Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Aktif di IPNU dan IPPNU Sekarang, Bermanfaat di Masyarakat Kelak

Kendal, PMII Cabang Tegal. Ketua Pimpinan Cabang Ikaatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Kendal Kholid Abdillah mengatakan, bahwa berorganisasi di IPNU dan IPPNU hari ini akan bermanfaat ketika bermasyarakat kelak.

Menurut Kholid, di organisasi IPNU dan IPPNU sudah menyiapkan perbekalan untuk hidup bermasyarakat.

Aktif di IPNU dan IPPNU Sekarang, Bermanfaat di Masyarakat Kelak (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktif di IPNU dan IPPNU Sekarang, Bermanfaat di Masyarakat Kelak (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktif di IPNU dan IPPNU Sekarang, Bermanfaat di Masyarakat Kelak

"Organisasi itu sangat penting bagi kita yang nanti hidup bermasyarakat. Bekalnya yaitu manajemen organisasi. Seseorang yang berpendidikan tinggi pun tidak akan memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat apabila tidak pernah ikut organisasi," jelasnya dalam forum Diskusi dan Sosialisasi IPNU-IPPNU di kalangan Santri dan Pelajar di gedung MWCNU Kecamatan Pageruyung, Ahad (14/2).

PMII Cabang Tegal

Hal senada disampaikan Wakil Ketua IPPNU Kendal Afifah? Rahmawati. Menurut dia, dalam bermasyarakat? dibutuhkan pengalaman dan proses yang perlu dijalani oleh setiap kader IPNU-IPPNU.

PMII Cabang Tegal

"Proses dalam organisasi? itu merupakan nyawa diri kita sendiri. Prosesnya baik, hasilnya juga akan baik. Prosesnya berhenti di tengah jalan, ya mana ada hasilnya," ujar Afifah.

Sedangkan Wakil Ketua IPNU Kendal Abdul Rokhim, menyampaikan bahwa dengan cara hidup disiplin kita mempunyai satu bekal yang dibutuhkan dalam bermasyarakat.

"Berorganisasi merupakan suatu harta yang sangat berharga yang dimiliki masing-masing pengurus maupun anggota. Itu sangat mahal harganya, tidak bisa didapat di sekolah maupun tempat lain," pungkasnya.

Sejak dilantik sebulan lalu, Pimpinan Cabang Ikaatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten? Kendal? Jawa Tengah gencar melakukan sosialisasi dan kaderisasi. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga keaktifan IPNU-IPPNU di tingkatan Anak Cabang maupun Ranting dan Komisariat.

Karena itulah, Pimpinan Cabang mendukung? penuh setiap kegiatan yang dilakukan Pimpinan Anak Cabang maupun Pimpinan Ranting dan Komisariat. Karena dengan demikian akan mempermudah sosialisasi dan kaderisasi.

"Kita mendukung penuh setiap kegiatan IPNU-IPPNU yang diadakan oleh PAC-PAC se-Kabupaten Kendal," ujar Kholid. (Skn/f/Alw)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Cerita, PonPes PMII Cabang Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji

Bandung, PMII Cabang Tegal



Tak kurang dari 50 ribu santri se-Jawa Barat akan menjadikan Bandung sebagai Lautan Mengaji pada Sabtu (20/5). Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Raya Bandung, Jalan Asia-Afrika, ribuan santri akan melakukan 1000 kali khatam Al-Quran yang dipimpin langsung inisiator Nusantara Mengaji, Muhaimin Iskandar.

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bandung Segera Jadi Lautan Mengaji

Koordinator Wilayah Nusantara Mengaji Jawa Barat, Cucun A Syamsurizal mengatakan, selain khatam Al-Quran, dilakukan pula Shalat Subuh berjamaah. Pasalnya acara dimulai sejak pukul 03.00.

"Selepas Shalat Subuh berjamaah dilakukan persiapan jalan santai menuju Monumen Bandung Lautan Api Tegal Lega," kata Cucun, Selasa (16/5).

Menurut Cucun, Bandung Lautan Mengaji ini sebagai tindak lanjut dari program Nusantara Mengaji yang digagas Muhaimin Iskandar. Dan untuk wilayah Jawa Barat dipusatkan di Bandung.

PMII Cabang Tegal

Saat rapat, seluruh perwakilan Pesantren di Jawa Barat akan mengirimkan santri dan santriwatinya dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. Termasuk para tokoh masyarakat dan ulama di Jawa Barat.

Sekretaris Panitia, Ahmad Irfan Alawi mengungkapkan teknis acara ketika jalan santai. Massa santri yang laki-laki akan jalan kaki menuju Monumen Bandung Lautan Api dengan mengenakan sarung, berbaju koko dan berpeci. Di perjalanan akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Syubbanul Wathan sebagai penegasan kebangsaan di Jawa Barat.

"Pak Muhaimin Iskandar pun ikut jalan kaki. Dan setibanya di Monumen Bandung Lautan Api langsung orasi kebangsaan," ujarnya. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Internasional, Cerita, Kyai PMII Cabang Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Banser dan Ansor Pematangsiantar Turut Upacara Kemerdekaan

Pematangsiantar, PMII Cabang Tegal. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Pematangsiantar turut serta dalam upacara pengibaran bendera merah putih dalam memperingati Hari Ulang Tahun RI ke-71 pada 17 Agustus 2016 lalu. Hal ini sebagai komitmen Banser dalam menjaga NKRI dan sebagai penghormatan kepada pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan.

Banser dan Ansor Pematangsiantar Turut Upacara Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser dan Ansor Pematangsiantar Turut Upacara Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser dan Ansor Pematangsiantar Turut Upacara Kemerdekaan

Upacara pengibaran bendera merah putih dilaksanakan di Lapangan H. Adam Malik Pematangsiantar dengan Inspektur Upacara Pj Walikota Pematangsiantar Jumsadi Damanik. Elemen organisasi lain yang ikut serta di antaranya TNI, Polri, mahasiswa, siswa, SKPD dan beberapa OKP.

Kesatuan Banser di lapangan upacara dikomandoi Kepala Satkorcab Banser Sartono. Selain Banser, PC GP Ansor Kota Pematangsiantar juga hadir sebagai undangan yang dipimpin Ketua PC GP Ansor Arjuna.

PMII Cabang Tegal

Sebelum uapacara dimulai, Ketua PC GP Ansor Kota Pematangsiantar mengatakan, makna dalam upacara peringatan kemerdekaan RI? ke 71 ini adalah untuk menghargai dan mengenang jasa para pahlawan. Tak hanya itu, tapi juga untuk meningkatkan rasa kecintaan kita terhadap tanah air.

PMII Cabang Tegal

“Dan sesuai dengan tema Dirgahayu RI ke 71, kita harus kerja nyata berbuat untuk kebaikan,” ungkapnya. (Fajar Prabowo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Cerita PMII Cabang Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Kekerasan Sebabkan Partisipasi Pembangunan dari Perempuan dan Anak Rendah

Jombang, PMII Cabang Tegal. Meskipun dikenal sebagai kota santri, tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jombang Jawa Timur lumayan tinggi. Dibutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk Muslimat NU untuk menanggulanginya. Nyai Hj Mundjidah Wahab mengemukakan, penting bagi kita semua bergandeng tangan untuk peduli dan ikut menyelesaikan persoalan ini.

Penjelasan tersebut disampaikan Nyai Mundjidah, sapaan akrabnya ketika membuka sosialisasi kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diselenggarakan di kantor setempat, jalan Juanda Jombang, Kamis (15/9).

Kekerasan Sebabkan Partisipasi Pembangunan dari Perempuan dan Anak Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekerasan Sebabkan Partisipasi Pembangunan dari Perempuan dan Anak Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekerasan Sebabkan Partisipasi Pembangunan dari Perempuan dan Anak Rendah

"Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan rintangan terhadap keberhasilan pembangunan karena korban menjadi tidak percaya diri," kata Wakil Bupati Jombang tersebut. Akibat kekerasan, partisipasi perempuan di tingkat sosial menjadi rendah, termasuk berkurangnya otonomi pada masalah kesehatan, ekonomi, politik dan budaya, lanjutnya.

Sedangkan salah seorang pemateri, Siti Rofiah mengemukakan bahwa data di Womens Crisis Center (WCC) Jombang menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Agustus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 35 kasus.

"Saat ini banyak dihadapi berbagai kasus tindak kekerasan yang korbannya adalah anak dan perempuan," kata aktifis bidang advokasi di WCC Jombang ini. Tingginya angka tersebut menjadi persoalan bagi semua pihak untuk turut bertanggung jawab mencari solusi.?

PMII Cabang Tegal

"Salah satu solusinya adalah bekerjasama dengan aktifis Muslimat NU sebagai ormas perempuan yang di dalam kepengurusannya juga terdapat ibu nyai," kata dosen Universitas Hasyim Asyari Tebuireng ini.

Dengan terobosan tersebut diharapkan mampu meminimalisir dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jombang. "Sehingga dalam pengajian maupun ceramah yang disampaikan ibu nyai bisa menyinggung tentang apa itu kekerasan, mengapa korban kekerasan cenderung dialami kelompok rentan yakni anak dan perempuan," terangnya. Juga yang tidak kalah penting bagaimana mencari solusi atas kekerasan yang ada, lanjutnya.

Di akhir penjelaan, Siti Rofiah cukup prihatin lantaran di antara mereka yang melakukan adalah mengetahui dan sadar dengan tindakan kekerasan tersebut. "Para Pelakunya justru mengetahui dan pernah melakukannya," pungkasnya. Kegiatan ini diikuti oleh 21 Pimpinan Anak Cabang Muslimat se-Jombang. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Cerita PMII Cabang Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka

Bandung, PMII Cabang Tegal. Empat aktivis PMII Cabang Kabupaten Bandung mengalami luka berat akibat represi aparat keamanan saat berunjuk rasa di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, Senin (28/01).

Keempat orang itu adalah Muhsin Haitami, Hamdani Huliman, Kalis Romi Tanji dan Dhomiri Al-Ghozali. Korban aksi kekerasan tersebut dirawat di Rumah Sakit Al-Islam, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka

Menurut rilis yang diterima PMII Cabang Tegal, dua di antara korban tersebut sudah pulang. Sementara sisanya masih dalam perawatan.

PMII Cabang Tegal

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Barat Edi Rusyandi, mengatakan aksi tersebut adalah menyampaikan beberapa tuntutan terhadap Ketua KPU Jawa Barat Yayat Hidayat.

PMII Cabang Tegal

Pasalnya, KPU dianggap telah gagal dalam mempersiapkan pelaksanaan Pilgub Jabar tahun 2013 yang menghabiskan dana hingga Rp 1 Trilun lebih. Diantara kegagalan tersebut adalah proses lelang surat suara, minimnya sosialisasi, serta penyusutan daftar pemilih tetap (DPT).

“Mulanya aksi berlangsung tertib. Keributan terjadi akibat provokasi aparat yang menangkap salah satu massa aksi. Padahal pada saat itu massa aksi sudah berangsur untuk membubarkan diri dari lokasi aksi," ujar Edi.

Atas dasar peristiwa tersebut, PKC PMII Jawa Barat menyatakan sikap; pertama, mengecam tindakan represif aparat polisi terhadap aksi demontrasi PMII Kabupaten Bandung di KPU Jawa Barat.

Kedua, PKC PMII Jawa Barat mendukung sepenuhnya aksi yang dilakukan oleh PC PMII Kabupaten Bandung. Ketiga, mendesak institusi polisi dalam hal ini Polrestabes Bandung dan Polda Jabar untuk menindak tegas anggotanya yang melakukan tindak kekerasan terhadap kader PMII Kabupaten Bandung.

Keempat, mendesak Kepala Polrestabes Bandung untuk menyampaikan permohonan maaf secara institusi di media baik cetak maupun elektronik selama 7 (tujuh) hari berturut-turut; Kelima, jika permintaan ini tidak diperhatikan, PKC PMII Jawa Barat akan menggelar aksi besar-besaran untuk menduduki KPU Jawa Barat. Keenam, mengintruksikan kepada PC PMII Se Jawa Barat untuk menggelar aksi solidaritas atasaksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat Polrestabes Bandung.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, RMI NU, Cerita PMII Cabang Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Dalam Urusan Kebangsaan, Kepala Daerah Perlu Mencontoh Dedi Mulyadi

Cirebon, PMII Cabang Tegal



Cendekiawan Muslim Nahdlatul Ulama Marzuki Wahid menilai, pernyataan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo terkait dengan pentingnya kepala daerah menjadi pelopor kebhinekaan dan pelindung toleransi merupakan sikap yang baik untuk disambut para kepala daerah lain.

Karena itu menurut Marzuki Wahid, kepala daerah di seluruh Indonesia harus menjadikan pesan presiden itu sebagai modal untuk melakukan tindakan-tindakan konkret dalam pencegahan gerakan Islam radikal dan gerakan-gerakan intoleran.

Dalam Urusan Kebangsaan, Kepala Daerah Perlu Mencontoh Dedi Mulyadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Urusan Kebangsaan, Kepala Daerah Perlu Mencontoh Dedi Mulyadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Urusan Kebangsaan, Kepala Daerah Perlu Mencontoh Dedi Mulyadi

"Pesan presiden itu menandakan ada situasi yang harus direspon secara cepat. Kalau tidak ada persoalan serius di lapangan tentu presiden tidak perlu berpesan karena kebhinekaan dan toleransi merupakan amanat mendasar bagi kepala daerah. Lebih penting lagi, pesan presiden ini cocok untuk kepala-kepala daerah di Jawa Barat," kata Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU ini di Kantor Fahmina Cirebon, Kamis, 11/2/2016.

Dalam pandangan Marzuki, kepala-kepala daerah di Jawa Barat kebanyakan tidak sensitif dengan isu radikalisme dan intoleran, padahal Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang banyak dijadikan aksi-aksi kelompok radikal.

PMII Cabang Tegal

"Kecuali Bupati Purwakarta, (Dedi Mulyadi-red) kepala daerah di Jawa Barat ini tidak punya strategi jitu. Dedi Mulyadi melangkah lebih maju memperjelas dirinya adalah pelindung rakyat, pengawal Pancasila dan secara tegas berani berada di barisan Islam moderat untuk melindungi toleransi dan kebhinekaan. Itu Bupati Dedi Mulyadi patut dicontoh kepala daerah lain,” katanya.?

Ia mencontohkan Sekolah ideologi kebangsaan Pancasila merupakan bukti konkret Dedi Mulyadi. Demikian juga sikap-sikap politiknya yang selalu pro kebhinekaan dan pro toleransi.?

“Dalam urusan kebangsaan, kepala daerah di Indonesia perlu meneladani Dedi Mulyadi," terangnya.

PMII Cabang Tegal

Menurut Marzuki, kepala daerah merupakan pihak yang paling strategis untuk membendung paham radikalisme yang sering menimbulkan kerusakan di masyarakat dengan aksi-aksi politik radikalnya seperti menuduh Bupati Purwakarta sebagai penyebar kemusyrikan, menghasut masyarakat untuk menekan kelompok Ahmadiyah, mengobarkan kebencian terhadap Syiah dan lain sebagainya.

"Gubernur Aher mestinya tegas terhadap kelompok itu. Tapi tampaknya Aher punya cara pandang lain yang entah kenapa kemudian sering membiarkan kelompok-kelompok intoleran seperti FPI, Annas, FUUI bebas berkeliaran di Jawa Barat," terangnya. (Amin/Husain/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Cerita, Daerah PMII Cabang Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Pembelajaran Hidup di Pesantren

Oleh Anggi Afriansyah



Beragam alasan orang tua untuk memasukan putra-putrinya ke pesantren. Mulai dari ingin anaknya berakhlak baik, pandai mengaji, mandiri, ataupun memiliki karakter kuat sebagai seorang Muslim.

Pembelajaran Hidup di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembelajaran Hidup di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembelajaran Hidup di Pesantren

Ada juga kalangan orang tua yang mengirimkan anak ke pesantren karena tak sanggup lagi mendidik anak-anaknya.? Tak tahan dengan sikap anak-anak mereka. Mereka berharap akan ada perubahan positif yang terjadi setelah putra-putrinya mendapat pendidikan di pesantren.

PMII Cabang Tegal

Harapan orang tua tersebut tentu tak salah. Pendidikan di pesantren memang mengedepankan disiplin diri dan menuntut tanggung jawab pribadi. Jika di rumah masing-masing santri bebas mengatur waktu, di pesantren mereka terikat pada aturan yang dibuat oleh pesantren.

PMII Cabang Tegal

Waktu dijadwal sepresisi mungkin. Mulai dari bangun tidur sampai malam menjelang. Mengaji, sekolah, shalat, olah raga, maupun aktivitas lain diatur sedemikian ketat. Tak heran jika seleksi alam berlaku, mulai dari santri menjejakan kakinya di pesantren.

Tak semua santri mampu bertahan. Hanya yang kuat yang sanggup bertahan. Beberapa misalnya menyerah karena tidak tahan dengan disiplin yang diterapkan. Atau ada juga yang mengeluh karena aturan pesantren yang dianggap kaku.

Mentalitas dan daya tahan di segala kondisi hidup inilah yang penting bagi konstruksi karakter santri. Mereka langsung belajar mengatasi permasalahan-permasalahan di dalam maupun di luar dirinya. Belajar bernegosiasi dengan diri dan orang lain. Memposisikan diri pada keterbatasan yang mereka hadapi selama di pesantren.

Maka ketika ada lembaga pendidikan pesantren menawarkan kemewahan fasilitas pendidikan justru akan kontraproduktif dengan semangat dan nilai-nilai pesantren. Fasilitas lengkap digunakan untuk memudahkan proses pembelajaran, bukan justru memanjakan.

Di pesantren, setiap santri ditempa melalui proses panjang. Tak ada istilah instan bagi seorang santri dalam upaya untuk memperoleh pendidikan di pesantren. Ilmu dan ahli ilmu benar-benar dihormati.

Ada kekhasan dalam penghormatan para santri terhadap para ahli ilmu. Bukan sekadar penghormatan formal, seperti di pendidikan formal. Seperti yang diungkap oleh Gus Dur dalam bukunya Menggerakan Tradisi: Esai-Esai Pesantren (Wahid, 2001) bahwa seorang santri seumur hidup akan terikat dengan kiainya, minimal sebagai sumber inspirasi dan sebagai penunjang moral dalam kehidupan pribadinya.

Kesan mendalam terhadap kiai juga tercermin dalam kisah yang disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya Guruku Orang-orang Pesantren (Zuhri, 2001). Salah satunya misalnya, bagaimana sang kiai terkesan dengan gurunya Ustadz Mursyid yang menerapkan kedisiplinan tanpa paksaan. Ketika kedisiplinan pertama kali diinternalisasikan lewat dongeng, kisah, nasihat dan yang paling penting melalui perbuatan sehari-hari.

Para santri pun dihadapkan pada permasalahan-permasalahan riil dalam masyarakat. Bagaimana berlatih berorganisasi ditempa selama di pesantren.

Para santri juga biasa bergaul dengan beragam komunitas. Beragam budaya dan adat hadir di pesantren menyebabkan mereka terbiasa bergaul lintas kultur. Mereka terbiasa menghadapi perbedaan, menghadapi keberagaman. Karena santri yang memasuki pesantren biasanya berasal dari beragam kalangan. Bervariasi dari kelas sosial, ekonomi, maupun budaya. Santri tak pernah gagap dengan mereka yang berbeda.

Hal tersebut sesungguhnya bekal penting bagi mereka sebelum terjun dan mengabdikan diri di masyarakat. Selain belajar menjadi seorang yang memahami kaidah keagamaan secara baik, juga belajar menjadi Indonesia.

Di pesantren juga diajarkan beragam tradisi pemikiran. Varian madzhab dikenalkan kepada santri. Mereka berhadapan langsung dengan argumentasi pemikiran dari beragam tradisi ilmu. Mereka belajar menghormati cara pandang ulama dalam menafsirkan Al Quran dan Hadist. Diajarkan tidak alergi terhadap perbedaan. Ruang dialog tetap dibuka, karena masing-masing pihak tentu punya argumentasi.

Modernisasi yang terjadi di pesantren tentu tak bisa dihindarkan. Teknologi yang masuk, pola-pola baru dalam proses pendidikan, dan beragam hal lainya bukan musuh yang harus dihindari. Komponen-komponen tersebut harus dapat dimanfaatkan untuk melejitkan prestasi para santri. Yang terpenting adalah nilai-nilai positif dari pesantren yang sudah teruji zaman harus tetap lestari. Pewarisan nilai inilah yang penting.

Pesantren tak boleh gagap terhadap kemajuan zaman, tetapi juga harus mampu mengatur ritme. Setiap pesantren tentu memiliki visi yang berbeda tentang arah pendidikannya. Yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana visi itu dapat dituju tanpa meninggalkan acuan-acuan lama yang dianggap sudah baik.

*Alumni Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat ini menjadi Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Sunnah, Cerita, Warta PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock