Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Partai Kebangkitan Bangsa melalui fraksinya di DPR RI mendeklarasikan diri sebagai oposisi dan berjanji bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Sikap kritis ini, bukan berarti menggoyang pemerintahan Presiden Yudhoyono, tetapi mengkritisi setiap kebijakan pemerintah demi kepentingan bangsa dan negara. Soalnya, banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat," kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di DPR RI, Effendi Choirie, setelah menerima tugas sebagai ketua fraksi dari pejabat lama Ida Fauziah di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin.

Sementara itu, dalam acara serahterima pimpinan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, hadir beberapa pimpinan fraksi, di antaranya Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Syarif Hasan, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Lukman Hakiem Saifudin, juga Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida serta sejumlah anggota dewan.

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Kepada wartawan, Effendi Choirie yang akrab disapa Gus Choi menambahkan, pihaknya juga telah sepakat untuk mendukung usulan amandemen ke-5 atas Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

"Sikap kritis yang dilakukan fraksi kami ini sesuai dengan keputusan rapat pleno DPP PKB yang dihadiri Ketua Dewan Syuro, Gus Dur. Beliau dalam rapat pleno meminta ketua fraksi yang baru bersikap kritis dan berani kepada pemerintah. Ini sesuai dengan moto baru PKB yakni, kritis, konstruktif dan solutif," katanya.

Ia berharap, sikap yang dilakukan fraksinya itu tidak disalahartikan oleh fraksi-fraksi lainnya, seperti Fraksi Partai Demokrat sebagai pendukung pemerintah. "Apa yang kami lakukan ini untuk mengkritisi kebijakan pemerintah jika tidak pro-rakyat. Tetapi bukan bertujuan untuk menjatuhkan pemerintah," katanya.

PMII Cabang Tegal

Gus Choi lalu mencontohkan, kebijakan pemerintah Presiden Yudhoyono yang terkesan plin-plan, misalnya, dukungan pemerintah atas Resolusi Dewan Keamanan PBB dengan memberikan sanksi lebih berat terhadap Iran, juga proses penyelesaian kasus lumpur Lapindo serta DCA RI-Singapura.

PMII Cabang Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ubudiyah, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpendapat konsep pemilihan ahlul halli wal aqdi atau penunjukan oleh orang-orang terpilih sebaiknya dilaksanakan untuk jabatan rais aam saja, sedangkan untuk posisi ketua umum PBNU dilaksanakan pemilihan langsung sebagaimana yang berlaku selama ini.

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Ahlul Halli Sebaiknya untuk Rais Aam Saja

“Ini untuk pemilihan jajaran syuriyah saja, kalau ketua umum tetap pemilihan langsung,” katanya kepada PMII Cabang Tegal baru-baru ini.

Ia berpendapat, sistem ahlul halli untuk kalangan syuriyah ini untuk menjaga martabat kiai sepuh yang akan menjadi rais aam supaya tidak kelihatan sekali dilombakan atau diadu. 

PMII Cabang Tegal

“Minimal tidak ada benturan atau ketegangan antara dua kandidat rais aam atau pendukungnya.”

Kiai Said menjelaskan ahlul halli pernah dilakukan untuk memilih Gus Dur sebagai ketua umum, namun demikian yang penting saat ini jika konsep tersebut dipakai kembali adalah mekanisme seperti apa yang disepakati, atas dasar apa kiai-kiai yang akan menjadi anggota ahlul halli, semuanya masih belum jelas.

PMII Cabang Tegal

Beberapa prasyarat yang menurutnya penting diataranya adalah keilmuan, kewiraian, sikap mental, perilakunya, dan juga posisinya di tengah masyarakat. 

“Kalau kiai yang tidak dikenal masyarakat juga sulit nantinya, minimal dikenal di pihak luar seperti pemerintah kenal, mabes TNI kenal, DPR kenal, kalau ngak, repot,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

PBNU Bahas RUU Penyelenggaraan Pemilu

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyelenggaraan Pemilu di lantai 5 Gedung PBNU, Kamis (26/1).

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU H. Helmy Faisal Zaini menyampaikan bahwa hasil survei terakhir tentang jumlah warga NU mencapai 45% atau menembus 120 juta di seluruh Indonesia.?

PBNU Bahas RUU Penyelenggaraan Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Bahas RUU Penyelenggaraan Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Bahas RUU Penyelenggaraan Pemilu

Menurut Helmy, saat Munas Alim Ulama dan Kombes NU tahun 2012, kiai-kiai NU mengusulkan agar pemilihan dilakukan dengan menggunakan sitem keterwakilan karena maraknya budaya politik uang.

Di tempat yang sama, Ketua PBNU Robikin Emhas mengharapkan lahir dua gagasan. Pertama, melahirkan pemimpin yang bisa diandalkan, yaitu pejuang utk mewujudkan apa yang dikehendaki para pendiri negeri ini. Karena, problem sekarang adalah rendahnya moral penguasa. Ia berharap, pemilu melahirkan negarawan bukan hanya politisi.

Kedua, memperkuat sistem presidensial. Menurutnya, sekarang sistem pemerintahan kita tidak jelas. “Sistem pemilu itu harus mencerdaskan pemilih. Pemilih yang cerdas diantaranya, pemilih yang tidak mau menerima suap,” katanya.

PMII Cabang Tegal

Sementara pembicara dari Fraksi Nasional Demokrat (Nasdem) Jhonny G. Plates meminta agar semua bersepakat dalam membuat Undang Undang (UU) dengan perpektif jangka panjang.?

Menurutnya, perlu perspektif yang sama untuk mencegah pragmatisme. “Saya hadir ingin mendengar perpektif NU karena maju mundurnya Indonesia tergantung maju mundurnya NU,” tegasnya.

PMII Cabang Tegal

Jhonny menambahkan, tantangan terbesar itu ada di partai politik untuk menyajikan pemimpin yang berkualitas. “Kita berharap penyelenggaraan pemilu ke depan lebih berkualitas,” pungkasnya.?

Hadir pada kesempatan itu Katua PBNU Umar Syah, Anggota DPR Fraksi PKB Luqman Edi, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, dan Ketua KPU Pusat Juri Ardiantoro. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sejarah, Pesantren, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat

Jakarta, PMII Cabang Tegal 



Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Podok Pesantren (Dit-PDPontren) akan menggelar peringatan Hari Santri Nasional tahun 2017. Gelaran ketiga kali ini mengusung tema “Wajah Pesantren Wajah Indonesia”.

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin berharap semua aktivitas kegiatan Hari Santri dapat menunjukkan bahwa pesantren dapat mempromosikan moderasi Islam (religious mederation) kepada dunia.

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag: Hari Santri Ajang Promosi Islam Moderat

“Saya kira dengan aktivitas Hari Santri, ini menunjukkan kepada Indoensia dan dunia internasional bahwa pesantren yang mempromosikan moderasi Islam,” kata Kamaruddin didampingi Sesditjen Pendis Ishom Yusqi dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Zayadi dalam keterangan persnya di kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta Pusat, Rabu (4/10).

Tidak hanya itu, lanjut guru besar UIN Alauddin Makassar ini, pesantren juga mengajarkan nasionalisme, hubbul wathon minal iman. Pesantren juga mengajarkan bagaimana menjadi Muslim yang baik, di samping ajaran-ajaran Islam yang toleran.

“Ajang Hari Santri ini menjadi ajang strategsis, bahwa pesantren mengajarkan Islam rahmatan lil alamin. Inilah pesantren yang mengajarkan itu semua,” kata Kamaruddin Amin sebagaimana ditulis di Kemenag.go.id.

PMII Cabang Tegal

Disampaikan Kamaruddin Amin, ke depan Kementerian Agama melalui Ditjen Pendis akan membuat strandar minimal pendirian pondok pesantren, membuat standar minimal kurikulum yang diajarkan. “Kita sedang merancang standarisasi kurikulum, tenaga pengajar pondok pesantren,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Kamaruddin Amin, Ditjen Pendis sedang memfinalisasi aturan pendirian pondok pesantren yang selama ini izin pendirian hanya dikeluarkan Kankemenag Kabupaten/kota. Ke depan izin harus dikeluarkan Dirjen dan Menteri Agama. Ini semua dilakukan untuk menjaga kualitas Pondok Pesantren (Pontren) dan mengantisipasi munculnya ajaran-ajaran gerakan radikal yan ada.

“Kebijakan yang sedang kita finalisasi, pendirian pondok pesantren akan dikeluarkan oleh Dirjen, dan Menag, yang dulu Kemenag Kabupaten/kota saja,” tandas Kamaruddin Amin. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Hadits, Nasional, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Probolinggo, PMII Cabang Tegal

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Nasional, pemuda Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam “Aliansi Pemuda Tolerasi Peduli“ menggelar aksi peduli Intan Olivia, seorang anak kecil yang meninggal karena terkena bom di Kota Samarinda.

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Para pemuda ini terdiri dari Gusdurian Probolinggo, Pimpinan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Inzah Genggong, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Inzah Genggong dan Bosan (Bocah Skuteris Kraksaan).

Aksi peduli ini diisi dengan acara musikalisasi puisi, pembacaan Surat Yaasin dan tahlil bersama serta ditutup dengan mengheningkan cipta di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (16/11) malam.

PMII Cabang Tegal

Korlap Aksi Peduli Novan Fawaid mengungkapkan kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa toleran terhadap pemuda mengingat hari ini kita sebagai warga Negara lupa akan hakikat toleransi itu sendiri.

“Untuk solidaritas Intan Olivia, kami mengutuk keras atas kelompok yang mengatasnamakan agama yang mengakibatkan anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa menjadi korbannya, bahkan sampai ia meninggal pun tidak ada dari mereka tahu dan bertanggungjawab,” katanya.

PMII Cabang Tegal

Melalui aksi ini Novan mengharapkan para pemuda, ormas dan kelompok apapun untuk selalu meningkatkan dan menanamkan jiwa toleransi. “Hal ini penting agar setiap pemuda bisa saling menghargai dan menghormati demi terwujudkan daerah yang aman dan konsusif,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, News, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro

Bojonegoro, PMII Cabang Tegal. Silaturahim Nasional (Silatnas) III Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) akan digelar di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Rencananya kegiatan tersebut diadakan di Wisma Toyo Aji Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (21/11) besok.

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU-IPNU dari 50 Perguruan Tinggi Bertemu di Bojonegoro

Silatnas kali ini mengusung tema “Memperkuat Kaderasasi di Kancah Perguruan Tinggi”. Ketua PC IPNU Bojonegoro M. Masluhan mengaku, para peserta dimungkinkan akan tiba di Kota Ledre Jumat (20/11) ini. Sebelum ke lokasi kegiatan, mereka akan berkumpul di kantor PCNU Bojonegoro.

"Bojonegoro menjadi tuan rumah, Silatnas yang pertama diadakan di Surabaya dan yang kedua di Jombang," jelasnya.

PMII Cabang Tegal

Mantan ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Kapas itu menjelaskan, setidaknya ada PKPT IPNU-IPPNU dari 50 perguruan tinggi yang hadir. Mereka terdiri dari ketua dan sekretaris serta simpatisan. "Selain sharing program, kegiatan Silatnas juga untuk memberikan rekomendasi ke Kongres IPNU-IPPNU di Boyolali, Desember mendatang," lanjutnya.

Ia menambahkan, mereka juga akan diberi materi kewirausahaan dan tentang akademik dari Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur. "Terpenting acara ini menjadi silaturahim antarbanom NU di perguruan tinggi," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal IMNU, Humor Islam, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi

Oleh Abdullah Alawi

Facebook hari ini memberi tahu, bahwa pada 28 April 2014, saya mengunggah foto saya dengan Idris Sardi. Saya memosting foto itu saat mendengar kabar Idris Sardi meninggal pada tanggal yang sama di tahun itu.?

Foto yang diunggah itu adalah saat saya mengobrol dengan maestro piano di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Oktober 2012. Pada status itu, saya menulis demikian:

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi (Sumber Gambar : Nu Online)
Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi (Sumber Gambar : Nu Online)

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi

? Yang namanya maestro, saya pikir adanya di langit dan tak terjangkau. Ia hanya ngobrol sesama dan dengan bahasa maestro saja. Tapi pada bulan Oktober 2012 saya bisa ngobrol dengannya. Ia asyik sekali. Kemudian marah karena saya menyapanya dengan "bapak". "Jangan panggil saya bapak," katanya, "tapi bang atau bung”.

Selamat jalan Bung Idris Sardi, semoga dirimu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin.

PMII Cabang Tegal

Pada waktu saya bertemu dengan Idris Sardi, saya masih belajar berwawancara. Dan sampai saat ini pun masih belajar. Saya bertemu dia dengan tidak sengaja karena tak menyangka pada acara pelantikan organisasi pencak silat, Pagar Nusa, ada seorang pemusik. Kalau pemain film lagi sih masuk akal. Misalnya Barry Prima atau paling banter George Rudy. Tapi ini maestro biola.?

Saat saya datang, acara belum dimulai. Saya hanya melihat kesibukan panitia dan seorang tua berkaos oblong putih, berkacamata, bercelana kuning berkeliling di antara sela-sela kursi yang bakal diisi hadirin. Dia berkeliling sambil menggesek-gesek biola seolah tak ada kerjaan lain. Tapi ketika saya simak, gesekannya enak sekali. Sepertinya saya pernah mendengarnya entah kapan, entah dimana. ?

PMII Cabang Tegal

“Idris Sardi,” kata panitia.?

Bukan main rasanya mendengar nama itu. Nama yang pada pikiran saya selalu berada jauh di sana. Sesuatu yang hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, apalagi mengobrolnya. Apalagi dipotret dengannya.?

Kemudian bergelegak dalam diri saya saya ingin sekadar bertanya, sejak kapan ia menyukai biola, bagaimana cara berlatihnya, dan saya ingin difoto bersamanya agar bisa dipamer di Facebook. Dengan berfoto dengannya, bukankah martabat saya akan sedikit terangkat beberapa cm?

Saya kemudian duduk di salah satu kursi bagian belakang, menonton pentas yang belum saatnya. Tapi menurut saya ini pentas juga. Karena tak ada orang lain, justru bagi saya ini adalah pentas untuk saya sendiri. Bayangkan seorang maestro yang dimiliki negeri ini pentas untuk saya sendiri. Bukankah itu suatu yang wah? Namun, sayang sang maestro tidak tahu, apalagi meniatkan pentas untuk saya. Tapi itu kan masalah dia. ?

Begitulah beberapa lagu dia mainkan melalui gesekan. Hanya saya kenal salah satu nada shalawat saja, yang lainnya lupa.?

Kemudian, acara pun dimulai. Tak perlulah saya menceritakan prosesinya. Dimana pun orang dilantik yang begitu-begitu aja. Kemudian maestro itu tampil. Awalnya duduk pada sebuah kursi, kemudian berjalan-jalan ke sana ke mari. Dan tentu saja tepuk tangan dari tangan para pendekar silat mengalir untuknya selepas pentas.?

Lalu naiklah seorang kiai. Dia belum assalamualaikum, sebagaimana para kiai memulai sebuah pidato, malah mengapresiasi gesekan sang maestro. Kiai Said Aqil Siroj, sepertinya kagum dengan dia.?

“Saya terharu, di acara seperti ini diiringi musik seperti ini. Meskipun sudah tidak muda lagi, penampilan Pak Idris sangat luar biasa!” dua kali kiai yang Ketua Umum PBNU itu bilang “luar biasa” diiring tepuk tangan para pendekar Pagar Nusa.

Kiai lulusan pesantren Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini kemudian menjelaskan musik. Ia menukil pendapat Syekh Dzu Nun Al-Mishri yang wafat tahun 221 Hijriyah.

“Musik adalah suara kebenaran yang bisa menggugah hati kita menuju Allah. Suara kebenaran, kejujuran. Kalau mulut bisa bohong, tapi musik tak bisa bohong,” katanya.

Oleh karena itu, sambung kiai yang juga doktor Umul Qurro ini, barangsiapa mendengarkan musik dengan khusyu, ia akan mencapai hakikat. Tapi barangsiapa yang mendengarkan musik dengan syahwat, ia akan menjadi zindiq, atau keluar dari Islam.

Idris Sardi juga sepertinya kagum dengan pernyataan Kiai Said tersebut. Ketika Kiai Said undur diri, Idris Sardi mengejarnya dan menyempatkan diri untuk bersalaman.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock