Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, Selasa (3/05), sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta ini adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan".?

"Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka hardiknas, semoga spirit Ki Hajar Dewantara dapat bersenyawa dengan kita, dan rembug guru ini adalah forum bapak/ibu guru untuk berjuang bersama baik itu terkait kompetensi guru maupun mengenai kesejahteraan," kata Aris Adi Leksono.

? ?

Dalam Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta hadir beberapa pembicara di antaranya H Nawawi (Anggota Komis E DPRD), Mahruz (Ketua PGMI), Amin (Kementerian Agama DKI Jakarta), Muhlis (Wakil Rektor UNJ), dan Kosman Marbun (Dinas Pendidikan DKI Jakarta).

PMII Cabang Tegal

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta Djaali dan ia merespon positif kegiatan ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Sleman, PMII Cabang Tegal - Sebanyak 30 peserta pendidikan Pesantren Agraria mempelajari berbagai macam pengetahuan terkait masalah agraria mulai analisa persoalan, peta konflik, dan metode riset sejak di Kantor NU Sleman, Kamis (12/5) malam hingga Ahad (15/5). Di hari terakhir mereka bergerak ke salah satu daerah potensi konflik agraria. Di sini mereka bertemu langsung dengan warga dan menghadapi masalah agraria yang berkembang di masyarakat setempat.

Menurut Penggerak Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Muhammad Al-Fayyadl, pendidikan Pesantren Agraria ini memberikan penekanan khusus pada masalah agraria. Pesantren Agraria ini berbeda dengan pesantren-pesantren pada umumnya.

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Dalam pesantren ini, peserta tidak akan mempelajari kitab kuning seperti lazimnya pesantren yang ada. Mereka diajak memahami persoalan alam yang kini tengah menjadi masalah mendesak di masyarakat.

“Kita tidak akan belajar kitab kuning, kita akan belajar alam. Kawan-kawan diperkenalkan persoalan alam kemasyarakatan yang hari-hari ini menjadi masalah yang krusial,” kata Muhammad Al-Fayyadl.

PMII Cabang Tegal

Sementara Ketua Nahdlatul Ulama (NU) H Imam Aziz lebih memotivasi peserta pendidikan Pesantren Agraria.

PMII Cabang Tegal

“Kita menjadi sorotan karena orang bertanya, ketika terjadi konflik agraria, NU di mana? Kita harus rela dituntut seperti itu. Kita harus mau mendalami kerumitan-kerumitan itu. Kita harus mengikhlaskan diri untuk mendampingi hal-hal rumit di Indonesia,” kata H Imam Aziz di hadapan peserta yang umumnya berusia muda.

Pesantren Agraria adalah sebuah pendidikan singkat untuk mengantarkan para pesertanya masuk ke dalam isu agraria hingga gerakan pendampingan. Pendidikan yang berlangsung selama empat hari ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sleman dan FNKSDA Yogyakarta. (Ubaidillah Fatawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, Nasional, Khutbah PMII Cabang Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

NU Usung Politik Tingkat Tinggi

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial dan keagamaan tidak lepas dari aktivitas politik. Namun, aktivitas politik yang digiatkan NU bukan politik praktis, tetapi lebih merupakan politik tingkat tinggi.

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani saat dihubungi PMII Cabang Tegal, Selasa (7/5) siang. KH Malik Madani merujuk pemahaman politik tingkat tinggi pada sebuah moralitas dan integritas yang menjiwai aktivitas politik praktis.

NU Usung Politik Tingkat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Usung Politik Tingkat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Usung Politik Tingkat Tinggi

KH Malik Madani menyebut kegiatan politik praktis sebagai as-siyatud dunya. Politik praktis itu lebih mengacu pada perebutan kekuasaan dan perolehan kursi semata. NU tidak bergerak pada lingkaran politik praktis seperti itu.

PMII Cabang Tegal

“NU mengedepankan politik tingkat tinggi, as-siyasatul ulya sebagai syarat mutlak bagi kegiatan politik dan bernegara. Karena, kegiatan politik tingkat tinggi lebih menyentuh kepentingan rakyat Indonesia dalam skala yang lebih luas dibanding politik kekuasaan,” ungkap KH Malik Madani.

PMII Cabang Tegal

Secara tegas, NU menuangkan gagasan politik tingkat tingginya dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas-Konbes NU 2012, September lalu di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat.

Dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Al-Waqi‘iyyah, para kiai NU membahas sejumlah persoalan penting kekinian, tambah KH Malik Madani. Pembahasan mereka mencakup masalah pengelolaan kekayaan negara, kesejahteraan rakyat, korupsi dan hukum mati koruptor, kriteria pemilihan calon legislatif dan eksekutif, kasus praktik suap, dan pengelolaan pajak.

Politik tingkat tinggi itu sudah jelas sebagai garis politik NU. Kegiatan politik seperti inilah yang sedang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia di tengah terlalu dominannya politik kekuasaan, as-siyatud dunya, tegas KH Malik Madani.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Pada hakikatnya, tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Hanya Allah SWT yang dapat mengetahui kapan hari pembalasan itu akan tiba. Tetapi, Allah telah bermurah hati memberitahukan sedikit bocoran dari sekian banyak tanda-tanda akhir zaman. Ini tentu merupakan sifat kemurahan-Nya, agar kita sebagai hamba senantiasa waspada dan segera membekali diri dengan amalan-amalan ibadah sebagai sangu (bekal) hidup di akhirat kelak.

Imam Rofi’ie sengaja menyusun buku setebal 172 halaman ini, dengan tujuan yang sangat mulia, yakni agar kita selalu menyadari bahwa hari kiamat itu pasti nyata adanya, kendati tentang kapan waktunya masih dirahasiakan oleh Allah SWT. Dan sebagai hamba-Nya yang beriman, kita dapat menelisik tanda-tanda datangnya hari kiamat tersebut melalui bukti-bukti autentik yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi.

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Di antara tanda-tanda akhir zaman, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah; ketika amanah telah disia-siakan, seperti; menyerahkan sebuah urusan (permasalahan) kepada orang yang bukan ahlinya. Pada dasarnya, menyia-nyiakan amanah terjadi karena disebabkan beberapa faktor, antara lain; ketika seseorang memiliki ambisi yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat luas, ingin memperkaya diri sendiri, minimnya ilmu pengetahuan agama, dan lain-lain.

Di negeri tercinta ini, tentu bisa kita lihat secara kasat mata, banyak pemimpin atau pejabat yang tidak lagi bisa dipercaya. Mereka kerap “menyia-nyiakan” amanah yang telah dipercayakan rakyat kepada mereka. Menyia-nyiakan di sini memiliki makna bahwa orang yang bersangkutan memendam karakter acuh tak acuh terhadap sesama, hanya mementingkan urusan perut sendiri, tak peduli jika orang lain sengsara akibat ulahnya (halaman 27-28).

PMII Cabang Tegal

Tanda-tanda akhir zaman yang berikutnya adalah ketika kebohongan semakin merajalela. Berbohong adalah sebuah sifat sekaligus penyakit berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat. Berbohong, sebagaimana pernah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu dari tanda-tandanya orang munafik. Sementara, agama mana pun di dunia ini, mengajarkan bahwa sikap orang munafik merupakan perbuatan keji dan seyogianya kita hindari. Di zaman sekarang ini, tentu kita dapat menyaksikan aksi-aksi kebohongan telah mulai marak bahkan menjadi hal yang lumrah. Ironisnya, mereka melakukan kebohongan secara terang-terangan tanpa merasa bahwa dirinya bersalah (halaman 31-35).

PMII Cabang Tegal

Bermegah-megahan dalam membangun masjid juga menjadi pertanda bahwa hari kiamat telah semakin dekat. Maksud dari “bermegah-megahan” di sini adalah ketika seseorang membangun masjid hanya untuk kebanggaan dan kesombongan hingga terpecahnya kerukunan di antara umat. Sementara masjid tersebut kosong atau sepi tanpa diisi dengan berbagai kegiatan ibadah (halaman 44).

Agama Islam sangat memuliakan kaum perempuan dan sangat menjunjung tinggi kehormatannya. Termasuk dalam tata cara berpakaian mereka pun syariat Islam telah mengaturnya dengan bijak, dengan tujuan agar mereka menjadi perempuan yang mulia dan terhormat, baik di mata sesama manusia, terlebih di mata agama (halaman 52-53). Jika kaum perempuan sudah tak lagi memiliki rasa malu mengumbar lekuk-lekuk keindahan tubuhnya, bahkan mereka kemudian merasa bangga memamerkan aurat di depan umum, maka ini menjadi sebuah indikasi bahwa hari kiamat telah semakin dekat (halaman 57).

Masih banyak tanda-tanda akhir zaman yang dipaparkan dalam buku ini. Seperti; semakin terkikisnya ilmu pengetahuan dari muka bumi ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa menimba ilmu (terutama ilmu agama) menjadi sebuah keharusan bagi setiap individu. Namun, pada kenyataannya, ilmu-ilmu agama semakin menyusut dari waktu ke waktu. Ini bisa dibuktikan dengan ketidakmampuan umat Islam untuk melaksanakan hal-hal yang telah diajaran dalam agama Islam. 

Bahkan, yang sangat menyedihkan, umat Islam semakin sedikit yang berminat mempelajari agamanya sendiri. Mereka lebih cenderung mengikuti tren budaya Barat yang sebagian besar bertentangan dengan syariat Islam. Sementara itu, kecanggihan teknologi semakin diminati untuk hal-hal negatif dan orang-orang yang pintar dalam masalah agama semakin hilang ditelan bumi. 

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menghilangkan ilmu secara sekaligus dari (dada) manusia. Akan tetapi, Allah akan menghilangkan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama. Ketika tiada lagi para ulama, maka yang akan menjadi pemimpin di muka bumi ini adalah orang-orang jahil (bodoh) yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga keberadaan para pemimpin yang seperti itu tergolong sesat dan menyesatkan orang lain (halaman 154-156).

Judul Buku : Kenali Peristiwa-peristiwa Tanda Akhir Zaman

Penulis : Imam Rofi’ie

Penerbit : Najah

Cetakan : I, September 2013

Tebal : 172 halaman

ISBN : 978-602-7663-66-4

Peresensi: Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal PonPes, Ulama, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

PMII Cabang Tegal

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

PMII Cabang Tegal

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hadits, IMNU, Ulama PMII Cabang Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Oleh Aswab Mahasin

Di dalam perjumpaan kebudayaan, seperti di tulis oleh Kuntowijoyo, “selalu ada kemungkinan bahwa kebudayaan atau ideologi yang lebih tinggi akan memengaruhi kebudayaan atau ideologi yang kurang kuat. Ideologi yang kuat akan mengubah ideologi yang lemah”. Pertanyaannya apakah selalu demikian?

Ini adalah kelanjutan dari tulisan saya di opini PMII Cabang Tegal dengan judul Meng-Indonesiakan Manusia Indonesia. Selain itu, merupakan momen tepat berbicara masalah ini, Indonesia sedang memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Tulisan ini akan memberikan wacana, bagaimana Indonesia dengan PBNU-nya (Pancasila, Bhineka, NKRI, dan UUD 45) mengurai benang kusut toleransi di tengah masyarakat multikulturalisme.

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Makna yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah, perbedaan budaya, adat, kebiasaan, suku, ras, agama, dan sebagainya (multikulturalisme) di Indonesia—jangan dianggap sebagai pertentangan untuk saling merendahkan, mengunggulkan, atau bahkan merubah. Pertemuan kebudayaan di Indonesia sangat kompleks, tidak hanya sebatas satu atau dua golongan saja.

Rumusunnya begini, dalam kebudayaan tidak ada yang lebih unggul, semuanya setara. Mengaji budaya berbeda dengan mengaji ekonomi, politik, dan ilmu lainnya. Ketika kita berbicara ekonomi perbandingannya akan kentara antara bagian Afrika dan Amerika, Indonesia dan China, sedangkan dalamkebudayaan tidak ada standar mana lebih hebat. 

PMII Cabang Tegal

Semua kebudayaan luar biasa, karena setiap peradaban manusia selalu membawa kebudayaan.Di sini batasannya adalah akhlak/moral/etika, artinya, siapa saja yang bisa bergaul dengan berbagai golongan manusia, maka ia merupakan manusia berbudaya. 

Melihat dinamika Indonesia kini, pembentukan masyarakat multikurtural sepertinya kurang sehat. Gejolak di sana-sini tumbuh dengan berbagai “wajahnya”. Ada yang mengatasnamakan agama, tidak sedikit juga mengatasnamakan kesukuan. 

Berkaca pada sejarah, banyak kasus penderitaan (memakan korban) gara-gara “gagal paham” memaknai keberagamaan (pluralisme dan multikulturalisme). Pada tahun 2012 pernah terjadi konflik antar suku di Sigi, pada tahun 2013 perang suku di Papua, dan pada tahun 1996 perang suku di Sampit. Dan sekarang ini, gesekan agama sering muncul, sebagai proses perlawanan terhadap masyarakat yang dianggap kurang Islami dan kafir. 

Tidak hanya itu, ditingkat dunia—India siklus pergaulan sangat terganggu oleh perbedaan norma-norma kasta, perbedaan bahasa dan agama. Sedangkan kesatuan di tingkat Nasional terganggu juga oleh masalah kebijaksanaan bahasa nasional. Suatu masalah bahasa nasional ada juga seperti di Filipina. Dasar dari persaingan bahasa itu yakni bahasa Taglok dan bahasa Bisayan. Ilustrasi lagi negara Federasi Nigeria di Afrika Barat menggambarkan bagaimana suatu perbedaan kebudayaan antara suku-suku bangsa dan permusuhan yang bersumber kepada alasan sosial-ekonomis antara suku-suku bangsa di negara itu, dapat menjerumuskannya ke dalam suatu perang saudara (pembrontakan Biafra yang hendak memisahkan diri dari Federasi Nigeria), kejadian itu menghambat pembangunan negara Nigeria. (Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, 2007)

Dunia sedang termakan oleh buah pikiran penghuninya sendiri, posisi dunia bertarung dengan serba ideologi dan serba identitas. Anehnya, fenomena ini terlahir di dunia yang dianggap modern, di mana dunia telah melawati aura kegelapannya, dan berada pada zaman pencerahan. 

PMII Cabang Tegal

Saya sendiri lebih sepakat mengatakan bahwa pertentangan-pertentangan yang ada sekarang lebih kepada respon ideologi yang terus menerus diperdebatkan dan dianggap tidak ideal. Terlahirnya komunisme didasari atas kritik Marx terhadap kapitalisme, lahirnya demokrasi liberal didasari atas ketidakpuasan pikiran terhadap sistem yang menekan dan sistem-sistem lainnya yang dianggap tidak memberi kebebasan, dan begitupun seterusnya. Apalagi respon budaya, tentu lebih sensitif. Begitupun pertentanagan dalam agama, sama.

Di satu sisi saya meng-“amini” kekacauan dunia dilatarbelakangi atas ideologi tanpa ide, namun di sisi lain kehadiran hal tersebut wajib sebagai keniscayaan yang tidak bisa kita sumbat. Ini adalah narasi-narasi zaman yang harus kita terima.

Dinamika tersebut merupakan proses yang wajar, dan semua berhak hadir. Hanya saja, perjumpaan itu harus kita tangkap tidak hanya sebagai efek politik belaka, atau ideologi yang kaku/normatif. Melainkan sebagai pijakan ide untuk mengisi nilai tambah dalam transformasi kebudayaan dunia, khususnya Indonesia. 

Akar masalah

Kenyataan yang tidak bisa ditolak, negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok, etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hal itu menjadi takdir pasti bagi manusia Indonesia. Kelahiran manusia ke dunia adalah keterlemparan, manusia semenjak berada di dalam perut Ibunya sudah terbeli oleh fakta-fakta, khususnya fakta yang melingkari dirinya; identitas keluarga, lingkungan, budaya, agama, dan kebiasaan.

Setiap fakta yang kita terima adalah nilai tersendiri. Pasti, standar nilai antara satu fakta dengan fakta lainnya berbeda. Dari situ tidak menutup kemungkinan ada perbedaan curam yang membuat gesekan antar setiap nilai. 

Namun, Indonesia sebagai negara-bangsa telah membangun kesepakatan objektif, dikibarkannya bendera Merah-Putih sebagai simbol jati diri bangsa, dipilihnya Pancasila sebagai filosofi, dan ditetapkannya Bhineka Tunggal Ika adalah perlambang “keperbedaan kita bagian dari kesatuan kita”, serta Undang-undang Dasar 45 merupakan tanda kemerdekaan Indonesia.

Hanya saja, keterbukaan segala rupanya pada saat ini menjadi titik tolak percampuran serba ideologi dan serba budaya. Kita tidak bisa membendung itu semua, memfilter pun kadang susah. Pada akhirnya, standar nilai yang kita miliki serasa kabur; gaya berpakaian, cara berbahasa, cara menghormati orang, dan cara mengartikan kesatuan. Efeknya, masyarakat lebih acuh dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar, didukung dengan era industri berkembang cepat. 

Pertarungan serba budaya ini menyerang dari berbagai sudut, tidak hanya kesatuan dalam arti multikulturalisme, ketahanan kebangsaan kita juga diuji oleh serentetan intimidasi kebudayaan baru yang datang, seperti; fenomena demam korea (melalui film/musik), fenomena barang bajakan (melalui tekhnologi), fenomena konspirasi pecah-belah (melalui media), fenomena pertentangan agama (melalui politik), dan masih banyak lainnya. 

Hal tersebut mungkin terlihat sepele, tapi dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana kesan. Apalagi bagi manusia Indonesia yang kagetan. Di sini saya teringat kata-kata nyelenehseorang Penyair Ahmad Adib Amrullah mengatakan, “Indonesia tetap nomer satu, tetapi orang Indonesia entah nomer berapa”. Pesan itu menyiratkan ada salah instal budaya baru di Indonesia.

Mengakibatkan manusia Indonesia kehilangan nilai-nilai kebangsaannya, seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif dalam salah satu pemberitaan PMII Cabang Tegal yang bertajuk “Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi?”, dituliskan; salah, jika tekhnologi menjadi mercusuar dalam mengukur kemajuan sebuah bangsa, justru tidak banyak yang memahami bahwa inti dari kemajuan sebuah negara adalah bagaimana mereka mampu mempertahankan identitas kebangsaannya”. 

Terlihat jelas akar masalah dari ini semua, yaitu masyarakat Indonesia terjebak oleh gesekan serba budaya, sehingga mereka menjadi lupa untuk mempertahankan identitas dan nilai-nilai kebangsaaan. Sehingga kerusakan mental manusia-manusia Indonesia terus menjalar, sampai pada tatanan yang rapuh,  kalau kita gambarkan alurnya sebagai berikut; 

Pertama, disnilia, dalam hal ini kita telah kehilangan pijakan dasar, nilai-nilai yang kita anut sebagai cara hidup bermasyarakat sedikit demi sedikit mulai luntur, dan kehilangan nilai adalah tanda dari hilangnya identitas bangsa. Efeknya ketataan terhadap hukum, penghormatan terhadap perbedaan, kedamaian hidup berdampingan, akan terganggu.

Kedua, disorder, diawali dari hilangnya nilai, orang akhirnya tidak taat terhadap hukum. Melanggar hukum menjadi kelumrahan bagi kita, Ketiga, disharmonisasi, ketika tidak ada ketaatan terhadap hukum. Untuk merajut masyarakat yang harmoni tentu susah, masyarakat menjadi acuh.

Keempat, disorganisasi, ketidak harmonisan masyarakat, punya potensi besar untuk meruntuhkan bangunan besar perbedaan, seperti perbedaan agama, suku, ras, budaya, kebiasaan, adat, dan sebagainya, Kelima, disintegrasi. Nilai hilang, tidak taat terhadap hukum, keharmonisan sirna, kesatuan luntur, maka puncak dari semuanya adalah kehancuran, ketegangan-ketegangan akan nampak terus mengisi ruang publik. Konflik mudah terlahir. Keutuhan bangsa kita menjadi taruhannya.

Pendidikan sebagai titik temu

Memberikan penawaran solusi untuk melahirkan kehidupan selaras dalam berbangsa dan bernegara tidaklah mudah (apalagi multikulturalisme), meminjam istilah Koentjaraningrat, “Secara logika, memakan waktu banyak, dan membutuhkan perpindahan satu generasi”.

Jika kita tinjau kabar bangsa kita sekarang ini, ditingkat agama banyak pergesekan antar agama dan perbedaan pandangan (potensi gesekannya cukup lumayan), namun yang mengakibatkan hal ini menjadi masalah adalah mulai tersebarnya paham radikal dengan mengusung model dakwah arogan.

Di tingkat desa, kota, dan negara, potensi terpendam untuk konflik karena hubungan antar suku, seperti orang Jawa dan orang Sunda, suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Demikian pula tidak dapat kita ingkari, hubungan antara orang batak dan melayu di Sumatera Timur, antara penduduk asli dan orang transmigran di Lampung dan Sumatera Selatan, atau permusuhan secara adat antara rakyat dari berbagai kerajaan pribumi di Timor, dan masih banyak lainnya. (Koentjaraningrat, 2007)

Dalam hal ini, untuk menyekat atau memutus tabir konflik tidak lain melalui jalur pendidikan sebagai pemahaman awal masyarakat mengenai pentingnya hidup berdampingan. Ada hal menarik pernah dituliskan oleh Paulo Freire yang mengembangkan konsep pendidikannya bertolak dari pandangan tentang manusia dan dunia. Kodrat manusia, menurut Freire, tidak saja berada dalam dunia, namun berada bersama dunia. Manusia tidak hanya hidup di dunia tetapi hidup dan berinteraksi dengan dunia. (Siti Murtiningsih, Pendidikan Alat Perlawanan, 2004)

Hal tersebut menyiratkan pembelajaran yang ditekankan dalam pendidikan lebih dulu bertujuan membina kepribadian manusia, dan pendekatannya tidak melulu relasi antara guru dan murid, menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya hasil pemberian dari pendidik saja, namun buah dari keterlibatannya secara langsung dengan realitas yang dihadapinya.

Artinya, Freire mengedepankan pendidikan juga harus menampilkan gambaran besar mengenai realitas, untuk menanamkan rasa kebersamaan dalam menghapi kenyataan sebagai permasalahan yang harus dihadapi bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah. 

Dengan demikian, untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, dan saling percaya, pendidikan tidak serta-merta mengkebiri peserta didik dalam ruanglingkup yang itu-itu saja, melainkan dibutuhkan keterlibatan nyata dari berbagai elemen dan lapisan, keluarga dan masyarakat. 

Khususnya di Indonesia, memberikan pemahaman secara langsung merupakan kewajiban, agar peserta didik sejak dini terinstal nilai-nilai kebangsaan tentang pentingnya hidup berdampingan. Dan kita semua, yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kesatuan serta keutuhan bangsa ini, harus terus konsisten mengingatkan mencontohkan, setidaknya memberikan pendidikan secara lapangan bahwa Indonesia harus dibangun dengan nilai-nilai yang luhur, nilai-nilai yang dinamis, dan nilai-nilai yang baik. Semoga Indonesia tetap menjadi bangsa dengan segudang rasanya. 

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam, Ulama PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Ayolah Sahabatku

Oleh Eko Petruk?



Untuk Sahabat/Sahabati Pergerakan pada ulang tahun PMII ke-57

Ayolah Sahabatku!

Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayolah Sahabatku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayolah Sahabatku

Apa kamu sudah kenyang menikmati hidangan ulang tahun?

Apa kamu sudah senang bertukar hadiah?

Apa kamu sudah selesai memanjatkan doa?

PMII Cabang Tegal

Ayolah Sahabatku!

Segera kita pamitan

PMII Cabang Tegal

Kita harus sadar bahwa waktu sudah memasuki senja

dan sebentar lagi malam

Aku tidak mau jika nanti kita gelagapan, lupa jalan pulang

dan aku tidak mau mendengar keluhmu kalau dalam perjalanan kakimu menginjak tai

atau terluka kena krikil, duri, beling, dan paku

Aku tidak mengada-ada

Kau tengoklah sendiri dengan matamu!

Waktu semakin senja!

Ayolah Sahabatku

Kita pulang sekarang!

Meskipun kamu yakin bahwa yang baik selalu berbiak

Kamu juga harus meyakini bahwa yang jahat pun lebih cepat berlipat

Aku tidak mau kita mati konyol malam ini, kena tenun Calon Arang dan para penerusnya

Karena besok pagi kita harus bersama-sama Bapak dan Ibu menjaga hasil bumi dari Hamaspaton yang tak henti membuat banyak petani merugi

Yogyakarta, 17 April 2017





Eko Petruk atau Eko Nurwahyudin lahir di Kebumen, 11 Januari 1996. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Peran Ulama Sangat Penting dalam Pencegahan Stunting

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Anak pendek, alias stunting merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia. Sebab, anak pendek mencerminkan kurangnya asupan gizi yang berpengaruh pada pertumbuhan anak tersebut. Untuk menanggulangi masalah stunting ini, peran ulama sangat penting dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang pencegahan stunting ini.

Peran Ulama Sangat Penting dalam Pencegahan Stunting (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Ulama Sangat Penting dalam Pencegahan Stunting (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Ulama Sangat Penting dalam Pencegahan Stunting

Hal tersebut disampaikan oleh Anggia Ermarini, Supervisor Program Stunting yang juga Sekretaris Umum PP Fatayat dalam kegiatan Deklarasi Forum Ulama Peduli Gizi, Sabtu (22/8) di lantai 5 PBNU Jakarta.

Anggi, sapaan akrabnya, memberikan pemahaman, bahwa Stunting atau pendek dibandingkan anak seusianya adalah perwujudan dari masalah kurang gizi kronis yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Anak yang stunting tidak hanya memiliki fisik yang lebih pendek dibanding anak-anak sehat, tetapi fungsi kognitifnya pun terganggu. Akibatnya, prestasi sekolah pun tidak maksimal.?

PMII Cabang Tegal

“Anak penderita stunting adalah anak yang gagal tumbuh. Implikasinya, mereka memiliki kemampuan kognitif dan daya saing yang lemah. Ini akan membawa kita kepada masalah yang lebih besar lagi, yaitu kemiskinan,” terang perempuan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal INTERNA (Indonesian Interfaith Network on HIV and AIDS) ini.

Anggi menerangkan, sebelumnya, LKNU dan Fatayat NU telah mengadakan Launching dan Pertemuan Nasional pada 1 Agustus 2013 di Jakarta yang diikuti oleh ulama di tingkat nasional, sekaligus menggalang partisipasi tokoh agama di tingkat lokal untuk membantu menanggulangi dan mencegah stunting ini.?

PMII Cabang Tegal

“Dengan jaringannya yang luas dan kegiatan-kegiatannya di akar rumput, tokoh-tokoh agama dapat menyebarluaskan narasi agama yang membawa pesan-pesan, nilai, dan norma-norma sosial yang dapat mencegah stunting,” ujar perempuan kelahiran Sragen ini.

Untuk mencegah stunting, lanjutnya, masyarakat perlu mempromosikan perilaku-perilaku kunci, yakni kunjungan ke pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan, minum pil zat besi selama kehamilan, menjaga kecukupan asupan gizi selama kehamilan, pemeriksaan setelah melahirkan, IMD (Inisiasi Menyusu Dini), ASI saja bagi anak 0-6 bulan, memberi makanan bergizi seimbang dan tetap memberi ASI setelah anak berusia di atas 6 bulan sampai 2 tahun, serta perilaku hidup bersih seperti cuci tangan pakai sabun dan penggunaan sumber air bersih. ?

“Program bantuan keuangan bagi keluarga sangat miskin seperti PKH (Program Keluarga Harapan) diharapkan dapat membantu pemenuhan makanan dan pelayanan kesehatan. Salah satu komponen penting di masyarakat untuk mempromosikan perilaku-perilaku kunci di atas, serta nilai dan norma sosial yang mendukung adalah tokoh agama,” tegasnya.?

Kegiatan ini mendapat pengarahan dari Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, serta dihadiri oleh Ketua PCNU Brebes, KH Athoillah, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Doddy Izwardy, Chief of Social Policy UNICEF, Dr Petra Hoelscher, dan 45 tokoh agama dari Kabupaten Brebes. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Kang Said Minta Warga DKI Pilih Cagub sesuai Nurani

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Siroj) mengimbau warga DKI Jakarta agar menggunakan hak pilihnya sesuai hati nurani.

“Yang senang A silakan pilih. Yang senang B, silakan pilih,” kata Kang Said seusai menyampaikan seruan moral bersama sejumlah ormas keagamaan di Gedung PBNU, Senin (17/4).

Kang Said Minta Warga DKI Pilih Cagub sesuai Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Minta Warga DKI Pilih Cagub sesuai Nurani (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Minta Warga DKI Pilih Cagub sesuai Nurani

Menjelang Pilkada, dikabarkan bahwa akan adanya pengerahan massa dari luar Jakarta dengan motif yang beragam. Kang Said menyatakan ketidaksetujuannya tentang rencana aksi tersebut. “Dari dulu saya tidak senang pengerahan massa, demonstrasi,” katanya.

PMII Cabang Tegal

Pengasuh Pesantren Luhur Ats-Tsaqofah Ciganjur Jakarta Selatan ini mengimbau warga agar memercayakan proses pemilihan kepada petugas TPS dan pihak-pihak yang berwenang.

“Mari kita percayakan, di TPS juga ada dari Bawaslu, ada dari pihak Ahok, ada pihak Anis. Kalau saya percaya, saya percaya pada Bawaslu, saya percaya pada KPU, saya percaya kepada saksi-saksi,” ujarnya.

PMII Cabang Tegal

Sementara terkait dengan merebaknya? ceramah yang berbau SARA, Kang Said meminta semua pihak menjaga persatuan serta lebih mendahulukan keselamatan bangsa.

“Mari kita dulukan, kita pentingkan keutuhan keselamatan bangsa ini. Jangan sampai seperti Suriah, Irak, Somali, Yaman.? Apa mau begitu Indonesia?” tegasnya.

“Saya pun beragama sejak kecil, shalat, haji, umrah, tapi tidak pernah mempolitisasi agama. Saya tidak pernah. Agama kita jalankan, kita amalkan dengan sebaik-baiknya,” kata kiai asal Kempek, Kabupaten Cirebon ini. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, PonPes PMII Cabang Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan

Jepara, PMII Cabang Tegal. Siswa MA Walisongo Pecangaan, Riful Mazid Maulana melalui reportasenya ‘Semarak Porsema dan OSK LP Maarif Jateng’, berhasil melenggangkan dirinya menuai prestasi sebagai Juara II Lomba Reportase Pelajar tingkat Jawa Tengah. Predikat itu diraihnya dalam Porsema dan OSK LP Maarif Jateng yang dilaksanakan di Kudus, belum lama ini. 

Diakui, prestasi yang diraih lelaki kelahiran Jepara, 15 Maret 1995 itu tidak lepas dari spirit guru Bahasa Indonesia sewaktu masih duduk di kelas II MTs Walisongo Pecangaan. Waktu itu, gurunya Ibu Asiyah memberikan apresiasi padanya. Berita yang ia buat adalah yang terbaik diantara siswa yang lain. Dan karyanya itu, oleh inisiatif guru dipajang di mading madrasahnya. 

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MA Walisongo Berprestasi Lewat Tulisan

Ia juga diminta gurunya mengelola mading sekolah dan pernah terbit satu kali edisi. “Awal kali mempunyai semangat menulis tidak lepas dari motivasi Bu Asiyah. Motivasi tersebut masih saya ingat sampai sekarang,” ingatnya.  

PMII Cabang Tegal

Spirit menulis lelaki yang tinggal di Desa Troso RT.07 RW.07 Kecamatan Pecangaan kemudian dilanjutkannya sejak masuk di MA Walisongo. Ia aktif dalam kegiatan jurnalistik di madrasahnya. Sehingga melalui keaktifannya, Ketua OSIS madrasah setempat berbuah hasil. 

Selain Juara tingkat Jawa Tengah, belum lama ini dirinya berhasil memperoleh Juara I Lomba Reportase, Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelajar (LKTIP) tingkat Kabupaten dan 10 besar Lomba Cipta dan Baca Puisi se-Karisidenan Pati. 

PMII Cabang Tegal

“Prestasi-prestasi yang saya torehkan tidak lepas dari semangat dan motivasi para pembimbing. Sehingga yang utama saya menghaturkan banyak terima kasih,” paparnya. 

Di kelas XII nanti, Mazid belum punya target khusus dalam bidang penulisan. “Untuk tahun ajaran yang akan datang saya belum mempunyai target. Saya ingin mengalir saja,” imbuhnya. 

Meski tidak bertarget, secara berkala putra pasangan Busyairi-Nur Wakhidah secara berkala menulis berita di PMII Cabang Tegal, Warta Demak dan Tilik Kampung (Suara Muria). Berita-berita itu ia tulis saat di sekolahnya ada kegiatan. “Berita-berita tersebut saya tulis tidak lain untuk mengembangkan kapasitas kepenulisan saya,” imbuhnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Islam, RMI NU, Ulama PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Bendera NU Raksasa di Lombok Pecahkan Rekor MURI

Mataram, PMII Cabang Tegal 

Setelah dzuhur, sekitar 15.000 nahdliyin turun ke jalan guna mengikuti pawai taaruf untuk menyambut Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/11).

Pawai taaruf dimulai dari Masjid Islamic Center Mataram, Nusa Tenggara Barat sampai Taman Sangkareang, Mataram, NTB.

Bendera NU Raksasa di Lombok Pecahkan Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera NU Raksasa di Lombok Pecahkan Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera NU Raksasa di Lombok Pecahkan Rekor MURI

Tak ketinggalan, dari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin, Wakil Ketua Umum PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, sejumlah pengurus PBNU, hingga Walikota Mataram juga mengikuti pawai taaruf ini. 

Saat sampai di Taman Sangkareang, Kiai Said dan rombongan disambut dengan kibaran Bendera NU raksasa. Bendera ini pun kemudian mendapat anugerah dari Museum Rekor Dunia (MURI) Indonesia sebagai bendera NU terbesar dengan ukuran 60,14 x 40,20 meter. 

PMII Cabang Tegal

Kiai Said yang menerima langsung piagam MURI tersebut mengucapkan terima kasih atas anugerah yang berikan kepada NU.

"Terima kasih," katanya diiringi wajah kegembiraan. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, PMII Cabang Tegal. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

PMII Cabang Tegal

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

PMII Cabang Tegal

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal AlaSantri, Ulama, Doa PMII Cabang Tegal

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano

Ekspedisi Islam Nusantara tiba di Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (27/5) setelah menempuh perjalanan 10 jam dari Gorontalo dengan menumpangi satu armada bus Damri. Selepas Jumatan, setelah makan siang di Jalan Roda, mereka langsung ke Tondano.

Ketika tiba di masjid Al-Falah Kyai Modjo, Ekspedisi Islam Nusantara mendirikan shalat Ashar. Kemudian berziarah ke makam Kyai Modjo, salah seorang pendukung utama Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda yang dikenal dengan Perang Jawa tahun 1825-1830.

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano

Diantar Pengurus PWNU Sulawesi Utara dan beberapa warga, Ekspedisi Islam Nusanatara yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh mengadakan tahlilan tepat di sisi makam Kyai Modjo.

Makam Kyai Modjo dikelilingi makam-makam lain, sekitar 10 makam yang dicat warna putih. Sementara makam Kyai Modjo berbeda sendiri warnanya gading. Makam-makam tersebut dinaungi sebuah bangunan berbentuk joglo kira-kira 15 m X 10 m. Di luar joglo tersebut terdapat puluhan makam yang dikelilingi rapatnya bambu dan pepohonan.

PMII Cabang Tegal

Untuk sampai ke makam tersebut, harus menaiki tangga yang lurus kemudian berbelok ke arah barat. Jaraknya tidak lebih 200 meter. Memang kompleks pemakaman tersebut terletak di sebuah bukit.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya, ketika memasuki kompleks pemakaman, terpampang keterangan tentang Kyai Modjo. Papan tersebut menceritakan bahwa rombongan Kyai Mojo yang tiba di Tondano pada akhir tahun 1929. Ia diasingkan bersama pasukannya berjumlah 62 orang, dan semuanya laki-laki.

Papan itu juga menyebutkan bahwa Kyai Mojo bernama asli Kyai Muslim Muhammad Halifah, lahir pada 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849.

Kyai Modjo diasingkan bersama pasukannya oleh penjajah Belanda ke daerah tersebut. Ia bersama pengikutnya diasingkan dengan rute dari Semarang-Batavia-Ambon-Tondano. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, RMI NU, Tokoh PMII Cabang Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah

Probolinggo, PMII Cabang Tegal - Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang XIX Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pimpinan Cabang IPNU Probolinggo melakukan kajian atas problematika pelajar daerah. Kajian ini melibatkan semua pengurus IPNU di semua tingkatan di Probolinggo.

Sekretaris IPNU Probolinggo Babussalam mengatakan bahwa warga Probolinggo mayoritas berasal dari warga NU. Di samping kuantitas pesantrennya yang begitu pesat, warga masih fanatik pada tradisi hormat pada ulama.

IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah

“Namun dengan perubahan dari zaman ke zaman, dari masa ke masa yang serba teknologi dan hidup di era globalisasi semuanya mulai tergerus. Dengan kondisi ini, peran orang tua sangatlah urgen dalam memantau pergaulan putra dan putrinya. Baik dalam hal pendidikan dan agama ataupun dalam pergaulan kesehariannya,” katanya, Kamis (4/2).

Menurut Babussalam, pelajar Probolinggo memang diakui sejak lahir sebagai warga NU. Namun tidak ada jaminan mereka memunyai ghiroh dalam hatinya yang akan selalu setia pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

PMII Cabang Tegal

“Dengan maraknya aliran-aliran yang berbagai cara mengancam keyakinan kita, dengan lihainya menghujat kita, tidak hanya melalui media masa namun kadang-kadang sebagai pendidik di pendidikan putra-putri kita. Apakah tidak pesimis dengan generasi kita,” jelasnya.

PMII Cabang Tegal

Apalagi kondisi pelajar hari ini lebih diperarah oleh logika sekuler daripada kepercayaan. Setelah mereka mengenyam pendidikan yang tidak lepas dari berbagai perbedaan adat, ras, suku, agama dan kepercayaan. Mereka berkolaborasi dengan lingkungannya. “Tidak sedikit putra-putri NU yang lupa pada ajaran nenek moyangnya yakni Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Babussalam menegaskan bahwa problematika ini merupakan tantangan bagi segenap instansi atau struktural terkait maupun masyarakat. Perlu ada sinergi maupun program yang konkret untuk menghadapinya.

“Sebagai organisasi kader NU, IPNU akan menjadi salah satu tumpuan masa depan gerakan sosial keagamaan NU. Semoga keberadaan IPNU menjadi wadah serap aspirasi dari para pelajar yang ada di Probolinggo,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian, Kyai, Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Banyuwangi, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melatih puluhan kader-kadernya menulis. Semangat belajar secara serius diperlihatkan oleh peserta. 

Yusri Nurdian Muslim, misalnya, tetap memaksakan diri untuk menulis dengan modal telepon pintar miliknya. Dalam momen latihan ini, ia menuliskan  masalah pendidikan, khususnya rotasi sistem berjalannya pendidikan yang ada di daerah.

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Kesulitan dalam menuliskan paragraf awal tak bisa dihindarkan oleh pemuda asal Kecamatan Blimbingsari ini. Namun, ia tak sungkan menanyakan kepada teman-teman yang ada di samping kanan-kirinya, tentang kebingungan apa yang harus dituliskan, bagaimana menentukan angle cerita, dan berbagai hal teknis tulis-menulis lainnya.

"Karena ini kan masih pertama kali ikut pelatihan menulis. Banyak teman-teman saya yang sudah mahir. Tapi saya akan terus coba. Wajar jika banyak tanya sana-sini. Maklumlah," tuturnya, saat dimintai keterangan di tengah-tengah acara pelatihan bertajuk IPNU Ngaji Jurnalistik Bareng Kumparan, di Aula Lantai Dua kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (22/08/2017) pagi.

Didampingi para pemateri yang hadir, Yusri tak segan-segan menunjukkan hasil tulisannya kepada teman dan narasumber. Meski hasil hanya beberapa paragraf saja, Editor Kumparan Rina Nurjanah memberikan apresiasi atas tekadnya belajar menulis.

PMII Cabang Tegal

"Meski ide pokok antarparagraf kurang sinkron dan banyak typo. Tapi tak mengapalah. Karena masih proses tahap awal ia belajar. Saya sangat mengapresiasi sekali tekadnya belajar menulis," ungkap Rina.

Hal yang tidak disangka Yusri memiliki harapan dan cita-cita yang terlampau tinggi, bagi kalangan penulis tingkat awal. "Saya juga memiliki cita-cita ingin jadi penulis buku best seller yang setara dengan Andrea Hirata," tutup Yusri.

Di acara ini mereka juga diajak untuk membuat akun baru di Media Kumparan. Para peserta dipersilahkan untuk membuat tulisan apapun di sana. "Karena misi kami adalah memberikan edukasi kepenulisan dan sekaligus memberikan motivasi penulis baru tetap menulis dalam wadah Media Kumparan," jelas Rina. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pertandingan, Ulama, AlaNu PMII Cabang Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Pelajar NU Kota Surabaya melihat beberapa kegagalan dari sejumlah target program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Mereka memandang program ini tidak terlaksana dengan baik.

Menurut Wakil Ketua IPNU Kota Surabaya M Najih Arromadloni, sebagai negara yang berpartisipasi aktif dalam dunia Internasional, Indonesia memang berkomitmen untuk mencapai target pembangunan internasional sebagai salah satu jalan untuk juga memajukan kesejahteraan masyarakat.

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)

Namun, kata Najih, pada pencapaian target pembangunan millenia (MDGs) sebelumnya di tahun 2000-2015 Indonesia tidak berhasil mencapai 4 target dari 8 target yang ditentukan. Kurangnya partisipasi publik adalah salah satu hal krusial yang pemerintah Indonesia evaluasi untuk lebih ditingkatkan lagi

PMII Cabang Tegal

“Saat ini tujuan pembangunan dunia untuk 15 tahun ke depan telah berganti dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Sustainable Development Goals (SDG’s). Pastinya, untuk kali ini pemerintah melalui Bappenas bertekad untuk mengutamakan keterlibatan publik dalam pencapain SDGs,” kata Najih pada sarasehan bertema Generasi Muda Surabaya Mengenal Sustainable Development Goals (SDG’s), Senin (14/3).

Pada forum yang dihadiri Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua PCNU Kota Surabaya Dr Muhibbin Zuhri, dan Dosen Universitas Jember Dr Tri Candra, Najih percaya bahwa untuk SDGs kali ini perlu juga ada usaha lebih dari unsur nonpemerintah untuk berinisiatif membawa Indonesia mencapai target SDGs.

PMII Cabang Tegal

“Karena itu sarasehan ini digelar dengan target agar rekan-rekanita IPNU-IPPNU terlibat aktif dan kritis dalam mengawal pembangunan berkelanjutan.”

Sementara Tri Candra melihat adanya salah satu point dalam SDG’s yang hanya akan menguntungkan kalangan atas, yaitu pembangunan infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa dalam meratifikasi SDG’s hendaknya dipersiapkan adanya perubahan sosial baik dalam bentuk horisontal maupun vertikal (industri).

Ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan mengingatkan bahwa perjuangan generasi muda NU harus kontekstual sebagaimana Hadlratusyaikh KH Hasyim yang di masa lalu memprioritaskan kemerdekaan, sebelum berpikir pembangunan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II)

Rekomendasi

Berdasarkan analisis hasil tadqiq maupun evaluasi terhadap 160 buku tersebut, beberapa rekomendasi dalam rangka tindak lanjut atas hasil tadqiq dan evaluasi diantaranya adalah:

Pertama, mengusulkan kepada para penerbit untuk tidak mencetak ulang buku pendidikan agama dan keagamaan, yang berdasarkan temuan dan rekomendasi hasil tadqiq ini dinyatakan kurang layak terbit, baik yang harus diperbaiki terlebih dahulu, hingga buku yang dinyatakan harus ditarik dari peredaran atau yang telah terlanjur beredar di pasaran maupun masyarakat pengguna. 

Kedua, mengimbau seluruh lembaga atau instansi terutama di lingkungan Kemenag dan Kemendikbud, termasuk lembaga penerbitan buku pendidikan agama dan keagamaan untuk mematuhi berbagai peraturan, sekaligus secara intensif melakukan sosialisasi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); Kamus Istilah Keagmaan (KIK); Ejaan Bahasa Indonesia (EBI); Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI No. 158 Tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0543/b/1987 tentang Pembakuan Pedoman Transliterasi Arab-Latin; KMA No. 437 Tahun 2001 tentang Pentashihan Buku-Buku yang Memuat Tulisan Ayat Al-Quran yang Diterbitkan dan Diadakan di Lingkungan Depag.

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendedah Hasil Evaluasi Buku Ajar PAI di Sekolah dan Universitas (Bagian II)

Sosialisasi juga dilakukan terhadap KMA No. 25 Tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Standar, Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan No. BD/01/2004 Tahun 2004 tentang Pedoman Penulisan, Penerbitan, dan Pentashihan Buku-Buku Keagamaan; termasuk penggunaan hadist yang terdapat dalam Kutubussittah ataupun Kutubutis’ah.

Ketiga, Direktorat Jenderal Pendidikan di lingkungan Kemenag diimbau agar melakukan evaluasi dan revisi terhadap buku tersebut, misalnya dengan melibatkan berbagai pihak atau lembaga terkait untuk mencermati kembali buku-buku keagamaan kurikulum 2013, baik yang sudah selesai maupun dalam proses penyusunan agar terhindar dari kesalahan-kesalahan serupa, terutama terkait konsistensi penerapan peraturan perundang-undangan tentang pengadaan dan penerbitan buku keagamaan. 

PMII Cabang Tegal

Keempat, perlu kerja sama yang intensif dan berkesinambungan dalam melakukan tadqiq dan penilaian buku, terutama antara Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dengan Direktorat Madrasah atau Pendis Kemenag, Puskurbuk Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, para penerbit buku, serta para pengguna utama sekolah atau madrasah maupun perguruan tinggi. 

Untuk itu, perlu dirumuskan mekanisme dan langkah-langkah teknis tentang kerjasama yang intensif antara Puslitbang Lektur dan Khazanah dengan Ditjen Pendis Kemenag, juga kementerian terkait dalam proses penyusunan, penilaian, serta pengadaan buku bahan ajar maupun buku pengayaan (bahan pustaka) bidang keagamaan.

PMII Cabang Tegal

Hasil penelitian atau tadqiq buku keagamaan yang sudah dilakukan semenjak 2006, 2008, 2012, 2013, 2015, dan terakhir 2016 ini perlu ditindaklanjuti, antara lain sebagai bahan naskah akademik dalam rangka penyempurnaan draf KMA tentang Penilaian Buku Teks dan Pustaka untuk Pendidikan Agama dan Keagamaan Pada Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi (Tahun 2016), baik untuk tujuan melengkapi KMA No. 437 Tahun 2001 yang masih tetap berlaku, maupun perumusan kebijakan yang lebih luas dalam bentuk SKB menteri baru yang diperlukan.  

Kelima, Kementerian Agama perlu menyediakan mushaf Al-Qurán standar atau kompilasi hadist yang bisa di-download  via website sehingga mudah diakses, sosialisasi lebih intensif tentang mushaf standar dan terjemahnya, sistem transliterasi yang berlaku, dan kebijakan terbaru tentang petunjuk penyusunan, penilaian, dan penerbitan buku teks ajar agama dan keagamaan untuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi. 

Terakhir, Kementerian Agama juga perlu menyelenggarakan workshop penulisan, penilaian, dan penerbitan buku agama dan keagamaan, sekaligus merumuskan mekanisme terkait kewenangan dalam mengeluarkan tanda tadqiq/tashih buku, mengeluarkan sertifikat bagi para pentadqiq melalui diklat, dan menyempurnakan serta menetapkan pedoman atau acuan penyusunan, penilaian, dan penerbitan buku teks ajar agama dan keagamaan untuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi, baik yang dirumuskan dalam bentuk buku pedoman, PMA, maupun SKB menteri. (Kendi Setiawan/Muchlishon)





Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Oleh M. Alim Khoiri

--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.

‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.

Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)
Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.

Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;

Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.

PMII Cabang Tegal

Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.

Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.

Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.

PMII Cabang Tegal

M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Doa, News, Ulama PMII Cabang Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Mahasiswa Staimafa Pati Adakan Safari Dakwah di Tanah Jambi

Pati, PMII Cabang Tegal. Sebagai kampus riset berbasis nilai-nilai pesantren, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (Staimafa) mengadakan safari dakwah di Desa Bungo Antoi Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi, Rabu (3/6).

Mahasiswa Staimafa Pati Adakan Safari Dakwah di Tanah Jambi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Staimafa Pati Adakan Safari Dakwah di Tanah Jambi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Staimafa Pati Adakan Safari Dakwah di Tanah Jambi

Kegiatan safari dakwah ini merupakan wujud pengabdian mahasiswa Staimafa di masyarakat untuk mengembangkan potensi, skill dan memberikan kreatifitas dalam bidang pendidikan maupun di bidang lainnya. 

Selama mengikuti safari dakwah yang dimulai pada tanggal 25 Mei sampai 3 Juni 2015, mahasiswa Staimafa turut aktif dalam memberikan pendampingan dalam bentuk pelatihan baca tulis Al-Qur’an, khotmil Qur’an serta di akhiri dengan mengadakan pengajian sekaligus memperingati Haul KH Abdullah Salam.

PMII Cabang Tegal

“Safari dakwah kali ini berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun ini tujuannya adalah untuk syiar Islam di luar pulau Jawa yakni di Provinsi Jambi. Hal ini, di karenakan untuk membangun ukhuwah islamiyah serta membangun relasi,” terang Siswanto, salah satu mahasiswa Staimafa. 

Selain itu, tambahnya, dengan diadakannya safari dakwah di provinsi Jambi juga untuk memberikan wawasan pengetahuan kepada mahasiswa sebagai cikal bekal sebelum terjun di masyarakat serta untuk syiar agama.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu, menurut Bapak Slamet Mustari, selaku tokoh masyarakat di Desa Bungo Antoi Provinsi Jambi menjelaskan, bahwa dengan adanya safari dakwah yang diselenggerakan oleh civitas akademik mahasiswa Staimafa memberikan dampak yang positif terhadap masyarakat. 

“Karena selama ini masyarakat belum banyak yang mengenal tentang baca tulis Al-Qur’an dengan baik serta pengetahuan di sektor agama. Dengan diadakannya safari dakwah ini, pihaknya sangat berterimakasih, karena sangat membantu sekali dalam memerangi angka buta huruf,” jelasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

Shalat Dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu dhuha. Yaitu waktu ketika matahari terbit hingga terasa panas menjelang shalat Dzuhur. Mungkin dapat diperkirakan sekitar pukul tujuh sampai pukul sebelas.? Shalat dhuha sebaiknya dilakukan setelah melewati seperempat hari. Artinya, jika satu hari (12 jam, terhitung dari pukul 5 pagi – pukul 5 sore) dibagi empat maka shalat dhuha sebaiknya dilakukan pada seperempat kedua dalam sehari, atau sekitar pukul sembilan. Sehingga setiap seperempat hari selalu ada shalat. Terhitung dari shubuh sebagai shalat pertama mengisi waktu paling dini. Kemudian shalat dhuha sebagai shalat kedua. Ketiga shalat dhuhur dan keempat shalat ashar. Jika demikian maka dalam satu hari keidupan kita tidak pernah kososng dari shalat.

Shalat dhuha memiliki beberapa fadhilah yang pertama adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw. sebagaimana beliau berwasiat kepada Abu Hurairah, ia berkata

? عÙ? أبÙ? هرÙ? رة رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? Ù‡ قال : " أوصاÙ? Ù? خلÙ? Ù„Ù? بثلاثٍ : صÙ? امِ ثلاثةِ Ø£Ù? امٍ Ù…Ù? كل شهر ØŒ وركعتÙ? الضحى ØŒ وأÙ? أوتر قبل Ø£Ù? Ø£Ù? ام " ( رواه البخارÙ? ?

Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Dhuha

Rasulullah saw, kekasihku itu berwasiat padaku tiga hal pertama puasa tiga hari setiap bulan, kedua dua rakaat dhuha (setiap hari), ketiga shalat witir sebelum tidur.

Diantara fadhilah yang lain adalah menjadikan diri bersih dari dosa yang memungkinkan terkabulnya segala do’a. Sebagaimana hadits Abu Hurairoh?

عَÙ? Ù’ أَبِÙ? هُرَÙ? ْرَةَ ØŒ Ø£ÙŽÙ? Ù‘ الÙ? َّبِÙ? ÙŽÙ‘ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ ØŒ قَالَ : " Ù…ÙŽÙ? Ù’ حَافَظَ عَلَى سُبْحَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُÙ? ُوبُهُ ØŒ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? َتْ أَكْثَرَ مِÙ? Ù’ زَبَدِ الْبَحْرِ "

Barang siapa menjaga shalat dhuha, maka Allah akan mengampunin segala dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.

PMII Cabang Tegal

Dan yang tidak kalah penting adalah fadhilah yang langsung ditegaskan oleh Allah melalui Rasulullah saw dalam hadits Qudsi

? عÙ? أبÙ? الدرداء وأبÙ? ذرِّ ( رضÙ? الله عÙ? هما ) عÙ? رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم : عÙ? الله تبارك وتعالى Ø£Ù? Ù‡ قال : ابÙ? آدم ØŒ اركع Ù„Ù? أربع ركعاتٍ Ù…Ù? أول الÙ? هار أكفك آخره " ( رواه الترمذÙ? )

Dari Abi Darda’ dan Abi Dzar dari Rasulullah saw (langsung) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala “ruku’lah untukku empat rakaat di permulaan hari (pagi), maka Aku akan mencukupimu di sisa harimu” ?

Shalat dhuha minimal dilaksanakan dua raka’at, dan yang baik adalah empat rekaat sedangkan sempunanya adalah enam raka’at, dan yang paling utama adalah ukuran maksimal yaitu delapan rakaat.Shalat dhuha sebaiknya dilakukan dua rakaat untuk satu kali salam, walaupun boleh melangsungkannya dalam empat raka’at sekaligus. Untuk dua rakaat shalat dapat dimulai dengan niat أصلى سÙ? Ø© الضحى ركعتÙ? Ù? لله تعالى ? Ushalli sunnatad dhuha rak’ataini lillahi ta’ala. Aku niat shalat dua dua raka’at karena Allah.

PMII Cabang Tegal

Kemudian dilanjutkan dengan bacaan al-Fatihah dan disusul kemudian surat was-Syamsi wa dhuhaha untuk raka’at pertama dan qul ya ayyuhal kafirun ? untuk raka’at kedua. Demikianlah selanjutnya diulang dengan bacaan surat semampunya.Adapun bacaan do’a dalam shalat dhuha sangatlah beragam akan tetapi yang masyhur adalah

? اللَّهُمَّ Ø¥Ù? ÙŽÙ‘ الضُّحَى ضَحَاؤُك وَالْبَهَا بَهَاؤُك وَالْجَمَالُ جَمَالُك وَالْقُوَّةُ قُوَّتُك وَالْقُدْرَةُ قُدْرَتُك وَالْعِصْمَةُ عِصْمَتُك اللَّهُمَّ Ø¥Ù? Ù’ كَاÙ? ÙŽ رِزْقِÙ? فِÙ? السَّمَاءِ فَأَÙ? ْزِلْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ فِÙ? الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ مُعْسِرًا فَÙ? َسِّرْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَإِÙ? Ù’ كَاÙ? ÙŽ بَعِÙ? دًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبِهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِك آتِÙ? ِÙ? مَا آتَÙ? ْت عِبَادَك الصَّالِحِÙ? Ù? ÙŽ. allahumma innad dhuhaa dhuha uka, wal bahaa bahaa-uka, wal jamaala jamaa-luka, wal quwwaata quwwatuka, wal qudrota qudrotuka, wal ishmata ishmatuka. allahumma inkaana rizqi fis-samaa-i fa-anzilhu, wainkaana fil-ardli fa akhrijhu, wainkaana mu’siron fayassirhu, wainkaana charooman fathohhirhu, wainkaana ba’iidan faqorribhu, bichaqqi dhuhaaika, wajaamalika, wabahaaika, waqudrotika, waquwwatika, waishmatika, aatini maa’ataita ‘ibaadakash-sholichiin.?

(ya allah sesungguhnya waktu dhuha adalah dhuha-mu, dan keindahan adalah keindahan-mu, dan kebagusan adalah kebagusan-mu, dan kemampuan adalah kemampuan-mu, dan kekuatan adalah kekuatan-mu, serta perlindungan adalah perlindungan-mu. ya allah apabila rizqiku berada dilangit maka mohon turunkanlah, bila di bumi mohon keluarkanlah, bila sulit mudahkanlah, bila jauh dekatkanlah, dan bila haram bersihkanlah, dengan haq dhuha-mu, keindahan-mu, kebagusan-mu, kemampuan-mu, kekuatan-mu dan perlindungan-mu, berikanlah kepadaku apa saja yang engkau berikan kepada hamba-hambamu yang sholeh).

Redaktur: Ulil Hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Ubudiyah, Ulama PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock