangat positif kalau bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.”tandasnya.

Pendakian yang bertajuk Ekpedisi Merah Putih tersebut diikuti oleh gabungan dari berbagai element pecinta alam yang ada di Purworejo diantaranyaIkatan Ikatan Pelajar NU (IPNU) Cabang Purworejo (Gema Muda Ganesha Pecinta Alam) Gemapala SMA N1 Purworejo serta Pecinta Alam SMK 2 (PA SKANIDA) Purworejo.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukman Khakim

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Aswaja, Hadits PMII Cabang Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa?

Sebelum dihidangkan masakan harus dikecap terlebih dahulu di dapur. Rasa masakan harus dipastikan demi kepuasan koki dan penyantapnya. Terlebih lagi kalau masakan akan dihidangkan kepada mereka yang tengah berpuasa. Kepastian rasa masakan ini tentu memberikan nilai tersendiri di sisi Allah.

Rasa masakan mesti pas. Masakan tidak boleh terlalu banyak garam, atau terlalu hambar karena kurang perasa. Kepastian rasa ini bertujuan untuk menjaga selera makan penyantapnya. Karena itu ada baiknya koki mengecap dan mencicipi terlebih dahulu masakan yang akan dihidangkan di meja makan.

Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa?

Untuk koki atau ibu rumah tangga yang sedang berpuasa tetap harus mengecap masakannya. Mereka tidak boleh canggung untuk mencicipi masakannya. Kalau hanya mengecap dan mencicipi, hukum Islam tidak mempermasalahnnya. Bahkan makruh pun tidak.

Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi dalam karyanya Hasyiyatusy Syarqawi ‘ala Tuhfatith Thullab menyebutkan sebagai berikut.

PMII Cabang Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Di antara sejumlah makruh dalam berpuasa ialah mencicipi makanan karena dikhawatirkan akan mengantarkannya sampai ke tenggorokan. Dengan kata lain, khawatir dapat menjalankan makanan itu ke teggorokan lantaran begitu dominannya syahwat. Posisi makruhnya itu sebenarnya terletak pada ketiadaan alasan atau hajat tertentu dari orang yang menngecap makanan itu. Berbeda lagi bunyi hukum untuk tukang masak baik pria maupun wanita, dan orang tua yang berkepentingan mengobati buah hatinya yang masih kecil. Bagi mereka ini, mengecap masakan tidaklah makruh. Demikian Az-Zayadi menerangkan.”

Singkat cerita, mengecap masakan bagi mereka yang tengah puasa karena hajat yang dibenarkan syar’i (agama) tidak masalah. Bahkan makruh pun tidak. Asal saja, usai dicicipi koki harus segera mengeluarkannya. Kalau kelamaan di dalam mulutnya, khawatir tertelan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Meme Islam PMII Cabang Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Ramadhan, Santri Darus Sunnah Mantapkan Kemampuan Berbahasa Inggris

Tangerang Selatan, PMII Cabang Tegal - Pesantren luhur Darus Sunnah yang didirikan Almaghfurlah KH Ali Mustafa Yaqub ini menggelar pelatihan Bahasa Inggris untuk santri seusai subuh sebagai “pengajian” Ramadan. Pelatihan yang dibuka sejak awal Ramadan (6/6) ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa para santri.

Pelatihan ini menjadi rutinitas yang dilakukan sejak tahun 2014. “Kursus singkat ini menjadi salah satu metode Kiai Ali untuk meningkatkan kapasitas santrinya dalam bahasa asing. Ini adalah salah satu harapan almarhum agar santri Darus-Sunnah mampu menjadi dai yang memiliki keunggulan intelektual,” terang salah seorang staf pengajar di Pesantren Darus Sunnah Hakim Hasan Al-Banna.

Ramadhan, Santri Darus Sunnah Mantapkan Kemampuan Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Santri Darus Sunnah Mantapkan Kemampuan Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Santri Darus Sunnah Mantapkan Kemampuan Berbahasa Inggris

“Materi kursus Ramadan untuk tahun ini lebih dikhususkan ke English speaking skill, agar santri lebih percaya diri berkomunikasi dengan bahasa asing,” imbuhnya. 15 Juni 2015

PMII Cabang Tegal

Santri-santri yang berada dalam taraf mahasiswa ini dibagi menjadi banyak grup dengan anggota sekitar sepuluh orang, dengan satu atau dua pembimbing. Para pembimbing mengajak para peserta kursus, dengan dipicu permainan-permainan atau diskusi topik terkini.

Selain itu, mereka juga diajak mendiskusikan salah satu buku KH Ali Mustafa Yaqub terbaru berbahasa Inggris berjudul Islam is Not Only for Muslims.

PMII Cabang Tegal

Salah satu pengajar senior di Darus-Sunnah Muhammad Hanifuddin mengaku kursus Bahasa Inggris tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kelas-kelas dengan ukuran yang lebih kecil mampu membuat santri lebih ekspresif, percaya diri, juga tidak tampak mengantuk setelah subuh. Tentu ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan format kelas besar saat kursus,” terang Hanifuddin.

Kegiatan ini akan ditutup pada 16 Ramadan yang diikuti dengan lomba-lomba seperti speech contest, debate contest¸ dan drama berbahasa Inggris. (Iqbal Syauqi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal IMNU, Aswaja PMII Cabang Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Gusdurian Yogya Gelar Kelas Pemikiran Gus Dur Ketiga

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Forum Gusdurian Yogyakarta kembali mengadakan kelas pemikiran Gus Dur yang ketigaselama dua hari pada Sabtu dan akan berakhir Ahad 25-26 Oktober. Kelas pemikiran Gus Dur ini diadakan di Yayasan LKiS Yogyakarta.

Ketua Panitia Kelas Pemikiran Gus Dur, Sarjoko, mengatakan kelas ini kembali diadakan untuk mengenalkan pemikiran Gus Dur lebih mendalam. “Pemikiran-pemikiran Gus Dur sangat banyak. Dengan forum ini kita akan menggali lebih dalam, mulai tentang politik, ekonomi, keislaman,” katanya.

Gusdurian Yogya Gelar Kelas Pemikiran Gus Dur Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Yogya Gelar Kelas Pemikiran Gus Dur Ketiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Yogya Gelar Kelas Pemikiran Gus Dur Ketiga

Lebih lanjut, Sarjoko menjelaskan bahwa kelas pemikiran Gus Dur ini merupakan awal dari kita mengkaji pemikiran Gus Dur. "Kegiatan ini insya Allah berkah karena dengan kreativitas panitia untuk mengadakan acara ini," tambahnya.

PMII Cabang Tegal

Seknas Gusdurian, Alissa Wahid mengatakan bahwa Gus Dur tidak terkenal dengan pemikiran-pemikirannya saja. Ia juga terkenal karena sepak terjangnya. "Gus Dur terkenal dengan kerendahan hati, beliau tidak pernah mengambil ilmu begitu saja,” ungkapnya.

Putri sulung Gus Dur tersebut menambahkan, ayahnya mengambil ilmu dari mana-mana, tapi kemudian diolah dan menggunakan ilmu itu.

PMII Cabang Tegal

Kelas pemikiran  tersebut dibuka Alissa Wahid yang sekaligus memberikan materi. Selain dia, pemateri lain adalah Hairus Salim HS, Gaffar Karim, Nur Khalik Ridwan, dan Heru Prasetyo. (Nur Solikhin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Meme Islam, Tokoh PMII Cabang Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

Sujud adalah salah satu momentum di mana Allah SWT dan hamba-Nya begitu dekat. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampun atas segenap kekurangannya di hadapan Allah.

Istighfar ini dibaca Rasulullah SAW di salah satu sujudnya.

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

Allâhummaghfirlî dzanbî kullah, diqqahû wa jullah, wa awwalahû wa âkhirah, wa ‘alâniyatahû wa sirrah.

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku dari segala dosa baik kecil maupun besar, awal maupun akhir, dan dosa yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.”

Pilihan kalimat dalam istighfar di atas tampak begitu kuat dan menyeluruh. Rasulullah SAW mengajarkan istighfar ini untuk umatnya yang penuh dosa. Riwayat permohonan ampunan dosa ini disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Aswaja PMII Cabang Tegal

Ucapkan Selamat Muktamar NU, Muhammadiyah Jombang Pasang Spanduk

Jombang, PMII Cabang Tegal. Muktamar ke-33 NU yang digelar di Jombang 1-5 Agustus 2015 mendapat perhatian berbagai kalangan. Puluhan spanduk dan baliho ucapan selamat dan sukses digelarnya Muktamar NU di kota santri ini sejak sepakan ini mulai terpampang. Termasuk dari organisasi Muhammadiyah.

Salah satu spanduk dari Pegurus Daerah Muhammadiyah Jombang, yang berda di Perempatan Sambong Jombang menempelkan foto pendiri NU, KH Hasyim Asyari dan juga pendiri Muhamadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Ucapkan Selamat Muktamar NU, Muhammadiyah Jombang Pasang Spanduk (Sumber Gambar : Nu Online)
Ucapkan Selamat Muktamar NU, Muhammadiyah Jombang Pasang Spanduk (Sumber Gambar : Nu Online)

Ucapkan Selamat Muktamar NU, Muhammadiyah Jombang Pasang Spanduk

Dalam spanduk sepanjang 7 meter itu bertuliskan  Selamat dan Sukses Muktamar Muhamadiyah ke-47 dengan Tema "Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan" dan Muktamar NU ke-33 lengkap dengan tema "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia".

Disamping spanduk ucapan selamat, puluhan baliho menyambut Muktamar ke 33 NU juga mulai dipasang PCNU Jombang diseluruh penjuru kota santri. 

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

"Ada sekitar 40 baliho besar yang kita pasang disetiap perbatasan atau pintu masuk Jombang, termasuk juga umbul-umbul untuk memeriahkan Muktamar NU," ujar Samsul Rizal Wakil Sekretaris PCNU Jombang, Jumat (24/7).

PCNU, lanjutnya, juga sudah mengintruksikan seluruh MWCNU dan juga Ranting NU serta Banom, lembaga, dan lajnah untuk mengibarkan bendera masing masing. "Spanjang jalan menuju lokasi insya Allah mulai hari ini bendera dan spanduk sudah berkibar,” pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Khutbah, Aswaja, Warta PMII Cabang Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Riyadh, PMII Cabang Tegal. Kepolisian di ibu kota Saudi, Senin (12/12), mengatakan bahwa mereka menangkap seorang perempuan karena melepas jilbabnya di hadapan umum dan mengunggah gambar aksinya di Twitter.

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)
Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed (Sumber Gambar : Nu Online)

Polisi Saudi Tangkap Perempuan Unggah Foto Tanpa Jilbab di Sosmed

Juru bicara polisi Fawaz al Maiman tidak menyebutkan nama perempuan itu, tetapi beberapa situs web menyebut namanya Malak al Shehri, yang memicu kehebohan di media sosial setelah berpose tanpa memakai jilbab di sebuah jalan utama di Riyadh bulan lalu.

Maiman mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa polisi di kerajaan yang sangat konservatif itu bertindak sesuai dengan kewajiban mereka untuk mengawasi “pelanggaran moral umum.”

Dia mengatakan perempuan itu mengunggah tweet dirinya sedang berdiri di samping sebuah kafe terkenal di Riyadh tetapi tanpa memakai kerudung yang diwajibkan dalam masyarakat Saudi.

Perempuan yang berusia sekitar 20 tahun itu dibawa ke penjara, katanya. Dia juga dituduh “berbicara secara terbuka mengenai hubungan terlarang dengan pria (tanpa ikatan).”

PMII Cabang Tegal

“Polisi Riyadh menekankan bahwa aksi perempuan ini melanggar undang-undang yang diberlakukan di negara ini,” ujar Maiman, mendesak masyarakat untuk “mematuhi ajaran Islam.”

PMII Cabang Tegal

Kerajaan kaya minyak tersebut memberlakukan pembatasan paling ketat di dunia terhadap perempuan dan merupakan satu-satunya negara yang tidak mengizinkan perempuan untuk mengendarai mobil. Demikian laporan AFP. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja PMII Cabang Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Si Mbah Teteskan Air Mata Melihat NU

Hujan belum mereda Ahad (22/12). Ada si Mbah duduk di teras depan Lakpesdam NU, di Jl. H. Ramli No. 20A Menteng Dalam Tebet, Jakarta Selatan. Lalu kami persilakan masuk lantaran hujan semakin deras. 

Selazimnya wong NU, ketika tamu datang, tentu disediakan minuman hangat, teh atau kopi. Si Mbah memilih teh tanpa gula. Barangkali kebetulan, selera rokok kami sama, Gurame alias Gudang Garam Merah.

Mula-mula si Mbah hanya menunduk dengan mengenakan topi yang ditambal kain. Kami perhatikan, dia membawa bambu pikulan, pengki dan cangkul yang diletakkan di teras. Kami tanya, "Mbah mau kemana dan ada keperluan apa?" 

Si Mbah Teteskan Air Mata Melihat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Si Mbah Teteskan Air Mata Melihat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Si Mbah Teteskan Air Mata Melihat NU

Dengan bibir agak ragu dan sedikit bergetar "Saya biasa bekerja bersih-bersih rumput, keliling kampung Menteng Dalem sini, barangkali ada rumah yang perlu bantuan saya bersihkan halaman dan rapihkan tanamannya," kata si Mbah masih menunduk seraya raut wajah disembunyikan di balik topinya.

Mulai dari situlah, siang ini, obrolan kami semakin panjang dengannya. Si Mbah kini meletakkan topi di atas meja, dan mau menatap kami. Rupanya si Mbah kelahiran Sindang Laut, Cirebon. Sejak Jakarta dipimpin Ali Sadikin, dia merantau ke Jakarta jadi kuli bangunan karena tidak punya tanah lagi di Cirebon. 

Masa Jepang, dia sudah Sekolah Rakyat, dan masih ingat terminologi Jepang; hitungan, perintah, istilah sapaan, dan lagu kebangsaan Jepang "Kimigayo." Masa itu, dia tidak melihat pembunuhan, tapi bagi yang tidak bisa berbaris dengan baik, akan ditendang-tendang. Tidak becus latihan ketentaraan, disiksa. Dan para tokoh PKI yang melawan pendudukan Jepang, rumahnya hangus dibakar para tentara Jepang. 

Lalu kami tanya, "Bagaimana dengan para kiai disana?" 

PMII Cabang Tegal

Sambil mengingat-ingat, dia mengisahkan, "Kiai Buchair, Kiai Anas, Kiai Rais setelah Jepang pergi datang pasukan Belanda dan Inggris. Kiai-kiai disiksa pasukan sekutu. Kiai Buchair dirampas kerisnya, lalu ditembak. Kiai Anas disiksa berhari-hari, begitu juga Kiai Rais dan yang lain, tadinya para kiai tidak bisa disiksa dengan mengamalkan surat al Kahfi, tapi ga tau kok bisa kalah. Semua ditembak," si Mbah cerita, dia menyaksikan kejadian itu. Sebagian rakyat yang melawan ikut disiksa dan ditangkap.

Untuk membantu ingatannya, melalui Youtube kami perdengarkan beberapa pidato Bung Karno, lagu-lagu perjuangan, dan shalawatan yang barangkali bisa membantu menjelaskan konteks, situasi batin masa itu. 

PMII Cabang Tegal

Dia tampak tersenyum seraya memegang dahi. 

Kami putar lagu "Genjer-genjer." "Itu lagu Gerwani," katanya. 

Menjelang Pemilu 1955, PKI mengajaknya bergabung. Namun karena dia suka ditipu PKI, maka dia tidak mau ikut PKI. "Saya tidak mau kamu tipu, dan saya tidak bisa ditipu. Kalau mau menipu cari saja orang lain yang bisa kamu tipu," katanya.

"Lantas si Mbah pilih partai apa?" tanya kami. 

"Saya pilih NU," jawabnya. 

Tanpa kami minta, kemudian dia bacakan "hizib latief" lancar sekali. "Dari mana si Mbah bisa hafal hizib itu?" 

"Ini ijazah dari Kiai Fuad Hasyim buat saya," jawabnya. 

"Mbah, coba lihat ke bingkai digantung itu!" kata kami seraya menunjuk bingkai persis berada di belakangnya. 

"Ini kantor NU, Mbah," lanjut kami. 

Si Mbah teteskan airmata, lalu tersenyum.

"Mbah tinggal dimana? Siapa namanya?" tanya kami penasaran.

"Saya tinggal sendiri di depan toko-toko Pasar Menteng Pulo yang baru. Anak isteri saya di Cirebon. Nama saya..? Saya Ebon," sambil bersiap keluar dan merapikan, cangkul, pengki dan pikulan.

"Masih gerimis, Mbah.. mau kemana?" kami menahan. 

"Saya mau ke masjid." (Abi Setyo Nugroho

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Jadwal Kajian, AlaNu PMII Cabang Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

GP Ansor Jaktim: Usut Penghina Pancasila di HUT RI!

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jakarta Timur menyesalkan adanya upaya provokasi di tengah suasana perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-70 Republik Indonesia. Pasalnya, provokasi tersebut berkenan dengan dasar negara ini.

GP Ansor Jaktim: Usut Penghina Pancasila di HUT RI! (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jaktim: Usut Penghina Pancasila di HUT RI! (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jaktim: Usut Penghina Pancasila di HUT RI!

"Kemarin, tepatnya tanggal 15 ada karnaval dengan bendera palu arit di Pamekasan. Esoknya tanggal 16 ada Parade Tauhid yang di dalamnya ada Abu Jibril yang berorasi menghina Pancasila," kata Komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkorcab Jakarta Timur, Firdaus Ibond, Senin, (17/8).

Banser dan GP Ansor, lanjut Ibond, berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi. Ia pun menegaskan bahwa Banser dan Ansor selalu menjadi pagar terdepan menjaga NKRI. "Kami, Banser dan Ansor mewariskan perjuangan ulama dalam menjaga NKRI. Bagi kami NKRI dan Pancasila harga mati," tegasnya.

PMII Cabang Tegal

Alumni PMII DKI ini pun meminta Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI untuk memperhatikan dengan serius agenda tersebut. "Kami mengingatkan Pak Jokowi dan Pak Gatot Nurmantyo agar menyelidiki lebih lanjut agenda tersebut. Ini menyangkut harkat dan martabat bangsa kita," tutupnya.

PMII Cabang Tegal

Seperti diketahui, berkibarnya panji-panji PKI saat karnaval HUT RI di Pamekasan membuat heboh masyarakat setempat. Esoknya, di agenda Car Free Day Bundaran HI, acara Parade Tauhid yang dimeriahkan oleh Habib Rizieq menghadirkan Abu Jibril yang menghina Pancasila. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Ahlussunnah, Syariah PMII Cabang Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketika Bung Karno pada tahun 1945 meneken naskah proklamasi bersama Bung Hatta, mereka mengatasnamakan bangsa "Indonesia". Saat itu, tidak banyak yang mengerti apa atau siapa itu bangsa Indonesia. Mereka hanya tahu bahwa dengan adanya proklamasi tersebut berarti bangsa ini telah merdeka dari penjajahan.

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Demikian dijelaskan sejarawan NU Agus Sunyoto ketika mengampu Mata Kuliah Arkeologi Islam Indonesia di Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, Sabtu (27/9) di Jakarta.

“Jadi nama Indonesia awalnya hanyalah asumsi Bung Karno yang kemudian disepakati oleh seluruh orang Nusantara saat itu,” terang Penulis Buku Atlas Wali Songo ini.

PMII Cabang Tegal

Apa artinya semua ini, lanjut Agus, pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi yang disepakati. Kita lihat daerah Jakarta, lanjutnya, kita hanya akan menemukan gedung-gedung bertingkat, jalan-jalan besar, kemacetan, dan lain sebagainya, jika orang-orang ditanya mana Jakarta. Kita hanya akan menemukan semua hal tersebut.

PMII Cabang Tegal

“Artinya, pengetahuan tempat mengenai Jakarta hanyalah asumsi yang disepakati, Jakarta sendiri, tidak ada,” tegas Wakil Ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU ini.

Lanjut Agus Sunyoto yang juga Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang ini, asumsi yang dibangun manusia, membentuk struktur ideologis maupun sosial-material dalam kehidupan manusia selanjutnya.

“Oleh sebab itu, Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa agama Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, karena pikiran-pikiran manusia itu penuh dengan asumsi,” paparnya. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Aswaja, Hadits PMII Cabang Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Idealisme H Mahbub Djunaidi

Oleh Ahmad Halim

Tepat pada hari ini, Kamis 1 Oktober 2015, adalah adalah haul ke-20 H. Mahbub Djunaidi. Banyak pelajaran dari anak Betawi kelahiran 1933 ini. Tapi idealismenya yang kokoh bagaikan batu karang, susah ditiru siapa pun.

Hari ini, kita bisa saksikan sendiri dengan mata dan kepala, banyak para politisi, seniman, wartawan, dan pemimpin di sebuah organisasi baik kemahasiswaan, organisasi massa (Ormas) ataupun Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) yang terbuai akan kekuasaan, dan malah ikut dalam menyumbangkan permasalahan yang sampai saat ini agak sulit untuk diberantas, yakni korupsi.

Idealisme H Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)
Idealisme H Mahbub Djunaidi (Sumber Gambar : Nu Online)

Idealisme H Mahbub Djunaidi

Jika saat ini para politisi, seniman, wartawan dan pemimpin organisasi sibuk untuk mendekatkan diri dalam pusaran kekuasaan. Mahbub yang juga pernah menjadi politisi, seniman, jurnalis dan pemimpin organisasi besar justru tidak memanfaatkan untuk ambisi politiknya atau mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

PMII Cabang Tegal

Saat ditawarkan kekayaan oleh Orde Baru, pria yang memiliki tradisi Nahdlatul Ulama (NU) itu justru menolak. Sampai akhirnya pendiri organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini akhirnya dipenjarakan di rutan Nirbaya oleh Suharto. Bersama dengan sahabat-sahabatnya Soebandrio, Omar Dhani dan beberapa nama lain dengan alasan yang tak masuk akal yakni dianggap menghasut karena mengusulkan pencalonan Ali Sadikin sebagai Presiden RI di depan forum mahasiswa.

Namun dalam sebuah surat kepada temannya yang dikirim dari dalam penjara, Mahbub mengatakan “Rasanya bui bukan apa-apa buat saya. Apalagi bukankah ditahan itu suatu ‘resiko bisnis’? Kata orang, penjara itu ibaratnya perguruan tinggi terbaik, asal saja kita tidak dijebloskan karena mencuri! Saya merasakan benar kebenaran misal itu…Sedangkan nonton bioskop perlu ongkos, apalagi demokrasi. Dan ongkos itu perlu dibayar! Iuran saya sebenarnya sedikit sekali. Jalan masih panjang, apapun yang terjadi mesti ditempuh…” (Emmy Kuswandari, 2008).

PMII Cabang Tegal

Hal di atas tentu tidak akan dilakukan oleh ketua DPR Setyo Novanto, dan wakilnya Fadli Zon yang menghadiri kampanye kandidat presiden Amerika Donald Trump, dan kunjungan  politik ketua majelis permusyawaratan rakyat (MPR) Zulkifli Hasan ke negeri tirai bambu. Sebab, idealisme mereka sudah pudar bahkan bisa dikatakan sudah hilang.

Oleh karena itu, wajar jika tokoh pers Jakob Oetama berani mengatakan bahwa  Mahbub Djunaidi adalah seorang yang berprinsip, demokratis, moderat, dan tak pernah mencerca lawan-lawannya. Berbeda dengan para politisi saat ini.

Inilah yang saat ini sulit dicari, dimana kebanyakan orang jika sudah ada dalam pusaran kekuasaan akan memanfaatkan kedekatannya, bahkan sudah menjadi lumrah jika orang-orang yang dekat dengan kekuasaan ikut menimbun harta dengan cara yang tidak wajar (korupsi).

Idealisme yang kokoh, memang membuat pria kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 ini menjadi orang yang sederhana: penampilan dan material. Tapi itu menjadi kekuatanya dalam mempertahankan prinsip.

Saat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) pada tahun 1967-1971 ia tetap mengkritik pemerintah dan mempertahankan prinsipnya melalui kata-kata yang disusunya dengan dibumbui rasa humor tentunya. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai “pendekar pena”.

Mahbub pernah menulis artikel, "Buku Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini" (Kompas, 18 Maret 1981). Dalam tulisannya, pendekar pena tersebut, mengkritik para pemimpin bangsa dengan gaya penulisan yang satire dan juga dibumbui rasa humor.

Begini tulisannya: Apabila seorang anak sudah duduk di kelas V sekolah dasar, paling lambat di kelas VI, ajaklah dia ke kebun binatang. Begitu menginjak pintu gerbang, segera bisikkan di kupingnya, "Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, kan? Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia."

Mungkin mantan ketua umum PMII tiga periode 1960-1967 itu ingin berpesan kepada publik agar kita jangan sampai seperti monyet dalam memilih pemimpin. Kata Mahbub, "Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan,".

Tokoh multi talenta ini, kini sudah meninggalkan kita 20 tahun lamanya, namun bukti idealismenya sampai saat ini masih dapat kita baca dan pelajari. Karya-karyanya dan jasa-jasanya kini telah tertoreh dalam tinta emas dunia pergerakan dan jurnalis, sehingga kita dapat mengikuti dan belajar dari sosok multi talenta, pemegang teguh prinsip, demokratis, moderat dan humoris seperti Mahbub Djunaidi. Alfatihah...

Ahmad Halim, Sekretaris PMII DKI Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Aswaja, Doa PMII Cabang Tegal

Rabu, 29 November 2017

Warga Pesantren Diingatkan "Kelompok Khilafah" Ingin Runtuhkan NKRI

Sumedang, PMII Cabang Tegal. Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Tanjungkerta Sumedang Jawa Barat mengadakan kegiatan Doa Bersama, Tausyiah Kenegaraan, Tahlilan, dan Gema Sholawat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-70 Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-70, Ahad (16/8) kemarin.

Kegiatan dimulai pukul 19.00 (bada isya) dengan diawali dengan gema Sholawat yang dipandu oleh grup marawis Al-Hikam. Setelah itu dilanjutkan dengan istighotsah, tahlilan, dan tausyiah kemerdekaan. Lagu Indonesia Raya dan pembacaan teks proklamasi pun tidak ketinggalan dibacakan.

Warga Pesantren Diingatkan Kelompok Khilafah Ingin Runtuhkan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Pesantren Diingatkan Kelompok Khilafah Ingin Runtuhkan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Pesantren Diingatkan "Kelompok Khilafah" Ingin Runtuhkan NKRI

KH Muhammad Aliyuddin pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah dalam taushiyahnya mengatakan bahwa, salah satu yang paling berjasa dalam perjuangan kemerdekaan RI yaitu para Ulama dengan para santrinya. Para ulama pada waktu itu membakar semangat para santrinya dengan mengatakan angkat senjata membela NKRI dan selalu mengumandangkan Hadis Nabi tentang cinta tanah air sebagain dari iman.

PMII Cabang Tegal

“Sudah selayaknya saat ini kita selaku rakyat Indonesia memperingati kemerdekaan RI sebagai bukti kecintaan kepada NKRI," pesannya.

PMII Cabang Tegal

Hadir juga dalam kegiatan tersebut ketua PCNU Sumedang, H Sadulloh yang diberikan kesempatan memberikan tausyiah kemerdekaan. Ia berpesan kepada warga agar mewaspada kelompok yang ingin mendirikan negara khilafah.

"Mempertahankan NKRI adalah harga mati untuk warga NU. Saat ini ada beberapa golongan yang ingin meruntuhkan NKRI, golongan tersebut ingin mendirikan negara khilafah di Indonesia dan ingin merubah dasar negara Pancasila. Kita warga NU harus berani melawan golongan tersebut. NU ikut mendirikan negara Indonesia, maka NU harus tetap menjaga keutuhan NKRI," katanya.

Atribut bendera Merah Putih dan bendera NU pun ikut memeraiahkan kegiatan tersebut. Banyak para santri dan masyarakat yang hadir dengan membawa bendera merah putih dan bendera hijau NU. Mereka semua yang hadir mengatakan, semua aktifitas itu mereka lakukan karena saking cintanya pada Indonesia dan NU. (Ayi Abdul Kohar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Sejarah PMII Cabang Tegal

Rabu, 22 November 2017

Getaran Shalawat Habib Syech

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Wajah Ny Sinta Nuriyah tiba-tiba memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Sekejap kemudian tisunya pun basah oleh air mata. Istri almarhum KH Abdurrahman Wahid ini tak kuasa menahan tangis saat Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf mengawali senandungnya dengan Syi’ir Tanpo Waton.

Pesan lirik Syi’ir ini diakui sangat dalam sehingga memesona banyak kalangan, termasuk Habib Syech. “Waktu saya mendengar Syiir itu, saya katakan, saya harus bisa niru,” tuturnya saat memimpin shalawat pada Peringatan 1000 Hari Kewafatan Gus Dur di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (27/9).

Getaran Shalawat Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)
Getaran Shalawat Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)

Getaran Shalawat Habib Syech

Sejak lepas Ashar, masyarakat sudah tumpah ruah di sepanjang Jalan Warung Silah, Ciganjur. Mereka datang dari berbagai penjuru dengan bus rombongan, mobil pribadi, motor, bahkan berjalan kaki. Hingga pembacaan Yasin, tahlil dan istighasah usai, volume pengunjung terus meningkat dan membanjiri pelataran Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim.

PMII Cabang Tegal

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Muhammad,” teriak hadirin mengiringi Habib Syech naik ke atas panggung.

Malam itu habib asal Solo, Jawa Tengah, ini melantunkan sedikitnya sepuluh lagu shalawat selama lebih dari satu jam. Lagu demi lagu disambut gemuruh sepuluh ribu hadirin yang berusaha mengikuti gerak bibirnya.

PMII Cabang Tegal

Para pengunjung yang mayoritas berpakaian serba putih itu juga tak segan menggerak-gerakkan badan sambil sesekali mengayunkan tangan ke atas. Di sejumlah titik tampak pula kibaran bendera ukuran sedang dengan tulisan “Syecher Mania”, sebutan untuk para pecinta Habib Syech.

Sang Habib berhasil menyihir hadirin. Tokoh liberal di Indonesia Ulil Abshar Abdalla, yang semula diam, secara perlahan akhirnya menganggut-anggutkan kepala. Selain menirukan shalawat, ia pun larut dalam goyangan ringan badannya.

Habib Syech menyampaikan, senandungnya sengaja dipersembahkan kepada Ny Sinta Nuriyah, khusunya Syiir Tanpa Waton. Lantunan yang sering dinisbahkan kepada Gus Dur ini termasuk salah satu lagu yang sangat ia cintai. “Isinya luar biasa. Semoga kita bisa mengamalkan isinya,” pintanya.

Setelah taushiyah Wakil Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri, di ujung acara Habib Syech tak dapat menyembunyikan nasionalismenya. Ia mengajak semua hadirin berdiri dan berucap, “Sebelum kita tutup mari kita menyanyikan Indonesia Raya. Hiduplah Indonesia Raya… Satu, dua, tiga…” serunya memandu lagu kebangsaan Indonesia.

?

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Anti Hoax PMII Cabang Tegal

Senin, 06 November 2017

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN

Mataram, PMII Cabang Tegal. Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Nusa Tenggara Barat mengadakan seminar agraria, Senin (16/3). Seminar yang dihadiri Kepala BPN NTB, Kepolisian, dan pengadilan tinggi agama NTB ini, digelar untuk mengurai konflik pertanahan yang selama ini terjadi terutama di Lombok NTB.

Seminar ini dipandu oleh Ketua GP Ansor kota Mataram Hasan Basri. Acara yang berlangsung di aula kantor PWNU NTB jalan Pendidikan nomor 6 Mataram ini, mengangkat Kepala BPN Lombok Barat dan dua orang perwakilan Kapolda NTB sebagai narasumber.

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN

Sekretaris PWNU NTB Winengan M Yunus dalam sambutan pembukaan acara berharap agar ? pada pertemuan selanjutnya panitia harus mengundang para tokoh agama sedaerah NTB.

PMII Cabang Tegal

“Pada pertemuan pertama ini kita perlu menyatukan pandangan terlebih dahulu untuk mengatasi sengketa lahan yang selama ini terjadi di Lombok,” kata Hasan mengawali diskusi. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Meme Islam, News PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Rabu, 01 November 2017

Pelajar NU Yogyakarta Adakan Kirab Keliling Kota

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Pengurus harian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Yogyakarta bersama Aliansi Santri Jogja menggelar kirab. Mereka berjalan keliling dengan mengambil rute dari Kampus UIN Sunan Kalijaga dan berakhir di Tugu Jogja, Kamis (22/10).

Pelajar NU Yogyakarta Adakan Kirab Keliling Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Yogyakarta Adakan Kirab Keliling Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Yogyakarta Adakan Kirab Keliling Kota

Menurut Korordinator acara M Farigh Rangkuti, aksi yang mengusung tema “Dari Santri Untuk Jogja" ini bukan hanya untuk menunjukkan eksistensi santri, melainkan juga untuk menampilkan peran para santri dalam konteks memaknai “Resolusi Jihad” di masa sekarang.

“Santri harus bisa berkontribusi berperan aktif terhadap semua persoalan-persoalan di masyarakat. Salah satunya yang kami usung dalam aksi ini adalah toleransi antaragama, suku, ras dan bangsa,” terang Farigh.

PMII Cabang Tegal

Farigh yang juga mengemban amanah Wakil Ketua IPNU Yogyakarta itu menambahkan, acara kirab dan aksi ini didukung oleh Aliansi Santri Jogja, yakni gabungan para santri dari pondok pesantren se-Yogyakarta dan organisasi-organisasi NU lainnya.

Setibanya di Tugu Jogja, para peserta kirab membagikan stiker kepada setiap pengendara yang melewati jalur tersebut serta melakukan tahlilan buat para pahlawan dan ditutup dengan pembacaan Ikrar Santri. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Sejarah, Aswaja, Kiai PMII Cabang Tegal

Sabtu, 07 Oktober 2017

Silatnas Ke-6 PPM Aswaja Sukses Digelar di NTB

Lombok Tengah, PMII Cabang Tegal

Persaudaraan Profesional Muslim Ahlussunnah wal Jamaah (PPM Aswaja) tahun ini kembali menyelenggarakan Silaturahim Nasional. Forum pertemuan yang keenam kalinya ini berlangsung di Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, 20-21 Agustus 2016.

Hadir dalam pembukaan Silatnas PPM Aswaja Ke-6, pengasuh Pesantren Qomarul Huda dan Musytasar PBNU Tuan Guru H. Turmudzi Badrudin, Ketua Tanfidziyah PWNU NTB Tuan Guru Ahmad Taqiudin Mansur, Wakil Rektor UNU NTB Baek Mulyanah, dan Sekretaris Jendral PBNU Helmy Faishal Zaini.

Silatnas Ke-6 PPM Aswaja Sukses Digelar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Silatnas Ke-6 PPM Aswaja Sukses Digelar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Silatnas Ke-6 PPM Aswaja Sukses Digelar di NTB

Forum ini menjadi ajang silaturahim dan konsolidasi para profesional Muslim Aswaja dari berbagai latar belakang dan daerah se-Indonesia. Silatnas sebelumnya juga digelar di sekitar Pulau Jawa, seperti Wonosobo, Magelang, Situbondo, dan Cirebon.

PMII Cabang Tegal

Dalam sambutan pembukaan, Ketua PWNU NTB menyampaikan rasa gembira atas dipilihnya NTB sebagai tuan rumah Silatnas PPM Aswaja dan berpesan kepada para peserta silatnas agar senantiasa terus menggali nilai dan makna yang terkandung dalam Mabadi Khairu Ummah.

PMII Cabang Tegal

"Mabadi Khairu Ummah itu sangat luas dan universal, berapa kalipun kita menyelenggarakan halaqah tidak akan pernah habis nilai-nilai yang ada didalamnya untuk kita gali" tutur Tuan Guru Ahmad Takiudin.

Profesionalisme, katanya, memang sangat dibutuhkan di era teknologi yang terus berkembang dengan pesat, namun sebagai kader NU kita tidak boleh hanyut terbawa arus zaman. Kita harus pandai dalam menyikapi perubahan zaman dan teknologi. (Akhlis/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Budaya PMII Cabang Tegal

Sabtu, 02 September 2017

Kang Said Ingatkan Pentingnya Dakwah Lewat Internet

Jombang, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj meminta pengurus NU mengembangkan dakwah secara kontekstual melalui media internet. Hal ini penting, agar media sosial ini tidak hanya menjadi alat adu domba.

Demikian yang disampaikan, Said Aqil, saat melantik pengurus Cabang NU (PCNU) Jombang 2012-2017 di Aula Yayasan Pesantern Mambaul Maarif Denanyar Jombang,  Sabtu (27/10). 

Kang Said Ingatkan Pentingnya Dakwah Lewat Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Ingatkan Pentingnya Dakwah Lewat Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Ingatkan Pentingnya Dakwah Lewat Internet

"Dakwah tidak hanya cukup di masjid, dan musholla saja, akan tetapi pengurus NU harus bisa mengisi dan menggunakan media  internet, seperti Facebook, Youtube, harus kita isi,” ujarnya.

PMII Cabang Tegal

Menurut Kang Said biasa dipanggil, dakwah kepada masyarakat  juga bukan hanya berbicara soal aqidah saja. Menurutnya, persoalan aqidah bagi kalangan NU justru sudah tuntas, sehingga dalam  ceramah perlu menekankan pada persoalan peradaban.

PMII Cabang Tegal

“Bagimana NU  ikut memajukan masyarakat, yakni  masyarakat bermartabat, ekonomi mapan, kesehatan terjamin ,ini yang harus NU sampaikan,"imbuhnya menambahkan. 

Disamping soal dakwah di era globalisasi dengan menggunakan media internet. Kang Said, juga meminta Pengurus NU yang baru menjalankan program dan organisasi dengan transparan. 

"Mulai  dari PB, PW hingga Ranting, harus menggunakan mangemen terbuka, transparan, tidak sembunyi-sembunyi.  Mulai sekarang NU harus terbuka; programnya , juga laporan  keuangannya,” tambahnya.

Hadir dalam pelatikan, diantaranya Sekretaris PW NU Jatim Mashudi Mukhtar, Ketua DPW PKB Halim Iskandar, Bupati Jombang Suyanto dan Wakil Bupati Widjono Soeparno, Kapolres Jombang AKBP Tribisono dan jajaran Muspida. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock