Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul Halal bi Halal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

PMII Cabang Tegal

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujzau" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq

PMII Cabang Tegal

?

KH Masdar Farid Mas’udi

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra

Karanganyar, PMII Cabang Tegal. Pelaksanaan ujian nasional (UN) tinggal menghitung hari. Sekitar 600 siswa SMP/MTs. kelas IX dan SMA/MA/ SMK se-Kabupaten Karanganyar menggelar istighosah bersama di Masjid Agung Karanganyar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar, Sabtu (12/4). Ratusan siswa ini berdoa memohon ketenangan batin dan persiapan menghadapi UN yang akan dilaksanakan mulai Senin (14/4).

Para siswa se-Karanganyar tersebut sejak lepas Dhuhur telah memenuhi Aula Masjid Agung Karanganyar. Mereka dengan khidmat melantunkan ayat-ayat Al Quran. Acara istighosah tersebut seperti biasa diawali dengan bacaan Sholawat Nabi Muhammad dengan diiringi grup hadrah Al-Munawwar Matesih.

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra

Ketua Panitia penyelenggara, Wahyu memberikan motivasi kepada para peserta istighostah "Mari kita bersama-sama untuk menata hati dan fikiran melalui berdoa maupun berdzikir untuk meraih kelulusan dalam ujian mendatang," ujarnya saat memberikan sambutan.

PMII Cabang Tegal

Ia berharap kepada peserta istighotsah agar setelah lulus nanti untuk ikut dan bergabung dengan organisasi IPNU-IPPNU, tambahnya

PMII Cabang Tegal

Istighotsah yang dipimpin oleh Rais Syuriah MWC NU Karangapandan, KH. Agus Mushtafa berlangsung khusuk dan khidmat. Usai berdoa, KH. Yahya menyampaikan pesan singkat kepada ratusan pelajar yang hadir.

KH. Mushtafa mengajak para pelajar untuk selalu berdoa, berikhtiar dan meminta doa restu kepada orang tua dan guru-guru agar ilmu yang dicita-citakan bermanfaat.

"Sebagai pelajar harus terus berdoa, berikhtiar, dan meminta doa dan restu kepada orang tua dan guru-guru kalian agar apa yang dicita-citakan bermanfaat baik di dunia maupun akhirat," pesannya ratusan pelajar

Sementara, Ketua PC.IPNU, Khalid menjelaskan kegiatan ini menjadi agenda rutinan yang diselenggarakan setiap tahun menjelang Ujian Nasional.

"Alhamdulillah, acara ini mampu membuat para Pelajar tampak semakin optimis dalam menghadapi UN yang akan digelar 14 April mendatang." tuturnya.

Dalam acara tersebut tampak hadir Ketua PCNU Kabupaten Karanganyar, Kiai Mukti Ali, Kiai dan  Kasi Mapenda Kemenag Kab. Karanganyar Drs. H. Muhtadi M.Pd. (Ahmad Rosidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Budaya, RMI NU PMII Cabang Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Konsep daulah Islamiyah yang diusung segelintir kelompok, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, daulah Islamiyah dalam perspektif mereka bergeser jauh dari prinsip dasar khalifatullah di muka bumi. Sementara khalifatullah dalam Islam merepresentasikan sebuah sistem negara yang dapat memenuhi kebutuhan dasar setiap warganya.

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dalam diskusi Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Perspektif Pedesaan di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/7) sore.

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah

“Khalifatullah itu wakil Allah di muka bumi. Tidak main-main, wakil Allah! Khalifatullah bertanggung jawab memenuhi kebutuhan segenap warga dari pelbagai latar belakang,” kata Kiai Masdar menerangkan dasar pemikiran negara.

PMII Cabang Tegal

Menurutnya, lahirnya sebuah negara berawal dari kewajiban setiap individu dalam memenuhi tiga kebutuhannya yang meliputi kebutuhan primer, sekunder, tersier. Agama, kata Kiai Masdar, menyebutnya dengan istilah dharuri, haji, tahsini.

PMII Cabang Tegal

Ketika individu bersangkutan tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka tanggung jawab itu beralih kepada keluarga. Saat di mana keluarga lumpuh, maka masyarakat bertanggung jawab mengambil kewajiban itu.

Dari situlah sebuah negara hadir di tengah keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan warga.

“Khalifatullah bisa dibilang pemimpin di negara manapun. Karena khalifah menjalankan pemenuhan Allah yang bersifat rahman di bumi tanpa diskriminasi. Khalifah yang menjalankan sebuah negara tidak boleh menomorduakan warga nonmuslim. Karena, sifat rahman-Nya umum mencakup muslim dan nonmuslim,” kata Kiai Masdar.

Berbeda dengan sifat rahim yang khusus diberikan kepada orang beriman di akhirat. Itulah kenapa surah al-Fatihah menyebut Hari Kiamat sebagai yaumid din, hari agama. Di sanalah agama diadili. Sedangkan di dunia, Allah lewat sifat rahman-Nya tidak menghakimi keyakinan.

“Mana bisa polisi menghakimi keyakinan warga? Keyakinan masalah batin. Itu nanti di Akhirat, yaumid din,” tandas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Doa, RMI NU PMII Cabang Tegal

Senin, 08 Januari 2018

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Empat koperasi NU dari Yogyakarta dan Jawa Tengah menyatakan siap menghadapi tantangan pasar bebas masyarakat ASEAN 2015. Pengurus empat koperasi ini melakukan pembenahan internal sambil membangun jejaring dengan dunia bisnis lainnya.

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)
4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Mereka menyatakan kesiapannya pada acara pelatihan peningkatan kapasitas di Gedung PWNU DIY jalan MT Haryono 40-42, Yogyakarta, Kamis (20/11).

Pada pelatihan ini, mereka dilatih dengan sistem layanan berbasis teknologi. Empat koperasi ini juga mendapatkan bantuan masing-masing satu paket gadget sebagai bentuk dukungan sistem dalam pengelolaan yang akuntabel dan profesional.?

PMII Cabang Tegal

"Ini akan kita lakukan bukan hanya di Yogya dan Jateng. Ini kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk seluruh Indonesia. Kita akan keliling. Semua ini untuk kebangkitan ekonomi NU menyambut tantangan ekonomi global," kata Bendahara PWNU Yogyakarat H Fahmi Akbar Idris.

Fahmi menekankan sekali kelancaran arus perekonomian NU. "Jangan sampai ekonomi NU mandek. Kita harus siap menjawab tantangan global. Perbaiki standarnya, kapasitas personalnya, dan laporan keuangan yang akuntabel.”

PMII Cabang Tegal

Ia mendorong peningkatan kapasitas teknologi dalam perekonomian. “Semuanya harus kuat dan terukur. Karena, sistem ekonomi hari ini tak bisa lepas dengan perkembangan teknologi," tandas Fahmi. (Madun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sejarah kita sebagai sebuah bangsa mewariskan kekayaan tradisi yang melimpah. Salah satunya adalah pesantren yang berusia lebih sepuh dari Indonesia. Memang, sebagai lembaga pendidikan, pesantren tidak memiliki formulasi paten, baik secara institusional, kurikuler ataupun intruksional. Setiap pesantren memiliki kekhasannya masing-masing. Dalam pesantren tidak ada standar umum yang berlaku bagi semua pesantren. Inilah kelebihan pesantren.

Karenanya, pesantren dapat berkembang secara alamiah, dengan dasar etika yang sama. Perbedaan antar pesantren sekedar di wilayah tipologi dan penerapan. Landasan etisnya sama. Dari satu landasan etis ini (ilmu keislaman dan akhlak) merambat menjadi berbagai jenis karakteristik yang bermacam-macam. Tipologi ini yang menyebabkan, selesai atau tidaknya pelajaran santri ditentukan oleh pengamatam Kiai atau gurunya, setidaknya di pesantren tradisional.

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Sebagian pesantren memilih fokus dalam pengajaran al-Qur’an dan berbagai perangkat ilmunya seperti Pesantren Krapyak, nahwu-sharaf seperti Pesantren Lirap, Kebumen dan berbagai macam jenis lainnya. Sehingga tidak jarang, santri yang telah menyelesaikan pelajaran di satu pesantren tertentu pindah ke pesantren lainnya untuk memperdalam ilmu agama lainnya. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan santri, tapi juga memberikan manfaat pada pengembangan dirinya.

Santri—dulunya, mungkin juga sekarang—tidak memiliki cita-cita spesifik ketika menuntut ilmu di pesantren. Maksud spesifik di sini adalah cita-cita yang mengarah pada profesi tertentu dengan gamblang dan jelas, seperti menjadi pilot, dokter, menteri dan seterusnya. Sebab, tekanan inspiratif di pesantren sangat berbeda dengan sekolah umum. Di pesantren, ada doktrinasi budaya bahwa tujuan menuntut ilmu adalah menghilangkan kebodohan (ngilangake kebodohan).

Bukan berarti santri tidak memiliki aspirasi untuk maju, tidak. Hanya saja aspirasi santri, dari sudut pandangnya yang khas, tidak sekadar kemewahan diri dan keberhasilan individu semata. Kehidupan pesantren yang dilaluinya bertahun-tahun, membangun karakter gotong royongnya yang tinggi.

PMII Cabang Tegal

Diktum ngilangake kebodohan itu menjadi pondasi utama bahwa menuntut ilmu itu tidak ada habisnya, dari mulai lahir sampai ke liang lahat.Kebodohan itu mustahil dihilangkan. Etos belajar semacam inilah yang dipegang santri, belajar tiada akhir. Sikap ini, kemudian, dibawa para santri dalam kehidupan bermasyarakat, entah di lingungan kerja atau lingkungan lainnya, meski sudah tidak lagi tinggal di pesantren.

Nicolaus Cusanus (1401-1464 M) berpandangan bahwa manusia selalu dalam perjalanan. Makin tinggi pengetahuannya, makin sadar apa yang diketahuinya belum seberapa. Dia menyebutnya dengan istilah “de docta ignorantia” (ketidak-tahuan yang terpelajar, learned ignorance), sesuai dengan judul bukunya.

PMII Cabang Tegal

Para santri memahami itu, tidak ada orang pintar, yang ada adalah orang bodoh yang terus belajar. Atas alasan ini Kanjeng Rasul memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Karena luasnya pengetahuan dan pendeknya umur manusia. Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah mengatakan: “al-Insân jâhil bi dzâtihi wa ‘âlim bi kasabihi—manusia itu bodoh secara dzatnya, menjadi tahu dengan berusaha.” (Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, hlm 567)

Yang menentukan seseorang santri atau tidak, bukan profesi atau pekerjaannya, tapi karakter kesantrian yang telah melekat di dalamnya. Dia bisa hidup menjadi apa saja; presiden, dosen, atlet, tukang besi, pengusaha dan seterusnya. Fleksibelitas santri ini, menurut Gus Dur, didasari oleh orientasi ukhrawi yang sangat kuat, yaitu menerima apa saja yang diberikan kehidupan. Walaupun terlihat seperti sikap hidup fatalistis—ditinjau dari standaritas kehidupan dari luar pesantren—pandangan hidup semacam ini mempunyai sisi positif yang besar (Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, LKiS, hlm 8).

Pesantren sebagai tempat pendidikan, dan santri sebagai pengamalnya, telah mengembangkan pendidikan karakter dari zaman dulu, sebelum Full Days School (FDS) diperkenalkan. Pesantren mampu menciptakan sikap hidup universal yang merata dengan tata nilaiyang luhur, bukan aturan tertulis. Bagi santri, melanggar kode etis dalam kultur pesantren tidak berbeda dengan melanggar undang-undang tertulis. Sebab itu, santri akan berusaha sekeras mungkin mempertahankan identitas kultural-moralnya dimanapun dia berada.

Mark Van Doren (1894-1972 M) memandang pendidikan harus menekankan pada integritas holistik, yaitu proses integratif yang mengumpulkan berbagai komponen manusia. Jika pendidikan tidak terkait dengan intelektualitas, psikologi dan spiritualitas manusia secara bersamaan, menurut Mark Van Doren, hal itu tidak bisa disebut pendidikan (Mark Van Doren, Liberal Education, 1959).

Sebagai institusi pendidikan, model yang dikembangkan pesantren mirip dengan teori Mark Van Doren. Dengan melakukan integrasi berbagai elemen manusia. Perbedaannya, sistem pendidikan pesantren beredar di wilayah praksis, belum terskema secara teoritis. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perbedaan pendekatan yang digunakan setiap pesantran. Sebelum masuk lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu‘siapa itu manusia’menurut definisi yang biasa digunakan pesantren.

Dalam bahasa Arab kata manusia berasal dari al-uns (jinak, harmonis, dan suka cita). Definisi umumnya di kalangan pesantren adalah al-hayawân al-nâthiq (hewan yang berpikir). Menurut Imam al-Ghazali (1058-1111 M) definisi semacam itu baru mencakup aspek psikologis saja (tanâwul nafs), belum menyeluruh. Al-Ghazali memandang manusia memiliki tiga unsur penting, yakni al-nafs (jiwa), al-rûh (nyawa) dan al-jism (fisik), tidak sekedar jiwa dan raga (Abu Hamid al-Ghazali, Mi’râj al-Sâlikîn, dalam Majmû’ah al-Rasâ’il al-Imâm al-Ghazali, hlm 62).

Tiga unsur penting manusia ini digarap secara gradual di pesantren. Pertama, al-Nafs dibagi dua jenis: 1) jiwa atau aspek psikologis yang dibangun melalui aturan pesantren dan cara hidup bersama santri, dan 2) intelektual, proses ajar-mengajar santri di pesantren. Kedua, al-rûh (spiritualitas) dibentuk dengan penghindaran terhadap hal-hal haram, kontinuitas ibadah dan proses pensucian hati bertahap, misalnya tirakat. Kemudian, ketiga, al-Jism (fisik), dengan carapelatihan fisik yang bersifat untuk menajamkan jiwa dan spiritualitas santri, misalnya ro’an (kerja bakti bersama di hari libur pesantren).

Pendidikan Barat tidak memberikan ruang yang cukup untuk spiritualitas,lebih mengutamakan intelektualitas. Akibatnya, telah menghasilkan tragedi yang cukup besar. Dari tahun 2010 hingga sekarang, di Amerika Serikat telah terjadi 120-an kasus penembakan di sekolah dan memakan korban lebih dari 120 orang. Aksi itu sebagian besar dilakukan oleh siswa. Banyak dari mereka mengalami masalah kejiwaan.

Dengan demikian, aspek spiritual sangat penting dalam pendidikan kita. Penguatan pendidikan karakter harus dibarengi dengan pendidikan spiritual yang seimbang. Dalam tradisi kita, biasanya dilakukan di Madrasah Diniyyah sore atau malam. Di samping masjid dan langgar yang membuka pengajian untuk anak-anak setelah maghrib. Hampir semua motor penggerak pendidikan spiritual (agama) itu, di desa-desa, dilakukan oleh para santri yang telah mukim di daerahnya masing-masing.

Poin pentingnya adalah, citra santri dengan cita-cita umumnya (ngilangake kebodohan) membentuk karakter santri yang unik, dalam pengertian yang baik. Setiap hari mereka dituntut disiplin, bangun sebelum shubuh, kemudian harus mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat padat. Masuk sekolah sampai siang, madrasah sore dan muhafadzoh (menjaga hafalan bersama-sama), setoran hafalan setelah maghrib (sebagian mengaji al-Qur’an), bandongan dan sorogan setelah shalat Isya hingga jam sebelas malam, lalu sisanya digunakan untuk istirahat atau tidur. Paling tidak, itulah kegiatan salah satu pesantren yang saya ketahui.

Maka dari itu, para santri memiliki fleksibelitas luar biasa. Padatnya jadwal belajar sehari-hari tidak menjadikan mereka seperti robot yang membosankan. Sentuhan spiritualitas-humanistik Kiai dan santri senior, memberikan dimensi baru dalam pendidikan karakternya. Kiai dipandang tidak sekedar sebagai guru, tapi juga uswah, sumber suri tauladan santri. Karenanya, pesantren memiliki jutaan cerita keteladan yang tidak akan habis didengar. Keteladanan yang bermuara pada Sayyiduna wa Maulana Muhammad Saw, bendoro dan pungkasan para nabi.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan, dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri

Madiun, PMII Cabang Tegal. Lebih dari seribu penonton memenuhi tribun GOR Cendikia IKIP PGRI Madiun, Sabtu (14/10). Mereka datang untuk menyaksikan tim kesayanganya bertanding dalam kompetisi Futsal Piala PCNU Kabupaten Madiun yang digelar dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional.

Panitia Divisi Pertandingan, Zaki Nur mengatakan, kompetisi yang akan digelar hingga 16 Oktober ini diperkirakan berlangsung sengit. Karena pertandingan Futsal ini sangat jarang ditampilkan dalam sebuah kompetisi. Animo penonton untuk menyaksikan kompetisi juga sangat besar. Apalagi panitia pelaksana menggratiskan tiket masuk kepada para penonton.

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri

"Karena ini bernuansa Hari Santri Nasional, maka untuk tiket masuk kita gratiskan. Ini berlaku untuk penonton pria yang memakai sarung dan kopiah. Dan pononton wanita yang memakai jilbab," ungkapnya.

Di luar arena GOR, komandan Banser Ismanto yang bertugas sebagai Divisi Keamanan menjelaskan bahwa tiket parkir kendaraan penonton yang disediakan panitia juga ludes tak tersisa.

"Tiket yang kita sediakan untuk menjaga parkir sampai kehabisan. Dan kita harus mencetak ulang dengan jumlah seribu lagi. Apalagi waktu perbandinganya juga pas, karena hari sabtu malam minggu jadi penonton sangat antusias,"katanya.

PMII Cabang Tegal

Hendrik Sulaksono, Koordinator perlombaan Futsal PCNU mengatakan, kompetisi ini digelar untuk menjaring  bakat-bakat pemain di berbagai jenjang."Bakat-bakat itu akan kita salurkan dalam event yang lebih tinggi seperti liga santri nusantara.Maka kita minta setiap tim agar bermain sportive dan dengan skill yang baik," katanya.

Hensu, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa kompetisi ini memperebutkan tropi juara 1-4. Setiap kejuaraan akan mendapat kanuang pembinaan dengan total dua belas juta limaratus rupiah.

PMII Cabang Tegal

"Mulai satu bulan yang lalu kita buka pendaftaran untuk 3 kejuaraan, yaitu dari tingkat SMA, SMP dan MWCNU se-Kabupaten Madiun. Dan hingga akhir pendaftaran ada  76 tim futsal yang akan bertanding," tutur ketua IPNU Madiun itu.

Sementara Sekretaris PCNUMadiun, Gus Mabrur mengungkapkan pertandingan Futsal ini diselenggarakan untuk memajukan olahraga santri di wilayah KabupatenMadiun. Semangat resolusi jihad yang pernah digelorakan olen pendiri NU Hadratusyyekh Hasyim Asyari diharap dapat menjadi spirit bagi para santri dalam olahraga sepak bola."Maka dari itu saya minta seluruh tim untuk menunjukkan semangat pertandingan secara sportife dengan skile bukan gokil,"katanya. 

Sekretaris RMINU Madiun Khotamil Anam menilai, kegiatan Hari Santri Nasionaltahun 2017berlangsung lebih semarak. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya beberapa rangkaian acara oleh masing-masing badan otonom di berbagai tingkatan.(Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Doa, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Berbagai keunggulan dan kekhasan bakal masyarakat jumpai di Pameran Internasional Pendidikan Islam dikenal dengan International Islamic Education Expo (IIEE) di ICE BSD Serpong, Tanggerang, Banten.

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017

Pameran yang digelar oleh Kementerian Agama ini, didalamnya dilakukan Layanan Pengusulan Catatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Sentra HKI/Paten Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Layanan HKI akan dibuka di arena IIEE pada tanggal 22-23 November 2017 bertempat di ICE BSD Serpong Tanggerang.

Kamarudin Amin Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI mengatakan Klinik Artikel dan Layanan HKI penting agar masyarakat mengetahui informasi terkait dengan hak kekayaan intelektual yang telah dimiliki oleh dosen dan peneliti PTKI, (13/11).

Kamarudin menegaskan HKI bagi para dosen PTKI menjadi keharusan dan sudah saatnya bagi dosen dan peneliti pada fakultas sains teknologi dan kedokteran pada PTKI untuk ambil bagian sehingga tidak kalah dengan dosen-dosen pada Perguruan Tinggi Umum. “Saya mendorong agar dosen-dosen saintek dan kedokteran untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya” tegas Guru Besar Alaudin Makasar ini.

PMII Cabang Tegal

Pihaknya lanjut Kamarudin akan menyiapkan regulasi untuk memperkuat layanan Hak Kekayaan Intelektual dan memberikan dukungan pendanaan, karena upaya ini akan dapat meningkatkan produksi ilmu pengetahuan. 

Muhammad Zain Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiyah dan Pengabdian Masyarakat mengatakan Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual terbuka untuk sivitas akademika, penulis, peneliti, akademisi dan masyarakat luas. Juga kalangan pemerhati dan pegiat isu-isu kajian Islam meliputi pendidikan, sains-teknologi, matematika, kesehatan masyarakat, ekonomi, sejarah, sosial-humaniora, ekonomi, politik, budaya studi kawasan dan sebagainya.

Zain menambahkan selain membuka Layanan HKI, Pameran Pendidikan Islam Tingkat Dunia juga akan membuka Klinik Artikel untuk membantu para penulis artikel ilmiayah agar dimuat dalam jurnal-jurnal terakreditasi nasional dan bereputasui internasional (terindeks scopus).

Ditempat yang sama, Mahrus El Mawa Penanggungjawab Klinik HKI dan Artikel menerangkan bahwa dalam klinik artikel akan melibatkan para reviewer dari 52 Jurnal Terakreditasi Nasional dan Jurnal Bereputasi Internasional PTKI. Bagi sivitas akademik di lingkungan PTKI silahkan mendaftar dengan mengisi Form Klinik artikel: s.id/klinikartikel dan/atau Form pencatatan HKI: s.id/formhki

PMII Cabang Tegal

Menurut data Direktorat PTKI saat ini ada 17 Pemegang akun/Username HKI adalah (1) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (2) IAIN Metro Lampung, (3) STAIN Kudus, (4) STAIN Kediri, (5) UIN Gunungjati Bandung, (6) IAIN Ambon, (7) IAIN Bengkulu, (8) IAIN Pekalongan, (9) IAIN Pontianak, (10) IAIN Tulungagung, (11) IAIN Ternate, (12) IAIN Purwokerto, (13) IAIN Langsa, (14) IAIN Cirebon, (15) IAIN Samarinda, (16) UIN Sumatera Utara, dan (17) UIN STS Jambi. 

Sementara yang dalam proses permohonan Akun HKI adalah (1) IAIN Batusangkar, (2) IAIN Padangsidimpuan, (3) IAIN Gorontalo, (4) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (4) IAIN Palangkaraya, (5) UIN Sultan Syarif Kasim Riau, (6) UIN Imam Bonjol Padang, (7) UIN Raden Intan Lampung, (8) STAIN Pamekasan, (9) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, (10) UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten dan (11) UIN Palembang. (Ruchman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Selasa, 28 November 2017

GP Ansor Malang Kuatkan Kepeloporan Kader

Malang, PMII Cabang Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang menggelar Rapat Kerja Cabang dan Rapat Koordinasi Banser di Villa Refa Bungkoh Dau Malang, Sabtu Ahad (16/17) lalu yang diikuti oleh peserta dari 33 PAC Ansor seKabupaten Malang.

Agenda tersebut bertujuan sebagai  langkah awal untuk menyusun Program Kerja Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Kabupaten Malang 2013 – 2014 yang juga bertujuan menguatkan kepeloporan kader Ansor.

GP Ansor Malang Kuatkan Kepeloporan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Malang Kuatkan Kepeloporan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Malang Kuatkan Kepeloporan Kader

Kader muda Ansor merupakan kader pelopor, penggerak, pengemban, dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan. Bahtiar, Ketua Panitia Pelaksana mengatakan, Raker dan Rakor diharapkan dapat berbuah dan menghasilkan kajian strategis untuk mewujudkan kader muda Ansor  yang memiliki dedikasi dan disiplin tinggi.

PMII Cabang Tegal

“Kader Ansor dan Banser  harus mempunyai ketahanan fisik dan mental yang tangguh sebagai agen perubahan di tataran masyarakat luas, penuh daya juang dan menjunjung tinggi nilai religious sebagai banteng ulama serta dalam mewujudkan cita-cita Bangsa dan negara dan kemaslahatan umat,” ucap Bahtiar.

Di sela acara, Gus Tadlo, Satkorcab Banser Kab. Malang menambahkan, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara, dan sebagai aktor dalam pembangunan.

PMII Cabang Tegal

“Gerakan Pemuda Ansor dan Banser harus menumbuhkankembangkan fungsi dan peran guna menjawab segala bentuk permasalahan baik internal maupun eksternal organisasi menuju kebijakan organisasi yang lebih baik dalam mewujudkan kader bangsa yang mempunyai kepribadian muslim, kepemimpinan yang tangguh, loyalitas tinggi, berwawasan organisasi, politik dan sosial serta mempunyai keterampilan dan skill yang cukup,” katanya. (Abdul Basyit/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Doa, Pertandingan PMII Cabang Tegal

Minggu, 12 November 2017

Sudah Tahu Esensi Banser? Ini Penjelasannya

Jakarta, PMII Cabang Tegal?

Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Satkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakata, Senin (5/12) menegaskan, kader inti Gerakan Pemuda Ansor tersebut mempunyai tiga esensi harus dilakukan.

Sudah Tahu Esensi Banser? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sudah Tahu Esensi Banser? Ini Penjelasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sudah Tahu Esensi Banser? Ini Penjelasannya

“Banser itu pengamal, pendakwah, dan penjaga Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja. Kalau amalannya bukan Aswaja, jelas bukan Banser,” kata dia.

Aswaja adalah aliran atau paham yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas yang menganut empat madzhab fiqh, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali.

PMII Cabang Tegal

Nahdlatul Ulama (NU) didirikan diantaranya bertujuan untuk memperjuangkan dan membentengi ajaran Aswaja. Tahlilan, ziarah kubur, qunut, talqin, maulid nabi merupakan sejumlah amaliah Aswaja NU.

PMII Cabang Tegal

Mengenai Aswaja, Maulana Syekh Ali Jumah menyebut Aswaja tidak mengafirkan siapa pun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam.

Aswaja juga tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).?

Kasatkornas Banser itu lalu melanjutkan, cara mendakwahkan Aswaja bisa melalui beragam bidang, satu diantaranya ? ialah ekonomi.

“Lalu seperti apa menjaga Aswaja? Apa yang dilakukan ulama kita, maka Banser harus menjaganya,” ujarnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Agustus, Gus Dur Ditetapkan Pahlawan Nasional?

Jombang, PMII Cabang Tegal. Pemerintah bakal segera menganugerahkan gelar pahlawan Nasional untuk presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid yang juga mantan ketua PBNU. Hal ini disampaikan Menteri Sosial, Khofifah Indarparawansah usai melakukan peletakan batu pertamapembangunan rehabilitasi sarana Taman Makam Nasional di Komplek Tebuireng, Ahad (5/4).

Pada kunjungannya kemarin kementrian sosial juga memberikan bantuan rehabilitasi Sarana makam Pahlawan nasional sebesar Rp 135 juta. Bantauan itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan sarana Makam Pahlawan Nasional Tebuireng.

Agustus, Gus Dur Ditetapkan Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Agustus, Gus Dur Ditetapkan Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Agustus, Gus Dur Ditetapkan Pahlawan Nasional?

Dikatakan Mensos, bahwa gelar pahlawan untuk presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid paling lambat Agustus mendatang. " Sebenarnya untuk Gus Dur ini tahun lalu sudah bisa, karena proses pencalonan beliau sudah selesai di TP2GP, kini proses pengajuan ke Dewan Gelar Pahlawanan Nasional, paling akhir Agustus ini," ujar Khofifah mengatakan.

PMII Cabang Tegal

Khofiah menjelaskan bahwa Kementrian Sosial adalah penanggung jawab pengelolaan Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) hanya satu di Jakarta, kemudaian Taman Makam pahlawan diberbagai daerah dan makam pahlawan Nasional. Di Tebuireng Jombang ini ada dua pahlawan nasional dimakamkan, yakni KH Hasyim Asari dan KH Wahid Hasyim." Kalau di TMPNU ada 23 pahlawan dari 163 pahlawan nasional yang ada," ujarnya seraya mengatakan lainnya tersebar di berbagai daerah.

PMII Cabang Tegal

Menurut Khofifah, pada proses pencalonan pahlawan nasional untuk Gus Dur dikatakannya telah selesai di Tim Peneliti dan Pengkajian Gelar Pahlawan (TP2GP) pusat dan selanjutnya dikatakannya Kementrian Sosial akan melanjutkan kepada Dewan gelar Pahlawan nasional yang diketauai oleh Menko Polhukam.

"Sebenarnya tahun lalu sudah bisa, karena kalau Gus Dur sudah selesai di TP2GP, kini proses pengajuan ke Dewan Kepahlawanan," tandas perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muslimat NU ini.

Kapan kepastian penganugerahan gelar pahlawan Gus Dur selesai? Khofifah menjanjikan bahwa untuk Gus Dur paling prosesnya akan segera diserahkan pada Agustus mendatang." Kalau sudah selesai di Dewan Kepahlawan Nasional akan diserahkan Presiden, dan biasanya penganugerahan pahlawan diberikan sebelum tanggal 10 Nopember," ujarnya mengatakan.

Sementara itu Direktur Kepahlawanan, Perintisan dan kesetiakawanan sosial, Andik Hanindito menambahkan bahwa untuk tahun ini usulan gelar pahlawan sudah masuk 6 orang. Bersamaan dengan Gus Dur ada nama jendra (purn) Sarwo Edi Wibowo.

"Soal waktu itu tergantung kelengkapan data yang disampaikan pengusul atau TP2GP dari daerah. Biasanya yang data yang kurang itu adalah bukti otentiknya riwayat perjuangan karena hal itu aka nada uji dan keabsahan," tandasnya. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Halaqoh, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Sabtu, 19 Agustus 2017

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Pendudukan Jepang atas Indonesia tergoyang ketika mereka kalah perang dengan tentara sekutu (Inggris-Belanda). Seketika itu pula mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuatan perangnya dengan melatih para pemuda Indonesia secara militer guna berperang melawan sekutu. Para pemuda dimaksud tidak lain adalah para santri.

Karena sudah mempunyai kesepakatan diplomatik dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Jawatan Agama (Shumubu) yang diwakilkan kepada anaknya KH Abdul Wahid Hasyim, Nippon menyampaikan gagasannya itu kepada Kiai Hasyim.

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Kiai Wahab Inginkan Laskar Hizbullah Seperti Pemuda Ashabul Kahfi

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kiai Hasyim menyetujui langkah Jepang tersebut dengan syarat para pemuda yang dilatih militer itu berdiri sendiri tidak masuk dalam barisan Jepang. Itulah awal terbentuknya laskar yang diberi nama oleh Kiai Hasyim sebagai Laskar Hizbullah.

Laskar Hizbullah ini dibentuk pada November 1943 beberapa minggu setelah pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Meski kedua badan kelaskaran itu berdiri sendiri, tetapi secara teknik militer berada di satu tangan seorang perwira intelijen Nippon, Kapten Yanagawa.

Sebagai seorang kiai, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari cukup mumpuni dalam strategi perang. Di saat sejumlah orang memandang bahwa keputusan Kiai Hasyim merupakan simbol ketundukan kepada Jepang karena menyetujui para santri dilatih militer oleh Jepang. Namun di balik semua itu, guru para kiai di tanah Jawa ini ingin mempersiapkan para pemuda secara militer melawan agresi penjajah ke depannya.

PMII Cabang Tegal

Betul saja apa yang ada di dalam pikiran Kiai Hasyim, Jepang menyerah kepada sekutu. Namun Indonesia menghadapi agresi Belanda II. Di saat itulah para pemuda Indonesia melalui Laskar Hizbullah, dan lain-lain sudah siap menghadapi perang dengan tentara sekutu dengan bekal gemblengan ‘gratis’ oleh tentara Jepang.

Saat itu, Angkatan pertama latihan Hizbullah di daerah Cibarusa, dekat Cibinong, Bogor awal tahun 1944 diikuti oleh 150 pemuda. Mereka datang dari Karesidenan di seluruh Jawa dan Madura yang masing-masing mengirim 5 orang pemuda. 

Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa itu dikeola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh Zainul Arifin. Sebagai sebuah strategi perang, latihan ini perlu dilakukan oleh sebanyak-banyaknya pemuda. Namun, disayangkan latihan Hizbullah ini diselenggarakan secara minim sekali.

Kondisi ini menjadi perhatian serius KH Wahid Hasyim sebagai penanggung jawab politik dalam Laskar Hizbullah. “Kita dikejar waktu. Nippon sebenarnya mencurigai tujuan Hizbullah. Yang menyetujui Hizbullah kan Cuma kita,” ucap Kiai Wahid mengemukakan kegelisahannya.

Tetapi, ayah dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini tidak mau ketinggalan kereta. Walau bagaimana pun, perjuangan kemerdekaan harus dipersiapkan, baik kekuatan militernya, di samping kekuatan politiknya. Kekuatan politik yang dimaksud ialah politik kenegaraan yang berkepentingan memerdekakan Indonesia dari kungkungan penjajah. Langkah ini membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

PMII Cabang Tegal

Kegundahan Kiai Wahid tersebut mendapat siraman petunjuk dari KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab menilai, para kiai dan pemimpin laskar jangan hanya melihat dari ukuran lahir. Karena menurutnya, belum tentu jika disediakan biaya besar akan berdampak pada hasil yang maksimal. 

“Bia menderita asal penggemblengan jiwanya hebat seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi, hasil akhir yang maksimal bisa tercapai juga,” tutur Kiai Wahab memberi masukan.

Bicara tentang Ashabul Kahfi, sebenarnya berapakah jumlah pemuda-pemuda itu persisnya?” tanya KH Mukhtar, salah satu anggota di bawah kepemimpinan Zainul Arifin.

“Al-Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan, yang tahu jumlah persisnya hanyalah Allah. Kita tidak usah berselisih mengenai berapa sebenarnya jumlah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu,” jawab Kiai Wahab.

“Dalam Al-Qur’an Cuma disebut bertiga. Adapun yang keempatnya adalah anjing mereka. Roobi’uhum kalbuhum,” Kiai Wahab melanjutkan.

“Tapi ada yang mengatakan mereka berlima yang keenamnya adalah anjing, saadisuhum kalbuhum,” sela KH Farid Ma’ruf, anggota lainnya.

“Ada lagi yang mengatakan Ashabul Kahfi itu tujuh orang, yang kedelapan adalah anjing mereka. Wa tsaaminuhum kalbuhum,” kali ini Kiai Wahid Hasyim menimpali.

Di tengah diskusi mereka perihal jumlah pemuda Ashabul Kahfi, tetiba masuklah seorang Nippon berseragam Sersan Mayor, Sidokan, pelatih Hizbullah. Kedatangannya sekonyong-konyong tanpa diperkiarakan sebelumnya. Tentu saja menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi para kiai.

Namun, Kiai Wahab bereaksi secara cepat dengan datangnya tentara Nippon tersebut. Dengan nyaringnya ia mengatakan: “Wa taasi’uhum...qirduhum” (yang kesembilan adalah...monyet mereka). Seketika meledaklah gelak tawa serentak. Orang Nippon tersebut juga ikut ngakak meskipun dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Kiai Wahab kepadanya.

Obrolan tersebut menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi genting memimpin dan mempersiapkan strategi dalam mengusir penjajah, para kiai tidak lepas dari karakteristik asalanya yaitu pesantren. Dengan mudahnya mereka mengubah suasana yang membutuhkan pemikiran serius menjadi kondisi yang riang gembira. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Selasa, 15 Agustus 2017

Koperasi Mabadiku Teken Kerja Sama dengan 8 Mitra Usaha

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan melakukan nota kesepahaman (MOU) dengan delapan mitra usaha di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (19/8). Delapan mitra tersebut, yakni PT Cipta Indo Buana , PT Hydro, PT FX Indonesia, PT Japfa Confeed Indonesia Tbk, PT Berkah Manunggal Sejati, PT Mukti Mitra Abadi, Fakultas Peternakan Brawijaya Malang, dan Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.

Koperasi Mabadiku Teken Kerja Sama dengan 8 Mitra Usaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Koperasi Mabadiku Teken Kerja Sama dengan 8 Mitra Usaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Koperasi Mabadiku Teken Kerja Sama dengan 8 Mitra Usaha

Ketua Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan Irnanda Laksanawan menjelaskan, kerja sama dengan beberapa pihak ini sejalan dengan program PBNU yang bertujuan memberdayakan dan memperkuat ekonomi umat.?

Menurutnya, sekarang terjadi perubahan bisnis yang dahsyat di bidang retail, sehingga membuat banyak kios dan warung menjadi tidak berdaya.?

"Ini upaya mempersatukan umat dalam suatu bingkai besar koperasi yang lebih mengutamakan sistem sinergitas," katanya usai menutup acara rapat kerja pengurus Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan di lantai 5, Gedung PBNU.?

Sistem sinergitas yang dimaksud, ialah sistem informasi, pendanaan, sumber daya, dan kerja sama dengan beberapa institusi dan perusahaan-perusahaan besar.?

PMII Cabang Tegal

"Intinya bagaimana masyarakat mendapatkan kesempatan dalam berusaha secara fair, karena sekarang sumber daya yang ada dikuasai oleh pemodal-pemodal besar," lanjutnya. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sementara itu, Ketua PBNU bidang ekonomi H. Eman Suryaman mengatakan, Koperasi Mabadiku sebagai perwujudan dari hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang akan menggerakkan roda ekonomi warga NU bekerja sama dengan berbagai pihak, baik perusahaan kecil maupun besar.?

Menurut pria yang juga menjadi ketua dewan pengawas Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan ini, MOU yang dilakukan Koperasi Mabadiku merupakan bagian dari percepatan kemajuan koperasi sebagai upaya mensejahterakan umat. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Hikmah PMII Cabang Tegal

Sabtu, 05 Agustus 2017

Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit

Tabalong, PMII Cabang Tegal

Barisan Ansor Serba Guna Nahdlatul Ulama (Banser NU) Kalimantan mulai bangkit dan telah menyebar sampai ke pelosok pulau, di wilayah propinsi Kalimantan Selatan paling timur, tepatnya di Kabupaten Tabalong.



Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit

Awal pekan lalu diadakan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser yang dibuka oleh Polres Tabalong, dihadiri oleh pejabat-pejabat pemkab, kepala pengadilan negeri, kejaksaan negeri dan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tabalong, serta para pengurus wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Propinsi Kalimantan Selatan.

Kasatlantas Polres Tabalong mewakili Kapolres dalam sambutannya mengatakan, Banser sebagai salah satu potensi Masyarakat perlu membangun kerjasama dengan semua pihak, sehingga diharapkan kedepan dapat bekerjasama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia khususnya Polres Tabalong dalam memberikan bantuan keamanan kepada masyarakat sebagai salah satu tugas dan fungsi Banser.

PMII Cabang Tegal

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tabalong mengatakan, Diklatsar Banser secara langsung maupun tidak akan berpengaruh terhadap profesionalitas kader-kader NU dimasa mendatang.

”Jika mereka mendapatkan tempaan keilmuan keorganisasian GP Ansor dan berbagai macam teknik kegiatan lapangan serta penguatan Aswaja, maka akan menjadi bekal bagi mereka tatkala terjun ditengah-tengah masyarakat nanti, mereka tidak akan merasa canggung karena lebih kenal medan perjuangan,” Katanya.

PMII Cabang Tegal

Kepala Satuan Koordinasi Nasional Banser, H Tatang Hidayat yang juga hadir pada kegiatan pembukaan menegaskan bahwa tujuan orientasi medan laga banser secara Nasional perlu diarahkan pada “paradigma baru? banser”, yaitu setiap anggota Banser harus ”terlatih, terampil dan berdaya guna atau profesional”. Hal ini harus dipahami oleh seluruh anggota melalui pendidikan dan pengkadenan semacam ini.

Pengertian terlatih adalah, bahwa ke depan tidak ada Anggota Banser yang rekrutmennya tidak melalui prosedur pendidikan dan pelatihan yang berlaku di lingkungan Banser, yaitu Diklatsar untuk pendidikan-pelatihan anggota baru, Susbalan (Kursus Banser Lanjutan) untuk penyelenggara organisasi tingkat menengah (PAC-Cabang) dan Susbanpim (Kersus Banser Pimpinan) untuk penyelenggara organisasi tingkat Tinggi antara Satkorwil dan Satkornas.

Terampil merupakan bekal bagi para anggota untuk memiliki kecakapan hidup sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga disamping berjuang di dalam Banser namun disisi lain telah memiliki sumber pencaharian yang cukup, sehingga komitmen menghidupi organisasi bisa terwujud.

Sedangkan pengertian profesional, bahwa Banser kedepan diarahkan agar memiliki? ketrampilan khusus yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing. Misalnya tersedia Banser yang ahli di bidang pengamanan dan kelau lintasan karena telah ditempa oleh Kepolisian melalui pendidikan garda pratama.

Diperlukan juga Banser yang ahli dalam bidang Search and Rescue (SAR) dan telah menerima pelatihan dari Badan SAR Nasional. Juga Banser yang sigap dalam pemadaman kebakaran karena telah dididik dalam penanggulangan kebakaran dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan perjuangan dalam membantu masyarakat sebagai tugas pengabdian Banser.? ? ? ?

Dalam Diklatsar itu para peserta digembleng dengan orientasi medan dan materi lapangan oleh Asrendiklat Satkornas Banser yang diikuti oleh peserta dengan penuh semangat.

Diklatsar dihadiri oleh perwakilan pengurus pusat GP Ansor. Tampak hadir Wakil Sekjen PP GP Ansor Muhtar Hadyayu, Asiten Perencanaan, Pendidikan dan Pelatihan Satuan Koordinasi Nasional Banser Drs H Abdul Mujib Syadzili, dan Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor Propinsi Kalimantan Selatan Drs Hadnan. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Fragmen, IMNU PMII Cabang Tegal

Selasa, 02 Mei 2017

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegaskan, alasan dirinya tidak bersedia memenuhi undangan bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush pada Senin (20/11) mendatang bukan karena benci terhadap orang nomer satu di AS itu atau pun negaranya. Melainkan karena ingin menyelamatkan agama sekaligus umat beragama.

“Keengganan saya untuk tidak hadir dalam pertemuan itu bukan karena saya benci (kepada Bush, Red), mogok atau menolak Amerika. Tetapi ingin menyelamatkan agama dan sekaligus juga umat bergama agar tidak dibawa-bawa dalam setiap agresi atau kebijakan Bush,” tegas Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (9/11).

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Selamatkan Agama dan Umat Beragama

Sebagaimana diberitakan situs ini, Sabtu (4/11) lalu, pemimpin tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini menyatakan tak bersedia memenuhi undangan bertemu Bush. Ia menganggap percuma saja bicara dengan Bush karena menyangsikan dialog tersebut akan membawa hasil positif. “Secara pribadi, kalau diundang, saya nggak mau datang, karena Bush orangnya keras kepala,” ketusnya.

Hasyim sangat menyadari, jika dirinya hadir, maka akan muncul kesan bahwa pertemuan tersebut ada kaitannya dengan urusan agama. Padahal, menurutnya, kedatangan Bush yang akan mampir di Indonesia selama 6 jam setelah menghadiri pertemuan APEC di Vietnam 18-20 November 2006 itu adalah untuk kepentingan ekonomi semata.

Sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), ia tak ingin hal itu terjadi. “Seakan-akan ada nuansa agama, seperti persoalan Israel-Libanon, Afganistan, Irak atau nuklir Iran, dan sebagainya. Padahal kan tidak ada hubungannya sama sekali. Kepentingannya adalah ekonomi atau imperialisme,” terangnya.

PMII Cabang Tegal

Dengan nada agak keras, Hasyim menyatakan, kedatangan pemimpin negeri Paman Sam tersebut tak perlu ditafsirkan bermacam-macam--termasuk terkait urusan agama--, kecuali hanya demi kepentingan ekonomi. “Biarkanlah Bush itu datang tanpa nuansa agama, tetapi lebih bernuansa imperialisme,” tegasnya.

Disinggung tentang sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam yang akan berunjuk rasa menolak kedatangan Bush, Hasyim menilai hal itu adalah wajar sebagai sebuah reaksi. Penolakan seperti itu, katanya, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di negara mana pun yang akan dikunjungi Bush.

PMII Cabang Tegal

Namun demikian, Hasyim berharap agar setiap reaksi terhadap AS maupun Bush tersebut harus dilakukan secara proporsional. Ia melihat, selama ini, terutama di Indonesia, penolakan atau aksi menentang kebijakan AS tidak dilakukan dengan tepat. "Menentang Amerika pakai golok. Teriak Allahu Akbar sambil melempar telor busuk," tandasnya.

“Saya berharap, reaksi masyarakat Indonesia itu yang berkualitas. Kalau Amerika menyerang ekonomi kita, ya kita perkuat perekonomian kita. Kalau budaya, lawan juga dengan budaya dan pendidikan kita. Kalau politik, lawan juga dengan politik yang sehat. Begitu juga kalau Amerika menyerang kita dengan pelor, ya kita lawan juga dengan pelor,” ujar Hasyim.

Dalam kesempatan itu, Hasyim juga mengungkapkan alasan lain terkait keengganannya bertemu Bush. Menurutnya, saat bertemu di Bali pada 2003 silam, dirinya berpesan akan banyak hal kepada presiden dari Partai Republik itu. Namun, imbuhnya, hingga saat ini, pesan itu tak ada satu pun yang diperhatikan.

Dijelaskan Hasyim, pesan tersebut antara lain, ia meminta agar AS jangan selalu menggunakan standar ganda dalam setiap kebijakan internasionalnya. Ia juga menuntut keseriusan negara adidaya tersebut dalam menciptakan perdamaian dunia, terutama perdamaian antara Israel dan Palestina.

Istilah crusade (perang salib) yang digunakan Bush saat akan menyerang Irak beberapa tahun lalu juga menjadi perhatian Hasyim. Ia menggugat penggunaan istilah yang sensitif tersebut. “Saya katakan, kalau pakai istilah crusade, maka jangan heran kalau umat Islam meresponnya dengan istilah jihad,” ujarnya.

Hal lain yang Hasyim tegaskan saat bertemu dengan Bush adalah stigma terorisme yang kerap dilekatkan kepada Indonesia, khususnya umat Islam di negeri ini. “Indonesia itu korban terorisme, bukannya sarang terorisme,” katanya.

Peran AS dalam dunia internasional yang seakan memosisikan diri sebagai ‘polisi dunia’ juga tak lepas dari kritiknya. Diceritakannya, kepada Bush, ia mengatakan agar AS tak perlu lagi menjadi pengatur dunia. “Saya katakan, Amerika itu cukup jadi ‘Bapak Dunia’ saja, nggak usah repot-repot jadi ‘polisi dunia’ segala. Dengan begitu, biayanya kan lebih murah,” terangnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, IMNU PMII Cabang Tegal

Senin, 27 Februari 2017

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, PMII Cabang Tegal 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

PMII Cabang Tegal

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

PMII Cabang Tegal

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Aswaja, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Selasa, 10 Januari 2017

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat

Lombok Barat, PMII Cabang Tegal 

Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan rasa syukur karena daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Munas-Konbes NU 2017. 

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur NTB: Kehadiran Ulama NU di Lombok Datangkan Rahmat

"Alhamdulillah kesyukuran tidak putusnya dan kesukacitaan kami seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya warga Nahdlatul Ulama menjadi tuan rumah bagi pelaksanaan Munas dan Konbes 2017 ini," katanya pada penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2017 di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11). 

Menurutnya, musyawarah itu mendatangkan rahmat. Jangankan musyawarah dalam lingkup besar, katanya, musyawarah yang dilakukan hanya dua orang saja juga mendatangkan berkah. 

PMII Cabang Tegal

"Apalagi musyawarah ini adalah musyawarah alim ulama tidak hanya lingkupnya daerah, tapi juga seluruh Nusantara," katanya bersemangat. 

Begitu juga Konferensi, lanjutnya, Konferensi biasa sebagai bentuk silaturahim pasti diberkahi oleh Allah. Apalagi, katanya, ini Konferensi Besar oleh organisasi dakwah terbesar yang tidak hanya di Indonesia bahkan di seluruh dunia. 

"Maka dengan semua kebaikan keberkahan-keberkahan itu kami warga  Nusa Tenggara Barat berhusnudhon dan berdoa kepada Allah SWT bahwa kehadiran para tamu kami, para guru kami Insyaallah membawa berkah yang berlipat ganda," jelasnya. 

Hadir pada penutupan Munas-Konbes NU 2017 ini Wakil Presiden Republik Indonesia H Muhammad Jusuf Kalla, Rais Aam KH Maruf Amin, KH Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Ketua PBNU Bidang Investasi dan Luar Negeri H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H Bidang Hukum H Robikin Emhas, dan lain-lain. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Habib, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Kamis, 01 Desember 2016

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Bukan Ahok namanya kalau tidak selalu bikin kontroversi di masyarakat. Mulai dari berbagai kebijakan yang dianggap ototiter, hingga pada kalimat kasar yang tidak sesuai adat istiadat Timur yang diucapkannya ketika mengomentari sebuah masalah.

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Jakarta: Ahok Gagal Paham Soal Pemakaian Jilbab

Pada Ramadhan ini, Ahok mengeluarkan statemen melarang sekolah mewajibkan siswanya berjilbab saat bulan Ramadhan. Hal itu dia kemukakan saat mengadakan pertemuan dengan 1700 kepala sekolah tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

PMII Cabang Tegal

Menyikapi hal itu, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menilai, Ahok telah gagal paham dalam pelarangan tersebut.?

PMII Cabang Tegal

"Kita semua paham bahwa bulan Ramadhan adalah momen yang sangat mulia bagi Islam. Di bulan itu suasana religi, nuansa keagamaan sangatlah kuat. Maka, sudah sewajarnya sebagian sekolah mewajibkan berjilbab bagi siswinya yang beragama Islam,” kata Aries Adi Leksono, ketua Pergunu DKI Jakarta, Selasa (7/6).

Selain itu, anjuran penggunaan jilbab kepada remaja putri atau siswi sekolah sangat tepat, karena sesuai dengan norma kesopanan bangsa Timur. Apalagi jika diperhatikan, akhir-akhir ini tindakan asusila sering kali dipicu karena umbaran aurat.

Lebih lanjut, Pergunu DKI menilai anjuran penggunaan jilbab pada boleh Ramadhan memiliki nilai edukasi. Sebagai sarana belajar untuk penggunaan jilbab dalam keseharian siswi sekolah. Karena pembisaan positif dalam kesadaran berjilbab harus dibangun sejak dini, dan bisa jadi berawal dari kewajiban yang diberikan sekolah.?

“Apalagi Ramadhan adalah momen yang sangat tepat untuk belajar merubah diri lebih baik di masa yang akan datang,” imbuhnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal IMNU, Nahdlatul Ulama, Lomba PMII Cabang Tegal

Kamis, 20 Oktober 2016

Muwadaah, Pengasuh Pesantren Al-Badriyah Mranggen: Hubungan Kiai-Santri Abadi

Demak, PMII Cabang Tegal. Ukuran ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa santri bertambah giat dalam ? beribadah dan bertambah ketakwaannya kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan oleh Hj Nadliroh Muhibbin Al-Hafidhoh mewakili pengasuh pondok pesantren Al-Badriyyah Mranggen Demak, KH Muhibbin Muhsin Al-Hafidh saat melepas para santri dalam malam Muwadaah Akhirus Sanah di aula pesantren, Rabu (26/5) malam.

Muwadaah, Pengasuh Pesantren Al-Badriyah Mranggen: Hubungan Kiai-Santri Abadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muwadaah, Pengasuh Pesantren Al-Badriyah Mranggen: Hubungan Kiai-Santri Abadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muwadaah, Pengasuh Pesantren Al-Badriyah Mranggen: Hubungan Kiai-Santri Abadi

“Selain itu, akhlaknya akan semakin bertambah baik dalam hubungan kemasyarakatan di lingkungan masing-masing,” tambahnya.

PMII Cabang Tegal

Pesan khusus juga ditujukan kepada santri putri agar selalu menjaga batas-batas aurat dan cara berpakaian menurut ajaran agama Islam yang sudah dipelajari di Pesantren selama ini.

PMII Cabang Tegal

“Jangan memakai busana yang mempertontonkan aurat. Tampil cantik dan elegan tidak harus memakai pakaian yang ketat dan transparan. Apalagi hal tersebut sangat dilarang oleh agama,” ujarnya.

Hal yang sangat mengharukan pada malam muwadaah tersebut adalah saat Hj Nadliroh menyampaikan, bahwa hubungan kiai-santri akan tetap abadi. Dia mengharapkan agar para santri selalu menjaga hubungan tali silaturrahim antar-santri dengan asatidz dan juga pada pesantren. “Karena disadari atau tidak, kiai akan selalu mendoakan yang terbaik bagi santrinya,” jelasnya.

Salah seorang santri, Anjang Diah Saputri dalam sambutan mewakili santri lainnya menghaturkan syukur dan terima kasih atas bimbingan dan pengajaran dari pengasuh dan para asatidz sehingga mereka bisa diwisuda malam ini.

“Dan saya mewakili santri tak lupa memohon maaf bila selama ini merepotkan Abah Yai dan Umi juga asatidz dalam membimbing kami,” katanya.

Sudah menjadi agenda rutin Pondok Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Demak menyelenggarakan acara Muwadaah ini. Kemeriahan event Muwada’ah juga diwarnai tiap penampilan kreatifitas santri. Pada muwadaah ini para santri menampilkan berbagai ragam kreatifitas seni pesantren, seperti ? shalawat, teatrikal, puisi, nyanyian lagu dan drama. (Ben Zabidy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Syariah PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Agustus 2016

Tarawih Akbar di Desa Bulak, Masuk Rekor Muri

Kendal, PMII Cabang Tegal. Sebanyak 700 warga desa Bulak kecamatan Rowosari kabupaten Kendal memadati masjid Tanwirul Qulub di desa setempat pada acara Tarawih Keliling, Silaturrahim, dan Safari Ramadhan Pemkab Kendal, Jumat (4/7) malam. Untuk ukuran desa, kehadiran warga yang mencapai angka demikian dalam sholat Tarawih terbilang luar biasa.

Kepala desa Bulak, Zaenal Alimin mengatakan, jamaah Tarawih di masjid Tanwirul Qulub malam ini tidak seperti biasanya. Ini kali pertama shalat Tarawih dengan jumlah hampir 700 jamaah.

Tarawih Akbar di Desa Bulak, Masuk Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarawih Akbar di Desa Bulak, Masuk Rekor Muri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarawih Akbar di Desa Bulak, Masuk Rekor Muri

"Ini pantas masuk rekor Muri," ujar Zaenal yang juga aktivis muda NU Kendal disambut tepuk meriah para jamaah.

PMII Cabang Tegal

Masjid begitu padat oleh jamaah. Tidak cukup di serambi masjid, para jamaah yang juga datang dari desa-desa sekitar menggelar tikar, sajadah, bahkan koran di halaman masjid sebagai alas.

PMII Cabang Tegal

"Tarawih keliling kali ini merupakan kali kedua setelah 35 tahun lalu diadakan di desa Bulak, tepatnya tahun 1980an," kata Zaenal dalam sambutannya.

Turut hadir dalam Tarawih keliling ini jajaran Pemkab Kendal, Polres, Camat beserta jajaran Muspika, Polsek Rowosari, Koramil Rowosari, perangkat desa dan kepala desa sekecamatan Rowosari.

Ketua NU Bulak Kiai Abdul Wahib mengimami sholat Tarawih. Sementara KH Imam Darori mengimami sembahyang witirnya. Tarawih akbar ini diakhiri dengan pembacaan maulid nabi bersama Majelis Talim dan Maulid Nurul Mustofa, ELNOVA asal desa setempat. (Sis Maula/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Kiai, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 22 Mei 2016

Dilantik, NU Thailand adalah PCINU Ke-25 di Mancanegara

Yala, PMII Cabang Tegal. PCINU Thailand adalah yang ke 25 di mancanegara. Keistimewaan PCINU Thailand adalah warga pribumi Thailand, di negara lain para pengurus NU istimewa selalu diisi oleh pelajar Indonesia atau warga negara Indonesia yang menetap di negara tersebut.

Dilantik, NU Thailand adalah PCINU Ke-25 di Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, NU Thailand adalah PCINU Ke-25 di Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, NU Thailand adalah PCINU Ke-25 di Mancanegara

Pesan pembuka itu disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU H Masduki Baidlowi dalam pelantikan PCINU Thailand, Senin (2/10).

Para pengurus PCINU Thailand yang baru dilantik tersebut mayoritas terdiri dari para ulama berpengaruh serta pengurus majelis ulama dan para guru serta pedagang di Thailand Selatan yg meliputi 3 provinsi yang penduduknya mayoritas Muslim yaitu Provinsi Yala, Pattani, dan Narathiwat.

Tujuan berdirinya PCINU untuk Mengajak mengembangkan Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah yang Rahmatan lil Al-Amin.

Untuk memperkokoh organisasi Masduki Baidlowi mengutip sabda khalifah Umar laa islama illa bil jamaah walaa jamaata illa bil imarah wala imarota illa bitthoah, tidak ada Islam kalau tidak ada organisasi, dan tidak ada organisasi kalau tidak ada pemimpin, dan tidak ada pemimpin, jika tidak ditaati.?

PMII Cabang Tegal

“Artinya, Jika ingin mengamalkan agama dengan baik harus berorganisasi. Tidak ada organisasi, kalau tidak ada jamaah. Tidak ada organisasi, tanpa pemimpin organisasi,” ujar Cak Duki sapaan akrabnya.

Dia menuturkan, kullukum rooin, wakullukum mas’ulun an ro’iyyatihi. ? Maka ketaatan terhadap pemimpin organisasi menjadi penting, manajemen organisasi untuk menata organisasi. Organisasi yang baik dan benar, agar tidak terkalahkan dengan kelompok yang batil. Hubungan dengan agama dan negara harus berjalan dengan damai dan harmonis.?

“Karena cinta tanah air adalah bagian dari Iman. Keamanan Thailand Selatan akan kondusif jika hubungan negara dan agama berjalan harmonis,” imbuhnya.

Masduki juga berharap pemerintah Thailand memberikan perhatian kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Thailand Selatan yang mayoritas beragama Islam. Lebih lanjut, ia berharap Pemerintah Thailand dapat membantu secara serius terhadap keamanan di Thailand Selatan.?

PMII Cabang Tegal

“Pemerintah Thailand harus adil dalam menjaga keamanan di Thailand Selatan, tanpa represif. insyaallah bersama NU, Thailand Selatan akan aman, damai, dan sejahtera,” tutupnya.





Pelantikan PCINU Thailand ini akan berlangsung di Yayasan Daarul Huda, Yala, Thailand Selatan. Dihadiri Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Aris Adi Leksono, Ahli Jawatan Agama se-Thailad Selatan, Imam Masjid Se-Thailad Selatan, serta Kepala Madrasah se-Thailad Selatan.? (Red: Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Sunnah PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock