Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan

Klaten, PMII Cabang Tegal. Momentum Hari Raya Idul Kurban dimanfaatkan Lembaga Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Klaten untuk membagikan ratusan bungkus daging kurban ke sejumlah daerah di enam kecamatan di daerah Klaten.

“Penyaluran daging kurban kita usahakan ke daerah yang tepat sasaran, khususnya daerah yang rawan aqidah dan minus ekonomi,” terang Ketua LAZISNU Klaten Muh Cahyanto, Kamis (24/9).

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan

Cahyanto menjelaskan melalui program “Tebar Qurban Tepat Sasaran” ini, pihaknya menyalurkan ke enam kecamatan daerah penyaluran yakni Kecamatan Gantiwarno, Kebonarum, Karangnongko, Karanganom, Jatinom dan Cawas.

PMII Cabang Tegal

“Kami bekerjasama dengan beberapa panitia kurban setempat, harapannya agar daging kurban juga dapat dibagi secara merata,” ujar dia.

PMII Cabang Tegal

Ditambahkan Cahyanto, dana pengadaan kurban serta pembagiannya ini diperoleh dari para donatur, baik warga NU sendiri maupun dari masyarakat luar, yang mempercayakannya kepada LAZISNU Klaten.

Ia berharap dengan penyelenggaraan kegiatan tahunan ini, ikut membuat gembira bagi orang lain. “Pada saat ini, Allah telah mendatangkan kegembiraan bagi mereka yang berkurban dan yang menerima daging kurban. Semakin banyak orang yang berkurban maka semakin banyak pula orang yang mendapatkan kegembiraan pada saat ini,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Tegal PMII Cabang Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Den Haag, PMII Cabang Tegal - Belakangan ini ideologi populisme berbasis sentimen primordial kian menguat di berbagai penjuru dunia, termasuk di negara-negara dengan tradisi demokrasi dan hak-hak sipil yang kuat. Di benua Amerika Utara, tiga peristiwa penting yang baru-baru ini terjadi menggambarkan hal tersebut: kebijakan Presiden Trump mencegah warga negara dari tujuh negara Muslim masuk ke wilayah negara USA, pembakaran masjid di Texasm USA, dan penembakan membabi buta jamaah yang sedang shalat di sebuah masjid di Quebec, Kanada.

Seperti ditunjukkan oleh tiga peristiwa tersebut, populisme berbasis sentimen primordial telah berimbas pada menguatnya sikap intoleransi pada kelompok minoritas dan tindakan permusuhan terhadap para migran. Sayangnya, gejala semacam ini sekarang juga mulai merebak di Tanah Air.

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda Prihatin Menguatnya Intoleransi di Barat

Fenomena semacam di atas menjadi keprihatinan dan bahan refleksi dalam tasyakuran peringatan Harlah Nahdlatul Ulama ke-91 yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Belanda belum lama (30/01). Acara ini berlangsung di kediaman KH Ade Syihabuddin, Syuriah PCINU Belanda di Den Haag, Belanda. Hadir dalam acara ini jajaran PCINU Belanda, warga Nahdliyin maupun para pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi lanjut di Belanda.

“Kami sangat menyesalkan aksi intoleran dan kekerasan yang bermotif sentimen primordialisme di berbagai belahan dunia. PCINU Belanda menyikapi serius kejadian semacam ini. Untuk itu, kami kini sedang merancang kegiatan untuk mempromosikan Islam Nusantara sebagai Islam yang moderat di Indonesia,” kata M. Shohibuddin, Katib Syuriyah PCINU Belanda.

PMII Cabang Tegal

“Pada saat yang sama, kami juga menyadari bahwa gejala yang sama sekarang juga merebak di Tanah Air. Hal ini tentu harus menjadi bahan refleksi dan pemikiran-ulang bagi umat Islam di Indonesia, khususnya kalangan Nahdliyin,” jelasnya lebih lanjut.

Dalam kesempatan yang sama, Fachrizal Afandi, Ketua Tanfidziyah PCINU Belanda menyatakan tugas PCINU sebagai duta NU di luar negeri semakin berat dan menantang. Untuk itu, pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) PCINU Belanda yang kedua pada Maret 2017 mendatang akan dijadikan momentum untuk mempromosikan Islam Nusantara ke publik Barat.

PMII Cabang Tegal

“Islam Nusantara harus dipromosikan sebagai sumbangan Muslim Indonesia kepada tatanan dunia yang lebih damai dan harmonis. Islam Nusantara harus menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia dalam rangka menghilangkan Islamophobia di Dunia Barat,” kata kandidat Doktor di Leiden University ini menambahkan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal PMII Cabang Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

San Francisco, PMII Cabang Tegal. Facebook Inc menambah alat untuk melaporkan konten pornografi "revenge porn" dan mencegahnya dibagikan kembali begitu sudah dilarang.

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)
FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi (Sumber Gambar : Nu Online)

FB Tambah Alat Pencegah Penyebaran Pornografi

"Revenge porn", dikutip dari laman Reuters, adalah berbagi gambar seksual di internet tanpa izin orang yang ditampilkan di gambar, dengan maksud mempermalukan orang tersebut.

Aksi itu umumnya merugikan perempuan, biasanya menjadi target mantan pasangan mereka.

Facebook dituntut di Amerika Serikat dan negara lainnya oleh orang-orang yang berpendapat perusahaan tersebut seharusnya melakukan lebih banyak usaha untuk mencegah.

PMII Cabang Tegal

2015 lalu, Facebook dengan jelas menyatakan melarang gambar "yang dibagikan dalam rangka balas dendam" dan pengguna pun dapat melaporkan unggahan yang menyalahi ketentuan penggunaan.

Mulai Rabu (5/4), pengguna dapat melihat opsi melaporkan gambar yang tidak layak karena merupakan "foto tanpa busana", kata Facebook dalam keterangan.

PMII Cabang Tegal

Mereka juga meluncurkan proses otomatis untuk mencegah pembagian berulang gambar yang sudah dilarang.

Teknologi photo-matching akan membuat foto tersebut berada di luar jaringan Facebook, termasuk juga Instagram dan Messenger.

Akun pengguna yang membagikan "revenge porn" akan dimatikan.

Facebook tahun lalu bertemu perwakilan lebih dari 150 organisasi keselamatan perempuan dan berkomitmen untuk melakukan lebih banyak hal, kata Kepala Keamanan Global Facebook, Antigone Davis, melalui telepon.

Tim khusus dari Facebook akan menyertakan tinjauan manusia pada setiap gambar yang dilaporkan.

Gambar yang dilarang akan masuk ke database Facebook dan hanya segelintir orang yang memiliki akses ke data itu. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Bangka, PMII Cabang Tegal. Upaya pendampingan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Kementerian Sosial RI. Kali ini Kemensos memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk mempermudah pendampingan sosial dengan meresmikan dua aplikasi yaitu Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa, Rabu (5/4) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung ke Bangka untuk meresmikan aplikasi penanganan ibu hamil dan pengembangan desa tersebut.?

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

“Kami di sini untuk meresmikan aplikasi Bumil Resti dan aplikasi Kembang Desa,” ujar Khofifah.

Dia menerangkan, Aplikasi Bumil Resti atau Sistem Informasi Ibu Hamil Resiko Tinggi merupakan inisiatif Pemkab Bangka dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil dan ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

PMII Cabang Tegal

“Ini adalah sebuah inovasi yang bisa menjadi role model bagi daerah lain. Lewat aplikasi ini Pemkab Babel memburu atau mencari ibu-ibu hamil yang beresiko tinggi sampai ke pelosok desa,” jelas perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini.

Khofifah juga menerangkan, aplikasi ini menguatkan peran bidan dan dokter spesialis kandungan dalam pemantauan secara terus menerus terhadap Bumil Resti.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi program perburuan anak putus sekolah untuk mendapatkan kejar paket serta perburuan lansia terlantar untuk mendapatkan respon cepat.

PMII Cabang Tegal

Sementara aplikasi "Kembang Desa" atau Kesejahteraan Masyarakat Bangka dengan Sistem dan Aplikasi merupakan sistem yang dibangun dengan mengedepankan Rumah Tangga Sasaran (RTS).?

Aplikasi tersebut menurutnya, merupakan sistem informasi pengelolaan data kemiskinan yang paling lengkap di Indonesia dan paling mudah diakses oleh masyarakat luas.

“Sistem ini memiliki keunggulan tidak hanya merekam data kemiskinan by name by address, tetapi juga terdapat foto dan profil lengkap RTS. Bahkan sampai titik koordinat alamat individu RTS,” tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Tegal, Warta PMII Cabang Tegal

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja

Surabaya, PMII Cabang Tegal

Komik NU (Nahdlatul Ulama) edisi perdana yang mengisahkan sejarah dan perkembangan NU, Minggu (17/9) malam lalu, di-launching di halaman Museum NU, Jalan Gayungsari Timur 35, Surabaya. Komik yang berjudul ‘NU You Know? Cikal Bakal dan Kelahiran’ diharapkan bisa dijadikan materi pendukung pelajaran Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di lingkungan pendidikan Ma’arif dan pondok pesantren. Termasuk juga menjadi bacaan bermanfaat bagi warga nahdliyin.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina ‘Bedug Aswaja’, Moch Arif Junaidy SH menceritakan asal mula disusunnya Komik NU tersebut. Menurut Arif, pembuatan Komik NU itu berawal dari perenungan sekelompok anak muda NU yang mencari terobosan bagaimana memberi pemahaman tentang sosok NU secara ringan dan mudah dipahami.

“Diluncurkannya Komik NU ini cukup penting, sebab banyak buku-buku tentang NU di pasaran yang bahasanya sulit dicerna masyarakat umum. Untuk itu, kami bekerja keras dan berfikir untuk membuat sebuah bacaan tentang NU yang digambarkan melalui media komik. Ini supaya mudah dipahami, baik dari kalangan muda maupun tua,” ujar Arif.

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Diharapkan Jadi Pendukung Pelajaran Aswaja

Ia menambahkan, komik hasil karya Media Komunikasi Nahdliyin yang tergabung dalam ‘Bedug Aswaja’ ini tidak seperti komik pada umumnya yang banyak menonjolkan khayalan. Komik NU justru membutuhkan data, referensi yang valid dan interview berbagai tokoh NU.

“Komik NU ini bukan sembarang komik. Sebab proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan membutuhkan data, referensi yang valid. Bahkan untuk literaturnya saja banyaknya sa-gledekan. Selain itu, data juga diperkuat dengan interview dengan tokoh NU dan keturunan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, yakni Pak Ud,” terangnya.

Selain itu, lanjut Arif, dalam proses pembuatan Komik NU itu, yang tersulit yakni proses penggambaran suasana pondok pesantren dan visualisasi Mekah sebelum tahun 1926.

PMII Cabang Tegal

“Tim pembuat komik rela duduk berjam-jam dan berhari-hari di beberapa Ponpes di Jombang. Ponpes Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, sehingga bisa menggambarkan suasana pada masa itu. Sedangkan untuk kondisi Makah didapatkan dari Habaib di Surabaya yang punya gambar Makah tahun 1900-an,” lanjut Arif yang juga anggota DPRD Jatim.

Dari proses tersebut, Arif menjelaskan bahwa Komik NU itu benar-benar bisa menggambarkan cikal bakal dan perkembangan NU pada masa 1926. “Komik ini merupakan bagian dari karya anak-anak muda NU yang ingin memperlihatkan pada warga nahdliyin supaya lebih mengenal sejarah NU dan sejarah perjuangan para ulama,” ujarnya.

Peluncuran Komik NU edisi perdana itu juga dimeriahkan musik gambus Asy syub ban. Hadir dalam launching tersebut, KH Mustofa Bisri, Budayawan Dr Zawawi Imron, Drs H Choirul Anam dalam kapasitasnya sebagai pendiri Museum NU, pengamat dan peneliti NU. Hadir juga Wakil Walikota Surabaya Arif Affandi, Sekdaprov Jatim, Soekarwo, jajaran pengurus NU Jatim dan cabang, banom-banom NU, serta tokoh-tokoh masyarakat Jatim. (dtm/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal PonPes, Santri, Tegal PMII Cabang Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Sebuah kartu kredit khusus untuk jamaah haji diluncurkan di Afrika Selatan oleh "Bidvest Bank", penyedia kartu perjalanan terbesar di dunia, yang akan memberi pelayanan bagi jamaah haji "kartu dengan mata uang dunia" (World Currency Bank), dengan denominasi riyal Saudi Arabia.

Jamaah haji Afrika Selatan tidak perlu membawa uang tunai lagi, dan akan lebih hemat dalam pembayaran dengan bantuan kartu kredit ini.

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji

Sebelumnya, jamaah haji Afrika Selatan harus menukarkan mata uang lokal mereka, Rand, ke Dollar Amerika, baru kemudian ke Riyal sehingga menimbulkan biaya nilai tukar yang mahal.?

PMII Cabang Tegal

“Kami percaya, kartu ini akan menjadi bagian dari kelengkapan dari rencana perjalanan ketika Muslim Afrika Selatan pergi ke Makkah, baik untuk pergi berhaji atau umroh,” kata Neil Capazorio, kepada Divisi Kartu Bidvest Bank.

Beberapa keunggulan lain dari kartu ini adalah, saldo milik jamaah akan terus diperbaharui, keuntungan pentinga lainnya adalah nilai tukar sudah dimasukkan sebelum keberangkatan.

PMII Cabang Tegal

Tidak ada proses yang rumit dalam aktivasi kartu ini, karena sangat cepat dan mudah dengan tetap memperhatikan masalah keamanan seperti dilansir oleh topnews.ae.

Disamping bisa ditukarkan langsung dengan Riyal, kartu ini menyediakan layanan praktis dari Rand ke Dollar Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, bisa juga ke Poundsterling Inggris, Yen Jepang, Yuan China, Rupee India dan Mauritania, Franc Swiss, Shekel Isreal, Dirham UAE, Reais Brazil, Bath Thai dan Peso Argentina. (islam.ru/mukafi niam)

Foto: youtube.com

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Tegal, Makam PMII Cabang Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik

Solo, PMII Cabang Tegal

Melalui Badan Semi Otonom (BSO) yaitu Terkepal, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kentingan mengadakan kegiatan diklat jurnalistik Solo, selama dua hari (25-26/3). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekretariat PC PMII Kota Solo Jl Sawo III No 25 Klangsuran, Karangasem, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Kegiatan bertema ‘Menumbuhkan Budaya Literasi dalam Menjawab Tantangan Zaman’ tersebut memiliki tujuan yaitu sebagai salah satu sarana untuk mendorong anggota dan kader PMII Komisariat Kentingan dalam dunia literasi. Selain itu, kegiatan ini sebagai sarana open recruitmen di dalam BSO Terkepal sendiri.

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik

Joko Priyono selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini selain mendorong dalam hal literasi kepada setiap peserta yang mengikuti diklat ini namun juga menekankan pada peran dan tanggung jawab sebagai anggota maupun kader PMII Komisariat Kentingan.

Dalam sambutannya dia menyampaikan kutipan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

“Yang perlu digaris bawahi dari kutipan tersebut adalah masyarakat dan sejarah, kalau dihubungkan dengan organisasi PMII, bahwasannya dua tanggung jawab kita adalah memperjuangkan NKRI dan menyiarkan Islam yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tentu dengan melihat tanggung jawab tersebut harapannya melalui dunia literasi kita akan selalu berusaha untuk mewujudkan dua hal tersebut,” papar Joko.

PMII Cabang Tegal

Dalam kesempatan lain, Tsaniananda, Ketua PMII Komisariat Kentingan, mengatakan bahwa literasi merupakan kata lain dari keberaksaraan yang mengandung dua hal yang pokok yaitu membaca dan menulis.

“Untuk memulai menumbuhkan budaya tersebut tentu kita harus memulai dengan hal yang sederhana seperti membiasakan untuk membaca, dan kemudian dikembangkan melalui metode berpikir yang nantinya bisa disampaikan lewat tulisan. Kalau budaya literasi tidak dikembangkan apakah kita akan masih berharap seperti para pejuang-pejuang literasi terdahulu seperti Al-Ghozali, Al-Kindi, Hatta, Pramoedya ataupun yang lainnya”, Terang Ninda.

PMII Cabang Tegal

Kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 17 peserta yang terdiri dari anggota dan kader PMII Komisariat Kentingan dengan cakupan lima materi yakni masing-masing adalah Penulisan Keilmiahan, Pengenalan Pers dan Jurnalistik, Pelatihan Desain Grafis, Teknik Penulisan Berita dan Opini di Media dan Gerakan Sosial Media. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal AlaNu, Tegal PMII Cabang Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Batang, PMII Cabang Tegal



Menyambut Ramadhan tahun ini, Unit Pengelola Zakat Infak Sedekah Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah menggelar pengobatan gratis Sabtu (19/5) di halaman Masjid Al Barokah Desa Tembok Kecamatan ? Limpung.?

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, UPZIS Limpung Adakan Pengobatan Gratis

Direktur ? UPZIS ? Limpung M Sofa menyampaikan pengobatan gratis dilaksanakan dengan menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, yang dalam pelaksanaanya ditangani oleh UPT Puskesmas Kecamatan Limpung.?

“UPZIS Limpung berada di bawah binaan LAZISNU, selain mengadakan pengobatan gratis, di tempat dan waktu yang sama juga dilakukan penyerahan paket sembako untuk fakir miskin,” ujarnya.

Ia menambahkan kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab kepada para muzakki dan donatur, khususnya di Kecamatan Limpung.

“Tujuannya agar dalam menjalankan kewajiban puasa nanti masyarakat menjalankannya dengan dapat khidmat, sehat jasmani dan rohani,” imbuh Sofa. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, Kajian Sunnah, Humor Islam PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Enam Amalan Sunnah di Idul Adha

Idul Fitri dan Idul Adha datang sekali dalam satu tahun. Keduanya adalah hari besar Islam dengan fadhilah yang berbeda. Masing-masing memiliki keutamaannya sendiri dan juga memeiliki kesunnahan yang berbeda. 

Ibadah sunnah tahunan ini mempunyai ciri khas masing-masing, Hari Raya Idul Fitri misalnya ditengarai dengan saling bermaaf-maafan, berkunjung kesanak family dan para kerabat. Berbeda dengan Hari Raya Idul Adha yang dikenal dengan Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji, karena pada hari itu kegiatan kurban dan ibadah haji dilaksanakan.

Sebagai ibadah tahunan, maka hendaknya kita laksanakan dengan sesempurna mungkin dengan menjalankan semua amalan-amalan sunnah pada hari tersebut dengan niat tulus dan mengharap pahala dari Allah SWT. Berikut kesunahan yang dianjurkan oleh para ulama’,

Enam Amalan Sunnah di Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Amalan Sunnah di Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Amalan Sunnah di Idul Adha

Pertama, Mengumandangkan takbir di Masjid-masjid, Mushalla dan rumah-rumah pada malam hari raya, dimulai dari terbenamnya matahari sampai imam naik ke mimbar untuk berkhutbah pada hari raya idul fitri dan sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah pada hari tasyriq. Karena pada malam tersebut kita dianjurkan untuk mengagungkan , memuliakan dan menghidupkannnya, anjuran ini sebagaimana terdapat dalam Kitab Raudlatut Thalibin

فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ

 Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.

Sebagian fuqaha’ ada yang memberi keterangan tentang beribadah dimalam hari raya, yaitu dengan melaksanakan shalat maghrib dan isya’ berjama’ah, sampai dengan melaksanakan shalat subuh berjama’ah.

PMII Cabang Tegal

Kedua, mandi untuk shalat Id sebelum berangkat ke masjid, hal ini boleh dilakukan mulai pertengahan malam, sebelum waktu subuh, dan yang lebih utama adalah sesudah waktu subuh, dikarenakan tujuan dari mandi adalah membersihkan anggotan badan dari bau yang tidak sedap, dan membuat badan menjadi segar bugar, maka mandi sebelum waktu berangkat adalah yang paling baik. Berbeda jika mandinya setelah pertengahan malam maka kemungkinan bau badan akan kembali lagi, begitu juga kebugaran badan.

يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل

Disunnahkan mandi untuk shalat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam.

Kesunahan mandi adalah untuk semua kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan, baik yang akan akan berangkat melaksanakan shalat Id maupun bagi perempuan yang sedang udzur syar’I sehingga tidak bisa melaksanakan shalat Id.

PMII Cabang Tegal

Ketiga, disunahkan memakai wangi-wangian, memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau-bau yang tidak enak, untuk memperoleh keutamaan hari raya tersebut. Pada hakikatnya hal-hal tersebut boleh dilakukan kapan saja, ketika dalam kondisi yang memungkinkan, dan tidak harus menunggu datangnya hari raya, misalnya saja seminggu sekali saat hendak melaksanakan shalat jum’at. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab terdapat keterangan mengenai amalan sunnah ini,

والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب

Disunnahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengn memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari jum’at, dan disunnahkan juga memakai wangi-wangian.

Keempat, memakai pakaian yang paling baik lagi bersih dan suci jika memilikinya, jika tidak memilikinya maka cukup memakai pakaian yang bersih dan suci, akan tetapi sebagian ulama’ mengatakan bahwa yang paling utama adalah memakai pakaian yang putih dan memakai serban.

Berkaitan dengan memakai pakaian putih, ini diperuntukkan bagi kaum laki-laki yang hendak mengikuti jama’ah shalat Id maupun yang tidak mengikutinya, semisal satpam atau seseorang yang bertugas menjaga keamanan lingkungan, anjurannya ini tidak terkhususkan bagi yang hendak berangkat shalat saja, melainkan kepada semuanya.

Sedangkan untuk kaum perempuan, maka cukuplah memakai pakaian yang sederhana atau pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari, karena berdandan dan berpakaian secara berlebihan hukumnya makruh, begitu juga menggunakan wangi-wangian secara berlebihan. Dalam Kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan,

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَأَفْضَلُهَا الْبِيضُ، وَيَتَعَمَّمُ. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا، اسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، وَيَسْتَوِي فِي اسْتِحْبَابِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ، الْقَاعِدُ فِي بَيْتِهِ، وَالْخَارِجُ إِلَى الصَّلَاةِ، هَذَا حُكْمُ الرِّجَالِ. وَأَمَّا النِّسَاءُ، فَيُكْرَهُ لِذَوَاتِ الْجَمَالِ وَالْهَيْئَةِ الْحُضُورُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَجَائِزِ، وَيَتَنَظَّفْنَ بِالْمَاءِ، وَلَا يَتَطَيَّبْنَ، وَلَا يَلْبَسْنَ مَا يُشْهِرُهُنَّ مِنَ الثِّيَابِ، بَلْ يَخْرُجْنَ فِي بِذْلَتِهِنَّ.

Disunnahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukupla ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.

Sabda Nabi SAW berikut memberi penjelasan tentang memakai pakaian yang paling baik, riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA,

كَانَ يلبس في العيد برد حبرة

Rasulullah SAW di hari raya Id memakai Burda Hibarah (pakaian yang indah berasal dari yaman).

Kelima, ketika berjalan menuju ke masjid ataupun tempat shalat Id hendaklah ia berjalan kaki karena hal itu lebih utama, sedangkan untuk para orang yang telah berumur dan orang yang tidak mampu berjalan, maka boleh saja ia berangkat dengan menggunakan kendaraan. Dikarenakan dengan berjalan kaki ia bisa bertegur sapa mengucapkan salam dan juga bisa bermushafahah (Bersalam-salaman) sesama kaum muslimin. Sebagaimana sabda Nabi SAW riwayat dari Ibnu Umar,

كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

Rasulullah SAW berangkat untuk melaksanakan shalat Id dengan berjalan kaki, begitupun ketika pulang tempat shalat Id.

Selain itu dianjurkan juga berangkat lebih awal supaya mendapatkan shaf atau barisan depan, sembari menunggu shalat Id dilaksanakan ia bisa bertakbir secara bersama-sama di masjid dengan para jama’ah yang telah hadir. Imam Nawawi dalam Kitabnya Raudlatut Thalibin menerangkan anjuran tersebut,

السُّنَّةُ لِقَاصِدِ الْعِيدِ الْمَشْيُ. فَإِنْ ضَعُفَ لِكِبَرٍ، أَوْ مَرَضٍ، فَلَهُ الرُّكُوبُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْقَوْمِ أَنْ يُبَكِّرُوا إِلَى صَلَاةِ الْعِيدِ إِذَا صَلَّوُا الصُّبْحَ، لِيَأْخُذُوا مَجَالِسَهُمْ وَيَنْتَظِرُوا الصَّلَاة

Bagi yang hendak melaksanakan shalat Id disunahkan berangkat dengan berjalan kaki, sedangkan untuk orang yang telah lanjut usia atau tidak mampu berjalan maka boleh ia menggunakan kendaraan. Disunnahkan juga berangkat lebih awal untuk shalat Id setelah selesai mengerjakan shalat subuh, untuk mendapatkan shaf atau barisan depan sembari menunggu dilaksanakannya shalat.

Keenam, untuk Hari Raya Idul Adha disunnahkan makan setelah selesai melaksanakan shalat Id, berbeda dengan Hari Raya Idul Fitri disunahkan makan sebelum melaksanakan shalat Id. Pada masa Nabi SAW makanan tersebut berupa kurma yang jumlahnya ganjil, entah itu satu biji, tiga biji ataupun lima biji, karena makanan pokok orang arab adalah kurma. Jika di Indonesia makanan pokok adalah nasi, akan tetapi jika memiliki kurma maka hal itu lebih utama, jika tidak mendapatinya maka cukuplah dengan makan nasi atau sesuai dengan makanan pokok daerah tertentu.

 Ø¹Ù† بريدة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتي يرجع

Diriwayatkan dari Sahabat Buraidah RA, bahwa Nabi SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan, dan pada hari raya Idul Adha sehingga beliau kembali kerumah.

Diriwayatkan juga dari Sahabat Anas RA,  

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَخْرُجُ يوم الفطر حتى يأكل تمرات ويأكلهن وترا

Rasulullah SAW tidak keluar pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan beberapa kurma yang jumlahnya ganjil.

Dengan demikian, anjuran makan pada hari raya Idul Adha adalah setelah selesai melaksanakan shalat Id, alanglah lebih baik jika ia makan kurma sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi jika tidak mendapati kurma, bolehnya ia makan dengan yang lain, misalnya nasi bagi rakyat Indonesia, disesuaikan dengan makanan pokok daerah tertentu.

Pen. Fuad H. Basya/Red. Ulil H. 

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Islam, Tegal, Kajian Sunnah PMII Cabang Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah

Oleh KH Yahya Cholil Staquf

Mengapa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencintai Indonesia? Karena beliau manusia pesantren. Sedangkan keindonesiaan adalah salah satu unsur utama jati diri inti pesantren.

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah

George McTurnan Kahin (1918-2000, Cornell University, USA), menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam “Nationalism and Revolution in Indonesia” (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), bahkan menandaskan kesimpulan bahwa “nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara”: pesantren!

Sejak Terusan Suez dibuka (1859) membedah daratan beting antara Laut Tengah dan Laut Merah, perhubungan Eropa – Asia dengan transportasi laut tidak lagi harus memutari Tanjung Afrika, tapi potong kompas lewat Terusan Suez, melintasi Teluk Aden, terus ke arah Timur hingga Nusantara. Sejak saat itu, jalur pelayaran Eropa – Nusantara pergi-pulang kian ramai, dan pelabuhan Jeddah menjadi salah satu persinggahan penting. Maka sejak paruh akhir abad ke-19 terjadi lonjakan luar biasa perjalanan haji dari antero Nusantara: Andalas, Jawa, Borneo, Celebes, Maluku, Sumbawa dan pulau-pulau lainnya. Kebersamaan selama berbulan-bulan pelayaran dan bertahun-tahun mukim di Hijaz diantara para “jamaah haji” yang merupakan kader-kader unggulan kalangan pesantren itu menumbuhkan rasa senasib dan persaudaraan yang terus menguat menggiligkan “tekad sebangsa”, dan dengan penuh gairah mereka tanamkan kepada masyarakat lahan khidmah mereka sepulang dari Tanah Suci.

PMII Cabang Tegal

Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kiai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan “Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia” sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kiai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kiai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian –dibawah perlindungan gurunya, Kiai Hasyim Asy’ary– Nahdlatul Ulama (1926). “Soempah Pemoeda”yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.

Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” disana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

PMII Cabang Tegal

? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ?

? ?

? ? ?

? ? ? ?

? ? ?



“Pusaka hati wahai tanah airku

Cintamu dalam imanku

Jangan halangkan nasibmu

Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku

Engkau Panji Martabatku

S’yapa datang mengancammu

‘Kan binasa di bawah durimu!”


Kiai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang satri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma’shoem),

“Pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!”

Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang lantas mencegah,

“Jangan sampai kamu jadi londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”

Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri) belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik. Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”

“Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

“Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak bisa? Dasar sombong!”

Catatan:

“Gelali” adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh.

Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga tidak terlalu jauh melenceng dari aslinya.

KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PBNU. Sumber tulisan: teronggosong.com

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, News, Sholawat PMII Cabang Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Jombang, PMII Cabang Tegal. Sidang komisi rekomendasi menyoroti berbagai isu krusial, di antaranya soal partai politik. Para muktamirin di komisi ini ingin parpol menjadi strategi atau alat untuk menyehatkan demokrasi. Bukan justru menghambat atau bahkan merusak demokrasi itu sendiri.

Alissa Wahid menyampaikan hal tersebut kepada PMII Cabang Tegal usai mengikuti sidang rekomendasi yang digelar di lantai 3 Gedung KH M Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (3/7) sore.

“Harusnya parpol tidak menghambat demokrasi. Sebaliknya, justru harus ada penguatan parpol sehingga bisa menjalankan fungsi itu dengan baik,” ujar putri sulung Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Rekomendasi Soroti Penguatan Peran Parpol

Para muktamirin di komisi ini, lanjut Alissa, juga menambahkan beberapa poin penting terkait perkembangan politik di Tanar Air. Misalnya, situasi saat ini yang membuat parpol seperti tidak memiliki kader terbaik.

“Jadi, bukan kader terbaik yang kemudian menjadi pemimpin (baik itu) gubernur, bupati, dan lainnya. Justru malah orang-orang baru yang bukan kader. Kadang malah artis yang dipilih. Itu yang kemudian dianggap sebagai hambatan demokrasi,” tandas Alissa.

PMII Cabang Tegal

Ia menambahkan, jika penataan parpol berjalan dengan baik, maka demokrasi Indonesia juga akan menggairahkan. “Harus ada perbaikan sistem pengkaderan dan sistem transparansi serta akuntabilitas keuangan parpol,” ujarnya.

Menurut pemilik nama lengkap Alissa Qothrunnada Munawwaroh ini, pelaksanaan sidang memang cukup cepat. Meski demikian, ia mengaku materi benar-benar ditelaah dengan baik bahkan ada koreksi.

PMII Cabang Tegal

Salah seorang utusan PCNU Kabupaten Sungai Penuh, Provinsi Jambi, mengatakan pembahasan soal politik membuat muktamirin cukup antusias dan penuh semangat.

“Meski ada sedikit perdebatan soal bagaimana peran Nahdliyin di bidang politik. Tentu saja kita tidak tinggal diam soal politik. NU memang tidak berpolitik tapi memperbolehkan kadernya ikut politik,” ujarnya.

Selain itu, kondisi keumatan menyangkut kondisi kehidupan umat beragama seperti umat Islam yang berada di daerah minoritas muslim seperti di Tolikara, Papua, juga dibahas. “Kami menghimbau pemerintah selaku pemegang otoritas bisa meredam konflik tersebut agar tidak merembet luas,” ujarnya.

Komisi Rekomendasi akan membahas masalah Ke-NU-an, keumatan, kebangsaan, dan internasional yang akan menjadi rekomendasi Muktamar bagi pemerintah dan pihak terkait. (Musthofa Asrori/Mahbib)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Santri, Tegal PMII Cabang Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah

Medan, PMII Cabang Tegal. Plt Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Gatot Pujo Nugroho menyatakan bersyukur dan bangga, bahwa Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) memiliki alumni terbesar di seluruh pelosok Tanah Air. Banyak alumni Musthafawiyah yang melanjutkan kuliah ke berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri dan telah berhasil di berbagai bidang.

“Alumni merupakan aset yang sangat penting tidak hanya bagi Pesantren Musthafawiyah, tapi juga bagi bangsa dan negara, khususnya Provinsi Sumut,” kata Plt Gubsu diwakili Asisten III Kesejahteraan Sosial H Asrin Naim pada Halalbihalal Alumni Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, di Aula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Jalan Sei Batanghari Medan, Sabtu (22/9). Halalbihalal dirangkai dengan konsolidasi Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah dengan tema “Sukseskan Peringatan Satu Abad Pesantren Musthafawiyah Purbabaru Tanggal 12 Desember 2012”.

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sumut Banggakan Pesantren Musthafawiyah

Hadir dalam acara itu Ketua Umum Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah, Dr H Maratua Simanjuntak, Ketua Pengarah Panitia Prof Dr HM Yasyir Nasution, Bendahara Panitia H Harun Nasution, Ketua Panitia Halalbihalal Drs HM Adlin Damanik, MAP, Humas Panitia Letkol Caj HM Irwan Nuh Batubara MSi, sejumlah alumni di antaranya HM Imron Hasibuan, Drs H Abdul Hamid Ritonga, H Marahalim Harahap, MHum, Drs H Lukmanul Hakim Siregar, Drs H Abdul Rasyid Nasution, Dra Hj Lathifah Batubara, Dra Hj Khairani Lubis dan lainnya. 

PMII Cabang Tegal

Juga hadir sejumlah pengurus PWNU Sumut, di antaranya Mustasyar KH Asnan Ritonga, dan Wakil Sekretaris Drs H Khairuddin Hutasuhut, Emir El-Zuhdi Batubara SH, dan Ketua Lembaga Dakwan (LD) PWNU H Sori Monang Rangkuti MTh.  Halalbihalal diisi tausiyah Ustadz Drs H Abu Samah Pulungan. 

PMII Cabang Tegal

Plt Gubsu menegaskan, aset alumni ini akan menjadi semakin penting jika mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan saja, tapi juga di bidang-bidang lainnya terutama pada bidang ekonomi sehingga ikut mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.

“Kita semua tidak menginginkan alumni Pesantren Musthafawiyah menjadi pengangguran yang justru menjadi beban baik bagi orangtua, pesntren maupun bagi masyarakat,” tutur Plt Gubsu.

Ketua Panitia Peringatan Satu Abad Musthafawiyah, Dr H Maratua Simanjuntak dalam kesempatan itu mengatakan, seyogianya peringatan Satu Abad Mustafawiyah jatuh pada 12 Nopember 2012, karena pesantren ini didirikan oleh Syekh Musthafa Husein Nasution pada 12 Nopember 1912. Namun karena pada Nopember 2012 bertepatan musim haji, maka puncak peringatan diundur menjadi 12 Desember 2012.

Dia menyatakan, peringatan satu abad pesantren tertua dan terbesar di Pulau Sumatera ini bukan seremonial, melainkan untuk meningkatkan mutu secara menyeluruh serta memperkuat perannya secara efektif sebagai lembaga pendidikan agama dan pembangunan karakter bangsa (akhlaqul karimah).

Karena itu, katanya, sebelum acara puncak, panitia akan menggelar sejumlah kegiatan, di antaranya seminar “Peluang dan Tantangan Pesantren Salafiah di Era Modern”, pengusulan mu’adalah (penyetaraan) Pesantren Musthafawiyah ke Mendikbud. Kemudian alumni ghathering membangun networking. Juga ada perlombaan antarpesantren, bakti sosial alumni, zikir akbar, haflah, istighastah dan tausiyah. Selanjutnya, peluncuran buku “Bunga Rampai Mustfahawiyah”.  

Ketua Panitia Halalbihalal HM Adlin Damanik menambahkan, puncak  Peringatan Satu Abad Musthafawiyah akan dihadiri ulama terkemuka Timur Tengah (Timteng), Menko Kesra, Mendikbud dan Menag. 

Teks Foto:Plt Gubsu diwakili Asisten III H Asrin Naim (ketiga dari kanan) berfoto bersama dengan Ketua Umum Panitia Peringatan Satu Abad Pesantren Musthafawiyah Dr H Maratua Simanjuntak, Ketua Pengarah Prof HM Yasyir Nasution, Ketua Panitia Halalbihalal HM Adlin Damanik, mantan Ketua KAMUS H Imron Hasibuan, dan Mustasyar PWNU Sumut KH Asnan Ritonga, pada halalbihal alumni Pesantren Musthafawiyah, di Aula PWNU, Sabtu (22/9).  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hamdani Nasution

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, Tokoh PMII Cabang Tegal

Selasa, 28 November 2017

MTs Abu Amr, Hadir di Tengah Minimnya Kesadaran Pendidikan

Perkembangan pendidikan formal melaju pesat di tengah tuntutan administratif masyarakat modern. Orang-orang mulai sukar memasuki pos-pos strategis dunia industri atau jabatan di pemerintahan tanpa bukti ijazah resmi yang diakui. Zaman sudah berubah, meski masyarakat belum tentu sepenuhnya turut berubah.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan formal tetap saja ditemukan di sejumlah sudut daerah di Tanah Air. Desa Tambakrejo, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, adalah salah satu contohnya. Para remaja di kampung dekat Gunung Bromo ini cukup banyak yang tak melanjutkan pendidikan formal tingkat menengah, hingga berdirilah Madrasah Tsanawiyah Abu Amr di tengah-tengah mereka.

MTs Abu Amr, Hadir di Tengah Minimnya Kesadaran Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Abu Amr, Hadir di Tengah Minimnya Kesadaran Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Abu Amr, Hadir di Tengah Minimnya Kesadaran Pendidikan

Nama madrasah itu diambil dari nama mendiang kiai terpandang di Pasuruan, KH Abu Amar Chotib, pendiri Pondok Pesantren Ar-Raudloh yang teguh selama puluhan tahun dengan sistem pembelajaran salafiyah. Awal berdiri pada tahun 2012, MTs Abu Amr mesti bekerja keras merayu masyarakat setempat agar mau bersekolah di madrasah baru ini.

Ahmad Suadi Abu Amar, sang pendiri MTs tersebut, mengaku berat menarik minat warga Tambakrejo pada masa-masa rintisan itu kendati sudah mengerahkan santri-santrinya di Pesantren Ar-Raudloh untuk mencari murid baru. Tapi ia amat sadar, ini hanya bagian dari proses, yang kelak pasti membuahkan hasil.

PMII Cabang Tegal

Jika mau, warga di Tambakrejo sebetulnya bisa menyekolahkan anaknya di MTs atau SMP di Kecamatan Pasrepan. Jaraknya bervariasi, dari dua kilometer hingga empat kilometer. Tapi hal itu tak terjadi memuaskan. Mereka butuh sentuhan personal untuk membangkitkan kesadaran berpendidikan. Dan itulah yang dilakukan MTs Abu Amr dengan mendatangi rumah door to door, membujuk warga untuk bersama menghidupkan MTs.

PMII Cabang Tegal

Jerih payah pun berbuah. MTs gratis yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Ar-Raudloh ini sukses merekrut murid, menjalankan proses belajar-mengajar, hingga mewisuda 33 anak untuk angkatan pertama pada tahun 2015.

Soal kurikulum, MTs Abu Amr Kurikulum 2013 untuk mata pelajaran agama dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) untuk mata pelajaran umum. Pola rencana belajar semacam ini mengikuti anjuran dari Kementerian Agama, sebagaimana lazim dilakukan madrasah-madrasah lainnya.

Selain pembelajaran di kelas, para siswa MTs Abu Amr juga dilibatkan dalam berbagai ajang kompetisi di tingkat kabupaten maupun provinsi. Lomba-lomba yang pernah diikuti madrasah rintisan ini antara lain lomba kaligrafi (pernah juara II tingkat kabupaten), lomba catur (pernah juara II tingkat kabupaten), lomba mata pelajaran agama, dan lomba mata pelajaran sains.

Berbasis Pesantren

Selain warga Tambakrejo dan sekitarnya, peserta didik di MTs Abu Amr berasal dari dari para santri Pesantren Ar-Raudloh yang sehari-hari tinggal di gothaan (kamar asrama). Semula untuk bisa sekolah formal, mereka mesti keluar desa. Tapi sejak MTs Abu Amr berdiri, para santri remaja ini beralih ke MTs baru yang letaknya tak jauh dari Pesantren. Mereka berasal dari dalam dan luar kota Pasuruan.

Pesantren Ar-Raudloh memang mewajibkan para santri usia produktif berpendidikan formal. Tapi santri tetap menjalani aktivitas pesantren seperti umumnya santri. Ada sorogan kitab kuning, wirid rutin, dan kewajiban sembahyang berjamaah. Pada pagi hari, santri (remaja) wajib belajar di sekolah formal, dilanjutkan di madrasah diniyah ula dan wustha di siang hari, lalu sorogan mengaji berbagai kitab pada sore dan selepas maghrib. Bakda isya’ adalah saat santri belajar santri membaca ulang pelajaran yang seharian diterima.

Nuansa pesantren juga menjiwai MTs Abu Amr. Sejumlah kebijakan penting di madrasah ini tak boleh melenceng dari prinsip Pesantren Ar-Raudloh yang menaunginya. Pendidikan karakter menjadi tujuan yang dikedepankan bagi para peserta didik. Pesantren yang semula hanya diisi santri lelaki ini, sejak tahun 2013 lalu mendirikan Pondok Pesantren Putri Ar-Raudloh di lokasi terpisah yang tidak terlalu jauh.

Sang pendiri tak ingin MTs sebagai ujung dari pendidikan formal para siswa. Untuk kepentingan ini, Madrasah Aliyah Abu Amr segera dibangun begitu MTs Abu Amr meluluskan siswa untuk pertama kalinya. Hampir seluruh alumni menyambung pendidikan aliyah mereka di sini. Hanya satu dua melanjutkan ke sekolah menengah atas di luar. Selain itu, MA Abu Amr juga menerima murid keluaran dari MTs lain.

Ahmad Suadi, pengasuh Pesantren Ar-Raudloh itu, merasa senang hingga kini lembaga pendidikannya berkembang sehat. Menurut Kepala Tata Usaha MTs Abu Amr, Abdul Azis, saat ini MTs Abu Amr memiliki 117 murid, sementara MA Abu Amr 37 murid. Acara kirab dan perayaan pada momen-momen tertentu terus digelar untuk kian mengembangkan syiar madrasah.

Madrasah ini didirikan atas semangat gotong royong. Guru-gurunya tak digaji dengan nominal pasti. Ahmad Suadi, pengasuh Pesantren Ar-Raudloh itu, percaya, jalur pendidikan adalah strategi efektif untuk memperbaiki perilaku dan kondisi masyarakat. Ketika lulusan madrasah setempat memiliki ijazah formal, mereka juga diharapkan dapat memperluas bidang perjuangan, tak hanya di mushala atau pesantren tapi juga di perusahaan atau di posisi-posisi strategis pemerintahan. (Mahbib)







Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, Fragmen, Pahlawan PMII Cabang Tegal

Senin, 20 November 2017

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

Jombang, PMII Cabang Tegal. Kerja sama antara PC Muslimat NU Jombang dan Bank Jatim pada gerakan seribu rupiah telah berjalan satu semester. Dan alhamdulillah selama kurun waktu tersebut telah terkumpul uang sebanyak Rp311.112.616.

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 1000 Rupiah, Muslimat Jombang Himpun Dana hingga 300 Juta

"Kami berharap gerakan seribu rupiah ini benar-benar bermanfaat bagi umat," kata Ny Hj Mundjidah Wahab, Rabu (14/9). ? Ketua PC Muslimat NU Jombang ini secara khusus menyelenggarakan rapat koordinasi dengan pengurus harian untuk membahas tindaklanjut kegiatan tersebut di kantor setempat, Jalan Juanda. ? Apalagi sebentar lagi akan memasuki bulan Muharram.

"Dana yang sudah ada dapat digunakan untuk kegiatan Muharraman berupa pengobatan gratis, pemberian santunan kepada fakir miskin, manula serta kunjungan ke penjara anak dan perempuan," pesan Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Seluruh kegiatan tersebut sebisa mungkin melibatkan kepengurusan yang ada, lanjutnya.

Seperti diketahui, gerakan seribu rupiah yang digagas PC Muslimat NU Jombang sudah berjalan 6 bulan sejak digulirkan Maret hingga Agustus lalu. Dan sesuai kesepakatan, seluruh kepengurusan PAC dan Ranting Muslimat NU di Jombang akan mendapatkan prosentase dari gerakan tersebut. Lebih detil, PP Muslimat NU memperoleh 5 persen, disusul kepengurusan secara berjenjang PW (10 persen), PC (15 persen), PAC (20 persen), ? Ranting (20 persen) dan tertinggi sebanyak 30 persen ? adalah dimiliki kepengurusan Anak Ranting?

PMII Cabang Tegal

Menurut Ibu Chumaiyyah Noor, uang masuk dari bulan Maret hingga Agustus sebanyak Rp311.112.616 dan pada September ini akan ditransferkan ke seluruh PAC dan Ranting sesuai prosentase yang disepakati bersama. "Jadi seluruh proses dan sistem pengambilan uang lewat bank, saya tidak pernah pegang uang sepeserpun karena sistemnya seperti itu," kata Bendahara PC Muslimat NU Jombang ini.

Selanjutnya PC Muslimat NU Jombang akan memberi reward atau penghargaan kepada PAC yang anggotanya paling banyak. "Untuk tahap pertama ini, PAC Mojowarno memperoleh dana sebesar Rp. 34.475.000, kemudian Diwek sebanyak Rp23.651.000,- dan Jombang Kota Rp22.421.000" rincinya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Tegal PMII Cabang Tegal

Kamis, 02 November 2017

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Oleh Ayung Notonegoro



Salah satu tokoh NU yang paling fenomenal sepanjang sejarah adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Putra Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari tersebut, tak hanya menjadi tokoh NU yang militan, tapi juga cerdas dan berintegritas. Perjuangannya tak hanya untuk NU semata, tapi juga untuk bangsa Indonesia. Maka, ketika kecelakaan mobil pada 19 April 1954 itu, merenggut nyawa Menteri Agama pertama Republik ini, menyebabkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Lebih-lebih bagi warga NU. 

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Dalam Muktamar ke-20 NU di Surabaya, lima bulan setelah kejadian tragis tersebut, rasa kehilangan masih tampak jelas di wajah orang-orang NU. Saat sambutan, Rais Aam PBNU  KH Wahab Chasbullah, mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat. 

"Ada kejadian yang sebaiknya kita peringati, sekalipun sangat berat tekanan dan akibatnya dalam hati dan jiwa kita, ialah kejadian yang sangat mengerikan, kejadian wafatnya Saudara Yang Mulia Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, dengan cara yang sangat mengejutkan, akibat dari suatu kecelakaan yang tiada orang dapat mencampurinya. Tiada orang yang mampu berhadapan dengan qodar kepastian yang datang dari langit," ungkap Kiai Wahab. 

Meski demikian, Kiai Wahab tak lantas menyeret Nahdliyin terus-menerus bersedih. Ia menguatkan, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. "Dahulu, ada seorang ahli syair berkata: Barangsiapa yang tidak mati karena pedang atau senjata lain dalam pertempuran, maka orang itu akan mati juga dengan sebab lain. Bermacam-macam sebab yang mendatangkan kematian, tetapi kematian itu satu," ungkapnya. 

PMII Cabang Tegal

Kemudian ia mengajak para muktamirin yang datang dari seluruh penjuru Nusantara tersebut, untuk meneladani sikap dan perjuangan Kiai Wahid. Perjuangan yang tidak hanya sebatas perjuangan fisik dan pikiran saja, tapi juga dilengkapi dengan perjuangan batiniyah. 

Perjuangan fisik dan pemikiran Kiai Wahid sudah banyak tulisan dan buku yang mengupasnya. Bagaimana kiprahnya di masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, mempersiapkan kemerdekaan dan lebih-lebih di masa perang mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, tak banyak yang mengupas tentang perjuangan batiniyahnya Kiai Wahid untuk bangsa Indonesia. 

Dalam konteks batiniyah tersebut, salah seorang penyusun Piagam Jakarta itu, memperjuangkan Indonesia dengan bertirakat. Sebagai umat Islam, Kiai Wahid percaya, bahwa segenap ikhtiar harus senantiasa diiringi dengan doa. Dan, doa yang paling ijabah harus disertai dengan laku tirakat. 

PMII Cabang Tegal

Tirakat yang dilakukan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu, adalah puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti dua hari raya dan hari tasyrik. Kiai Wahid berjanji pada dirinya sendiri, sebagai permohonan kepada Allah SWT, agar bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan yang sesungguhnya, terlepas dari pelbagai belenggu, berdaulat sepenuhnya dan diberikan kedamaian dan kesejahteraan. 

Biasanya, ia akan memulai puasa yang cukup panjang dalam situasi-situasi yang genting. Seperti halnya saat terjadi Agresi Militer Kedua Belanda. Saat itu, Belanda bersama pasukan Sekutu mampu menguasai ibu kota Indonesia yang pada saat itu bertempat di Yogyakarta. Sejak kejadian yang berlangsung pada 19 Desember 1948 itulah, Kiai Wahid memulai puasanya. 

Saban hari Kiai Wahid berpuasa hingga ajal menjemputnya saat usianya masih belum genap 40 tahun. Terhitung sejak awal, Kiai Wahid telah berpuasa selama 1500 hari lebih. Sungguh perjuangan yang tak mudah di tengah aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Sebenarnya, puasa yang dilakukan di atas bukanlah yang pertama kalinya. Sepanjang hidupnya, Kiai Wahid kerap kali berpuasa sunnah. Sebagaimana diceritakan oleh KH. Saifuddin Zuhri, junior sekaligus kolega perjuangannya, dalam Authorized KH Saifudin Zuhri: Berangkat dari Pesantren.

Pada medio 1942, terjadi peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Belanda telah terusir dan digantikan oleh Jepang. Tak membawa kebaikan sebagaimana yang dijanjikan, pasukan Dai Nippon tersebut, justru menunjukkan kebengisannya. Seorang tokoh panutan umat Islam di Indonesia, Hadratussyekh Hasyim Asyari ditangkap oleh Jepang.

Tentu saja ini menjadi keguncangan bagi Nahdlatul Ulama karena Kiai Hasyim merupakan sosok sentral di organisasi yang memuliakan para ulama tersebut. Lebih-lebih kepada Kiai Wahid. Selain karena pemimpinnya di NU, Kiai Hasyim juga merupakan ayah kandungnya.

Menghadapi situasi ini, Kiai Wahid tidak hanya mengambil alih tanggung jawab peran-peran ayahandanya dan berupaya membebaskannya, tapi juga mengimbanginya dengan berpuasa. Hingga pada suatu hari, di saat terik matahari begitu menyengat, Kiai Wahid sedang melakukan kunjungan kerja di Sokaraja, Jawa Tengah.

Di kampung halaman Kiai Saifuddin Zuhri tersebut, ia ditawari minum oleh tuan rumah. Namun, dengan sigap Kiai Wahid menolaknya.

“Nanti dulu, sabarlah,” tukasnya seraya memandang Kiai Saifuddin yang sedang minum.

“Berpuasa pada hari yang begini panas? Orang musafir kan dapat rukhsoh?” Goda Kiai Saifuddin yang sebenarnya tahu kalau tamunya tersebut, telah berpuasa sejak beberapa minggu yang lalu.

Di luar dugaan, Kiai Wahab menjawabnya dengan cukup mantap dan layak direnungkan bagi kita semua.





“Laqod shumtu li yaumin huwa aharru minhu,” jawabnya.

Saya berpuasa untuk meningkatkan suatu hari yang lebih panas ketimbang hari ini, yaitu di padang mahsyar kelak!!!

Penulis aktif di Komunitas Pegon yang mengulik hal ihwal pesantren dan NU. Bisa ditemui di akun facebooknya: Ayunk Notonegoro

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Lomba, Tegal PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock