Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Februari 2018

PMII Blora Bahas Filsafat Pergerakan

Blora, PMII Cabang Tegal. Kamis (29/11/2012) wisma pergerakan PC PMII Blora menggelar diskusi bertajuk Gelaran Weekend Warga Pergerakan (Gelegar) bertajuk "Filsafat Ilmu Pengetahuan Sebagai Landasan Pergerakan Mahasiswa". 

Acara tersebut dihadiri juga oleh perwakilan empat komisariat yang ada di kabupaten Blora. Yusron Amin ketua pelaksana diskusi menjelaskan bahwa acara ini adalah acara rutin mingguan yang diselenggarakan oleh PMII cabang Blora. Diharapkan acara ini dapat  menjadi ajang konsolidasi mahasiswa pergerakan ke depannya.

PMII Blora Bahas Filsafat Pergerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Blora Bahas Filsafat Pergerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Blora Bahas Filsafat Pergerakan

Dalam diskusi tersebut Moesafa menjelaskan sejarah dan peran filsafat dalam perspektif pergerakan. Ia menyampaikan bahwa sejarah PMII tidak lepas dari proses pembelajaran filsafat yang kemudian direfleksikan dalam aktivitas pergerakan. Dalam diskusi tersebut terlontar pertanyaan tentang perbedaan sudut pandang filsafat versi platonis dan aristotelian. 

PMII Cabang Tegal

"Dalam konteks pergerakan, harusnya bisa menggabungkan.dua perspektif tersebut" jawabnya.

Selain diskusi acara tersebut juga diisi dengan pembacaan Yasin dan Tahlil. "Kami tidak membuat diskusi saja, melainkan mengkolaborasikan dengan tahlil dan yasin sehingga Dzikir,fikir dan amal sholeh bisa terlaksana secara nyata dalam kehidupan pergerakan" jelas Moh Misbakhul Hamdan selaku Ketum PC PMII Blora.

PMII Cabang Tegal

Di akhir diskusinya Moesafa memberi pesan kepada seluruh anggota dan kader PMII untuk tetap kritis dalam bergerak dan berwacana. 

"Dalam ilmu filsafat, Gak ada kebenaran yang hakiki, jadi sisakan ruang keraguan dalam benak dan pemikiran anda!", tegasnya menutup diskusi.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tokoh, Hadits PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Rijalul Ansor Brebes Bertekad Perkuat Akhlak Pemuda

Brebes, PMII Cabang Tegal. Ketua Pengurus Cabang Jamiyah Rijalul Ansor Kabupaten Brebes H Abdullah Faqih Maskumambang bertekad memperkuat akhlak Pemuda Brebes dengan sentuhan keimanan melalui pengajian rutin. Pengajian rutin dilakukan setiap minggu di ranting-ranting Ansor secara bergilir maupun secara periodik di tingkat anak cabang dan cabang.

“Kami akan menguatkan akhlakul karimah para pemuda Brebes dengan jalan mendalami kajian kitab-kitab kuning,” tutur Gus Faqih panggilan akrabnya di sela menghadiri pelantikan PC Muslimat NU di Pendopo Brebes, Ahad (13/9).

Rijalul Ansor Brebes Bertekad Perkuat Akhlak Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Rijalul Ansor Brebes Bertekad Perkuat Akhlak Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Rijalul Ansor Brebes Bertekad Perkuat Akhlak Pemuda

Gus Faqih yang juga pengasuh Pondok Pesanteren Al Fallah Ashofuwah Jatirokeh, Songgom Brebes akan meluangkan waktu secara marathon menguatkan kembali keberadaan jamiyah-jamiyah di setiap ranting. “Dari 297 ranting Ansor se Kabupaten Brebes, satu persatu akan disambangi,” ucapnya.

PMII Cabang Tegal

Dalam satu ranting atau desa, biasanya lebih dari 2 bahkan 3 Jamiyah. Tapi minimal, satu desa ada satu induk jamiyah Rijalul Ansor. Potensi Brebes yang memiliki penduduk terbanyak se Jawa Tengah sangat strategis untuk pengembangan, namun juga tantangannya berat. “Pengurus harus siap nginep di Musholla atau pondok ketika melakukan roadshow akhlakul karimah,” ucapnya.

PMII Cabang Tegal

Pengurus baru Jamiyah Rijalul Ansor telah dikukuhkan kepengurusannya pada Jumat 11 September lalu di halaman SMK Bhakti Utama NU Jatirokeh bebarengan dengan Ansor Bersholawat. Pelantikan dilakukan oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes Moh Munsip SPdI.?

Pengurus yang dilantik untuk masa khitmad 2015-2019 antara lain Ketua H Abdullah Faqih Maskumambang, Sekretaris H Musyafa, dan Bendahara Ujang Nurhasan.

Dalam kesempatan pelantikan Rijalul Ansor, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mendorong peningkatan kiprah pemuda Ansor guna turut membangun Brebes. Pembangunan akhlak sangat diidam-idamkan oleh masyarakat Brebes seiring perkembangan zaman. Kecanggihan teknologi bisa meningkatkan akhlak generasi kalau digunakan secara bijaksana, tetapi bisa berekses negative ketika disalahgunakan. ? “Rijalul Ansor sangat berarti untuk membentengi moral generasi muda dari pengaruh negatif globalisasi,” ucap Idza.

Hal senada ditegaskan Habib Umar Muthohar dari Semarang yang menandaskan pentingnya pemuda sebagai pelopor dan penggerak utama pembangunan daerah. Habib Umar menjelaskan, pada masa jaman Kenabian saat terjadi perang Khandaq. Pada saat itu Nabi memberikan kebebasan kepada Pemuda Ali dengan memberikan Pedang dan Sorban, dan ternyata Ali bin Abi Thalib mendapat kemenangan. “Artinya, pemuda diberi ruang yang luas untuk membangun daerahnya dan insya Allah mendapat kemenangan,” terangnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tokoh PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Kata "nahdlah" dalam “nahdlatul ulama”, terinspirasi dari sebuah kalimat yang tertulis dalam kitab al-HikamLa tashhab man la yunhidluka haluhu wala yadulluka alallahi maqalu.” Janganlah berteman dengan orang yang perilaku dan kata-katanya tidak bisa membangkitkan dirimu kepada Allah. Dari kata "la? yunhidluka" (tidak membangkitkan) inilah, nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) berasal.

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Demikian percikan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang NU yang dipaparkan Syaiful Arif, pada kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur” di Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP), Ciputat, Sabtu (2/6) kemarin.

“NU adalah gerakan spiritual karena basis pergerakannya ada di pesantren. Sebagai lembaga pendidikan sekaligus perwujudan kultural Islam, pesantren memiliki corak keislaman fiqh-sufistik. Jadi ketaatan fiqhiyah yang dilambari oleh kedalaman tasawuf. Makanya kitab bergenre fiqh-sufistik seperti al-Hikam di atas, atau Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali merupakan kitab favorit di kalangan pesantren dan NU,” demikian Arif.?

PMII Cabang Tegal

Dengan corak fiqh-sufistik ini, menurutnya, NU memiliki pandangan fiqhiyah yang tidak hitam-putih. Hal ini yang melahirkan pemikiran kenegaraan moderat, yang menempatkan “kaca mata fiqh” sebagai standar keabsahan persoalan politik. Pancasila misalnya diterima NU setelah yakin bahwa ideologi negara ini tidak akan mengganti agama, serta tidak ditempatkan sebagai agama. Maka, Pancasila kemudian ditempatkan sebagai landasan konstitusi sementara Islam tetap diposisikan sebagai akidah. Pemikiran yang strategis seperti ini tentu tidak mungkin dicetuskan oleh kalangan puritan yang melulu berpegang pada hukum Islam, minus spiritualitas Islam.

Syaiful Arif yang merupakan alumni Pesantren Ciganjur serta penulis buku "Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif (2009)" ini menjelaskan “wasiat” Gus Dur bagi masa depan NU. Dalam hal ini Gus Dur menyatakan, “NU harus mampu merumuskan konsensus nasional yang baru tentang posisi Islam dalam kehidupan berbangsa. Caranya melalui pengintegrasian perjuangan Islam ke dalam perjuangan nasional, dengan menempatkan perjuangan Islam dalam konteks demokratisasi jangka panjang."

PMII Cabang Tegal

Untuk peran ini, NU memiliki dua modal besar, yakni kekayaan kultural dan pengalaman politik yang beragam. Ketidakmampuan untuk menggunakan dua modal tersebut, akan menempatkan NU pada pinggiran sejarah dan irrelevansi dirinya secara bertahap”. Wasiat ini termaktub dalam tulisan Gus Dur: NU dan Islam di Indonesia Dewasa ini? yang pernah dimuat di Jurnal Prisma (April 1984).

Kursus Pemikiran Gus Dur yang sudah berjalan enam kali ini dilaksanakan setiap sabtu jam 13.00 WIB di PSPP, Jl. Kertamukti Gg. H. Nipan 107, Pisangan Ciputat. Kursus ini akan berlangsung selama sembilan kali, dan bermuara pada perumusan silabus mata kuliah Gus Dur. Dengan silabus ini, mata kuliah Gus Dur akan diajarkan di perguruan tinggi agar pemikiran mantan Ketua Umum PBNU ini tidak lenyap ditelan sejarah.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Idris Mas’udi?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tokoh PMII Cabang Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano

Ekspedisi Islam Nusantara tiba di Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (27/5) setelah menempuh perjalanan 10 jam dari Gorontalo dengan menumpangi satu armada bus Damri. Selepas Jumatan, setelah makan siang di Jalan Roda, mereka langsung ke Tondano.

Ketika tiba di masjid Al-Falah Kyai Modjo, Ekspedisi Islam Nusantara mendirikan shalat Ashar. Kemudian berziarah ke makam Kyai Modjo, salah seorang pendukung utama Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda yang dikenal dengan Perang Jawa tahun 1825-1830.

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspedisi Islam Nusantara Ziarahi Kyai Modjo di Tondano

Diantar Pengurus PWNU Sulawesi Utara dan beberapa warga, Ekspedisi Islam Nusanatara yang dipimpin Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imam Pituduh mengadakan tahlilan tepat di sisi makam Kyai Modjo.

Makam Kyai Modjo dikelilingi makam-makam lain, sekitar 10 makam yang dicat warna putih. Sementara makam Kyai Modjo berbeda sendiri warnanya gading. Makam-makam tersebut dinaungi sebuah bangunan berbentuk joglo kira-kira 15 m X 10 m. Di luar joglo tersebut terdapat puluhan makam yang dikelilingi rapatnya bambu dan pepohonan.

PMII Cabang Tegal

Untuk sampai ke makam tersebut, harus menaiki tangga yang lurus kemudian berbelok ke arah barat. Jaraknya tidak lebih 200 meter. Memang kompleks pemakaman tersebut terletak di sebuah bukit.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya, ketika memasuki kompleks pemakaman, terpampang keterangan tentang Kyai Modjo. Papan tersebut menceritakan bahwa rombongan Kyai Mojo yang tiba di Tondano pada akhir tahun 1929. Ia diasingkan bersama pasukannya berjumlah 62 orang, dan semuanya laki-laki.

Papan itu juga menyebutkan bahwa Kyai Mojo bernama asli Kyai Muslim Muhammad Halifah, lahir pada 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849.

Kyai Modjo diasingkan bersama pasukannya oleh penjajah Belanda ke daerah tersebut. Ia bersama pengikutnya diasingkan dengan rute dari Semarang-Batavia-Ambon-Tondano. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama, RMI NU, Tokoh PMII Cabang Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

Jepara, PMII Cabang Tegal

KH Muadz Thohir yang merupakan sahabat karib almahrum Gus Dur didaulat untuk berbicara dalam Haul ke-6 Gus Dur yang berlangsung di Masjid Arrobbaniyyin Kampus Unisnu Jepara, Kamis (14/01) lalu. Dalam kegiatan bertajuk "Mengenang Gus Dur dan Pluralisme Agama" kiai yang kerap disapa Gus Muadz ini menerangkan bangsa Indonesia wajib memperingati Haul Gus Dur jika tidak ia menyebutnya "keterlaluan".?

"Di Irak ada Haul Gus Dur. Di Brunei dan Malaysia juga ada peringatan Gus Dur. Sehingga jika kita tidak menghauli Gus Dur itu "keterlaluan"," jelasnya.

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Haul, KH Muadz Thohir Ceritakan Keistimewan Gus Dur

Kegiatan Haul yang dikemas ala pengajian Awan PBNU ini menyatakan KH Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang "kontroversial" baik secara keilmuwannya maupun ibadahnya. Kiai asal Pati Jawa Tengah ini menyontohkan shalat yang ditunaikan Gus Dur tidak sama yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Sebab mantan Presiden RI ini menurutnya pernah mempunyai riwayat ususnya pernah dipotong hingga 22 cm. Hingga, tambahnya, ia Gus Dur tidak mampu menunaikan shalat layaknya orang awam. Tetapi dirinya meyakini Gus Dur tetap menunaikan shalat.

Membaca

PMII Cabang Tegal

Dalam hal intelektual, Gus Muadz menyebut Gus Dur merupakan sosok yang kutu buku. Setiap ada buku baru ia mesti membacanya. Bahkan ketika penglihatannya mulai terganggu banyak kerabat Gus Dur yang diminta untuk membacakan buku meski hanya judul dan pendahuluannya saja. "Ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman beliau sewaktu masih muda banyak membaca literatur sehingga buku terbaru pun sudah bisa dipahami meski hanya judul dan pendahuluan saja," tuturnya.

Gus Dur muda, kenangnya, beda dengan kebanyakan pemuda yang lain. Dibeberkannya dalam semenit Gus Dur mampu mendaras seribu kata. Padahal sekelas orang jenius hanya mampu membaca 250-500 kata. "Saya hanya bisa membaca 150-200 kata per menit. Kalau Gus Dur membacanya cepat," tandasnya.

Ia pun ingat betul akan petuah Gus Dur bahwa perintah membaca yang termaktub dalam Al-Quran tidak menyebut spesifikasi buku yang dibaca. "Kita mesti membaca apa saja. Bisa buku, maupun lingkungan maupun membaca alam," urainya.

PMII Cabang Tegal

Ia menegaskan, sebelum membaca orang lain, kita dituntut untuk membaca diri kita masing-masing. Sebelum menyalahkan orang lain kita mesti menyalahkan diri sendiri. "Lihatlah orang lain dari sisi positifnya jangan melihat dari hal negatifnya," lanjutnya. Bagi dia, Gus Dur merupakan sosok yang sederhana, sosok yang menghargai perbedaan dan masih banyak titel yang disandang oleh guru bangsa ini. Mulai politisi, kiai dan ilmuwan. Ia menambahkan Gus Dur tidak pernah mempunyai beban meskipun dengan orang yang membencinya sekalipun. Gus Dur meyakini orang yang tidak cocok lama-lama kelamaan akan menjadi cocok.

Dengan banyaknya yang sudah dilakukan Gus Dur ketika ia dipanggil sang pencipta semuanya menangis baik muda dan tua semuanya menangis. Hal lain ditambahkan Lutfi Rahman, Pembina Jaringan Gusdurian Jepara menilai Gus Dur merupakan guru dan inspirator yang gagasannya layak dikembangkan dan dipraktikkan.

Gus Dur masih menurutnya adalah tokoh plural yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sehingga tak salah hingga kini yang berziarah ke makamnya dari berbagai elemen agama.

H Anas Arbaani, Wakil Ketua PCNU Jepara dalam sambutannya mewakili PCNU Jepara dengan haul Gus Dur merupakan upaya untuk nguri-nguri semangat yang pernah digelorakan Gus Dur. Gus Dur bagi Subchan Zuhri, Sekretaris IKA PMII Jepara tidak pernah mati dan "selalu hidup". Terbukti dengan pemikiran-pemikirannya terus dikaji hingga sekarang.

"Saat ini kita (generasi muda, red) mesti membaca literatur, mengkaji pemikiran dan mempraktikkan apa yang menjadi cita-cita Gus Dur di tengah-tengah masyarakat," pungkas komisioner KPU Jepara yang demen membaca intisari-intisari Gus Dur ini. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tokoh, Habib PMII Cabang Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Menag Upayakan Jamaah Haji Indonesia Tak Tempati Mina Jadid

Jeddah, PMII Cabang Tegal

Dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik serta mengurangi risiko bagi jamaah haji Indonesia, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berupaya agar pada penyelenggaraan haji tahun ini tidak ada lagi jamaah Indonesia yang menempati kawasan Mina Jadid.

Menurut Menag, jarak antara Mina Jadid dengan tempat melempar jumrah (jamarat) sangat jauh, mencapai 7 km. Jarak itu harus ditempuh dengan berjalan kaki sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan keamanan bagi jamaah. Jika jaraknya bisa diperpendek, Menag berharap risiko itu bisa diminimalisir. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Upayakan Jamaah Haji Indonesia Tak Tempati Mina Jadid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Upayakan Jamaah Haji Indonesia Tak Tempati Mina Jadid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Upayakan Jamaah Haji Indonesia Tak Tempati Mina Jadid

“Tahun ini kita harus punya target, kita upayakan agar tidak ada lagi jamaah haji kita yang ditempatkan di Mina Jadid. Karena itu jauh sekali. Dari 125 korban peristiwa Mina pada musim haji lalu, sebagian adalah mereka yang tinggal di sana,” terang Menag dalam Rapat Koordinasi di Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) Jeddah, Kamis (10/03).

Rakor ini diikuti oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Abdul Djamil, Sekjen Kemenkes Untung Suseno Sutarjo, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, Kapus Kesehatan Haji Kemenkes Muhtaruddin, Konjen RI di Jeddah Dharmakirty Syailendra Putra, dan Staf Teknis Haji I (STH I) Ahmad Dumyathi Bashori beserta jajaran STH di KUHI.

PMII Cabang Tegal

Menurut Menag, ada tiga  alternatif solusi yang diupayakan agar jamaah haji Indonesia tidak lagi ditempatkan di Mina Jadid. Solusi pertama, Menag mengaku sudah berkirim surat kepada Menteri Haji Saudi agar tenda Mina bisa ditingkat sehingga daya tampungnya lebih banyak dan tidak perlu lagi ada jamaah haji yang ditempatkan di luar wilayah Mina. Menag masih menunggu respon Pemerintah Saudi terkait surat ini, apakah bisa  direalisasikan pada tahun ini atau tidak.

Solusi kedua, lanjut Menag, jamaah haji yang diproyeksikan akan ditempatkan di Mina Jadid akan ditempatkan di pemondokan di Makkah yang terdekat dengan Mina. “Jadi  mereka tidak perlu tinggal di tenda. Mereka kembali ke hotelnya sehingga itu diharapkan dapat meminimalisir potensi kesasar atau bahkan potensi terjadinya kecelakaan, ancaman kesehatan, dan lainnya,” terang Menag.

Selama ini, ada sekitar 7 Maktab di Mina Jadid yang ditempati oleh jamaah haji Indonesia. “Kita sudah bisa memproyeksikan kloter yang nantinya akan menempati tujuh maktab itu kita tempatkan di hotel-hotel yang berdekatan dengan jamarat,” tegas Menag.

Sebagai solusi ketiga, Menag ingin agar jamaah haji yang ditempatkan di Mina Jadid menempati tenda petugas haji di Mina. “Biarlah jamaah yang di Mina Jadid, tinggal di tenda yang biasa kita  tempati. Lalu petugas carikan tempat lain di luar Mina,” tutur Menag.

Selama ini, tenda petugas haji di Mina berada di dekat pintu terowongan Muaishim yang mengarah ke Jamarat. Jarak dari tenda ke Muaishim jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan Mina Jadid.

PMII Cabang Tegal

Menag Lukman dan tim dijadwalkan akan berada di Arab Saudi sampai dengan Selasa (15/03) mendatang. Selama di Saudi, Menag akan melakukan sejumlah pertemuan guna membahas persiapan penyelenggaraan ibadah haji. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tokoh, Hadits PMII Cabang Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren

Jakarta, PMII Cabang Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) mengatakan, rugi besar bila pendidikan di Indonesia tidak mengambil kelebihan yang ada di pesantren. Pesantren dengan kiainya yang dengan tulus dan gigih mengelola pendidikan terbukti menghasilkan alumni yang luar biasa.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pembukaan Simposium dan Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (28/3).

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Imbau Perguruan Tinggi NU Teladani Pesantren

“Gus Dur, Nurkholis Majid, dan Pak Nasir (Menristek Dikti M Nasir, yang juga hadir pada kesempatan tersebut) adalah contoh-contoh alumni pesantren,” kata Kang Said.

Menurutnya, pesantren memiliki empat kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan yang lain. Pertama adalah ta’lim atau transfer of knowledge (pengetahuan). Kedua adalah tadris, karena para kiai pesantren mengamalkan dan mempraktikkan ilmunya. Ketiga adalah ta’dib, yaitu membentuk peradaban. Keempat, tarbiyah atau pengajaran.

PMII Cabang Tegal

Ini persoalan yang ringan diucapkan, tapi sangat sulit dilaksanakan. Pendidikan yang baik adalah yang bervisi dan bermisi membentuk masyarakat cerdas, pandai, mempunyai skill (keahlian), arif dan bijaksana.

PMII Cabang Tegal

Kiai dalam pengajaran ilmu nahwu dapat menyinkronkan dengan terminologi bahasa Jawa secara benar. Kiai memberi contoh secara langsung kepada para santri bagaimana saat menerima tamu, saat senang, saat sedih, dan menghadapi bermacam persoalan.

Kang Said merasa heran, pendidikan umum tidak mengambil sisi baik yang ada di pesantren. Padahal banyak sisi positif dari pesantren, juga tak sedikit pesantren yang maju.

Karena itu, kepada peserta simposium yang terdiri atas para mahasiswa utusan BEM perguruan tinggi NU seluruh Indonesia, Kang Said berpesan bahwa sebagai mahasiswa yang ingin mempertahankan ajaran Aswaja, ia tidak boleh melupakan akar, nilai ahlaq mulia, dan nilai moral, mental, spiritual, hasil dari pendidikan pesantren. (Kendi? Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hadits, Tokoh PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock