Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Para dosen Pascasarjana Program Magister (PPM) Islam Nusantara Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar diskusi pemantapan kurikulum tahun akademik 2015/2016 di ruang Media Center lantai 5 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (7/10) sebelum proses perkuliahaan perdana dimulai.

“Rapat dan diskusi ini digelar guna mengevaluasi proses perkuliahaan yang telah lalu sehingga bisa memperbarui kualitas kurikulum dan proses perkuliahaan ke arah yang lebih baik,” ujar Asisten Direktur Pascasarjana, Dr Muhammad Ulinnuha Husnan, MA.

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta Gelar Pemantapan Kurikulum

Dari dinamika diskusi berdasarkan beberapa semester lalu yang sudah berjalan, para dosen sepakat untuk memasukkan matrikulasi bahasa. Antara lain bahasa Belanda, Arab, dan Jawa.

PMII Cabang Tegal

“Alasannya jelas, karena literatur-literatur terkait sejarah Islam di Nusantara sangat banyak yang masih berbahasa Belanda dan Jawa selain Arab dan Arab pegon,” terang Ulin.

Diskusi ini dihadiri oleh narasumber diantaranya, Prof Dr M Dien Madjid, Dr Rumadi, Dr Mastuki Hs, dan Hamdani, PhD. Serta para staf akademik, Muhammad Afifi, MH, Ayatullah, MFil, dan Muhammad Idris Masudi, Lc, SThI.

PMII Cabang Tegal

Angkatan pertama, PPM Islam Nusantara STAINU Jakarta berhasil mencetak magister pertama sebanyak 45 orang dengan mengkaji tesis mengenai khazanah Islam Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.

Tahun akademik 2015/2016 ini, pascasarjana menerima sebanyak 90 mahasiswa dari berbagai program beasiswa. Program beasiswa Kemenag untuk guru sebanyak 20 orang, beasiswa program pendidikan kader ulama (PKU) sebanyak 25 orang, program beasiswa 1 tahun STAINU Jakarta 30 orang, dan 25 orang lagi dari program beasiswa Yayasan Said Aqil Siroj. Perkuliahaan perdana akan dilaksanakan mulai Jumat, 9 Oktober 2015 besok. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Nusantara, Sejarah PMII Cabang Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

LKNU Tambah Peralatan Medis di Tiga Kabupaten

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menambah sejumlah peralatan medis di tiga kabupaten di Jawa Tengah yakni Kudus, Pati, dan Rembang. Penambahan peralatan ditujukan di rumah sakit NU.

LKNU Tambah Peralatan Medis di Tiga Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Tambah Peralatan Medis di Tiga Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Tambah Peralatan Medis di Tiga Kabupaten

“Selain kursi roda, LKNU menyerahkan mesin foto rontgen sebanyak satu buah di Kabupaten Pati Jawa Tengah,” kata Izzah, asisten PO LKNU kepada PMII Cabang Tegal di kantor PBNU Jakarta, Senin (26/11) siang.

Untuk rumah sakit di Kabupaten Demak, LKNU menambah alat cek sel darah pasien dan defibrillator. LKNU menyerahkan alat tersebut sesuai dengan kebutuhan rumah sakit yang bersangkutan. 

PMII Cabang Tegal

Sementara rumah sakit Rembang menerima kuretase, partus, dan alat pompa ginekologi. Alat-alat yang diarahkan ke rumah sakit Rembang, lebih berkenaan dengan kesehatan perempuan dan alat reproduksinya.

“Kursi roda kita prioritaskan untuk pasien-pasien NU dan tokoh-tokoh NU setempat yang sudah sepuh,” ungkap Anggie Ermaim, Sekjen LKNU, Jumat (23/11) petang.

PMII Cabang Tegal

LKNU yang berdiri tahun 2004, akan terus bergerak melayani kebutuhan kesehatan warga NU sesuai dengan amanah Muktamar NU 2004 silam di Solo. Dalam mengawal isu kesehatan di kalangan NU, LKNU bekerjasama dengan pihak manapun.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Ahlussunnah PMII Cabang Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Bagi Ibu Hamil Harus Perhatikan Hal Berikut Ini

Sidoarjo, PMII Cabang Tegal - Hamil adalah suatu hal yang perlu dipersiapkan. Tiga bulan sebelum kehamilan, seorang ibu hamil harus mengkonsumsi asam folat, nutrisinya juga harus terpenuhi. Hal itu diungkapkan dokter spesialis kandungan, Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dr. Raz Fides Umi, kepada PMII Cabang Tegal di sela-sela seminar Awal Kehidupan Terbaik untuk Masa Depan Si Kecil di ruang pertemuan RSI Siti Hajar jalan Raden Patah, Sidoarjo, Sabtu (11/3).

"Awal kehidupan terbaik untuk masa depan si kecil ialah proses kehamilan dimulai sebelum kehamilan maupun setelah kehamilan. Seribu hari pertama merupakan hari pertama kehidupan dan hal paling penting terdapat 27 hari di saat kehamilan, 730 hari di saat setelah bayi itu dilahirkan," kata dr Umi.

Bagi Ibu Hamil Harus Perhatikan Hal Berikut Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Ibu Hamil Harus Perhatikan Hal Berikut Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Ibu Hamil Harus Perhatikan Hal Berikut Ini

Menurutnya, stimulasi sangat penting untuk mempersiapkan awal kehamilan. Pasalnya, saat ibu hamil diperlukan mengkonsumsi asam folat, nutrisi yang baik dan stimulasi, sehingga akan membuat tumbuh generasi yang optimal.

Lebih lanjut Umi menegaskan, setiap jam, harus ada gerakan dalam perut. Kalau tidak ada gerakan, seorang ibu harus merangsangnya dengan memberikan musik di perut supaya bayinya bisa terangsang. Jika sudah melakukan hal itu, namun tidak ada gerakan sama sekali, harus diperiksakan ke dokter. Karena dalam setiap jam harus ada gerakan dari si bayi.

PMII Cabang Tegal

"Dengan melakukan stimulasi dapat membentuk perkembangan otak yang optimal. Dan pada saat setelah melahirkan, pada usia 2 tahun? seorang ibu harus memberikan nutrisi yang optimal. Sebab, ibu yang pintar akan menghasilkan anak yang pintar, bukan karena bapaknya, tapi yang berpengaruh adalah ibunya," tegasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

?

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, News PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut

Medan, PMII Cabang Tegal. Pelaksanaan Konferensi Wilayah I Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara yang berlangsung pada 20-21 Juni 2012 di hotel Griya Medan berjalan dengan sukses dan menghantarkan Syafii Sitorus sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara 2012-2017.

Pembukaan Konferwil dilakukan oleh Ketua Umum PP Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa H Fuad Anwar, Rabu (20/6), dimana dalam sambutannya mengingatkan bahwa Pagar Nusa merupakan pengawalnya para ulama.

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)
Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut

"Saya mengingatkan kepada para pendekar Pagar Nusa bahwa keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat adalah pengawalnya ulama. Selain itu pendekar Pagar Nusa juga harus mampu menjaga situasi kondusif di lingkungannya masing-masing sebab sebagai pendekar kita juga bertanggungjawab menjaga keamanan di NKRI ini," ujar Fuad.

PMII Cabang Tegal

Fuad mengharapkan agar Konferensi Wilayah I Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara menghasilkan kepengurusan yang lebih baik dan mampu membesarkan Pagar Nusa di Sumut dimasa yang akan datang.

"Saya menegaskan bahwa Pagar Nusa dibawah kepemimpinan Achmad Firdausi Hutasuhut sudah sangat baik dimana roda organisasi berjalan dengan lancar dan saat ini sudah mengakhiri periode kepemimpinnanya dengan baik yakni terselenggaranya pelaksanaan Konferwil ini," ujar Fuad.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya juga turut memberikan kata sambutan Penasehat Pagar Nusa Sumut H Anwar Nur Siregar, yang menegaskan agar para pendekar Pagar Nusa di Sumatera Utara lebih banyak melakukan pembinaan kepada generasi muda sehingga dihasilkan atlet-atlet pencak silat yang memiliki prestasi gemilang.

Sedangkan H Adlin Damanik yang mewakili PWNU Sumut meminta agar Pendekar Pagar Nusa Sumut memberikan pelatihan kepada santri-santri yang ada di pesantren NU yang tersebar di Sumut ini.

Sementara itu Ketua Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumut demisioner Ahcmad Firdausi Hutasuhut menegaskan bahwa kedepannya Pagar Nusa Sumut harus mampu menghasilkan atlet-atlet pencak silat yang  berprestasi dan mampu untuk membesarkan Pagar Nusa di Sumut ini.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Syafii

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pertandingan, Nahdlatul, News PMII Cabang Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Penuhi Permintaan Anggota, Ansor Pekalongan Produksi Sarung

Pekalongan, PMII Cabang Tegal. Banyaknya permintaan asesoris organisasi seperti jaket, jas, batik seragam, dan kaos yang berlogo Ansor dan banser, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Pekalongan melalui unit ekonominya Sentral Bisnis Ansor Banser (Sorban) baru baru ini telah meluncurkan produk baru berupa sarung Ansor.

Penuhi Permintaan Anggota, Ansor Pekalongan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Permintaan Anggota, Ansor Pekalongan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Permintaan Anggota, Ansor Pekalongan Produksi Sarung

Produksi sarung ansor ini sekaligus melengkapi produk Sorban yang telah menyebar di beberapa daerah di wilayah Indonesia. Selain untuk memenuhi kebutuhan internal organisasi, Sorban Ansor Kabupaten Pekalongan juga memproduksi seragam batik organisasi seperti LP Maarif, IPNU IPPNU dan seragam seragam guru dengan motif dan corak sesuai kebutuhan.

Mengenai sarung ansor, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan Azmi Fahmi kepada PMII Cabang Tegal mengatakan, ada beberapa tipe dan motif yang saat ini diproduksi dan dipasarkan oleh sorban. Yang sekarang ini telah beredar di pasaran ada dua yakni tipe polos dan dolby dengan corak warna soft.

"Alhamdulillah di bawah naungan Sorban usaha ekonomi yang dikelola oleh PC Ansor Kabupaten Pekalongan berjalan cukup baik, di samping usaha lain yang saat ini terus dikembangkan seperti travel perjalanan haji dan umroh plus, dan koperasi," tutur Fahmi.

PMII Cabang Tegal

Dikatakan, dengan usaha ekonomi yang dikelolanya, GP Ansor Kabupaten Pekalongan tidak lagi mengalami kesulitan pendanaan organisasi seperti periode periode sebelumnya, misal jika akan menggelar kegiatan harus bikin proposal lebih dahulu.

Fahmi berharap produksi sarung ansor yang telah diluncurkan bersamaan dengan pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) GP Ansor Jawa Tengah di Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/11) dapat diterima oleh khalayak dan pihaknya siap menerima pemesanan dan jumlah besar untuk organisasi, kelompok pengajian maupun perorangan. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Anti Hoax, News, Sholawat PMII Cabang Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

Bangka, PMII Cabang Tegal. Upaya pendampingan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Kementerian Sosial RI. Kali ini Kemensos memanfaatkan kecanggihan teknologi digital untuk mempermudah pendampingan sosial dengan meresmikan dua aplikasi yaitu Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa, Rabu (5/4) di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa hadir secara langsung ke Bangka untuk meresmikan aplikasi penanganan ibu hamil dan pengembangan desa tersebut.?

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Resmikan Aplikasi Bumil Resti dan Kembang Desa di Bangka Belitung

“Kami di sini untuk meresmikan aplikasi Bumil Resti dan aplikasi Kembang Desa,” ujar Khofifah.

Dia menerangkan, Aplikasi Bumil Resti atau Sistem Informasi Ibu Hamil Resiko Tinggi merupakan inisiatif Pemkab Bangka dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu hamil dan ibu bersalin untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

PMII Cabang Tegal

“Ini adalah sebuah inovasi yang bisa menjadi role model bagi daerah lain. Lewat aplikasi ini Pemkab Babel memburu atau mencari ibu-ibu hamil yang beresiko tinggi sampai ke pelosok desa,” jelas perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini.

Khofifah juga menerangkan, aplikasi ini menguatkan peran bidan dan dokter spesialis kandungan dalam pemantauan secara terus menerus terhadap Bumil Resti.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi program perburuan anak putus sekolah untuk mendapatkan kejar paket serta perburuan lansia terlantar untuk mendapatkan respon cepat.

PMII Cabang Tegal

Sementara aplikasi "Kembang Desa" atau Kesejahteraan Masyarakat Bangka dengan Sistem dan Aplikasi merupakan sistem yang dibangun dengan mengedepankan Rumah Tangga Sasaran (RTS).?

Aplikasi tersebut menurutnya, merupakan sistem informasi pengelolaan data kemiskinan yang paling lengkap di Indonesia dan paling mudah diakses oleh masyarakat luas.

“Sistem ini memiliki keunggulan tidak hanya merekam data kemiskinan by name by address, tetapi juga terdapat foto dan profil lengkap RTS. Bahkan sampai titik koordinat alamat individu RTS,” tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Tegal, Warta PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Probolinggo, PMII Cabang Tegal

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Nasional, pemuda Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam “Aliansi Pemuda Tolerasi Peduli“ menggelar aksi peduli Intan Olivia, seorang anak kecil yang meninggal karena terkena bom di Kota Samarinda.

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Para pemuda ini terdiri dari Gusdurian Probolinggo, Pimpinan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Inzah Genggong, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Inzah Genggong dan Bosan (Bocah Skuteris Kraksaan).

Aksi peduli ini diisi dengan acara musikalisasi puisi, pembacaan Surat Yaasin dan tahlil bersama serta ditutup dengan mengheningkan cipta di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (16/11) malam.

PMII Cabang Tegal

Korlap Aksi Peduli Novan Fawaid mengungkapkan kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa toleran terhadap pemuda mengingat hari ini kita sebagai warga Negara lupa akan hakikat toleransi itu sendiri.

“Untuk solidaritas Intan Olivia, kami mengutuk keras atas kelompok yang mengatasnamakan agama yang mengakibatkan anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa menjadi korbannya, bahkan sampai ia meninggal pun tidak ada dari mereka tahu dan bertanggungjawab,” katanya.

PMII Cabang Tegal

Melalui aksi ini Novan mengharapkan para pemuda, ormas dan kelompok apapun untuk selalu meningkatkan dan menanamkan jiwa toleransi. “Hal ini penting agar setiap pemuda bisa saling menghargai dan menghormati demi terwujudkan daerah yang aman dan konsusif,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, News, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga

Buleleng, PMII Cabang Tegal - Pondok Pesantren Nurul Jadid Pemuteran Kabupaten Buleleng menggelar Pekan Olahraga yang didukung oleh Kemenpora RI. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 26 sampai 28 Desember 2017.

Dalam pekan olahraga ini, aneka macam perlombaan digelar mulai dari futsal santri, tenis meja, badminton, dan lari cepat 100 meter serta olahraga tradisional yakni gobak sodor. Selain itu, pekan olahraga ini diawali dengan penampilan atraksi pencak silat dari grup Pagar Nusa Buleleng.

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Bali Gelar Pekan Olahraga

Perlombaan ini diikuti tujuh pondok pesantren, yakni Pesantren Nurul Jadid, Pesantren Mirqotul Falah, Pesantren Bustanul Ulum, Pesantren Nurul Iman, Pesantren Nurul Hasan, Pesantren Nurul Fatah, Masjid Remas Ainul Yaqin dan MI Assyafiiyah.

PMII Cabang Tegal

Pengasuh Pesantren Nurul Jadid Gus M Sadoellah Yamin memgatakan, kegiatan ini merupakan bantuan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi kepada pesantren untuk meningkatkan prestasi dan semangat olahraga di pesantren.

PMII Cabang Tegal

"Selain bantuan langsung Kemenpora RI, kegiatan ini, juga didukung PAC Anshor Gerokgak. Saya juga mengajak semua komponen masyarakat untuk terus ikut serta menggelorahkan olahraga. Khususnya dilingkungan Pesantren dan terus bersinergi dengan visi dan misi Kemenpora," ucapnya. Kamis (28/12) malam.

Menurut Gus Sadoellah, olahraga harus dilestarikan di pesantren agar para santri juga sehat dalam raganya sehingga ketika mengikuti pelajaran umum dan agama. Mereka juga bisa bersemangat.

"Mari kita berdoa semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang sehat. Ini sangat cocok sekali dengan nilai-nilai pesantren," imbuhnya.

Gus Sadullah menuturkan bahwa olahraga hal yang sangat penting untuk para santri karena santri di kompleks pesantren juga bisa meningkatkan potensinya di berbagai bidang olahraga yang digemarinya.

"Harapan saya, pesantren tidak hanya mencetak seorang kiai, ustadz, atau guru. Tapi juga atlet olahraga. Yang nantinya, bisa ikut serta mengharumkan nama negeri ini. Sejak dulu santri selalu ikut mewarnai pentas nasional. Insya Allah semoga santri Nurul Jadid bisa berprestasi dalam bidang apapun, supaya bermanfaat pada masyarakat, khususnya di lingkungannya," tutupnya. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Pahlawan, News PMII Cabang Tegal

Syekh Hisyam Kabbani Hadiri Istighotsah Kubra di Ciganjur

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Pemimpin Tarekat Naqsabandi Haqqani Amerika Serikat Syekh Muhammad Hisyam Kabbani dijadwalkan akan mengikuti istighotsah kubra yang digelar di Masjid Jami’ al-Munawwarah Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/5).

Rencananya, acara dimulai selepas sembahyang isya’ atau sekitar pukul 19.30 WIB. Akan hadir pula dalam kesempatan itu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mantan ibu negara Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, guru sufi Tarekat Syadziliyah KH Luqman Hakim.

”Sebetulnya, Syekh Hisyam ingin bertemu dengan Ibu Shinta Nuriyah. Karena bertepatan dengan momen istighotsah di Masjid al-Munawwarah, kita undang beliau sekalian,” kata salah seorang panitia, Darul Qutni.

Syekh Hisyam Kabbani Hadiri Istighotsah Kubra di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Hisyam Kabbani Hadiri Istighotsah Kubra di Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Hisyam Kabbani Hadiri Istighotsah Kubra di Ciganjur

Selain istighotsah, pihak penyelenggara juga memberikan waktu khusus kepada Syekh Hisyam Kabbani untuk memberikan tausyiyah. ”Mudah-mudahan beliau dapat hadir bersama kita semua,” harap Darul.

Ketua Harian DKM Masjid Jami’ al-Munawwarah H Syaifullah Amin mengatakan, Syekh Hisyam Kabbani diketahui sudah berada di Indonesia, 18 Mei lalu. Diperkirakan, ulama sufi kelahiran Lebanon 28 Januari 1945 ini akan berada di Tanah Air selama 10 hari.

PMII Cabang Tegal

Pihak panitia mengundang masyarakat secara umum untuk bergabung dalam majelis istighotsah kubra yang digelar di kompleks Yayasan Abdul Wahid Hasyim ini.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal AlaSantri, News, Nusantara PMII Cabang Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

Indramayu, PMII Cabang Tegal. Tak punya cukup dana guna ikuti Latihan Kader Utama (Lakut), Muhammad Hizbullah rela menjual dua ayam yang ia punya.

"Mau jual hape, tapi 50 (ribu) aja gak bakal dapet," ujar Bul, panggilan akrabnya, sembari menunjukkan ponsel miliknya yang layarnya retak-retak di Musalla PCNU Kabupaten Indramayu, Sabtu, (4/2).

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

Semangat tinggi Hizbullah dalam mengikuti kaderisasi pernah dilakukan oleh sahabat karibnya, Taufik, yang sekitar dua bulan lalu telah meninggalkannya.

PMII Cabang Tegal

Opik, begitu ia biasa dipanggil, mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) dengan berjualan es kelapa muda. Ia bermimpi mengikuti jenjang kaderisasi tertinggi pelajar NU, yakni Lakut.

Menurut penuturan pengurus PC IPNU Indramayu Mumin, dalam keadaan kritis, Taufik tidak bisa diajak interaksi mengingat ia mengalami masalah pada sarafnya. Tetapi, ketika kata Lakut diperdengarkan, kader militan yang status akun Facebooknya penuh dengan ajakan kegiatan IPNU itu merespons dengan menganggukkan kepalanya.

PMII Cabang Tegal

"Kalau kita ngomong Lakut, kepalanya mengangguk-angguk," ucap Mumin menggebu-gebu berbagi cerita pada Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid.

Katanya, PC IPNU Indramayu "ngotot" ingin menjadi tuan rumah Lakut untuk wilayah III Pantura itu karena khusus untuk menghormati perjuangan dan dedikasi Taufik.

"Ini kita hadiahkan khusus untuknya," ujarnya di hadapan rekan-rekan instruktur pimpinan pusat dan pimpinan wilayah.

Sebelum menutup acara, Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid secara khusus meminta semua peserta, panitia,dan instruktur mengirimkan hadiah Al-Fatihah untuknya. Seusai itu, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Wakil Sekretaris Bidang Kaderisasi PP IPNU Abdullah Muhdi. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pondok Pesantren, Doa, News PMII Cabang Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran

Semarang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengungkapkan, saat ini beredar buku-buku beraliran radikal yang tersebar bebas di tengah masyarakat baik berbahasa Arab atau bahasa Indonesia.

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Quran

Ada buku Al-jihadu Sabiluna karangan Syaikh Abdul Baqi Ramdun, buku Fi Tarbiyyah al-Hihadiyyah wal-Bina karya Syaikh Abdullah Azzam, dan buku-buku yang ditulis Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani dan lainnya.

Dalam satu kegiatan yang diselenggarakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNNPT) di Semarang 11-12 Oktober lalu, Ketua PWNU Jawa Tengah Muhammad Adnan mengungkapkan, buku-buku yang mengajarkan terorisme itu biasanya berisi pemelintiran atas ayat-ayat Al-Quran maupun tafsirannya. Ayat-ayat tentang jihad yang turun di Mekkah dianggap telah di-nasakh (dihapus hukumnya) dengan ayat yang turun di Madinah.?

PMII Cabang Tegal

Kaum radikal yang mengklaim gelar syaikh dalam bukunya, lanjut dia, menganggap periode Madinah adalah masa perang. Mereka menganggap ayat yang turun di masa Nabi tinggal di Mekah tidak berlaku lagi.?

PMII Cabang Tegal

Contoh ayat yang dipelintir adalah surat Al-Hajj ayat 39 dan Surat Al-Baqoeoh ayat 191-192. Ketiga ayat tersebut dimaknai perintah untuk menyerang kepada kaum kafir sekalipun kaum muslim tidak diserang lebih dulu. Tak lagi fase difa’ atau defensif.?

”Para penulis buku radikal memelintir ayat dan tafsiran Al-Quran secara ngawur. Mereka menganggap ayat yang turun di Madinah menghapus ayat yang turun di Makkah. Jihad menurut mereka hanya satu, yaitu perang dan menyerang musuh meskipun tidak diserang duluan,” terangnya.?

Adnan bahkan menemukan, kaum radikalis senang sekali mendakwa bahwa Hadis Rasulullah tentang jihad akbar melawan hawa nafsu sebagai hadis mardud alias tertolak. Lalu menganggap para ahli fiqih sebagai pembuat khayalan dalam pemetaan negara.?

”Selain memelintir ayat Al-Quran, mereka juga menilai hadis menurut nafsu mereka sendiri. Ada hadis yang mereka tolak, hadis jihad akbar melawan hawa nafsu mereka anggap sebagai ajaran untuk memasung dakwah Islam,” sambungnya.?

Menurut Adnan, jihad adalah bahasa Al-Qur’an, maka hanya Al-Quran yang tahu maknanya. Namun Allah melalui Rasul-Nya telah memberitahu umatnya, bahwa jihad itu banyak terapannya, termasuk menanamkan aqidah, mendirikan sholat, membayar zakat dan sabar dalam menghadapi musibah. Lalu jihad paling besar adalah melawan hawa nafsu. Sedangkan perang adalah sistem pembelaan diri dan itupun disebut Rasul sebagai jihad kecil.?

”Perang hanyalah salah satu bentuk jihad, yang jika dilakukan harus memenuhi ketentuan syariat. Tidak asal menyerang dan ngawur. Lagi pula, ayat tentang jihad dalam pengertian perang, baru turun pada tahun kedua hijriyah pada surat Al-Baqorah 193 dan dipertegas dalam Al-Hajj 40. Jadi kita harus menyampaikan pengertian ini kepada anak-anak kita. Setidaknya agar teroris tidak merebuat isi pikiran generasi kita,” tegas dia.?

Qital; peperangan, harb atau ghozwah; perang, lanjutnya, jelas berbeda dengan penyerangan, perusakan, dan teror. Apalagi ditujukan kepada tempat ibadah dan menimbulkan korban yang tidak terkait dengan target yang diserang.?

”Jangan biarkan teroris, kaum radikal dan orang bodoh mendistorsi atau menyelewengkan ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah. Teks-teks suci itu jika dimaknai dan ditafsiri secara ngawur, akan merusak ajaran Islam dan menghancurkan agama kita ini,” pungkasnya.?

Selain Adnan, pembicara lain dalam forum itu antara lain Abu Hafsin Umar, Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo yang juga ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Tengah, dan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Dr Irfan Idris.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Santri, News PMII Cabang Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Menjadi Pengajak yang Bijak

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Pengajak yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Pengajak yang Bijak

? ? ? :? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

PMII Cabang Tegal

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang dua orang bersaudara dari kalangan? Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras: yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sangat rajin beribadah.

PMII Cabang Tegal

Rupanya si ahli ibadah yang selalu menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa tak betah untuk tidak menegur. Teguran? pertama pun terlontar. Seolah tak memberikan efek apa pun, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan si ahli ibadah.

“Berhentilah!” Sergahnya untuk kedua kali.

Si pendosa lantas berucap, "Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?"

Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang rajin beribadah itu tiba-tiba mengeluarkan semacam kecaman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kisah ini terekam sangat jelas dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di bagian akhir, hadits tersebut memaparkan, tatkala masing-masing meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wa taala.

Kepada yang tekun beribadah, Allah mengatakan, "Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?"

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

"Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku," kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, "(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka."

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Cerita tersebut mengungkapkan fakta yang menarik dan beberapa pelajaran bagi kita semua. Ahli ibadah yang sering kita asosiasikan sebagai ahli surga ternyata kasus dalam hadits itu justru sebaliknya. Sementara hamba lain yang terlihat sering melakukan dosa justru mendapat kenikmatan surga.

Mengapa bisa demikian? Karena nasib kehidupan akhirat sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah. Manusia tak memiliki kewenangan sama sekali untuk memvonis orang atau kelompok lain sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, dilaknat atau dirahmati. Tak ada alat ukur apa pun yang sanggup mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti.

Jika diamati, ahli ibadah dalam kisah hadits di atas terjerumus ke jurang neraka lantaran melakukan sejumlah kesalahan. Pertama, ia lancang mengambil hak Allah dengan menghakimi bahwa saudaranya “tak mendapat ampunan Allah dan tidak akan masuk surga”. Mungkin ia berangkat dari niat baik, yakni hasrat memperbaiki perilaku saudaranya yang sering berbuat dosa. Namun ia ceroboh dengan bersikap selayak Tuhan: menuding orang lain salah sembari memastikan balasan negatif yang bakal diterimanya.

Dalam konteks etika dakwah, si ahli ibadah sedang melakukan perbuatan di luar batas wewenangnya sebagai pengajak. Ia tak hanya menjadi dâ‘i (tukang ajak) tapi sekaligus hâkim (tukang vonis).? Padahal, Al-Qur’an mengingatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, peringatan yang baik, dan bantulah mereka dengan yang lebih baik. Sungguh Tuhanmulah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan Dia Maha mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah.” (An-Nahl [16]: 125)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Al-Kahfi [18]: 29)

?

Ayat ini tak hanya berpesan tentang keharusan seseorang untuk berdakwah secara arif dan santun melainkan menegaskan pula bahwa tugas seseorang hamba kepada hamba lainnya adalah sebatas mengajak atau menyampaikan. Mengajak tak sama dengan mendesak, mengajak juga bukan melarang atau menyuruh. Mengajak adalah meminta orang lain mengikuti kebaikan atau kebenaran yang kita yakini, dengan cara memotivasi, mempersuasi, sembari menunjukkan alasan-alasan yang meyakinkan. Urusan apakah ajakan itu diikuti atau tidak, kita serahkan kepada Allah subhânahu wa ta‘âlâ (tawakal).

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Kesalahan kedua yang dilakukan ahli ibadah dalam kisah tersebut adalah ia terlena terhadap prestasi ibadah yang ia raih. Hal itu dibuktikan dengan kesibukannya untuk mengawasi dan menilai perilaku orang lain ketimbang dirinya sendiri. Dalam tingkat yang lebih parah, sikap macam ini dapat membawa seseorang pada salah satu akhlak tercela bernama tajassus, yakni gemar mencari-cari keburukan orang lain. Apalagi, bila orang yang menjadi sasaran belum tentu benar-benar berbuat salah. Seringkali lataran kesalahmahaman dan perkara teknis, sebuah perbuatan secara sekilas pandang tampak salah padahal tidak. Di sinilah pentingnya tabayun (klarifikasi) dalam ajaran Islam.

Tentu saja memperbanyak ibadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi ujub (bangga diri). Ujub merupakan penyakit hati yang cukup kronis. Ia bersembunyi di balik kelebihan-kelebihan diri kemudian pelan-pelan mengotorinya. Bisa saja seseorang selamat dari perbuatan dosa tapi ia kemudian terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam, yakni ujub. Mesti diingat, menghindari perbuatan dosa memang hal yang amat penting, tapi yang lebih penting lagi bagi seseorang yang terbebas dari dosa adalah menghindari sifat bangga diri. Sebuah maqalah bijak berujar, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Watak buruk dari kelanjutan sifat ujub biasanya adalah merendahkan orang lain. Amal ibadah yang melimpah, apalagi disertai pujian dan penghormatan dari masyarakat sekitar, sering membuat orang lupa lalu dengan mudah menganggap remeh orang lain. Orang-orang semacam ini umumnya terjebak dengan penampilan luar. Mereka menilai sesuatu hanya dari yang tampak secara kasat mata. Padahal, bisa saja orang yang disangkanya buruk, di mata Allah justru lebih mulia karena lebih banyak memiliki kebaikan namun lantaran bukan tipe orang yang suka pamer amal itu pun luput dari pandangan mata kita.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Dakwah berasal dari lafadh da‘â-yad‘û yang secara bahasa semakna dengan an-nidâ’ dan ath-thalab. An-nidâ’ berarti memanggil, menyeru, mengajak; sementara ath-thalab dapat diterjemahkan dengan meminta atau mencari. Istilah dakwah bisa didefinisikan sebagai upaya mengajak atau menyeru kepada iman kepada Allah dan segenap syariat yang dibawa Rasulullah serta nilai-nilai positif lainnya.

Dakwah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai pelaksanaan prinsip amar ma’ruf nahi (‘anil) munkar. Umat Islam diperintah untuk menyebarkan pesan kebaikan (ma’ruf) dan tak boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran.? Hanya saja, dalam praktiknya semua dijalankan dalam koridor yang bijaksana, sehingga usaha amar ma’ruf terealisasi dengan baik dan pencegahan kemungkaran pun tak menimbulkan kemungkaran baru lantaran tidak dijalankan dengan cara-cara yang mungkar.

Karena itu, kita mengenal dalam proses dakwah dua hal, yaitu isi dakwah dan cara dakwah. Terkait isi, dakwah memiliki lingkup yang sangat luas, dari persoalan akidah, ibadah hingga akhlak keseharian seperti ajakan untuk tidak menggunjing dan membuang sampah sembarangan. Dakwah memang bukan monopoli tugas seorang dai, siapa pun bisa menjadi pengajak, namun dakwah menekankan pelakunya memiliki bekal ilmu yang cukup tentang hal-hal yang ingin ia serukan. Hal ini penting agar dakwah tak hanya meyakinkan tapi juga tidak sepotong-sepotong.

Yang tak kalah penting adalah cara. Betapa banyak hal-hal positif di dunia ini gagal menular karena disebarluaskan dengan cara-cara yang keliru. Begitu pula dengan dakwah. Dalam hal ini kita bisa berkaca kepada Rasulullah. Di tengah fanatisme suku-suku yang parah, kebejatan moral yang luar biasa, dan kendornya prinsip-prinsip tauhid, dalam jangka waktu hanya 23 tahun beliau sukses membuat perubahan besar-besaran di tanah Arab. Bagaimana ini bisa dilakukan? Kunci dari kesuksesan revolusi peradaban itu adalah da‘wah bil hikmah, seruan yang digaungkan dengan cara-cara bijaksana. Akhlak Nabi lebih menonjol ketimbang ceramah-ceramahnya. Beliau tak hanya memerintah tapi juga meneladankan. Rasulullah juga pribadi yang egaliter, memahami psikologi orang lain, menghargai proses, membela orang-orang terzalimi, dan tentu saja berperangai ramah dan welas asih.

Hadirin yang semoga dirahmati Allah,

Khatib kembali mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian bahwa ada rambu-rambu dakwah yang perlu diingat, yakni jangan membenci dan merendahkan orang lain, apalagi mencaci maki dan memojokkannya. Karena jika hal itu kita lakukan maka keluarlah kita dari motivasi dakwah sesungguhnya. Dakwah berangkat dari niat baik, untuk tujuan yang baik, dan semestinya dilakukan dengan cara-cara yang baik. Itulah makna sejati dakwah. Bila ada pendakwah gemar menjelek-jelekan orang atau golongan lain, mungkin perlu diingatkan lagi tentang bahasa Arab dasar bahwa dawah artinya mengajak bukan mengejek. Sehingga, dakwah mestinya ramah bukan marah, merangkul bukan memukul.

Yang paling mengerikan tentu saja adalah dakwah dikuasai amarah dan hawa nafsu sehingga menimbulkan pemaksaan dan aksi-aksi kekerasan, hanya kerena menganggap orang lain sebagai musyrik, musuh Allah, dan karenanya harus diperangi. Jika sudah sampai pada level ini, pendakwah tak hanya sudah melenceng jauh dari esensi dakwah, tapi juga pantas menjadi sasaran dakwah itu sendiri. Al-Quran sudah sangat benderang menegaskan bahwa tak ada paksaan dalam agama, dan oleh sebab itu menggunakan pendekatan kekerasan sama dengan mencampakkan pesan ayat suci.

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " . ? : ? ? ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : " ? ? "

Dari Hudzaifah radliyallâhu ‘anh, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh yang paling aku khawatirkan pada kalian adalah orang yang membaca Al-Qur’an sampai terlihat kegembiraannya dan menjadi benteng bagi Islam, kemudian ia mencampakkannya dan membuangnya ke belakang punggung, membawa pedang kepada tetangganya dan menuduhnya syirik.” Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi, siapakah yang lebih pantas disifati syirik, yang menuduh atau yang dituduh?” Rasulullah menjawab: “Yang menuduh.” (HR Ibnu Hibban)

Na’ûdzubillâhi mindzâlik. Semoga kita semua dilindungi Allah dari perbuatan buruk baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Jamaah shalat Jumat as‘adakumullâh,

Tekun dalam beribadah kemudian mengajak sesamanya untuk melakukan hal yang serupa merupakan sesuatu yang dipuji dalam agama. Hanya saja, dakwah atau mengajak memiliki batasan-batasan. Setidaknya ada dua tips yang bisa dipegang agar seseorang tak melampaui batasan tugas sebagai seorang pengajak. Pertama, muhâsabah (introspeksi). Meneliti aib orang yang paling bagus adalah dimulai dari diri sendiri. Muhasabah akan mengantarkan kita pada prioritas perbaikan kualitas diri sendiri, yang secara otomatis akan membawa pengaruh pada perbaikan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana dikatakan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, “Ashlih nafsaka yashluh lakan nâs. Perbaikilah dirimu maka orang lain akan berbuat baik kepadamu.”

Kedua, tawâdlu‘ (rendah hati). Sikap ini tidak sulit tapi memang sangat berat. Rendah hati berbeda dari rendah diri. Tawaduk adalah kemenangan jiwa dari keinginan ego yang senantiasa merasa unggul: merasa paling benar, paling pintar, paling saleh, dan seterusnya—yang ujungnya meremehkan orang lain. Tawaduk membuahkan sikap menghargai orang lain, sabar, dan menghormati proses. Dalam perjalanan dakwah, tawaduk terbukti lebih menyedot banyak simpati dan menjadi salah satu kunci suksesnya sebuah seruan kebaikan. Fakta ini bisa kita lihat secara jelas dalam perjuangan Nabi dan pendakwah generasi terdahulu yang tercatat sejarah hingga kini. Wallâhu a‘lam bish-shwâb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Mahbib Khoiron

*) Teks khutbah ini pernah diikutsertakan pada Sayembara Khutbah Damai yang digelar PeaceGeneration Indonesia, Gerakan Islam Cinta, Dinas Pemuda dan Olahraga Pemkot Bandung, Forum Silaturahim Umat Islam Indonesia (FSUII), Lembaga Studi Agama dan Budaya Indonesia (LSABI), Penerbit Salam Books, dan MasterPeace Writing Labs

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, News PMII Cabang Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah

Oleh KH Yahya Cholil Staquf

Mengapa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencintai Indonesia? Karena beliau manusia pesantren. Sedangkan keindonesiaan adalah salah satu unsur utama jati diri inti pesantren.

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)
“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah (Sumber Gambar : Nu Online)

“Yaa Lal Wathan”, Lagu Patriotis Karya KH Wahab Hasbullah

George McTurnan Kahin (1918-2000, Cornell University, USA), menuliskan hasil penelitian sejarahnya dalam “Nationalism and Revolution in Indonesia” (Cornell University Southeast Asia Program, 1952), bahkan menandaskan kesimpulan bahwa “nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam Nusantara”: pesantren!

Sejak Terusan Suez dibuka (1859) membedah daratan beting antara Laut Tengah dan Laut Merah, perhubungan Eropa – Asia dengan transportasi laut tidak lagi harus memutari Tanjung Afrika, tapi potong kompas lewat Terusan Suez, melintasi Teluk Aden, terus ke arah Timur hingga Nusantara. Sejak saat itu, jalur pelayaran Eropa – Nusantara pergi-pulang kian ramai, dan pelabuhan Jeddah menjadi salah satu persinggahan penting. Maka sejak paruh akhir abad ke-19 terjadi lonjakan luar biasa perjalanan haji dari antero Nusantara: Andalas, Jawa, Borneo, Celebes, Maluku, Sumbawa dan pulau-pulau lainnya. Kebersamaan selama berbulan-bulan pelayaran dan bertahun-tahun mukim di Hijaz diantara para “jamaah haji” yang merupakan kader-kader unggulan kalangan pesantren itu menumbuhkan rasa senasib dan persaudaraan yang terus menguat menggiligkan “tekad sebangsa”, dan dengan penuh gairah mereka tanamkan kepada masyarakat lahan khidmah mereka sepulang dari Tanah Suci.

PMII Cabang Tegal

Pada 1912, Haji Oemar Said, seorang keturunan dari Kiai Kasan Besari (Pesantren Tegalsari, Ponorogo), mendirikan Syarikat Islam, organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang menetapkan “Perjuangan Menuju Kemerdekaan Indonesia” sebagai haluannya. Pada waktu itu, Kiai Wahab Hasbullah yang masih mukim di Makkah pun mendirikan SI Cabang Makkah. Pada saatnya nanti, di Tanah Air, Kiai Wahab menginisiasi berdirinya Nahdlatul Wathan, kemudian –dibawah perlindungan gurunya, Kiai Hasyim Asy’ary– Nahdlatul Ulama (1926). “Soempah Pemoeda”yang dilahirkan oleh Kongres Pemoeda 1928, adalah kulminasi awal dari keseluruhan proses tersebut.

Kiai Maimoen Zubair meriwayatkan bahwa ketika beliau mondok di Tambak Beras dan belajar di sekolah “Syubbaanul Wathan” disana, setiap hari sebelum masuk kelas murid-murid diwajibkan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934. Nusron Wahid dan Yaqut C. Qoumas sowan kepada Kiai Maimoen di Sarang, Rembang, untuk memohon ijazah lagu itu, dan didapatlah syair yang tak pernah beliau lupakan:

PMII Cabang Tegal

? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ?

? ?

? ? ?

? ? ? ?

? ? ?



“Pusaka hati wahai tanah airku

Cintamu dalam imanku

Jangan halangkan nasibmu

Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku

Engkau Panji Martabatku

S’yapa datang mengancammu

‘Kan binasa di bawah durimu!”


Kiai Fuad Affandi, pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung, seorang satri dan khadam Kiai Ma’shoem Lasem, meriwayatkan dhawuh gurunya (Mbah Ma’shoem),

“Pada lambang NU itu ada tali yang tersimpul. Itulah tali pengikat Indonesia. Kalau tali itu lepas, Indonesia akan meleleh seperti gelali!”

Bagi pesantren dan NU, Indonesia adalah martabat. Harga diri. Memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah merebut harga diri. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah mempertahankan harga diri. Memperjuangkan Cita-cita Proklamasi adalah memperjuangkan martabat kemanusiaan.

Kiai Bisri Mustofa hanya mengenyam sekolah “Ongko Loro” (“Angka Dua”, Inlandsche School, jenjang sekolah dasar dua tahun dengan bahasa pengantar Jawa untuk pribumi jelata di jaman Belanda). Ada seorang kerabat yang priyayi hendak mendaftarkannya ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dengan bahasa pengantar Belanda untuk anak-anak priyayi), tapi keburu ketahuan Kiai Kholil Harun, yang lantas mencegah,

“Jangan sampai kamu jadi londo!” kata beliau, “ayo ikut aku saja!”

Sejak saat itu (usia sekitar 15 tahun) Mashadi (nama kecil Kiai Bisri) belajar di pesantren Kiai Kholil, mengunyah ilmu-ilmu agama langsung dengan “bahasa aslinya”, Bahasa Arab, bahkan secara khusus menekuni seluk-beluk Bahasa Arab sebagai modal prinsip untuk memahami agama secara otentik. Belakangan, sesudah diambil menantu, Kiai Kholil Harun mengirimnya ke Makkah untuk bertabarruk kepada Tanah Suci dan berguru kepada para masyayikh disana selama dua tahun. Walaupun semua itu, Kiai Bisri tidak lantas menjadi kearab-araban, apalagi Arab-minded. Indonesia tertanam hingga merasuk ke sumsum tulangnya.

Aku masih kanak-kanak ketika malam itu nonton tivi berdua dengan beliau. Di layar tivi ada orang Arab ngomong entah apa. Yang tertangkap olehku hanya ucapan: “…Induuniisiyyaa… Induuniisiyyaa…”

“Brakk!!” aku kaget oleh suara meja digebrak tiba-tiba.

“Orang Arab ini sombongnya mintak ampun!” Mbah Kung bersungut-sungut, “kenapa harus ‘in-duu-nii-siy-yaa’? Masak ngomong ‘In-do-ne-sia’ saja nggak bisa? Dasar sombong!”

Catatan:

“Gelali” adalah gula jawa yang dipanasi hingga meleleh.

Syair di atas sebenarnya oleh Kiai Maimoen diriwayatkan beserta lagunya. Tapi karena penerima riwayat tidak memiliki cita-rasa nada sama sekali, riwayat lagunya jadi kacau-balau. Setelah ijtihad melodi yang susah-payah, dibantu para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor Angkatan Ketiga di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Ciwedey, Bandung (10 – 14 Januari 2013), saya sampai pada rangkaian nada yang semoga tidak terlalu jauh melenceng dari aslinya.

KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PBNU. Sumber tulisan: teronggosong.com

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Tegal, News, Sholawat PMII Cabang Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Oleh M. Alim Khoiri

--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.

‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.

Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)
Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.

Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;

Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.

PMII Cabang Tegal

Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.

Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.

Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.

PMII Cabang Tegal

M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Doa, News, Ulama PMII Cabang Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Menag: Masuki Globalisasi, Pendidikan Pesantren Makin Dibutuhkan

Depok, PMII Cabang Tegal. Menteri Agama RI ke-21 Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, di era globalisasi seperti sekarang ini pendidikan Islam, khususnya pesantren, makin sangat dibutuhkan. Karena di lembaga yang didirikan para kiai itu memiliki beberapa hal yang tidak dimiliki lembaga lain.

Menurutnya, para santri tidak hanya belajar bagaimana mengetahui dan memahami (learning how to know or to understand) terkait materi yang diajarkan di pesantren. “Tapi juga learning how to do (belajar bagaimana melakukan). Karena mereka melakukan sendiri apa saja yang menjadi kebutuhannya. Jadi, aspek kemandirian itu luar biasa sangat ditekankan di pesantren. Selain itu, yang tidak kalah penting dan mungkin sangat spesifik yang tidak dimiliki lembaga lain adalah learning how to life together,” paparnya.

Menag: Masuki Globalisasi, Pendidikan Pesantren Makin Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Masuki Globalisasi, Pendidikan Pesantren Makin Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Masuki Globalisasi, Pendidikan Pesantren Makin Dibutuhkan

Lukman menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9/14) petang. Kuliah umum yang dihelat di lantai 4 tersebut mengusung tema "Pendidikan Islam dan Tantangan Pembentukan Karakter Bangsa di Era Globalisasi." STAI Al-Hamidiyah adalah lembaga pendidikan di bawah naungan Pesantren Al-Hamidiyah yang didirikan oleh tokoh NU, KH Ahmad Syaikhu.

Bedanya pesantren dengan lembaga lain, lanjut Lukman, santri hidup selama 24 jam di dalamnya. Untuk hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda, menjadi modal sangat besar untuk menjadi Indonesia. “Setiap bayi yang lahir belum mengindonesia. Bayi itu masih sesuai dengan etnis orang tuanya. Kita menjadi Indonesia pertama kali ketika bersekolah atau duduk di bangku pendidikan,” terangnya.

PMII Cabang Tegal

Lukman menambahkan, yang tidak kalah penting, pesantren juga menentukan learning how to be (menjadi diri sendiri) setelah mengalami proses pendidikan selama kurun waktu tertentu. Oleh karenanya, karakter atau kepribadian sangat ditekankan pesantren. Sebab karakter adalah jati diri setiap manusia. “Nah, setiap manusia punya jiwa. Sementara jiwa dari sebuah bangsa itu terletak kepada karakter mayoritas warganya,” tegas dia.

PMII Cabang Tegal

Lukman didampingi Direktur Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof Dr Dede Rosyada. Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat dan Kepala Kantor Kemenag Kota Depok juga hadir. Ketua Yayasan Islam Al-Hamidiyah Dr H Imam Susanto Syaikhu dan Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah KH Zainuddin Mashum Ali yang juga Rais Syuriah PCNU Kota Depok duduk mendampingi menteri.

Pantauan PMII Cabang Tegal, ratusan mahasiswa dan para dosen tampak serius memperhatikan pengarahan menteri agama. Sebelumnya, hadirin dibius oleh pemaparan narasumber pada sesi pertama yakni Emil Elestianto Dardak PhD, doktor termuda dari Ritsumeikan Asia Pasific University yang juga pengurus PCINU Jepang.

Usai sesi tanya-jawab dan penyerahan kenang-kenangan, Ketua Yayasan Dr H Imam Syaikhu mendampingi rombongan Menteri Agama menuju masjid pesantren yang berada di tengah-tengah Pesantren Al-Hamidiyah untuk jamaah shalat Maghrib. Di sebelah kanan masjid, Almaghfurlah KH Ahmad Syaikhu, sang pendiri pesantren, dimakamkan. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sholawat, News PMII Cabang Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks

Bengkulu, PMII Cabang Tegal 



Anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi, mengajak masyarakat dan insan pers untuk bersama-sama mengantisipasi penyebarluasan berita bohong atau hoaks. Tradisi cek dan ricek disebutnya bisa menjadi pencegah semakin tersebarnya hoaks. 

Hadir sebagai pemateri di kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisem di Masyarakat di Bengkulu, Kamis (12/10), Jimmy mengatakan, masyarakat bisa berperan membendung penyebarluasan hoaks dengan cara menahan diri setiap kali menerima kiriman informasi di media sosial. 

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks

"Jangan karena suka atas kiriman tersebut, kita share tanpa adanya verifikasi. Cek dan ricek kebenarannya. Jikapun benar cek lagi manfaatnya," kata Jimmy. 

Menurut Jimmy, kemauan melakukan cek dan ricek adalah langkah termudah yang bisa membantu membendung peredaran hoaks. Untuk cara pengecekan,  dia menyarankan masyarakat membandingkan informasi yang diterimanya dengan informasi sejenis dari sumber berbeda. "Jika meragukan kebenarannya, jangan disebar," tegasnya. 

Dorongan menjadikan cek dan ricek sebagai tradisi untuk mencegah hoaks tidak hanya disampaikan ke masyarakat, melainkan juga ke insan pers. Jimmy menandaskan, wajib bagi setiap wartawan mengecek kebenaran dan keberimbangan setiap informasi yang diterimanya sebelumnya mengolahnya menjadi sebuah berita. 

PMII Cabang Tegal

"Insan pers juga harus berperan. Hoaks sudah menggerus kepercayaan masyarakat ke media massa, jangan biarkan itu semakin parah," tandas Jimmy. 

Menjadikan cek dan ricek untuk setiap informasi, masih kata Jimmy, merupakan keterlibatan nyata masyarakat dan institusi pers terlibat aktif dalam upaya pencegahan terorisme. Ditegaskannya, BNPT dan aparat keamanan tidak bisa menyelesaikan permasalahan terorisme tanpa adanya keterlibatan masyarakat. 

"Terorisme musuh bersama, maka harus bersama-sama kita perangi," tutupnya. 

Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme merupakan salah satu metode yang dijalankan  di kegiatan Pelibatan Pemuda dan Perempuan dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah Visit Media, kunjungan dan diskusi ke redaksi media massa pers untuk mensosialisasikan program pencegahan terorisme. (Red: Abdullah Alawi) 

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Pertandingan, Doa PMII Cabang Tegal

Senin, 27 November 2017

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme

Mataram, PMII Cabang Tegal. Perjuangan mencegah dan melawan paham radikalisme di dunia maya berupaya terus dilakukan oleh para santri melalui media sosial. Hal ini mereka lakukan dengan menghasilkan berbagai produk hasil Workshop Countering Violent Extremism (CVE), 9-11 September 2015 di Mataram, NTB.

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Melalui Media Sosial, Santri Siap Cegah Radikalisme

Dari lima kelompok yang dibentuk, para peserta yang sebagian besar didominasi oleh santri dan mahasiswa ini menciptakan berbagai akun di media sosial, video kampanye damai, hingga memproduksi berbagai macam artikel.

“Dari kegiatan ini, para santri, mahasiswa, dan aktivis muda diajak untuk ikut aktif memberikan kontribusi pemikiran moderat, damai, dan toleran di media dan media sosial untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme,” ujar Muhammad Haidar, Jum’at (11/9), santri Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara yang kini mengambil jurusan Digital Communication di Surya University.

PMII Cabang Tegal

Dari kampus yang berbasis riset dan teknologi tersebut, ada empat santri yang mengikuti kegiatan Workshop, diantaranya, Muhammad Irsan Rasyad, santri Pesantren An-Nur Az-Zubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara mengambil jurusan Digital Communication, Afiq Herdika Sulistya, santri Pesantren al-Ikhlas Pati yang mengambil jurusan Physics Energy Engineering, Muhammad Syafiuddin, santri Pesantren At-Tahdzib Rejo Agung Ngoro Jombang, mengambil jurusan Human Computer Interaction, dan Haidar sendiri.

Senada dengan Haidar, Nurul Fauzi, santri Pesantren Al-Iman, Bulus, Purworejo yang kini mengambil jurusan Hukum di Universitas Indonesia (UI) mengatakan, bahwa masih banyak dari mahasiswa yang cenderung pasif terkait kampanye damai di media sosial.

PMII Cabang Tegal

“Dari kegiatan workshop ini, saya akan menularkan pengalaman ke teman-teman agar lebih mengoptimalkan media sosial untuk menyebarkan informasi dan pesan damai, serta toleransi,” ujar Fauzi yang kini aktif sebagai Ketua KMNU UI.

Dari kegiatan yang difasilitasi oleh BNPT dan FKPT NTB ini, para peserta workshop berusaha memahami pencegahan radikalisme dengan pendekatan CVE. “Pendekatan berbasis pencegahan ini dikembangkan di berbagai negara, termasuk Indonesia,” terang Imam Malik Riduan, salah satu Fasilitator workshop. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, News PMII Cabang Tegal

Rabu, 15 November 2017

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Terkait disanderanya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf, Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud mengatakan, peran organisasi masyarakat bisa turut menjebatani. Ia beralasan adanya kemungkinan itu mengingat Abu Sayyaf lari ke Filipina, tidak lain karena mempunyai jaringan di negara tersebut.?

Saat ini tenggat waktu yang diberikan para penyandera sudah habis. Marsudi berpendapat agar pemerintah mencoba membandingkan dengan penyanderaan terhadap kapal Sinar Kudus tahun 2011 lalu.

“Setahu saya dulu pemerintah melibatkan pihak-pihak yang dianggap bisa turut untuk mendekati para penyandera dan melobinya. Pendekatan yang soft aproach (pendekatan yang lembut) itu bisa disisir melalui NGO yang ada kaitan atau relasi antara organisasi di Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf. Itu harus dilakukan oleh pemerintah,” terang Marsudi kepada PMII Cabang Tegal,? Senin, (11/4) malam.

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Ditanya apakah pemerintah Indonesia perlu memberikan uang tebusan kepada para penyandera, Marsudi mengatakan hal itu bisa terjawab setelah adanya komunikasi antara pemerintah dengan kelompok? Abu Sayyaf. Ia menegaskan langkah apa saja bisa ditempuh untuk keselamatan rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Marsudi mengatakan PBNU sejak era Gus Dur mempunyai hubungan khusus dengan organisasi di Filipina Selatan. Marsudi berkeyakinan, sampai saat ini masih ada peluang untuk mengatasi persoalan tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Berita, Nahdlatul, News PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Selasa, 07 November 2017

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI

Sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H di kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (19/7) malam menjadi agak renyah ketika muncul laporan bahwa ada yang berhasil mengamati hilal di Cakung, Jakarta. Lebih renyah lagi karena yang melaporkan hasil rukyat ini adalah salah seorang utusan dari Front Pembela Islam (FPI).

Saat diberikan kesempatan oleh pemimpin sidang itsbat Menteri Agama Suryadharma Ali, FPI langsung unjuk gigi melaporkan bahwa ada empat orang yang berhasil melihat hilal di Cakung pada pukul 17.53 WIB dan telah di sumpah oleh hakim pengadilan agama.

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyat Cakung, Kiai Ghazalie dan FPI

Atas hasil laporan itu, FPI meminta Menteri Agama menetapkan awal puasa jatuh pada hari Jum’at (20/7). Namun sayang permintaan FPI ini tidak direspon positif oleh Menteri Agama. Bahkan anggota sidang itsbat dari NU memberikan penilaian lain terhadap hasil rukyat di Cakung.

PMII Cabang Tegal

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri meragukan kualitas rukyat di Cakung. Bukan hanya meragukan, tapi mengatakan hasil rukyat di Cakung itu tidak sah dan meminta Kementerian Agama menertibkan tim rukyat di sana.

Ada empat hal, kata Kiai Ghazalie yang menyebabkan hasil rukyat di Cakung tidak shahih menurut ilmu falak. Pertama hilal dilaporkan berhasil diamati pada pukul 17.53 WIB, sebelum waktu maghrib untuk wilayah Jakarta tiba. Padahal menurut ketentuan syariat dan berdasarkan pedoman ilmu astronomi hilal baru mungkin dilihat setelah ghurub, atau terbenam matahari. “Belum maghrib, mustahil mendapatkan hilal,” kata Kiai Ghazali.

PMII Cabang Tegal

Kedua, cuaca di Jakarta, tepatnya di Cakung pada saat diadakan rukyat dalam keadaan mendung. Sementara arah pengamatan hilal di lokasi rukyat Cakung saat ini sudah terhalang gedung-gedung tinggi Jakarta. 

“Sudah lama kami mensurvei lokasi rukyat di Cakung. Tempatnya dan alat yang dipakai sangat sederhana. Sementara di barat sana terdapat gedung pencakar langit,” tambah Kiai Ghazalie.

Ketiga, tim rukyat yang menyatakan berhasil melihat hilal adalah orang yang itu-itu saja. Hakim yang menyumpah juga hakim yang itu-itu saja. Sangat kompak. “Tolong disampaikan hakim mana yang menyumpah dan dan di wilayah mana,” kata Kiai Ghazali,

Keempat, ahli falak NU itu mengingatkan, rukyat tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan, dan harus disertai ilmunya. Laporan hasil rukyat tidak cukup hanya dengan sumpah tetapi juga harus disertai data mengenai posisi matahari tenggelam, berapa jarak antara bulan dan matahari, serta bagaimana kondisi kemiringan hilal yang berhasil diamati.

Maka tegas Lajnah Falakiyah PBNU meminta pihak Kementeterian Agama segera mengadakan peninjauan kembali apakah layak Cakung digunakan untuk melakukan rukyat.

“Perlu ada tinjauan dari Kemenag agar tidak menjadi insiden terus-menerus. Ini bikan main-main. Saya minta hakim yang menyumpah dipanggil Mahkamah Agung untuk diperingatkan,” kata Kiai Ghazalie. PMII Cabang Tegal juga menerima laporan dari berbagai daerah dan beberapa pesantren bahwa tim rukyat Cakung menyebarkan hasil rukyatnya sehingga membuat gelisah warga.

Alhasil laporan Rukyat Cakung oleh FPI itu tidak diindahkan dalam sidang itsbat. Namun ada yang menarik. FPI menyatakan menolak hasil kesimpulan sementara Menteri Agama terkait hisab-rukyat awal Ramadhan 1433 H yang disampaikan oleh para peserta sidang hanya gara-gara ada satu-dua metode hisab yang dikutip yang bersumber dari barat.

“Kami tidak mengikuti hisab barat. Kami mengikuti metode hisab ulama klasik, Sulamun Nayyirain,” kata perwakilan FPI.

Barangkali FPI tidak tahu sebenarnya banyak sekali karya ulama terbaru di bidang ilmu hisab. Ilmu falak atau astronomi adalah bagian dari ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan tidak hanya berurusan dengan orang barat. 

Beberapa saat sebelum menutup pembicaraan, Kiai Ghazali Masroeri mengatakan, FPI lupa atau mungkin tidak tahu kalau pengarang kitab Sulamun Nayyirain sendiri berharap agar karyanya terus dikembangkan, dan terus dikembangkan oleh para ulama dan ahli falak setelahnya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal News, Tokoh PMII Cabang Tegal

Senin, 06 November 2017

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN

Mataram, PMII Cabang Tegal. Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Nusa Tenggara Barat mengadakan seminar agraria, Senin (16/3). Seminar yang dihadiri Kepala BPN NTB, Kepolisian, dan pengadilan tinggi agama NTB ini, digelar untuk mengurai konflik pertanahan yang selama ini terjadi terutama di Lombok NTB.

Seminar ini dipandu oleh Ketua GP Ansor kota Mataram Hasan Basri. Acara yang berlangsung di aula kantor PWNU NTB jalan Pendidikan nomor 6 Mataram ini, mengangkat Kepala BPN Lombok Barat dan dua orang perwakilan Kapolda NTB sebagai narasumber.

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBHNU NTB Rintis Pertemuan Dengan Pemuka Agama dan BPN

Sekretaris PWNU NTB Winengan M Yunus dalam sambutan pembukaan acara berharap agar ? pada pertemuan selanjutnya panitia harus mengundang para tokoh agama sedaerah NTB.

PMII Cabang Tegal

“Pada pertemuan pertama ini kita perlu menyatukan pandangan terlebih dahulu untuk mengatasi sengketa lahan yang selama ini terjadi di Lombok,” kata Hasan mengawali diskusi. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Aswaja, Meme Islam, News PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock