Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Jakarta, NU Onilne. Islam Nusantara mempunyai karakter yang khas, yakni tidak homogen. Umat Islam mempraktikkan ajaran dalam bentuk yang berbeda-beda. Nilai-nilai Islam mewujud dalam bermacam-macam tradisi yang diamalkan dari waktu ke waktu.

“Jawa Tengah dan Jawa Timur saja berbeda. Apalagi sampai ke Kalimantan dan Sulawesi,” kata sejarawan pesantren Zainul Milal Bizawie dalam diskusi Islam Nusantara di kampus utama STAINU Jakarta di kawasan Matraman Jakarta Pusat, Jum’at (8/5). Diskusi rutin ini diikuti para dosen dan pimpinan STAINU Jakarta.

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)
Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Menurutnya, tradisi keagamaan yang berbeda itu tidak perlu diseragamkan. “Kalau diseragamkan ya jadinya kayak Arab Saudi,” kata penulis buku “Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad” serta “Syekh Mutamakkin” itu.

PMII Cabang Tegal

STAINU Jakarta merupakan kampus yang pertama memelopori kajian Islam Nusantara. Dalam kesempatan itu, Milal mengingatkan, Islam Nusantara di STAINU bukan sekedar obyek penelitian. Sebaliknya, Islam Nusantara menjadi subyek atau semacam pisau analisa untuk mengamati dan menilai berbagai praktik keagamaan di luar.

PMII Cabang Tegal

Milal menambahkan, salah satu karakter Islam Nusantara dalam hal keilmuan seperti dipraktikkan di pesantren adalah prosesi pembaiatan. Ini berkaitan dengan sanad keilmuan dan pertanggungjawaban moral atas ilmu yang didapatkan.

Selain itu, Islam Nusantara mengenal konsep berkah atau barokah, dalam pengertian hubungan guru dan murid tidak berlangsung secara intelektual, tetapi juga spiritual. “Barokah inilah yang sekarang dihilangkan dari dunia akademis,” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun

Madiun, PMII Cabang Tegal - Sudah dua malam ini Madiun diguyur hujan dengan intensitas sedang dan deras. Banser Madiun sudah beberapa kali meninjau titik lokasi rawan longsor. Pada Rabu (20/12) malam kemaren terjadilah dua titik longsor di wilayah Kecamatan Kare dan Gemarang.

Sugeng, anggota Banser Madiun mengatakan, di Desa Durenan Kecamatan Gemarang dukuh bulu, tiga rumah dengan kerusakan 70 %, kerugian kurang lebih 150 juta. Di Kecamatan Kare Desa Kepel Dukuh Gligi, sebanyak dua rumah dengan kerusakan 100% kerugian kurang lebih dua motor dan rumah dengan total 500 juta. Ada jembatan yang roboh dan beberapa titik longsor yang menimbun bahu jalan di Kecamatan Kare.

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun

Mengingat sangat parahnya kejadian tersebut, Kasatkorcab Banser Madiun Ismanto menugaskan beberapa personel Banser untuk mengamati terkait beberapa tempat yang harus ditindaklanjuti pascatanah longsor.

Kejadian luar biasa bencana longsor di beberapa kecamatan di Kabupaten Madiun Kasatkorcab Banser Madiun menginstruksikan kepala di tingkat kecamatan (Kasatkoryon) untuk secara bersama dengan masyarakat menanggulangi kejadian tanah longsor di Madiun. Ismanto meminta semua kasatkoryon di Madiun untuk menurunkan personel Banser yang dikoordinir oleh Bagana (Banser Tanggap Bencana) di bawah komando Kasatkorcab Banser Madiun.

PMII Cabang Tegal

“Banser harus tanggap, siap dan sigap terkait dengan bencana yang ada di lingkungan kita masing-masing dan ini adalah bagian syiar dan pengabdian terhadap NU khususnya masyarakat pada umumnya,” kata Ismanto. (Hendi Sulaksono/Alhafiz K)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu Syamsul Huda dan Direktur pihak Lazismu Andar Nubowo dihadirkan sebagai pembicara utama dalam gelaran acara Indonesia Philantrophy Festival (IP Fest) 2016 yang dilangsungkan di Jakarta Convention Center selama empat hari sejak Kamis-Ahad (9/10). Keduanya berharap pemerintah menyegerakan perubahan sejumlah klausul dalam UU Zakat Nomor 22 dan 23 Tahun 2011 untuk penguatan zakat.

Keduanya mengakui bahwa niat pemerintah dengan mengeluarkan UU tersebut memang sangat baik, mengingat zakat sebagai salah satu instrumen pengentasan kemiskinan. Namun, seolah setengah-setengah. Padahal zakat dalam UU tersebut menjadi instrumen fiskal kedua setelah pajak.

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat

Dalam UU tersebut, status zakat hanya sebagai “pengurang penghasilan kena pajak”. Klausul inilah yang menjadikan wajib pajak serta wajib zakat harus menambah beban pengeluaran jika ingin menunaikan kewajiban negara dan kewajiban agama sekaligus.

PMII Cabang Tegal

Mestinya jika pemerintah benar-benar serius hendak melakukan intervensi dalam pengelolaan zakat, maka hal mendasar yang harus dikuatkan adalah mengubah regulasi “zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak” menjadi “zakat sebagai pengurang pajak”. Dengan begitu, para wajib pajak sekaligus dapat menunaikan zakatnya tanpa harus menambah beban pengeluaran.

Kewajiban bernegara dan kewajiban beragama dapat terpenuhi sekaligus tanpa harus menambah beban pengeluaran. Masyarakat pun menjadi warga yang taat pajak serta taat zakat. Dengan adanya perubahan regulasi tersebut, NU Care dan Lazismu percaya bahwa potensi besar zakat di Indonesia yang belum digarap secara optimal dapat terselesaikan.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya, NU CARE dan LAZISMU melakukan konferensi pers pada 20 September 2016 yang membahas regulasi zakat di Gedung PBNU. Kedua lembaga ini merespon serius tentang penguatan (perubahan) regulasi zakat ini.

“Dari dulu hingga kini NU hadir untuk peduli dan berbagi. Semangat kepedulian dan berbagi ini kembali digulirkan antara lain melalui NU Care. Tidak hanya untuk warga NU, namun bagi masyarakat umum,” kata Syamsul.

Andar menambahkan bahwa NU Care dan Lazismu sepakat atas program penyelarasan zakat sebagai pengentasan kemiskinan di Indonesia yang digagas oleh Kementerian PPN/Bappenas.

“Jika saja pemerintah melibatkan NU dan Muhammadiyah dalam program pengentasan kemiskinan ini, pemerintah melakukan langkah tepat, dengan melihat NU dan Muhammadiyah yang memiliki akses hingga ke desa-desa,” kata Andar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh tanggal 25 November, tahun ini diperingati dengan semangat persatuan seluruh organisasi guru yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata, dalam konferensi pers Peringatan HGN 2016 di Gedung D Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (3/11) siang.

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Organisasi guru yang terlibat dalam koordinasi peringatan HGN 2016 adalah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI).

PMII Cabang Tegal

Lebih lanjut Sumarna menyampaikan, HGN diperingati sebagai implementasi wujud kepedulian Pemerintah agar guru selalu berusaha berinovasi dan termotivasi untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Tema peringatan HGN tahun ini adalah “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Tema ini dinilai sangat relevan dengan kebijakan pemerintah untuk menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan beradab di tengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat global.

PMII Cabang Tegal

Peringatan HGN 2016 dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71. Kegiatan peringatan HGN dimulai dengan Gerak Jalan Sehat dari lapangan upacara Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud menuju Bundaran Hotel Indonesia pada hari Ahad 20 November 2016. Ada 10.000 guru dan tenaga kependidikan yang diperkirakan ikut dalam momen kali ini. Selanjutnya ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata diikuti oleh 200 orang guru dilaksanakan tanggal 22 November 2016.

Kegiatan berikutnya adalah Upacara Bendera memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 tanggal 25 November 2016 di Kompleks Kemdikbud. Upacara dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang akan bertindak sebagai Pembina upacara. Upacara peringatan HGN juga secara serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Sabtu 26 November 2016 dilaksanakan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan yang diikuti oleh 2000 orang guru. Puncak acara Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan, Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2016 dan HUT PGRI ke-71 akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2016 yang akan diikuti oleh 10.000 orang guru dan tenaga kependidikan. Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan hadir dalam kegiatan ini.

Peringatan HGN 2016 yang dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71 ini diselenggarakan bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta organisasi guru dan tenaga kependidikan lainnya secara bersama-sama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Wakil Sekjen Persatuan Guru Nadhatul Utama (Pergunu), Ahsan Ustadhi menyampaikan, sejak? awal Pergunu terlibat dalam persiapan peringatan HGN 2016, termasuk dalam pemilihan tema dan koordinasi lainnya. Sebagai organisasi guru dari ormas Islam terbesar di Indonesia, sejak kelahirannya, Pergunu telah terlibat bekerja sama dengam Kemdikbud. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam PMII Cabang Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Merebus Putra Kyai

Mari kita peringati Hari Pendidikan Nasional kali ini, 2 Mei, dengan membaca tulisan  berjudul Memperbaiki Pesanteren atau Pondok karya A. Karim Hasyim, yang dimuat di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) No. 12 Tahun 9. Mengapa hari pendidikan kita bicara pesantren? 

Jawabnya, karena pesantren bagian dari dunia pendidikan yang telah tumbuh berabad-abad silam, dan sekarang masih tegak berdiri. Pesantren tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan di negeri ini. Sebelum mengemukakan isi tulisan yang terbit pada  April 1940, alangkah baiknya kita mengenal sekelumit tentang penulisnya, yaitu A. Karim Hasyim.

Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Merebus Putra Kyai

A. Karim Hasyim adalah putra dari salah seorang guru besar Islam di Tanah Jawa dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karim Lahir di Jombang, tahun 1919. Jaman bergolakan mengusir penjajah, ia adalah satu dari sekian pejuang berlatar belakang pesantren. Guru agama adalah rutinitas kesehariannya. Almagfurlah KH A. Karim Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, sepinggal kakaknya, KH A. Wahid Hasyim. Seperti para sesepuh kita dahulu, A. Karim Hasyim adalah Kyai Haji, tapi ia lebih suka mengawali al-Faqir di awal namanya.

Di dalam tulisan tersebut, yang secara khusus diberi “rubrik” bernama Zelforrectie (bahasa Belanda: koreksi diri), Karim menyoroti masa depan pesantren dan para santri. Namun, tulisan tersebut melihatnya dari sisi kyai dan putranya, sebagai pengasuh dan generasi penerus pesantren. Kenapa kyai dan putranya? Ia menjawab bertanyaan ini dengan bertanya pula, “Di mana ada teluk, di situ timbunan kapal bukan?” 

PMII Cabang Tegal

Yang menarik, persis sebelum halaman yang memuat tulisan Kyai Karim, majalah Berita Nahdlatoel Oelama ini menampilkan tulisan kakaknya, Kyai Abdul Wahid Hasyim, judulnya Boeat Goeroe. Isinya, kritik tajam tentang pendidikan zaman itu. Dalam tulisannya, Kyai Wahid mengatakan, kemunduran sekolah bukan saja ada pada kemunduruan “pelajaran”, tapi juga mendera bidang “pendidikan”. 

PMII Cabang Tegal

Ada lagi kemoendoeran madaris (sekolah) kita jang lebih menjoesahkan dan lebih meroegikan, jaitu kemoendoeran dalam hal pendidikan,” tulis Kyai Wahid.

Kyai wahid mengungkapkan, sifat-sifat yang seharusnya tidak ada pada diri murid-murid dan lulusan sekolah, justru menempel erat, seperti penakut dalam segala hal, selalu bergantung kepada orang lain, mau menjual pendiriannya, menaruh kepentingan agama di belakang, cuma memikirkan kepentingan perutnya sendiri, mau menghambakan dirinya pada uang dan pangkat serta jabatan.

Tapi sifat-sifat yang seharusnya ada pada diri murid-murid dan alumni sekolah, kata Kyai Wahid, hilang. Sifat-sifat yang hilang itu adalah berani karena benar, pandai berusaha sendiri, teguh dalam pendirian, mau mengorbankan tenaga untuk agama, mengutamakan kepentingan umum, tahu akan harga diri dan lain-lain.

Kembali pada duduk perkara yang dibahas Karim. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa gelar kyai, sejak jaman dahulu, tidak mudah disematkan ke sembarang orang. Orang yang digelari kyai juga cenderung menghindar karena berat tanggungannya. 

“Tiada moedah orang akan mentjapai gelar kiai. Roh dan djiwanja harus koeat,” tulis Karim yang saat itu berusia 21 tahun.

Ia menjelaskan makna kuat itu dengan orang yang berjiwa “Islam” 100 persen, bukan berjiwa “Selam”, artinya nyesaki alam, alias hanya bikin penuh jagat raya saja. 

Ia berhujah, tanggungan yang berat pada kyai juga tidak hanya dialami semasa hidup, tapi juga ketika meninggal dunia, karena beban itu menurun pada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Di sinilah, Karim mulai mengupas putra-putra kyai, mungkin juga mengupas dirinya. Katanya, kyai muda itu kurang cakap dalam mengasuh pesantren. Sebab, kyai muda tersebut kurang mendapat asuhan dan perhatian yang sempurna. Pada saat yang sama, Karim juga mengkritik santri yang lebih takut kepada putra kyai daripada harimau, padahal putra kyai tersebut tidak lebih pandai daripada santrinya. 

Keadaan putra kyai dalam amatan Karim ini disebabkan karena beban berat serta tanggung jawab seorang kyai yang banyak, sehingga tidak dapat mengurus dan memperhatikan putra-putra sendiri.

Dikatakannya, ketidaksempurnaan dalam mengasuh anak-anak itu, bukan karena kyai itu tidak tahu menahu ujung pangkal ilmu tarbiyah (pendidikan) atau tidak pernah membaca buku para pemikir dari Eropa, tapi karena tidak punya waktu, tidak ada waktu. Semenjak kecil, kata Karim, putra kyai itu tak dapat pendidikan dan latihan-latihan yang sempurna.

“Sajang, seriboe kali sajang, mereka itoe poetera-poetera harimau, tetapi tiada bertaring, mereka itu poetera-poetera singa tetapi ta’dapat mengaoem, dan meraka itoelah poetera-poetera banteng, tetapi ta’ bertandoek."

Tentu saja, pendapat Karim di atas tidak sedang menggebyah uyah, karena mungkin kita tahu, tidaklah sedikit anak turun kyai pandai dan bijaksana. Bahkan mungkin, tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua, lebih pandai dari anaknya. Kita sama-sama melihat, banyak orang tua yang tidak nyantri, tapi ia berhasil memesantrenkan anaknya bertahun-tahun, jauh dari rumahnya, ke luar daerah, bahkan hingga ke Mekkah. Sekedar contoh, Gus Dur, di samping memiliki ilmu agama, juga memahami sastra, musik, hingga sepak bola, sesuatu yang mungkin tidak digeluti oleh buyutnya.

Tulisan Kyai Karim tidak lebih adalah menangkap gejala, bahwa ada di antara putra kyai, pada waktu itu, kurang mendapat perhatian. Bapaknya pergi jauh ke luar daerah, guna syiar Islam, untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama, tidak bisa pulang pada hari itu juga, karena belum ada pesawat. Kalau pun ada di rumah, para kyai sibuk mengajar anak orang lain di pesantrennya, menerima tamu, menikahkan tetangganya, mendoakan orang mati, dan sebagainya dan sebagainya. 

Hal lain yang sebetulnya sedang diutarakan Karim adalah, menasehati teman-temannya sesama kyai. Kita tahu jaman itu bangsa sedang membutuhkan orang-orang, kyai-kyai, yang mengerti tatanan sosial, mempunyai keluasan ilmu, dan ide cemerlang, dan ikhlas berjuang untuk membangun bangsa berdaulat.  

“Tapi, jangan lupa anak sendiri,” mungkin begitu peringatan Kyai Karim pada teman-teman seperjuangannya.

Kyai Karim, yang wafat di Mekkah tahun 1973, menyatakan tulisan tersebut dimaksudkan untuk turut memperbaiki pesantren kita, karena pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Ia mengaku dengan tulisannya ini memang ingin “mengganggu” para putra kyai. 

“Tapi dengan tjara itoe, boekannja penoelis bentji, atau mengandjoer-andjoerkan agar jangan kita menghormati para poetera kiai, itoe sekali-kali tidak, kita wajib hormat-menghormati dan harga-menghargai, tetapi kalau kita tahoe bahwa ada di antara kita ada jang salah, kita wadjib poela mengingatkannja, demikian poela sebaliknnya,” jelasnya.

Di akhir tulisan, Kyai Karim berkesimpulan bahwa memperbaiki pesantren harus dengan memperbaiki para santri, dan para santri itu tak dapat diperbaiki dan menjadi masak manakala para putra kyai tidak kita rebus dahulu dalam periuk pendidikan hingga masak benar. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

"Anak ada empat, laki-laki semua, dan sudah dewasa, kenapa (masih) harus nyangkul sendiri?" Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang guru SD Negeri sekaligus petani yang sedang merapikan cangkul untuk persiapan ke sawah. Sebut saja namanya Suja.

Pertanyaan Sabtu (21/5) malam itu dijawab oleh Suja dengan sebuah kisah masa lalu yang tidak bisa dilupakannya. "Ini karena kesalahan saya," jawab warga Kabupaten Subang, Jawa Barat ini.

Suja mengungkapkan, bapaknya yang bernama Saeful Bahri adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di luar jam mengajar, sang ayah memiliki aktivitas lain, yaitu mengurus sawah miliknya.

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

Suja mengisahkan, waktu kecil ia sering disuruh sang ayah untuk membantu mengurus sawah. Bagi Bahri yang kian sibuk, pekerjaan itu merepotkan, apalagi jika musim panen tiba, karena harus memanggul karung padi, menjemur, sampai memasukannya kembali ke dalam karung.

Namun sayangnya Suja sering menolak perintah Bahri tersebut. Suja hanya bersedia melakukan semua itu dengan satu syarat yang diajukan.

"Kalau dikasih uang sama almarhum bapak, baru saya mau ngurus padi. Kalau enggak dikasih ya enggak," sesal Suja di Subang.

Suja sama sekali tidak akan bergerak untuk membantu bapaknya jika tidak ada uang. Jika uang sudah diberi, Suja akan langsung bekerja.

PMII Cabang Tegal

"Almarhum pernah bilang sama saya, ‘kamu jangan begitu, siapa tahu nanti kalau sudah berkeluarga kamu juga punya sawah’," kisah Suja menirukan ucapan ayahnya, sambil merapikan cangkul buat persiapan besok ke sawah.

PMII Cabang Tegal

Beberapa tahun kemudian Suja berkeluarga dan saat ini dikaruniai empat orang anak. Ternyata, apa yang diucapkan oleh bapaknya puluhan tahun yang lalu terbukti, Suja punya sawah.

"Eehh... sekarang, anak saya susah kalau disuruh bantu-bantu ngurus sawah, mereka mau bantu kalau dikasih duit. Kalau enggak ya enggak bakalan mau. Ini karena kesalahan saya dulu," ucap Suja penuh sesal.

Ia pun mengingatkan agar selalu berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika kita bisa berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, kelak anak-anak kita akan berbakti dan berbuat baik kepada kita, begitu pun jika sebaliknya. (Aiz Luthfi).

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU

Jepara, PMII Cabang Tegal. Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi merasa prihatin dengan kondisi generasi muda saat ini. Banyak yang terjerat pada perilaku yang negatif semisal perkelahian, narkoba, free sex dan masih banyak lagi. Karenanya, ia mengajak para generasi muda mau berkecimpung dalam IPNU-IPPNU. 

“Saya merasa bangga karena anda termasuk generasi muda yang memiliki akhlak yang mulia serta tawaduk. Karenanya, ajaklah generasi muda yang lain untuk bergabung dengan IPNU-IPPNU,” ungkapnya dalam Buka Bersama PC IPNU-IPPNU Jepara di Pringgitan Kabupaten, Rabu (8/8). 

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU

Kenakalan remaja juga menjadi tanggung jawab generasi muda. Marzuqi berpesan agar IPNU-IPPNU makin meningkatkan kegiatan-kegiatan positif sebagai contoh bagi mereka. “Ikut sertanya anda dalam IPNU-IPPNU adalah atas pilihan Allah SWT,” paparnya. 

PMII Cabang Tegal

Ia berpesan agar organisasi yang telah diikuti dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Yakni menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai job masing-masing. 

Chusni Maulana, ketua PC IPNU kabupaten Jepara mengatakan kegiatan merupakan wujud silaturahim pengurus, anggota dan kader dengan Pemerintah Kabupaten dan instansi yang terkait. “Alhamdulillah, sejak dilantiknya Bupati, kami baru bertemu dengan Bapak pada kesempatan ini. Harapan kami silaturahim ini tetap kita jaga hingga masa-masa yang akan datang,” harapnya. 

PMII Cabang Tegal

Pasar Murah

Pihaknya di hari yang sama juga mengikuti kegiatan Pasar Murah yang diselenggarakan Pemkab di depan Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK). Barang yang dijual adalah sembako bersubsidi dari Pemkab semisal gula, beras, minyak goreng, mie instan dan tepung terigu. Selain itu juga menjual minuman bersoda. 

Fathur  Rohman, salah satu panitia yang mengurusi stand IPNU-IPPNU menyatakan antusias masyarakat luar biasa. “Sembako yang dijual pada masyarakat disubsidi Rp.2000 dari harga di pasaran sehingga menyedot pengunjung. Sekitar jam 11.00 sembako habis diserbu pembeli,” jelasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

   

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Sholawat PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock