Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul Halal bi Halal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

PMII Cabang Tegal

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujzau" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq

PMII Cabang Tegal

?

KH Masdar Farid Mas’udi

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra

Karanganyar, PMII Cabang Tegal. Pelaksanaan ujian nasional (UN) tinggal menghitung hari. Sekitar 600 siswa SMP/MTs. kelas IX dan SMA/MA/ SMK se-Kabupaten Karanganyar menggelar istighosah bersama di Masjid Agung Karanganyar yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar, Sabtu (12/4). Ratusan siswa ini berdoa memohon ketenangan batin dan persiapan menghadapi UN yang akan dilaksanakan mulai Senin (14/4).

Para siswa se-Karanganyar tersebut sejak lepas Dhuhur telah memenuhi Aula Masjid Agung Karanganyar. Mereka dengan khidmat melantunkan ayat-ayat Al Quran. Acara istighosah tersebut seperti biasa diawali dengan bacaan Sholawat Nabi Muhammad dengan diiringi grup hadrah Al-Munawwar Matesih.

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, IPNU-IPPNU Karanganyar Gelar Istighotsah Kubra

Ketua Panitia penyelenggara, Wahyu memberikan motivasi kepada para peserta istighostah "Mari kita bersama-sama untuk menata hati dan fikiran melalui berdoa maupun berdzikir untuk meraih kelulusan dalam ujian mendatang," ujarnya saat memberikan sambutan.

PMII Cabang Tegal

Ia berharap kepada peserta istighotsah agar setelah lulus nanti untuk ikut dan bergabung dengan organisasi IPNU-IPPNU, tambahnya

PMII Cabang Tegal

Istighotsah yang dipimpin oleh Rais Syuriah MWC NU Karangapandan, KH. Agus Mushtafa berlangsung khusuk dan khidmat. Usai berdoa, KH. Yahya menyampaikan pesan singkat kepada ratusan pelajar yang hadir.

KH. Mushtafa mengajak para pelajar untuk selalu berdoa, berikhtiar dan meminta doa restu kepada orang tua dan guru-guru agar ilmu yang dicita-citakan bermanfaat.

"Sebagai pelajar harus terus berdoa, berikhtiar, dan meminta doa dan restu kepada orang tua dan guru-guru kalian agar apa yang dicita-citakan bermanfaat baik di dunia maupun akhirat," pesannya ratusan pelajar

Sementara, Ketua PC.IPNU, Khalid menjelaskan kegiatan ini menjadi agenda rutinan yang diselenggarakan setiap tahun menjelang Ujian Nasional.

"Alhamdulillah, acara ini mampu membuat para Pelajar tampak semakin optimis dalam menghadapi UN yang akan digelar 14 April mendatang." tuturnya.

Dalam acara tersebut tampak hadir Ketua PCNU Kabupaten Karanganyar, Kiai Mukti Ali, Kiai dan  Kasi Mapenda Kemenag Kab. Karanganyar Drs. H. Muhtadi M.Pd. (Ahmad Rosidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Budaya, RMI NU PMII Cabang Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Konsep daulah Islamiyah yang diusung segelintir kelompok, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pasalnya, daulah Islamiyah dalam perspektif mereka bergeser jauh dari prinsip dasar khalifatullah di muka bumi. Sementara khalifatullah dalam Islam merepresentasikan sebuah sistem negara yang dapat memenuhi kebutuhan dasar setiap warganya.

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dalam diskusi Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Perspektif Pedesaan di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/7) sore.

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kerapuhan Konsep Daulah Islamiyah

“Khalifatullah itu wakil Allah di muka bumi. Tidak main-main, wakil Allah! Khalifatullah bertanggung jawab memenuhi kebutuhan segenap warga dari pelbagai latar belakang,” kata Kiai Masdar menerangkan dasar pemikiran negara.

PMII Cabang Tegal

Menurutnya, lahirnya sebuah negara berawal dari kewajiban setiap individu dalam memenuhi tiga kebutuhannya yang meliputi kebutuhan primer, sekunder, tersier. Agama, kata Kiai Masdar, menyebutnya dengan istilah dharuri, haji, tahsini.

PMII Cabang Tegal

Ketika individu bersangkutan tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka tanggung jawab itu beralih kepada keluarga. Saat di mana keluarga lumpuh, maka masyarakat bertanggung jawab mengambil kewajiban itu.

Dari situlah sebuah negara hadir di tengah keterbatasan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan warga.

“Khalifatullah bisa dibilang pemimpin di negara manapun. Karena khalifah menjalankan pemenuhan Allah yang bersifat rahman di bumi tanpa diskriminasi. Khalifah yang menjalankan sebuah negara tidak boleh menomorduakan warga nonmuslim. Karena, sifat rahman-Nya umum mencakup muslim dan nonmuslim,” kata Kiai Masdar.

Berbeda dengan sifat rahim yang khusus diberikan kepada orang beriman di akhirat. Itulah kenapa surah al-Fatihah menyebut Hari Kiamat sebagai yaumid din, hari agama. Di sanalah agama diadili. Sedangkan di dunia, Allah lewat sifat rahman-Nya tidak menghakimi keyakinan.

“Mana bisa polisi menghakimi keyakinan warga? Keyakinan masalah batin. Itu nanti di Akhirat, yaumid din,” tandas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama, Doa, RMI NU PMII Cabang Tegal

Senin, 08 Januari 2018

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Yogyakarta, PMII Cabang Tegal. Empat koperasi NU dari Yogyakarta dan Jawa Tengah menyatakan siap menghadapi tantangan pasar bebas masyarakat ASEAN 2015. Pengurus empat koperasi ini melakukan pembenahan internal sambil membangun jejaring dengan dunia bisnis lainnya.

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)
4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global (Sumber Gambar : Nu Online)

4 Koperasi NU Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Mereka menyatakan kesiapannya pada acara pelatihan peningkatan kapasitas di Gedung PWNU DIY jalan MT Haryono 40-42, Yogyakarta, Kamis (20/11).

Pada pelatihan ini, mereka dilatih dengan sistem layanan berbasis teknologi. Empat koperasi ini juga mendapatkan bantuan masing-masing satu paket gadget sebagai bentuk dukungan sistem dalam pengelolaan yang akuntabel dan profesional.?

PMII Cabang Tegal

"Ini akan kita lakukan bukan hanya di Yogya dan Jateng. Ini kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk seluruh Indonesia. Kita akan keliling. Semua ini untuk kebangkitan ekonomi NU menyambut tantangan ekonomi global," kata Bendahara PWNU Yogyakarat H Fahmi Akbar Idris.

Fahmi menekankan sekali kelancaran arus perekonomian NU. "Jangan sampai ekonomi NU mandek. Kita harus siap menjawab tantangan global. Perbaiki standarnya, kapasitas personalnya, dan laporan keuangan yang akuntabel.”

PMII Cabang Tegal

Ia mendorong peningkatan kapasitas teknologi dalam perekonomian. “Semuanya harus kuat dan terukur. Karena, sistem ekonomi hari ini tak bisa lepas dengan perkembangan teknologi," tandas Fahmi. (Madun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sejarah kita sebagai sebuah bangsa mewariskan kekayaan tradisi yang melimpah. Salah satunya adalah pesantren yang berusia lebih sepuh dari Indonesia. Memang, sebagai lembaga pendidikan, pesantren tidak memiliki formulasi paten, baik secara institusional, kurikuler ataupun intruksional. Setiap pesantren memiliki kekhasannya masing-masing. Dalam pesantren tidak ada standar umum yang berlaku bagi semua pesantren. Inilah kelebihan pesantren.

Karenanya, pesantren dapat berkembang secara alamiah, dengan dasar etika yang sama. Perbedaan antar pesantren sekedar di wilayah tipologi dan penerapan. Landasan etisnya sama. Dari satu landasan etis ini (ilmu keislaman dan akhlak) merambat menjadi berbagai jenis karakteristik yang bermacam-macam. Tipologi ini yang menyebabkan, selesai atau tidaknya pelajaran santri ditentukan oleh pengamatam Kiai atau gurunya, setidaknya di pesantren tradisional.

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Sebagian pesantren memilih fokus dalam pengajaran al-Qur’an dan berbagai perangkat ilmunya seperti Pesantren Krapyak, nahwu-sharaf seperti Pesantren Lirap, Kebumen dan berbagai macam jenis lainnya. Sehingga tidak jarang, santri yang telah menyelesaikan pelajaran di satu pesantren tertentu pindah ke pesantren lainnya untuk memperdalam ilmu agama lainnya. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan santri, tapi juga memberikan manfaat pada pengembangan dirinya.

Santri—dulunya, mungkin juga sekarang—tidak memiliki cita-cita spesifik ketika menuntut ilmu di pesantren. Maksud spesifik di sini adalah cita-cita yang mengarah pada profesi tertentu dengan gamblang dan jelas, seperti menjadi pilot, dokter, menteri dan seterusnya. Sebab, tekanan inspiratif di pesantren sangat berbeda dengan sekolah umum. Di pesantren, ada doktrinasi budaya bahwa tujuan menuntut ilmu adalah menghilangkan kebodohan (ngilangake kebodohan).

Bukan berarti santri tidak memiliki aspirasi untuk maju, tidak. Hanya saja aspirasi santri, dari sudut pandangnya yang khas, tidak sekadar kemewahan diri dan keberhasilan individu semata. Kehidupan pesantren yang dilaluinya bertahun-tahun, membangun karakter gotong royongnya yang tinggi.

PMII Cabang Tegal

Diktum ngilangake kebodohan itu menjadi pondasi utama bahwa menuntut ilmu itu tidak ada habisnya, dari mulai lahir sampai ke liang lahat.Kebodohan itu mustahil dihilangkan. Etos belajar semacam inilah yang dipegang santri, belajar tiada akhir. Sikap ini, kemudian, dibawa para santri dalam kehidupan bermasyarakat, entah di lingungan kerja atau lingkungan lainnya, meski sudah tidak lagi tinggal di pesantren.

Nicolaus Cusanus (1401-1464 M) berpandangan bahwa manusia selalu dalam perjalanan. Makin tinggi pengetahuannya, makin sadar apa yang diketahuinya belum seberapa. Dia menyebutnya dengan istilah “de docta ignorantia” (ketidak-tahuan yang terpelajar, learned ignorance), sesuai dengan judul bukunya.

PMII Cabang Tegal

Para santri memahami itu, tidak ada orang pintar, yang ada adalah orang bodoh yang terus belajar. Atas alasan ini Kanjeng Rasul memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Karena luasnya pengetahuan dan pendeknya umur manusia. Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah mengatakan: “al-Insân jâhil bi dzâtihi wa ‘âlim bi kasabihi—manusia itu bodoh secara dzatnya, menjadi tahu dengan berusaha.” (Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, hlm 567)

Yang menentukan seseorang santri atau tidak, bukan profesi atau pekerjaannya, tapi karakter kesantrian yang telah melekat di dalamnya. Dia bisa hidup menjadi apa saja; presiden, dosen, atlet, tukang besi, pengusaha dan seterusnya. Fleksibelitas santri ini, menurut Gus Dur, didasari oleh orientasi ukhrawi yang sangat kuat, yaitu menerima apa saja yang diberikan kehidupan. Walaupun terlihat seperti sikap hidup fatalistis—ditinjau dari standaritas kehidupan dari luar pesantren—pandangan hidup semacam ini mempunyai sisi positif yang besar (Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, LKiS, hlm 8).

Pesantren sebagai tempat pendidikan, dan santri sebagai pengamalnya, telah mengembangkan pendidikan karakter dari zaman dulu, sebelum Full Days School (FDS) diperkenalkan. Pesantren mampu menciptakan sikap hidup universal yang merata dengan tata nilaiyang luhur, bukan aturan tertulis. Bagi santri, melanggar kode etis dalam kultur pesantren tidak berbeda dengan melanggar undang-undang tertulis. Sebab itu, santri akan berusaha sekeras mungkin mempertahankan identitas kultural-moralnya dimanapun dia berada.

Mark Van Doren (1894-1972 M) memandang pendidikan harus menekankan pada integritas holistik, yaitu proses integratif yang mengumpulkan berbagai komponen manusia. Jika pendidikan tidak terkait dengan intelektualitas, psikologi dan spiritualitas manusia secara bersamaan, menurut Mark Van Doren, hal itu tidak bisa disebut pendidikan (Mark Van Doren, Liberal Education, 1959).

Sebagai institusi pendidikan, model yang dikembangkan pesantren mirip dengan teori Mark Van Doren. Dengan melakukan integrasi berbagai elemen manusia. Perbedaannya, sistem pendidikan pesantren beredar di wilayah praksis, belum terskema secara teoritis. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perbedaan pendekatan yang digunakan setiap pesantran. Sebelum masuk lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu‘siapa itu manusia’menurut definisi yang biasa digunakan pesantren.

Dalam bahasa Arab kata manusia berasal dari al-uns (jinak, harmonis, dan suka cita). Definisi umumnya di kalangan pesantren adalah al-hayawân al-nâthiq (hewan yang berpikir). Menurut Imam al-Ghazali (1058-1111 M) definisi semacam itu baru mencakup aspek psikologis saja (tanâwul nafs), belum menyeluruh. Al-Ghazali memandang manusia memiliki tiga unsur penting, yakni al-nafs (jiwa), al-rûh (nyawa) dan al-jism (fisik), tidak sekedar jiwa dan raga (Abu Hamid al-Ghazali, Mi’râj al-Sâlikîn, dalam Majmû’ah al-Rasâ’il al-Imâm al-Ghazali, hlm 62).

Tiga unsur penting manusia ini digarap secara gradual di pesantren. Pertama, al-Nafs dibagi dua jenis: 1) jiwa atau aspek psikologis yang dibangun melalui aturan pesantren dan cara hidup bersama santri, dan 2) intelektual, proses ajar-mengajar santri di pesantren. Kedua, al-rûh (spiritualitas) dibentuk dengan penghindaran terhadap hal-hal haram, kontinuitas ibadah dan proses pensucian hati bertahap, misalnya tirakat. Kemudian, ketiga, al-Jism (fisik), dengan carapelatihan fisik yang bersifat untuk menajamkan jiwa dan spiritualitas santri, misalnya ro’an (kerja bakti bersama di hari libur pesantren).

Pendidikan Barat tidak memberikan ruang yang cukup untuk spiritualitas,lebih mengutamakan intelektualitas. Akibatnya, telah menghasilkan tragedi yang cukup besar. Dari tahun 2010 hingga sekarang, di Amerika Serikat telah terjadi 120-an kasus penembakan di sekolah dan memakan korban lebih dari 120 orang. Aksi itu sebagian besar dilakukan oleh siswa. Banyak dari mereka mengalami masalah kejiwaan.

Dengan demikian, aspek spiritual sangat penting dalam pendidikan kita. Penguatan pendidikan karakter harus dibarengi dengan pendidikan spiritual yang seimbang. Dalam tradisi kita, biasanya dilakukan di Madrasah Diniyyah sore atau malam. Di samping masjid dan langgar yang membuka pengajian untuk anak-anak setelah maghrib. Hampir semua motor penggerak pendidikan spiritual (agama) itu, di desa-desa, dilakukan oleh para santri yang telah mukim di daerahnya masing-masing.

Poin pentingnya adalah, citra santri dengan cita-cita umumnya (ngilangake kebodohan) membentuk karakter santri yang unik, dalam pengertian yang baik. Setiap hari mereka dituntut disiplin, bangun sebelum shubuh, kemudian harus mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat padat. Masuk sekolah sampai siang, madrasah sore dan muhafadzoh (menjaga hafalan bersama-sama), setoran hafalan setelah maghrib (sebagian mengaji al-Qur’an), bandongan dan sorogan setelah shalat Isya hingga jam sebelas malam, lalu sisanya digunakan untuk istirahat atau tidur. Paling tidak, itulah kegiatan salah satu pesantren yang saya ketahui.

Maka dari itu, para santri memiliki fleksibelitas luar biasa. Padatnya jadwal belajar sehari-hari tidak menjadikan mereka seperti robot yang membosankan. Sentuhan spiritualitas-humanistik Kiai dan santri senior, memberikan dimensi baru dalam pendidikan karakternya. Kiai dipandang tidak sekedar sebagai guru, tapi juga uswah, sumber suri tauladan santri. Karenanya, pesantren memiliki jutaan cerita keteladan yang tidak akan habis didengar. Keteladanan yang bermuara pada Sayyiduna wa Maulana Muhammad Saw, bendoro dan pungkasan para nabi.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan, dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri

Madiun, PMII Cabang Tegal. Lebih dari seribu penonton memenuhi tribun GOR Cendikia IKIP PGRI Madiun, Sabtu (14/10). Mereka datang untuk menyaksikan tim kesayanganya bertanding dalam kompetisi Futsal Piala PCNU Kabupaten Madiun yang digelar dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional.

Panitia Divisi Pertandingan, Zaki Nur mengatakan, kompetisi yang akan digelar hingga 16 Oktober ini diperkirakan berlangsung sengit. Karena pertandingan Futsal ini sangat jarang ditampilkan dalam sebuah kompetisi. Animo penonton untuk menyaksikan kompetisi juga sangat besar. Apalagi panitia pelaksana menggratiskan tiket masuk kepada para penonton.

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Futsal PCNU Madiun Gratiskan Tiket untuk Penonton Berpenampilan Santri

"Karena ini bernuansa Hari Santri Nasional, maka untuk tiket masuk kita gratiskan. Ini berlaku untuk penonton pria yang memakai sarung dan kopiah. Dan pononton wanita yang memakai jilbab," ungkapnya.

Di luar arena GOR, komandan Banser Ismanto yang bertugas sebagai Divisi Keamanan menjelaskan bahwa tiket parkir kendaraan penonton yang disediakan panitia juga ludes tak tersisa.

"Tiket yang kita sediakan untuk menjaga parkir sampai kehabisan. Dan kita harus mencetak ulang dengan jumlah seribu lagi. Apalagi waktu perbandinganya juga pas, karena hari sabtu malam minggu jadi penonton sangat antusias,"katanya.

PMII Cabang Tegal

Hendrik Sulaksono, Koordinator perlombaan Futsal PCNU mengatakan, kompetisi ini digelar untuk menjaring  bakat-bakat pemain di berbagai jenjang."Bakat-bakat itu akan kita salurkan dalam event yang lebih tinggi seperti liga santri nusantara.Maka kita minta setiap tim agar bermain sportive dan dengan skill yang baik," katanya.

Hensu, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa kompetisi ini memperebutkan tropi juara 1-4. Setiap kejuaraan akan mendapat kanuang pembinaan dengan total dua belas juta limaratus rupiah.

PMII Cabang Tegal

"Mulai satu bulan yang lalu kita buka pendaftaran untuk 3 kejuaraan, yaitu dari tingkat SMA, SMP dan MWCNU se-Kabupaten Madiun. Dan hingga akhir pendaftaran ada  76 tim futsal yang akan bertanding," tutur ketua IPNU Madiun itu.

Sementara Sekretaris PCNUMadiun, Gus Mabrur mengungkapkan pertandingan Futsal ini diselenggarakan untuk memajukan olahraga santri di wilayah KabupatenMadiun. Semangat resolusi jihad yang pernah digelorakan olen pendiri NU Hadratusyyekh Hasyim Asyari diharap dapat menjadi spirit bagi para santri dalam olahraga sepak bola."Maka dari itu saya minta seluruh tim untuk menunjukkan semangat pertandingan secara sportife dengan skile bukan gokil,"katanya. 

Sekretaris RMINU Madiun Khotamil Anam menilai, kegiatan Hari Santri Nasionaltahun 2017berlangsung lebih semarak. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya beberapa rangkaian acara oleh masing-masing badan otonom di berbagai tingkatan.(Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Doa, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Berbagai keunggulan dan kekhasan bakal masyarakat jumpai di Pameran Internasional Pendidikan Islam dikenal dengan International Islamic Education Expo (IIEE) di ICE BSD Serpong, Tanggerang, Banten.

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Buka Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual di IIEE 2017

Pameran yang digelar oleh Kementerian Agama ini, didalamnya dilakukan Layanan Pengusulan Catatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Sentra HKI/Paten Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Layanan HKI akan dibuka di arena IIEE pada tanggal 22-23 November 2017 bertempat di ICE BSD Serpong Tanggerang.

Kamarudin Amin Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI mengatakan Klinik Artikel dan Layanan HKI penting agar masyarakat mengetahui informasi terkait dengan hak kekayaan intelektual yang telah dimiliki oleh dosen dan peneliti PTKI, (13/11).

Kamarudin menegaskan HKI bagi para dosen PTKI menjadi keharusan dan sudah saatnya bagi dosen dan peneliti pada fakultas sains teknologi dan kedokteran pada PTKI untuk ambil bagian sehingga tidak kalah dengan dosen-dosen pada Perguruan Tinggi Umum. “Saya mendorong agar dosen-dosen saintek dan kedokteran untuk mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya” tegas Guru Besar Alaudin Makasar ini.

PMII Cabang Tegal

Pihaknya lanjut Kamarudin akan menyiapkan regulasi untuk memperkuat layanan Hak Kekayaan Intelektual dan memberikan dukungan pendanaan, karena upaya ini akan dapat meningkatkan produksi ilmu pengetahuan. 

Muhammad Zain Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiyah dan Pengabdian Masyarakat mengatakan Layanan Pencatatan Hak Kekayaan Intelektual terbuka untuk sivitas akademika, penulis, peneliti, akademisi dan masyarakat luas. Juga kalangan pemerhati dan pegiat isu-isu kajian Islam meliputi pendidikan, sains-teknologi, matematika, kesehatan masyarakat, ekonomi, sejarah, sosial-humaniora, ekonomi, politik, budaya studi kawasan dan sebagainya.

Zain menambahkan selain membuka Layanan HKI, Pameran Pendidikan Islam Tingkat Dunia juga akan membuka Klinik Artikel untuk membantu para penulis artikel ilmiayah agar dimuat dalam jurnal-jurnal terakreditasi nasional dan bereputasui internasional (terindeks scopus).

Ditempat yang sama, Mahrus El Mawa Penanggungjawab Klinik HKI dan Artikel menerangkan bahwa dalam klinik artikel akan melibatkan para reviewer dari 52 Jurnal Terakreditasi Nasional dan Jurnal Bereputasi Internasional PTKI. Bagi sivitas akademik di lingkungan PTKI silahkan mendaftar dengan mengisi Form Klinik artikel: s.id/klinikartikel dan/atau Form pencatatan HKI: s.id/formhki

PMII Cabang Tegal

Menurut data Direktorat PTKI saat ini ada 17 Pemegang akun/Username HKI adalah (1) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, (2) IAIN Metro Lampung, (3) STAIN Kudus, (4) STAIN Kediri, (5) UIN Gunungjati Bandung, (6) IAIN Ambon, (7) IAIN Bengkulu, (8) IAIN Pekalongan, (9) IAIN Pontianak, (10) IAIN Tulungagung, (11) IAIN Ternate, (12) IAIN Purwokerto, (13) IAIN Langsa, (14) IAIN Cirebon, (15) IAIN Samarinda, (16) UIN Sumatera Utara, dan (17) UIN STS Jambi. 

Sementara yang dalam proses permohonan Akun HKI adalah (1) IAIN Batusangkar, (2) IAIN Padangsidimpuan, (3) IAIN Gorontalo, (4) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (4) IAIN Palangkaraya, (5) UIN Sultan Syarif Kasim Riau, (6) UIN Imam Bonjol Padang, (7) UIN Raden Intan Lampung, (8) STAIN Pamekasan, (9) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, (10) UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten dan (11) UIN Palembang. (Ruchman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock