Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul Halal bi Halal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

PMII Cabang Tegal

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujzau" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq

PMII Cabang Tegal

?

KH Masdar Farid Mas’udi

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Sleman, PMII Cabang Tegal - Sebanyak 30 peserta pendidikan Pesantren Agraria mempelajari berbagai macam pengetahuan terkait masalah agraria mulai analisa persoalan, peta konflik, dan metode riset sejak di Kantor NU Sleman, Kamis (12/5) malam hingga Ahad (15/5). Di hari terakhir mereka bergerak ke salah satu daerah potensi konflik agraria. Di sini mereka bertemu langsung dengan warga dan menghadapi masalah agraria yang berkembang di masyarakat setempat.

Menurut Penggerak Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Muhammad Al-Fayyadl, pendidikan Pesantren Agraria ini memberikan penekanan khusus pada masalah agraria. Pesantren Agraria ini berbeda dengan pesantren-pesantren pada umumnya.

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Dalam pesantren ini, peserta tidak akan mempelajari kitab kuning seperti lazimnya pesantren yang ada. Mereka diajak memahami persoalan alam yang kini tengah menjadi masalah mendesak di masyarakat.

“Kita tidak akan belajar kitab kuning, kita akan belajar alam. Kawan-kawan diperkenalkan persoalan alam kemasyarakatan yang hari-hari ini menjadi masalah yang krusial,” kata Muhammad Al-Fayyadl.

PMII Cabang Tegal

Sementara Ketua Nahdlatul Ulama (NU) H Imam Aziz lebih memotivasi peserta pendidikan Pesantren Agraria.

PMII Cabang Tegal

“Kita menjadi sorotan karena orang bertanya, ketika terjadi konflik agraria, NU di mana? Kita harus rela dituntut seperti itu. Kita harus mau mendalami kerumitan-kerumitan itu. Kita harus mengikhlaskan diri untuk mendampingi hal-hal rumit di Indonesia,” kata H Imam Aziz di hadapan peserta yang umumnya berusia muda.

Pesantren Agraria adalah sebuah pendidikan singkat untuk mengantarkan para pesertanya masuk ke dalam isu agraria hingga gerakan pendampingan. Pendidikan yang berlangsung selama empat hari ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sleman dan FNKSDA Yogyakarta. (Ubaidillah Fatawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, Nasional, Khutbah PMII Cabang Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Reboisasi, SMA Maarif 1 Pamekasan Tanam 1.000 Pohon

Pamekasan, PMII Cabang Tegal. SMA Maarif 1 Pamekasan memiliki perhatian lebih terhadap aksi penghijauan kembali atau reboisasi. Hal itu sebagaimana tampak di Bumi Perkemahan SMA Maarif 1, Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, melalui kegiatan penanaman seribu pohon.

Reboisasi, SMA Maarif 1 Pamekasan Tanam 1.000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Reboisasi, SMA Maarif 1 Pamekasan Tanam 1.000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Reboisasi, SMA Maarif 1 Pamekasan Tanam 1.000 Pohon

Acara yang berlangsung Selasa (15/13) tersebut dihadiri DPRD Pamekasan, pejabat dari Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, Dinas Pendidikan, Dishubkominfo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Polsek Tlanakan, Ka Kwarcab, dan lainnya.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ajib Abdullah menegaskan, sangat bagus dan cukup representatif kegiatan dengan penanaman seribu pohon ini. Dulu, kata Ajib, Desa Terrak merupakan desa yang sangat gersang dan tandus, tapi masyarakat sekitar mampu mengubah menjadi Desa Terrak yang hijau dan produktif.

PMII Cabang Tegal

"Dan itu diakui masyarakat karena keberadaan SMA Maarif 1 mampu menggerakkan siswa dan masyarakatnya dengan melibatkan kegiatan kepramukaan," terang Ajib.

PMII Cabang Tegal

Abu Siri selaku ketua panitia kegiatan menyatakan berterima kasih kepada Pemkab Pamekasan melalui dinas-dinas terkait yang telah banyak membantu terlaksananya kegiatan tersebut.

Ketua DPRD Halili mengatakan, setiap dirinya turun ke masyarakat selalu membawa dua sekolah, yakni SMA Maarif 1 dan SMK Putra Bangsa di Waru. Dua sekolah ini menjadi perhatiannya karena seluruh dewan guru dan muridnya mampu bekerjasama dan berprestasi.

"Tentu konsekuensinya dua sekolah ini punya beban yang tidak ringan, yakni dituntut untuk selalu berinovasi dan berprestasi," tandas Halili.

Acara yang diikuti 400 pelajar dan 300 undangan tersebut diakhiri dengan pelepasan siswa SMA Maarif 1 oleh Ketua DPRD Pamekasan Halilk untuk melanjutkan penanaman 1.000 pohon di sekitar kompleks sekolah dan di sekitar rumah-rumah warga. (Hairul Anam/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nasional, PonPes, Hikmah PMII Cabang Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Betapa Zalimnya Bulog!

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Kinerja pengadaan beras Badan Urusan Logistik (Bulog) mengalami kemunduran dari waktu ke waktu. Anehnya, hal itu justru menjadi alasan untuk mengimpor beras, dan para menteri ekonomi pun sepakat. Akhir September atau awal Oktober ini dipastikan 210 ribu ton beras impor akan mengacaukan harga beras nasional.

Berdasarkan data dari Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gadjah Mada (UGM), pada 2006 stok beras Bulog mengalami penurunan drastis. Untuk Mei 2006 terjadi under stok. Lepas panen raya stok Bulog cuma 1.480.965 ton. Padahal pada 2005 bulog punya cadangan beras sebesar 1.827.388 ton dan pada 2004 sebesar 2.626.867 ton.

Betapa Zalimnya Bulog! (Sumber Gambar : Nu Online)
Betapa Zalimnya Bulog! (Sumber Gambar : Nu Online)

Betapa Zalimnya Bulog!

“Ini fakta dasar. Bulog sendiri yang kemudian mengusulkan untuk impor, dan para menteri setuju,” kata Peneliti PSPK UGM yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta KH. Mochamad Maksum kepada PMII Cabang Tegal, Jum’at (8/9).

Hasil kalkulus baru pengadaan beras bulog Januari 2006 sampai Agustus 2006 hanya berhasil 60,14 persen saja. Dari rencana 2.065.000 ton hanya terealisir 1.242.254 ton.

“Masalahnya Jelas. Kinerja pangan disengaja jelek agar pantas akhir 2006 ini dapat legitimasi impor. Ini sangat bodoh. Gagal stok kog malah impor. Begini kog ya ditolelir. Banyak indikasi yang menunjukkan betapa zalim dan bodohnya Bulog," kata Maksum.

PMII Cabang Tegal

Dikatakannya, hal paling ditakutkan para petani adalah dampak psikologisnya impor beras itu di pasaran. Jumlah 210 ribu ton itu tidak seberapa jika dibanding dengan surplus beras di Jawa tengah tahun ini, misalnya, yang berkisar sampai 1,5 juta ton.

“Gara-gara impor yang jumlahnya tidak seberapa itu harga harga beras dimana-mana anjlok. Di beberapa daerah ada yang harganya turun sampai Rp 400-Rp 450 per kg,” kata Maksum.

Selain itu dari pengalaman impor selama ini banyak oknum yang mendompleng kebijakan itu. Jumlah beras impor ilegal yang dimasukkan eksportir yang mendompleng kebijakan itu bisa menjadi beberapa kali lipat dari kuota impor pemerintah.

Begini-ini yang menjadi biang utamanya adalah Bulog. Jadi secra fungsional diragukan managemennya, ya dibubarkan saja atau direformasi lembaganya,” ujar Maksum. (nam)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kyai, Lomba, Nasional PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Tingkat keimanan manusia terhadap Allah SWT beragam. Ada keimanan seseorang yang dirangsang oleh sesuatu (ibarat, isyarat, rumuz) di luar dirinya. Tetapi ada juga yang tidak. Ada orang yang beriman setelah melihat mukjizat rasul atau khariqul adat (kejadian luar biasa) seperti umat-umat kafir zaman para nabi terdahulu.

Ada juga orang yang takjub pada keajaiban dunia seperti lafal “Allah” pada cangkang telur atau pada gumpalan awan sebagai kuasa Allah dalam bentuk tulisan, gambar, video yang dishare orang-orang via media sosial baik fesbuk, instagram, twitter, whatsapp, line, dan lain sebagainya.

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Mereka yang merasa dekat dengan Allah karena keajaiban dunia dan kuasa Allah lainnya bukan masuk kategori al-arif billah yang sempurna karena keimanannya masih dirangsang oleh fenomena selain Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Al-Arif billah itu bukan orang yang terima isyarat lalu merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu. Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat karena lenyap pada wujudnya dan tersembunyi pada penyaksiannya.”

Petunjuk atas Allah yang dikenal para ulama terdiri atas tiga jenis yang memiliki tingkat berbeda. Ibarat adalah petunjuk kasar. Sementara isyarat lebih halus dibandingkan ibarat. Simbol atau rumuz adalah penanda paling halus atas Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, isyarat itu lebih tipis dan lebih halus dibanding ibarat. Simbol lebih halus dibanding isyarat. Jadi semua penanda ini ada tiga, yaitu ibarat, isyarat, dan simbol. Setiap satu dari semua itu lebih halus dibanding tanda sebelumnya. Tugas ibarat adalah memperjelas. Isyarat memberi petunjuk. Sedangkan tugas simbol itu menyenangkan, maksudnya menyenangkan hati atas sambutan Allah SWT,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 118).

Isyarat merupakan medium petunjuk atas Allah yang menampung makna yang tak terwadahi pada ibarat. Isyarat ini sangat dibutuhkan bagi pesuluk sebagai penanda dan petunjuk atas Allah. Tetapi isyarat ini masih juga membawa serta sesuatu yang menandai keberadaan Allah sehingga mereka masih juga memandang yang lain selain Allah.

? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, isyarat adalah gudang makna sangat halus yang tak tertampung dalam ibarat. (Al-Arif billah yang kamil itu bukan orang yang memberikan isyarat bagi mereka yang meminta petunjuk, lalu ia merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu), terlebih lagi bagi Al-Arif billah yang kamil itu sehingga mereka merasakan Allah dekat karenanya atau di sisinya mengingat kekayaan kandungan isyarat itu yang menghendaki pemberi isyarat, isyarat, dan yang diisyaratkan. Al-Arif billah yang kamil itu adalah orang yang tidak memerlukan isyarat sama sekali karena ia telah melebur di dalam wujud Allah dan tersembunyi pada penyaksiannya sehingga makhluk itu lenyap (di matanya). Hal ini terjadi bisa karena ia menjadi ‘baqa’ sebab Allah, cahaya-Nya, dan pendaran cahaya itu dalam martabat pancarannya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 69).

Isyarat menandai adanya jarak dan antara. Isyarat kerapkali disertai dengan alasan, bukti, atau argmentasi. Ada orang beriman kepada Allah setelah mengetahui alasan, bukti, atau argmentasi sebagai isyarat atas Allah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa semakin banyak alasan, bukti, atau argumentasi yang diperlukan untuk beriman, tanda seseorang jauh dari Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abu Ali Ar-Raudzabari ketika ditanya perihal isyarat menjawab, isyarat tidak lain merupakan ungkapan dari dalam hati yang menjelaskan sesuatu yang ditunjuk. Sejatinya isyarat diiringi dengan illat (alasan, bukti, atau argumentasi). Illat itu jauh dari zat hakikat. As-Syibli mengatakan, setiap isyarat atas Allah yang ditunjukkan oleh makhluk-Nya hakikatnya tertolak sehingga mereka memberi isyarat atas Allah dengan Allah itu sendiri dan mereka tidak punya jalan untuk itu. Abu Yazid berkata, mereka yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang paling banyak isyarat atas-Nya,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 63).

Untuk seorang al-arif billah yang kamil, isyarat tidak diperlukan karena mereka tidak berjarak dengan Allah. Isyarat dibutuhkan oleh para pejalan atau pesuluk. Isyarat itu sangat membantu mereka untuk dekat dengan Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Redaksi Syekh Ibnu Athaillah ‘Al-Arif billah itu bukan...’ maksudnya adalah al-arif billah yang tidak kamil, belum mendalam dan mantap. Sedangkan mereka yang sedang berjalan tetap membutuhkan isyarat dan merasakan Allah lebih dekat dengannya karena atau bersama isyarat itu. isyarat itu membantu mereka dan menjadi makanan pokok bagi mereka layaknya ibarat bagi mereka yang mengarahkan pandangan kepada Allah sebagai akan dijelaskan di depan, ‘Ibarat adalah makanan pokok bagi mereka yang butuh mendengarkan. Dan kau akan mendapatkan sesuai apa yang kau ‘makan’.’ Redaksi penulis, ‘ketika memberi isyarat’, maksudnya adalah diberikan atau menerima isyarat. Sedangkan ‘Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat,’ maksudnya ia tak membutuhkan isyarat untuk dirinya, tetai untuk memberikan isyarat untuk orang lain. Ia sendiri tak memerlukan isyarat karena isyarat dan ibarat makanan orang yang lapar. Sementara ia sudah kenyang dan cukup. Kita bisa mengatakan bahwa isyarat itu mengandaikan jarak dan perpisahan. Sementara ia tetap bersatu dalam perpisahannya... Al-arif billah yang kamil menafikan jalan/isyarat karena sudah merasa cukup dengan Allah sehingga tak membutuhkan isyarat dan pemberi petunjuk. Wallahu a‘lam,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 120-121).

Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang disebut arifin yang kamil itu mereka yang selalu menggenggam tasbih, menggelar sajadah, atau membenahi letak sorban? Apakah mereka hidup soliter menyepi? Semua itu mungkin saja, bukan pasti. Tetapi yang  pasti mereka tetap bergaul dengan manusia lain. Mereka tetap manusiawi. Mereka bisa jadi buruh tani, pekerja kasar, guru, buruh pabrik, kuli angkut di pasar, pegawai rendahan, penunggu kafe, penunggu lahan parkir liar, atau guru agama di sekitar kita. Semua itu sangat mungkin sebagai dijelaskan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Al-Arif billah adalah orang yang dengan tauhid, kepercayaan, tawakal, dan kepasarahannya kepada Allah mencapai derajat di mana kehendak-kehendaknya fana dalam kehendak/iradah-Nya, sebab-sebab atau alasan lenyap di bawah kuasa-Nya, dan semua yang tampak meleleh pada cahaya terang penyaksian-Nya. Tetapi pengertiannya tidak seperti yang kita sangka selama ini di mana al-arif billah terputus dari dunia, lalu menjalin dengan alam lain. Al-arif billah tetap berhubungan dengan dunia berinteraksi makhluk-Nya sebagaimana manusia lainnya. Ia tetap berhubungan dengan mereka seperti sebelumnya. Tetapi ketika berinteraksi dengan dunia dan sebab-sebab duniawi, ia tak melihat dirinya selain bersama dengan Allah. Ketika menangani masalahnya dengan orang lain dan beraktivitas di tengah publik dalam soal kemasyarakatan dan masalah lainnya, ia hanya menyadari bahwa ia berinteraksi bersama Allah. Al-arif billah itu seperti yang dikatakan para sufi, ‘Arasy dan bumiku ada pada satu waktu. Arasyku bersama Allah dalam perasaan dan batin. Tetapi bumiku bersama manusia dalam muamalah dan lahiriyah.’ Hal ini diungkapkan sangat baik oleh atsar dari Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq perihal dirinya sendiri, ‘Tiada sesuatu yang kulihat selain kulihat Allah bersamanya, sebelum, dan sesudahnya.’ Kondisi ini juga diungkapkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi, ‘Hendaklah kamu bersama mereka secara lahiriyah, tetapi batinmu bersama Allah.’ Inilah maqam suluk tertinggi kepada Allah setelah maqam kenabian,” (Lihat M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, cetak ulang 2003 M/1424 H, juz II, halaman 471-472).

Menurut kami, penjelasan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi cukup klir bahwa makrifatullah yang kamil itu bukan soal pakaian atau profesi, tetapi lebih pada cara pandang. Cara pandang makrifatullah ini dapat hadir pada siapapun dan mereka yang berprofesi apapun sesuatu dengan anugerah yang Allah berikan kepada mereka. Mereka dapat merasakan kehadiran Allah tanpa harus dirangsang oleh ibarat atau isyarat tertentu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, Nasional, RMI NU PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Pemandangan agak berbeda tampak pada acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabu (27/2) malam. Jika biasanya kiai NU yang mengaji kitab, kini ulama asal Lebanon yang tampil fasih menerangkan isi kitab.

Syaikh Khalil ad-Dabbagh, ulama asal lebanon itu, membawa sedikitnya tiga kitab karangan ulama Nusantara, antara lain, at-Tanbihat al-Wajibat karya pendiri NU, Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Sirajuth Thalibin (Syaikh Muhammad Ihsan Jampes dari Kediri), dan Qathrul Ghaits (Syaikh Imam Nawawi dari Banten).

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Dosen Universitas Global Lebanon ini menjelaskan konsep tauhid menurut paham ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Allah, katanya, bersifat suci dari seluruh kriteria kemakhlukan, seperti bentuk dan arah sebagaimana pandangan mutajassim (antropomorfis).

PMII Cabang Tegal

”Allah tidak dapat dikonseptualisasikan atau dibayangkan. Lantas, kenapa kita menengadah ke atas saat berdoa? Itu bukan karena Allah bertempat di atas, melainkan langit merupakan kiblat untuk doa. Kita dapat temukan keterangan tersebut dari kitab ini,” kata Syaikh Khalil dalam bahasa Arab sambil memperlihatkan kitab Sirajuth Thalibin.

Menurut dia, pandangan ini ditemukan dasarnya pada ayat suci al-Qur’an yang mengatakan bahwa tak ada satupun yang menyerupai Allah. Dia mahasempurna dalam segala hal, tidak membutuhkan apapun atau siapapun.

PMII Cabang Tegal

Syaikh Khalil menambahkan, sebagaimana manusia, arah dan bentuk juga termasuk makhluk Allah. Tuhan terlalu luas untuk digambarkan oleh indra dan pikiran manusia yang terbatas. ”Dan kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Allah,” ujarnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Nasional, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat

Jakarta, PMII Cabang Tegal 



Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Podok Pesantren (Dit-PDPontren) akan menggelar peringatan Hari Santri Nasional tahun 2017. Gelaran ketiga kali ini mengusung tema “Wajah Pesantren Wajah Indonesia”.

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin berharap semua aktivitas kegiatan Hari Santri dapat menunjukkan bahwa pesantren dapat mempromosikan moderasi Islam (religious mederation) kepada dunia.

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat

“Saya kira dengan aktivitas Hari Santri, ini menunjukkan kepada Indoensia dan dunia internasional bahwa pesantren yang mempromosikan moderasi Islam,” kata Kamaruddin didampingi Sesditjen Pendis Ishom Yusqi dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Zayadi dalam keterangan persnya di kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta Pusat, Rabu (4/10).

Tidak hanya itu, lanjut guru besar UIN Alauddin Makassar ini, pesantren juga mengajarkan nasionalisme, hubbul wathon minal iman. Pesantren juga mengajarkan bagaimana menjadi Muslim yang baik, di samping ajaran-ajaran Islam yang toleran.

“Ajang Hari Santri ini menjadi ajang strategsis, bahwa pesantren mengajarkan Islam rahmatan lil alamin. Inilah pesantren yang mengajarkan itu semua,” kata Kamaruddin Amin sebagaimana ditulis di Kemenag.go.id.

PMII Cabang Tegal

Disampaikan Kamaruddin Amin, ke depan Kementerian Agama melalui Ditjen Pendis akan membuat strandar minimal pendirian pondok pesantren, membuat standar minimal kurikulum yang diajarkan. “Kita sedang merancang standarisasi kurikulum, tenaga pengajar pondok pesantren,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Kamaruddin Amin, Ditjen Pendis sedang memfinalisasi aturan pendirian pondok pesantren yang selama ini izin pendirian hanya dikeluarkan Kankemenag Kabupaten/kota. Ke depan izin harus dikeluarkan Dirjen dan Menteri Agama. Ini semua dilakukan untuk menjaga kualitas Pondok Pesantren (Pontren) dan mengantisipasi munculnya ajaran-ajaran gerakan radikal yan ada.

“Kebijakan yang sedang kita finalisasi, pendirian pondok pesantren akan dikeluarkan oleh Dirjen, dan Menag, yang dulu Kemenag Kabupaten/kota saja,” tandas Kamaruddin Amin. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Hadits, Nasional, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock