Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Partai Kebangkitan Bangsa melalui fraksinya di DPR RI mendeklarasikan diri sebagai oposisi dan berjanji bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Sikap kritis ini, bukan berarti menggoyang pemerintahan Presiden Yudhoyono, tetapi mengkritisi setiap kebijakan pemerintah demi kepentingan bangsa dan negara. Soalnya, banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat," kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di DPR RI, Effendi Choirie, setelah menerima tugas sebagai ketua fraksi dari pejabat lama Ida Fauziah di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin.

Sementara itu, dalam acara serahterima pimpinan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, hadir beberapa pimpinan fraksi, di antaranya Ketua Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Syarif Hasan, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Lukman Hakiem Saifudin, juga Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Laode Ida serta sejumlah anggota dewan.

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB akan Lebih Kritis pada Pemerintah

Kepada wartawan, Effendi Choirie yang akrab disapa Gus Choi menambahkan, pihaknya juga telah sepakat untuk mendukung usulan amandemen ke-5 atas Undang Undang Dasar (UUD) 1945.

"Sikap kritis yang dilakukan fraksi kami ini sesuai dengan keputusan rapat pleno DPP PKB yang dihadiri Ketua Dewan Syuro, Gus Dur. Beliau dalam rapat pleno meminta ketua fraksi yang baru bersikap kritis dan berani kepada pemerintah. Ini sesuai dengan moto baru PKB yakni, kritis, konstruktif dan solutif," katanya.

Ia berharap, sikap yang dilakukan fraksinya itu tidak disalahartikan oleh fraksi-fraksi lainnya, seperti Fraksi Partai Demokrat sebagai pendukung pemerintah. "Apa yang kami lakukan ini untuk mengkritisi kebijakan pemerintah jika tidak pro-rakyat. Tetapi bukan bertujuan untuk menjatuhkan pemerintah," katanya.

PMII Cabang Tegal

Gus Choi lalu mencontohkan, kebijakan pemerintah Presiden Yudhoyono yang terkesan plin-plan, misalnya, dukungan pemerintah atas Resolusi Dewan Keamanan PBB dengan memberikan sanksi lebih berat terhadap Iran, juga proses penyelesaian kasus lumpur Lapindo serta DCA RI-Singapura.

PMII Cabang Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ubudiyah, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

Jombang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur mengajak setiap divisi kepengurusan agar lebih kreatif dengan adanya basecamp ranting IPNU-IPPNU setempat, khususnya dibidang kerajinan tangan dan pengembangan bakat lainnya.

Sebelumnya, mereka telah merutinkan kegiatan kerajinan tangan membuat aksesoris setiap pekan kurang lebih selama dua bulan terahir sebelum adanya basecamp. Dalam perkembangannya hasil kerajinan inimampu menarik beberapa pedagang aksesorisuntuk menjadi pelanggan mereka, bahkan tidak kurang dari 10 orangsetiap pekan.?

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

“Kita sebelumnya memang sudah intensif mengadakan kerajinan tangan membuat aksesoris. Ya lumayan, hasilnya juga memuaskan dan banyak pedagang-pedagang yang sudah mulai memesannya,” kata Lila Aiziyah, Ketua PR IPPNU Mojoduwur, kepada PMII Cabang Tegal saat dihubungi, Ahad (6/12).

PMII Cabang Tegal

Ia berharap keberadaan basecamp itu menjadi motivasi tersendiri bagi semua anggota dan pengurus ranting lebih aktif dan sungguh-sungguh dalam menjalankan program-programnya. “Selama ini yang menjadi prioritas kita adalah basecamp. Basecamp kita sudah punya, tugas kita sekarang adalah memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk menjalankan program-program kita ke depan,” ungkapnya.

Kantor IPNU-IPPNU ini diresmikan pada Ahad pagi, (6/12/2015) bersama segenap pengurus ranting Kecamatan Mojowarno. Sebelum diresmikan mereka memanjatkan doa dan tahlil bersama kemudian dilanjutkan dengan acara tumpengan (makan bersama). “Semoga dengan adanya basecamp ini kita bisa rutin dan semangat menggagas ide-ide dalam berkarya,” harapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Fragmen, Syariah PMII Cabang Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah

Berbicara tentang pesantren yang sukses dalam pengembangan ekonomi syariah, kita langsung mengarah pada pesantren Sidogiri di Pasuruan dengan Baitul Mal wa Tamwil (MBT) UGT yang hingga kini terus melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah di seluruh penjuru Indonesia. Pesantren ini kini menjadi rujukan tempat belajar ekonomi syariah pesantren lain dan menjadi jujukan para mahasiswa, dosen, dan peneliti yang ingin tahu lebih dalam kiat kesuksesan mereka.  

Karena banyaknya pihak yang ingin belajar ekonomi syariah ini, akhirnya dibentuklah Shariah Business Centre (SBC) Sidogiri, yang merupakan Lembaga Diklat Profesi Koperasi Jasa Keuangan Syariah (LDP KJK) yang  bergerak di bidang pelatihan untuk penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di bidang koperasi syariah. Selain memberikan layanan pelatihan, SBC Sidogiri juga menyediakan jasa konsultan dan pendampingan UKM dengan pola atau sistem syariah

Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sidogiri, Mercusuar Pengembangan Ekonomi Syariah

Tentu saja kesuksesan yang kini diraih itu tidak datang dengan tiba-tiba. Banyak aral melintang dan hambatan yang harus dilaluinya. Tetapi berbagai kesulitan itu tidak membuat para para pengagas BMT Syariah di Sidogiri patah semangat, melainkan dijadikan sebagai penghela semangat untuk terus belajar. Kini mereka telah memetik hasil dari proses belajar yang sulit dan secara hati-hati terus mengembangkan usahanya. Koperasi Syariah Sidogiri telah memiliki anggota 8.871 orang, 256 Cabang, di 10 Propinsi, jumlah simpanan 165 Milyar, aset 1,2 Triliun, dengan omset 13.6 Triliun rupiah

Bagaimana awal mulanya pengembangan ekonomi syariah ini berkembang. Seperti pesantran-pesantren lainnya, kajian kitab kuning merupakan “makanan” sehari-hari. Dalam bab muamalah, pembahasan tentang riba secara gamblang dibahas. Pengasuh pesantren Sidogiri KH Nawawi Thoyib merasa tak bisa lepas tangan dengan kondisi masyarakat di sekitarnya yang dicekik oleh renternir, sementara mereka hanya berdiam diri dan mengharamkan saja tanpa mampu berbuat sesuatu. Dengan tekad bulat, pada 1993 ia mulai membantu masyarakat mengganti pinjaman dari renternir dengan pinjaman tanpa bunga. 

PMII Cabang Tegal

Teladan yang diberikan oleh pengasuh pesantren tersebut memberi inspirasi para ustadz muda waktu itu seperti Ust H. Mahmud Ali Zain, yang kini menjadi tokoh penting dalam koperasi syariah Sidogiri. Mereka berusaha belajar dan mencari jejaring yang terkait dengan pengembangan ekonomi syariah. Pada tahun 1990an, Konsep simpan pinjam berbasis syariah masih langka, tetapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mencari ilmu. Upayanya tak sia-sia, salah satunya mereka mendapatkan akses mengirimkan 10 orang untuk mengikuti pelatihan BMT dari sebuah Bank Syariah yang mulai diizinkan beroperasi di Indonesia. 

PMII Cabang Tegal

Dari situlah kemudian dilanjutkan dengan pendirian Koperasi BMT yang diberi nama Baitul Mal wat-Tamwil Maslahah Mursalah lil Ummah dengan anggota para guru MMU (Madrasah Miftahul Ulum) Pondok Pesantren Sidogiri. Koperasi ini secara resmi didirikan pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1418 H (ditepatkan dengan tanggal lahir Rasulullah SAW) atau 17 Juli 1997 di kecamatan Wonorejo Pasuruan. 

Setelah bermusyawarah dan mensosialisasikan cita-cita mulia ini, terdapat 148 orang yang bersedia menjadi anggota dan berhasil dikumpulkan modal sebanyak 13.5 juta rupiah. Koperasi itu mulai usahanya dengan menyewa kantor seluas 16 meter persegi. Dari tempat kecil inilah, para pelopor ekonomi syariah dari Sidogiri mulai berupaya ilmu yang diperoleh dari pesantren dan pelatihan.  

Pelan tapi pasti, dengan mengedepankan sikap profesional, memisahkan antara manajemen pesantren dan manajemen ekonomi, koperasi tersebut berkembang dengan baik. Hal ini membuat komunitas Sidogiri yang lebih luas, khususnya para guru dan alumni menginginkan pendirian koperasi dalam skup yang lebih luas. Maka pada tanggal 05 Rabiul Awal 1421 H (juga bertepatan dengan bulan lahirnya Rasulullah SAW) atau 22 Juni 2000 M diresmikan dan dibuka satu unit Koperasi BMT UGT Sidogiri di Jalan Asem Mulyo 48 C Surabaya. Seperti pendahulunya, BMT ini berjalan dengan baik. Dengan target pasar yang memang luas, BMT UGT Sidogiri mampu melayani konsumen dalam jangkauan yang luas dan kini menjadi perbincangan nasional. 

Kini Sidogiri bukan lagi sekedar pesantren yang mengajarkan kitab kuning, melainkan telah menjadi Lembaga Ekonomi dan Sosial dibawah payung Sidogiri Network Forum (SNF) dengan serangkaian usaha yang meliputi (1) koperasi pesantren, (2) BMT Maslahah, (3), BMT UGT Usaha Gabungan Terpadu (4) BPR Syariah Ummu (jasa Keuangan), (5) koperasi Agro, (6) SBC Sidogiri (Diklat Profesi Jasa Keuangan Syariah), (7) LAZ Sidogiri (Lembaga Amil Zakat), (8) L-KAF Sidogiri (Lembaga Wakaf), (9) IASS Sidogiri (Ikatan Alumni Santri), (10) majalah Buletin Sidogiri, dan (11) Penerbitan Pustaka Sidogiri. 

Seiring dengan semakin bertambahnya kepercayaan masyarakat, luasnya jaringan alumni, bertambahnya akses modal dan pengalaman. Tak diragukan lagi, upaya dakwah ekonomi yang secara langsung menyentuh lapisan akar rumput akan terus berkembang. Dakwah tak sekedar bil lisan, tetapi juga bil hal atau dengan aksi nyata. Model seperti inilah yang akan memberikan hasil yang dahsyat.  

Upaya pengembangan ekonomi berbasis pesantren yang kini gencar dilakukan, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah melalui Kemenag, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga pemerintah lainnya mendapat partner yang baik yang bisa mendampingi pesantren lain yang ingin belajar ekonomi syariah. Sidogiri paham betul tradisi pesantren dan tahu apa yang harus dilakukan agar kegiatan ekonomi pesantren ini bisa tumbuh. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Sunnah, Quote PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Laporan Keuangan di Depkes Tak Memuaskan, Program TBC PBNU Mandek

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Akibat laporan keuangan yang kurang memuaskan yang terjadi di departemen kesehatan sebagai local partner dari The Global Fund, PBNU terkena imbasnya. Dana program penanggulangan penyakit TBC dari The Global Fund untuk sementara dihentikan.

Wakil Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan Nahdlatul Ulama (LPKNU) Dr. Ing Bina Suhendra menjelaskan program ini disalurkan melalui departemen pemerintah yang selanjutnya bekerjasama dengan organisasi atau LSM, salah satunya melalui LPKNU.

Laporan Keuangan di Depkes Tak Memuaskan, Program TBC PBNU Mandek (Sumber Gambar : Nu Online)
Laporan Keuangan di Depkes Tak Memuaskan, Program TBC PBNU Mandek (Sumber Gambar : Nu Online)

Laporan Keuangan di Depkes Tak Memuaskan, Program TBC PBNU Mandek

Sejauh ini LPKNU sudah menerima dana untuk program persiapan seperti survey lapangan dan bahtsul masail, namun dana untuk program utama belum diberikan. Bahkan agar program ini bisa berjalan lancar sesuai waktu yang ditetapkan, LPKNU menalangi sebagian kebutuhan dana program.

Akibat mandeknya program ini, sejumlah pesantren yang sebelumnya sudah disurvey sering menanyakan tentang kelanjutannya. Bina menyatakan memang LPKNU hanya bisa menunggu penyelesaian masalah ini antara Depkes dan The Global Fund. Meskipun demikian, LPKNU juga mencari alternatif pendanaan lainnya guna menunjang program ini.

“Tapi harus kita sadari bahwa untuk mencari pendanaan lain, bukan perkara yang mudah. Untuk mencapai kesepakatan sampai pelaksanaan program, bisa memakan waktu setahun,” imbuhnya.

Kasus ketidakberesan pengelolaan dana di Depkes terungkap ketika auditor independent Pricewater-houseCoopers (PwC) mengungkapkan, ada dana Rp 5 miliar dari lembaga donor internasional The Global Fund yang belum dipertanggungjawabkan oleh pejabat Departemen Kesehatan Rosmini Day.

PMII Cabang Tegal

Rosmini diduga mengalami konflik kepentingan karena disamping menjabat sebagai Direktur P2ML dan Principle Resipient The Global Fund juga merupakan salah satu pendiri Yayasan Syahrullah Afiat, salah satu lembaga masyarakat penerima dana The Global Fund. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Pemandangan agak berbeda tampak pada acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabu (27/2) malam. Jika biasanya kiai NU yang mengaji kitab, kini ulama asal Lebanon yang tampil fasih menerangkan isi kitab.

Syaikh Khalil ad-Dabbagh, ulama asal lebanon itu, membawa sedikitnya tiga kitab karangan ulama Nusantara, antara lain, at-Tanbihat al-Wajibat karya pendiri NU, Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Sirajuth Thalibin (Syaikh Muhammad Ihsan Jampes dari Kediri), dan Qathrul Ghaits (Syaikh Imam Nawawi dari Banten).

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Dosen Universitas Global Lebanon ini menjelaskan konsep tauhid menurut paham ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Allah, katanya, bersifat suci dari seluruh kriteria kemakhlukan, seperti bentuk dan arah sebagaimana pandangan mutajassim (antropomorfis).

PMII Cabang Tegal

”Allah tidak dapat dikonseptualisasikan atau dibayangkan. Lantas, kenapa kita menengadah ke atas saat berdoa? Itu bukan karena Allah bertempat di atas, melainkan langit merupakan kiblat untuk doa. Kita dapat temukan keterangan tersebut dari kitab ini,” kata Syaikh Khalil dalam bahasa Arab sambil memperlihatkan kitab Sirajuth Thalibin.

Menurut dia, pandangan ini ditemukan dasarnya pada ayat suci al-Qur’an yang mengatakan bahwa tak ada satupun yang menyerupai Allah. Dia mahasempurna dalam segala hal, tidak membutuhkan apapun atau siapapun.

PMII Cabang Tegal

Syaikh Khalil menambahkan, sebagaimana manusia, arah dan bentuk juga termasuk makhluk Allah. Tuhan terlalu luas untuk digambarkan oleh indra dan pikiran manusia yang terbatas. ”Dan kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Allah,” ujarnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Nasional, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Daunnajah

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Pesantren Darunnajah Jakarta mengelar Musabaqoh Hifzhul Quran yang ke-3 antar Pondok Pesantren se-Indonesia. Musabaqoh Hifzhul Quran merupakan acara rutin setiap tahun, yag pada tahun ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda  ke-89. 

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Daunnajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Daunnajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umrah, Hadiah Pemenang Tahfidz Quran Pesantren Daunnajah

Ketua Panitia Sofwan Manaf megungkapkan Musabaqoh Hifzhul Quran ini adalah salah satu cara untuk mencerdaskan kader bangsa.

“Agar mencintai Agama dan Negara, para santri juga diharapkan membawa nilai-nilai Al Quran, mampu menjaga toleransi dan keberagaman yang ada di Indonesia serta berpegang teguh pada nilai-nilai kebangsaan demi terciptanya cinta tanah air Indonesia raya," ungkapnya pada Jumat, (27/10).

Sofwan mengatakan sebanyak 426 hafidz dan hafidzah dari pesantren se-Indonesia menjadi peserta kegiatan tersebut. Mereka sebelumnya mengikuti seleksi di 14 kota meliputi Medan, Kuningan, Tidore, Maros,

Tenggarong, Martapura, Dumai, Palembang, DKI Jakarta, Magelang, Surabaya, Bondowoso, Sumbawa, dan Lombok.

PMII Cabang Tegal

Para pemenang (terbaik) pada tiap golongan, baik putra dan putri mendapatkan hadiah ibadah umroh. Sedangkan terbaik 2, 3, harapan 1, dan harapan 2 mendapatkan dana pembinaan. (Kendi Setiawan)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal RMI NU, Fragmen, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Merebus Putra Kyai

Mari kita peringati Hari Pendidikan Nasional kali ini, 2 Mei, dengan membaca tulisan  berjudul Memperbaiki Pesanteren atau Pondok karya A. Karim Hasyim, yang dimuat di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) No. 12 Tahun 9. Mengapa hari pendidikan kita bicara pesantren? 

Jawabnya, karena pesantren bagian dari dunia pendidikan yang telah tumbuh berabad-abad silam, dan sekarang masih tegak berdiri. Pesantren tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan di negeri ini. Sebelum mengemukakan isi tulisan yang terbit pada  April 1940, alangkah baiknya kita mengenal sekelumit tentang penulisnya, yaitu A. Karim Hasyim.

Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Merebus Putra Kyai

A. Karim Hasyim adalah putra dari salah seorang guru besar Islam di Tanah Jawa dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karim Lahir di Jombang, tahun 1919. Jaman bergolakan mengusir penjajah, ia adalah satu dari sekian pejuang berlatar belakang pesantren. Guru agama adalah rutinitas kesehariannya. Almagfurlah KH A. Karim Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, sepinggal kakaknya, KH A. Wahid Hasyim. Seperti para sesepuh kita dahulu, A. Karim Hasyim adalah Kyai Haji, tapi ia lebih suka mengawali al-Faqir di awal namanya.

Di dalam tulisan tersebut, yang secara khusus diberi “rubrik” bernama Zelforrectie (bahasa Belanda: koreksi diri), Karim menyoroti masa depan pesantren dan para santri. Namun, tulisan tersebut melihatnya dari sisi kyai dan putranya, sebagai pengasuh dan generasi penerus pesantren. Kenapa kyai dan putranya? Ia menjawab bertanyaan ini dengan bertanya pula, “Di mana ada teluk, di situ timbunan kapal bukan?” 

PMII Cabang Tegal

Yang menarik, persis sebelum halaman yang memuat tulisan Kyai Karim, majalah Berita Nahdlatoel Oelama ini menampilkan tulisan kakaknya, Kyai Abdul Wahid Hasyim, judulnya Boeat Goeroe. Isinya, kritik tajam tentang pendidikan zaman itu. Dalam tulisannya, Kyai Wahid mengatakan, kemunduran sekolah bukan saja ada pada kemunduruan “pelajaran”, tapi juga mendera bidang “pendidikan”. 

PMII Cabang Tegal

Ada lagi kemoendoeran madaris (sekolah) kita jang lebih menjoesahkan dan lebih meroegikan, jaitu kemoendoeran dalam hal pendidikan,” tulis Kyai Wahid.

Kyai wahid mengungkapkan, sifat-sifat yang seharusnya tidak ada pada diri murid-murid dan lulusan sekolah, justru menempel erat, seperti penakut dalam segala hal, selalu bergantung kepada orang lain, mau menjual pendiriannya, menaruh kepentingan agama di belakang, cuma memikirkan kepentingan perutnya sendiri, mau menghambakan dirinya pada uang dan pangkat serta jabatan.

Tapi sifat-sifat yang seharusnya ada pada diri murid-murid dan alumni sekolah, kata Kyai Wahid, hilang. Sifat-sifat yang hilang itu adalah berani karena benar, pandai berusaha sendiri, teguh dalam pendirian, mau mengorbankan tenaga untuk agama, mengutamakan kepentingan umum, tahu akan harga diri dan lain-lain.

Kembali pada duduk perkara yang dibahas Karim. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa gelar kyai, sejak jaman dahulu, tidak mudah disematkan ke sembarang orang. Orang yang digelari kyai juga cenderung menghindar karena berat tanggungannya. 

“Tiada moedah orang akan mentjapai gelar kiai. Roh dan djiwanja harus koeat,” tulis Karim yang saat itu berusia 21 tahun.

Ia menjelaskan makna kuat itu dengan orang yang berjiwa “Islam” 100 persen, bukan berjiwa “Selam”, artinya nyesaki alam, alias hanya bikin penuh jagat raya saja. 

Ia berhujah, tanggungan yang berat pada kyai juga tidak hanya dialami semasa hidup, tapi juga ketika meninggal dunia, karena beban itu menurun pada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Di sinilah, Karim mulai mengupas putra-putra kyai, mungkin juga mengupas dirinya. Katanya, kyai muda itu kurang cakap dalam mengasuh pesantren. Sebab, kyai muda tersebut kurang mendapat asuhan dan perhatian yang sempurna. Pada saat yang sama, Karim juga mengkritik santri yang lebih takut kepada putra kyai daripada harimau, padahal putra kyai tersebut tidak lebih pandai daripada santrinya. 

Keadaan putra kyai dalam amatan Karim ini disebabkan karena beban berat serta tanggung jawab seorang kyai yang banyak, sehingga tidak dapat mengurus dan memperhatikan putra-putra sendiri.

Dikatakannya, ketidaksempurnaan dalam mengasuh anak-anak itu, bukan karena kyai itu tidak tahu menahu ujung pangkal ilmu tarbiyah (pendidikan) atau tidak pernah membaca buku para pemikir dari Eropa, tapi karena tidak punya waktu, tidak ada waktu. Semenjak kecil, kata Karim, putra kyai itu tak dapat pendidikan dan latihan-latihan yang sempurna.

“Sajang, seriboe kali sajang, mereka itoe poetera-poetera harimau, tetapi tiada bertaring, mereka itu poetera-poetera singa tetapi ta’dapat mengaoem, dan meraka itoelah poetera-poetera banteng, tetapi ta’ bertandoek."

Tentu saja, pendapat Karim di atas tidak sedang menggebyah uyah, karena mungkin kita tahu, tidaklah sedikit anak turun kyai pandai dan bijaksana. Bahkan mungkin, tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua, lebih pandai dari anaknya. Kita sama-sama melihat, banyak orang tua yang tidak nyantri, tapi ia berhasil memesantrenkan anaknya bertahun-tahun, jauh dari rumahnya, ke luar daerah, bahkan hingga ke Mekkah. Sekedar contoh, Gus Dur, di samping memiliki ilmu agama, juga memahami sastra, musik, hingga sepak bola, sesuatu yang mungkin tidak digeluti oleh buyutnya.

Tulisan Kyai Karim tidak lebih adalah menangkap gejala, bahwa ada di antara putra kyai, pada waktu itu, kurang mendapat perhatian. Bapaknya pergi jauh ke luar daerah, guna syiar Islam, untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama, tidak bisa pulang pada hari itu juga, karena belum ada pesawat. Kalau pun ada di rumah, para kyai sibuk mengajar anak orang lain di pesantrennya, menerima tamu, menikahkan tetangganya, mendoakan orang mati, dan sebagainya dan sebagainya. 

Hal lain yang sebetulnya sedang diutarakan Karim adalah, menasehati teman-temannya sesama kyai. Kita tahu jaman itu bangsa sedang membutuhkan orang-orang, kyai-kyai, yang mengerti tatanan sosial, mempunyai keluasan ilmu, dan ide cemerlang, dan ikhlas berjuang untuk membangun bangsa berdaulat.  

“Tapi, jangan lupa anak sendiri,” mungkin begitu peringatan Kyai Karim pada teman-teman seperjuangannya.

Kyai Karim, yang wafat di Mekkah tahun 1973, menyatakan tulisan tersebut dimaksudkan untuk turut memperbaiki pesantren kita, karena pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Ia mengaku dengan tulisannya ini memang ingin “mengganggu” para putra kyai. 

“Tapi dengan tjara itoe, boekannja penoelis bentji, atau mengandjoer-andjoerkan agar jangan kita menghormati para poetera kiai, itoe sekali-kali tidak, kita wajib hormat-menghormati dan harga-menghargai, tetapi kalau kita tahoe bahwa ada di antara kita ada jang salah, kita wadjib poela mengingatkannja, demikian poela sebaliknnya,” jelasnya.

Di akhir tulisan, Kyai Karim berkesimpulan bahwa memperbaiki pesantren harus dengan memperbaiki para santri, dan para santri itu tak dapat diperbaiki dan menjadi masak manakala para putra kyai tidak kita rebus dahulu dalam periuk pendidikan hingga masak benar. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

GP Ansor Bogor Gelar Diklat Kepemimpinan Dasar

Bogor, PMII Cabang Tegal - Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bogor, Jawa Barat menyelenggarakan Diklat Kepemimpinan Dasar (DKD) zona Bogor Timur di Pondok Pesantren Al Ghazaliyah Nagrak, Kecamatan Gunung Putri. Kegiatan yang diikuti 250 peserta tersebut sempat diguyur hujan lebat, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka.

Di luar materi ke-Ansoran, DKD yang berlangsung dari Jumat 30 September sampai 2 Oktober tersebut menghadirkan narasumber mumpuni, di antaranya PPM Aswaja yang mengajak kader untuk dakwah dengan tulisan lewat media online sebagai wujud jawaban atas tantangan zaman.

GP Ansor Bogor Gelar Diklat Kepemimpinan Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bogor Gelar Diklat Kepemimpinan Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bogor Gelar Diklat Kepemimpinan Dasar

Menurut Ketua Panitia DKD Jaenudin, kegiatan tersebut merupakan awal kebangkitan GP Ansor Kecamatan Gunung Putri khususnya, dan Kabupaten Bogor umunya.

“Kegiatan ini adalah bukti keseriusan PAC Gunung Putri dan PAC se-Bogor Timur untuk menggerakan pemuda Nahdatul Ulama serta mewujudkan cita cita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Ketua PAC GP Ansor Gunung Putri dan Koordinator Wilayah Bogor Timur tersebut sebagaimana siaran pers yang diterima PMII Cabang Tegal pada Senin (3/10).

PMII Cabang Tegal

Ketua PC Ansor Kabupaten Bogor H. Abdullah Nawawi mengatakan, GP Ansor adalah gerakan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam mengejawantahkan setiap pergerakannya.

PMII Cabang Tegal

Hal itu senada dengan Ketua PW GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar. Dia mengatakan, GP Ansor mendakwahkan amar makruf? bil makruf nahyi munkar bil maruf (mendakwahkan kebaikan dengan baik, melarang kejelekan dengan baik).

Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Muspika Kecamatan Gunung Putri, PCNU Kabupaten Bogor LTN PBNU, Ketua Jatman DKI Jakarta, serta Keluarga Besar NU Kabupaten Bogor. Sementara penutupan diakhiri dengan doa kiai sepuh Gunung Putri dengan harapan akan muncul generasi baru penerus perjuangan Nahdlatul Ulama. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sejarah, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Oleh Muhammad Afiq Zahara

Sejarah kita sebagai sebuah bangsa mewariskan kekayaan tradisi yang melimpah. Salah satunya adalah pesantren yang berusia lebih sepuh dari Indonesia. Memang, sebagai lembaga pendidikan, pesantren tidak memiliki formulasi paten, baik secara institusional, kurikuler ataupun intruksional. Setiap pesantren memiliki kekhasannya masing-masing. Dalam pesantren tidak ada standar umum yang berlaku bagi semua pesantren. Inilah kelebihan pesantren.

Karenanya, pesantren dapat berkembang secara alamiah, dengan dasar etika yang sama. Perbedaan antar pesantren sekedar di wilayah tipologi dan penerapan. Landasan etisnya sama. Dari satu landasan etis ini (ilmu keislaman dan akhlak) merambat menjadi berbagai jenis karakteristik yang bermacam-macam. Tipologi ini yang menyebabkan, selesai atau tidaknya pelajaran santri ditentukan oleh pengamatam Kiai atau gurunya, setidaknya di pesantren tradisional.

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri, Cita-cita dan Pendidikan Karakter

Sebagian pesantren memilih fokus dalam pengajaran al-Qur’an dan berbagai perangkat ilmunya seperti Pesantren Krapyak, nahwu-sharaf seperti Pesantren Lirap, Kebumen dan berbagai macam jenis lainnya. Sehingga tidak jarang, santri yang telah menyelesaikan pelajaran di satu pesantren tertentu pindah ke pesantren lainnya untuk memperdalam ilmu agama lainnya. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan santri, tapi juga memberikan manfaat pada pengembangan dirinya.

Santri—dulunya, mungkin juga sekarang—tidak memiliki cita-cita spesifik ketika menuntut ilmu di pesantren. Maksud spesifik di sini adalah cita-cita yang mengarah pada profesi tertentu dengan gamblang dan jelas, seperti menjadi pilot, dokter, menteri dan seterusnya. Sebab, tekanan inspiratif di pesantren sangat berbeda dengan sekolah umum. Di pesantren, ada doktrinasi budaya bahwa tujuan menuntut ilmu adalah menghilangkan kebodohan (ngilangake kebodohan).

Bukan berarti santri tidak memiliki aspirasi untuk maju, tidak. Hanya saja aspirasi santri, dari sudut pandangnya yang khas, tidak sekadar kemewahan diri dan keberhasilan individu semata. Kehidupan pesantren yang dilaluinya bertahun-tahun, membangun karakter gotong royongnya yang tinggi.

PMII Cabang Tegal

Diktum ngilangake kebodohan itu menjadi pondasi utama bahwa menuntut ilmu itu tidak ada habisnya, dari mulai lahir sampai ke liang lahat.Kebodohan itu mustahil dihilangkan. Etos belajar semacam inilah yang dipegang santri, belajar tiada akhir. Sikap ini, kemudian, dibawa para santri dalam kehidupan bermasyarakat, entah di lingungan kerja atau lingkungan lainnya, meski sudah tidak lagi tinggal di pesantren.

Nicolaus Cusanus (1401-1464 M) berpandangan bahwa manusia selalu dalam perjalanan. Makin tinggi pengetahuannya, makin sadar apa yang diketahuinya belum seberapa. Dia menyebutnya dengan istilah “de docta ignorantia” (ketidak-tahuan yang terpelajar, learned ignorance), sesuai dengan judul bukunya.

PMII Cabang Tegal

Para santri memahami itu, tidak ada orang pintar, yang ada adalah orang bodoh yang terus belajar. Atas alasan ini Kanjeng Rasul memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Karena luasnya pengetahuan dan pendeknya umur manusia. Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah mengatakan: “al-Insân jâhil bi dzâtihi wa ‘âlim bi kasabihi—manusia itu bodoh secara dzatnya, menjadi tahu dengan berusaha.” (Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, hlm 567)

Yang menentukan seseorang santri atau tidak, bukan profesi atau pekerjaannya, tapi karakter kesantrian yang telah melekat di dalamnya. Dia bisa hidup menjadi apa saja; presiden, dosen, atlet, tukang besi, pengusaha dan seterusnya. Fleksibelitas santri ini, menurut Gus Dur, didasari oleh orientasi ukhrawi yang sangat kuat, yaitu menerima apa saja yang diberikan kehidupan. Walaupun terlihat seperti sikap hidup fatalistis—ditinjau dari standaritas kehidupan dari luar pesantren—pandangan hidup semacam ini mempunyai sisi positif yang besar (Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren, LKiS, hlm 8).

Pesantren sebagai tempat pendidikan, dan santri sebagai pengamalnya, telah mengembangkan pendidikan karakter dari zaman dulu, sebelum Full Days School (FDS) diperkenalkan. Pesantren mampu menciptakan sikap hidup universal yang merata dengan tata nilaiyang luhur, bukan aturan tertulis. Bagi santri, melanggar kode etis dalam kultur pesantren tidak berbeda dengan melanggar undang-undang tertulis. Sebab itu, santri akan berusaha sekeras mungkin mempertahankan identitas kultural-moralnya dimanapun dia berada.

Mark Van Doren (1894-1972 M) memandang pendidikan harus menekankan pada integritas holistik, yaitu proses integratif yang mengumpulkan berbagai komponen manusia. Jika pendidikan tidak terkait dengan intelektualitas, psikologi dan spiritualitas manusia secara bersamaan, menurut Mark Van Doren, hal itu tidak bisa disebut pendidikan (Mark Van Doren, Liberal Education, 1959).

Sebagai institusi pendidikan, model yang dikembangkan pesantren mirip dengan teori Mark Van Doren. Dengan melakukan integrasi berbagai elemen manusia. Perbedaannya, sistem pendidikan pesantren beredar di wilayah praksis, belum terskema secara teoritis. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perbedaan pendekatan yang digunakan setiap pesantran. Sebelum masuk lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu‘siapa itu manusia’menurut definisi yang biasa digunakan pesantren.

Dalam bahasa Arab kata manusia berasal dari al-uns (jinak, harmonis, dan suka cita). Definisi umumnya di kalangan pesantren adalah al-hayawân al-nâthiq (hewan yang berpikir). Menurut Imam al-Ghazali (1058-1111 M) definisi semacam itu baru mencakup aspek psikologis saja (tanâwul nafs), belum menyeluruh. Al-Ghazali memandang manusia memiliki tiga unsur penting, yakni al-nafs (jiwa), al-rûh (nyawa) dan al-jism (fisik), tidak sekedar jiwa dan raga (Abu Hamid al-Ghazali, Mi’râj al-Sâlikîn, dalam Majmû’ah al-Rasâ’il al-Imâm al-Ghazali, hlm 62).

Tiga unsur penting manusia ini digarap secara gradual di pesantren. Pertama, al-Nafs dibagi dua jenis: 1) jiwa atau aspek psikologis yang dibangun melalui aturan pesantren dan cara hidup bersama santri, dan 2) intelektual, proses ajar-mengajar santri di pesantren. Kedua, al-rûh (spiritualitas) dibentuk dengan penghindaran terhadap hal-hal haram, kontinuitas ibadah dan proses pensucian hati bertahap, misalnya tirakat. Kemudian, ketiga, al-Jism (fisik), dengan carapelatihan fisik yang bersifat untuk menajamkan jiwa dan spiritualitas santri, misalnya ro’an (kerja bakti bersama di hari libur pesantren).

Pendidikan Barat tidak memberikan ruang yang cukup untuk spiritualitas,lebih mengutamakan intelektualitas. Akibatnya, telah menghasilkan tragedi yang cukup besar. Dari tahun 2010 hingga sekarang, di Amerika Serikat telah terjadi 120-an kasus penembakan di sekolah dan memakan korban lebih dari 120 orang. Aksi itu sebagian besar dilakukan oleh siswa. Banyak dari mereka mengalami masalah kejiwaan.

Dengan demikian, aspek spiritual sangat penting dalam pendidikan kita. Penguatan pendidikan karakter harus dibarengi dengan pendidikan spiritual yang seimbang. Dalam tradisi kita, biasanya dilakukan di Madrasah Diniyyah sore atau malam. Di samping masjid dan langgar yang membuka pengajian untuk anak-anak setelah maghrib. Hampir semua motor penggerak pendidikan spiritual (agama) itu, di desa-desa, dilakukan oleh para santri yang telah mukim di daerahnya masing-masing.

Poin pentingnya adalah, citra santri dengan cita-cita umumnya (ngilangake kebodohan) membentuk karakter santri yang unik, dalam pengertian yang baik. Setiap hari mereka dituntut disiplin, bangun sebelum shubuh, kemudian harus mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat padat. Masuk sekolah sampai siang, madrasah sore dan muhafadzoh (menjaga hafalan bersama-sama), setoran hafalan setelah maghrib (sebagian mengaji al-Qur’an), bandongan dan sorogan setelah shalat Isya hingga jam sebelas malam, lalu sisanya digunakan untuk istirahat atau tidur. Paling tidak, itulah kegiatan salah satu pesantren yang saya ketahui.

Maka dari itu, para santri memiliki fleksibelitas luar biasa. Padatnya jadwal belajar sehari-hari tidak menjadikan mereka seperti robot yang membosankan. Sentuhan spiritualitas-humanistik Kiai dan santri senior, memberikan dimensi baru dalam pendidikan karakternya. Kiai dipandang tidak sekedar sebagai guru, tapi juga uswah, sumber suri tauladan santri. Karenanya, pesantren memiliki jutaan cerita keteladan yang tidak akan habis didengar. Keteladanan yang bermuara pada Sayyiduna wa Maulana Muhammad Saw, bendoro dan pungkasan para nabi.

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan, dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Senin, 25 Desember 2017

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Pamekasan, PMII Cabang Tegal. Kegiatan fasilitasi pendidikan kompetensi aplikatif melalui kursus pengolahan ikan di daerah tertinggal, diikuti oleh para perempuan Madura, Selasa (2/12) di SMKN 1 Pamekasan, Jawa Timur. Kursus yang digelar PP Muslimat NU dengan menggandeng Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) RI tersebut, memasuki hari kedua dan menitiktekankan pada ragam cara pengolahan hasil laut.

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 40 peserta dibekali teori pengolahan ikan jadi abon, kripik, naget, dan bakso.

Selain itu, mereka juga diberi wawasan mengenai legalitas dan standarisasi makanan sehat, kebijakan umum tentang fungsi ikan, serta pengenalan pengolahan ikan dan manajemen keuangan. Muaranya, peserta belajar pengemasan, pelabelan, dan pemasaran pengolahan ikan.

PMII Cabang Tegal

Kursus ini dibuka langsung oleh Bupati Achmad Syafii sehari sebelumnya. Diproyeksikan, penutupannya pada Kamis (4/12) mendatang. Peserta mendapat pendampingan khusus dari pengurus PP Muslimat NU, yaitu Ketua Harian Bidang Pendidikan Dr Srimulyati, Sekretaris VI Bidang Hukum dan Advokasi Dra. Nur Rifah Masykur, dan anggota Bidang Hukum dan Advokasi Rizky Wijayanti, SH.

PMII Cabang Tegal

Nantinya, peserta akan diberi peralatan supaya pelatihan bisa berlangsung secara berkesinambungan. Peralatan yang diterima masing-masing peserta senilai Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Peralatan tersebut meliputi freezer, kompor gas, tabung gas, dan peralatan olahan makanan. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nusantara, Santri, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus menerbitkan tiga buku baru kemarin (20/6). Ketiga buku terbitan Mata Air Publishing itu terdiri dari satu buku kumpulan puisi berjudul Aku Manusia dan dua buku kumpulan esai Agama Anugerah, Agama Manusia dan Sang Pemimpin.

Menurut Rizal Wijaya dari Mata Air Publishing, tujuan menerbitkan buku ini adalah untuk menyebarkan pemahaman keislaman dari ulama yang memang dikenal memiliki ilmu yang luas dan mendapatkan ilmunya dari berbagai sumber.

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru

"Sehingga melalui karya dan pemandangan Gus Mus ini orang-orang akan lebih memahami agama dan tidak disalahpahami dari sisi yang sempit saja," ujarnya.

PMII Cabang Tegal

Selain itu, tambah Rizal, penerbitan 3 buku ini juga mempunyai misi untuk menebarkan pemahaman agama dan keberagamaan yang menyejukkan, serta menyajikan pengetahuan agama secara utuh mulai dari kulit hingga esensinya.

"Mata Air mengajak kembali umat untuk gemar membaca melalui tulisan yg ringan tetapi berbobot," tutup pria yang juga mengelola kanal Gus Mus TV itu.

PMII Cabang Tegal

Terbitnya tiga karya ini juga menambah deretan karya dan buku yang telah diterbitkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Rembang) ini. Beberapa buku itu antara lain Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995). Pahlawan dan Tikus (kumpulan pusisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996). Mahakiai Hasyim Asyari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996) dan lain-lain. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Pahlawan PMII Cabang Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

PBNU: BPJS Syariah Tambah Beban Pemerintah

Jombang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menganggap Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sedang dirintis pemerintah cukup ditangani satu badan negara, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Pembentukan BPJS Syariah yang diusulkan pihak MUI, tidak dibutuhkan mengingat secara prinsip tidak berbeda dari BPJS Kesehatan yang ada. Kalau pun dihadirkan, maka beban pemerintah semakin berat.

Forum bahtsul masail pra muktamar NU yang diselenggarakan PBNU di pesantren Krapyak Yogyakarta pada 28 Maret 2015, tidak menemukan masalah secara Fiqih dalam program BPJS Kesehatan yang tengah berjalan. Forum yang dihadiri para kiai dari pelbagai daerah di tanah air itu memandang BPJS Kesehatan sudah sesuai syariah Islam.

PBNU: BPJS Syariah Tambah Beban Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: BPJS Syariah Tambah Beban Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: BPJS Syariah Tambah Beban Pemerintah

Pemimpin sidang bahtsul masail pra muktamar NU soal BPJS Kesehatan KH Syafrudin Syarif menilai bahwa prinsip kerja program BPJS Kesehatan secara substansi itu sudah sangat Islami. Kekurangan dalam soal-soal teknis, menurutnya, cukup disempurnakan dan dikembangkan.

PMII Cabang Tegal

“Tidak usah menyebut ‘syariah’ karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk. Tidak semuanya orang Islam. Sehingga nanti yang ikut BPJS tidak hanya orang Islam. Jadi ketika orang Islam sakit, non-muslim bisa membantu orang Islam,” kata Katib Syuriyah PWNU Jatim kepada PMII Cabang Tegal usai sidang pleno Muktamar Ke-33 NU di alun-alun Jombang, Ahad (2/8) petang.

PMII Cabang Tegal

Prinsip kerja at-ta’min at-ta’awuni (jaminan bersifat saling bantu) tidak mempermasalahkan agama, keyakinan, atau suku. “Ketika ada orang kecelakaan lalu lintas di tengah-tengah kita, apakah kita tanya dulu, ini orang Islam atau bukan? Nanti kalau non-muslim tidak kita tolong? Tidak begitu ajaran Nabi Muhammad SAW. Siapapun manusia yang membutuhkkan pertolongan, kita tolong,” kata Kiai Syafrudin.

Menurut Kiai Syafrudin, BPJS sudah baik. Pemerintah ini ingin menolong masyarakat. Jadi ? sebagian warga yang tidak mampu ditanggung pemerintah. Sementara yang mampu, membayar iuran untuk tetangganya yang tidak mampu. Saling tolong-menolong ini, menurutnya, sangat baik.

Program ini mengarahkan masyarakat untuk menolong orang lain bukan kemudian dianggap sebagai judi (maisir atau qimar) yang mengandung untung-rugi. Tidak ada gurmun (untung-rugi), tetapi yang ada adalah menolong orang lain atau ditolong orang lain.

“Dengan adanya BPJS Kesehatan, pemerintah seringkali nombok. Apa jadinya kalau nanti sistemnya terbagi dua dengan adanya BPJS Syariah yang mana tolong-menolong semakin terbatas oleh agama. Ini akan menambah beban pemerintah. Yang ada saja diperbaiki, silakan. Namanya tidak perlu BPJS Syariah,” tandas Kiai Syafrudin.

Masalah BPJS ini juga dibahas kembali dalam forum Muktamar Ke-33 NU di pesantren Tambakberas, Jombang 1-5 Agustus 2015. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Syariah, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Honor Karya Enas Mabarti untuk Pusat Studi Sunda

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Honorarium karya-karya tokoh NU Kabupaten Garut, H. Enas Mabarti akan disumbangkan untuk pengembangan Pusat Studi Sunda (PSS). Diantara karya populer Enas Mabarti Sri Sunarsasi (roman), Rencep Sidem Gunem (prosa liris) dan Elmu Politik keur Warga NU.

Honor Karya Enas Mabarti untuk Pusat Studi Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Honor Karya Enas Mabarti untuk Pusat Studi Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Honor Karya Enas Mabarti untuk Pusat Studi Sunda

Hal itu diungkapkan sastrawan Sunda yang juga tokoh NU, Usep Romli HM. Ia mengutip apa yang dikatakan Rahmat Taufik Hidayat (Penerbit Kiblat), ketika takziyah pada pemakaman H Enas Mabarti Senin (14/4).

Basa ngalayad, kulawargi alm Pa Enas kamari (Senen siang), waktos teu damang di RS, Pa Enas disaksian ku kulawargina, wasiat ka Pa Ajip Rosidi nu harita ngalayad, sadayana honor buku karyana diinfaqkeun ka Pusat Study Sunda (PSS),” katanya Selasa (15/4) melalui akun Facebook-nya.

PMII Cabang Tegal

Menurut Usep yang mendapat anugerah Hadiah Asrul Sani 2014 dari NU kategori Kesetiaan Berkarya, waktu sastrawan Ajip Rosidi menengok Enas Mabarti di rumah sakit, Enas menyampaikan wasiat itu.    

“Alhamdulillah. Jazakalloh. Barokalloh,” ungkapnya.

PMII Cabang Tegal

Drs.H.Enas Mabarti (72 taun) wafat pada Ahad (13/4). Enas Mabarti adalah Ketua PCNU Kabupaten Garut (1987-1999), Ketua DPC PKB (1999-2004). Juga terkenal sebagai penulis, pelestari lingkungan, pendidik, dan politikus. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nusantara, PonPes, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Shalat Dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu dhuha. Yaitu waktu ketika matahari terbit hingga terasa panas menjelang shalat Dzuhur. Mungkin dapat diperkirakan sekitar pukul tujuh sampai pukul sebelas.? Shalat dhuha sebaiknya dilakukan setelah melewati seperempat hari. Artinya, jika satu hari (12 jam, terhitung dari pukul 5 pagi – pukul 5 sore) dibagi empat maka shalat dhuha sebaiknya dilakukan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan. Sehingga setiap seperempat hari selalu ada shalat. Terhitung dari shubuh sebagai shalat pertama mengisi waktu paling dini. Kemudian shalat dhuha sebagai shalat kedua. Ketiga shalat dhuhur dan keempat shalat ashar. Jika demikian maka dalam satu hari keidupan kita tidak pernah kososng dari shalat.

Shalat dhuha memiliki beberapa fadhilah yang pertama adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw. sebagaimana beliau berwasiat kepada Abu Hurairah, ia berkata

? عÙ? أبÙ? هرÙ? رة رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? Ù‡ قال : " أوصاÙ? Ù? خلÙ? Ù„Ù? بثلاثٍ : صÙ? امِ ثلاثةِ Ø£Ù? امٍ Ù…Ù? كل شهر ØŒ وركعتÙ? الضحى ØŒ وأÙ? أوتر قبل Ø£Ù? Ø£Ù? ام " ( رواه البخارÙ? ?

Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Dhuha

Rasulullah saw, kekasihku itu berwasiat padaku tiga hal pertama puasa tiga hari setiap bulan, kedua dua rakaat dhuha (setiap hari), ketiga shalat witir sebelum tidur.

Diantara fadhilah yang lain adalah menjadikan diri bersih dari dosa yang memungkinkan terkabulnya segala do’a. Sebagaimana hadits Abu Hurairoh?

عَÙ? Ù’ أَبِÙ? هُرَÙ? ْرَةَ ØŒ Ø£ÙŽÙ? Ù‘ الÙ? َّبِÙ? ÙŽÙ‘ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ ØŒ قَالَ : " Ù…ÙŽÙ? Ù’ حَافَظَ عَلَى سُبْحَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُÙ? ُوبُهُ ØŒ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? َتْ أَكْثَرَ مِÙ? Ù’ زَبَدِ الْبَحْرِ "

Barang siapa menjaga shalat dhuha, maka Allah akan mengampunin segala dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.

PMII Cabang Tegal

Dan yang tidak kalah penting adalah fadhilah yang langsung ditegaskan oleh Allah melalui Rasulullah saw dalam hadits Qudsi

? عÙ? أبÙ? الدرداء وأبÙ? ذرِّ ( رضÙ? الله عÙ? هما ) عÙ? رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم : عÙ? الله تبارك وتعالى Ø£Ù? Ù‡ قال : ابÙ? آدم ØŒ اركع Ù„Ù? أربع ركعاتٍ Ù…Ù? أول الÙ? هار أكفك آخره " ( رواه الترمذÙ? )

Dari Abi Darda’ dan Abi Dzar dari Rasulullah saw (langsung) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala “ruku’lah untukku empat rakaat di permulaan hari (pagi), maka Aku akan mencukupimu di sisa harimu” ?

Shalat dhuha minimal dilaksanakan dua raka’at, dan yang baik adalah empat rekaat sedangkan sempunanya adalah enam raka’at, dan yang paling utama adalah ukuran maksimal yaitu delapan rakaat.Shalat dhuha sebaiknya dilakukan dua rakaat untuk satu kali salam, walaupun boleh melangsungkannya dalam empat raka’at sekaligus. Untuk dua rakaat shalat dapat dimulai dengan niat أصلى سÙ? Ø© الضحى ركعتÙ? Ù? لله تعالى ? Ushalli sunnatad dhuha rak’ataini lillahi ta’ala. Aku niat shalat dua dua raka’at karena Allah.

PMII Cabang Tegal

Kemudian dilanjutkan dengan bacaan al-Fatihah dan disusul kemudian surat was-Syamsi wa dhuhaha untuk raka’at pertama dan qul ya ayyuhal kafirun ? untuk raka’at kedua. Demikianlah selanjutnya diulang dengan bacaan surat semampunya.Adapun bacaan do’a dalam shalat dhuha sangatlah beragam akan tetapi yang masyhur adalah

? اللَّهُمَّ Ø¥Ù? ÙŽÙ‘ الضُّحَى ضَحَاؤُك وَالْبَهَا بَهَاؤُك وَالْجَمَالُ جَمَالُك وَالْقُوَّةُ قُوَّتُك وَالْقُدْرَةُ قُدْرَتُك وَالْعِصْمَةُ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ Ø¥Ù? Ù’ كَاÙ? ÙŽ رِزْقِÙ? فِÙ? السَّمَاءِ فَأَÙ? ْزِلْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ فِÙ? الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ مُعْسِرًا فَÙ? َسِّرْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ بَعِÙ? دًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِÙ? ِÙ? مَا آتَÙ? ْت عِبَادَك الصَّالِحِÙ? Ù? ÙŽ. allahumma innad dhuhaa dhuha uka, wal bahaa bahaa-uka, wal jamaala jamaa-luka, wal quwwaata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ishmata ishmatuka. allahumma inkaana rizqi fis-samaa-i fa-anzilhu, wainkaana fil-ardli fa akhrijhu, wainkaana mu’siron fayassirhu, wainkaana charooman fathohhirhu, wainkaana ba’iidan faqorribhu, bichaqqi dhuhaaika, wajaamalika, wabahaaika, waqudrotika, waquwwatika, waishmatika, aatini maa’ataita ‘ibaadakash-sholichiin.?

(ya allah sesungguhnya waktu dhuha adalah dhuha-mu, dan keindahan adalah keindahan-mu, dan kebagusan adalah kebagusan-mu, dan kemampuan adalah kemampuan-mu, dan kekuatan adalah kekuatan-mu, serta perlindungan adalah perlindungan-mu. ya allah apabila rizqiku berada dilangit maka mohon turunkanlah, bila di bumi mohon keluarkanlah, bila sulit mudahkanlah, bila jauh dekatkanlah, dan bila haram bersihkanlah, dengan haq dhuha-mu, keindahan-mu, kebagusan-mu, kemampuan-mu, kekuatan-mu dan perlindungan-mu, berikanlah kepadaku apa saja yang engkau berikan kepada hamba-hambamu yang sholeh).

Redaktur: Ulil Hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Ubudiyah, Ulama PMII Cabang Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Kementerian Agama melalui Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan telah melakukan Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam sembilan bahasa daerah dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Terjemahkan Qur’an dalam Berbagai Bahasa Daerah

Program yang dimulai pada 2011 ini diawali dengan penerjemahan Qur’an dalam Bahasa Makassar (Sulawesi Selatan), Bahasa Kaili (Sulawesi Tengah), dan Bahasa Sasak (Nusa Tenggara Barat). Selanjutnya, pada tahun 2012 hingga 2015, dilakukan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Minang (Sumatera Barat), Bahasa Batak (Sumatera Utara), Bahasa Dayak (Kalbar, Kalteng, dan Kaltim), dan Bahasa Jawa Banyumasan (Jawa Tengah Bagian Barat, Lampung). Pada tahun 2013 hingga tahun 2016, dilakukan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Toraja dan Bolaang Mongondow.?

Dalam laporan yang diterbitkan oleh Puslitbang Lektur (2015), disebutkan penerjemahan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan masyarakat akan Al-Qur’an yang dapat dipahami dalam bahasa sehari-hari, sehingga diharapkan pesan-pesan yang terdapat dalam Al-Qur‘an lebih mudah terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sejalan arah kebijakan Kementerian Agama tahun 2010-2014 untuk peningkatan kualitas kehidupan beragama, dengan sasaran terwujudnya suatu kondisi keberagamaan masyarakat yang dinamis dan mampu mendukung percepatan pembangunan nasional.?

Al-Qur’an terjemah bahasa daerah ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperluas akses warga masyarakat dengan kitab suci umat Islam ini, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu berbahasa Indonesia. Masyarakat yang akrab dengan bahasa daerahnya diharapkan dapat pula menjadi akrab dengan Al-Qur’an, di samping sebagai media pelestari bahasa dan budaya lokal daerah tersebut. Dengan demikian kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur dan ditulis dalam bahasa daerah akan mudah dihayati dan membekas dalam masyarakat setempat.?

PMII Cabang Tegal

Penyelenggaraan program Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah memperoleh apresiasi “luar biasa” oleh masyarakat, terutama masyarakak penutur bahasa yang bersangkutan. Apresiasi mengemuka dikarenakan oleh 2 (dua) alasan kultural dan keagamaan. Pertama, Al-Qur’an terjemah sangat membantu untuk memberikan layanan keagamaan bagi masyarakat yang tidak bisa atau kurang akrab dengan bahasa Indonesia. Kehadiran terjemahan Al-Qur’an bahasa daerah ini sangat membantu untuk “memahami” isi Al-Qur’an yang diyakini sebagai pedoman hidup keseharian masyarakat.?

Kedua, secara politik budaya--menurut para tokoh dan pakar budaya, khususnya pakar bahasa—penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah sangat membantu dalam pelestarian bahasa daerah. Bahkan, penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah ini merupakan “instrumen kultural paling efektif” untuk melestarikan, mempertahankan atau mengawetkan “bahasa daerah” dari kepunahannya.?

PMII Cabang Tegal

Mencermati pentingnya penerjemahan Al-Qur’an tersebut, sejumlah pimpinan daerah (bupati, misalnya) memprakarsai untuk menggandakan “Al-Qur’an terjemahan” produk Puslitbang LKK, Badan Litbangdiklat, Kemenag, untuk didistribusikan sesuai kebutuhan warganya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Ahlussunnah PMII Cabang Tegal

Selasa, 14 November 2017

Ribuan Jamaah Ikuti Rajadesa Bershalawat

Ciamis, PMII Cabang Tegal?



Ribuan jamaah turut menyemarakkan kegiatan Kecamatan Bershalawat Nabi yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor Kecamatan Rajadesa di Lapangan Balai Desa Rajadesa Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis Senin (12/6). Acara ini dihadiri oleh Camat Rajadesa, Pengurus MWCNU, PC Ansor Kabupaten Ciamis, PW Ansor Jabar dan santri.

Dalam sambutannya, Ketua PAC Ansor Rajadesa Asep Sholihin mengatakan, kegiatan ini ditujukan supaya shalawat selalu ada di tengah-tengah masyarakat dan meneguhkan salah satu ciri khas NU yang selalu mengedepankan cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Ribuan Jamaah Ikuti Rajadesa Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Ikuti Rajadesa Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Ikuti Rajadesa Bershalawat

Sementara Camat Rajadesa berharap semua ormas keagaamaan memajukan kemakmuran warganya dan bersatu untuk memajukan Indonesia dan Pancasila.

Kecamatan Bershalawat Nabi adalah salah satu program PW Ansor Jabar di seluruh PAC Ansor. Kegiatan ini sudah berjalan sejak 4 tahun lalu. Saat ini, dilaksanakan setiap sebulan sekali di kecamatan yang berbeda.

PMII Cabang Tegal

"Kecamatan Bershalawat ini dimaksudkan menggebyarkan gema dan ghiroh shalawat di tengah masyarakat," ujar Sekjen PW Ansor Jabar H. Johan Anwari.

Johan mengatakan, kegiatan ini tidak mudah karena mensyaratkan silaturahim dan mengikat ukhuwah ke pesantren dan masyarakat di setiap kecamatan.

"Membumikan agama di tengah masyarakat adalah misi GP Ansor agar agama bukan hanya ritual tetapi hidup di tengah masyarakat," pungkas Johan di sela acara. (Aryo Naldo/Abdullah Alawi)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan PMII Cabang Tegal

Minggu, 12 November 2017

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara

Kudus, PMII Cabang Tegal

Sebanyak 1.950 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus mengikuti Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK) di GOR kampus setempat, Kudus, Jawa Tengah. Pada kegiatan yang berlangsung Ahad-Rabu (14/17/8) itu, mereka mendapat pengenalan lagu Ya Lal Wathan karya pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah dan materi tentang? Islam Nusantara.

?

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara

Menurut salah seorang panitia Muhammad Mahmud, pengenalan lagu Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara dimaksudkan untuk membekali mahasiswa baru supaya sadar akan budaya asli Indonesia yang dikolaborasikan Islam yang menjadi karakteristik bangsa. Sebab, lagu Ya Lal? Wathan sangat tepat untuk menanamkan dan memantapkan rasa nasionalisme serta mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

?

"Dari syair yang dikarang oleh Mbah Wahab secara jelas menegaskan bahwa cinta tanah air itu sebagian dari iman. Ini bisa memantapkan nasionalisme di kalangan mahasiswa," ujarnya kepada PMII Cabang Tegal, Rabu.

PMII Cabang Tegal

(Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

Mahmud menjelaskan, mahasiswa dalam belajar di STAIN nantinya akan mempelajari dan memahami Islam Nusantara. Karena ciri khas Islam ini adalah mengenalkan tradisi dan mengajarkan agama yang rahmatal lil Alamin.

PMII Cabang Tegal

?

? "Islam Nusantara itu Islam Indonesia, bukan Islam Arab atau Islam Suriah," imbuh pengurus departemen eksternal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Kudus.

Selain itu, Mahmud mengaharapkan supaya para mahasiswa bisa menangkal radikalisme. Jika tidak dibekali keislaman dan nasionalisme, maka radikalisme akan menghampiri.

?

"Sekarang ini banyak mahasiswa? yang tidak kuat iman dan tidak kuat jiwa nasionalismenya karena mereka? mudah didoktrin oleh paham-paham radikalisme. Hal inilah yang kita antisipasi," tandas Mahmud

?

Salah seorang mahasiswi baru Chafsa Al Qudusiy merasa senang menyanyikan lagu karangan ulama besar setiap sesi sebelum materi disampaikan dalam OPAK. Menurutnya, upaya ini mampu membangkitkan rasa cinta tanah air.

?

"Sesuatu yang positif, rasa nasionalisme akan tetap tertanam dalam jiwa," ujar mahasiswi Jurusan Tarbiyah ini.

?

Dalam kegiatan OPAK yang mengambil tema “Membumikan Islam Nusantara” untuk keutuhan NKRI ini, beberapa dosen STAIN menyampaikan materi tentang Islam Nusantara. Di antaranya, Kisbiyanto (dosen/ketua ISNU Kudus) dan Abdurrahman Kasdi (dosen/ketua PC GP Ansor Demak). (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Kiai, Cerita PMII Cabang Tegal

Rabu, 01 November 2017

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah

Way Kanan, PMII Cabang Tegal - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Muslimat NU Way Kanan memperingati hari lahir (Harlah) Ke-91 serta pelantikan pengurus di lapangan Pemkab Way Kanan, Senin (30/1). Acara yang dihadiri kurang lebih 5.000 jamaah itu praktis menyisakan sampah.

Sebelum meninggalkan lapangan, Kasatkorcab Banser Way Kanan Bambang Setiyo mengajak kader untuk membersihkan lapangan dari sampah bertaburan.

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Way Kanan Turun Tangan Bersihkan Sampah Pasca-Harlah

"Kami tidak hanya memerintah, tapi juga turun tangan. Sahabat Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto juga akan ikut memungut sampah bersama kita. Kita bersama-sama bergerak untuk kebaikan, termasuk menangani sampah yang berhamburan di lapangan," ujar Bambang.

PMII Cabang Tegal

Sampah berupa koran bekas untuk alas duduk, pastik bungkus snack dan jajanan dihimpun kader Ansor Way Kanan agar tidak berserakan dan menganggu pemandangan di lokasi kegiatan.

PMII Cabang Tegal

"Terima kasih kepada sahabat semua. Kita telah menunjukkan, bahwa kita adalah kader yang benar-benar kader, bukan sekedar berbaju organisasi tanpa berbuat. Kita tetap bertanggung jawab, setelah membantu perlengkapan, pemasangan bendera, tempat yang semula bersih dari sampah telah kita bersihkan. Semoga apa yang kita berikan menjadi amal ibadah," ujar Bambang lagi.

Selain membersihkan sampah, hal lain dibahas pasca-kegiatan ialah kaderisasi. "Hari ini, kaderisasi dilakukan di setiap kecamatan. Dan untuk bisa mengenakan seragam Ansor dan Banser saat ini tidak lagi asal pakai. Harus ada ujian dulu agar rasa memiliki organisasi semakin bertambah," kata Kasatkorcab Banser Way Kanan itu lagi. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan PMII Cabang Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim

Surabaya, PMII Cabang Tegal

Pasca verifikasi berkas persyaratan yang dilakukan oleh Tim Seleksi Pencalonan Konferensi Kordinator Cabang (Konkorcab) Jawa Timur, akhirnya menetapkan 8 kandidat yang menjadi Calon Ketua PKC PMII Jawa Timur untuk periode 2016-2018.

"Dari 10 bakal calon yang sudah diverifikasi, ternyata 8 calon yang lolos, dan 2 gugur" jelas Aqib, Ketua Tim Seleksi Konkorcab Jatim, dalam rilisnya, Jumat (15/4).

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim

Mereka diantaranya, Arief Rachman Situbondo, Zainuddin Surabaya, Moh Fathul Hasan Malang Kota, M Haryadi Lumajang, Helmi Fuad Bangkalan, Alfi Hafidh Ishaqro Madiun, Mahathir Muhammad Blitar, Ahmad Syuhadak Trenggalek.

Selain itu, tim seleksi juga menetapkan 3 kandidat yang bakal menjadi calon Ketua Kopri PKC Jawa Timur yaitu Nafisatul Qudsiyah Sidoarjo, Maryam Banyuwangi, Hodaifa dari Sumenep. "Setelah kemarin diberikan perpanjangan waktu untuk pendaftaran Ketua Kopri PKC. Di hari terakhir, 3 kader Putri ini yang mendaftar," ungkapnya.

Aqib memaparkan, nantinya penetapan semua kandidat akan diumumkan pada acara Pra Konkoorcab hari Sabtu (16/4) di Museum NU Surabaya.

PMII Cabang Tegal

"Hari ini adalah penetapan dan pengumuman calon. Rencananya, Pra Konkoorcab tersebut dilakukan pengambilan nomor urut calon," paparnya

Pelaksanaan Konkorcab Jatim yang berlangsung di Kota Reog Ponorogo ini diharapkan menjadi awal perubahan yang lebih baik bagi PMII, khususnya PKC Jawa Timur.

"Semoga Konkoorcab kali ini menjadi awal perubahan menuju sistem pemilihan yang lebih jujur dan adil. Tanpa ada permainan-permainan kotor yang akan merusak khidmatnya Konferensi Koordinator Cabang," tegas Aqib. (Isna W/Fathoni)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, Pendidikan, Doa PMII Cabang Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Qurban Secara Syari’at dan Standar Kesehatan Hewan

Oleh Nur Fauzi Akhmad, drh

--Beberapa hari ke depan kita akan menyambut perayaan Hari Raya Idul Adha 1434 H atau hari raya qurban. Ada beberapa hikmah dibalik perintah berqurban. Pertama, menghidupkan syiar dan sunnah Nabi. Kedua, melatih niat ikhlas dan kesabaran dalam beribadah. Ketiga, menyembelih (meniadakan) nafsu hewani dan egopada diri manusia.

Keempat, berbagi kebahagiaan di hari raya; khususnya kaum fakir miskin, masyarakat kurang mampu atau kaum dhuafa lainnya. Kelima, melatih ‘kesalehan sosial’ di tengah-tengah hidup bermasyarakat. Keenam, mengingat kematian (dzikrul maut).Dan ketujuh, meneladaniperjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Dasar Hukum Qurban

Qurban Secara Syari’at dan Standar Kesehatan Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)
Qurban Secara Syari’at dan Standar Kesehatan Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)

Qurban Secara Syari’at dan Standar Kesehatan Hewan

Qurban secara etimologis berasal dari kata Qaruba (dekat). Kata qurban (secara syari’at Islam) sepadan dengan kata al-udhiyyat. Al-udhiyyat ini didefinisikan oleh as-Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh al-Sunnah adalah sebutan bagi hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri (taqorrub)? kepada Allah Ta’ala. Perintah berqurban ini disyariatkan oleh Allah SWT pada tahun 2 Hijriyyah, bersamaan dengan perintah shalat Idul Adha dan zakat. Yang menjadi dasar hukum berqurban sebelum ijmak ulama ialah firman Allah SWT:

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah” (al-Kautsar: 2). Perintah ini diperkuat oleh hadis Nabi SAW riwayat at-tirmidzi yang artinya: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban).Adapun mengenai hukum menyembelih qurban bagi umat Islam, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan hukumnya sunnah muakkadah (perbuatan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan) dan sebagian ulama termasuk Imam Hanafi yang berpendapat wajib bagi yang mampu dan lapang.

Hewan Qurban

PMII Cabang Tegal

Dalam al-Qur’an surat al-hajj:34 disebutkan “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).”Jadi hewan yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan ibadah qurban yaitu jenis hewan ternak seperti: unta, sapi, kerbau, kambing dan domba.

PMII Cabang Tegal

Di antara persyaratan hewan qurban yang menyebabkan sah tidaknya berqurban adalah umur hewan. Umur minimal hewan yang memenuhi syarat, untuk unta 5 tahun, sapi/kerbau 2 tahun, kambing 1 tahun (ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi seri tetap), domba (ada yang berpendapat 6 bulan). Hal ini dipertegas oleh hadis Nabi riwayat Jabir, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih). Selain itu hewan qurban harus bebas dari cacat sebagaimana digariskan Rasulullah SAW : empat jenis tidak sah dijadikan hewan qurban : yang jelas kebutaannya, sakit parah, pincang yg parah, dan kurus sekali (HR. at-Tirmidzi).

Ciri-ciri Hewan Sehat

Sebelum membeli hewan qurban sebaiknya kita mengecek kondisi kesehatannya. Seorang dokter hewan atau paramedis hewan dalam? hal ini tentu saja bisa dilibatkan dalam penentuan kriteria sehat dari seekor hewan. Namun secara awam bisa dilihat ciri-ciri hewan yang sehat antara lain: mata jernih, terang, tidak keruh, tidak pucat, tidak berlendir dan tidak juling.Badan tegak dan berdiri kokoh.Bulu halus, mengkilat dan tidak mudah rontok bila dicabut. Kulit bersih tidak ada keropeng. Pangkal ekor bersih, tidak ada sisa kotoran. Jalan normal/tidak pincang.Dan nafsu makan/minum baik.

Sarana dan Prasarana Penyembelihan Hewan.

1). Sarana Penampungan/Kandang Istirahat. Sebaiknya dibuat tenda sebagai tempat penampungan untuk hewan. Tempat penampungan ini harus bersih dan kering. Beri air minum dan makansecukupnya jika penampungan lebih dari 12 jam dan beri minum saja jika penampungan kurang dari 12 jam.

2). Sarana Pemotongan. Membuat lubang penampungan darah, yang dibuat di tanah dengan ukuran 60X50 cm, kedalaman 30 cm. Membuat lubang penampungan kotoran dan isi perut. Pisau tajam dan bersih. Tataan kayu yang dibuat seperti tangga untuk tempat pengulitan sapi/kerbau. Tempat gantungan untuk penirisan dan pengulitan kambing/domba. Ember dan wadah2 penampungan yang bersih dan tidak berkarat. Dan air bersih yang cukup untuk cuci alat organ-organ dan lain-lain.

3). Sarana Pembagian Daging. Sediakan alas dan tempat pemotongan daging dan organ2 harus bersih dan tidak berkarat. Plastik bungkus daging dan organ-organ harus bersih. Orang yang menangani daging, badan dan pakaian harus bersih, bila perlu pakai selemek putih, badan sehat (tidak berpenyakit menular, tidak batuk, tidak diare, tidak korengan)

Teknik Penyembelihan Hewan Qurban

Biasanyayang terjadi di masyarakat proses merobohkan sapi dilakukan dengan tidak hati-hati yang dapatmenimbulkan stres dan takut. Padahal jika hewan stres, pengeluaran darah tidak akan sempurna, dan akan dijumpai henmoglobin (Hb) dalam daging. Hb merupakan media yang paling disukai mikroba, sehingga pengeluaran darah yang tidak sempurna akan mempercepat pembusukan pada daging. Mengenai teknik merobohkan sapi yang benar bisa lihat gambar.

Merobohkan Sapi dengan Tali Melintang Merobohkan Sapi dengan Ikatan Leher

Penyembelihan: Penyembelihan dilakukan di atas? lubang penampungan darah. Menyembelih dengan tangannya sendiri (lebih utama). Dilakukan oleh orang yang terbiasa/terlatih. Yang menyembelih disyaratkan baligh dan berakal, laki-laki perempuan sama saja. Minimal menyaksikan penyembelihan bagi orang yang mewakilkan penyembelihan kepada orang lain seraya berdoa : Inna sholaatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii lillahi robbil ‘alamiin, laa syarikalahu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Hewan yang sudah siap disembelih dirobohkan pada bagian kiri dengan posisi kepala menghadap kiblat.? Disunnahkan ketika menyembelih ada? 5 hal (lihat: al-Bujairomi ‘alal Khotib jld 5 cet. Dar al-kotob al-ilmiyah hal 248-249): Baca basmalah (Madzhab Syafi’i, madzhab lain menyatakan wajib), baca sholawat atas Nabi, menghadap kiblat, baca Takbir, dan berdo’a. Urutan selengkapnya membaca:

? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? .

? ? ? ?. ? ?.....(sebut nama yang berqurban)

atau

? ? ?...........(sebut nama yang berqurban) ? ?.....(sebut nama yang berqurban)

Hewan disembelih di lehernya dengan sekali gerakan tanpa mengangkat pisau dari leher, memutuskan tiga saluran, yaitu saluran pernafasan (hulkum), saluran makanan (mari’) dan dua urat nadi (wadajain). Ikat kerongkongan(esofagus) secepatnya setelah menyembelih agar isi rumen tidak mengotori daging. Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan benar-benar mati .Kambing/domba digantung untuk penirisan dan pengulitan. Pengulitan sapi/kerbau dengan tataan kayu. Kemudian isi perut dan isi dada (jeroan)dikeluarkan.

Pemeriksaan dan Penanganan daging

Periksa organ-organ termasuk organ dalam dilakukandengan melihat, meraba dan menyayat. Organ yang diperiksa (paru-paru, jantung, diafragma, hati, ginjal dan limpa). Jika daging dan organ2 tidak sehat atau tdk layak dimakan, harus diafkir dan dimusnahkan. Dokter Hewan atau Paramedis Hewan seharusnya dilibatkan dalam pemeriksaaan ini. Langkah selanjutnya, yaitu deborning (pemisahan daging dari tulang) dengan meja potong atau dalam keadaan tergantung yang dilakukan di tempat teduh dengan alas plastik bersih. Bungkus daging dengan plastik putih/bening dan’tidak’ dicampur dengan organ-organ atau jeroan lalu dibagikan dengan terbungkus rapi. Dalam pembagian daging qurban Rasulullah SAW memberi petunjuk dalam riwayat Bukhari dan Muslim: “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah..”

Problema Daging dan Kulit

Sering menjadi perdebatan di masyarakat seputar penjualan daging dan kulit qurban boleh dijual atau tidak?. Para ulama sepakat bahwa daging qurban boleh dijual oleh fakir miskin yang menerima daging tersebut. Sebaliknya kulit dan daging qurban tidak boleh dijual atau untuk pembayaran tukang jagal ( pendapat mayoritas ulama), walaupun menurut Abu Hanifah kulit boleh dijual namun hasilnya tetap disedekahkan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhannya. Para ulama juga berbeda pendapat dalam hal memberikan qurban kepada non Muslim.? Hal yang perlu dipertimbangkan ialah dari aspek kemaslahatan dan kemanfaatan bersama, dan tiap wilayah situasi dan kondisi berbeda. Perlu kearifan lokal untuk menyikapi hal ini. Selamat berqurban.

?

Nur Fauzi Akhmad, drh, praktisi dokter hewan dan pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Barokah, Ngumbul Kemasan Sawit, Boyolali

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Pendidikan, Amalan PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock