Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, Selasa (3/05), sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta ini adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan".?

"Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka hardiknas, semoga spirit Ki Hajar Dewantara dapat bersenyawa dengan kita, dan rembug guru ini adalah forum bapak/ibu guru untuk berjuang bersama baik itu terkait kompetensi guru maupun mengenai kesejahteraan," kata Aris Adi Leksono.

? ?

Dalam Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta hadir beberapa pembicara di antaranya H Nawawi (Anggota Komis E DPRD), Mahruz (Ketua PGMI), Amin (Kementerian Agama DKI Jakarta), Muhlis (Wakil Rektor UNJ), dan Kosman Marbun (Dinas Pendidikan DKI Jakarta).

PMII Cabang Tegal

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta Djaali dan ia merespon positif kegiatan ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Sleman, PMII Cabang Tegal - Sebanyak 30 peserta pendidikan Pesantren Agraria mempelajari berbagai macam pengetahuan terkait masalah agraria mulai analisa persoalan, peta konflik, dan metode riset sejak di Kantor NU Sleman, Kamis (12/5) malam hingga Ahad (15/5). Di hari terakhir mereka bergerak ke salah satu daerah potensi konflik agraria. Di sini mereka bertemu langsung dengan warga dan menghadapi masalah agraria yang berkembang di masyarakat setempat.

Menurut Penggerak Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Muhammad Al-Fayyadl, pendidikan Pesantren Agraria ini memberikan penekanan khusus pada masalah agraria. Pesantren Agraria ini berbeda dengan pesantren-pesantren pada umumnya.

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Dalam pesantren ini, peserta tidak akan mempelajari kitab kuning seperti lazimnya pesantren yang ada. Mereka diajak memahami persoalan alam yang kini tengah menjadi masalah mendesak di masyarakat.

“Kita tidak akan belajar kitab kuning, kita akan belajar alam. Kawan-kawan diperkenalkan persoalan alam kemasyarakatan yang hari-hari ini menjadi masalah yang krusial,” kata Muhammad Al-Fayyadl.

PMII Cabang Tegal

Sementara Ketua Nahdlatul Ulama (NU) H Imam Aziz lebih memotivasi peserta pendidikan Pesantren Agraria.

PMII Cabang Tegal

“Kita menjadi sorotan karena orang bertanya, ketika terjadi konflik agraria, NU di mana? Kita harus rela dituntut seperti itu. Kita harus mau mendalami kerumitan-kerumitan itu. Kita harus mengikhlaskan diri untuk mendampingi hal-hal rumit di Indonesia,” kata H Imam Aziz di hadapan peserta yang umumnya berusia muda.

Pesantren Agraria adalah sebuah pendidikan singkat untuk mengantarkan para pesertanya masuk ke dalam isu agraria hingga gerakan pendampingan. Pendidikan yang berlangsung selama empat hari ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sleman dan FNKSDA Yogyakarta. (Ubaidillah Fatawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, Nasional, Khutbah PMII Cabang Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

NU Usung Politik Tingkat Tinggi

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial dan keagamaan tidak lepas dari aktivitas politik. Namun, aktivitas politik yang digiatkan NU bukan politik praktis, tetapi lebih merupakan politik tingkat tinggi.

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani saat dihubungi PMII Cabang Tegal, Selasa (7/5) siang. KH Malik Madani merujuk pemahaman politik tingkat tinggi pada sebuah moralitas dan integritas yang menjiwai aktivitas politik praktis.

NU Usung Politik Tingkat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Usung Politik Tingkat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Usung Politik Tingkat Tinggi

KH Malik Madani menyebut kegiatan politik praktis sebagai as-siyatud dunya. Politik praktis itu lebih mengacu pada perebutan kekuasaan dan perolehan kursi semata. NU tidak bergerak pada lingkaran politik praktis seperti itu.

PMII Cabang Tegal

“NU mengedepankan politik tingkat tinggi, as-siyasatul ulya sebagai syarat mutlak bagi kegiatan politik dan bernegara. Karena, kegiatan politik tingkat tinggi lebih menyentuh kepentingan rakyat Indonesia dalam skala yang lebih luas dibanding politik kekuasaan,” ungkap KH Malik Madani.

PMII Cabang Tegal

Secara tegas, NU menuangkan gagasan politik tingkat tingginya dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas-Konbes NU 2012, September lalu di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

Dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Al-Waqi‘iyyah, para kiai NU membahas sejumlah persoalan penting kekinian, tambah KH Malik Madani. Pembahasan mereka mencakup masalah pengelolaan kekayaan negara, kesejahteraan rakyat, korupsi dan hukum mati koruptor, kriteria pemilihan calon legislatif dan eksekutif, kasus praktik suap, dan pengelolaan pajak.

Politik tingkat tinggi itu sudah jelas sebagai garis politik NU. Kegiatan politik seperti inilah yang sedang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia di tengah terlalu dominannya politik kekuasaan, as-siyatud dunya, tegas KH Malik Madani.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Pada hakikatnya, tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Hanya Allah SWT yang dapat mengetahui kapan hari pembalasan itu akan tiba. Tetapi, Allah telah bermurah hati memberitahukan sedikit bocoran dari sekian banyak tanda-tanda akhir zaman. Ini tentu merupakan sifat kemurahan-Nya, agar kita sebagai hamba senantiasa waspada dan segera membekali diri dengan amalan-amalan ibadah sebagai sangu (bekal) hidup di akhirat kelak.

Imam Rofi’ie sengaja menyusun buku setebal 172 halaman ini, dengan tujuan yang sangat mulia, yakni agar kita selalu menyadari bahwa hari kiamat itu pasti nyata adanya, kendati tentang kapan waktunya masih dirahasiakan oleh Allah SWT. Dan sebagai hamba-Nya yang beriman, kita dapat menelisik tanda-tanda datangnya hari kiamat tersebut melalui bukti-bukti autentik yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi.

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Di antara tanda-tanda akhir zaman, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah; ketika amanah telah disia-siakan, seperti; menyerahkan sebuah urusan (permasalahan) kepada orang yang bukan ahlinya. Pada dasarnya, menyia-nyiakan amanah terjadi karena disebabkan beberapa faktor, antara lain; ketika seseorang memiliki ambisi yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat luas, ingin memperkaya diri sendiri, minimnya ilmu pengetahuan agama, dan lain-lain.

Di negeri tercinta ini, tentu bisa kita lihat secara kasat mata, banyak pemimpin atau pejabat yang tidak lagi bisa dipercaya. Mereka kerap “menyia-nyiakan” amanah yang telah dipercayakan rakyat kepada mereka. Menyia-nyiakan di sini memiliki makna bahwa orang yang bersangkutan memendam karakter acuh tak acuh terhadap sesama, hanya mementingkan urusan perut sendiri, tak peduli jika orang lain sengsara akibat ulahnya (halaman 27-28).

PMII Cabang Tegal

Tanda-tanda akhir zaman yang berikutnya adalah ketika kebohongan semakin merajalela. Berbohong adalah sebuah sifat sekaligus penyakit berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat. Berbohong, sebagaimana pernah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu dari tanda-tandanya orang munafik. Sementara, agama mana pun di dunia ini, mengajarkan bahwa sikap orang munafik merupakan perbuatan keji dan seyogianya kita hindari. Di zaman sekarang ini, tentu kita dapat menyaksikan aksi-aksi kebohongan telah mulai marak bahkan menjadi hal yang lumrah. Ironisnya, mereka melakukan kebohongan secara terang-terangan tanpa merasa bahwa dirinya bersalah (halaman 31-35).

PMII Cabang Tegal

Bermegah-megahan dalam membangun masjid juga menjadi pertanda bahwa hari kiamat telah semakin dekat. Maksud dari “bermegah-megahan” di sini adalah ketika seseorang membangun masjid hanya untuk kebanggaan dan kesombongan hingga terpecahnya kerukunan di antara umat. Sementara masjid tersebut kosong atau sepi tanpa diisi dengan berbagai kegiatan ibadah (halaman 44).

Agama Islam sangat memuliakan kaum perempuan dan sangat menjunjung tinggi kehormatannya. Termasuk dalam tata cara berpakaian mereka pun syariat Islam telah mengaturnya dengan bijak, dengan tujuan agar mereka menjadi perempuan yang mulia dan terhormat, baik di mata sesama manusia, terlebih di mata agama (halaman 52-53). Jika kaum perempuan sudah tak lagi memiliki rasa malu mengumbar lekuk-lekuk keindahan tubuhnya, bahkan mereka kemudian merasa bangga memamerkan aurat di depan umum, maka ini menjadi sebuah indikasi bahwa hari kiamat telah semakin dekat (halaman 57).

Masih banyak tanda-tanda akhir zaman yang dipaparkan dalam buku ini. Seperti; semakin terkikisnya ilmu pengetahuan dari muka bumi ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa menimba ilmu (terutama ilmu agama) menjadi sebuah keharusan bagi setiap individu. Namun, pada kenyataannya, ilmu-ilmu agama semakin menyusut dari waktu ke waktu. Ini bisa dibuktikan dengan ketidakmampuan umat Islam untuk melaksanakan hal-hal yang telah diajaran dalam agama Islam. 

Bahkan, yang sangat menyedihkan, umat Islam semakin sedikit yang berminat mempelajari agamanya sendiri. Mereka lebih cenderung mengikuti tren budaya Barat yang sebagian besar bertentangan dengan syariat Islam. Sementara itu, kecanggihan teknologi semakin diminati untuk hal-hal negatif dan orang-orang yang pintar dalam masalah agama semakin hilang ditelan bumi. 

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menghilangkan ilmu secara sekaligus dari (dada) manusia. Akan tetapi, Allah akan menghilangkan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama. Ketika tiada lagi para ulama, maka yang akan menjadi pemimpin di muka bumi ini adalah orang-orang jahil (bodoh) yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga keberadaan para pemimpin yang seperti itu tergolong sesat dan menyesatkan orang lain (halaman 154-156).

Judul Buku : Kenali Peristiwa-peristiwa Tanda Akhir Zaman

Penulis : Imam Rofi’ie

Penerbit : Najah

Cetakan : I, September 2013

Tebal : 172 halaman

ISBN : 978-602-7663-66-4

Peresensi: Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal PonPes, Ulama, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

PMII Cabang Tegal

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

PMII Cabang Tegal

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hadits, IMNU, Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Oleh Aswab Mahasin

Di dalam perjumpaan kebudayaan, seperti di tulis oleh Kuntowijoyo, “selalu ada kemungkinan bahwa kebudayaan atau ideologi yang lebih tinggi akan memengaruhi kebudayaan atau ideologi yang kurang kuat. Ideologi yang kuat akan mengubah ideologi yang lemah”. Pertanyaannya apakah selalu demikian?

Ini adalah kelanjutan dari tulisan saya di opini PMII Cabang Tegal dengan judul Meng-Indonesiakan Manusia Indonesia. Selain itu, merupakan momen tepat berbicara masalah ini, Indonesia sedang memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Tulisan ini akan memberikan wacana, bagaimana Indonesia dengan PBNU-nya (Pancasila, Bhineka, NKRI, dan UUD 45) mengurai benang kusut toleransi di tengah masyarakat multikulturalisme.

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Makna yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah, perbedaan budaya, adat, kebiasaan, suku, ras, agama, dan sebagainya (multikulturalisme) di Indonesia—jangan dianggap sebagai pertentangan untuk saling merendahkan, mengunggulkan, atau bahkan merubah. Pertemuan kebudayaan di Indonesia sangat kompleks, tidak hanya sebatas satu atau dua golongan saja.

Rumusunnya begini, dalam kebudayaan tidak ada yang lebih unggul, semuanya setara. Mengaji budaya berbeda dengan mengaji ekonomi, politik, dan ilmu lainnya. Ketika kita berbicara ekonomi perbandingannya akan kentara antara bagian Afrika dan Amerika, Indonesia dan China, sedangkan dalamkebudayaan tidak ada standar mana lebih hebat. 

PMII Cabang Tegal

Semua kebudayaan luar biasa, karena setiap peradaban manusia selalu membawa kebudayaan.Di sini batasannya adalah akhlak/moral/etika, artinya, siapa saja yang bisa bergaul dengan berbagai golongan manusia, maka ia merupakan manusia berbudaya. 

Melihat dinamika Indonesia kini, pembentukan masyarakat multikurtural sepertinya kurang sehat. Gejolak di sana-sini tumbuh dengan berbagai “wajahnya”. Ada yang mengatasnamakan agama, tidak sedikit juga mengatasnamakan kesukuan. 

Berkaca pada sejarah, banyak kasus penderitaan (memakan korban) gara-gara “gagal paham” memaknai keberagamaan (pluralisme dan multikulturalisme). Pada tahun 2012 pernah terjadi konflik antar suku di Sigi, pada tahun 2013 perang suku di Papua, dan pada tahun 1996 perang suku di Sampit. Dan sekarang ini, gesekan agama sering muncul, sebagai proses perlawanan terhadap masyarakat yang dianggap kurang Islami dan kafir. 

Tidak hanya itu, ditingkat dunia—India siklus pergaulan sangat terganggu oleh perbedaan norma-norma kasta, perbedaan bahasa dan agama. Sedangkan kesatuan di tingkat Nasional terganggu juga oleh masalah kebijaksanaan bahasa nasional. Suatu masalah bahasa nasional ada juga seperti di Filipina. Dasar dari persaingan bahasa itu yakni bahasa Taglok dan bahasa Bisayan. Ilustrasi lagi negara Federasi Nigeria di Afrika Barat menggambarkan bagaimana suatu perbedaan kebudayaan antara suku-suku bangsa dan permusuhan yang bersumber kepada alasan sosial-ekonomis antara suku-suku bangsa di negara itu, dapat menjerumuskannya ke dalam suatu perang saudara (pembrontakan Biafra yang hendak memisahkan diri dari Federasi Nigeria), kejadian itu menghambat pembangunan negara Nigeria. (Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, 2007)

Dunia sedang termakan oleh buah pikiran penghuninya sendiri, posisi dunia bertarung dengan serba ideologi dan serba identitas. Anehnya, fenomena ini terlahir di dunia yang dianggap modern, di mana dunia telah melawati aura kegelapannya, dan berada pada zaman pencerahan. 

PMII Cabang Tegal

Saya sendiri lebih sepakat mengatakan bahwa pertentangan-pertentangan yang ada sekarang lebih kepada respon ideologi yang terus menerus diperdebatkan dan dianggap tidak ideal. Terlahirnya komunisme didasari atas kritik Marx terhadap kapitalisme, lahirnya demokrasi liberal didasari atas ketidakpuasan pikiran terhadap sistem yang menekan dan sistem-sistem lainnya yang dianggap tidak memberi kebebasan, dan begitupun seterusnya. Apalagi respon budaya, tentu lebih sensitif. Begitupun pertentanagan dalam agama, sama.

Di satu sisi saya meng-“amini” kekacauan dunia dilatarbelakangi atas ideologi tanpa ide, namun di sisi lain kehadiran hal tersebut wajib sebagai keniscayaan yang tidak bisa kita sumbat. Ini adalah narasi-narasi zaman yang harus kita terima.

Dinamika tersebut merupakan proses yang wajar, dan semua berhak hadir. Hanya saja, perjumpaan itu harus kita tangkap tidak hanya sebagai efek politik belaka, atau ideologi yang kaku/normatif. Melainkan sebagai pijakan ide untuk mengisi nilai tambah dalam transformasi kebudayaan dunia, khususnya Indonesia. 

Akar masalah

Kenyataan yang tidak bisa ditolak, negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok, etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hal itu menjadi takdir pasti bagi manusia Indonesia. Kelahiran manusia ke dunia adalah keterlemparan, manusia semenjak berada di dalam perut Ibunya sudah terbeli oleh fakta-fakta, khususnya fakta yang melingkari dirinya; identitas keluarga, lingkungan, budaya, agama, dan kebiasaan.

Setiap fakta yang kita terima adalah nilai tersendiri. Pasti, standar nilai antara satu fakta dengan fakta lainnya berbeda. Dari situ tidak menutup kemungkinan ada perbedaan curam yang membuat gesekan antar setiap nilai. 

Namun, Indonesia sebagai negara-bangsa telah membangun kesepakatan objektif, dikibarkannya bendera Merah-Putih sebagai simbol jati diri bangsa, dipilihnya Pancasila sebagai filosofi, dan ditetapkannya Bhineka Tunggal Ika adalah perlambang “keperbedaan kita bagian dari kesatuan kita”, serta Undang-undang Dasar 45 merupakan tanda kemerdekaan Indonesia.

Hanya saja, keterbukaan segala rupanya pada saat ini menjadi titik tolak percampuran serba ideologi dan serba budaya. Kita tidak bisa membendung itu semua, memfilter pun kadang susah. Pada akhirnya, standar nilai yang kita miliki serasa kabur; gaya berpakaian, cara berbahasa, cara menghormati orang, dan cara mengartikan kesatuan. Efeknya, masyarakat lebih acuh dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar, didukung dengan era industri berkembang cepat. 

Pertarungan serba budaya ini menyerang dari berbagai sudut, tidak hanya kesatuan dalam arti multikulturalisme, ketahanan kebangsaan kita juga diuji oleh serentetan intimidasi kebudayaan baru yang datang, seperti; fenomena demam korea (melalui film/musik), fenomena barang bajakan (melalui tekhnologi), fenomena konspirasi pecah-belah (melalui media), fenomena pertentangan agama (melalui politik), dan masih banyak lainnya. 

Hal tersebut mungkin terlihat sepele, tapi dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana kesan. Apalagi bagi manusia Indonesia yang kagetan. Di sini saya teringat kata-kata nyelenehseorang Penyair Ahmad Adib Amrullah mengatakan, “Indonesia tetap nomer satu, tetapi orang Indonesia entah nomer berapa”. Pesan itu menyiratkan ada salah instal budaya baru di Indonesia.

Mengakibatkan manusia Indonesia kehilangan nilai-nilai kebangsaannya, seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif dalam salah satu pemberitaan PMII Cabang Tegal yang bertajuk “Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi?”, dituliskan; salah, jika tekhnologi menjadi mercusuar dalam mengukur kemajuan sebuah bangsa, justru tidak banyak yang memahami bahwa inti dari kemajuan sebuah negara adalah bagaimana mereka mampu mempertahankan identitas kebangsaannya”. 

Terlihat jelas akar masalah dari ini semua, yaitu masyarakat Indonesia terjebak oleh gesekan serba budaya, sehingga mereka menjadi lupa untuk mempertahankan identitas dan nilai-nilai kebangsaaan. Sehingga kerusakan mental manusia-manusia Indonesia terus menjalar, sampai pada tatanan yang rapuh,  kalau kita gambarkan alurnya sebagai berikut; 

Pertama, disnilia, dalam hal ini kita telah kehilangan pijakan dasar, nilai-nilai yang kita anut sebagai cara hidup bermasyarakat sedikit demi sedikit mulai luntur, dan kehilangan nilai adalah tanda dari hilangnya identitas bangsa. Efeknya ketataan terhadap hukum, penghormatan terhadap perbedaan, kedamaian hidup berdampingan, akan terganggu.

Kedua, disorder, diawali dari hilangnya nilai, orang akhirnya tidak taat terhadap hukum. Melanggar hukum menjadi kelumrahan bagi kita, Ketiga, disharmonisasi, ketika tidak ada ketaatan terhadap hukum. Untuk merajut masyarakat yang harmoni tentu susah, masyarakat menjadi acuh.

Keempat, disorganisasi, ketidak harmonisan masyarakat, punya potensi besar untuk meruntuhkan bangunan besar perbedaan, seperti perbedaan agama, suku, ras, budaya, kebiasaan, adat, dan sebagainya, Kelima, disintegrasi. Nilai hilang, tidak taat terhadap hukum, keharmonisan sirna, kesatuan luntur, maka puncak dari semuanya adalah kehancuran, ketegangan-ketegangan akan nampak terus mengisi ruang publik. Konflik mudah terlahir. Keutuhan bangsa kita menjadi taruhannya.

Pendidikan sebagai titik temu

Memberikan penawaran solusi untuk melahirkan kehidupan selaras dalam berbangsa dan bernegara tidaklah mudah (apalagi multikulturalisme), meminjam istilah Koentjaraningrat, “Secara logika, memakan waktu banyak, dan membutuhkan perpindahan satu generasi”.

Jika kita tinjau kabar bangsa kita sekarang ini, ditingkat agama banyak pergesekan antar agama dan perbedaan pandangan (potensi gesekannya cukup lumayan), namun yang mengakibatkan hal ini menjadi masalah adalah mulai tersebarnya paham radikal dengan mengusung model dakwah arogan.

Di tingkat desa, kota, dan negara, potensi terpendam untuk konflik karena hubungan antar suku, seperti orang Jawa dan orang Sunda, suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Demikian pula tidak dapat kita ingkari, hubungan antara orang batak dan melayu di Sumatera Timur, antara penduduk asli dan orang transmigran di Lampung dan Sumatera Selatan, atau permusuhan secara adat antara rakyat dari berbagai kerajaan pribumi di Timor, dan masih banyak lainnya. (Koentjaraningrat, 2007)

Dalam hal ini, untuk menyekat atau memutus tabir konflik tidak lain melalui jalur pendidikan sebagai pemahaman awal masyarakat mengenai pentingnya hidup berdampingan. Ada hal menarik pernah dituliskan oleh Paulo Freire yang mengembangkan konsep pendidikannya bertolak dari pandangan tentang manusia dan dunia. Kodrat manusia, menurut Freire, tidak saja berada dalam dunia, namun berada bersama dunia. Manusia tidak hanya hidup di dunia tetapi hidup dan berinteraksi dengan dunia. (Siti Murtiningsih, Pendidikan Alat Perlawanan, 2004)

Hal tersebut menyiratkan pembelajaran yang ditekankan dalam pendidikan lebih dulu bertujuan membina kepribadian manusia, dan pendekatannya tidak melulu relasi antara guru dan murid, menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya hasil pemberian dari pendidik saja, namun buah dari keterlibatannya secara langsung dengan realitas yang dihadapinya.

Artinya, Freire mengedepankan pendidikan juga harus menampilkan gambaran besar mengenai realitas, untuk menanamkan rasa kebersamaan dalam menghapi kenyataan sebagai permasalahan yang harus dihadapi bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah. 

Dengan demikian, untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, dan saling percaya, pendidikan tidak serta-merta mengkebiri peserta didik dalam ruanglingkup yang itu-itu saja, melainkan dibutuhkan keterlibatan nyata dari berbagai elemen dan lapisan, keluarga dan masyarakat. 

Khususnya di Indonesia, memberikan pemahaman secara langsung merupakan kewajiban, agar peserta didik sejak dini terinstal nilai-nilai kebangsaan tentang pentingnya hidup berdampingan. Dan kita semua, yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kesatuan serta keutuhan bangsa ini, harus terus konsisten mengingatkan mencontohkan, setidaknya memberikan pendidikan secara lapangan bahwa Indonesia harus dibangun dengan nilai-nilai yang luhur, nilai-nilai yang dinamis, dan nilai-nilai yang baik. Semoga Indonesia tetap menjadi bangsa dengan segudang rasanya. 

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam, Ulama PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Ayolah Sahabatku

Oleh Eko Petruk?



Untuk Sahabat/Sahabati Pergerakan pada ulang tahun PMII ke-57

Ayolah Sahabatku!

Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayolah Sahabatku

Apa kamu sudah kenyang menikmati hidangan ulang tahun?

Apa kamu sudah senang bertukar hadiah?

Apa kamu sudah selesai memanjatkan doa?

PMII Cabang Tegal

Ayolah Sahabatku!

Segera kita pamitan

PMII Cabang Tegal

Kita harus sadar bahwa waktu sudah memasuki senja

dan sebentar lagi malam

Aku tidak mau jika nanti kita gelagapan, lupa jalan pulang

dan aku tidak mau mendengar keluhmu kalau dalam perjalanan kakimu menginjak tai

atau terluka kena krikil, duri, beling, dan paku

Aku tidak mengada-ada

Kau tengoklah sendiri dengan matamu!

Waktu semakin senja!

Ayolah Sahabatku

Kita pulang sekarang!

Meskipun kamu yakin bahwa yang baik selalu berbiak

Kamu juga harus meyakini bahwa yang jahat pun lebih cepat berlipat

Aku tidak mau kita mati konyol malam ini, kena tenun Calon Arang dan para penerusnya

Karena besok pagi kita harus bersama-sama Bapak dan Ibu menjaga hasil bumi dari Hamaspaton yang tak henti membuat banyak petani merugi

Yogyakarta, 17 April 2017





Eko Petruk atau Eko Nurwahyudin lahir di Kebumen, 11 Januari 1996. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock