Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Salah Dengar Instruksi Kiai

Di sela rutinitas menyapu halaman ndalem, seorang santri tiba-tiba dipanggil Kiai Latif. “Nak, kemarilah!” Serunya dengan suara lirih dan berat. Maklum, Kiai Latif sudah sepuh, suaranya pun terdengar berat.

Si santri yang mendengar suara itu, langsung menunduk dan menghampiri kiainya dengan setengah berlari. Namun, sebelum si santri berada tepat di depan Kiai Latif, suara Kiai Latif terdengar kembali. “Tolong carikan cangkul.”

Salah Dengar Instruksi Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Salah Dengar Instruksi Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Salah Dengar Instruksi Kiai

Si santri yang sendiko dawuh tak berani bertanya kembali kepada Kiai Latif. Ia langsung pergi mencari ketua pondoknya, Kang Fathul. Pikirnya, ia yakin mbah kiai ada keperluan penting dengan Kang Fathul.

PMII Cabang Tegal

Si santri yang tak ingin membuat kiainya menunggu lama, berlari menuju kamar pengurus. Dengan napas terengah-engah ia temui Kang Fathul yang sedang mengaji Al-Qur’an di kamarnya.

“Kang, kang, jenengan dipanggil yai,” panggil si santri dari depan kamar. Kang Fathul yang mendengar pun langsung menjawabnya “Ada apa, Kang, Mbah Yai manggil saya?”

PMII Cabang Tegal

“Tidak mengerti, Kang, sepertinya penting. Cepet, Kang,” seru si santri. Karena mendapat perintah cepat, Kang Fathul pun menutup Al-Qur’annya dan segera mengambil sandal menuju ndalem kiai. Santri yang memanggilnya tadi pun ikut kembali ke halaman ndalem kiai.

Dari kejauhan, Kiai Latif agak terkejut melihat santri yang disuruhnya datang bersama Kang Fathul, dan tidak membawa cangkul sesuai pesanannya. Ia pun mafhum, santrinya salah mendengar kata-katanya tadi.

“Ini Yai, Kang Fathul” kata si santri yang mendekat kepada Kiai Latif.

“Oh yo cung, matursuwun, terimakasih,” jawab Kiai Latif yang tak ingin membuat rasa bersalah santrinya.

Si santri lega tanggung jawabnya tuntas, dan kembali menyapu halaman ndalem kiai. Sementara Kiai Latif dan Kang Fathul terlibat pembicaraan di sebelahnya.

“Anu… Fathul. Aku tolong carikan cangkul!” pinta Kia Latif ke Kang Fathul.

Santri penyapu halaman yang mendengar percakapan itu pun sadar, dan bergumam di dalam hati, “Waduh, ternyata yang diminta cangkul, bukan Kang Fathul.”



(Aldi Rizki Khoiruddin)
Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Wapres: NU Aset Bangsa

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Wakil Presiden Boediono menyatakan rasa terima kasihnya atas atas upaya-upaya yang dilakukan Nahdlatul Ulama dalam menjaga dan mempertahankan Indonesia dari berbagai ancaman.

“NU merupakan pengawal Indonesia, terima kasih kepada NU,” katanya ketika membuka Global Peace Leadership Conference yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (16/10).

Wapres: NU Aset Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres: NU Aset Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres: NU Aset Bangsa

Pada kesempatan tersebut Boediono menjelaskan, umat manusia sekarang sedang mengalami pross perubahan yang cepat, yang bisa dikatakan sebagai revolusi tentang pemahaman atas kemajemukan dirinya.

PMII Cabang Tegal

Pada masa lalu, manusia memahami dirinya secara sempit, dengan sadar mengkotakkan dirinya pada ras, warna kulit, etnis dan lainnya serta tak segan-segan membunuh dan menyerang orang yang tak sama dengan mereka.

PMII Cabang Tegal

Kepicikan manusia ini mengalami puncaknya pada pertengahan abad 20 yang melahirkan peperangan dengan korban jutaan umat manusia. Tetapi kesadaran akan dirinya telah mendorong terjadinya upaya-upaya mengembangkan perdamaian dan persaudaraan.

“Bumi harus menjadi taman sari peradaban yang indah dan serasi,” katanya.

Pada abad 21 ini, kesadaran ini tumbuh semakin pesat serta menjadi nilai universal yang mengikat bersama, khususnya atas prinsip demokrasi dan hak asasi manusia yang meleetakkan individu pada kedudukan yang sejajar dan mulai mampu merayakan kemanusiaan ditengah keragaman.

Pendiri bangsa ini, juga telah ditempa dengan keberagaman sehingga membuat kesepakatan hidup bersama dalam damai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal IMNU, Kajian Sunnah, Santri PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja

Surabaya, PMII Cabang Tegal

Komik NU (Nahdlatul Ulama) edisi perdana yang mengisahkan sejarah dan perkembangan NU, Minggu (17/9) malam lalu, di-launching di halaman Museum NU, Jalan Gayungsari Timur 35, Surabaya. Komik yang berjudul ‘NU You Know? Cikal Bakal dan Kelahiran’ diharapkan bisa dijadikan materi pendukung pelajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di lingkungan pendidikan Ma’arif dan pondok pesantren. Termasuk juga menjadi bacaan bermanfaat bagi warga nahdliyin.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina ‘Bedug Aswaja’, Moch Arif Junaidy SH menceritakan asal mula disusunnya Komik NU tersebut. Menurut Arif, pembuatan Komik NU itu berawal dari perenungan sekelompok anak muda NU yang mencari terobosan bagaimana memberi pemahaman tentang sosok NU secara ringan dan mudah dipahami.

“Diluncurkannya Komik NU ini cukup penting, sebab banyak buku-buku tentang NU di pasaran yang bahasanya sulit dicerna masyarakat umum. Untuk itu, kami bekerja keras dan berfikir untuk membuat sebuah bacaan tentang NU yang digambarkan melalui media komik. Ini supaya mudah dipahami, baik dari kalangan muda maupun tua,” ujar Arif.

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja

Ia menambahkan, komik hasil karya Media Komunikasi Nahdliyin yang tergabung dalam ‘Bedug Aswaja’ ini tidak seperti komik pada umumnya yang banyak menonjolkan khayalan. Komik NU justru membutuhkan data, referensi yang valid dan interview berbagai tokoh NU.

“Komik NU ini bukan sembarang komik. Sebab proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan membutuhkan data, referensi yang valid. Bahkan untuk literaturnya saja banyaknya sa-gledekan. Selain itu, data juga diperkuat dengan interview dengan tokoh NU dan keturunan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, yakni Pak Ud,” terangnya.

Selain itu, lanjut Arif, dalam proses pembuatan Komik NU itu, yang tersulit yakni proses penggambaran suasana pondok pesantren dan visualisasi Mekah sebelum tahun 1926.

PMII Cabang Tegal

“Tim pembuat komik rela duduk berjam-jam dan berhari-hari di beberapa Ponpes di Jombang. Ponpes Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, sehingga bisa menggambarkan suasana pada masa itu. Sedangkan untuk kondisi Makah didapatkan dari Habaib di Surabaya yang punya gambar Makah tahun 1900-an,” lanjut Arif yang juga anggota DPRD Jatim.

Dari proses tersebut, Arif menjelaskan bahwa Komik NU itu benar-benar bisa menggambarkan cikal bakal dan perkembangan NU pada masa 1926. “Komik ini merupakan bagian dari karya anak-anak muda NU yang ingin memperlihatkan pada warga nahdliyin supaya lebih mengenal sejarah NU dan sejarah perjuangan para ulama,” ujarnya.

Peluncuran Komik NU edisi perdana itu juga dimeriahkan musik gambus Asy syub ban. Hadir dalam launching tersebut, KH Mustofa Bisri, Budayawan Dr Zawawi Imron, Drs H Choirul Anam dalam kapasitasnya sebagai pendiri Museum NU, pengamat dan peneliti NU. Hadir juga Wakil Walikota Surabaya Arif Affandi, Sekdaprov Jatim, Soekarwo, jajaran pengurus NU Jatim dan cabang, banom-banom NU, serta tokoh-tokoh masyarakat Jatim. (dtm/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal PonPes, Santri, Tegal PMII Cabang Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli

Ibadah dilihat dari segi jenisnya terbagi menjadi dua, pertama adalah Ta’abbudi; yaitu ibadah yang tidak ada alasannya kenapa dilakukan, seperti shalat mahgrib dikerjakan dengan tiga rakaat, karena hal itu sudah ketetapan dari Allah bahwa shalat maghrib dilaksanakan tiga rakaat.

Kedua adalah Ta’aqquli; yaitu ibadah yang ada sebab dan alasannya, seperti membersihkan anggota badan dari najis, karena jika terdapat najis pada anggota badan seseorang maka ia harus membersihkannya terlebih dahulu jika hendak menjalankan shalat.

Sebagaimana terdapat dalam Kitab Taisir Ilmi Ushulil Fiqh karya Imam Al-Anazi,

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ta’abbud adalah jenis ibadah yang tidak sebab dan alasannya, sedangkan Ta’aqquli adalah ibadah yang ada sebab dan alasannya.

Kedua jenis ibadah ini senantiasa harus dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’, semisal menjalankan shalat subuh dua rakaat, maka seseorang tidak boleh menjalankannya menjadi tiga rakaat atau lebih karena ketentuan dua rakaat adalah ketetapan dari Allah dan tidak perlu ada pertanyaan kenapa harus dikerjakan dua rakaat.

PMII Cabang Tegal

Terkadang kita dapati seseorang mencari sebab dan alasan kenapa ibadah ini dikerjakan demikian, lalu ia berdalih selama tidak menemukan sebab dan alasan ia tidak mengerjakan ibadah tersebut, maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena jenis ibadah yang Ta’abbudi memang tidak memberi ruang gerak pada akal untuk mencari-cari kenapa dan mengapa, tetapi kerjakan saja sebagaimana ia diperintahkan.

Demikianlah ketentuan dua jenis ibadah yang mempunyai dua pengertian berbeda namun harus dikerjakan semuanya, jika seseorang tidak mengetahui kenapa shalat isya’ dikerjakan empat rakaat, kenapa shalat maghrib hanya tiga rakaat, kenapa shalat subuh hanya dua rakaat, maka kita kembalikan pada asalnya bahwa shalat isya’, maghrib dan subuh adalah wajib hukumnya, dan tidak ada dalih untuk tidak mengerjakan hanya karena tidak mengetahui alasannya. (Pen. Fuad H/ Red. Ulil H)?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Santri PMII Cabang Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran

Semarang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengungkapkan, saat ini beredar buku-buku beraliran radikal yang tersebar bebas di tengah masyarakat baik berbahasa Arab atau bahasa Indonesia.

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran

Ada buku Al-jihadu Sabiluna karangan Syaikh Abdul Baqi Ramdun, buku Fi Tarbiyyah al-Hihadiyyah wal-Bina karya Syaikh Abdullah Azzam, dan buku-buku yang ditulis Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani dan lainnya.

Dalam satu kegiatan yang diselenggarakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNNPT) di Semarang 11-12 Oktober lalu, Ketua PWNU Jawa Tengah Muhammad Adnan mengungkapkan, buku-buku yang mengajarkan terorisme itu biasanya berisi pemelintiran atas ayat-ayat Al-Quran maupun tafsirannya. Ayat-ayat tentang jihad yang turun di Mekkah dianggap telah di-nasakh (dihapus hukumnya) dengan ayat yang turun di Madinah.?

PMII Cabang Tegal

Kaum radikal yang mengklaim gelar syaikh dalam bukunya, lanjut dia, menganggap periode Madinah adalah masa perang. Mereka menganggap ayat yang turun di masa Nabi tinggal di Mekah tidak berlaku lagi.?

PMII Cabang Tegal

Contoh ayat yang dipelintir adalah surat Al-Hajj ayat 39 dan Surat Al-Baqoeoh ayat 191-192. Ketiga ayat tersebut dimaknai perintah untuk menyerang kepada kaum kafir sekalipun kaum muslim tidak diserang lebih dulu. Tak lagi fase difa’ atau defensif.?

”Para penulis buku radikal memelintir ayat dan tafsiran Al-Quran secara ngawur. Mereka menganggap ayat yang turun di Madinah menghapus ayat yang turun di Makkah. Jihad menurut mereka hanya satu, yaitu perang dan menyerang musuh meskipun tidak diserang duluan,” terangnya.?

Adnan bahkan menemukan, kaum radikalis senang sekali mendakwa bahwa Hadis Rasulullah tentang jihad akbar melawan hawa nafsu sebagai hadis mardud alias tertolak. Lalu menganggap para ahli fiqih sebagai pembuat khayalan dalam pemetaan negara.?

”Selain memelintir ayat Al-Quran, mereka juga menilai hadis menurut nafsu mereka sendiri. Ada hadis yang mereka tolak, hadis jihad akbar melawan hawa nafsu mereka anggap sebagai ajaran untuk memasung dakwah Islam,” sambungnya.?

Menurut Adnan, jihad adalah bahasa Al-Qur’an, maka hanya Al-Quran yang tahu maknanya. Namun Allah melalui Rasul-Nya telah memberitahu umatnya, bahwa jihad itu banyak terapannya, termasuk menanamkan aqidah, mendirikan sholat, membayar zakat dan sabar dalam menghadapi musibah. Lalu jihad paling besar adalah melawan hawa nafsu. Sedangkan perang adalah sistem pembelaan diri dan itupun disebut Rasul sebagai jihad kecil.?

”Perang hanyalah salah satu bentuk jihad, yang jika dilakukan harus memenuhi ketentuan syariat. Tidak asal menyerang dan ngawur. Lagi pula, ayat tentang jihad dalam pengertian perang, baru turun pada tahun kedua hijriyah pada surat Al-Baqorah 193 dan dipertegas dalam Al-Hajj 40. Jadi kita harus menyampaikan pengertian ini kepada anak-anak kita. Setidaknya agar teroris tidak merebuat isi pikiran generasi kita,” tegas dia.?

Qital; peperangan, harb atau ghozwah; perang, lanjutnya, jelas berbeda dengan penyerangan, perusakan, dan teror. Apalagi ditujukan kepada tempat ibadah dan menimbulkan korban yang tidak terkait dengan target yang diserang.?

”Jangan biarkan teroris, kaum radikal dan orang bodoh mendistorsi atau menyelewengkan ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah. Teks-teks suci itu jika dimaknai dan ditafsiri secara ngawur, akan merusak ajaran Islam dan menghancurkan agama kita ini,” pungkasnya.?

Selain Adnan, pembicara lain dalam forum itu antara lain Abu Hafsin Umar, Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo yang juga ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Tengah, dan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Dr Irfan Idris.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, News PMII Cabang Tegal

Senin, 25 Desember 2017

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Pamekasan, PMII Cabang Tegal. Kegiatan fasilitasi pendidikan kompetensi aplikatif melalui kursus pengolahan ikan di daerah tertinggal, diikuti oleh para perempuan Madura, Selasa (2/12) di SMKN 1 Pamekasan, Jawa Timur. Kursus yang digelar PP Muslimat NU dengan menggandeng Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) RI tersebut, memasuki hari kedua dan menitiktekankan pada ragam cara pengolahan hasil laut.

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat Bekali Perempuan Madura Cara Pengolahan Hasil Laut

Dalam kesempatan tersebut, panitia menghadirkan pemateri dari Dinas Kesehatan serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 40 peserta dibekali teori pengolahan ikan jadi abon, kripik, naget, dan bakso.

Selain itu, mereka juga diberi wawasan mengenai legalitas dan standarisasi makanan sehat, kebijakan umum tentang fungsi ikan, serta pengenalan pengolahan ikan dan manajemen keuangan. Muaranya, peserta belajar pengemasan, pelabelan, dan pemasaran pengolahan ikan.

PMII Cabang Tegal

Kursus ini dibuka langsung oleh Bupati Achmad Syafii sehari sebelumnya. Diproyeksikan, penutupannya pada Kamis (4/12) mendatang. Peserta mendapat pendampingan khusus dari pengurus PP Muslimat NU, yaitu Ketua Harian Bidang Pendidikan Dr Srimulyati, Sekretaris VI Bidang Hukum dan Advokasi Dra. Nur Rifah Masykur, dan anggota Bidang Hukum dan Advokasi Rizky Wijayanti, SH.

PMII Cabang Tegal

Nantinya, peserta akan diberi peralatan supaya pelatihan bisa berlangsung secara berkesinambungan. Peralatan yang diterima masing-masing peserta senilai Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. Peralatan tersebut meliputi freezer, kompor gas, tabung gas, dan peralatan olahan makanan. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nusantara, Santri, Pendidikan PMII Cabang Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Pergunu DKI Jakarta Luncurkan Beasiswa Yatim Berprestasi

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Dalam rangka memperingati tahun baru Islam, serta menyambut hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta melaunching program beasiswa Yatim Berprestasi. Beasiswa ini dihimpun dari dana infaq dan sodaqoh pengurus, anggota, serta para dermawan.

Menurut Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd, program ini selain secara umum sebagai ungkapan syukur ditetapkannya hari santri pada tanggal 22 Oktober 2015 dan tahun baru Islam, lebih dari itu juga sebagai bentuk kepedulian para guru terhadap masa depan anak yatim piatu, terutama dalam keberlangsungan pendidikan mereka.?

Pergunu DKI Jakarta Luncurkan Beasiswa Yatim Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Jakarta Luncurkan Beasiswa Yatim Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Jakarta Luncurkan Beasiswa Yatim Berprestasi

“Rasulullah SAW sudah menjelaskan dengan gamblang bahwa berbuat baik pada yatim adalah amal yang mulia. Oleh karena itu kami pengurus Pergunu DKI Jakarta akan menjalankan program ini secara berkesinambungan, terus mengajak para anggota dan dermawan untuk menyisihkan rizkinya, sehingga bisa kami salurkan setiap bulan,” ujar Aris.

PMII Cabang Tegal

Secara taktis penyaluran beasiswa ini akan berkoordinasi dengan sekolah/madrasah/pesantren di wilayah Jakarta yang direkomendasikan oleh pengurus atau anggota Pergunu DKI Jakarta. “Pelajar yang direkomendasikan tentu harus memenuhi persyaratan, diantaranya anak yatim atau yatim piatu, berprestasi secara akademik dan non akademik, kurang mampu, serta berakhlak mulia,” terang pria yang juga Ketua IV STAINU Jakarta.

PMII Cabang Tegal

Pada kesempatan yang sama, D Lutfi Hakim, MM, Ketua PC Pergunu Jakarta Timur selaku koordinator program ini menuturkan, bahwa program ini diluncurkan setelah mendapatkan masukan dan dukungan dari beberapa pihak, terkait bagaimana bisa berbuat secara nyata kepada masyarakat, serta berkesinambungan, sehingga ke depan punya efek persiapan SDM Pergunu dan NU yang unggul.?

“Pada tahap awal akan, kami salurkan 22 paket bantuan beasiswa yatim berprestasi pada beberapa madrasah dan pesantren,” ujar Dosen Universitas Assyafiiyah ini. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal PonPes, Quote, Santri PMII Cabang Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Jombang, PMII Cabang Tegal. Sidang komisi rekomendasi menyoroti berbagai isu krusial, di antaranya soal partai politik. Para muktamirin di komisi ini ingin parpol menjadi strategi atau alat untuk menyehatkan demokrasi. Bukan justru menghambat atau bahkan merusak demokrasi itu sendiri.

Alissa Wahid menyampaikan hal tersebut kepada PMII Cabang Tegal usai mengikuti sidang rekomendasi yang digelar di lantai 3 Gedung KH M Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (3/7) sore.

“Harusnya parpol tidak menghambat demokrasi. Sebaliknya, justru harus ada penguatan parpol sehingga bisa menjalankan fungsi itu dengan baik,” ujar putri sulung Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Para muktamirin di komisi ini, lanjut Alissa, juga menambahkan beberapa poin penting terkait perkembangan politik di Tanar Air. Misalnya, situasi saat ini yang membuat parpol seperti tidak memiliki kader terbaik.

“Jadi, bukan kader terbaik yang kemudian menjadi pemimpin (baik itu) gubernur, bupati, dan lainnya. Justru malah orang-orang baru yang bukan kader. Kadang malah artis yang dipilih. Itu yang kemudian dianggap sebagai hambatan demokrasi,” tandas Alissa.

PMII Cabang Tegal

Ia menambahkan, jika penataan parpol berjalan dengan baik, maka demokrasi Indonesia juga akan menggairahkan. “Harus ada perbaikan sistem pengkaderan dan sistem transparansi serta akuntabilitas keuangan parpol,” ujarnya.

Menurut pemilik nama lengkap Alissa Qothrunnada Munawwaroh ini, pelaksanaan sidang memang cukup cepat. Meski demikian, ia mengaku materi benar-benar ditelaah dengan baik bahkan ada koreksi.

PMII Cabang Tegal

Salah seorang utusan PCNU Kabupaten Sungai Penuh, Provinsi Jambi, mengatakan pembahasan soal politik membuat muktamirin cukup antusias dan penuh semangat.

“Meski ada sedikit perdebatan soal bagaimana peran Nahdliyin di bidang politik. Tentu saja kita tidak tinggal diam soal politik. NU memang tidak berpolitik tapi memperbolehkan kadernya ikut politik,” ujarnya.

Selain itu, kondisi keumatan menyangkut kondisi kehidupan umat beragama seperti umat Islam yang berada di daerah minoritas muslim seperti di Tolikara, Papua, juga dibahas. “Kami menghimbau pemerintah selaku pemegang otoritas bisa meredam konflik tersebut agar tidak merembet luas,” ujarnya.

Komisi Rekomendasi akan membahas masalah Ke-NU-an, keumatan, kebangsaan, dan internasional yang akan menjadi rekomendasi Muktamar bagi pemerintah dan pihak terkait. (Musthofa Asrori/Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Santri, Tegal PMII Cabang Tegal

Selasa, 21 November 2017

Lobang Kecil pada Sarung

Kewajiban menutup aurat dalam shalat bagi laki-laki adalah dari pusar sampai kelutut, sedangkan untuk perempuan adalah semua anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan. Bagi laki-laki kebiasaan yang berlaku adalah memakai sarung, celana atau penutup yang lain, dengan ketentuan bisa menutupi aurat. Apabila syarat menutup aurat tidak terpenuhi shalatnya tidak sah. Maka pakaian yang dipakai seseorang misalnya sarung atau celana harus bisa menutupi aurat dalam shalat.

Ada hal yang mengakibatkan shalatnya seseorang tidak sah karena terdapat lubang kecil pada sarung atau celana, sebenarnya tidak ada ukuran pasti seberapa besar lubang pada pakaian yang bisa mengakibatkan tidak terpenuhinya salah satu syarat sahnya shalat yaitu menutup aurat. Hanya saja terdapat keterangan bahwa jika melalui lubang tersebut tampak terlihat kulit dari anggota badan maka shalatnya tidak sah. Sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu’ karya Imam Nawawi,

? ? ? ? ? ? ? ?

Lobang Kecil pada Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Lobang Kecil pada Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Lobang Kecil pada Sarung

Diwajibkan menutup aurat sehingga kulit anggota badan tidak tampak terlihat

Dalam hal ini tidak terdapat ukuran seberapa besar lubang tersebut, akan tetapi tergantung dengan terlihatnya kulit, maka jika lubang tersebut kecil dan tidak terlihat kulit seseorang maka dianggap sah.

? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

Wajib menutup aurat dengan standar bisa menghalangi pandangan orang yang melihat pada warna kulit

Jika ada seseorang yang melihat lubang kecil pada sarung orang lain dan tampak terlihat warna kulit orang tersebut maka itulah ukuran yang bisa membatalkan shalat, dengan ketentuan pandangan orang normal, bukan dengan standar pandangan orang yang sedang sakit atau penyebab yang lain. (Pen. Fuad H/Red Ulil H)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal AlaSantri, IMNU, Santri PMII Cabang Tegal

Minggu, 19 November 2017

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN

Way Kanan, PMII Cabang Tegal

Santri Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) PC GP Ansor Way Kanan Lampung merupakan orang berpengetahuan, sehingga jangan mudah menerima ilmu yang tidak jelas dan mengajarkan kekerasan. Pernyataan itu disampaikan Yoga Aji Saputra, alumni Diklatsar IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser), di Blambangan Umpu, Kamis (12/5).

"Radikalisme perlu dilawan. Mengapa? Karena paham ini menganggap apa yang tidak sependapat dengan mereka dianggap bukan muslim dan darahnya halal karena dapat merusak negara. Paham radikalisme ini mempunyai agenda mengubah NKRI menjadi negara daulah khilafah," kata Yoga.

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN

Sebagai upaya mempersiapkan regenerasi dan peningkatan kapasitas kader, Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan mengirim Yoga mengikuti "Seminar Deradikalisasi Pesantren Bagi Ustadz" digelar Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada 19-21April 2016 di Provinsi Banten.

Berkaitan dengan itu, Ketua Ansor Way Kanan Gatot Arifianto meminta Yoga yang juga menjadi peserta Pesantren Kilat BPUN 2016 berbagi informasi mengenai bahaya radikalisme kepada peserta lain di Pesantren Asshidiqiyah 11 Kampung Labuhan Jaya Kecamatan Gunung Labuhan asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Gerakan radikalisme ingin mengubah dasar negara Indonesia Pancasila yang memiliki Bhineka Tunggal Ika. Contoh gerakan radikalisme ialah ISIS, mereka sejatinya berkeinginan menguasai minyak di Timur Tengah dengan mengatasnamakan agama," ujar Yoga menjelaskan.

PMII Cabang Tegal

Menurut dia pula, seorang jurnalis yang menyusup pada kelompok gerakan radikalis ISIS menemukan fakta mencengangkan. "ISIS tidak mengajarkan mengenai Islam kepada anggotanya. Mereka hanya memberikan paham radikal kepada orang-orang minim pengetahuan, karena itu, kita sebagai orang berpengetahuan jangan mudah menerima hal-hal semacam itu," pungkas Yoga.

BPUN merupakan gerakan filantropi edukasi bagi anak-anak berprestasi namun kurang mampu secara keuangan namun mampu secara intelektual. Program utama Yayasan Mata Air itu memberi materi bimbingan rohani istiqomah, motivasi, materi akademik, wawasan dan kecintaan lingkungan hidup bagi peserta, serta keterampilan jurnalistik yang dibimbing Gatot Arifianto, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Lampung dan Ketua PC GP Ansor Way Kanan. (Edo Tri Krisna/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Olahraga, RMI NU, Santri PMII Cabang Tegal

Selasa, 14 November 2017

Ketum GP Ansor: Indonesia Sudah Sesuai Syariat Islam

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah sesuai syariat Islam, maka tidak diperlukan lagi mendirikan negara Islam atau Khilafah, kata Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum PP GP Ansor dan Panglima Banser NU, dalam acara Kongkow Kebangsaan Perppu Ormas dan Ancaman Radikalisme di Ciamis, Jawa Barat, Kamis (3/8).

Ketum GP Ansor: Indonesia Sudah Sesuai Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Indonesia Sudah Sesuai Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Indonesia Sudah Sesuai Syariat Islam

"Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang sesuai syariat Islam, karena didirikan oleh para ulama, seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan lain-lainnya, karena didirikan oleh ulama maka sudah pasti sesuai dengan syariah Islam, maka tidak perlu lagi ada negara Islam atau Khilafah," kata pria yang biasa disapa Gus Yaqut itu.

Karena Indonesia didirikan oleh ulama, maka bagi warga NU, khususnya santri-santri NU memiliki kewajiban untuk membelanya.

"Indonesia ini warisan dari leluhur, para ulama dan kyai-kyai kita, maka kita wajib membelanya, sampai titik darah penghabisan, ini mati syahid yang sejati, bukan seperti yang dilakukan pelaku bom bunuh diri itu," kata Gus Yaqut dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara.

Terkait ancaman radikalisme, Gus Yaqut mengutip hasil survei Wahid Foundation tahun 2016 yang menemukan angka 11 juta orang Indonesia siap melakukan tindakan radikal.

PMII Cabang Tegal

"Indonesia sudah darurat radikalisme, survei Wahid Foundation tahun 2016 melaporkan ada 11 juta orang yang siap melakukan tindakan radikal, ini bahaya sekali," tegas putra kiai kharismatik NU, almarhum KH Cholil Bisri dari Rembang, Jawa Tengah ini.

Gus Yaqut juga menegaskan dukungan GP Ansor dan Banser NU pada Perppu Ormas. Perppu Nomor 2/2017 yang mengibaratkan sebagai aturan yang melindungi rumah dari pihak-pihak yang ingin merusak.

"Perppu Ormas itu ibarat aturan yang melarang pihak-pihak yang merusak rumah kita, Indonesia ini rumah kita bersama, tidak bisa dibiarkan ada pihak-pihak yang mau merusak," kata dia. 

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dan Panglima Tertinggi Banser NU, dia menegaskan Pemuda Ansor dan Banser NU mendukung Perppu Ormas dan siap membela NKRI. (Red: Fathoni)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ahlussunnah, Santri PMII Cabang Tegal

Jumat, 03 November 2017

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Sudah jamak diketahui, bahwa masyarakat Indonesia merupakan “penggila” sepak bola. Hal itu terbukti dengan tingginya animo suporter dari Sabang sampai Merauke ketika mendukung klub kesayangannya bertanding di Liga Indonesia. Hampir di setiap pertandingan stadion penuh sesak ribuan bahkan puluhan ribu jiwa dengan segala atribut kreatifitasnya.

Puncaknya, ketika Timnas Indonesia bertanding di level Internasional yang dianggap mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, para suporter dari berbagai daerah rela antri berjam-jam untuk memperoleh tiket demi menjadi saksi perjuangan punggawa Timnas Merah Putih.

Akan tetapi, yang tak luput dari kaca mata dunia, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.? Sebagai seorang Muslim, kewajiban shalat 5 waktu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Para suporter sepak bola Indonesia yang mayoritas Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini. Mungkin bagi mereka yang menyaksikan lewat siaran televisi dapat mengatur waktu lebih mudah antara menunaikan shalat dengan menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, bagi mereka yang menyaksikan langsung di stadion justru menjadi masalah pelik. Lama waktu mengantre tiket, berjubelnya suporter dan minimnya fasilitas musholla seolah menjadi alasan mereka untuk “pasrah”. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban shalat begitu saja.

Lantas, siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap masalah ini ? Dalam Islam, Nabi Muhammad telah bersabda: “kullukum rầ’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. Jika ditempatkan dalam konteks persepakbolaan Indonesia, pemimpin dalam hal ini adalah pengurus PSSI. Sebagai penyelenggara Liga Indonesia dan pertandingan internasional, seharusnya mereka mengerti dan memahami bahwa mayoritas suporter adalah Muslim.

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Apalagi Ketua dan mayoritas pengurus PSSI juga Muslim. Tidak selayaknya mereka sibuk dengan masalah internal yang ujung-ujungnya berebut kekuasaan. Tidak selayaknya pula hanya melakukan komersialisasi demi meraih kuntungan yang sebesar-besarnya, hingga melupakan masalah yang urgent, hak dan kewajiban suporter sebagai umat Islam. PSSI harus mengayomi mereka dengan melakukan beberapa hal.

Pertama, mengatur waktu penyelenggaraan pertandingan. PSSI hendaknya menentukan waktu-waktu pertandingan yang tidak mepet dengan batas waktu shalat. Shalat yang paling “rawan” hilang adalah shalat Dzuhur (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan sore), shalat Ashar dan Magrib (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan malam). Waktu yang paling pas menurut bagi pertandingan sepak bola Indonesia adalah ba’da shalat Ashar dan ba’da shalat Isya’. Alasannya, jarak kedua waktu shalat ini dengan shalat sesudahnya cukup panjang. Dari Ashar ke Magrib sekitar tiga jam, sedangkan dari Isya’ ke Subuh malah lebih panjang lagi. Akan tetapi, hal ini harus didukung dengan penjualan tiket yang professional.

Kedua, memperbaiki manajemen penjualan tiket. Apabila penjualan tiket masih saja seperti saat ini dengan cara mengantre berjam-jam di hari H, tentu akan membuang banyak waktu hingga shalatnya “bablas”. Karena itu, system penjualan tiket secara online hendaknya semakin diutamakan dengan waktu pengambilan tiket beberapa hari sebelum hari H. Minimal menjual tiket lebih pagi. Dengan itu para suporter bisa datang ke stadion beberapa menit sebelum kick off dimulai, tanpa kehilangan shalatnya.

PMII Cabang Tegal

Ketiga, penyediaan fasilitas shalat di dekat stadion. PSSI bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun masjid di dekat stadion yang sanggup menampung ratusan hingga ribuan jamaah. Hal ini penting agar penonton tidak terlalu jauh dan membuang-buang waktu mencari tempat untuk menunaikan shalat. Selain itu, masjid yang dekat dengan stadion juga mempengaruhi mood para suporter terhadap kewajibannya agar tidak dilupakan begitu saja.

PMII Cabang Tegal

Keempat, sosialisasi dalam internal PSSI maupun dengan elemen-elemen masyarakat. Berawal dari Pengurus Besar PSSI disalurkan kepada Pengprov PSSI, Pengcab PSSI hingga ke akar rumput perkumpulan suporter, dan akhirnya sampai ke sanubari pribadi suporter. Selain itu, perlu juga berkoordinasi dengan elemen-elemen masyarakat, di antaranya dengan ulama’ atau kyai. Pengurus PSSI bisa terjun dalam pengajian-pengajian bersama ulama’ membahas pentingnya shalat bagi umat Islam mekipun dalam keadaan hendak menyaksikan pertandingan sepak bola, sehingga shalatnya tidak terlewatkan.

Terakhir, petinggi dan pengurus PSSI (banyak yang telah Haji) mestinya memahami arti pentingnya shalat. Tentunya mereka menginginkan terwujudnya ketertiban dan sportifitas pada persepakbolaan Indonesia, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal itu dapat terwujud setelah elemen-elemen persepakbolaan Indonesia melaksanakan shalat. Setelah shalat, hati dan fikiran mereka akan terasa “adem ayem”, tenang, damai, dan terhapuslah rasa dengki yang dapat menciptakan anarkisme. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Ashsholatu tanha ‘an al-fakhsya’i wa al-munkar” (Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).

Mengingat masih sedikitnya yang membahas masalah ini, semoga saran dalam tulisan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti demi keseimbangan dunia dan akhirat kita sebagai umat Islam. Boleh kita menyaksikan pertandingan sepak bola, namun jangan sampai meninggalkan shalat. Hendaknya masalah pelaksanaan shalat ini menjadi tanggungjawab bersama antara PSSI, Suporter, dan elemen-elemen masyarakat.

Di dalam momentum peringatan tahun baru Hijriyah ini, dan sebelum dimulainya kompetisi musim depan, saatnya PSSI mulai berpikir dan berhijrah ke arah yang lebih baik dengan mengatur jadwal pertandingan sepak bola supaya tidak bentrok dengan waktu shalat. Semoga persepakbolaan Indonesia semakin berprestasi dan didukung oleh suporter yang mempunyai akhlak mulia, sebagai akibat dari pelaksanaan shalat. Amin.

?

Riza Nur Fikri

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Meme Islam, Santri, Makam PMII Cabang Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

Jelang Hari Raya, CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Adakan Tertib Lalulintas

Kedungwuni, PMII Cabang Tegal



Dewan Koordinasi Cabang CBP-KPP IPNU-IPPNU Kabupaten Pekalongan mengadakan kegiatan silaturahmi kader dan pembekalan jalan malam hari raya. Acara yang bertempat di gedung serbaguna PCNU Kabupaten Pekalongan. Dalam acara ini materi tertib lalulintas disampaikan oleh Pramono dari Polres Pekalongan.

Jelang Hari Raya, CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Adakan Tertib Lalulintas (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Hari Raya, CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Adakan Tertib Lalulintas (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Hari Raya, CBP IPNU Kabupaten Pekalongan Adakan Tertib Lalulintas

“Pelatihan ini bertujuan agar para kader CBP-KPP Kabupaten Pekalongan memiliki pengetahuan tentang keselamatan berkendara di jalan raya,” kata Yasfiudin selaku komandan DKC CBP IPNU Kabupaten Pekalongan. Ia juga berharap para kader CBP Kabupaten Pekalongan juga menjadi pelopor berkendara yang baik di masyarakat.

Murtadlo, ketua PC IPNU Kabupaten Pekalongan mengapresiasi CBP yang telah secara rutin menyelenggarakan kegiatan tahunan berupa tertib lalulitas, “Anggota CBP merupakan anggota IPNU yang mempunyai kompetensi dan tugas secara khusus dalam bidang-bidang tertentu, oleh karena itu melalui kegiatan pelatihan ini semua peserta diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kompetensi yang dimiliki khususnya dalam bidang lalulintas,” tandasnya.

“Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini adalah CBP diharapkan siap berpartisipasi aktif menyumbangkan dan membantu pihak terkait dalam pengamanan malam perayaan Idul Fitri nanti dengan ikhlas, sabar dan bertanggung jawab,” tambah Muratdlo.

PMII Cabang Tegal

Acara ini d mulai dengan apel kader peserta kemudian materi dan praktek tertib lalulintas lalu buka bersama dan ditutup shalat Tarawih berjamaah. (Aji Lukmana/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, Pahlawan PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Rabu, 06 September 2017

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Sebuah keironisan terjadi terkait Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU). Peran dan fungsi pendidikan agama lebih banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan dan organisasi kemasyarakatan dibanding dosen PAI itu sendiri.?

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fungsi Dosen PAI di PTU Diambil Alih Organisasi Kemahasiswaan

Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama (Puslitbang Penda) Balitbang dan Diklat Kemenag RI tahun 2015. Sedangkan pihak PTU sendiri tidak bisa mengontrol setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan mereka sehingga penanaman ideologinya pun tak bisa dikendalikan.

Sedangkan fakta di lapangan yang terjadi selama ini, paham-paham Islam transnasional justru banyak berkembang di PTU. Alasan inilah yang harus menjadi perhatian penuh dosen PAI di PTU agar pemahaman agama tidak bergeser dari semangat kebangsaan Indonesia yang plural.

Kenyataan bahwa pendidikan agama di PTU lebih banyak dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan memberikan kesan, peran dan tanggung jawab dosen PAI telah diambil alih oleh organisasi-organisasi tersebut.

Dalam penelitian, meskipun diakui bahwa pendidikan agama masih selaras dengan wawasan kebangsaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, pendidikan agama yang masih sesuai dengan semangat kebangsaan tersebut hanya berlangsung seper sekian menit ketimbang kegiatan dan aktivitas pendidikan agama di luar perkuliahaan.?

PMII Cabang Tegal

Penelitian itu mengungkapkan, kegiatan-kegiatan keagamaan yang mereka lakukan bersifat transnasional. Seperti yang telah kita mafhumi bersama, ideologi Islam transnasional bertujuan merongrong dasar negara Pancasila. Padahal Pancasila terbukti mampu menyatukan bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Penelitian tersebut juga menyatakan, sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik baik kuantitas maupun kualitasnya dan juga dari segi sarana dan prasarana pendidikan agama Islam masih belum maksimal.?

PMII Cabang Tegal

Selain dari segi kuantitas dan kualitas SDM, keberadaan dosen agama masih sangat terbatas. Belum satupun dosen PAI (sasaran penelitian) yang telah mencapai posisi akademik tertinggi yaitu guru besar atau profesor. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Jadwal Kajian, Santri, Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 30 Agustus 2017

Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Islam dan Muslim memiliki makna berlainan. Islam itu penuh kerahmatan, kedamaian, dan keindahan. Sementara Muslim adalah pemeluk agama Islam yang belum tentu? memiliki makna sebagaimana Islam itu sendiri.

Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim

“Namanya juga penganut, ada saja yang tidak bersesuaian dengan yang dianutnya. Bisa karena ilmunya kurang, atau boleh jadi nafsunya yang kebablasan,” terang KH Nurul Huda melalui akun Facebook pribadinya pada Senin pagi (16/1).

Dia menambahkan, Muslim itu ada yang merahmati, tapi ada juga yang suka mencaci. Sebagian Muslim mendamaikan, tetapi ada juga yang menghinakan. Ada Muslim yang suka keindahan, ada pula yang suka keburukan.

PMII Cabang Tegal

“Ini soal pilihan. Kamu pilih jadi Muslim pengasih atau pencaci? Atau mau sepakati saja, yang pencaci tidak usah disebut Muslim? Tapi KTP-nya kan Islam?” kata pria yang akrab disapa Kiai Enha.

PMII Cabang Tegal

Menurutnya, Islam itu isim masdar, sedangkan Muslim isim fa’il. Islam tak pernah berubah sejak dulu. Islam melanglang buana melintasi benua. Di Arabia, Eropa, Afrika, Britania, Amerika, Asia, dan Nusantara. Semua dapat menerima dengan indah.

Namun, lanjut Kiai Enha, Muslim adalah subjek. Ia sangat dipengaruhi lingkungan sekitar, pengalaman, dan keilmuannya.

“Saya kehabisan alasan atas perilaku sebagian Muslim yang masih senang mencaci, mengadu domba, dan merasa paling hebat di atas jagat!” tutup pemilik Istana Yatim Setu, Bekasi, Jawa Barat itu. (Aru Lego Triono/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, Aswaja, Khutbah PMII Cabang Tegal

Selasa, 29 Agustus 2017

Rais ‘Aam Rutin ke Daerah, Apa Tujuannya?

Jakarta, PMII Cabang Tegal 



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin sering hadir ke daerah bertemu kiai-kiai, pengurus, dan warga NU. Pertemuan ada yang dikemas dengan ceramah umum atau dialog, kadang berziarah atau hanya silaturahim. Padahal Kiai Ma’ruf usianya tidak muda lagi. 

Sebetulnya apa maksud Rais ‘Aam ke daerah?

Rais ‘Aam Rutin ke Daerah, Apa Tujuannya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Rutin ke Daerah, Apa Tujuannya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Rutin ke Daerah, Apa Tujuannya?

“Mereka rindu Pengurus Besar. Bahkan mereka sebagian mengatakan, ‘selama ini belum pernah didatangi Rais ‘Aam’. Jadi, ketika saya datang kepada mereka, sudah senang sekali,” jelasnya di gedung PBNU, Jakarta, Senin (2/10).  

Menurut dia, dengan didatangi Pengurus Besar, mereka merasa disapa, diorangkan, merasa dihargai. 

“Itu satu yang saya temukan,” katanya. 

PMII Cabang Tegal

Kemudian dari berbagai dialog Kiai Ma’ruf dengan jama’ah NU di daerah-daerah, ternyata mereka mempunyai semangat yang tinggi di organisasi yang didirikan para kiai di Surabaya 1926 ini. Hanya saja, mereka belum digerakkan oleh pengurus NU sendiri. 

Karena itulah, pada tiap kesempatan itu, Kiai Ma’ruf mengajak bahwa NU tidak bisa diserahkan hanya kepada pengurus saja. Pengurus itu sopir, yang punya NU itu ulama. Ulama itu tidak seluruhnya masuk struktural, tapi juga ada yang kultural. 

“Nah, yang punya NU itu ulama yang termasuk yang kultural itu,” tegasnya. 

Karena itu, lanjutnya, jangan biarkan NU hanya diurus pengurus struktural, tapi para kiai bersama-sama menggerakkan NU seperti yang dilakukan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah dan pendiri NU yang lain. 

PMII Cabang Tegal

Kiai Ma’ruf juga menyampaikan kepada mereka bahwa NU itu cirinya berakidah Ahlussunah wal-Jamaah, berikut cara berpikir, amaliyah, gerakan, juga organisasi. Setelah itu, semuanya dikonsolidasi dalam sebuah gerakan.  

“Bagaimana organisasi ini dikonsolidasi, direvitalisasi secara jam’iyyah. Karena itu, saya mengajak jama’ah NU menjadi NU jam’iyyah. Ini kita harapkan begitu.”

Untuk tujuan itu, perlu ada gerakan-gerakan yang masif mengajak kiai-kiai NU jama’ah menjadi NU jam’iyah. Kalau itu berhasil NU di Indonesia akan 90 persen. 

“Saya ingin menghidupkan apa yang saya sebut dengan semangat NU. Selanjutnya saya serahkan kepada mekanisme organisasi supaya berjalan sebagaimana mestinya,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Hikmah, Santri PMII Cabang Tegal

Kamis, 17 Agustus 2017

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

Semarang, PMII Cabang Tegal. Usai melakukan shooting film "Surban Putih" di pesantren Darut Talim Bangsri Jepara, dan di Kampus Unisnu Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), film yang disutradarai Robit Himami melakukan shooting di di kampus Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang pada Rabu (1/7).

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

Film ini memberikan pesan moral kepada masyarakat bahwa, pendidikan di pesantren memiliki ruang yang besar untuk meraih cita-cita sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Karena selain mendalami ilmu agama, juga mempelajari ilmu-ilmu yang berbasis sosial maupun penguatan keahlian sesuai dengan bakat minat yang dimiliki, ujar Khoirul Muslimin salah satu dosen FDK yang membina terlaksananya film ini.

"Modal dasar penguatan agama pada generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan bermartabat untuk membangun bangsa yang lebih sejahtera," tambahnya.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu, Robit Himami mengatakan "Film ini menjadi penanda baru bahwa Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki ruang lingkup yang luas dalam telaah keilmuan, dengan terjun langsung di dunia perfilman ini, banyak hal-hal yang baru yang didapatkan sesuai pada kajian teori yang kami dapat di bangku kuliah."

Dalam satu tahun mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi sudah memproduksi film sebanyak 7 karya, diantaranya film dengan judul (1) Paijo; (2) Tapak Kaki di Desa; (3) Karung Beras; (4) Terjawab oleh Detik; (5) Sepenggal Kisah Dua Belas AP; (6) Ngalap Berkah Pesta Lomban; dan (7) Surban Putih, pungkas Robit.

PMII Cabang Tegal

Dalam sambutan ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang Dr Turnomo Raharjo  mengucapkan "terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami menjadi tempat salah satu shooting film, semoga ini menjadi awal kerjasama kita dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen."

Dalam kesempatan yang sama di ruang rapat magister Komunikasi Abdul Wahab, M.SI. selaku Kaprodi Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan kerjasama ini diharapkan menjadi awal membuka gerbang kompetensi yang lain yang bisa dikerjasamakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang Ilmu Komunikasi.

Minanurrohman yang juga pemeran Andi mengungkapkan "Senang sekali, tentu kegiatan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk menggali ilmu dengan memerankan Andi. Tentu saya dituntut untuk bisa menjadi Andi yang sesungguhnya, harapan saya semoga apa yang saya perankan menjadi doa untuk kesuksesan saya dan teman-teman mahasiswa yang lain," tutur Minan. (Iqdasy/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, Cerita PMII Cabang Tegal

Minggu, 21 Mei 2017

Pahlawan Santri, Teladan Perjuangan untuk Indonesia

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Kemerdekaan Negara Indonesia diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pahlawan bangsa. Kaum santri juga turut berjuang, memberikan andil dan sumbangsih besar terhadap pergerakan nasional yang berujung pada kemerdekaan Indonesia. Namun, jejak para kiai pesantren dalam narasi perjuangan bangsa tidak mendapat ruang dalam sejarah resmi di negeri ini.

Inilah yang menjadi titik awal Munawir Aziz untuk menulis buku ‘Pahlawan Santri: Tulang Punggung Pergerakan Nasional’ yang dibedah di Perpustakaan DKI Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, pada Sabtu (7/5/2015).

Pahlawan Santri, Teladan Perjuangan untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pahlawan Santri, Teladan Perjuangan untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pahlawan Santri, Teladan Perjuangan untuk Indonesia

Hadir dalam bedah buku ini, beberapa tokoh dari kalangan kiai, pengurus PBNU dan pengamat sejarah militer Indonesia. Di antaranya, KH Aizzudin Abdurrahman, H Robikin Emhas, KH Salahuddin al-Ayyubi, Dr. Zainul Milal Bizawie (penulis Masterpiece Islam Nusantara), Dr. Mahrus el-Mawa (filolog, dosen IAIN Cirebon), Daniel Zuchron (Bawaslu), Chasan Habibie (Pustekkom Kemdikbud), Iwan Ong Santosa (ahli kajian sinologi dan sejarah militer), serta beberapa aktifis dari beberapa komunitas.

PMII Cabang Tegal

KH. Aizzuddin Abdurrahman (Gus Aiz), Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengapresiasi hadirnya buku ini. Gus Aiz mengungkapakan bahwa pahlawan santri merupakan referensi perjuangan yang harus ditulis ulang pada masa kini, agar generasi santri dan pemuda memahami betapa pentingnya sumbangsih para kiai pesantren ketika masa kemerdekaan.

Rais Syuriah PBNU, KH Shalahudddin al-Ayyubi mengungkapkan bahwa pahlawan santri merupakan teladan bagi warga negeri ini.? “Pahlawan Santri merupakan teladan bangsa Indonesia, yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Penulisan buku-buku sejarah perjuangan kiai-santri ini sangat penting untuk memberikan pemahaman yang lebih luas betapa para kiai sejatinya menjadi tulang punggung pergerakan nasional dan kemerdekaan negara,” terang Kiai Shalahuddin.

PMII Cabang Tegal

Penulis buku, Munawir Aziz mengungkapkan bahwa penulisan buku ‘Pahlawan Santri’ merupakan ikhtiar untuk memberikan ruang apresiasi bagi para kiai dan santri pesantren di tengah narasi sejarah bangsa.

“Perjuangan para kiai memang diniatkan dengan ikhlas dan mengabdi untuk negeri. Namun, selama ini narasi utama sejarah Indonesia tidak memberikan ruang yang cukup terhadap kontribusi para kiai pada masa perjuangan kemerdekaan. Inilah pentingnya buku, bagaimana gambaran perjuangan, visi, nilai etik para kiai dapat diteladani pada masa kini, yakni berjuang untuk bangsa Indonesia, pada bidang keahlian apapun. Menjaga agar bangsa ini tetap bersatu, tidak terpecah belah,” ungkap Munawir.

Munawir menegaskan bahwa pola politik pecah belah dan adu-domba yang menjadi strategi kolonial masih terjadi hingga kini. “Sejarah mencatat bahwa para santri dan orang-orang Tionghoa bersatu dalam perjuangan melawan penjajah. Hal ini, tampak pada masa Perang Kuning (1740-1743) dan Perang Jawa (1825-30), juga pada masa-masa akhir abad 19. Namun politik Belanda memecah mereka dengan jurang pemisah, baik struktural maupun kultural. Sekarang ini, terlihat bagaimana adu domba juga terjadi di berbagai sektor, misal antar ideologi Islam, hingga kepemimpinan. Kita harus belajar dari sejarah, agar menjadi waspada dan mengerti pola strategi politik. Para kiai dan kaum santri, jelas menjadi benteng penting kokohnya NKRI,” tegas Munawir.

Sementara, Dr. Zainul Milal Bizawie menegaskan bahwa para perjuangan nasional tidak bermula pada tahun 1908, ketika Budi Oetomo berdiri. “Sejatinya, pergerakan nasional tidak hanya dimulai pada 1808. Perjuangan nasional sudah dimulai sejak masa Dipanegara, ketika para kiai menjadi lingkaran penting untuk menggerakkan santri dan warga melawan penjajah. Ketika Perang Jawa berakhir, para kiai kemudian melakukan konsolidasi dengan mendirikan pesantren di berbagai daerah untuk merawat jaringan santri, yang kemudian bergerak pada perjuangan kemerdekaan di penjuru Nusantara,” jelas Zainul Milal.

Buku “Pahlawan Santri” berisi 29 tokoh kiai dari penjuru Nusantara yang ditulis secara biografis dan terjalin dalam perspektif yang senada, yakni perjuangan kebangsaan. Perjuangan para kiai yang ditulis dalam buku ini, menjadi sumbangsih penting yang terlewatkan pada narasi sejarah versi Sejarah Nasional Indonesia (SNI) maupun buku-buku serumpun. (Anwar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, Berita, Meme Islam PMII Cabang Tegal

Minggu, 30 April 2017

Kesombongan dan Dua Sumber Kemaksiatan

"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong seberat dzarroh (atom yang paling kecil)." Lantas ada seseorang yang berkata: Sesungguhnya ada laki-laki yang suka berpakaian indah dan bersandal bagus. Nabi saw bersabda: “sesungguhnya Allah itu Indah dan suka keindahan. Sombong adalah menentang kebenaran dan memandang rendah orang lain (al-Hadits).

? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kesombongan dan Dua Sumber Kemaksiatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesombongan dan Dua Sumber Kemaksiatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesombongan dan Dua Sumber Kemaksiatan

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

PMII Cabang Tegal

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. sungguh hanya dengan taqwalah kita dapat mengisi kehidupan ini dengan segala sifat-sifat kebaikan dan menghindar dari sifat tercela. Diantara sifat tercela yang tidak terampuni dan merupakan waisan iblis adalah kesombongan. Apakah sombong itu? Rasulullah saw bersabda ? ? ? ? ? sombong adalah menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.

PMII Cabang Tegal

Meskipun jelas bahwa mausia adalah tempatnya kesalahan dan kealpaan sebagaimana ucapan ‘al-Insan mahallul khatha’ wan nisyan’ tetapi menjadi kewajiban manusia itu sendiri berusaha menghindarkan diri dari kesalahan. Terkadang manusia merasa amat berat dalam mengekang diri dari kemaksiatan karena bisikan nafsu yang tiada henti berhembus seperti angin yang terus mengelilingi kehidupan ini. Ketika itu hendaklah manusia meminta pertolongan kepada Allah swt untuk menundukkan kebiadaban nafsu yang ada dalam diri manusia sendiri. Karena hanya Allahlah yang dapat dengan mudah menyelesaikan permasalahan nafsu ini. Namun demikian, jikalau kemaksiatan sudah tidak terhindar lagi maka bersegeralah memohon pengampuanan kepada-Nya yang disertai dengan penyesalan setulus hati.? ?

Akan tetapi jikalau kemaksiatan yang tidak terhindar itu hadir tanpa ada penyesalan karena memandang remeh suatu kemaksiatan atau rasa sombong atas tindakan kemaksiatan itu, maka sesungguhnya orang itu telah terperosok ke lubang kesalahan dua kali. Lubang pertama adalah kesalahan itu sendiri dan lubang kedua adalah kesalahan atas keberaniannya menyengaja mengerjakan sebuah kesalahan. Inilah maksiat kepada Allah yang paling besar. Inilah kedurhakaan yang pernah dilakukan oleh Iblis kepada Allah, yaitu dengan sengaja membangkang apa yang diperintahkan-Nya, padahal iblis mengerti sepenuhnya bahwa melawan perintah-Nya berarti melakukan kemakaran kepada-Nya. Inilah jenis maksiat yang tidak bisa diharapkan ampuanan dari Allah swt. na’udzubillah min dzalik

Hadirin Jama’ah Jum’at yang Dimuliakan Allah.

Itulah dua macam kemaksiatan sebagaimana diterangkan oleh Sufyan as-Tsauri bahwa:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Setiap maksiat yang terlahir karena dorongan nafsu, sesungguhnya masih ada harapan ampunan dari-Nya. Namun setiap maksiat yang lahir karena dorongan rasa sombong, sungguh tidak ada harapan pengampuanan dari-Nya. Karena demikianlah kedurhakaan yang dilakukan iblis berawal dari rasa sombong dan kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam (dengan memakan buah huldi) berawal dari dorongan syahwat.

Dari mutiara Sufyan as-Tsauri ini hendaknya diambil pelajaran bahwa kesombongan merupakan sumber kemaksiatan yang tidak dapat diampuni. Karena kesombongan itu pada hakikatnya hanyalah milik-Nya.

? ? ? ? ? : ? ? ? - ? ? ? ? - :? ( ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? )? ? ? ? ? ?)

Sifat sombong itu selendang-Ku, keagungan adalah busana-Ku. Barang siapa yang merebut salah satu dari-Ku, akan Ku lempar ia ke neraka. Dan Aku tidak peduli.

Oleh karenanya Allah dalam surat luqman ayat 18 dengan jelas-jelas menyatakan ketidak suakaan-Nya kepada orang yang sombong:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Jelas sekali ayat di atas bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong. Jika demikian dapat dibayangkan bagaimana posisi orang-orang yang tidak disukai Allah di akhirat kelak, sedangkan alam ini (dunia dan akhirat) adalah milik-Nya? pastilah Allah swt memberinya tempat yang buruk.

Sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud menjelaskannya

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? (?) ? ? ? ?.

Demikianlah khutbah kali ini bahwasannya kemaksiatan lahir melalui dua sumber kemungkinan. Pertama melalui nafsu syahwat dan kedua melalui perasaan sombong. Sesungguhnya kemaksiatan yang lahir dari kesombongan tidak dapat lagi diharapkan ampunan dari-Nya.Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulillah Saw berkata: tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong seberat dzarroh (atom yang paling kecil). Lantas ada seseorang yang berkata: sesungguhnya ada laki-laki yang suka berpakaian indah dan bersandal bagus. Nabi saw bersabda “sesungguhnya Allah itu Indah dan suka keindahan. Sombong adalah menentang kebenaran dan memandang rendah orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. (Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Sabtu, 22 April 2017

Wisuda IV, STAINU Jakarta Cetak Lulusan Mahasiswa Islam Nusantara Pertama

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Wisuda IV Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta akan digelar Selasa, (29/9/2015) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII Jakarta Timur. Tahun 2015 ini, STAINU Jakarta berhasil mencetak lulusan mahasiswa Pascasarjana Program Magister Kajian Islam Nusantara untuk pertama kalinya. Lulusan angkatan pertama untuk konsentrasi ini sebanyak 45 mahasiswa.

“Sebanyak mahsiswa tersebut telah melalui rangkaian penelitian serius tentang khazanah Islam di Nusantara di berbagai daerah,” ujar Asisten Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA, Jum’at (25/9) di Jakarta.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Cetak Lulusan Mahasiswa Islam Nusantara Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Cetak Lulusan Mahasiswa Islam Nusantara Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Cetak Lulusan Mahasiswa Islam Nusantara Pertama

Ulinnuha juga menerangkan, seluruh hasil riset mahasiswa ini dibukukan dengan mendapat ISBN dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). “Sehingga bisa dipublikasikan dan diakses secara luas,” terangnya.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu, dari tingkat D3 dan S1, STAINU Jakarta juga berhasil mencetak lulusan sebanyak 333 mahasiswa dari tiga program studi (prodi), yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Perbankan Syariah, dan Ahwalul Syaksiyah.

PMII Cabang Tegal

“Rinciannya, prodi Perbankan Syariah 57 orang, Ahwalul Syaksiyah 19 orang, sedangkan PAI sebanyak 265 orang. Jadi Wisuda Diploma, Sarjana, dan Magister tahun 2015 ini total meluluskan 386 mahasiswa,” ujar salah satu dosen STAINU Jakarta, Fariz Alniezar, M.Hum.

Dalam acara wisuda nanti, lanjut Fariz, akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj serta orasi ilmiah dari Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, dan tokoh-tokoh penting lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Makam, Santri PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock