Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Ini Tanggapan MWCNU Kadur Jadi Responden Penelitian Pilkada Nasional

Pamekasan, PMII Cabang Tegal - Rais Syuriyah MWCNU Kadur Pamekasan menjadi salah satu sasaran pencocokan dan penelitian (coklit) nasional pilkada serentak tahun 2018, Sabtu (20/1). Pengasuh Pesantren Miftahul Anwar, Pamoroh, Kadur, Pamekasan tersebut menyambut baik petugas coklit dari KPU Pamekasan, PPK Kadur, PPS Pamoroh, dan P2DP setempat.

Kiai Ihya tampak proaktif memberikan data diri beserta keluarganya. Bahkan, dia menyatakan sangat apresiasi terhadap kinerja panitia pemlilhan calon bupati dan wakil bupati Pamekasan serta calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur.

Ini Tanggapan MWCNU Kadur Jadi Responden Penelitian Pilkada Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tanggapan MWCNU Kadur Jadi Responden Penelitian Pilkada Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tanggapan MWCNU Kadur Jadi Responden Penelitian Pilkada Nasional

"Kami bangga karena bapak-bapak cukup cekatan dalam mengupdate data," tegas Kiai Ihya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Ihya berterima kasih karena sudah dibuat sampel untuk coklit nasional. Pihaknya berharap semoga hal itu menjadi ketersambungan untuk kebaikan bersama.

PMII Cabang Tegal

Sekarang, tegasnya, sudah eranya keterbukaan, termasuk pendataan yang sering jadi masalah dalam pemilihan. Karena itu, diharapkan semangat pendataan secara terbuka terus dipertahankan.

PMII Cabang Tegal

Taraf berpikir masyarakat di Kabupaten Pamekasan, tegasnya, kini lebih radikal dibanding daerah lainnya. Untuk itu, perlu kehati-hatian.

"Perseringlah minta doa kepada masyarakat umum agar pemilihan berlangsung harmonis. Semoga kita mendapatkan ridha dari Allah," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Makam, Hadits PMII Cabang Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

NU Jateng Siap Musyawaroh, dari Politik hingga Harga Gabah

Cirebon, PMII Cabang Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah siap membahas persoalan pilitik dalam Bahsul Masail di acara Munas & Konbes NU di Kempek Cirebon.?

NU Jateng Siap Musyawaroh, dari Politik hingga Harga Gabah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jateng Siap Musyawaroh, dari Politik hingga Harga Gabah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jateng Siap Musyawaroh, dari Politik hingga Harga Gabah

Rais Syuriyah PWNU Jateng melalui Katib Syuriyah, KH Ubaidullah Sodaqoh ketika ditemui di lokasi Munas menjelamg acara pembukaan menyatakan, PWNU Jateng telah menyiapkan materi fiqhiyyah untuk membahas soal pemilihan umum, money politik, suap dan juga penentuan harga gabah oleh pemerintah.

"Kami siap membahas persoalan politik dan pemerintahan. Isu Pemilu san money politik akan kami bahas serius," ujar pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Tlogosari Kota Semarang ini, Sabtu (15/9).

PMII Cabang Tegal

Kiai Ubed (panggilan akrab katib syuriyah ini), menguraikan, pemilihan umum yang termasuk pemilihan presiden dan kepala daerah haruslah diselenggarakan untuk dan demi kemaslahatan umat. Apabila membawa mafsadat, maka harus ditinjau ulang sistem dan tata cara pemilihannya.?

PMII Cabang Tegal

Menurutnya, salah satu pasal yang patut dibahas adalah sistem pemilihan langsung atau pemilihan perwakilan. Ahli fiqih ini mengatakan, NU telah mendapat masukan berbagai pihak agar meninjau ulang sistem pemilihan kepala daerah secara langsung. ?

Di dalam sejarah Islam, sambung dia, hanya dikenal pemilihan model perwakilan. Itupun hanya berlaku untuk imam (pemimpin) tertinggi dalam negara. Yakni pengangkatan para khalifah yang terkenal sebagai khulafaur rosyidin.?

Adapun pemilihan kepala daerah, yakni gubernur, bupati/walikota, dalam masa khalifah ditunjuk oleh imam. Bukan dipilih langsung oleh rakyat.?

"Dari sejarah khalifah bisa diambil rumusan fiqih bahwa kepala daerah ditunjuk oleh imam atau sulthon. Dalam ranah Indonesia ya oleh presiden," sambung dia.

Sistem Perwakilan

Selain dasar fiqih tersebut, tambah adik kandung KH Haris Sodaqoh ini, faktor maslahat perlu jadi pertimbangan untuk meninjau ulang model Pilkada langsung. Jika melalui politik uang dengan membeli suara rakyat serta menjadi penyebab suburnya korupsi sebagai akibat dari modal pencalonan yang mahal, maka patut diganti sistem perwakilan atau bahkan penunjukan oleh presiden.

"Pilkada langsung jika membawa kerusakan, ada politik uang dan menimbulkan korupsi, bisa saja diganti sistem perwakilan atau bahkan penunjukan langsung," imbuhnya.

Adapun jika memakai sistem perwakilan, sebagaimana dulu pernah dilaksanakan, harus benar-benar melalui proses yang benar. Para pemilihnya adalah ahlul halli wal aqdi. Bukan orang fasiq.? ?

Maka menurutnya, tanggung jawab semua warga negara adalah memilih orang yang baik dan adil untuk menjadi anggota dewan sebagai wakil rakyat.

"Syarat pemilih sebagai perwakilan rakyat adalah orang yg ahlul halli wal aqdi, tegasnya.

Mengutip qoul Imam Ghozali, Ubed menukilkan, kerusakan umaro karena kerusakan ulama, dan kerusakan ulama karena hubbud dun-ya (kecintaan pada harta benda).

Ulama dalam definisi Al-Ghozali, menurut tafsirannya, adalah DPR/DPRD. Sebab fungsi ulama di zaman Al-Ghozali hidup adalah sebagai dean penasehat dan pertimbangan Sulthon. Juga sebagai pengawas pemerintahan.?

"Di zaman Imam Ghozali belum ada trias politica. Jadi ulama yang beliau katakan dalam konteks sekarang adalah DPR/DPRD. Jadi kita harus memilih anggota parlemen yang tidak serakah harta. Tentu tidak yang koruptor, tandas Ubed.

Harga Gabah Harus Menguntungkan Petani

Lebih lanjut Kiai yang senang berdiskusi di dunia maya ini menyebutkan, pihaknya akan mengawal Bahsul Masail tema ekonomi dan pemerintahan Diantaranya terkait penentuan harga gabah oleh pemerintah.

Dia jelaskan, pemerintah secara umum wajib menjamin kesejahteraan rakyat. Perlindungan kepada petani dan pengaturan perdagangan adalah bagian tanggung jawab pemerintah.

Jika pemerintah ingin mengatur harga gabah, harus yang menguntungkan petani. Bulog sebagai lembaga yang melaksanakan pembelian serta pedagang swasta perlu diatur agar membeli gabah petani dengan harga yang layak. Tidak boleh seperti selama ini. Jika petani panen harganya murah, tapi kala musim tanam harga bibit mahal sekali. Ditambah beban harga pupuk yang sering tidak terkendali.?

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Olahraga PMII Cabang Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Cirebon, PMII Cabang Tegal. Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Cirebon menggelar Harlah ke-55 serta mengukuhkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) tingkat Kecamatan se-Kabupoaten Cirebon pada Ahad, (26/4) di Halaman NU Center Sumber, Cirebon.?

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Acara tersebut sangat meriah dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, H Marwan Jafar, Bupati Cirebon, H Sunjaya Purwadisastra, Ketua Umum PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah, dan Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH, Usamah Manshur, serta para tokoh NU Cirebon.

Pada kesempatan tersebut, Marwan Jafar menjelaskan, sebagai Banom NU, Fatayat bisa memanfaatkan forum pengajian ibu-ibu yang selama ini sudah berjalan secara rutin untuk melakukan pemberdayaan membangun desa.?

PMII Cabang Tegal

"Perkumpulan ibu-ibu Fatayat yang sudah berjalan rutin, bisa dimanfaatkan untuk menyosialisasikan berbagai program dan mengambil peran dalam pembangunan desa," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Marwan juga melakukan penandatanganan MoU dengan Fatayat NU untuk mengukuhkan peran perempuan dalam pembangunan desa.?

PMII Cabang Tegal

“Kementerian Desa ingin melakukan sinergi dengan kelompok perempuan dalam hal pembangunan dan pemberdayaan perempuan masyarakat desa, pembangunan kawasan ekonomi perempuan pedesaan, pemberdayaan dan pembangunan pendidikan dan kesehatan perempuan di daerah transmigrasi dan daerah tertinggal,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah mengatakan, Fatayat NU dengan usia 65 tahun harus memberikan pendampingan terhadap masyarakat agar terlepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan.

“Semoga dengan dilantiknya PAC Fatayat NU se-Kabupaten Cirebon bisa memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya bagi pemberdayaan perempuan di desa-desa,” pungkas Ida. (Ayub Ansori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sholawat, Olahraga, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Bogor, PMII Cabang Tegal. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Bogor mengelar acara santunan kepada anak yatim di Pesantren Sunanul Huda, Kecamatan Lewiliang, Bogor, Jawa Barat, Ahad (5/7). Kegiatan sosial ini merupakan agenda rutin Muslimat NU Bogor.

“Kegiatan ini kami lakukan rutin hampir setiap bulan di kediaman ayah kami dan kami merasa senang bisa berbagi dengan sesama. Kami mengundang hampir 400 anak yatim di setiap kegiatan,” kata Ketua PC Muslimat NU Bogor Nita Sari.

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Nita berharap kegiatan ini bisa juga dilaksanakan oleh setiap Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU yang ada di Kabupaten Bogor. Pihaknya mengajak kepada masyarakat Muslim di bulan yang penuh rahmat ini untuk selalu ingat dengan mereka yang kurang beruntung.

PMII Cabang Tegal

Program yang digagas H Sasmita, ayah kandung Nita Sari, ini dinilai cukup meringankan beban mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kegiatan digelar di kediaman H Sasmita di Pesantren Sunanul Huda.

PMII Cabang Tegal

Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Bogor Lukmanul Hakim yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, selaku pengusaha ia mendorong agar kegiatan mencintai anak yatim ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan dan bersifat ceremonial belaka. Tetapi, lebih mengarah kepada jangka panjang misalnya melalui beasiswa atau yang lainya.

Selain ketua HPN Bogor, hadir pula Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nu (IPNU), tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah setempat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Jadwal Kajian, Hikmah, Olahraga PMII Cabang Tegal

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh tanggal 25 November, tahun ini diperingati dengan semangat persatuan seluruh organisasi guru yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata, dalam konferensi pers Peringatan HGN 2016 di Gedung D Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis (3/11) siang.

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Turut Meriahkan Hari Guru Nasional 2016

Organisasi guru yang terlibat dalam koordinasi peringatan HGN 2016 adalah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI).

PMII Cabang Tegal

Lebih lanjut Sumarna menyampaikan, HGN diperingati sebagai implementasi wujud kepedulian Pemerintah agar guru selalu berusaha berinovasi dan termotivasi untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran.

Tema peringatan HGN tahun ini adalah “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Tema ini dinilai sangat relevan dengan kebijakan pemerintah untuk menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan beradab di tengah-tengah percaturan kehidupan masyarakat global.

PMII Cabang Tegal

Peringatan HGN 2016 dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71. Kegiatan peringatan HGN dimulai dengan Gerak Jalan Sehat dari lapangan upacara Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud menuju Bundaran Hotel Indonesia pada hari Ahad 20 November 2016. Ada 10.000 guru dan tenaga kependidikan yang diperkirakan ikut dalam momen kali ini. Selanjutnya ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata diikuti oleh 200 orang guru dilaksanakan tanggal 22 November 2016.

Kegiatan berikutnya adalah Upacara Bendera memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 tanggal 25 November 2016 di Kompleks Kemdikbud. Upacara dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang akan bertindak sebagai Pembina upacara. Upacara peringatan HGN juga secara serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Pada Sabtu 26 November 2016 dilaksanakan Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan yang diikuti oleh 2000 orang guru. Puncak acara Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan, Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2016 dan HUT PGRI ke-71 akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2016 yang akan diikuti oleh 10.000 orang guru dan tenaga kependidikan. Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan hadir dalam kegiatan ini.

Peringatan HGN 2016 yang dilaksanakan bersamaan dan HUT PGRI ke-71 ini diselenggarakan bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta organisasi guru dan tenaga kependidikan lainnya secara bersama-sama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Wakil Sekjen Persatuan Guru Nadhatul Utama (Pergunu), Ahsan Ustadhi menyampaikan, sejak? awal Pergunu terlibat dalam persiapan peringatan HGN 2016, termasuk dalam pemilihan tema dan koordinasi lainnya. Sebagai organisasi guru dari ormas Islam terbesar di Indonesia, sejak kelahirannya, Pergunu telah terlibat bekerja sama dengam Kemdikbud. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam PMII Cabang Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Puluhan Santri Ikuti Seleksi Pemilihan Kang dan Mbak Santri 2017

Banyuwangi, PMII Cabang Tegal - Pengurus Cabang Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Kabupaten Banyuwangi menggelar ajang pemilihan  Kang dan Mbak Santri 2017. Acara yang pertama kali dihelat di Banyuwangi ini bertujuan untuk memilih duta pesantren.

"Nantinya, kita akan memilih santri putra dan putri terbaik sebagai duta pesantren. Kalau di Banyuwangi ada Jebeng Thulik, maka di pesantren kita punya Kang dan Mbak Santri," terang Ketua Panitia Fikri Aditya saat rapat teknis dan tahap seleksi di PP Bustanul Makmur, Genteng, Ahad (17/9).

Puluhan Santri Ikuti Seleksi Pemilihan Kang dan Mbak Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Santri Ikuti Seleksi Pemilihan Kang dan Mbak Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Santri Ikuti Seleksi Pemilihan Kang dan Mbak Santri 2017

Meski baru pertama kali diadakan, Pemilihan Kang dan Mbak Santri mampu menarik animo yang besar dari kalangan pesantren. "Sebagian besar pesantren di Banyuwangi telah mengirimkan delegasinya untuk mengikuti tahap seleksi ini," terang Fikri.

Pada tahap seleksi ini diikuti oleh 57 santri putra dan putri se-Banyuwangi. "Tahap seleksi ini, mereka (red para santri) mengikuti tes tulis secara serempak. Rincian soal ujian berkaitan dengan keislaman, keaswajaan, ke-NUan, wawasan kebangsaan dan tradisi serta sejarah Banyuwangi," jelas Fikri.

PMII Cabang Tegal

Tahap seleksi ini, akan dipilih 30 peserta yang terdiri dari 15 santri putra dan 15 santri putri untuk tampil di babak final. "Bagi santri yang berhasil lolos tes tulis, maka berhak mengikuti ajang final pada Ahad depan (24/9) di Sun East Mall, Genteng," tambahnya.

PMII Cabang Tegal

Selain diuji sisi pengetahuan keagamaan dan umum. Calon-calon duta pesantren ini juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam bidang yang telah ditentukan oleh panitia.

"Mereka juga harus punya kemampuan seperti halnya bisa membaca kitab kuning, hafal Alfiyah, bisa qira’ah atau taghani, dan pencak silat," tuturnya.

Sementara itu, salah satu peserta asal Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi M Sholeh Mubarok mengatakan, ajang ini sangat penting sekali untuk diikuti.

"Dalam pemilihan duta santri ini menekankan untuk memahami lebih dalam tentang sejarah, organisasi, dan tak luput penanaman rasa nasionalisme. Hal itu terbukti kita tes pertama soal-soalnya demikian. Bagi santri yang tak belajar tentang keorganisasian dan wawasan kenegaraan. Ampun sudah. Pasti dia gugur di tahap awal," jelas Sholeh.

Santri yang berusia 20 tahun ini juga menegaskan, finalis terpilih yang akan terpilih akan menjadi duta teladan untuk santri-santri lainnya.

"Saya yakin, nanti sang juara pasti memiliki cakrawala luas. Mulai dari nilai wawasan keagamaan sampai kebangsaan. Agenda ini sudah saya tunggu-tunggu selama empat tahun. Mulai awal mondok," ungkapnya. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga PMII Cabang Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

Purworejo, PMII Cabang Tegal. Dalam rangka memperingati HUT ke-68 Republik Indonesia, para ? pecinta alam asal Purworejo, Jawa Tengah, melakukan pendakian Gunung Sumbing, Jumat (16/8). Yang menarik, selain mengibarkan bendera merah putih, peserta dari IPNU Cabang Purworejo mengibarkan bendera NU sebagai lambang kesetiaan NU terhadap NKRI.

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

Koordinator kegiatan Bejo Suhartanto (40) mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk memupuk rasa cinta kepada Negara, kewajiban mengisi kemerdekaan bagi peserta sebagai generasi penerus bangsa serta motivasi hidup yang bisa diambil dari sepanjang perjalanan. Hal itu sesuai dengan tema pendakian yaitu ekspedisi merah putih.?

“Di puncak Sumbing kita menggelar upacara bendera. Walaupun dengan perlengkapan dan peralatan seadanya, namun upacara tersebut berlangsung dengan hikmad.”ujar lelaki yang akrab dipanggil mbah Bejo ini, Ahad (18/8) kemarin.?

PMII Cabang Tegal

Bejo menambahkan, selain upacara bendera juga dilaksanakan refleksi perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Pada refleksi tersebut, para peserta diajak berdiskusi tentang pentingnya memahami hakekat perjuangan para pahlawan.?

“Jutaan pahlawan gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Semua tahu tentang hal itu, namun banyak yang tidak memahaminya sehingga hal itu menjadi penting untuk kita refleksikan kemarin.”imbuhnya.

PMII Cabang Tegal

Salah seorang peserta Ahmad Naufa Khoirul Faizun (24) mengaku banyak mengambil pelajaran dan bangga bisa mendaki gunung dengan ketinggian 3371 meter diatas permukaan laut tersebut meski banyak rintangan yang menghampiri.?

“Ketika pendakian anggota kita ada yang sakit, terpelanting dan hampir putus asa, namun anggota lain memotivasi dan saling membantu hingga kebersamaan begitu menyatu. Kekuasaan Allah benar-benar saya rasakan ditengah belantara dan jalan curam yang jika saja ada hujan tentu kita sudah tak tahu lagi nasibnya.” Ujarnya.

Lebih lanjut Naufa mengatakan, kesan yang diambil dari pendakian ini adalah pelajaran berbagi satu sama lain. Menurutnya sesuatu yang mustahil bisa mencapai puncak Sumbing tanpa kebersamaan, perasaan senasib antar peserta serta kekompakan. “Kita tidak mungkin bisa mencapai puncak kalau kita tidak membunuh ego. Sikap itu tentu sangat positif kalau bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.”tandasnya.

Pendakian yang bertajuk Ekpedisi Merah Putih tersebut diikuti oleh gabungan dari berbagai element pecinta alam yang ada di Purworejo diantaranyaIkatan Ikatan Pelajar NU (IPNU) Cabang Purworejo (Gema Muda Ganesha Pecinta Alam) Gemapala SMA N1 Purworejo serta Pecinta Alam SMK 2 (PA SKANIDA) Purworejo.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukman Khakim

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Aswaja, Hadits PMII Cabang Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Menjadi Pengajak yang Bijak

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Pengajak yang Bijak

? ? ? :? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

PMII Cabang Tegal

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang dua orang bersaudara dari kalangan? Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras: yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

PMII Cabang Tegal

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran? pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa taala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Cerita tersebut mengungkapkan fakta yang menarik dan beberapa pelajaran bagi kita semua. Ahli ibadah yang sering kita asosiasikan sebagai ahli surga ternyata kasus dalam hadits itu justru sebaliknya. Sementara hamba lain yang terlihat sering melakukan dosa justru mendapat kenikmatan surga.

Mengapa bisa demikian? Karena nasib kehidupan akhirat sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Manusia tak memiliki kewenangan sama sekali untuk memvonis orang atau kelompok lain sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, dilaknat atau dirahmati. Tak ada alat ukur apa pun yang sanggup mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti.

Jika diamati, ahli ibadah dalam kisah hadits di atas terjerumus ke jurang neraka lantaran melakukan sejumlah kesalahan. Pertama, ia lancang mengambil hak Allah dengan menghakimi bahwa saudaranya “tak mendapat ampunan Allah dan tidak akan masuk surga”. Mungkin ia berangkat dari niat baik, yakni hasrat memperbaiki perilaku saudaranya yang sering berbuat dosa. Namun ia ceroboh dengan bersikap selayak Tuhan: menuding orang lain salah sembari memastikan balasan negatif yang bakal diterimanya.

Dalam konteks etika dakwah, si ahli ibadah sedang melakukan perbuatan di luar batas wewenangnya sebagai pengajak. Ia tak hanya menjadi dâ‘i (tukang ajak) tapi sekaligus hâkim (tukang vonis).? Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik, dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (An-Nahl [16]: 125)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Al-Kahfi [18]: 29)

?

Ayat ini tak hanya berpesan tentang keharusan seseorang untuk berdakwah secara arif dan santun melainkan menegaskan pula bahwa tugas seseorang hamba kepada hamba lainnya adalah sebatas mengajak atau menyampaikan. Mengajak tak sama dengan mendesak, mengajak juga bukan melarang atau menyuruh. Mengajak adalah meminta orang lain mengikuti kebaikan atau kebenaran yang kita yakini, dengan cara memotivasi, mempersuasi, sembari menunjukkan alasan-alasan yang meyakinkan. Urusan apakah ajakan itu diikuti atau tidak, kita serahkan kepada Allah subhânahu wa ta‘âlâ (tawakal).

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Kesalahan kedua yang dilakukan ahli ibadah dalam kisah tersebut adalah ia terlena terhadap prestasi ibadah yang ia raih. Hal itu dibuktikan dengan kesibukannya untuk mengawasi dan menilai perilaku orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, sikap macam ini dapat membawa seseorang pada salah satu akhlak tercela bernama tajassus, yakni gemar mencari-cari keburukan orang lain. Apalagi, bila orang yang menjadi sasaran belum tentu benar-benar berbuat salah. Seringkali lataran kesalahmahaman dan perkara teknis, sebuah perbuatan secara sekilas pandang tampak salah padahal tidak. Di sinilah pentingnya tabayun (klarifikasi) dalam ajaran Islam.

Tentu saja memperbanyak ibadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi ujub (bangga diri). Ujub merupakan penyakit hati yang cukup kronis. Ia bersembunyi di balik kelebihan-kelebihan diri kemudian pelan-pelan mengotorinya. Bisa saja seseorang selamat dari perbuatan dosa tapi ia kemudian terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam, yakni ujub. Mesti diingat, menghindari perbuatan dosa memang hal yang amat penting, tapi yang lebih penting lagi bagi seseorang yang terbebas dari dosa adalah menghindari sifat bangga diri. Sebuah maqalah bijak berujar, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Watak buruk dari kelanjutan sifat ujub biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Dakwah berasal dari lafadh da‘â-yad‘û yang secara bahasa semakna dengan an-nidâ’ dan ath-thalab. An-nidâ’ berarti memanggil, menyeru, mengajak; sementara ath-thalab dapat diterjemahkan dengan meminta atau mencari. Istilah dakwah bisa didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru kepada iman kepada Allah dan segenap syariat yang dibawa Rasulullah serta nilai-nilai positif lainnya.

Dakwah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi (‘anil) munkar. Umat Islam diperintah untuk menyebarkan pesan kebaikan (ma’ruf) dan tak boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran.? Hanya saja, dalam praktiknya semua dijalankan dalam koridor yang bijaksana, sehingga usaha amar ma’ruf terealisasi dengan baik dan pencegahan kemungkaran pun tak menimbulkan kemungkaran baru lantaran tidak dijalankan dengan cara-cara yang mungkar.

Karena itu, kita mengenal dalam proses dakwah dua hal, yaitu isi dakwah dan cara dakwah. Terkait isi, dakwah memiliki lingkup yang sangat luas, dari persoalan akidah, ibadah hingga akhlak keseharian seperti ajakan untuk tidak menggunjing dan membuang sampah sembarangan. Dakwah memang bukan monopoli tugas seorang dai, siapa pun bisa menjadi pengajak, namun dakwah menekankan pelakunya memiliki bekal ilmu yang cukup tentang hal-hal yang ingin ia serukan. Hal ini penting agar dakwah tak hanya meyakinkan tapi juga tidak sepotong-sepotong.

Yang tak kalah penting adalah cara. Betapa banyak hal-hal positif di dunia ini gagal menular karena disebarluaskan dengan cara-cara yang keliru. Begitu pula dengan dakwah. Dalam hal ini kita bisa berkaca kepada Rasulullah. Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun beliau sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan? Kunci dari kesuksesan revolusi peradaban itu adalah da‘wah bil hikmah, seruan yang digaungkan dengan cara-cara bijaksana. Akhlak Nabi lebih menonjol ketimbang ceramah-ceramahnya. Beliau tak hanya memerintah tapi juga meneladankan. Rasulullah juga pribadi yang egaliter, memahami psikologi orang lain, menghargai proses, membela orang-orang terzalimi, dan tentu saja berperangai ramah dan welas asih.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah,

Khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian bahwa ada rambu-rambu dakwah yang perlu diingat, yakni jangan membenci dan merendahkan orang lain, apalagi mencaci maki dan memojokkannya. Karena jika hal itu kita lakukan maka keluarlah kita dari motivasi dakwah sesungguhnya. Dakwah berangkat dari niat baik, untuk tujuan yang baik, dan semestinya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Itulah makna sejati dakwah. Bila ada pendakwah gemar menjelek-jelekan orang atau golongan lain, mungkin perlu diingatkan lagi tentang bahasa Arab dasar bahwa dawah artinya mengajak bukan mengejek. Sehingga, dakwah mestinya ramah bukan marah, merangkul bukan memukul.

Yang paling mengerikan tentu saja adalah dakwah dikuasai amarah dan hawa nafsu sehingga menimbulkan pemaksaan dan aksi-aksi kekerasan, hanya kerena menganggap orang lain sebagai musyrik, musuh Allah, dan karenanya harus diperangi. Jika sudah sampai pada level ini, pendakwah tak hanya sudah melenceng jauh dari esensi dakwah, tapi juga pantas menjadi sasaran dakwah itu sendiri. Al-Quran sudah sangat benderang menegaskan bahwa tak ada paksaan dalam agama, dan oleh sebab itu menggunakan pendekatan kekerasan sama dengan mencampakkan pesan ayat suci.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " . ? : ? ? ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : " ? ? "

Dari Hudzaifah radliyallâhu ‘anh, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an sampai terlihat kegembiraannya dan menjadi benteng bagi Islam, kemudian ia mencampakkannya dan membuangnya ke belakang punggung, membawa pedang kepada tetangganya dan menuduhnya syirik.” Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi, siapakah yang lebih pantas disifati syirik, yang menuduh atau yang dituduh?” Rasulullah menjawab: “Yang menuduh.” (HR Ibnu Hibban)

Na’ûdzubillâhi mindzâlik. Semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan buruk baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Tekun dalam beribadah kemudian mengajak sesamanya untuk melakukan hal yang serupa merupakan sesuatu yang dipuji dalam agama. Hanya saja, dakwah atau mengajak memiliki batasan-batasan. Setidaknya ada dua tips yang bisa dipegang agar seseorang tak melampaui batasan tugas sebagai seorang pengajak. Pertama, muhâsabah (introspeksi). Meneliti aib orang yang paling bagus adalah dimulai dari diri sendiri. Muhasabah akan mengantarkan kita pada prioritas perbaikan kualitas diri sendiri, yang secara otomatis akan membawa pengaruh pada perbaikan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ashlih nafsaka yashluh lakan nâs. Perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu.”

Kedua, tawâdlu‘ (rendah hati). Sikap ini tidak sulit tapi memang sangat berat. Rendah hati berbeda dari rendah diri. Tawaduk adalah kemenangan jiwa dari keinginan ego yang senantiasa merasa unggul: merasa paling benar, paling pintar, paling saleh, dan seterusnya—yang ujungnya meremehkan orang lain. Tawaduk membuahkan sikap menghargai orang lain, sabar, dan menghormati proses. Dalam perjalanan dakwah, tawaduk terbukti lebih menyedot banyak simpati dan menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah seruan kebaikan. Fakta ini bisa kita lihat secara jelas dalam perjuangan Nabi dan pendakwah generasi terdahulu yang tercatat sejarah hingga kini. Wallâhu a‘lam bish-shwâb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Mahbib Khoiron

*) Teks khutbah ini pernah diikutsertakan pada Sayembara Khutbah Damai yang digelar PeaceGeneration Indonesia, Gerakan Islam Cinta, Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Bandung, Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia (FSUII), Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), Penerbit Salam Books, dan MasterPeace Writing Labs

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, News PMII Cabang Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

GP Ansor Galakan Kaderisasi Indonesia Timur

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Gerakan Pemuda Ansor menekankan perlunya percepatan proses kaderisasi di wilayah Indonesia Timur, khususnya Maluku dan Papua.



GP Ansor Galakan Kaderisasi Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Galakan Kaderisasi Indonesia Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Galakan Kaderisasi Indonesia Timur

Selama ini daerah tersebut mengalami kemandekan kaderisasi sehingga ke depan akan menjadi perhatian khusus.

“Kita akan menggalakkan kaderisasi di Maluku dan Papua yang selama ini kurang terperhatikan dengan baik,” ungkap Idy Muzayyad, salah satu Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor yang membawahi wilayah Maluku dan Papua, kepada PMII Cabang Tegal di Jakarta, Rabu (19/12).

PMII Cabang Tegal

Berkenaan dengan itu, PP GP Ansor telah menfasilitasi pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Ambon pada 6-8 Desember 2012 lalu, bertempat di Pondok Pesantren Al-Ikhlash, Air Besar, Ambon. Persiapan dan pelaksanaan PKD dibantu sepenuhnya oleh Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kota Ambon di bawah kepemimpinan Daim Baco Rahawarin.

PMII Cabang Tegal

PKD diikuti oleh 35 kader dari PC GP Ansor se-Maluku. “Sengaja dipilih tempat pesantren, untuk mengingatkan kita pada perjuangan ulama NU dan semangat back to basic, yang memang juga sedang digalakkan Ansor,” tutur Idy.

Berdasarkan pengakuan sejumlah pengurus dan senior Ansor di Maluku, PKD terakhir dilaksanakan pada saat Gus Dur masih menjabat Ketua Umum PBNU, yakni sekitar tahun 1998. Itu artinya telah terjadi kevakuman pengkaderan Ansor selama kurang lebih 14 tahun.

“Empat belas tahun bukan lah masa yang sebentar. Itu menyisakan pekerjaan rumah dan hutang pengkaderan yang harus dibayar bersama oleh kepengurusan sekarang,” papar Mantan Ketua Umum PP IPNU ini.

Karena itu, tahun depan PKD akan diadakan lagi secara beruntun, baik yang difasilitasi oleh PP GP Ansor atas inisiatif PW dan PC GP Ansor maupun gabungan antara keduanya.

“Yang paling penting bagaimana pengkaderan dijalankan, karena pembenahan sistem kaderisasi menjadi misi utama kepengurusan Ansor di bawah kepemimpinan Sahabat Nusron Wahid saat ini,” imbuh Idy.

Idy menilai, sebenarnya potensi NU dan Ansor di daerah Indonesia Timur, khususnya Maluku, sangatlah besar. Hanya saja, potensi yang besar itu belum dikelola dengan baik, sehingga hidupnya organisasi lebih sering bertepatan dengan momen-momen politik khusus.

“Hal ini tidak bisa lagi dibiarkan karena dapat menimbulkan ‘the lost generation’ dan lemahnya kekuatan NU,” pungkasnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Kajian Islam, Olahraga PMII Cabang Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

STAINU Tasikmalaya Gelar Wisuda Pertama

Tasikmalaya, PMII Cabang Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Tasikmalaya menggelar wisuda untuk pertama kalinya di kampus STAINU yang juga gedung PCNU Tasikmalaya, Jl Dr Sukarjo, pada Sabtu, (24/11) pagi.

?

Wisudawan-wisudawati pertama tersebut berjumlah 63 orang dari dua program studi, yaitu Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 43 orang dan Ahwal Syahsiyah (AS) 20 orang.

STAINU Tasikmalaya Gelar Wisuda Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Tasikmalaya Gelar Wisuda Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Tasikmalaya Gelar Wisuda Pertama

?

“Alhamdulillah semua lulusan rata-rata berpredikat memuaskan,” ujar Muhdir Susilo, ketua panitia wisuda yang juga Pembantu Ketua (Puket) III Bidang Kemahasiswaan.

?

PMII Cabang Tegal

Ketua STAINU Tasikmalaya Drs H Iman Suparman MM, dalam sambutannya mengatakan, setitik ilmu yang telah didapat para lulusan supaya dimanfaatkan untuk pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

?

“Para lulusan diharapkan mampu menjadi estafet perjuangan para ulama dan pemimpin bangsa,” kata Iman yang juga Ketua PCNU Kota Tasikmlaya.

?

PMII Cabang Tegal

Lulusan STAINU juga harus hidup mandiri, tidak menggantungkan hidup kepada orang lain. ? ?

? ?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Olahraga, Pahlawan PMII Cabang Tegal

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

Kita bagaimanapun berutang budi pada orang yang meminjamkan uang. Karenanya kita dianjurkan untuk mendoakan orang yang meminjamkan uang sebagai bentuk balas budi kepadanya di samping ucapan terima kasih.

Berikut ini adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika kita membayar utang.

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

Bârakallâhu laka fî ahlika wa mâlika, wa jazâka khairan

Artinya, “Semoga Allah menurunkan keberkahan bagimu terutama untuk keluarga dan hartamu. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan-Nya.”

PMII Cabang Tegal

Doa ini merupakan bentuk terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Doa ini disebutkan Imam Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga PMII Cabang Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia

Pontianak, PMII Cabang Tegal. Al-Quran merupakan kalam ilahi yang diturunkan 14 abad yang lalu kepada seorang Nabi terakhir, Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Al-Quran merupakan rahmat bukan hanya baagi orang Islam, tapi bagi semua umat manusia dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Al-Quran Rahmat untuk Seluruh Manusia

Demikian ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada sambutan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional VII yang diselenggarakan Jam’iyyatul Qura’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) pada Selasa malam (3/7) di stadion sepak bola Sultan Syarif Abdurahman, Pontianak, Kalimantan Barat.?

“Dalam ajaran Al-Quran, kita harus jadi umat yang tawasuth, moderat. Al-Quran berbunyi, wakadzalika ja’alnakum ummatan washathan. Umat Islam harus menjadi umat yang moderat. Tidak boleh ekstrem, radikal, apalagi sampai melakukan tindakan makar,” jelas kiai yang akrab disapa Kang Said ini.

PMII Cabang Tegal

Oleh karena itu, sambung Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini, ulama Nahdlatul Ulama ? sejak dulu hingga sekarang dan seterusnya akan bersikap tawasuth menentang kekerasan, ekstremisme, bahkan terorisme.?

“Terorisme harus kita jadikan musuh bersama. Gerakan-gerakan radikal harus kita hadapi bersaama karena bertentangan dengan ajaran Al-Quran,” tuturnya.

PMII Cabang Tegal

Yang kedua, sambung Kang Said, Al-Quran mengajarkan kita agar menjadi umat yang tawazun, seimbang. Kewajiban mengamalkan agama bukana hanya sebatas ritual, tetapi membangun pepradaaban budaya, sosial, ekonomi. ? Karena itu merupakan kewajiban agama juga.

“Oleh karena itu, bagi Nahdlatul Ulama, memperjuangankan agama sama dengan memperjuangkan tanah air. Memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sama wajibnya dengan mempertahankan agama Islam,” jelasnya.

Yang terakhir, Al-Quran mengajarkan kita untuk tasamuh, toleran. Andaikan Allah menghendaki umat manusia sama, pasti Allah bisa. Tapi itu tidak dilakukan. Karena itulah kita harus bersikap toleran, karena itu merupakan ajaran Islam.

Kemudian kiai asal Cirebon, Jawa Barat, yang pernah menimba ilmu di berbagai pesantren, dan belajar selama 13 tahun di Makkah ini, mengimbau masyararakat Kalimantan Barat untuk mempertahankan , toleransi dalam keragaman.

“Bukan Indonesia kalau tanpa agama Islam. Bukan Indonesia kalau tanpa agama Katolik. Bukan Indonesia kalau tanpa Kristen. Bukan indonesia kalau tanpa Hindu, Budha, Konghucu,” tegasnya.

Kang Said menambahkan, demikian pula, bukan Indonesia kalau tanpa Dayak, Sunda, Jawa, Batak, Bugis, Ambon, Papua, Banjar, Aceh, dan seterusnya. Itulah Indonesia. Itu harus dipertahankan illa yaumil qiyamah.

“Ini merupakan pandangan Nahdlatul Ulama sejak dulu hingga sekarang dan seterusnya,” pungkasnya.

MTQ VII JQH NU ini dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono. Hadir pada kesempatan itu beberapa pengurus PBNU, Menteri Perumahan Rakyat H. Djan Faridz, Wakil Menteri Agama Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, Ketua Umum JQH NU KH Muhaimin Zen, dan Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis MH., peserta MTQ, official, serta masyarakat Kalimantan Barat.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam, Olahraga, Ulama PMII Cabang Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

Bagaimana Mama Sempur merespon gerakan Wahhabisme dari Nejd? Sebagai ajengan yang hidup di Jawa Barat, beliau menulis buku dalam bahasa Sunda sebagai panduan untuk menghadapi gerakan politik yang menggunakan baju agama tersebut. Mama Sempur ataua Ajengan Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, demikian nama lengkapnya, menulis buku “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah”.





Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini.

Sampul dan halaman pertama kitab Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah. Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis:

PMII Cabang Tegal

?2? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





PMII Cabang Tegal

(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/ Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M.

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya.

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Cerita, Olahraga PMII Cabang Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Jombang, PMII Cabang Tegal. Sidang komisi rekomendasi menyoroti berbagai isu krusial, di antaranya soal partai politik. Para muktamirin di komisi ini ingin parpol menjadi strategi atau alat untuk menyehatkan demokrasi. Bukan justru menghambat atau bahkan merusak demokrasi itu sendiri.

Alissa Wahid menyampaikan hal tersebut kepada PMII Cabang Tegal usai mengikuti sidang rekomendasi yang digelar di lantai 3 Gedung KH M Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (3/7) sore.

“Harusnya parpol tidak menghambat demokrasi. Sebaliknya, justru harus ada penguatan parpol sehingga bisa menjalankan fungsi itu dengan baik,” ujar putri sulung Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Para muktamirin di komisi ini, lanjut Alissa, juga menambahkan beberapa poin penting terkait perkembangan politik di Tanar Air. Misalnya, situasi saat ini yang membuat parpol seperti tidak memiliki kader terbaik.

“Jadi, bukan kader terbaik yang kemudian menjadi pemimpin (baik itu) gubernur, bupati, dan lainnya. Justru malah orang-orang baru yang bukan kader. Kadang malah artis yang dipilih. Itu yang kemudian dianggap sebagai hambatan demokrasi,” tandas Alissa.

PMII Cabang Tegal

Ia menambahkan, jika penataan parpol berjalan dengan baik, maka demokrasi Indonesia juga akan menggairahkan. “Harus ada perbaikan sistem pengkaderan dan sistem transparansi serta akuntabilitas keuangan parpol,” ujarnya.

Menurut pemilik nama lengkap Alissa Qothrunnada Munawwaroh ini, pelaksanaan sidang memang cukup cepat. Meski demikian, ia mengaku materi benar-benar ditelaah dengan baik bahkan ada koreksi.

PMII Cabang Tegal

Salah seorang utusan PCNU Kabupaten Sungai Penuh, Provinsi Jambi, mengatakan pembahasan soal politik membuat muktamirin cukup antusias dan penuh semangat.

“Meski ada sedikit perdebatan soal bagaimana peran Nahdliyin di bidang politik. Tentu saja kita tidak tinggal diam soal politik. NU memang tidak berpolitik tapi memperbolehkan kadernya ikut politik,” ujarnya.

Selain itu, kondisi keumatan menyangkut kondisi kehidupan umat beragama seperti umat Islam yang berada di daerah minoritas muslim seperti di Tolikara, Papua, juga dibahas. “Kami menghimbau pemerintah selaku pemegang otoritas bisa meredam konflik tersebut agar tidak merembet luas,” ujarnya.

Komisi Rekomendasi akan membahas masalah Ke-NU-an, keumatan, kebangsaan, dan internasional yang akan menjadi rekomendasi Muktamar bagi pemerintah dan pihak terkait. (Musthofa Asrori/Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Santri, Tegal PMII Cabang Tegal

Pemilukada Langsung Penyebab Politik Uang Merebak

Cirebon, PMII Cabang Tegal. Pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) langsung yang ditetapkan pemerintah melalui UU No 33 tahun 2004 menyebabkan money politik merebak di masyarakat.

“Kini menjadi lumrah masyarakat menerima politik uang. Dan merasa tidak berdosa. Bahkan pada malam hari H, mereka membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima money politic. Ini tak bisa dibiarkan!”

Pemilukada Langsung Penyebab Politik Uang Merebak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemilukada Langsung Penyebab Politik Uang Merebak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemilukada Langsung Penyebab Politik Uang Merebak

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madany saat menyampaikan pemikirannya di Komisi bahtsul masail Ad-Diniyah al-Maudlu’iyah (membahas isu-isu tematik kontemporer). Ia menyamppaikan hal itu pada sesi kedua.

PMII Cabang Tegal

“Yang kedua adalah menelan biaya yang banyak baik dari pemerintah maupun dari para calon. Sementara yang ketiga, sering menyebabkan konflik horisontal di antara pendukung.”

Menurut Malik, pada mulanya yang Pemilukada yang ditetapkan selama 8 tahun tersebut bertujuan baik, yaitu ingin mendapatkan pemimpin yang berkualitas. “Tidak selalu terbukti. Bahkan sebaliknya, dampak negatif (mafsadah)

PMII Cabang Tegal

pada masayarakat dan bangsa akibat pemilkuda telah menjadi kenyataan," ujarnya. Karena itulah, Pemilukada langsung sebaiknya ditinjau ulang.

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga PMII Cabang Tegal

Kamis, 30 November 2017

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin

Jombang, PMII Cabang Tegal. Ada yang beda dengan penampilan Presiden RI Ir H Joko Widodo di acara pembukaan Muktamar Ke-33 NU, Sabtu (1/8) malam. Mantan Wali Kota Solo ini mengenakan sarung, kain khas warga NU pada umumnya.

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin

“Saya sangat bahagia berada di antara para Nahdliyin (warga NU) dalam Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang. Saya memakai sarung untuk menjiwai kultur Nahdliyin,” tulis Jokowi di Fan Page resminya, “Presiden Joko Widodo”, Sabtu (1/8) yang diposting pukul 23.25 WIB.

Sejarah mencatat, lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta ini, sejak berdiri tahun 1926, Nahdlatul Ulama turut melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, teguh menjunjung semangat kebangsaan, menegakkan ke-Indonesia-an serta menghargai kebhinekaan.

PMII Cabang Tegal

“Oleh karena itu, saya juga mengusulkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH A Wahab Chasbullah, atas jasa-jasa beliau kepada bangsa dan negara kita,” lansirnya mengungkapkan.

Dalam rilisnya ini, Jokowi menandaskan dengan mengucapkan, selamat dan sukses atas terselenggarnya Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur. (Red: Fathoni)?

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Internasional, Berita PMII Cabang Tegal

Rabu, 29 November 2017

Ribuan Warga Tangisi Kepulangan Jenazah Ajengan Basith

Sukabumi, PMII Cabang Tegal - Kepulangan jenazah Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi Almarhum KHR. Abdul Basith dari Dubai, Uni Emirat Arab, disambut tangis oleh pihak keluarga dan juga orang-orang yang mengenalnya, pada Senin (20/03) pukul 15.45 WIB di Kargo Jenazah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sesampainya di Bandara, jenazah langsung dishalatkan dengan dipimpin oleh Ketua PBNU, KH. Abdul Manan Ghani. Usai shalat jenazah, Kiai Manan menyampaikan kepada jamaah bahwa Almarhum adalah orang yang sangat menginspirasi.

Ribuan Warga Tangisi Kepulangan Jenazah Ajengan Basith (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Tangisi Kepulangan Jenazah Ajengan Basith (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Tangisi Kepulangan Jenazah Ajengan Basith

“Almarhum menjadi inspirasi banyak orang dengan perjuangannya yang mengajarkan kedermawanan,” ungkap Kiai Manan.

PMII Cabang Tegal

Seusai dishalatkan di bandara, jenazah langsung dibawa ke Sukabumi, dengan dikawal oleh Satlantas Polres Sukabumi dan diiringi sekitar 20 mobil. Iringan mobil sampai di Sukabumi menjelang Isya, sekitar pukul 19.00 WIB.

Sesampainya di Sukabumi, tepatnya di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, warga desa menyambut kepulangan jenazah. Sepanjang jalan, mulai dari anak kecil hingga kakek-nenek melantunkan bacaan tahlil, tahmid, takbir dalam rangka menyambut jenazah Ajengan Basith, tokoh yang menjadi teladan warga, khususnya Sukabumi.

PMII Cabang Tegal

Sebelum dikebumikan, jenazah kembali dishalatkan di Masjid Pondok Pesantren Al-Amin asuhan Almarhum. Ribuan warga menggemakan tahlil dengan diiringi isak tangis.? Pada acara Tahlil tersebut, hadir pula Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Deddy Mizwar. Ia menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya KHR. Abdul Basith.

“Saya pribadi dan juga mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut berbelasungkawa atas wafatnya Ajengan Basith. Beliau orang baik dan menjadi teladan banyak orang. Namun, inilah kehendak Allah dan ini mungkin yang terbaik menurut Allah,” tutur Deddy Mizwar sembari menangis sesenggukan.

Usai dishalatkan, ribuan warga mengantarkan Almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya dan acara tahlil selesai sekitar pukul 21.00 malam.? Seperti telah diberitakan sebelumnya, Ajengan Basith wafat di Dubai saat hendak menunaikan ibadah Umroh pada hari Rabu, tanggal 15 Maret 2017, sekitar pukul 11.30 waktu setempat. (Wahyu Noerhadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Syariah PMII Cabang Tegal

Senin, 27 November 2017

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme

Mataram, PMII Cabang Tegal. Perjuangan mencegah dan melawan paham radikalisme di dunia maya berupaya terus dilakukan oleh para santri melalui media sosial. Hal ini mereka lakukan dengan menghasilkan berbagai produk hasil Workshop Countering Violent Extremism (CVE), 9-11 September 2015 di Mataram, NTB.

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme

Dari lima kelompok yang dibentuk, para peserta yang sebagian besar didominasi oleh santri dan mahasiswa ini menciptakan berbagai akun di media sosial, video kampanye damai, hingga memproduksi berbagai macam artikel.

“Dari kegiatan ini, para santri, mahasiswa, dan aktivis muda diajak untuk ikut aktif memberikan kontribusi pemikiran moderat, damai, dan toleran di media dan media sosial untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme,” ujar Muhammad Haidar, Jum’at (11/9), santri Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara yang kini mengambil jurusan Digital Communication di Surya University.

PMII Cabang Tegal

Dari kampus yang berbasis riset dan teknologi tersebut, ada empat santri yang mengikuti kegiatan Workshop, diantaranya, Muhammad Irsan Rasyad, santri Pesantren An-Nur Az-Zubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara mengambil jurusan Digital Communication, Afiq Herdika Sulistya, santri Pesantren al-Ikhlas Pati yang mengambil jurusan Physics Energy Engineering, Muhammad Syafiuddin, santri Pesantren At-Tahdzib Rejo Agung Ngoro Jombang, mengambil jurusan Human Computer Interaction, dan Haidar sendiri.

Senada dengan Haidar, Nurul Fauzi, santri Pesantren Al-Iman, Bulus, Purworejo yang kini mengambil jurusan Hukum di Universitas Indonesia (UI) mengatakan, bahwa masih banyak dari mahasiswa yang cenderung pasif terkait kampanye damai di media sosial.

PMII Cabang Tegal

“Dari kegiatan workshop ini, saya akan menularkan pengalaman ke teman-teman agar lebih mengoptimalkan media sosial untuk menyebarkan informasi dan pesan damai, serta toleransi,” ujar Fauzi yang kini aktif sebagai Ketua KMNU UI.

Dari kegiatan yang difasilitasi oleh BNPT dan FKPT NTB ini, para peserta workshop berusaha memahami pencegahan radikalisme dengan pendekatan CVE. “Pendekatan berbasis pencegahan ini dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia,” terang Imam Malik Riduan, salah satu Fasilitator workshop. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, News PMII Cabang Tegal

Jumat, 24 November 2017

Jangan Permainkan Korban Lumpur Lapindo

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan pihak-pihak terkait tidak mempermainkan korban lumpur dampak pengeboran PT Lapindo Brantas Inc dengan mengulur-ulur pemberian ganti untung.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Senin (12/2), mengatakan, pemenuhan hak rakyat yang menjadi korban semestinya menjadi prioritas, karena mereka sudah tersiksa lahir dan batin.

Jangan Permainkan Korban Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Permainkan Korban Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Permainkan Korban Lumpur Lapindo

"Lapindo sudah janji akan memberikan ganti untung Rp2,5 juta per meter. Itu dulu diselesaikan tanpa berpolemik ini bencana nasional atau bukan," katanya.

Kalau menunggu proses pemerintah menyumbang dana terlebih dulu baru ganti untung diberikan, kata Hasyim, itu artinya semakin membuat rakyat terlantar.

"Seharusnya Lapindo mengeluarkan dulu ganti untung sehingga orang-orang itu aman batinnya," kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur tersebut.

PMII Cabang Tegal

Dikatakannya, jika sejak awal penanganan lumpur Lapindo didasari ketulusan, terutama dalam memikirkan nasib para korban, maka kejadiannya tidak akan bertele-tele seperti sekarang.

Awalnya penangan diserahkan pada PT Lapindo, namun kemudian diserahkan pada Timnas. Timnas ternyata tak efektif dilapangan, sehingga persoalan dibalikkan lagi ke presiden. "Tapi itu pun berputar-putar di kabinet," katanya.

Hasyim menduga kasus Lapindo jadi sulit karena ada beberapa faktor di kabinet. Salah satunya adalah adanya pihak yang terkait dengan Lapindo duduk di kabinet.

Pada kesempatan itu Hasyim meminta dengan sangat agar pihak-pihak yang bertanggungjawab tidak lagi mempersulit penanganan kasus lumpur Lapindo dengan menempatkan kepentingan para korban sebagai prioritas utama. (ant/rif)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam, Olahraga PMII Cabang Tegal

Minggu, 19 November 2017

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN

Way Kanan, PMII Cabang Tegal

Santri Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) PC GP Ansor Way Kanan Lampung merupakan orang berpengetahuan, sehingga jangan mudah menerima ilmu yang tidak jelas dan mengajarkan kekerasan. Pernyataan itu disampaikan Yoga Aji Saputra, alumni Diklatsar IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser), di Blambangan Umpu, Kamis (12/5).

"Radikalisme perlu dilawan. Mengapa? Karena paham ini menganggap apa yang tidak sependapat dengan mereka dianggap bukan muslim dan darahnya halal karena dapat merusak negara. Paham radikalisme ini mempunyai agenda mengubah NKRI menjadi negara daulah khilafah," kata Yoga.

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Way Kanan Tegaskan Bahaya Radikalisme kepada Santri BPUN

Sebagai upaya mempersiapkan regenerasi dan peningkatan kapasitas kader, Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan mengirim Yoga mengikuti "Seminar Deradikalisasi Pesantren Bagi Ustadz" digelar Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada 19-21April 2016 di Provinsi Banten.

Berkaitan dengan itu, Ketua Ansor Way Kanan Gatot Arifianto meminta Yoga yang juga menjadi peserta Pesantren Kilat BPUN 2016 berbagi informasi mengenai bahaya radikalisme kepada peserta lain di Pesantren Asshidiqiyah 11 Kampung Labuhan Jaya Kecamatan Gunung Labuhan asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Gerakan radikalisme ingin mengubah dasar negara Indonesia Pancasila yang memiliki Bhineka Tunggal Ika. Contoh gerakan radikalisme ialah ISIS, mereka sejatinya berkeinginan menguasai minyak di Timur Tengah dengan mengatasnamakan agama," ujar Yoga menjelaskan.

PMII Cabang Tegal

Menurut dia pula, seorang jurnalis yang menyusup pada kelompok gerakan radikalis ISIS menemukan fakta mencengangkan. "ISIS tidak mengajarkan mengenai Islam kepada anggotanya. Mereka hanya memberikan paham radikal kepada orang-orang minim pengetahuan, karena itu, kita sebagai orang berpengetahuan jangan mudah menerima hal-hal semacam itu," pungkas Yoga.

BPUN merupakan gerakan filantropi edukasi bagi anak-anak berprestasi namun kurang mampu secara keuangan namun mampu secara intelektual. Program utama Yayasan Mata Air itu memberi materi bimbingan rohani istiqomah, motivasi, materi akademik, wawasan dan kecintaan lingkungan hidup bagi peserta, serta keterampilan jurnalistik yang dibimbing Gatot Arifianto, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Lampung dan Ketua PC GP Ansor Way Kanan. (Edo Tri Krisna/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Olahraga, RMI NU, Santri PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock