Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Jakarta, NU Onilne. Islam Nusantara mempunyai karakter yang khas, yakni tidak homogen. Umat Islam mempraktikkan ajaran dalam bentuk yang berbeda-beda. Nilai-nilai Islam mewujud dalam bermacam-macam tradisi yang diamalkan dari waktu ke waktu.

“Jawa Tengah dan Jawa Timur saja berbeda. Apalagi sampai ke Kalimantan dan Sulawesi,” kata sejarawan pesantren Zainul Milal Bizawie dalam diskusi Islam Nusantara di kampus utama STAINU Jakarta di kawasan Matraman Jakarta Pusat, Jum’at (8/5). Diskusi rutin ini diikuti para dosen dan pimpinan STAINU Jakarta.

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)
Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Menurutnya, tradisi keagamaan yang berbeda itu tidak perlu diseragamkan. “Kalau diseragamkan ya jadinya kayak Arab Saudi,” kata penulis buku “Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad” serta “Syekh Mutamakkin” itu.

PMII Cabang Tegal

STAINU Jakarta merupakan kampus yang pertama memelopori kajian Islam Nusantara. Dalam kesempatan itu, Milal mengingatkan, Islam Nusantara di STAINU bukan sekedar obyek penelitian. Sebaliknya, Islam Nusantara menjadi subyek atau semacam pisau analisa untuk mengamati dan menilai berbagai praktik keagamaan di luar.

PMII Cabang Tegal

Milal menambahkan, salah satu karakter Islam Nusantara dalam hal keilmuan seperti dipraktikkan di pesantren adalah prosesi pembaiatan. Ini berkaitan dengan sanad keilmuan dan pertanggungjawaban moral atas ilmu yang didapatkan.

Selain itu, Islam Nusantara mengenal konsep berkah atau barokah, dalam pengertian hubungan guru dan murid tidak berlangsung secara intelektual, tetapi juga spiritual. “Barokah inilah yang sekarang dihilangkan dari dunia akademis,” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun

Madiun, PMII Cabang Tegal - Sudah dua malam ini Madiun diguyur hujan dengan intensitas sedang dan deras. Banser Madiun sudah beberapa kali meninjau titik lokasi rawan longsor. Pada Rabu (20/12) malam kemaren terjadilah dua titik longsor di wilayah Kecamatan Kare dan Gemarang.

Sugeng, anggota Banser Madiun mengatakan, di Desa Durenan Kecamatan Gemarang dukuh bulu, tiga rumah dengan kerusakan 70 %, kerugian kurang lebih 150 juta. Di Kecamatan Kare Desa Kepel Dukuh Gligi, sebanyak dua rumah dengan kerusakan 100% kerugian kurang lebih dua motor dan rumah dengan total 500 juta. Ada jembatan yang roboh dan beberapa titik longsor yang menimbun bahu jalan di Kecamatan Kare.

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Turun Segera pada Bencana Longsor di Madiun

Mengingat sangat parahnya kejadian tersebut, Kasatkorcab Banser Madiun Ismanto menugaskan beberapa personel Banser untuk mengamati terkait beberapa tempat yang harus ditindaklanjuti pascatanah longsor.

Kejadian luar biasa bencana longsor di beberapa kecamatan di Kabupaten Madiun Kasatkorcab Banser Madiun menginstruksikan kepala di tingkat kecamatan (Kasatkoryon) untuk secara bersama dengan masyarakat menanggulangi kejadian tanah longsor di Madiun. Ismanto meminta semua kasatkoryon di Madiun untuk menurunkan personel Banser yang dikoordinir oleh Bagana (Banser Tanggap Bencana) di bawah komando Kasatkorcab Banser Madiun.

PMII Cabang Tegal

“Banser harus tanggap, siap dan sigap terkait dengan bencana yang ada di lingkungan kita masing-masing dan ini adalah bagian syiar dan pengabdian terhadap NU khususnya masyarakat pada umumnya,” kata Ismanto. (Hendi Sulaksono/Alhafiz K)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu Syamsul Huda dan Direktur pihak Lazismu Andar Nubowo dihadirkan sebagai pembicara utama dalam gelaran acara Indonesia Philantrophy Festival (IP Fest) 2016 yang dilangsungkan di Jakarta Convention Center selama empat hari sejak Kamis-Ahad (9/10). Keduanya berharap pemerintah menyegerakan perubahan sejumlah klausul dalam UU Zakat Nomor 22 dan 23 Tahun 2011 untuk penguatan zakat.

Keduanya mengakui bahwa niat pemerintah dengan mengeluarkan UU tersebut memang sangat baik, mengingat zakat sebagai salah satu instrumen pengentasan kemiskinan. Namun, seolah setengah-setengah. Padahal zakat dalam UU tersebut menjadi instrumen fiskal kedua setelah pajak.

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Agar Tidak Bebani Wajib Pajak, Pemerintah Harus Ubah Klausul pada UU Zakat

Dalam UU tersebut, status zakat hanya sebagai “pengurang penghasilan kena pajak”. Klausul inilah yang menjadikan wajib pajak serta wajib zakat harus menambah beban pengeluaran jika ingin menunaikan kewajiban negara dan kewajiban agama sekaligus.

PMII Cabang Tegal

Mestinya jika pemerintah benar-benar serius hendak melakukan intervensi dalam pengelolaan zakat, maka hal mendasar yang harus dikuatkan adalah mengubah regulasi “zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak” menjadi “zakat sebagai pengurang pajak”. Dengan begitu, para wajib pajak sekaligus dapat menunaikan zakatnya tanpa harus menambah beban pengeluaran.

Kewajiban bernegara dan kewajiban beragama dapat terpenuhi sekaligus tanpa harus menambah beban pengeluaran. Masyarakat pun menjadi warga yang taat pajak serta taat zakat. Dengan adanya perubahan regulasi tersebut, NU Care dan Lazismu percaya bahwa potensi besar zakat di Indonesia yang belum digarap secara optimal dapat terselesaikan.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya, NU CARE dan LAZISMU melakukan konferensi pers pada 20 September 2016 yang membahas regulasi zakat di Gedung PBNU. Kedua lembaga ini merespon serius tentang penguatan (perubahan) regulasi zakat ini.

“Dari dulu hingga kini NU hadir untuk peduli dan berbagi. Semangat kepedulian dan berbagi ini kembali digulirkan antara lain melalui NU Care. Tidak hanya untuk warga NU, namun bagi masyarakat umum,” kata Syamsul.

Andar menambahkan bahwa NU Care dan Lazismu sepakat atas program penyelarasan zakat sebagai pengentasan kemiskinan di Indonesia yang digagas oleh Kementerian PPN/Bappenas.

“Jika saja pemerintah melibatkan NU dan Muhammadiyah dalam program pengentasan kemiskinan ini, pemerintah melakukan langkah tepat, dengan melihat NU dan Muhammadiyah yang memiliki akses hingga ke desa-desa,” kata Andar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh tanggal 25 November, tahun ini diperingati dengan semangat persatuan seluruh organisasi guru yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata, dalam konferensi pers Peringatan HGN 2016 di Gedung D Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (3/11) siang.

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Organisasi guru yang terlibat dalam koordinasi peringatan HGN 2016 adalah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI).

PMII Cabang Tegal

Lebih lanjut Sumarna menyampaikan, HGN diperingati sebagai implementasi wujud kepedulian Pemerintah agar guru selalu berusaha berinovasi dan termotivasi untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Tema peringatan HGN tahun ini adalah “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Tema ini dinilai sangat relevan dengan kebijakan pemerintah untuk menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan beradab di tengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat global.

PMII Cabang Tegal

Peringatan HGN 2016 dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71. Kegiatan peringatan HGN dimulai dengan Gerak Jalan Sehat dari lapangan upacara Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud menuju Bundaran Hotel Indonesia pada hari Ahad 20 November 2016. Ada 10.000 guru dan tenaga kependidikan yang diperkirakan ikut dalam momen kali ini. Selanjutnya ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata diikuti oleh 200 orang guru dilaksanakan tanggal 22 November 2016.

Kegiatan berikutnya adalah Upacara Bendera memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 tanggal 25 November 2016 di Kompleks Kemdikbud. Upacara dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang akan bertindak sebagai Pembina upacara. Upacara peringatan HGN juga secara serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Sabtu 26 November 2016 dilaksanakan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan yang diikuti oleh 2000 orang guru. Puncak acara Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan, Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2016 dan HUT PGRI ke-71 akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2016 yang akan diikuti oleh 10.000 orang guru dan tenaga kependidikan. Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan hadir dalam kegiatan ini.

Peringatan HGN 2016 yang dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71 ini diselenggarakan bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta organisasi guru dan tenaga kependidikan lainnya secara bersama-sama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Wakil Sekjen Persatuan Guru Nadhatul Utama (Pergunu), Ahsan Ustadhi menyampaikan, sejak? awal Pergunu terlibat dalam persiapan peringatan HGN 2016, termasuk dalam pemilihan tema dan koordinasi lainnya. Sebagai organisasi guru dari ormas Islam terbesar di Indonesia, sejak kelahirannya, Pergunu telah terlibat bekerja sama dengam Kemdikbud. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam PMII Cabang Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Merebus Putra Kyai

Mari kita peringati Hari Pendidikan Nasional kali ini, 2 Mei, dengan membaca tulisan  berjudul Memperbaiki Pesanteren atau Pondok karya A. Karim Hasyim, yang dimuat di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) No. 12 Tahun 9. Mengapa hari pendidikan kita bicara pesantren? 

Jawabnya, karena pesantren bagian dari dunia pendidikan yang telah tumbuh berabad-abad silam, dan sekarang masih tegak berdiri. Pesantren tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan di negeri ini. Sebelum mengemukakan isi tulisan yang terbit pada  April 1940, alangkah baiknya kita mengenal sekelumit tentang penulisnya, yaitu A. Karim Hasyim.

Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Merebus Putra Kyai

A. Karim Hasyim adalah putra dari salah seorang guru besar Islam di Tanah Jawa dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karim Lahir di Jombang, tahun 1919. Jaman bergolakan mengusir penjajah, ia adalah satu dari sekian pejuang berlatar belakang pesantren. Guru agama adalah rutinitas kesehariannya. Almagfurlah KH A. Karim Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, sepinggal kakaknya, KH A. Wahid Hasyim. Seperti para sesepuh kita dahulu, A. Karim Hasyim adalah Kyai Haji, tapi ia lebih suka mengawali al-Faqir di awal namanya.

Di dalam tulisan tersebut, yang secara khusus diberi “rubrik” bernama Zelforrectie (bahasa Belanda: koreksi diri), Karim menyoroti masa depan pesantren dan para santri. Namun, tulisan tersebut melihatnya dari sisi kyai dan putranya, sebagai pengasuh dan generasi penerus pesantren. Kenapa kyai dan putranya? Ia menjawab bertanyaan ini dengan bertanya pula, “Di mana ada teluk, di situ timbunan kapal bukan?” 

PMII Cabang Tegal

Yang menarik, persis sebelum halaman yang memuat tulisan Kyai Karim, majalah Berita Nahdlatoel Oelama ini menampilkan tulisan kakaknya, Kyai Abdul Wahid Hasyim, judulnya Boeat Goeroe. Isinya, kritik tajam tentang pendidikan zaman itu. Dalam tulisannya, Kyai Wahid mengatakan, kemunduran sekolah bukan saja ada pada kemunduruan “pelajaran”, tapi juga mendera bidang “pendidikan”. 

PMII Cabang Tegal

Ada lagi kemoendoeran madaris (sekolah) kita jang lebih menjoesahkan dan lebih meroegikan, jaitu kemoendoeran dalam hal pendidikan,” tulis Kyai Wahid.

Kyai wahid mengungkapkan, sifat-sifat yang seharusnya tidak ada pada diri murid-murid dan lulusan sekolah, justru menempel erat, seperti penakut dalam segala hal, selalu bergantung kepada orang lain, mau menjual pendiriannya, menaruh kepentingan agama di belakang, cuma memikirkan kepentingan perutnya sendiri, mau menghambakan dirinya pada uang dan pangkat serta jabatan.

Tapi sifat-sifat yang seharusnya ada pada diri murid-murid dan alumni sekolah, kata Kyai Wahid, hilang. Sifat-sifat yang hilang itu adalah berani karena benar, pandai berusaha sendiri, teguh dalam pendirian, mau mengorbankan tenaga untuk agama, mengutamakan kepentingan umum, tahu akan harga diri dan lain-lain.

Kembali pada duduk perkara yang dibahas Karim. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa gelar kyai, sejak jaman dahulu, tidak mudah disematkan ke sembarang orang. Orang yang digelari kyai juga cenderung menghindar karena berat tanggungannya. 

“Tiada moedah orang akan mentjapai gelar kiai. Roh dan djiwanja harus koeat,” tulis Karim yang saat itu berusia 21 tahun.

Ia menjelaskan makna kuat itu dengan orang yang berjiwa “Islam” 100 persen, bukan berjiwa “Selam”, artinya nyesaki alam, alias hanya bikin penuh jagat raya saja. 

Ia berhujah, tanggungan yang berat pada kyai juga tidak hanya dialami semasa hidup, tapi juga ketika meninggal dunia, karena beban itu menurun pada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Di sinilah, Karim mulai mengupas putra-putra kyai, mungkin juga mengupas dirinya. Katanya, kyai muda itu kurang cakap dalam mengasuh pesantren. Sebab, kyai muda tersebut kurang mendapat asuhan dan perhatian yang sempurna. Pada saat yang sama, Karim juga mengkritik santri yang lebih takut kepada putra kyai daripada harimau, padahal putra kyai tersebut tidak lebih pandai daripada santrinya. 

Keadaan putra kyai dalam amatan Karim ini disebabkan karena beban berat serta tanggung jawab seorang kyai yang banyak, sehingga tidak dapat mengurus dan memperhatikan putra-putra sendiri.

Dikatakannya, ketidaksempurnaan dalam mengasuh anak-anak itu, bukan karena kyai itu tidak tahu menahu ujung pangkal ilmu tarbiyah (pendidikan) atau tidak pernah membaca buku para pemikir dari Eropa, tapi karena tidak punya waktu, tidak ada waktu. Semenjak kecil, kata Karim, putra kyai itu tak dapat pendidikan dan latihan-latihan yang sempurna.

“Sajang, seriboe kali sajang, mereka itoe poetera-poetera harimau, tetapi tiada bertaring, mereka itu poetera-poetera singa tetapi ta’dapat mengaoem, dan meraka itoelah poetera-poetera banteng, tetapi ta’ bertandoek."

Tentu saja, pendapat Karim di atas tidak sedang menggebyah uyah, karena mungkin kita tahu, tidaklah sedikit anak turun kyai pandai dan bijaksana. Bahkan mungkin, tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua, lebih pandai dari anaknya. Kita sama-sama melihat, banyak orang tua yang tidak nyantri, tapi ia berhasil memesantrenkan anaknya bertahun-tahun, jauh dari rumahnya, ke luar daerah, bahkan hingga ke Mekkah. Sekedar contoh, Gus Dur, di samping memiliki ilmu agama, juga memahami sastra, musik, hingga sepak bola, sesuatu yang mungkin tidak digeluti oleh buyutnya.

Tulisan Kyai Karim tidak lebih adalah menangkap gejala, bahwa ada di antara putra kyai, pada waktu itu, kurang mendapat perhatian. Bapaknya pergi jauh ke luar daerah, guna syiar Islam, untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama, tidak bisa pulang pada hari itu juga, karena belum ada pesawat. Kalau pun ada di rumah, para kyai sibuk mengajar anak orang lain di pesantrennya, menerima tamu, menikahkan tetangganya, mendoakan orang mati, dan sebagainya dan sebagainya. 

Hal lain yang sebetulnya sedang diutarakan Karim adalah, menasehati teman-temannya sesama kyai. Kita tahu jaman itu bangsa sedang membutuhkan orang-orang, kyai-kyai, yang mengerti tatanan sosial, mempunyai keluasan ilmu, dan ide cemerlang, dan ikhlas berjuang untuk membangun bangsa berdaulat.  

“Tapi, jangan lupa anak sendiri,” mungkin begitu peringatan Kyai Karim pada teman-teman seperjuangannya.

Kyai Karim, yang wafat di Mekkah tahun 1973, menyatakan tulisan tersebut dimaksudkan untuk turut memperbaiki pesantren kita, karena pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Ia mengaku dengan tulisannya ini memang ingin “mengganggu” para putra kyai. 

“Tapi dengan tjara itoe, boekannja penoelis bentji, atau mengandjoer-andjoerkan agar jangan kita menghormati para poetera kiai, itoe sekali-kali tidak, kita wajib hormat-menghormati dan harga-menghargai, tetapi kalau kita tahoe bahwa ada di antara kita ada jang salah, kita wadjib poela mengingatkannja, demikian poela sebaliknnya,” jelasnya.

Di akhir tulisan, Kyai Karim berkesimpulan bahwa memperbaiki pesantren harus dengan memperbaiki para santri, dan para santri itu tak dapat diperbaiki dan menjadi masak manakala para putra kyai tidak kita rebus dahulu dalam periuk pendidikan hingga masak benar. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

"Anak ada empat, laki-laki semua, dan sudah dewasa, kenapa (masih) harus nyangkul sendiri?" Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang guru SD Negeri sekaligus petani yang sedang merapikan cangkul untuk persiapan ke sawah. Sebut saja namanya Suja.

Pertanyaan Sabtu (21/5) malam itu dijawab oleh Suja dengan sebuah kisah masa lalu yang tidak bisa dilupakannya. "Ini karena kesalahan saya," jawab warga Kabupaten Subang, Jawa Barat ini.

Suja mengungkapkan, bapaknya yang bernama Saeful Bahri adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di luar jam mengajar, sang ayah memiliki aktivitas lain, yaitu mengurus sawah miliknya.

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

Suja mengisahkan, waktu kecil ia sering disuruh sang ayah untuk membantu mengurus sawah. Bagi Bahri yang kian sibuk, pekerjaan itu merepotkan, apalagi jika musim panen tiba, karena harus memanggul karung padi, menjemur, sampai memasukannya kembali ke dalam karung.

Namun sayangnya Suja sering menolak perintah Bahri tersebut. Suja hanya bersedia melakukan semua itu dengan satu syarat yang diajukan.

"Kalau dikasih uang sama almarhum bapak, baru saya mau ngurus padi. Kalau enggak dikasih ya enggak," sesal Suja di Subang.

Suja sama sekali tidak akan bergerak untuk membantu bapaknya jika tidak ada uang. Jika uang sudah diberi, Suja akan langsung bekerja.

PMII Cabang Tegal

"Almarhum pernah bilang sama saya, ‘kamu jangan begitu, siapa tahu nanti kalau sudah berkeluarga kamu juga punya sawah’," kisah Suja menirukan ucapan ayahnya, sambil merapikan cangkul buat persiapan besok ke sawah.

PMII Cabang Tegal

Beberapa tahun kemudian Suja berkeluarga dan saat ini dikaruniai empat orang anak. Ternyata, apa yang diucapkan oleh bapaknya puluhan tahun yang lalu terbukti, Suja punya sawah.

"Eehh... sekarang, anak saya susah kalau disuruh bantu-bantu ngurus sawah, mereka mau bantu kalau dikasih duit. Kalau enggak ya enggak bakalan mau. Ini karena kesalahan saya dulu," ucap Suja penuh sesal.

Ia pun mengingatkan agar selalu berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika kita bisa berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, kelak anak-anak kita akan berbakti dan berbuat baik kepada kita, begitu pun jika sebaliknya. (Aiz Luthfi).

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU

Jepara, PMII Cabang Tegal. Bupati Jepara H Ahmad Marzuqi merasa prihatin dengan kondisi generasi muda saat ini. Banyak yang terjerat pada perilaku yang negatif semisal perkelahian, narkoba, free sex dan masih banyak lagi. Karenanya, ia mengajak para generasi muda mau berkecimpung dalam IPNU-IPPNU. 

“Saya merasa bangga karena anda termasuk generasi muda yang memiliki akhlak yang mulia serta tawaduk. Karenanya, ajaklah generasi muda yang lain untuk bergabung dengan IPNU-IPPNU,” ungkapnya dalam Buka Bersama PC IPNU-IPPNU Jepara di Pringgitan Kabupaten, Rabu (8/8). 

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: Ajak Generasi Muda Masuk IPNU-IPPNU

Kenakalan remaja juga menjadi tanggung jawab generasi muda. Marzuqi berpesan agar IPNU-IPPNU makin meningkatkan kegiatan-kegiatan positif sebagai contoh bagi mereka. “Ikut sertanya anda dalam IPNU-IPPNU adalah atas pilihan Allah SWT,” paparnya. 

PMII Cabang Tegal

Ia berpesan agar organisasi yang telah diikuti dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Yakni menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai job masing-masing. 

Chusni Maulana, ketua PC IPNU kabupaten Jepara mengatakan kegiatan merupakan wujud silaturahim pengurus, anggota dan kader dengan Pemerintah Kabupaten dan instansi yang terkait. “Alhamdulillah, sejak dilantiknya Bupati, kami baru bertemu dengan Bapak pada kesempatan ini. Harapan kami silaturahim ini tetap kita jaga hingga masa-masa yang akan datang,” harapnya. 

PMII Cabang Tegal

Pasar Murah

Pihaknya di hari yang sama juga mengikuti kegiatan Pasar Murah yang diselenggarakan Pemkab di depan Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK). Barang yang dijual adalah sembako bersubsidi dari Pemkab semisal gula, beras, minyak goreng, mie instan dan tepung terigu. Selain itu juga menjual minuman bersoda. 

Fathur  Rohman, salah satu panitia yang mengurusi stand IPNU-IPPNU menyatakan antusias masyarakat luar biasa. “Sembako yang dijual pada masyarakat disubsidi Rp.2000 dari harga di pasaran sehingga menyedot pengunjung. Sekitar jam 11.00 sembako habis diserbu pembeli,” jelasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

   

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Sholawat PMII Cabang Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga

Buleleng, PMII Cabang Tegal - Pondok Pesantren Nurul Jadid Pemuteran Kabupaten Buleleng menggelar Pekan Olahraga yang didukung oleh Kemenpora RI. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 26 sampai 28 Desember 2017.

Dalam pekan olahraga ini, aneka macam perlombaan digelar mulai dari futsal santri, tenis meja, badminton, dan lari cepat 100 meter serta olahraga tradisional yakni gobak sodor. Selain itu, pekan olahraga ini diawali dengan penampilan atraksi pencak silat dari grup Pagar Nusa Buleleng.

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga

Perlombaan ini diikuti tujuh pondok pesantren, yakni Pesantren Nurul Jadid, Pesantren Mirqotul Falah, Pesantren Bustanul Ulum, Pesantren Nurul Iman, Pesantren Nurul Hasan, Pesantren Nurul Fatah, Masjid Remas Ainul Yaqin dan MI Assyafiiyah.

PMII Cabang Tegal

Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Gus M Sadoellah Yamin memgatakan, kegiatan ini merupakan bantuan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi kepada pesantren untuk meningkatkan prestasi dan semangat olahraga di pesantren.

PMII Cabang Tegal

"Selain bantuan langsung Kemenpora RI, kegiatan ini, juga didukung PAC Anshor Gerokgak. Saya juga mengajak semua komponen masyarakat untuk terus ikut serta menggelorahkan olahraga. Khususnya dilingkungan Pesantren dan terus bersinergi dengan visi dan misi Kemenpora," ucapnya. Kamis (28/12) malam.

Menurut Gus Sadoellah, olahraga harus dilestarikan di pesantren agar para santri juga sehat dalam raganya sehingga ketika mengikuti pelajaran umum dan agama. Mereka juga bisa bersemangat.

"Mari kita berdoa semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang sehat. Ini sangat cocok sekali dengan nilai-nilai pesantren," imbuhnya.

Gus Sadullah menuturkan bahwa olahraga hal yang sangat penting untuk para santri karena santri di kompleks pesantren juga bisa meningkatkan potensinya di berbagai bidang olahraga yang digemarinya.

"Harapan saya, pesantren tidak hanya mencetak seorang kiai, ustadz, atau guru. Tapi juga atlet olahraga. Yang nantinya, bisa ikut serta mengharumkan nama negeri ini. Sejak dulu santri selalu ikut mewarnai pentas nasional. Insya Allah semoga santri Nurul Jadid bisa berprestasi dalam bidang apapun, supaya bermanfaat pada masyarakat, khususnya di lingkungannya," tutupnya. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Pahlawan, News PMII Cabang Tegal

Ratusan Pelajar NU Ikuti Lakmud Purwasuka

Purwakarta,PMII Cabang Tegal ? . Ratusan kader NU mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) sezona Purwakarta-Subang- Karawang (Purwasuka) di Pondok Pesantren Almuhajirin 2 Purwakarta, Jawa Barat selama tiga hari dari 24-26 September.

Ratusan Pelajar NU Ikuti Lakmud Purwasuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Pelajar NU Ikuti Lakmud Purwasuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Pelajar NU Ikuti Lakmud Purwasuka

Ketua Pelaksana Lakmud Purwasuka Adi Setiawan mengatakan, semua kader IPNU-IPPNU harus masuk ke segala sektor dengan memiliki daya saing yang tinggi. ?"Lakmud zona Purwasuka dihadiri oleh 100 peserta dari PAC, dan PK zona Karawang dan Purwakarta," ucapnya.

Ketua PC IPNU Purwakarta ini mengatakan, Lakmud tersebut merupakan rencana tindak lanjut dari Kegiatan Lakut (Latihan Kader Utama) yang diadakan oleh PW IPNU-IPPNU Jawa Barat pada Juni 2016 kemarin.

PMII Cabang Tegal

"Kader Lakmud yang selama 3 hari akan dibentuk, terutama melanjutkan kaderisasi di wilayahnya masing-masing," ungkapnya.

PMII Cabang Tegal

Ratusan kader ini ke depan akan menjadi kader-kader penerus NU yang militan dan berkualitas, karena di IPNU-IPPNU merupakan jenjang kaderisasi awal sebelum menuju ke banom selanjutnya. ?Seluruh kader IPNU-IPPNU harus mampu membuat NU semakin besar, terutama melakukan pengkaderan secara berkelanjutan.

"Kita akan dorong para kader ini untuk melakukan pembentukan ranting atau komisariat di daerahnya masing-masing," tegasnya.

Rais Syuriah PCNU Kabupaten Purwakarta KH Abun Bunyamin berpesan, ?seluruh peserta agar senantiasa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib. Dia juga menceritakan ketika masih muda, bahwa NU besar dan dengan modal bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berkhidmah kepada NU.

"Berkah dari NU dapat seperti ini sehingga kader IPNU-IPPNU harus bersungguh-sungguh dalam berorganisasi," pesannya.

Dia meminta, pelaksanaan Lakmud ini akan lahir kader-kader penerus yang berkualitas dan istiqomah. IPNU-IPPNU harus sampai ke tingkat banom selanjutnya, sehingga NU akan mampu menghadapi zaman dengan kader yang berkualitas.

"?Kader-kader Lakmud ini akan membuat NU semakin besarkarena penerus pengurus NU ke depan," pungkasnya.

?

Lakmud bertema "Memperkuat Intelektual Kader Muda Menuju Generasi NU yang Cerdas, Profesional, dan Militan" dihadiri Ketua Umum PP IPNU, perwakilan PW IPPNU Jawa Barat, PW IPNU Jawa Barat, PC Fatayat Purwakarta, PC GP Ansor Purwakarta dan ISNU Purwakarta. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Kajian PMII Cabang Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

Indramayu, PMII Cabang Tegal. Tak punya cukup dana guna ikuti Latihan Kader Utama (Lakut), Muhammad Hizbullah rela menjual dua ayam yang ia punya.

"Mau jual hape, tapi 50 (ribu) aja gak bakal dapet," ujar Bul, panggilan akrabnya, sembari menunjukkan ponsel miliknya yang layarnya retak-retak di Musalla PCNU Kabupaten Indramayu, Sabtu, (4/2).

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

Semangat tinggi Hizbullah dalam mengikuti kaderisasi pernah dilakukan oleh sahabat karibnya, Taufik, yang sekitar dua bulan lalu telah meninggalkannya.

PMII Cabang Tegal

Opik, begitu ia biasa dipanggil, mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) dengan berjualan es kelapa muda. Ia bermimpi mengikuti jenjang kaderisasi tertinggi pelajar NU, yakni Lakut.

Menurut penuturan pengurus PC IPNU Indramayu Mumin, dalam keadaan kritis, Taufik tidak bisa diajak interaksi mengingat ia mengalami masalah pada sarafnya. Tetapi, ketika kata Lakut diperdengarkan, kader militan yang status akun Facebooknya penuh dengan ajakan kegiatan IPNU itu merespons dengan menganggukkan kepalanya.

PMII Cabang Tegal

"Kalau kita ngomong Lakut, kepalanya mengangguk-angguk," ucap Mumin menggebu-gebu berbagi cerita pada Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid.

Katanya, PC IPNU Indramayu "ngotot" ingin menjadi tuan rumah Lakut untuk wilayah III Pantura itu karena khusus untuk menghormati perjuangan dan dedikasi Taufik.

"Ini kita hadiahkan khusus untuknya," ujarnya di hadapan rekan-rekan instruktur pimpinan pusat dan pimpinan wilayah.

Sebelum menutup acara, Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid secara khusus meminta semua peserta, panitia,dan instruktur mengirimkan hadiah Al-Fatihah untuknya. Seusai itu, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Wakil Sekretaris Bidang Kaderisasi PP IPNU Abdullah Muhdi. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Doa, News PMII Cabang Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Politisi Manfaatkan Ramadhan untuk Sosialisasi

Kudus, PMII Cabang Tegal. Momentum Ramadhan tahun ini ternya mempunyai arti tersendiri bagi kalangan politisi. Mereka memanfaatkan bulan berkah ini untuk mensosialisasikan dirinya sebagai calon legislatif (caleg) pemilu 2014 mendatang. 

Politisi Manfaatkan Ramadhan untuk Sosialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Politisi Manfaatkan Ramadhan untuk Sosialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Politisi Manfaatkan Ramadhan untuk Sosialisasi

Mereka menebar spanduk bertuliskan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dan Idul Fitri yang dilengkapi foto, nama, nomor urut dan gambar partainya.Spanduk Ramadhan para caleg ini bertebaran di tempat-tempat strategis sepanjang jalan kota sampai pelosok pedesaan di wilayah Kudus. 

Pengamatan PMII Cabang Tegal, hampir puluhan caleg dari berbagai partai politik memasang spanduk sesuai model dan gaya komunikasi mereka. Bahkan beberapa parpol memasang bendera yang dikibarkan di sepanjang ruas jalan sehingga memberikan kesemarakan suasana kota pada bulan Ramadhan ini.

PMII Cabang Tegal

Melihat dinamika tersebut, aktivis Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kudus Mahfudz Nahrowi menilai sangat positif. Artinya, para caleg seakan lebih mendekatkan diri kepada konstituen. 

“Adanya itu dapat membuka ruang kepada masyarakat untuk menilai para caleg sehingga mereka bisa dikenal dan menimbang-nimbang menjadi wakilnya,” katanya kepada PMII Cabang Tegal Rabu (17/7).

PMII Cabang Tegal

Momentum Ramdhan, kata Nahrowi, memang sangat efektif sebagai sarana komunikasi kepada publik. Namun, dari spanduk dibuat para caleg itu belum terdapat statemen politik yang bisa mengundang simpatik masyarakat.

“Akan lebih baik bila tidak hanya ucapan selamat berpuasa saja, tetapi ada statemen tidak akan gunakan praktek politik uang. Ini akan bisa mengajarkan pendidikan politik yang benar bagi masyarakat,” imbuh aktivis Ansor Kudus ini.

Nahrawi yang juga seorang pendidik ini mengharapkan kepada caleg saat terpilih nanti menjaga komitmen berjuang menyalurkan aspirasi dan tidak lupa terhadap janji-janjinya kepada masyarakat. Lembaga DPR pusat atau daerah, kata Nahrowi, bukanlah tempat untuk bekerja mencari kerja bagi para pengangguran atau mencari prestise bagi para pengusaha atau orang yang sudah mapan. 

“DPR/DPRD adalah lembaga dewan yang sangat terhormat dan merupakan lahan untuk mengabdikan jiwa dan raga untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya mengingatkan.

Redaktur     : Mukafi Niam 

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Syariah, Pondok Pesantren, Daerah PMII Cabang Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Jepara, PMII Cabang Tegal. Anggota TNI AD yang terdiri dari Kapten Mashudi (Danramil 09 Mlonggo), Bambang Sugito (Babinsa Sekuro) dan Musa Abdullah (Babinsa Mororejo) memberikan pembekalan bela negara kepada ratusan santri pesantren Az Zahra Jepara, Kamis (27/11) siang kemarin.

Kepada santri unit SMK Az Zahra, Mashudi menyampaikan pentingnya bela negara. Bela negara jelasnya ialah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota TNI Ini Bekali Santri Bela Negara

Adapun nilai-nilai dalam bela negara mencakup 5 hal. Cinta kepada tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin pada pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara. “Serta memiliki kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik,” imbuhnya.

PMII Cabang Tegal

Secara psikis warga negara harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual, senantiasa memelihara jiwa dan raganya. Serta memiliki sifat disiplin, ulet, kerja keras dan tahan uji.

PMII Cabang Tegal

Sedangkan kemampuan fisik perlu ditopang dengan kondisi kesehatan, keterampilan jasmani dengan gemar berolahraga dan menjaga kesehatannya.

Penanggung jawab kegiatan, Bambang Sugito menyampaikan kegiatan untuk memberikan bekal materi bela negara kepada peserta didik. Selain untuk mengingatkan kembali dasar negara dan UUD kegiatan juga untuk mengingat jasa para pejuang ’45. “Harapan kami anak-anak tidak melupakan para pejuangnya,” harap Bambang disela-sela kegiatan.

Senada dengan Bambang, Hasan Khaeroni, Kepala SMK Az Zahra memaparkan ulama termasuk pejuang yang juga berperan untuk merebut kemerdekaan. “KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim merupakan sejumlah kiai yang turut merebut kemerdekaan,” tegasnya.

Sehingga santri saat ini juga harus berperan aktif pada kelompok yang hendak merongrong keutuhan NKRI. Caranya, lanjut lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu dengan penguatan nilai-nilai bela negara yang tertanam sejak dini. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Anti Hoax, Quote PMII Cabang Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

GP Ansor Sumedang Ikut Lakukan Penyisiran Korban Bencana

Sumedang, PMII Cabang Tegal. PC GP Ansor Sumedang, Jawa Barat ikut serta melakukan evakuasi korban bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumedang, Rabu (21/9) malam. Musibah Longsor terjadi di beberapa daerah seperti Pasir Ucing, Dusun Singkup, Dusun Ciherang, Dusun Anjung samping Hotel Anjung, dan menelan korban jiwa, 3 orang tewas di Dusun Cimareme Kelurahan Pasanggrahan, Sumedang.

Sementara itu, musibah banjir terjadi di Lingkungan Panyingkiran dengan ketinggian air 50 cm, Regol ketinggian air 160 cm, dan Pangjeleran dengan ketinggian air 70 cm.

GP Ansor Sumedang Ikut Lakukan Penyisiran Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumedang Ikut Lakukan Penyisiran Korban Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumedang Ikut Lakukan Penyisiran Korban Bencana

Musibah tersebut menyebabkan kemacetan dibeberapa titik, diantaranya kemacetan di Pasir Ucing, Ciherang, dan Cadaspangeran. Sementara kerugian materi menurut BPBD Sumedang ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Posko Relawan Bencana BAGANA yang disediakan yaitu di PCNU Sumedang, Dusun Singkup, Ciherang, dan posko tambahan di PAC GP Ansor Wado.

Banser Satkoryon Wado mengerahkan 12 pasukannya ikut membantu penyisiran korban di Hilir sungai Cimanuk, mengevakuasi korban jiwa yang terbawa arus banjir di Garut. Hal dijelaskan oleh Ahmad Habibadin Ketua PAC Wado saat dihubungi via telepon.

PMII Cabang Tegal

"Melihat kondisi tanah yang masih bergetar ditakutkan ada longsor susulan, dari tiap posko Banser secara bergiliran piket, termasuk semua Banser yang kemarin baru mengikuti Diklatsar,” tutur Hendra Hidayat, Sekretaris GP Ansor Sumedang.

PMII Cabang Tegal

Banser mendistribusikan sejumlah logistik dan obat-obatan kepada warga terdampak bencana di dua titik pengungsian, di Singkup dan Tajimalela. “Mudah mudahan korban diberi ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah longsor dan banjir ini,” tambahnya. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah PMII Cabang Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Sleman, PMII Cabang Tegal. Tidak ada orang yang berhasil tanpa berkorban. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula peluang untuk menuju keberhasilan. Kita mengetahui betapa Nabi Ibrahim as dengan tulus melakukan segala ? pengorbanan semata-mata untuk Allah SWT. Karenanya pantas, jika Nabi Ibrahim menyandang gelar Khalilullah.

Demikian ungkap Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada acara Dzikir dan Shalawat dalam rangka Walimatussafar Ibadah Haji di dusun Turgo Gede, Sleman, Yogyakarta, Selasa (25/8) malam. Habib Syech Mengajak para jamaah untuk mencontoh Nabi Ibrahim yang selalu ikhlas ketika Allah SWT mengujinya.

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

"Cobaan terberat bagi Nabi Ibrahim adalah ketika Allah mengujinya dengan perintah mengorbankan Ismail putranya. Sementara Ismail adalah anak yang telah lama dinantikan oleh Nabi Ibrahim. Namun demikian, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT, lantaran ketaqwaan Ibrahim kepada Tuhannya" kata Habib Syech.

PMII Cabang Tegal

Demikian pula, lanjut Habib Syech, Ismail sebagai putra dengan legowo mentaati inatruksi ayahnya, lantaran mengetahui bahwa yang demikian itu adalah perintah Allah SWT. Padahal usia Ismail kala itu tergolong muda. Bahkan terbilang usia kanak-kanak. "Inilah bukti konkret, bahwa karunia Allah berupa anak yang sholeh lantaran orang tua yang selalu berdoa untuk anaknya," tegasnya.

PMII Cabang Tegal

Habib Syech mengatakan, jika menginginkan keluarga yang indah dan baik, tirulah Nabi Ibrahim. Ketika menanti kehadiran putra tercintanya, Nabi Ibrahim dan istrinya selalu berdoa (rabbi habli mina al-sholihin) kepada Allah SWT. Ketangguhan Ibrahim sebagai suami dan ayah juga perlu dicontoh. Sementara kesabaran Siti Hajar sebagai istri juga penting dalam membangun keluarga yang baik. Karenanya, tidak heran jika Nabi Ibrahim dikaruniai putra seorang Ismail dengan kepribadian yang istimewa.

"Jika menginkan hadirnya anak yang sholeh tirulah juga Nabi Ibrahim, yang tidak pernah putus asa berdoa kepada Allah SWT. Sebab, Doa orang tua untuk anaknya adalah penting, supaya kedepannya tercetak generasi-generasi yang baik dan bermutu. ? Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah mendidik anak dengan baik, agar tidak salah langkah dalam mengambil jalan" terang Habib Syech

Habib Syech mengingatkan kepada kaum muda, bahwa satu kebaikan anak muda lebih baik dari seratus kebaikan yang dilakukan orang tua. ? Hal demikan karena usia muda adalah masa dimana berbagai persoalan semakin kompleks dan butuh langkah taktis untuk memutuskan sesuatu. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Sunnah, Berita, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Surabaya akan menggelar malam Nuzulul Quran? dengan menampilkan sembilan Qori-Qoriah tingkat Nasional dari? Jawa Timur di Taman Bungkul Surabaya, Senin (27/6) mendatang. Acara tersebut juga bersamaan dengan peresmian mushola di wilayah Taman Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

Ketua panitia Ulya Abdillah menjelaskan, kegiatan tersebut akan diikuti kurang lebih 1000 warga dan jamaah Nahdliyin di Surabaya.

"Kami tidak mengundang jamaah NU yang begitu besar, karena kapasitas tempat yang tidak memungkinkan dan mengingat acara yang bersamaan dengan kegiatan ibadah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan," ujarnya, Jumat (24/6) saat dihubungi PMII Cabang Tegal.

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

Malam Nuzulul Quran juga akan menampilkan gema Sholawat Nabi oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama Kota Surabaya dan Group Al Banjari. Kemudian dilanjutkan ceramah Nuzulul Quran oleh KH Sholeh Sahal LC.

Lebih Lanjut, Wakil Ketua PCNU Surabaya ini mengungkapkan momen peringatan Nuzulul Quran di Taman Bungkul nanti juga sekaligus menandai status Mushola Sunan Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

PMII Cabang Tegal

Dengan perubahan status tersebut pihak PCNU Surabaya berencana akan memulai renovasi masjid di tahun ini. Selain itu keberadaan masjid ini diberharapkan area makam Sunan Bungkul sebagai tujuan wisata religi di Surabaya lebih tertata dan terpelihara secara rapi sehingga para jamaah yang berziarah lebih nyaman dan tidak terganggu keramaian.

"Oleh karena itu agar tujuan dan hajat terkabul sebelum malam peringatan Nuzulul Quran, PCNU Surabaya menggelar Khotmil Quran di Mushola, dan sekaligus pembagian tajil dan buka puasa bersama dengan para jamaah peziarah makam Sunan Bungkul yang dilaksanakan oleh LAZISNU Surabaya," pungkasnya. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Syariah, Pondok Pesantren, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Kamis, 30 November 2017

Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Juga Diantisipasi dari Radikalisme

Depok, PMII Cabang Tegal. Sebanyak 160 pengasuh pondok pesantren tahfidz Al-Qur’an berkumpul di Pondok Pesantren Al-Hikam Depok sejak Senin (27/4) kemarin. Salah satu yang dibahas adalah antisipasi pesantren tahfizh dari masuknya paham radikal yang menyusup ke pesantren yang mencetak penghafal Al-Qur’an itu.

Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Juga Diantisipasi dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Juga Diantisipasi dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Juga Diantisipasi dari Radikalisme

“Memang belum ada kasus. Kami hanya mengantisipasi, karena sekarang ini semua memakai metode tahfih,” kata Ustadz Hilmi Ashidiqi, ketua panitia acara.

Kegiatan bertajuk “Penguatan dan Pengembangan Pesantren Tahfidz” itu juga dimaksudkan sebagai forum silaturrahim antar pesantren Al-Qur’an dalam rangka memperkuat pemahaman akidah ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). “Jangan sampai pesantren tahfizh ini diisi oleh yang lain,” kata Hilmi.

PMII Cabang Tegal

Selasa malam ini, para peserta rencananya akan dibekali materi penguatan Aswaja oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madani.

PMII Cabang Tegal

Para pejabat dari beberapa kementerian seperti Kementerian Agama, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa dan PDT juga mendapatkan kesempatan berbicara di hadapan para pengasuh pesantren Al-Qur’an. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Nusantara, Daerah PMII Cabang Tegal

Minggu, 19 November 2017

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat

Solo, PMII Cabang Tegal



Ratusan santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN), yang digelar di halaman pondok, Sabtu (22/10). Turut hadir dalam acara tersebut, sejumlah pengurus Muslimat NU Kota Solo, mahasiswa UNU Solo dan tamu undangan lainnya, antara lain Sekretaris Pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Alissa Wahid.

Dalam amanatnya, pembina upacara, Mukhlis Suranto, mengungkapkan tugas yang semakin berat, diemban para santri di zaman sekarang.?

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat

“Yang menjadi penekanan pada Hari Santri ini, tugas santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan Islam Aswaja, menangkis paham yang dapat merongrong bangsa, ini merupakan perjuangan yang sangat berat,” tegas Kepala SMA Al-Muayyad itu.

Pada kesempatan itu, Suranto juga memaparkan scara singkat kronologi terjadinya Resolusi Jihad. Dijelaskan bahwa menjelang meletusnya Perang 10 November 1945 di Kota Surabaya, serta peperangan melawan penjajah di daerah-daerah lainnya, Presiden Soekarno mengirim utusan ke Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan fatwa tentang berjihad demi membela bangsa.

PMII Cabang Tegal

Pertanyaan ini, kemudian dimusyawarahkan Hadratussyaikh bersama ulama lainnya, hingga akhirnya tercetuslah Resolusi Jihad, yang menjadi kobaran semangat para pejuang dalam melawan penjajah. “Resolusi Jihad ini dimotori oleh para ulama dan kiai,” kata Suranto.

Upacara Hari Santri di Al-Muayyad juga dimeriahkan dengan pekikan mars lagu “Ayo Mondok” dan “Ya Ahlal Wathon". (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Jumat, 03 November 2017

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat

Sidoarjo, PMII Cabang Tegal



Ketua Rijalul Ansor Cabang Sidoarjo Moch Syifa mengatakan, tantangan NU ke depan tidak hanya mengenai kelompok radikal, namun juga tentang bagaimana mencetak kader ulama.

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat

Pernyataan itu disampaikan Syifa pada acara Dirosah Kader angkatan perdana yang digelar oleh PC GP Ansor Sidoarjo di Pondok Pesantren Manbaul Quran Desa Gempolsampurno, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

"Yang dikhawatirkan NU bukan mengenai Wahabi dan sejenisnya, namun NU akan kawatir jika kehabisan kader ulama," kata Syifa, Ahad (8/10).

Ia menjelaskan, Dirosah Kader dilaksanakan dengan tujuan mencetak kader yang siap untuk mengisi mushala, masjid atau instansi yang sepi dari amaliyah nahdliyyah.

"Saya mendapat wejangan dari KH Soleh Qosim Ngelom Sepanjang untuk segera mencetak kader yang siap untuk diterjunkan di masyarakat mulai khotib, da’i, imam mushala maupun masjid," ujarnya.

PMII Cabang Tegal

Syifa menambahkan, pada pelantikan pengurus Rijalul Ansor Pusat di Tambakberas Jombang beberapa bulan lalu, Gus Aam juga menyebutkan bagaimana kiprah Ansor ke depan dapat mengisi ruang-ruang yang hari ini direbut oleh pada dai dari kelompok diluar NU. 

Mengingat hal itu, Dirosah Kader menjadi sebuah hal yang urgent dalam menjawab tantangan NU ke depan.

"Ketika pengurus Rijalul Ansor dapat mengisi ruang tersebut di masyarakat, maka tidak menutup kemungkinan setiap momen apa pun pasti dapat mengupas tentang NU, karena pada hakikatnya amaliyah di masyarakat tak lepas dari apa yang telah dilestarikan oleh NU dari ajaran para Wali Songo," katanya.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu Ketua PC GP Ansor Sidoarjo H Rizza Ali Faizin berharap, melalui kegiatan Dirosah Kader dapat tercipta kader Ansor yang memiliki karakter kerakyatan, karakter kebangsaan dan karakter dakwah.

"Dirosah Kader ini tidak hanya berhenti disini, tetapi kader yang dilatih ke depan harus siap untuk didistribusikan mengisi ruang-ruang yang hari ini ditinggalkan oleh kader NU," kata Rizza.

Senada dengan dia, Ketua PCNU Sidoarjo H Maskhun menyatakan, Dirosah Kader diharapkan dapat mencetak para dai yang nantinya tidak hanya dikembangkan di dunia nyata tapi juga di media sosial. Ia juga berharap setelah kegiatan Dirosah Kader ada pelatihan khusus untuk medsos.

"Paling tidak nanti kita bekali dengan dzuu ilmin (mempunyai pengetahuan yang luas), dzuu siyasatin (punya strategi), dzuu haibatin (punya Wibawa)," pungkas ketua PCNU Sidoarjo H. Maskhun.

Dirosah Kader yang digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (7-8/10) itu dihadiri Ketua Rijalul Ansor Pusat Gus Aam, Ketua Rijalul Ansor Jatim, Ketua PCNU Sidoarjo dan Ketua DPRD Sidoarjo. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Kajian Islam, Olahraga PMII Cabang Tegal

Sabtu, 30 September 2017

Aklamasi, Duet KH Aziz Mansyur-Muhaimin Terpilih Lagi

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa yang digelar di Hotel Empire Palace di Surabaya, (31/8), telah usai menyusul berakhirnya sidang pleno kelima dengan agenda pemilihan ketua dewan syuro dan ketua umum dewan tanfidz.

Aklamasi, Duet KH Aziz Mansyur-Muhaimin Terpilih Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Aklamasi, Duet KH Aziz Mansyur-Muhaimin Terpilih Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Aklamasi, Duet KH Aziz Mansyur-Muhaimin Terpilih Lagi

Sidang pleno terakhir itu diikuti seluruh perwakilan DPW PKB dari Sabang sampai Merauke. Mayoritas muktamirin (sebutan peserta muktamar) mendukung kembali duet KH Abdul Aziz Mansyur dan Abdul Muhaimin Iskandar untuk dikukuhkan sebagai mandataris muktamar.

Keduanya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Syuro dan Ketua Dewan Tanfidz Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) masa khidmat 2014-2019.

PMII Cabang Tegal

Ketua sidang pleno kelima Marwan Ja’far sebelumnya menanyakan kepada forum terkait materi sidang. “Sidang pleno kelima dengan agenda pemilihan ketua umum dewan tanfidz dan ketua dewan syuro apakah disepakati?” Forum pun menjawab spontan. “Setuju...” koor para muktamirin.

Sejurus kemudian, Marwan meminta kesanggupan kedua tokoh tersebut untuk dikukuhkan kembali sebagai ketua dewan syuro dan ketua umum dewan tanfidz. Muhaimin pertama kali menyatakan siap untuk dipilih kembali disusul Kiai Aziz menyatakan hal yang sama.

PMII Cabang Tegal

“Setelah ada pernyataan sikap dari kedua calon, apakah forum menyepakati keduanya untuk menjadi ketua dewan syuro dan ketua dewan tanfidz yang baru,” lempar Marwan kepada forum.

Dengan demikian, lanjut Marwan, Ketua Dewan Syuro PKB yang baru adalah Almukarrom KH Abdul Aziz Mansyur dan Ketua Umum Dewan Tanfidz saudara Abdul Muhaimin Iskandar.

Sebelumnya, suasana sidang pleno keempat mengagendakan perubahan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Utusan dari Aceh sempat menginterupsi pimpinan sidang agar menyetujui usulan untuk kembali ke AD/ART Muktamar II Semarang.

“Kami meminta pimpinan sidang untuk memberlakukan kembali AD/ART hasil Muktamar kedua di Semarang. Hal ini agar posisi dewan syuro tidak hanya sekedar menjadi stempel bagi dewan tanfidz,” pintanya. (Ali Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal AlaNu, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Sabtu, 16 September 2017

Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali

Manusia tidak dapat hidup sendiri dan butuh orang lain untuk tetap bertahan hidup. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon, yaitu makluk sosial. Dikatakan makhluk sosial karena tanpa teman dan berinteraksi dengan orang lain mustahil manusia betah hidup di dunia. Oleh sebab itulah, Allah SWT? menciptakan Adam beserta Hawa agar manusia terus berkembang dan hidup bersama-sama.

Untuk mememuhi kebutuhan sosial tersebut, manusia butuh pertemanan atau persahabatan. Imam al-Ghazali mengibaratkan pertemanan ibarat akad nikah. Konsekuensi dari akad tersebut adalah seseorang diharuskan untuk memenuhi hak-hak pasangannya. Al-Ghazali mengatakan:

Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Etika Persahabatan Menurut al-Ghazali

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

“Jalinan tali persahabatan antara dua orang seperti halnya akad nikah suami-istri. Dalam pernikahan terdapat hak yang harus dipenuhi sebagaimana disebutkan sebelumnya pada pembahasan nikah. Demikian pula dalam persahabatan ada kewajibanmu untuk memenuhi hak saudaramu, baik yang berkaitan dengan harta, jiwa, tutur kata, dan hati: dengan memberikan maaf, keikhlasan, pemenuhan janji, dan meringankan beban.”

PMII Cabang Tegal

Dalam persahabatan terdapat etika dan hak yang harus kita jaga. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan banyak hal terkait hal ini. Setidaknya terdapat empat hal yang harus diperhatikan dalam menjaga hubungan persahabatan. Keempat hal itu sebagai berikut:

Pertama, seyogyanya seseorang memberikan sebagian hartanya kepada temannya. Dalam hal ini, imam al-Ghazali membagi persahabatan dalam tiga tingkatan: tingakatan paling rendah adalah orang yang memosisikan sahabatnya seperti seorang pembantu. Dia akan memberikan harta kepada sahabatnya bila terdapat kelebihan; tingkatan menengah adalah orang yang memperlakukan sahabatnya seperti dia memperlakukan dirinya sendiri. Mereka tidak membedakan sahabat dengan dirinya sendiri; sementara tingkatan paling tinggi adalah orang yang memosisikan sahabatnya di atas dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan hartanya untuk sahabatnya.

Kedua, membantu sahabat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum dia meminta bantuan. Seseorang mesti mengetahui bagaimana kondisi temannya, terutama kondisi ekonomi keluarga? atau dirinya sendiri. Supaya bila terdapat kesusahan kita dapat membantu mereka tanpa harus diminta terlebih dahulu.

Ketiga, tidak melakukan sesuatu yang dibencinya. Tentu tidak semua orang suka dengan perilaku dan karakter kita. Alangkah baiknya pada saat bertemu teman, kita tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai teman. Keempat, bertutur kata sopan dan memujinya. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak suka pujian. Karenanya untuk memperkuat persahabatan, sering-seringlah memujinya.? ?

Keempat hal di atas hanyalah sebagian dari etika persahabatan yang disebutkan al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin. Semoga keempat etika tersebut dapat diamalkan pada saat bergaul sesama manusia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock