Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Kota Jakarta sebagai ibu kota negara memiliki sejumlah masalah kronis yang harus segera diselesaikan oleh pemimpinnya.

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid

Masalah itu tidak sebatas pada perbaikan infrastruktur semata, tapi membuat warga Jakarta dapat hidup lebih manusiawi dan sejahtera, kata putri mendiang Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid, yaitu Yenny Wahid, di Jakarta, Rabu.

"Yang dibutuhkan saat ini suatu terobosan dan inovasi untuk mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Siapa yang bisa melakukannya, tentunya pemimpin," kata Yennny seusai bertemu Wakil Gubernur DKI Jaya, Basuki Purnama (Ahok) di Balai Kota.

PMII Cabang Tegal

Menurut perempuan kelahiran Jombang, 29 Oktober 1974, ini tidak sulit melihat masalah di Jakarta karena hanya seputar rendahnya kesejahteraan, buruknya infrastruktur dan penataan kota.?

Namun, hal yang tersulit yakni mendapatkan pemimpin yang mau mengubah Jakarta menjadi lebih baik.

PMII Cabang Tegal

"Saya melihat kualitas itu ada di Ahok. Tapi, sekali lagi, waktu dia memimpin tergolong singkat jadi butuh suatu terobosan. Jika tidak, orang tidak akan percaya lagi," Direktur Wahid Institute ini.

Menurutnya, sudah terjadi perbaikan dalam sistem tata kelola pemerintahan dari tingkat kelurahan hingga provinsi di DKI Jakarta.

Ia pun merasakannya sendiri karena mengalami kemudahan dalam pengurusan dokumen kependudukan.

"Sebelumnya jika ngurus kartu tanda penduduk bisa dipimpong hingga berminggu-minggu. Kini tidak lagi karena sudah ada sistem pengawasan dari atas ke bawah, lurah yang bermasalah dapat dilaporkan langsung," ujar dia. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Kiai, Sholawat PMII Cabang Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat

Jakarta, PMII Cabang Tegal . Kabar duka bagi warga NU, salah seorang pemuka agamanya, KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab wafat pada hari ini Kamis, (19/11) pagi. Kabar tersebut tersebar cepat di media sosial BBM dan WA.

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat

PMII Cabang Tegal mengonfirmasi hal itu ke PCNU Sukabumi. Sekretaris NU Sukabumi Shidiq D Suparman membenarkan hal itu. Juga dibenarkan oleh salah seorang aktivis NU yang kini telah tinggal di Bandung, Syamsuddin Ak. 

Menurut Pengasuh Pesantren Attamur tersebut, Ajengan Zezen merupakan ulama berpengaruh di wilayah sukabumi, Jawa Barat. Jangkauan pengaruhnya sampai ke tingkat nasional dan mancanegara. 

PMII Cabang Tegal

Ajengan Zezen, kata dia, tiap bulan Ramadhan membuka pesantren kilat khusus kajian Kitab Al-Hikam. Kegiatan tersebut diikuti ribuan tanpa biaya sepeser pun. Makan dan minum ditanggung ajengan.

PMII Cabang Tegal

Ajengan Zezen adalah pengasuh Pondok Pesantren Az-zainiyah, Nagrog, Kabupaten Sukabumi. Ia dikenal sebagai pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). 

Di NU, ia duduk sebagai Wakil Rais Syuriyah Jawa Barat dan Rais Idaroh JATMAN di tingkat pusat. Ia juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Kiai PMII Cabang Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid

Malang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) meminta keaktifan pada pengurus syuriah dan tanfidhiyah di tingkat Pengurus Cabang NU (PCNU) untuk turut memberdayakan masjid-masjid NU di wilayahnya.

“Syuriyah dan tanfidziyyah adalah al-imam min a`immatil masajid, imam bagi para imam di masjid-masjid. Oleh karenanya para sesepuh harus sering menyapa para imam masjid dan menggerakkan mereka,” kata Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani dalam Rapimnas II LTM-PBNU Region Jawa Timur, di halaman kampus STIKes Wida Cipta Husada (WCH) Kepanjen Malang, Ahad (21/9).

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid

“Dengan begitu keberadaan syuriah dan tanfidziyah Nahdlatul Ulama di cabang-cabang bisa dirasakan kehadirannya oleh jamaah Nahdliyyin,” imbuhnya.

LTMNU dalam berbagai kesempatan mendorong peran masjid selain sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat pendidikan, kesehatan, dan permberdayaan ekonomi bagi jamaah di sekitarnya. Para pengurus ta’mir masjid juga diimbau untuk senantiasa menjaga masjid dari aliran kelompok garis keras.

PMII Cabang Tegal

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj juga hadir? dan memberi taushiyah dalam salah satu bagian dari rangkaian acara, yakni Dzikir dan Doa Bersama? Ahad malam itu. Ia menegaskan, Islam Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah sudah benar dan lurus karena berpedoman pada al-Quran, Hadits, Ijma’, dan Qiyas.

PMII Cabang Tegal

“Bahkan yang paling benar,” tegas Kiai Said. “Dan adalah orang yang sangat bodoh yang tidak menyukai kaum Nahdliyyin apalagi kalau sampai membid’ah-bid’ahkan amalan kita,” imbuhnya. ?

Kiai Said meminta warga Nahdliyyin untuk selalu bersikap adil, toleran, dan lemah lembut. “Cara-cara kekerasan apalagi sampai memenggal kepala manusia seperti yang dilakukan ISIS adalah tindakan sesat dan bukan ajaran Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam,” ujarnya.

Acara yang terselenggara atas kerja sama antara LTMNU dengan STIKes WCH Malang dan Majlis Maulid wat Ta’lim Riyadlul Jannah Malang itu diikuti oleh puluhan ribu jamaah. Dipimpin oleh para kiai dan habaib se-Kabupaten Malang, para jamaah duduk tertib dan khidmat menggemakan shalawat dan puji-pujian kepada Rasulullah Muhammad. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Tingkat keimanan manusia terhadap Allah SWT beragam. Ada keimanan seseorang yang dirangsang oleh sesuatu (ibarat, isyarat, rumuz) di luar dirinya. Tetapi ada juga yang tidak. Ada orang yang beriman setelah melihat mukjizat rasul atau khariqul adat (kejadian luar biasa) seperti umat-umat kafir zaman para nabi terdahulu.

Ada juga orang yang takjub pada keajaiban dunia seperti lafal “Allah” pada cangkang telur atau pada gumpalan awan sebagai kuasa Allah dalam bentuk tulisan, gambar, video yang dishare orang-orang via media sosial baik fesbuk, instagram, twitter, whatsapp, line, dan lain sebagainya.

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Mereka yang merasa dekat dengan Allah karena keajaiban dunia dan kuasa Allah lainnya bukan masuk kategori al-arif billah yang sempurna karena keimanannya masih dirangsang oleh fenomena selain Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Al-Arif billah itu bukan orang yang terima isyarat lalu merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu. Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat karena lenyap pada wujudnya dan tersembunyi pada penyaksiannya.”

Petunjuk atas Allah yang dikenal para ulama terdiri atas tiga jenis yang memiliki tingkat berbeda. Ibarat adalah petunjuk kasar. Sementara isyarat lebih halus dibandingkan ibarat. Simbol atau rumuz adalah penanda paling halus atas Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, isyarat itu lebih tipis dan lebih halus dibanding ibarat. Simbol lebih halus dibanding isyarat. Jadi semua penanda ini ada tiga, yaitu ibarat, isyarat, dan simbol. Setiap satu dari semua itu lebih halus dibanding tanda sebelumnya. Tugas ibarat adalah memperjelas. Isyarat memberi petunjuk. Sedangkan tugas simbol itu menyenangkan, maksudnya menyenangkan hati atas sambutan Allah SWT,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 118).

Isyarat merupakan medium petunjuk atas Allah yang menampung makna yang tak terwadahi pada ibarat. Isyarat ini sangat dibutuhkan bagi pesuluk sebagai penanda dan petunjuk atas Allah. Tetapi isyarat ini masih juga membawa serta sesuatu yang menandai keberadaan Allah sehingga mereka masih juga memandang yang lain selain Allah.

? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, isyarat adalah gudang makna sangat halus yang tak tertampung dalam ibarat. (Al-Arif billah yang kamil itu bukan orang yang memberikan isyarat bagi mereka yang meminta petunjuk, lalu ia merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu), terlebih lagi bagi Al-Arif billah yang kamil itu sehingga mereka merasakan Allah dekat karenanya atau di sisinya mengingat kekayaan kandungan isyarat itu yang menghendaki pemberi isyarat, isyarat, dan yang diisyaratkan. Al-Arif billah yang kamil itu adalah orang yang tidak memerlukan isyarat sama sekali karena ia telah melebur di dalam wujud Allah dan tersembunyi pada penyaksiannya sehingga makhluk itu lenyap (di matanya). Hal ini terjadi bisa karena ia menjadi ‘baqa’ sebab Allah, cahaya-Nya, dan pendaran cahaya itu dalam martabat pancarannya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 69).

Isyarat menandai adanya jarak dan antara. Isyarat kerapkali disertai dengan alasan, bukti, atau argmentasi. Ada orang beriman kepada Allah setelah mengetahui alasan, bukti, atau argmentasi sebagai isyarat atas Allah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa semakin banyak alasan, bukti, atau argumentasi yang diperlukan untuk beriman, tanda seseorang jauh dari Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abu Ali Ar-Raudzabari ketika ditanya perihal isyarat menjawab, isyarat tidak lain merupakan ungkapan dari dalam hati yang menjelaskan sesuatu yang ditunjuk. Sejatinya isyarat diiringi dengan illat (alasan, bukti, atau argumentasi). Illat itu jauh dari zat hakikat. As-Syibli mengatakan, setiap isyarat atas Allah yang ditunjukkan oleh makhluk-Nya hakikatnya tertolak sehingga mereka memberi isyarat atas Allah dengan Allah itu sendiri dan mereka tidak punya jalan untuk itu. Abu Yazid berkata, mereka yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang paling banyak isyarat atas-Nya,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 63).

Untuk seorang al-arif billah yang kamil, isyarat tidak diperlukan karena mereka tidak berjarak dengan Allah. Isyarat dibutuhkan oleh para pejalan atau pesuluk. Isyarat itu sangat membantu mereka untuk dekat dengan Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Redaksi Syekh Ibnu Athaillah ‘Al-Arif billah itu bukan...’ maksudnya adalah al-arif billah yang tidak kamil, belum mendalam dan mantap. Sedangkan mereka yang sedang berjalan tetap membutuhkan isyarat dan merasakan Allah lebih dekat dengannya karena atau bersama isyarat itu. isyarat itu membantu mereka dan menjadi makanan pokok bagi mereka layaknya ibarat bagi mereka yang mengarahkan pandangan kepada Allah sebagai akan dijelaskan di depan, ‘Ibarat adalah makanan pokok bagi mereka yang butuh mendengarkan. Dan kau akan mendapatkan sesuai apa yang kau ‘makan’.’ Redaksi penulis, ‘ketika memberi isyarat’, maksudnya adalah diberikan atau menerima isyarat. Sedangkan ‘Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat,’ maksudnya ia tak membutuhkan isyarat untuk dirinya, tetai untuk memberikan isyarat untuk orang lain. Ia sendiri tak memerlukan isyarat karena isyarat dan ibarat makanan orang yang lapar. Sementara ia sudah kenyang dan cukup. Kita bisa mengatakan bahwa isyarat itu mengandaikan jarak dan perpisahan. Sementara ia tetap bersatu dalam perpisahannya... Al-arif billah yang kamil menafikan jalan/isyarat karena sudah merasa cukup dengan Allah sehingga tak membutuhkan isyarat dan pemberi petunjuk. Wallahu a‘lam,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 120-121).

Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang disebut arifin yang kamil itu mereka yang selalu menggenggam tasbih, menggelar sajadah, atau membenahi letak sorban? Apakah mereka hidup soliter menyepi? Semua itu mungkin saja, bukan pasti. Tetapi yang  pasti mereka tetap bergaul dengan manusia lain. Mereka tetap manusiawi. Mereka bisa jadi buruh tani, pekerja kasar, guru, buruh pabrik, kuli angkut di pasar, pegawai rendahan, penunggu kafe, penunggu lahan parkir liar, atau guru agama di sekitar kita. Semua itu sangat mungkin sebagai dijelaskan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Al-Arif billah adalah orang yang dengan tauhid, kepercayaan, tawakal, dan kepasarahannya kepada Allah mencapai derajat di mana kehendak-kehendaknya fana dalam kehendak/iradah-Nya, sebab-sebab atau alasan lenyap di bawah kuasa-Nya, dan semua yang tampak meleleh pada cahaya terang penyaksian-Nya. Tetapi pengertiannya tidak seperti yang kita sangka selama ini di mana al-arif billah terputus dari dunia, lalu menjalin dengan alam lain. Al-arif billah tetap berhubungan dengan dunia berinteraksi makhluk-Nya sebagaimana manusia lainnya. Ia tetap berhubungan dengan mereka seperti sebelumnya. Tetapi ketika berinteraksi dengan dunia dan sebab-sebab duniawi, ia tak melihat dirinya selain bersama dengan Allah. Ketika menangani masalahnya dengan orang lain dan beraktivitas di tengah publik dalam soal kemasyarakatan dan masalah lainnya, ia hanya menyadari bahwa ia berinteraksi bersama Allah. Al-arif billah itu seperti yang dikatakan para sufi, ‘Arasy dan bumiku ada pada satu waktu. Arasyku bersama Allah dalam perasaan dan batin. Tetapi bumiku bersama manusia dalam muamalah dan lahiriyah.’ Hal ini diungkapkan sangat baik oleh atsar dari Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq perihal dirinya sendiri, ‘Tiada sesuatu yang kulihat selain kulihat Allah bersamanya, sebelum, dan sesudahnya.’ Kondisi ini juga diungkapkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi, ‘Hendaklah kamu bersama mereka secara lahiriyah, tetapi batinmu bersama Allah.’ Inilah maqam suluk tertinggi kepada Allah setelah maqam kenabian,” (Lihat M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, cetak ulang 2003 M/1424 H, juz II, halaman 471-472).

Menurut kami, penjelasan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi cukup klir bahwa makrifatullah yang kamil itu bukan soal pakaian atau profesi, tetapi lebih pada cara pandang. Cara pandang makrifatullah ini dapat hadir pada siapapun dan mereka yang berprofesi apapun sesuatu dengan anugerah yang Allah berikan kepada mereka. Mereka dapat merasakan kehadiran Allah tanpa harus dirangsang oleh ibarat atau isyarat tertentu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, Nasional, RMI NU PMII Cabang Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat

Probolinggo, PMII Cabang Tegal. Lulusan pesantren adalah lulusan yang berkualitas, baik dalam segi keilmuan maupun akhlaknya. Kehadirannya di tengah masyarakat harus bisa menjadi pembeda sekaligus pelopor ke arah yang lebih baik.

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat

Hal tersebut disampaikan oleh A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin dalam kegiatan Lailatul Qiro’ah yang digelar Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Ahad (4/6) lalu.

“Perkembangan ekonomi adalah tantangan umat Islam. Sebagai santri yang telah dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, jadilah saudagar-saudagar Islam yang dermawan yang mampu berdiri tegak dan kokoh di tengah masyarakat yang murah dalam memberi kebaikan,” katanya.

Lebih lanjut Hasan mengajak kepada segenap alumni Pesantren Zaha dan segenap para pecinta Al Qur’an untuk menjadi garda terdepan di tengah masyarakat modern yang selalu sibuk dengan aktifitas dunia.

PMII Cabang Tegal

“Syiarkan Al-Qur’anul karim di tengah zaman yang sibuk seperti ini, khususnya para santri yang sedang pulang di tengah-tengah masyarakat. Ingatkan kepada masyarakat muslim bahwa sesibuk apapun kita hendaklah senantiasa membaca dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasan sangat mengapresiasi kiprah para alumni santri pesantren yang telah lulus dan tetap mengabdi kepada pesantren, khususnya yang tergabung dalam organisasi Tanaszaha (Ikatan Alumni dan Santri Pesantren Zainul Hasan), khususnya periode 2017-2022 yang baru dibai’at.

PMII Cabang Tegal

“Tanaszaha harus tetap bergerak secara sosial kemasyarakatan, Insya Allah kami selaku masyarakat akan ikut bangga bertetangga dan berinteraksi dengan para alumni Santri Zainul Hasan Genggong,” ungkapnya.

Lailatul Qiro’ah merupakan kegiatan rutin setiap malam 10 Ramadhan yang digelar oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan Nahdliyin dan pecinta Al-Qur’an yang memadati pelataran Masjid Al-Barokah Zainul Hasan Genggong.

Kegiatan yang juga untuk memperingati haul salah satu pendiri Pesantren Zaha Genggong, Almarhumah Nyai Hj Himmami Hafshawati ini diwarnai oleh lantunan indah ayat suci Al Qur’an yang dibacakan oleh para peraih prestasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional dan santri pilihan Pesantren Zaha Genngong.

Hadir dalam kesempatan tersebut Pengasuh Pesantren Zaha Genggong yang juga Ketua PWNU Jawa Timur KH Moch. Hasan Mutawakkil Alallah, pengurus Pimpinan Wilayah Jami’atul Qurro wal Huffadz (JQH) Jawa Timur serta sejumlah di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Batam, PMII Cabang Tegal . Selama Ramadhan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kepulauan Riau (Kepri) melalui Lembaga Dakwah NU (LDNU) menyiarkan kajian Ahllussunah wal Jamaah (Aswaja) menjelang buka puasa di Batam TV.  Tayangan disajikan secara berkala dengan topik dan narasumber yang berbeda.

Kajian Aswaja ini merupakan salah satu program Ramadhan PWNU Kepri, kata sekretaris PWNU Kepri, HM Zainuddin kepada PMII Cabang Tegal, Jumat (26/6).

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Zainuddin menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk membentengi radikalisme dan lebih membumikan nilai Aswaja an-Nahdliyah. Tema kajian yang disampaikan tentang Islam, nasionalisme, budaya, hakikat bidah, konsep tawazun, ziarah kubur, konsep tawassul, Islam rahmatan lilalamin dengan nara sumber para kiai dan dai muda.

PMII Cabang Tegal

Para narasumber yang dimaksud antara lain KH Nabhan (Rais Syuriah PWNU Kepri), H Ghani Lasya (Ketua Tanfidziyah PWNU Kepri), H Luqman Rifa’i (LDNU Kepri), H Ridho Amir (PCNU Batam), dan Nur Haryanto (Ketua GP Ansor Kepri).

Salah satu nara sumber, Ridho Amir, menegaskan pentingnya membentengi Kepri khususnya Batam dari pemahaman radikal yang mengancam budaya Islam tanah Melayu yang secara kultural menganut pemahaman Aswaja an-Nahdliyah. Ia berharap program tersebut dapat memberikan pemahaman Islam yang ramah, moderat, dan toleran di tanah Kepulauan Riau. (Abd Majid/Mahbib)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Abu al-Farj Ibnu Jauzi (510-597 H) mengisahkan penolakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahu Allah untuk menjawab pertanyaan seputar wara’. Diceritakan:

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?! ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ?.

PMII Cabang Tegal

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abdullah bin Khalid, dia berkata: “Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang masalah wara’.”

Ia menjawab: “Aku memohon ampun kepada Allah. Tidak halal bagiku untuk berbicara tentang masalah wara’, karena aku memakan hasil bumi Baghdad. Tapi, jika kau hendak mengetahuinya, Bisyr bin Harits adalah orang yang pantas menjawab pertanyaanmu. Dia tidak memakan hasil bumi Baghdad dan tidak memakan makanan yang tidak jelas. Dia pantas untuk berbicara tentang masalah wara’.” (Jamaluddin Abu al-Farj bin Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Darul Kutub al-‘Arabi, 2012,hlm 429).

****

Ulama-ulama kita di zaman dulu sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan. Mereka tidak akan menjawab pertanyaan dengan sembarangan. Apalagi jika pertanyaannya seputar praktik ibadah seperti zuhud, wara, tawakkal dan lain sebagainya. Imam Ahman bin Hanbal, dalam kisah di atas, merasa tidak memiliki kualifikasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan alasan, ia masih memakan hasil panen Baghdad, yang cara pengolahan, pendistribusian dan penjualannya tidak diketahui secara jelas:  apakah dalam salah satu prosesnya terdapat perbuatan yang dilarang atau tidak.

PMII Cabang Tegal

Satu-satunya orang yang ia yakini kewaraannya adalah Bisyri bin Harits al-Hafi (767-850 M). Disebut al-Hafi karena Imam Bisyri tidak pernah mengenakan sandal, selalu bertelanjang kaki kemana pun ia pergi.Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah melihat Imam Bisyri memakan makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Hidupnya dipasrahkan semuanya kepada Allah dan melayani orang-orang di sekitarnya.Ia hanya makan untuk memenuhi hak tubuh atas dirinya. Sekali waktu Imam Bisyri pernah mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya lapar itu dapat menjernihkan hati dan mendatangkan pengetahuan yang halus.” (Jamaluddin Abu al-Farj ibnu Jauzi, 2012, hlm 429).

(Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal)

Untuk memahami perkataan Imam Bisyri di atas, kita harus menggunakan sudut pandang pengetahuan. Lapar akan dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tapi, yang paling berpengaruh dalam pemaknaannya adalah latar belakang pengetahuannya. Orang yang berilmu dapat menjadikan lapar sebagai motivasi untuk sukses. Orang yang tidak berilmukurang mampu mendapatkan manfaat dari kelaparannya, bahkan tidak sedikit yang memilih mencuri untuk mengatasi kelaparannya.

Lain lagi dengan orang berilmu yang terus-menerus melatih hatinya agar bersih dari cela, seperti Imam Bisyri al-Hafi. Setiap kali lapar, ia mendapatkan pengetahuan baru. Bagi Imam Bisyri, kelaparan adalah guru. Darinya, ia belajar bersabar, bertawakkal, bersyukur dan lain sebagainya. Gambarannya seperti ini,tanpa lapar, mampukah kita merasakan kenikmatan kenyang; tanpa lapar, akankah kesabaran kita terlatih secara alami, dan seterusnya. Orang yang mampu bertafakkur di saat lapar, dan mengambil hikmah darinya, tentulah bukan orang sembarangan.

Imam Ahmad bin Hanbal tahu betul akan kewaraan Imam Bisyri. Karena itu,Ia berpendapatorang yang pantas berbicara tentang wara’ adalah Bisyri al-Hafi, bukan dirinya. Hal ini yang telah hilang dalam kultur beragama kita. Sekarang ini, semua orang berusaha menjawab pertanyaan, tanpa memandang kelayakan diri. Akibatnya, banyak fatwa keagamaan yang tidak sesuai dengan hukum aslinya.Hal ini diperparah oleh penggunaan fatwa-fatwa itu untuk mengadili pendapat lainnya, yang bisa jadi pendapat lain itu lebih benar. Melihat fenomena ini, kita harus kembali pada jalan yang dilalui ulama-ulama kita di masa lalu, “falyaqul khairan aw li yasmut—ucapankanlah kebaikan, jika tidak lebih baik diam.”

Tindakan menarik juga pernah dilakukan Imam Hasan al-Bashri (642-728 M). Suatu ketika sekelompok budak di Kufah menghampirinya dan meminta Imam Hasan al-Bashri untuk memberi khutbah tentang keutamaan membebaskan budak.Imam Hasan al-Bashri mengiyakan dan berjanji akan menyampaikannya di depan jamaah. Di Jum’at pertama, para budak menunggu di masjid untuk mendengarkan khutbah Imam Hasan al-Bashri, tapi dia tidak mengucapkan sedikit pun tentang keutamaan membebaskan budak.

“Mungkin Imam Hasan lupa,” kata budak itu satu sama lainnya.

Di Jum’at kedua, Imam Hasan al-Bashri tetap tidak mengungkit tentang keutamaan membebaskan budak. Begitu seterusnya hingga Jum’at keempat. Para budak sangat kecewa dengan Hasan al-Bashri. Mereka memandang Imam Hasan sebagai pembohong dan orang yang tidak menepati janji. Di Jum’at kelima, Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa salah satu misi Islam adalah membebaskan perbudakan, baik yang berasal dari tawanan perang maupun dari hasil jual beli. Orang-orang yang mendengar khutbahnya, ketika selesai shalat Jum’at, mereka berlomba-lomba membebaskan budaknya. Hari itu bisa dikatakan sebagai pembebasan budak masal di Kufah.

Para budak yang telah kecewa, terkejut dengan khutbah Imam Hasan al-Bashri. Mereka berduyun-duyun mendatangi Imam Hasan al-Bashri dan bertanya,“kenapa baru sekarang, tidak dari awal saja?” Imam Hasan al-Bashri menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ketika kalian mengatakannya padaku (aku telah setuju), tapi aku tidak memiliki budak. Aku tidak ingin memerintahkan kebaikan pada masyarakatatas sesuatu yang belum aku lakukan. Karena aku miskin, aku harus mengumpulkan harta untuk membeli budak. Lalu kubiarkan dia melayaniku beberapa hari untuk merasakan sejauh mana kebutuhanku padanya (memiliki budak). Ketika aku yakin dalam hatiku betapa besar aku membutuhkannya, aku membebaskannya dan menyampaikan khutbah ini.” (Ahmad Muhammad ‘Athiyat, al-Iqna’, ‘Amman: Amwaj, 2012, hlm 22).

Fatwa atau nasihat agama tentu akan diterima dengan berbeda oleh pendengarnya jika yang memberi fatwa dan nasihat benar-benar telah melakukannya, seperti kasus Imam Hasan al-Bashri di atas. Setelah mendengar ceramahnya, orang-orang berlomba-lomba untuk membebaskan budak.Itulah cara ulama kita di masa lalu. Mereka sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa keagamaan, meskipun pengetahuan agama mereka sangat tinggi dan diakui oleh banyak ulama yang semasa atau setelahnya. 

Semoga kita bisa melestarikan tradisi mereka dan terlepas dari berbagai fitnah zaman. Allahumma sallimna min fitnah hadzihiz zaman. Amin.

Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, Doa, IMNU PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock