Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Meskipun secara formal, jumlah cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) lebih dari 300, tetapi harus diakui bahwa tak semua cabang tersebut benar-benar hidup dan mampu menjalankan aktifitasnya secara baik.

Untuk itu, Ketua Umum IPPNU periode 2009-2011 Margareth Aliyatul Maemunah menargetkan mampu membangun 1000 komisariat yang berada di sekolah dan pesantren dan struktur organisasi yang benar-benar hidup dan menjadi lahan pengkaderan yang baik.

IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Targetkan Bangun 1000 Komisariat

“Masak dalam waktu 3 tahun ngak cukup, masak tak tercapai, yang penting ada keinginan bareng untuk mendirikan komisariat bersama-sama. Tak hanya ada struktur di pusat atau wilayah saja,” katanya, Kamis.

PMII Cabang Tegal

IPPNU saat ini masih dalam tahap transformasi dari organisasi Pemuda menjadi organisasi pelajar. Hal ini juga berpengaruh terhadap keberadaan struktur paling bawah yang dulu ranting, yang berbasis di desa menjadi komisariat yang berbasis di sekolah dan pesantren.

PMII Cabang Tegal

"Sekarang juga masih menjadi perdebatan apakah akan menghapus struktur ranting karena perubahan IPPNU menjadi organisasi pelajar sehingga basisnya harus di sekolah," katanya.

Evaluasi terhadap program 1000 komisariat ini menjadi salah satu agenda Rapimnas yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Ia menuturkan, salah satu strategi untuk mengembangkan organisasi sampai tingkatan basis yang dilakukannya adalah memperkuat komunikasi dan jejaring sehingga bisa setiap fihak dapat menceritakan kiat sukses atau memberi solusi untuk menutupi kelemahan yang lain.

Dikatakannya, mengajak berorganisasi remaja sekarang cukup sulit karena kecenderungan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan atau ke mall, apalagi harus keluar duit. "Mereka yang mau berorganisasi harus benar-benar ikhlas atau memiliki latar belakang keluarga yang mendidiknya untuk aktif di NU sejak kecil," paparnya.

Beragam Minat

Ia menambahkan, para kader IPPNU juga memiliki keragaman minat, mulai dari kepanduan, pecinta alam, jurnalistik, konseling Palang Merah Remaja (PMR) dan lainnya. Ia juga berusaha menyalurkan kader-kader tersebut sesuai dengan bidang yang diminatinya.

Seringkali, terdapat pilihan berat yang harus ditempuh, ketika menyalurkan seorang kader pada bidang tertentu, waktu yang mampu diberikan pada organisasi menjadi semakin berkurang.

“Saya memikirkan arah teman-teman ke mana, rata-rata pengurus kalau di tingkatan pusat kan guru, terserah, mereka mau masuk ke birokrasi atau apa, tergantung orangnya,” paparnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nusantara, Hikmah, Berita PMII Cabang Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Harlah ke-91 NU, IPNU-IPPNU Babat Lintasi Medan Pucakwangi

Lamongan, PMII Cabang Tegal. Sebanyak 70 kader Corp Brigade Pelajar IPNU dan Korps Pelajar Putri IPPNU kecamatan Babat, Lamongan, melintasi bukit Pucakwangi dan desa Karangasem untuk memperingati harlah ke-91 NU. Menempuh sejauh lebih dari 4 km, perjalanan rombongan ini berakhir di makam Mbah Kleteh, seorang ulama sesepuh desa, Kamis (15/5).

Harlah ke-91 NU, IPNU-IPPNU Babat Lintasi Medan Pucakwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-91 NU, IPNU-IPPNU Babat Lintasi Medan Pucakwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-91 NU, IPNU-IPPNU Babat Lintasi Medan Pucakwangi

Para peserta mendaki dan menikmati pemandangan bukit gunung Pucakwangi. Sepanjang lintasan, panitia menempatkan beberapa pos di sejumlah titik sebagai tempat penyampaian materi dasar CBP dan KPP, kepecintalaman, dan kepalangmerahan.

Jalur lintasan demikian sengaja dipilih agar pelajar NU mengetahui makam tokoh masyarakat dan ulama yang baru ditemukan. Selain peringatan harlah NU, kegiatan  diadakan sebagai acara awal sebelum Diklatama CBP dan KPP pada Selasa-Kamis (27-29/5) mendatang.

PMII Cabang Tegal

Ketua PAC IPNU Babat Muhammad dalam sambutan pembukaan mengimbau para peserta untuk mengambil pelajaran dari alam dan perjuangan tokoh NU. Ia juga meminta para kader menjaga batas-batas etika dan jarak antara laki-laki dan perempuan mengingat CBP dan KPP sebagai kepanduan pelajar NU.

PMII Cabang Tegal

“Selaku kader palajar NU, di manapun dan apapun posisinya kita harus selalu menjaga etika kesopanan sesuai aturan agama terutama jarak antara rekan dan rekanita di mana kemahroman tetap terjaga,” kata Muhammad. (M Faqoth/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Pertandingan, Kyai PMII Cabang Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Tim Kirab Resolusi Jihad Awali Perjalanan dari Banyuwangi

Banyuwangi, PMII Cabang Tegal. Setelah menempuh perjalanan dengan kereta api selama hampir dua belas jam, Tim Kirab Resolusi Jihad 2016 yang diberangkatkan dari Stasiun Pasar Senen Jakarta, tiba di Stasiun Gubeng Surabaya, Selasa (11/10) pukul 23.40 WIB.

Tim Kirab Resolusi Jihad Awali Perjalanan dari Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Kirab Resolusi Jihad Awali Perjalanan dari Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Kirab Resolusi Jihad Awali Perjalanan dari Banyuwangi

Empat jam berikutnya, Rabu (12/10) pagi, anggota tim yang berjumlah 67 orang, meneruskan perjalanannya ke Banyuwangi, masih dengan transportasi kereta api.

Stasiun Kalibaru adalah stasiun tujuan tim. Sebelum jam sebelas siang, tim tiba di sana. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi, menyambut Tim Kirab Resolusi Jihad.

Dari Stasiun Kalibaru, tim dibagi dalam tiga bus, untuk meneruskan perjalanan ke Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Pondok Pesantren yang didirikan pada 1951 ini, menjadi lokasi pelepasan tim Kirab Resolusi Jihad 2016 pada esok harinya.?

PMII Cabang Tegal

Tim tiba di pondok pesantren yang saat ini memiliki 6000 santri itu sekira setengah jam sebelum tiba waktu dzuhur. Tim segera menikmati makan siang yang disediakan panitia lokal.

Anggota tim menikmati waktu istirahat yang cukup lama yakni hingga waktu Maghrib. Setelah sholat Isya, barulah tim disibukkan dalam sejumlah kegiatan. Pertama adalah sowan ke pengasuh pondok pesantren. Peserta perempuan sowan kepada Ibu Nyai Handariyatul Masruroh.

Syam, peserta perwakilan dari Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP PBNU), menceritakan salah satu pesan Nyai Masruroh bahwa menjadi santri tidak boleh malu. Dahulu, santri diidentikkan dengan pribadi yang tidak tahu apa-apa. Namun sekarang tidak lagi.

PMII Cabang Tegal

“Ruh pesantren ada pada tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu-ilmu agama). Oleh sebab itu lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren yang menjadi titik awal pendidikan, harus dikembangkan,” ujar Nyai Masruroh.

Sementara itu, peserta pria melakukan sowan kepada KH Ahmad Hisyam Syafaat. Kepada peserta, Kiai Hisyam mengatakan peran NU dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan sangat besar. Sayangnya perhatian dari negara terhadap pesantren belum maksimal.?

Walaupun demikian, NU dan pesantren akan tetap berjuang untuk membela NKRI, dengan terus menjaga dan mengembangkan ? tradisi keilmuan yang ada di pesantren. Kiai Hisyam menegaskan membela NKRI merupakan tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa.

Setelah melakukan sowan, tim kembali bergabung untuk melakukan ziarah ke makam para pendahulu dan pendiri pesantren, yang masih terletak di area pesantren. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Lomba PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Jangan Sembrono dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (Bagian I)

Oleh? M Kholid Syeirazi

Belakangan ini, media sosial menjadi ajang kontestasi ideologi keislaman. Berbagai opini wacana Islam begitu cepat menjadi viral, disebarkan melalui kanal-kanal online, menjadi pesan berantai di grup-grup jejaring sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Umat Islam tiap hari dibombardir dengan perang dalil. Berbagai isu, seperti ucapan selamat Natal, pemimpin non-muslim, perayaan tahun baru, musik, dan ‘ritual-ritual bid’ah’ menyesaki ruang-ruang publik, riuh rendah di media sosial. Yang pro dan yang kontra sama-sama berhujjah dengan Al-Qur’an dan hadits. Muslim awam, yang tidak punya bassic keilmuan, terombang-ambing dalam debat kusir yang membingungkan. Banyak diantara mereka mengikuti pandangan-pandangan ustadz, di TV dan koran, dengan kapasitas ilmu yang pas-pasan. Mengutip sepotong-dua potong ayat, sebaris-dua baris hadits, para ustadz ini (sebagian dadakan) tampil bak seorang mufti, mengetok palu halal-haram. Sebagian lagi mengerti Islam, tetapi bermadzhab tekstualis: kebenaran hanya ada pada teks. Dan teks itu harus dipahami apa adanya, tak perlu ta’wil, tidak butuh tafsir.



Jangan Sembrono dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (Bagian I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Sembrono dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (Bagian I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Sembrono dalam Menggali Hukum dan Mencuplik Dalil (Bagian I)



Bagaimana dalil harus dipahami? Menyambung Bagian II tulisan “Memahami Islam dan Gerakannya,” narasi ini akan mengurai metode membaca dan mamahami dalil serta panduan istinbath dan istidlal (menggali hukum dan mencuplik dalil) menurut Imam Syafi’i. Panduan ini merupakan rumus untuk menarik dalil, terutama yang tidak termaktub hukumnya secara sharih (jelas dan tegas) di dalam nash. Kerangka ini akan mengeliminasi ‘anarki hukum’ yang ditimbulkan oleh pencuplikan dalil yang tidak komprehensif. Seseorang tidak boleh menetapkan hukum halal-haram hanya dari sepenggal dalil Al-Qur’an dan hadits, tanpa memahami karakteristik dan munasabah-nya dengan dalil lain.

PMII Cabang Tegal





PMII Cabang Tegal

Metode Istinbath Imam Syafi’i

Menurut Imam Syafi’i (Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn Saib ibn Ubaid ibn Abu Yazid ibn Hasyim ibn Muthallib ibn Abdi Manaf), “seseorang selamanya tidak boleh menetapkan hukum halal-haram kecuali berdasarkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunah, Ijma’ dan Qiyas”. Imam Syâfi’i, melalui kitab Ar-Risalah, mewariskan sesuatu yang sangat penting bagi khazanah keilmuan Islam, yaitu ushul fiqih. Ilmu ini memberikan panduan ijtihad bagi seseorang untuk mengambil hukum dari dalil-dalil Al-Qur’an, Sunah, Ijma’, dan Qiyas.





Metode istinbath Imam Syafi’i akan diuraikan secara ringkas, sebagai panduan untuk mengambil hukum dari semua perkara yang berada di ranah ijithadi.





Bayan Ilahy

Langkah awal dalam proses istinbathul ahkam (pengambilan hukum), menurut Imam Syafi’i, adalah mendatangkan al-bayan (keterangan). Untuk mengetahui dan menetapkan hukum sesuatu, keterangan pertama yang harus diperoleh adalah keterangan firman Allah (bayan ilahy). Keterangan firman dalam ayat Al-Qur’an harus diketahui karakteristiknya, karena ayat Al-Qur’an tidak satu jenis. Ada ayat muhkam (pasti), ada ayat mutasyabih (samar). Ada ayat ‘am (universal), ada ayat khas (partikular). Selain itu terdapat juga ayat nasikh (yang menghapus), ayat mansukh (dihapus). Ada ayat muthlaq (tak bersyarat/unconditional), ada ayat muqayyad (bersyarat/conditional). Ada ayat haqiqi (denotatif), ada ayat majazi (metaforis), dst. Pengetahuan tentang jenis-jenis ayat Al-Qur’an penting agar seseorang tidak salah baca dalam memahami ayat. Karena itu, tidak benar seseorang menetapkan hukum hanya dari sepenggal ayat tanpa memahami jenisnya, dan tanpa melihat munasabah (pertaliannya) dengan ayat-ayat lain.





Karakteristik Ayat-ayat Al-Qur’an

Saya tidak akan menjelaskan rinci, tetapi bagi yang tertarik memahami karakteristik ayat-ayat Al-Qur’an, direkomendasikan untuk membaca kitab al-Itqan fî Ulumil Qur’an, karya Jalaluddin as-Suyuthi. Namun, biar jelas, akan diberikan beberapa contoh.







Kamis, 25 Januari 2018

ISNU: Kompetisi yang Terlalu Liberal Tak Sesuai dengan Aswaja

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum Ikatan Sarjana NU (ISNU) Ali Masykur Musa cenderung setuju dengan penggunaan metode ahlul halli wal aqdi atau penunjukan oleh sekelompok terpilih karena sistem kepemimpinan Islam harus mengedepankan ahlul hikmah, yaitu penuh hikmah dan kebijaksanaan.

“Kompetisi yang terlalu liberal tidak sesuai dengan kultur kepemimpinan ahlusunnah wal jamaah sehingga dengan demikian, saya mendorong dan setuju melalui ahlul halli,” katanya.

ISNU: Kompetisi yang Terlalu Liberal Tak Sesuai dengan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Kompetisi yang Terlalu Liberal Tak Sesuai dengan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Kompetisi yang Terlalu Liberal Tak Sesuai dengan Aswaja

Mereka yang menjadi ahlul halli adalah representasi dari para ulama yang memenuhi syarat tertentu. Ia mengusulkan, ahlul halli memilih baik rais aam maupun ketua umum PBNU.

PMII Cabang Tegal

“Tanfidziyah kan menjadi pelaksana syuriyah, ahlul halli nantinya memilih syuriyah dan tanfidziyah,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Berita, Doa, Quote PMII Cabang Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Sebuah kartu kredit khusus untuk jamaah haji diluncurkan di Afrika Selatan oleh "Bidvest Bank", penyedia kartu perjalanan terbesar di dunia, yang akan memberi pelayanan bagi jamaah haji "kartu dengan mata uang dunia" (World Currency Bank), dengan denominasi riyal Saudi Arabia.

Jamaah haji Afrika Selatan tidak perlu membawa uang tunai lagi, dan akan lebih hemat dalam pembayaran dengan bantuan kartu kredit ini.

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Afsel Luncurkan Kartu Kredit Khusus Jamaah Haji

Sebelumnya, jamaah haji Afrika Selatan harus menukarkan mata uang lokal mereka, Rand, ke Dollar Amerika, baru kemudian ke Riyal sehingga menimbulkan biaya nilai tukar yang mahal.?

PMII Cabang Tegal

“Kami percaya, kartu ini akan menjadi bagian dari kelengkapan dari rencana perjalanan ketika Muslim Afrika Selatan pergi ke Makkah, baik untuk pergi berhaji atau umroh,” kata Neil Capazorio, kepada Divisi Kartu Bidvest Bank.

Beberapa keunggulan lain dari kartu ini adalah, saldo milik jamaah akan terus diperbaharui, keuntungan pentinga lainnya adalah nilai tukar sudah dimasukkan sebelum keberangkatan.

PMII Cabang Tegal

Tidak ada proses yang rumit dalam aktivasi kartu ini, karena sangat cepat dan mudah dengan tetap memperhatikan masalah keamanan seperti dilansir oleh topnews.ae.

Disamping bisa ditukarkan langsung dengan Riyal, kartu ini menyediakan layanan praktis dari Rand ke Dollar Amerika, Kanada, Australia, Selandia Baru, bisa juga ke Poundsterling Inggris, Yen Jepang, Yuan China, Rupee India dan Mauritania, Franc Swiss, Shekel Isreal, Dirham UAE, Reais Brazil, Bath Thai dan Peso Argentina. (islam.ru/mukafi niam)

Foto: youtube.com

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Tegal, Makam PMII Cabang Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU

Jombang, PMII Cabang Tegal. Wakil Rais Syuriyah Pengurus Willayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Propinsi Nusa Tenggara Barat TGH Maarif Makmun menceritakan kenangannya dengan KH Bisri Syansuri, tokoh dan pendiri NU, ketika dirinya masih menimba ilmu di mekah sekitar tahun 1977-an lalu. Saat itu TGH Maarif ditugaskan untuk menghidangkan kopi/teh para rombongan haji asal Indonesia.

"Kamu anaknya Kiai?" ujar TGH Maarif di penginapan PWNU NTB di Jalan Flamboyan Jombang Jawat Timur Jumat malam (30/7) kemarin mengenang pertanyaan KH Bisri Syansuri kepada dirinya.

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU

Dia pun menjawab tidak. “Saya anak Petani, lalu pertanyaan selanjutnya apakah kamu NU?” Dia pun menjawab Ya.

PMII Cabang Tegal

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Maarif Darek Praya Barat Daya Lombok Tengah NTB ini, setelah dirinya mengaku sebagai anak petani dan NU lalu kemudian KH Bisri Syansuri berpesan kepada dirinya.

Pertama, Inget jangan cari makan di NU hidupnya nanti akan lunglai, katanya mengulang pesan pertama KH Bisri pada dirinya, sembari ia menceritakan waktu itu ia tidak tahu maksud kata lunglai.

PMII Cabang Tegal

Kedua jangan keluar dari NU, membenci NU karena akan dilanda hutang besar. Ketiga Besarkan NU, ikuti program NU dan mengitu ulama hidup? akan berkah.

"Ketiga pesan ini selalu saya sampaikan kepada generasi NU, rekan-rekan pengurus NU khususnya santri di pondok agar masuk dan ikut membesaka? NU," harapnya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sunnah, Kiai, Berita PMII Cabang Tegal

Senin, 25 Desember 2017

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya

Pidie Jaya, PMII Cabang Tegal?

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banda Aceh kembali menyalurkan bantuan ke lokasi terdampak bencana gempa di Pidie Jaya dalam bentuk bahan baku semen. Benda tersebut untuk membangun dua mesjid dan satu pesantren atau dayah, Selasa (10/1).?

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Bantu Bangun Kembali Masjid dan Dayah di Pidie Jaya

Dua Masjid yang mendapatkan bantuan PMII tersebut adalah Masjid Baitul Fukara di Gampong Paru Keude dan Masjid Babul Hidayah di Gampong Lancang Paru, di Kecamatan Bandar Baru. Sementara bantuan untuk pesantren diberikan kepada Dayah Thauthiatut Tarbiyah di Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Pante Raja.?

Bendahara PC PMII Banda Aceh Hendriansyah mengatakan, bantuan tersebut merupakn penggalangan dana PMII Banda Aceh yang melibatkan PMII di daerah lain.

Menurut dia, tidak menutup kemungkinan PMII Banda Aceh akan berada di lokasi bencana dalam beberapa waktu tertentu di tengah masyarakat yang membutuhkan pertolongan. “Ini bagian dari masa rekontruksi, di Gampong Lancang Paru satu masjid rata dengan tanah. Dan pemulihan psikologis anak," katanya.?

Tokoh masyarakat Pidie Jaya, Geucik M. Jafar menyatakan terima kasih atas bantuan yang diberikan PMII. “Kita akan gotong royong untuk peletakan Batu pertama pembangunan kembali dari swadaya masyarakat," katanya.

PMII Cabang Tegal

Sementara itu Ketua PMII Kota Banda Aceh Akmal berharap bantuan itu dapat membantu dalam persiapan pembangunan mesjid yang disalurkan PMII. “Ucapan terima kasih atas sumbangan PMII seluruh Indonesia yang mempunyai rasa solidaritas tinggi terhadap masyarakat Aceh. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebenarnya dan mesjid dapat terbangun kembali. (Fauzan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Berita, Kajian Islam PMII Cabang Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Sleman, PMII Cabang Tegal. Tidak ada orang yang berhasil tanpa berkorban. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula peluang untuk menuju keberhasilan. Kita mengetahui betapa Nabi Ibrahim as dengan tulus melakukan segala ? pengorbanan semata-mata untuk Allah SWT. Karenanya pantas, jika Nabi Ibrahim menyandang gelar Khalilullah.

Demikian ungkap Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada acara Dzikir dan Shalawat dalam rangka Walimatussafar Ibadah Haji di dusun Turgo Gede, Sleman, Yogyakarta, Selasa (25/8) malam. Habib Syech Mengajak para jamaah untuk mencontoh Nabi Ibrahim yang selalu ikhlas ketika Allah SWT mengujinya.

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

"Cobaan terberat bagi Nabi Ibrahim adalah ketika Allah mengujinya dengan perintah mengorbankan Ismail putranya. Sementara Ismail adalah anak yang telah lama dinantikan oleh Nabi Ibrahim. Namun demikian, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT, lantaran ketaqwaan Ibrahim kepada Tuhannya" kata Habib Syech.

PMII Cabang Tegal

Demikian pula, lanjut Habib Syech, Ismail sebagai putra dengan legowo mentaati inatruksi ayahnya, lantaran mengetahui bahwa yang demikian itu adalah perintah Allah SWT. Padahal usia Ismail kala itu tergolong muda. Bahkan terbilang usia kanak-kanak. "Inilah bukti konkret, bahwa karunia Allah berupa anak yang sholeh lantaran orang tua yang selalu berdoa untuk anaknya," tegasnya.

PMII Cabang Tegal

Habib Syech mengatakan, jika menginginkan keluarga yang indah dan baik, tirulah Nabi Ibrahim. Ketika menanti kehadiran putra tercintanya, Nabi Ibrahim dan istrinya selalu berdoa (rabbi habli mina al-sholihin) kepada Allah SWT. Ketangguhan Ibrahim sebagai suami dan ayah juga perlu dicontoh. Sementara kesabaran Siti Hajar sebagai istri juga penting dalam membangun keluarga yang baik. Karenanya, tidak heran jika Nabi Ibrahim dikaruniai putra seorang Ismail dengan kepribadian yang istimewa.

"Jika menginkan hadirnya anak yang sholeh tirulah juga Nabi Ibrahim, yang tidak pernah putus asa berdoa kepada Allah SWT. Sebab, Doa orang tua untuk anaknya adalah penting, supaya kedepannya tercetak generasi-generasi yang baik dan bermutu. ? Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah mendidik anak dengan baik, agar tidak salah langkah dalam mengambil jalan" terang Habib Syech

Habib Syech mengingatkan kepada kaum muda, bahwa satu kebaikan anak muda lebih baik dari seratus kebaikan yang dilakukan orang tua. ? Hal demikan karena usia muda adalah masa dimana berbagai persoalan semakin kompleks dan butuh langkah taktis untuk memutuskan sesuatu. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Sunnah, Berita, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Islam dan Keseimbangan Spiritualitas Dunia

Oleh Fadli Rais



Abad pertengahan adalah masa kegelapan bagi peradaban Barat disebabkan doktrin-doktrin gereja yang orientasinya adalah keuntungan material yang dikeruk oleh oknum-oknum gereja itu sediri. Hal ini memunculkan banyak pemikiran yang mencoba untuk melawan doktrin-doktrin tersebut, maka munculah nama sekelas Rene Descartes, Niccolo Machiaveli sampai perjuangan kelas yang didengungkan oleh Karl Marx.

Islam dan Keseimbangan Spiritualitas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Keseimbangan Spiritualitas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Keseimbangan Spiritualitas Dunia

Perlawanan terhadap doktrinasi gereja ini membuat peradaban Barat bangkit dari keterpurukan dan menumbuhkan semangat sekularisme yang menyisihkan paham-paham keagamaan dari kekuasaan birokrasi. Perlawanan tersebut sangat sengit bahkan cenderung melampaui batas. Misalnya Descartes (1596-1650) yang tanpa keraguan mengatakan bahwa moral dan iman tidak ada sangkut pautnya dengan penalaran atau Machiaveli (1467-1527) dengan anggapannya bahwa politik dan moral harus dipisahkan karena melihat keberhasilan politik banyak dihasilkan dengan sikap ketidakjujuran.

PMII Cabang Tegal

Kebangkitan peradaban Barat atau yang sering disebut Reneisanst ini sangatlah mempengaruhi corak pemikiran dunia hingga saat ini. Tidak dapat dipungkiri propaganda rasionalisme Barat membuat kemajuan yang signifikan dalam kajian intelektual dan teknologi namun sangat sepi akan nilai spiritual, hal ini menjadikan salah satu poin tersendiri terhadap? kemunduran peradaban islam.

Islam dinilai kurang menyajikan solusi konkrit terhadap problem humanistik dan dikriminasi kelas saat itu dan sayangnya dunia islam belum menyadari sepenuhnya hingga saat ini. Kata Syafii Ma’arif dalam Peta Bumi Intelektualisme Islam (1993:19): “Amat disayangkan dunia islam belum menyadari benar tentang betapa akutnya pemasalahan yang dihadapi. Beberapa pimpinan formal negeri muslim tetapsaja mempertunjukkan kebahlulan politiknya terhadap gerakan politik Barat yang ingin terus menguasai mereka. Yang terpenting bagi Barat adalah bagaimana cara agar dunia islam tidak punya peranan penting dalam mencoraki dunia global. Trauma perang salib dan penaklukan konstantinopel oleh pihak Turki pada abad-abad pertengahan? tidak penah dilupakan oleh pihak Barat. Ini semua ditambah dengan klaim islam untuk mengubah dan mengawal jalan sejarah umat manusia”.

PMII Cabang Tegal

Melihat dalam pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya misi utama dari Barat adalah adalah mengubah alur sejarah global dan berupaya agar dunia Islam tidak mempunyai peranan dalam mewarnai peradaban dunia. Pada akhirnya misi tersebut telah berhasil ditorehkan ketika kiblat pengetahuan dunia yang dahulu mengarah pada Islam kini merujuk pada Barat dan segala konsepnya yang cenderung bersifat sekularistik.

Meminjam istilah Syafii Maarif bahwa sebenarnya kelemahan Barat adalah peradabannya yang hanya fokus pada How (bagaimana) tanpa memperhatikan Why (mengapa) seperti bagaimana menciptakan bom nuklir, bagaimana menghegemoni ekonomi dunia dan mengabaikan mengapa semua itu harus dilakukan? Akibatnya memang luar biasa dengan menemukan banyak pengetahuan baru dan mengembangkan teknologi dengan pesat namun disertai dengan eksploitasi alam besar-besaran inilah wajah baru imperialisme. Arus kemajuan globalisasi ini menimbulkan masalah baru yakni kegersangan akan nilai moral dan spiritual, dimana-mana banyak terjadi perilaku menyimpang, menghalalkan segala cara demi memperoleh kepuasan materi, sampai mulai mengakarnya sikap hedonis dan konsumeris di kalangan masyarakat.

Melihat permasalahan tersebut maka sudah seharusnya islam dapat menyesuaikan diri terhadap? iklim globalisasi dengan terus focus pada? technical how namun juga menawarkan pada manusia modern untuk kembali mengkaji dan mengamalkan nilai-nilai spiritual dalam artian bahwa Islam harus berada di zona tengah antara modernitas dan moralitas dalam bermasyarakat. Islam harus terus memperhatikan How dan Why secara seimbang, dengan begitu islam akan bangkit dan terus eksis menghadapi derasnya kemajuan zaman.

Telah diketahui sejak lama bahwa problem kemanusian telah diperhatikan Islam sejak lama karena memang misi dakwah ajaran islam untuk membenahi tatanan sosial yang saat itu mengalami dekadensi moral disamping juga membawa misi ketauhidan, semisal islam berusaha secara perlahan mengangkat derajat wanita yang saat itu mengalami diskriminasi dan benar-benar direndahkan.

Umat Islam perlu berbenah diri dan berkaca pada masa lalu dimana runtuhnya kejayaan Islam pada akhir abad pertengahan salah satu indikasinya adalah minimnya perhatian pada masalah spiritualitas dan moralitas. Para penguasa pada waktu itu hanya tertuju bagaimana menguasai ekspansi wilayah yang seluas-luasnya demi keuntungannya sendiri. Perluasan daerah itu selalu melupakan bagaimana mensejahterakan rakyat sehingga terjadilah pegolakan serius antara penguasa dengan rakyat.

Sejarah tak akan melupakan bagaimana umat islam memperlakukan para cendekia muslim yang menjadi sosok pembaharu seperti perlakuan yang didapat fadzlurrahman di Turki sehingga terpaksa melarikan diri ke Eropa Barat. Ironisnya para cendekia muslim yang tidak diperhatikan kemudian menyingkir ke Barat disambut hangat disana bahkan keilmuannya acap kali menjadi perbandingan dalam mengembangkan penelitian untuk kemajuan dunia Barat.

Saat ini Islam telah mampu berkompetisi di bidang pengetahuan dengan banyak menelurkan intelektual baru yang membawa angin segar bagi peradaban Islam, yang dipelukan saat ini adalah support dari kaum muslimin pada umumnya dan sudah seharusnya umat islam meninggalkan sikap jumud yang hanya akan memperlambat laju arus perkembangan islam, disamping itu perlu sekali kembali mengkapanyekan nilai-nilai spiritualitas yang selama ini perlahan terkubur dikarenakan derasnya arus modernitas.

Penulis adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang; Pegiat di LPM Justisia, Semarang



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Bahtsul Masail PMII Cabang Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Innalillah, Kiai Kharismatik di Aceh Barat Daya Berpulang

Abdya, PMII Cabang Tegal - Rais Syuriyah PCNU Aceh Barat Daya Abuya Tengku H Baihaqi Daud mengembuskan nafas terkahir pada Sabtu (1/10) pagi. Pimpinan Pesantren Babul Istiqamah ini wafat pada pagi hari pukul 07.00 WIB di pesantren setempat Gampong Padang Hilir, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

"Benar, almarhum meninggal tadi pagi di Pesantren Babul Istiqamah," kata H Munir Ubit, salah seorang? keluarga di Blangpidie.

Innalillah, Kiai Kharismatik di Aceh Barat Daya Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, Kiai Kharismatik di Aceh Barat Daya Berpulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, Kiai Kharismatik di Aceh Barat Daya Berpulang

Abuya Tengku Baihaqi Daud meninggal dunia di usia 65 dalam kondisi sakit biasa. "Tidak dirawat di rumah sakit, sebab almarhum cuma sakit biasa," ujar H Munir.

PMII Cabang Tegal

Sebelum meninggal, aktivitas Abuya Baihaqi Daud biasa-biasa saja. Bahkan kemarin almarhum sempat melaksanakan shalat Jumat di masjid.

"Kemarin masih beraktivitas shalat Jumat. Tadi pagi sempat shalat Subuh dan menelpon salah seorang muridnya," imbuh Munir Ubit.

PMII Cabang Tegal

Hingga saat ini keluarga almarhum sedang menunggu salah seorang putranya dari Banda Aceh. "Diperkirakan usai bada Zhuhur beliau akan dikebumikan di kompleks pesantren dan saat ini sedang menunggu putranya yang mengaji di Pesantren Samalanga Banda Aceh," kata H Munir Ubit, Sabtu (1/10) pagi. (Indra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita PMII Cabang Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

Bagaimana Mama Sempur merespon gerakan Wahhabisme dari Nejd? Sebagai ajengan yang hidup di Jawa Barat, beliau menulis buku dalam bahasa Sunda sebagai panduan untuk menghadapi gerakan politik yang menggunakan baju agama tersebut. Mama Sempur ataua Ajengan Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, demikian nama lengkapnya, menulis buku “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah”.





Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini.

Sampul dan halaman pertama kitab Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah. Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis:

PMII Cabang Tegal

?2? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





PMII Cabang Tegal

(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/ Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M.

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya.

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita, Cerita, Olahraga PMII Cabang Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Gelar PKD, GP Ansor Ganding Angkat Tema Gerakan Rahmatan Lil Alamin

Sumenep, PMII Cabang Tegal - Pimpinan Anak Cabang Pragaan dan Ganding Kabupaten Sumenep melangsungkan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) di Pesantren Raudlatul Iman, Gadu Barat, Ganding, Sumenep, Jumat-Sabtu (22-23/1). Tema yang diangkat ialah "Gerakan GP Ansor adalah Gerakan Rahmatan LilAlamin".

Menurut Ketua GP Ansor Pragaan Moh Qudsi, tema ini berpijak pada upaya yang mesti dilakukan kader-kader GP Ansor dan kaum nahdliyin untuk serius dalam menyebarkan dan memantapkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Gelar PKD, GP Ansor Ganding Angkat Tema Gerakan Rahmatan Lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar PKD, GP Ansor Ganding Angkat Tema Gerakan Rahmatan Lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar PKD, GP Ansor Ganding Angkat Tema Gerakan Rahmatan Lil Alamin

"Khususnya berkenaan dengan 4 nilai Aswaja yang harus diketengahkan dalam kehidupan berorganisasi, beragama, dan bernegara," ujar Moh Qudsi.

Nilai Aswaja yang dimaksud, terang Qudsi, mencakup pertama tawassuth yang dimaknai sebagai berdiri di tengah, moderat, tidak ekstrem, tetapi memiliki sikap dan pendirian yang teguh dalam menghadapi posisi dilematis antara yang liberal dan konservatif, kanan dan kiri, Jabariyah dan Qadariah dengan mempertimbangkan kemaslahatan umat dalam garis-garis tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah.

PMII Cabang Tegal

"Kedua adalah tawazun, yang berarti keseimbangan dalam pola hubungan atau relasi, baik yang bersifat antarindividu, antarstruktur sosial, antara negara dan rakyatnya, maupun antara manusia dan alam," ujarnya.

PMII Cabang Tegal

Ketiga, tambahnya, ialah taadul, keadilan yang merupakan pola integral dari tawassuth, tasamuh, dan tawazun. Dengan adanya keseimbangan, toleran, dan moderat, maka akan mengarah pada sebuah nilai keadilan yang merupakan ajaran universal Aswaja.

"Setiap pemikiran, sikap dan relasi, harus selalu diselaraskan dengan nilai ini. Pemaknaan keadilan yang dimaksud di sini adalah keadilan sosial: kebenaran yang mengatur totalitas kehidupan politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya," kata Qudsi.

Terakhir, ialah tasamuh atau toleran. Ini adalah sebuah pola sikap yang menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak dan merasa benar sendiri. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Berita, Sholawat PMII Cabang Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Polarisasi Anak Bangsa yang Semakin Memprihatinkan

Perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara belakangan ini menunjukkan situasi yang memprihatinkan yang mana masyarakat terbelah dalam dua pandangan yang dikotomis. Ada kelompok yang menganggap salah apa saja yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan di sisi lain ada yang mendukung pemerintah mati-matian. Berbagai berita yang menjelek-jelekkan pemerintah disebarkan dari grup ke grup media sosial dengan mudahnya. Kelompok seberangnya merespon dengan membuat opini negatif atas lawannya. Media sosial dan dunia maya pun menjadi hiruk-pikuk dengan cacian dan makian. Sementara itu, jika pemerintah bertindak benar, kelompok oposan diam saja atau bahkan mencari sudut pandang negatif dari tindakan tersebut.

Yang lebih celaka lagi, mereka menciptakan kesan bahwa pemerintah bersikap zalim terhadap umat Islam, semantara di sisi lain pemerintah dianggap mengakomodasi kepentingan PKI. Mereka membangun sentimen keagamaan tertentu untuk merawat sikap oposan ini. Jika informasi seperti itu setiap hari secara terus-menerus disebarkan kepada masyarakat umum yang kurang kritis, rawa sekali berubah menjadi sebuah “kebenaran”. Padahal, ada kepentingan besar yang sengaja didesain untuk menciptakan kondisi tertentu guna mendelegitimasi pemerintahan, sekalipun hal tersebut merugikan kepentingan bersama.

Polarisasi Anak Bangsa yang Semakin Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Polarisasi Anak Bangsa yang Semakin Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Polarisasi Anak Bangsa yang Semakin Memprihatinkan

Jika ditelusuri lebih dalam ke belakang, kelompok-kelompok antipemerintah tersebut sebagian merupakan orang yang kalah dalam pertarungan politik pada 2014 lalu. Mereka ingin memelihara dukungan yang secara emosional sudah terbentuk untuk kepentingan politik tahun 2019. Dengan merawat sikap oposisi terhadap pemerintah, maka suara mereka bisa dimanfaatkan lagi untuk pertarungan selanjutnya.

PMII Cabang Tegal

Ada pula yang merasa, pemerintah saat ini kurang memberi ruang kepada kelompok umat Islam tertentu. Mereka merasa, pemerintah bersikap keras, tidak sebagaimana pemerintahan periode sebelumnya. Apa yang dilakukan pemerintah saat ini adalah menjaga ideologi negara, yaitu Pancasila. Ada sekelompok kecil umat Islam yang ingin mengubah dasar negara dengan sistem khilafah atau ideologi transnasional lainnya. Tentu saja, pemerintah memiliki kewajiban menjaga kelangsungan NKRI yang merupakan hasil konsensus dari para pendiri bangsa yang latar belakangnya beraneka ragam.

Mempertahankan eksistensi NKRI dengan menghalangi tumbuh suburnya aliran-aliran radikal yang mengatasnamakan Islam tidak dapat disamakan dengan memusuhi Islam. Sejumlah UU seperti UU Haji, UU Zakat, UU Halal, dan berbagai peraturan pemerintah lainnya mengakomodasi kepentingan umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah tentu saja tidak sepenuhnya benar. Ungkapan kekuasaan rawan terhadap penyalahgunaan mengajarkan kita untuk selalu mengawasi perilaku pemerintah. Persoalan seperti korupsi, birokrasi yang lamban, penegakan hukum yang lemah, dan ketimpangan sosial merupakan sebagian masalah yang saat ini belum terselesaikan. Mungkin dari zaman Indonesia merdeka hingga sekarang. Siapa pun presidennya akan menghadapi persoalan tersebut.  Yang harus kita lakukan adalah mengapresiasi kerja-kerja baik yang sudah dilakukan oleh pemerintah, sementara di sisi yang lain harus mengawasi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh para pejabat yang sedang berkuasa.

PMII Cabang Tegal

Nahdlatul Ulama dalam berbagai kesempatan menegaskan, bukan bagian dari pemerintah atau koalisi dan bukan juga oposisi. NU mendukung jika kebijakan pemerintah memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi NU juga akan mengingatkan pemerintah jika beleid yang dikeluarkan merugikan masyarakat. Dalam hal kebijakan sekolah lima hari, NU menentang habis-habisan. Sementara di satu sisi, NU mendukung Perpu ormas sebagai upaya untuk mengekang tumbuh suburnya organisasi radikal yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi yang mereka usung.

Kehidupan berbangsa dan bernegara memang memerlukan kedewasaan. Kekalahan dalam kontestasi politik adalah hal yang lumrah. Toh ada kesempatan dalam lima tahun berikutnya untuk bertarung kembali. Tetapi jangan sampai rakyat dikorbankan demi kepentingan politik sekelompok kecil orang dengan merusak tatanan bernegara.

Sebagai bangsa yang masih berproses, mengingat latar belakangnya yang sangat beragam, upaya untuk menyamakan visi dalam bernegara harus terus dibangun. Polarisasi-polarisasi yang terjadi saat ini merenggangkan kembali ikatan berbangsa. Bung Karno meminta nasihat Mbah Wahab atau KH Wahab Chasbullah ketika menyadari adanya polarisasi antara kelompok setelah kemerdekaan RI. Mbah Wahab menyarankan diadakannya halal bihalal, atau silaturahim seusai Lebaran, yang kini menjadi tradisi di Indonesia. Upaya-upaya serupa untuk membangun komunikasi antarkomponen bangsa harus terus dilakukan supaya ketika ada kesalahpahaman segera bisa dijelaskan duduk perkaranya. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Meme Islam, Berita, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama (2-habis)

Pertemuan antara Hasan Gipo dengan Kiai Wahab serta kiai lainnya makin intensif. Ia kemudian terlibat aktif dalam pendirian Nahdlatul Wathan (1914), walaupun tidak tercatat sebagai pengurus. Selanjutnya ia juga menjadi peserta diskusi dalam forum Taswirul Afkar (1916).

Karena itu pengetahuannya sangat teruji, dan kemapuan berargumentasinya sangat memukau. Selain itu ia juga telah aktif terlibat dalam Nahdlatut Tujjar (1918) yang memang bidangnya. Dalam forum semacam itu ia berkenalan dengan ulama lainnya makin intensif seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan beberapa kiai besar lainnya di Jawa  yang telah lama menjadin pershabatan dengan keluarga Ampel itu.

Bahkan ketika para ulama membentuk Komite Hejaz dan akan mengirimkan utusan ke Makah, sumbangan Hasan Gipo juga sangat besar, karena dialah yang mempelopori penghimpunan dana dan ia sendiri pun menyumbang sangat besar. Atas prestasinya yang banyak memberikan sumbangan, dan memiliki kecakapan teknis dalam menangani administrasi organisasi serta penggalangan dana masyarakat.

Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama (2-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sudagar-Aktivis, Ketua Tanfidziyah NU Pertama (2-habis)

Karena itu ketika Nahdlatul Ulama berdiri, dalam sebuah pertemuan terbatas yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah di kawasan Bubutan Surabaya itu ia langsung ditunjuk sebagai Hoftbestoor (Pengurus Besar) NU sebagai Ketua Tanfidziyah  dan usul itu langsung disetujui oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang sebelumnya sudah sangat mengenal Hasan Gipo serta latar belakang keluarganya.

Walau sebagai pengurus NU bisnisnya tetap berkembang, bahkan kemudian juga dikembangkan ke sektor properti, ia banyak memiliki perumahan, pertokoan dan pergudangan yang ini kemudian disewakan, saat itu kebutuhan terhadap sarana bisnis tinggi, karena itu tingkat hunian propertinya juga tinggi, sehingga keuntungan yang diperoleh dari sini juga tinggi, sehingga ia bisa menyumbang banyak ke NU, baik ketika Muktamar maupun untuk sosialisasi dan pengembangan NU ke daerah-daerah lain, sehingga bisa dilihat NU berkembang sangat cepat dari Surabaya, pada tahun kedua telah menyebar di Jawa Tengah, bahkan pada tahun kelima telah menyebar ke Jawa Barat, bahkan ke Kalimantan dan Singapura.

Seperti dilukiskan Saifuddin Zuhri, yang menggabarkan Hasan Gipo sebagai sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga gagah secara fisik, karena itu ketika terjadi perdebatan tentang masalah teologi antara Kiai Wahab Hasbullah dengan Muso yang ateis itu bisa mengganti kedudukan Kiai Wahab yang bosan menghadapi Muso yang hanya bisa debat kusir tanpa nalar dan tanpa hujjah yang benar. Maka dengan gagah berani ia  melakukan  debat dengan Muso tokoh PKI yang dikenal sebagai Singa podium itu ditaklukkan. Setiap argeumennya bisa dipatahkan, sehingga alumni Moskwo dan anak didik Lenin itu keteteran. Tidak hanya itu Arek Suroboyo ini juga berani menantang Muso berkelahi secara fisik. Anehnya Muso yang biasanya brangasan itu tidak berani menghadapi tantangan Hasan Gipo.

PMII Cabang Tegal

Selain menguasai ilmu agama, setiap orang pesantren selalu menguasai ilmu kanuragan, sebab ini bagian dari tradisi pesantren, dan tampaknya Hasan Gipo juga memiliki ilmu ini, itu yang membuat Muso ngeri menghadapi. Hasan Gipo. Jabatan ketua Tanfidziyah itu dipegang Hasan Gipo selama dua masa jabatan, baru pada Muktamar NU Ketiga 1929 di Semarang ia digantikan oleh KH. Noor sebagai ketua Tanfidziyah yang baru juga berasal dari Surabaya. Selanjutnya pada Muktamar NU ke 12 tahun 1937 di Malang kemudian KH Noor digantikan oleh KH Mahfud Shiddiq, kakak kandung KH Ahmad Shiddiq. 

Pada periode awal ini, NU memang banyak diikuti oleh para pengusaha, selain Hasan Gipo ada beberapa pengusaha besar yang masuk ke NU yaitu Haji Burhan Gresik. Ia memiliki pabrik kulit dan persewaan rumah dan gudang. Kemudian adalagi pengusaha besar Haji Abdul Kahar Kawatan Surabaya, yang menguasai perdagangan pertanian di Jawa Timur. Kemudian ada H. Jassin, seorang pemilik pabrik garmen yang khusus diekspor ke India dan Pakistan. Mereka semuanya pernah aktif terlibat aktif dalam Nahdlatut Tujjar, maka ketika NU berdiri secara otomatis mereka bergabung ke NU. Dengan demikian NU bisa berdiri mandiri tanpa bantuan dari kolonial, sehingga bebas menentukan gerak organisasinya dan mengatur pendidikan pesantren yang diselenggarakannya.

Pada periode awal ini selain menggiatkan bidang pendidikan, maka NU sangat peduli dengan usaha pengembangan ekonomi dengan membentuk berbagai syirkah. Usaha impor sepeda dari Eropa dirintis sejak tahun 1935, karena untuk mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri, dan tentunya sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi warga NU dalam mengembangkan jamiyah.

Selain itu juga dibentuk badan pengimpor gerabah dan barang kebutuhan lainnya dari Jepang. Usaha itu terus dikembangkan, kemudian NU juga mulai masuk lebih serius dalam bidang industri percetakan dan lain sebaginya. Atas inisiatif para kiai dan para tujjar yang ada dalam tubuh NU itu pergerakan NU semakin gencar, sehingga dalam waku singkat menjadi organisasi besar.

Selain bisnis yang bersifat kolektif para pengurus NU sejak dari Kiai Hasyim Asy’ari, termasuk Kiai Wahab Hasbullah. Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Bisri, Kiai Muslih Purwokerto, semuanya mempunyai usaha sendiri-sendiri. Usaha itu dibangun selain untuk memenuhi ekonomi keluarga yang terpenting bisa menjadi kemandirian agar tidak minta bantuan pada pemerintah kolonial Belanda. Jajaran pimpinan NU terdiri dari orang-orang independen, tidak ada yang menggantungkan ekonominya pada birokrasi kolonial.

PMII Cabang Tegal

Karena itu sejak masa kemerdekaan kemandirian kiai dan NU tetap terjaga, karena memiliki kemandirian secara ekonomi. Pembangunan ekonomi di sini ditempatkan sebagai strategi politik untuk menjaga kemandirian dan kebebasan warga dari ketergantungan dan tekanan dari penjajah. 

Setelah tidak lagi menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU, Hasan Gipo kembali mengembangkan bisnisnya, hingga semakin besar. Sebagian hasil keuntungannya tetap disumbangkan pada NU dan pesantren. Sebab pada masa rintisan NU membutuhkan banyak dana, apalagi saat itu Muktamar dilaksanakan setiap tahun, maka sudah pasti Hasan Gipo tergerak untuk membantu pendanan Muktamar NU setiap kali diselenggarakan, baik di Surabaya maupun di luar Jawa.

Aktivitas Hasan Gipo terus dilanjutkan hingga menjelang wafatnya  pada tahun 1934, kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin. Ia mempunyai tiga orang anak, yang kemudian melanjutkan usaha bisnisnya dan sekaligus sebagai penerus dinasti Gipo yang masih terus aktif hingga saat ini.

 

Abdul Munim DZ

(Disadur dari beberapa sumber dan hasil wawancara dengan H. Musa Jassin, salah seorang anggota Bani Gipo, yang tinggal di Kawatan Surabaya) 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Anti Hoax, Nasional, Berita PMII Cabang Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ansor Usulkan Penerapan Ahul Halli Secara Gradual

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid mengusulkan penerapan mekanisme ahlul halli secara gradual. Untuk tahap pertama, diterapkan pada pemilihan rais aam, baru pada tahap selanjutnya diterapkan untuk memilih ketua umum PBNU. Ia tidak merinci secara tegas kapan tahapan-tahapan tersebut dimulai dan diterapkan sepenuhnya.

“Ahlul hallli untuk syuriyah, anggotanya rais-rais syuriyah ditambah kiai sepuh, tapi untuk tanfidziyah dipilih, dan kalau bisa dicari tokoh muda progresif yang memiliki visi organisasi. Tidak harus seorang kiai untuk menjadi ketua umum tanfidziyah,” katanya.?

Ansor Usulkan Penerapan Ahul Halli Secara Gradual (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Usulkan Penerapan Ahul Halli Secara Gradual (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Usulkan Penerapan Ahul Halli Secara Gradual

Untuk jajaran syuriyah, tetap diperlukan unsur ke kesepuhan, kharisma dan kealiman.

PMII Cabang Tegal

Ketika ditanya mengenai tokoh kultural yang berpengaruh, menurutnya, hal tersebut tak susah dicari.?

“Kalau dilihat di Jateng, kiai sepuh ada Kiai Mahfudz Ridwan, Habib Lutfi, Mbah Dimyati Rais, Mbah Munif Zuhri, Kiai Sya’rani Ahmadi dan Kiai Maimum Zubair,” katanya.

Sementara untuk Jatim, ia menyebut Kiai pesantren Sidogiri dan Kiai Mas Subadar. “Banyak sekali. Listnya sudah ada. Kita tahu mana kiai yang punya umat dan mana yang tidak,” tandasnya.

PMII Cabang Tegal

Ia tidak setuju penerapan sistem ahlul halli langsung untuk jajaran syuriyah dan tanfidziyah karena kalau perubahan dilakukan secara mendadak, akan menimbulkan gejolak.?

“Bagaimanapun harus diakui, tanfidziyah di cabang kan semuanya ‘pemain.’ Kalau langsung lahan permainannya dihilangkan kan ngamuk nanti, malah kontraproduktif muktamarnya. Untuk yang itu sementara diakomodir,” tegas Nusron yang juga politisi Golkar ini.

Di luar konsep ahlul halli ini, hal lain yang penting dalam muktamar mendatang adalah mendefinisikan prasyarat menjadi pengurus NU.?

“Kita harus mulai membangun organisasi dengan mulai membedakan mana warga dan mana kader. Yang boleh menjadi pengurus hanya kader, bukan warga,” ujarnya.

Untuk menjadi kader, harus dengan syarat tertentu seperti pernah aktif di badan otonom, pernah ikut kaderisasi di NU, dan sebagainya. “Harus lulus dari medan kaderisasi. Jadi tidak ada lagi orang, mentang-mentang nyumbang, terus dijadikan pengurus. Ngak bisa itu, harus kader,” tegasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Berita PMII Cabang Tegal

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin

Jombang, PMII Cabang Tegal. Ada yang beda dengan penampilan Presiden RI Ir H Joko Widodo di acara pembukaan Muktamar Ke-33 NU, Sabtu (1/8) malam. Mantan Wali Kota Solo ini mengenakan sarung, kain khas warga NU pada umumnya.

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Saya Memakai Sarung Untuk Menjiwai Kultur Nahdliyin

“Saya sangat bahagia berada di antara para Nahdliyin (warga NU) dalam Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang. Saya memakai sarung untuk menjiwai kultur Nahdliyin,” tulis Jokowi di Fan Page resminya, “Presiden Joko Widodo”, Sabtu (1/8) yang diposting pukul 23.25 WIB.

Sejarah mencatat, lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta ini, sejak berdiri tahun 1926, Nahdlatul Ulama turut melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, teguh menjunjung semangat kebangsaan, menegakkan ke-Indonesia-an serta menghargai kebhinekaan.

PMII Cabang Tegal

“Oleh karena itu, saya juga mengusulkan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH A Wahab Chasbullah, atas jasa-jasa beliau kepada bangsa dan negara kita,” lansirnya mengungkapkan.

Dalam rilisnya ini, Jokowi menandaskan dengan mengucapkan, selamat dan sukses atas terselenggarnya Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur. (Red: Fathoni)?

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Olahraga, Internasional, Berita PMII Cabang Tegal

Jumat, 17 November 2017

Diatur 2 UU, Dasar Hukum Pemenuhan Hak Korban Terorisme Kuat

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Dasar hukum pemenuhan hak-hak korban tindak pidana terorisme diatur oleh dua undang-undang, yaitu Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dan Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban.

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai mengatakan, karena diatur oleh dua undang-undang sekaligus, maka perlindungan dan pemenuhan hak korban terorisme dianggap sudah sangat kuat, baik hak untuk mendapatkan bantuan medis, rehabilitasi psikologis dan psikososial maupun kompensasi.

Diatur 2 UU, Dasar Hukum Pemenuhan Hak Korban Terorisme Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Diatur 2 UU, Dasar Hukum Pemenuhan Hak Korban Terorisme Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Diatur 2 UU, Dasar Hukum Pemenuhan Hak Korban Terorisme Kuat

"Bagaimana mekanisme korban terorisme mengakses hak-haknya, termasuk dalam hal kompensasi, ini yang belum diatur perundang-undangan. Dalam pembahasan revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, inilah salah satu hal yang akan disempurnakan," kata Semendawai saat jumpa pers di ruang Media Centre Gedung LPSK, Jakarta, Rabu (11/10).

Semendawai mengungkapkan, hingga saat ini, LPSK tengah memberikan sebanyak 118 layanan bagi korban terorisme, terdiri dari bantuan medis sebanyak 38 layanan, rehabilitasi psikologis 29 layanan, rehabilitasi psikososial 28 layanan dan fasilitasi kompensasi sebanyak 18 layanan.

PMII Cabang Tegal

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu menuturkan, awalnya fokus pada pembahasan revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme hanya fokus pada pencegahan, penindakan dan deradikalisasi. Kemudian LPSK berinisiatif agar perlindungan saksi dan korban dapat diatur dalam revisi UU.

"Hanya ada 6 pasal tentang perlindungan saksi dan korban dalam UU tersebut," katanya.

Menurut Edwin, pada kenyataannya banyak hal yang dibutuhkan korban namun belum ter-cover dalam UU Perlindungan Saksi dan Korban dan harus dimasukkan dalam revisi UU Terorisme. Hal tersebut belajar dari pengalaman LPSK dalam melakukan pemenuhan hak korban terorisme selama ini, seperti penanganan sesaat bagi korban setelah terjadinya peristiwa terorisme.

Dalam memberikan bantuan kepada korban, lanjut Edwin, juga dibutuhkan surat keterangan korban dari penyidik. Terkait itulah, dalam pembahasan revisi UU Terorisme, dimasukkan kewajiban penyidik untuk menetapkan siapa saja korban dalam suatu peristiwa terorisme. Sedangkan untuk kompensasi, dalam praktik selama ini dimasukkan dalam tuntutan. "LPSK meminta agar kompensasi sudah masuk sejak penyidikan. Ini penting agar proses kompensasi terus dibawa dari mulai penyidikan hingga sidang," ujar Edwin. (Red: Kendi Setiawan)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Meme Islam, Berita PMII Cabang Tegal

Rabu, 15 November 2017

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Terkait disanderanya 10 Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf, Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud mengatakan, peran organisasi masyarakat bisa turut menjebatani. Ia beralasan adanya kemungkinan itu mengingat Abu Sayyaf lari ke Filipina, tidak lain karena mempunyai jaringan di negara tersebut.?

Saat ini tenggat waktu yang diberikan para penyandera sudah habis. Marsudi berpendapat agar pemerintah mencoba membandingkan dengan penyanderaan terhadap kapal Sinar Kudus tahun 2011 lalu.

“Setahu saya dulu pemerintah melibatkan pihak-pihak yang dianggap bisa turut untuk mendekati para penyandera dan melobinya. Pendekatan yang soft aproach (pendekatan yang lembut) itu bisa disisir melalui NGO yang ada kaitan atau relasi antara organisasi di Filipina dengan kelompok Abu Sayyaf. Itu harus dilakukan oleh pemerintah,” terang Marsudi kepada PMII Cabang Tegal,? Senin, (11/4) malam.

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Pembebasan 10 WNI Bisa Ditempuh dengan Banyak Cara

Ditanya apakah pemerintah Indonesia perlu memberikan uang tebusan kepada para penyandera, Marsudi mengatakan hal itu bisa terjawab setelah adanya komunikasi antara pemerintah dengan kelompok? Abu Sayyaf. Ia menegaskan langkah apa saja bisa ditempuh untuk keselamatan rakyat Indonesia.

Lebih lanjut, Marsudi mengatakan PBNU sejak era Gus Dur mempunyai hubungan khusus dengan organisasi di Filipina Selatan. Marsudi berkeyakinan, sampai saat ini masih ada peluang untuk mengatasi persoalan tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Berita, Nahdlatul, News PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Selasa, 14 November 2017

Perang Saudara dan Konflik Aliran di Irak adalah Kebohongan AS

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Kekhawatiran berbagai kalangan terhadap masa depan Irak pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein juga dirasakan oleh Iran. Duta Besar Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi menyatakan, propaganda tentang perang saudara dan konflik aliran yang terjadi di negeri kaya minyak itu merupakan kebohongan besar yang dibuat Amerika Serikat (AS)

Perang Saudara dan Konflik Aliran di Irak adalah Kebohongan AS (Sumber Gambar : Nu Online)
Perang Saudara dan Konflik Aliran di Irak adalah Kebohongan AS (Sumber Gambar : Nu Online)

Perang Saudara dan Konflik Aliran di Irak adalah Kebohongan AS

“Yang dipropagandakan di Irak adalah perang saudara di antara aliran-aliran di dalam agama Islam di Irak. Tetapi, menurut kami, propaganda itu adalah kebohongan yang dibuat oleh negara adikuasa, terutama AS,” kata Behrooz usai bertemu dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (3/1).Behrooz menilai, kekacauan dan maraknya tindak kekerasan yang terjadi setelah tergulingnya Saddam, tidak lain adalah perbuatan AS sendiri. “Pembunuhan dan peledakan di Irak itu sangat profesional dan tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa. Menurut kami, peledakan dan pembunuhan di Irak, semuanya dimotori oleh AS. Tapi pelaksananya adalah anak buah Saddam dari Partai Baath,” terangnya.

Dalam kunjungan yang memang bertujuan membahas nasib Irak dan masalah-masalah besar yang sedang dihadapi umat Islam saat ini pada umumnya, Behrooz menyebut AS beserta sekutunya telah melakukan upaya sistematis untuk memperburuk citra Islam. Menurutnya, AS terus mempropagandakan bahwa Islam adalah agama kekerasan.

Selain itu, katanya, apa yang dilakukan AS juga dalam rangka memertahankan sekaligus memerluas ketidakamanan di negeri 1001 Malam tersebut. Pertengkaran di antara kelompok Syiah-Sunni dan Kurdi—sebagaimana dipropagandakan AS, menurutnya, sangat tidak berdasar.

“Dalam propaganda itu, mereka (AS dan sekutunya) selalu bilang bahwa di Irak itu terjadi konflik Syiah-Sunni dan Kurdi. Padahal itu adalah sangat tidak benar. Karena kebanyakan warga Kurdi di Irak itu adalah ahlussunnah wal jamaah. Oleh karena itu umat Islam harus sadar akan fitnah itu,” urainya.

PMII Cabang Tegal

Sebagai negeri yang cadangan minyaknya sangat besar, lanjut Behrooz, AS beserta negara-negara Barat yang menjadi sekutunya tak akan membiarkan Irak menjadi aman. Negara adikuasa itu akan terus menebar ketidakamanan pada rakyat Irak agar mudah dalam upaya menguasai sumber daya alam yang melimpah itu.

“Irak terus diperhatikan oleh negara adikuasa, khususnya Inggris dan AS. Irak adalah negara yang punya cadangan minyak yang kaya dan terletak di daerah penting. Sayangnya, yang dihadapai rakyat Irak adalah ketidakamanan dan Barat terus memperluas ketidakamanan di Irak,” paparnya.

PMII Cabang Tegal

Usulkan Konferensi Internasional

Sementara itu, KH Hasyim Muzadi menyatakan bahwa dirinya telah mengusulkan kepada pemerintah Iran agar menggelar konferensi internasional yang khusus membahas masa depan Islam pasca-hukuman mati mantan pemimpin Partai Baath itu. Tujuannya, katanya, adalah untuk menetralisir opini yang berkembang di masyarakat internasional bahwa hal itu bukanlah persoalan yang diakibatkan oleh agama.

“Saya menyampaikan usulan dan masukan kepada Iran melelaui Yang Mulia Dubes Iran di Indonesia untuk mengadakan konferensi Internasional tentang solusi dan peredaan konflik di Iraq,” ujar Hasyim yang juga Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP).

Menurut Hasyim, hal itu penting dilakukan supaya pemutarbalikan isu tidak semakin ‘meracuni’ dunia. Saat ini, katanya, yang selalu diberitakan di media massa adalah pertikaian antar-aliran di dalam Islam. “Padahal faktor yang melatarbelakangi pertikaian tadi, bukan Kurdi Syiah dan Sunni. Tetapi adalah masalah kekuasaan Saddam, intervensi asing dan masalah pemecahbelahan. Nah ini harus dikembalikan duduk masalahnya,” ungkapnya.

Hasyim mengaku merasa perlu bahwa Iran cukup tepat untuk menyelenggarakan konferensi internasional tersebut, karena selain memiliki kompetensi dan kewenangan, negara pimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad itu memiliki keterkaitan sejarah dengan Irak, yakni perang selama 8 tahun sejak tahun 1980.

Meski demikian, dalam kesempatan itu, Hasyim menyatakan tidak keberatan jika NU diminta untuk memfasilitasi konferensi internasional itu. “Apabila NU diminta memfasilitasi konferensi itu, sepanjang NU mampu, insyaallah akan dilaksanakan. Karena ini untuk keselamatan umat Islam dan juga dalam rangka perdamaian dan keadilan dunia,” tandas Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal RMI NU, Pertandingan, Berita PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock