Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Kota Jakarta sebagai ibu kota negara memiliki sejumlah masalah kronis yang harus segera diselesaikan oleh pemimpinnya.

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Sejumlah Masalah Jakarta Menurut Yenny Wahid

Masalah itu tidak sebatas pada perbaikan infrastruktur semata, tapi membuat warga Jakarta dapat hidup lebih manusiawi dan sejahtera, kata putri mendiang Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid, yaitu Yenny Wahid, di Jakarta, Rabu.

"Yang dibutuhkan saat ini suatu terobosan dan inovasi untuk mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Siapa yang bisa melakukannya, tentunya pemimpin," kata Yennny seusai bertemu Wakil Gubernur DKI Jaya, Basuki Purnama (Ahok) di Balai Kota.

PMII Cabang Tegal

Menurut perempuan kelahiran Jombang, 29 Oktober 1974, ini tidak sulit melihat masalah di Jakarta karena hanya seputar rendahnya kesejahteraan, buruknya infrastruktur dan penataan kota.?

Namun, hal yang tersulit yakni mendapatkan pemimpin yang mau mengubah Jakarta menjadi lebih baik.

PMII Cabang Tegal

"Saya melihat kualitas itu ada di Ahok. Tapi, sekali lagi, waktu dia memimpin tergolong singkat jadi butuh suatu terobosan. Jika tidak, orang tidak akan percaya lagi," Direktur Wahid Institute ini.

Menurutnya, sudah terjadi perbaikan dalam sistem tata kelola pemerintahan dari tingkat kelurahan hingga provinsi di DKI Jakarta.

Ia pun merasakannya sendiri karena mengalami kemudahan dalam pengurusan dokumen kependudukan.

"Sebelumnya jika ngurus kartu tanda penduduk bisa dipimpong hingga berminggu-minggu. Kini tidak lagi karena sudah ada sistem pengawasan dari atas ke bawah, lurah yang bermasalah dapat dilaporkan langsung," ujar dia. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pesantren, Kiai, Sholawat PMII Cabang Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat

Jakarta, PMII Cabang Tegal . Kabar duka bagi warga NU, salah seorang pemuka agamanya, KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab wafat pada hari ini Kamis, (19/11) pagi. Kabar tersebut tersebar cepat di media sosial BBM dan WA.

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kabar Duka, Ajengan Zezen Bazul Asyhab Wafat

PMII Cabang Tegal mengonfirmasi hal itu ke PCNU Sukabumi. Sekretaris NU Sukabumi Shidiq D Suparman membenarkan hal itu. Juga dibenarkan oleh salah seorang aktivis NU yang kini telah tinggal di Bandung, Syamsuddin Ak. 

Menurut Pengasuh Pesantren Attamur tersebut, Ajengan Zezen merupakan ulama berpengaruh di wilayah sukabumi, Jawa Barat. Jangkauan pengaruhnya sampai ke tingkat nasional dan mancanegara. 

PMII Cabang Tegal

Ajengan Zezen, kata dia, tiap bulan Ramadhan membuka pesantren kilat khusus kajian Kitab Al-Hikam. Kegiatan tersebut diikuti ribuan tanpa biaya sepeser pun. Makan dan minum ditanggung ajengan.

PMII Cabang Tegal

Ajengan Zezen adalah pengasuh Pondok Pesantren Az-zainiyah, Nagrog, Kabupaten Sukabumi. Ia dikenal sebagai pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN). 

Di NU, ia duduk sebagai Wakil Rais Syuriyah Jawa Barat dan Rais Idaroh JATMAN di tingkat pusat. Ia juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Bahtsul Masail, Kiai PMII Cabang Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid

Malang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) meminta keaktifan pada pengurus syuriah dan tanfidhiyah di tingkat Pengurus Cabang NU (PCNU) untuk turut memberdayakan masjid-masjid NU di wilayahnya.

“Syuriyah dan tanfidziyyah adalah al-imam min a`immatil masajid, imam bagi para imam di masjid-masjid. Oleh karenanya para sesepuh harus sering menyapa para imam masjid dan menggerakkan mereka,” kata Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani dalam Rapimnas II LTM-PBNU Region Jawa Timur, di halaman kampus STIKes Wida Cipta Husada (WCH) Kepanjen Malang, Ahad (21/9).

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Imbau Syuriah-Tanfidziyah Cabang Berdayakan Masjid

“Dengan begitu keberadaan syuriah dan tanfidziyah Nahdlatul Ulama di cabang-cabang bisa dirasakan kehadirannya oleh jamaah Nahdliyyin,” imbuhnya.

LTMNU dalam berbagai kesempatan mendorong peran masjid selain sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat pendidikan, kesehatan, dan permberdayaan ekonomi bagi jamaah di sekitarnya. Para pengurus ta’mir masjid juga diimbau untuk senantiasa menjaga masjid dari aliran kelompok garis keras.

PMII Cabang Tegal

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj juga hadir? dan memberi taushiyah dalam salah satu bagian dari rangkaian acara, yakni Dzikir dan Doa Bersama? Ahad malam itu. Ia menegaskan, Islam Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdliyyah sudah benar dan lurus karena berpedoman pada al-Quran, Hadits, Ijma’, dan Qiyas.

PMII Cabang Tegal

“Bahkan yang paling benar,” tegas Kiai Said. “Dan adalah orang yang sangat bodoh yang tidak menyukai kaum Nahdliyyin apalagi kalau sampai membid’ah-bid’ahkan amalan kita,” imbuhnya. ?

Kiai Said meminta warga Nahdliyyin untuk selalu bersikap adil, toleran, dan lemah lembut. “Cara-cara kekerasan apalagi sampai memenggal kepala manusia seperti yang dilakukan ISIS adalah tindakan sesat dan bukan ajaran Islam, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam,” ujarnya.

Acara yang terselenggara atas kerja sama antara LTMNU dengan STIKes WCH Malang dan Majlis Maulid wat Ta’lim Riyadlul Jannah Malang itu diikuti oleh puluhan ribu jamaah. Dipimpin oleh para kiai dan habaib se-Kabupaten Malang, para jamaah duduk tertib dan khidmat menggemakan shalawat dan puji-pujian kepada Rasulullah Muhammad. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Tingkat keimanan manusia terhadap Allah SWT beragam. Ada keimanan seseorang yang dirangsang oleh sesuatu (ibarat, isyarat, rumuz) di luar dirinya. Tetapi ada juga yang tidak. Ada orang yang beriman setelah melihat mukjizat rasul atau khariqul adat (kejadian luar biasa) seperti umat-umat kafir zaman para nabi terdahulu.

Ada juga orang yang takjub pada keajaiban dunia seperti lafal “Allah” pada cangkang telur atau pada gumpalan awan sebagai kuasa Allah dalam bentuk tulisan, gambar, video yang dishare orang-orang via media sosial baik fesbuk, instagram, twitter, whatsapp, line, dan lain sebagainya.

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ciri Al-Arif Billah Tulen Menurut Ibnu Athaillah

Mereka yang merasa dekat dengan Allah karena keajaiban dunia dan kuasa Allah lainnya bukan masuk kategori al-arif billah yang sempurna karena keimanannya masih dirangsang oleh fenomena selain Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Al-Arif billah itu bukan orang yang terima isyarat lalu merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu. Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat karena lenyap pada wujudnya dan tersembunyi pada penyaksiannya.”

Petunjuk atas Allah yang dikenal para ulama terdiri atas tiga jenis yang memiliki tingkat berbeda. Ibarat adalah petunjuk kasar. Sementara isyarat lebih halus dibandingkan ibarat. Simbol atau rumuz adalah penanda paling halus atas Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, isyarat itu lebih tipis dan lebih halus dibanding ibarat. Simbol lebih halus dibanding isyarat. Jadi semua penanda ini ada tiga, yaitu ibarat, isyarat, dan simbol. Setiap satu dari semua itu lebih halus dibanding tanda sebelumnya. Tugas ibarat adalah memperjelas. Isyarat memberi petunjuk. Sedangkan tugas simbol itu menyenangkan, maksudnya menyenangkan hati atas sambutan Allah SWT,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 118).

Isyarat merupakan medium petunjuk atas Allah yang menampung makna yang tak terwadahi pada ibarat. Isyarat ini sangat dibutuhkan bagi pesuluk sebagai penanda dan petunjuk atas Allah. Tetapi isyarat ini masih juga membawa serta sesuatu yang menandai keberadaan Allah sehingga mereka masih juga memandang yang lain selain Allah.

? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, isyarat adalah gudang makna sangat halus yang tak tertampung dalam ibarat. (Al-Arif billah yang kamil itu bukan orang yang memberikan isyarat bagi mereka yang meminta petunjuk, lalu ia merasakan Allah lebih dekat dengannya karena isyarat itu), terlebih lagi bagi Al-Arif billah yang kamil itu sehingga mereka merasakan Allah dekat karenanya atau di sisinya mengingat kekayaan kandungan isyarat itu yang menghendaki pemberi isyarat, isyarat, dan yang diisyaratkan. Al-Arif billah yang kamil itu adalah orang yang tidak memerlukan isyarat sama sekali karena ia telah melebur di dalam wujud Allah dan tersembunyi pada penyaksiannya sehingga makhluk itu lenyap (di matanya). Hal ini terjadi bisa karena ia menjadi ‘baqa’ sebab Allah, cahaya-Nya, dan pendaran cahaya itu dalam martabat pancarannya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i As-Syadzili, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 69).

Isyarat menandai adanya jarak dan antara. Isyarat kerapkali disertai dengan alasan, bukti, atau argmentasi. Ada orang beriman kepada Allah setelah mengetahui alasan, bukti, atau argmentasi sebagai isyarat atas Allah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa semakin banyak alasan, bukti, atau argumentasi yang diperlukan untuk beriman, tanda seseorang jauh dari Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abu Ali Ar-Raudzabari ketika ditanya perihal isyarat menjawab, isyarat tidak lain merupakan ungkapan dari dalam hati yang menjelaskan sesuatu yang ditunjuk. Sejatinya isyarat diiringi dengan illat (alasan, bukti, atau argumentasi). Illat itu jauh dari zat hakikat. As-Syibli mengatakan, setiap isyarat atas Allah yang ditunjukkan oleh makhluk-Nya hakikatnya tertolak sehingga mereka memberi isyarat atas Allah dengan Allah itu sendiri dan mereka tidak punya jalan untuk itu. Abu Yazid berkata, mereka yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang paling banyak isyarat atas-Nya,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 63).

Untuk seorang al-arif billah yang kamil, isyarat tidak diperlukan karena mereka tidak berjarak dengan Allah. Isyarat dibutuhkan oleh para pejalan atau pesuluk. Isyarat itu sangat membantu mereka untuk dekat dengan Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Redaksi Syekh Ibnu Athaillah ‘Al-Arif billah itu bukan...’ maksudnya adalah al-arif billah yang tidak kamil, belum mendalam dan mantap. Sedangkan mereka yang sedang berjalan tetap membutuhkan isyarat dan merasakan Allah lebih dekat dengannya karena atau bersama isyarat itu. isyarat itu membantu mereka dan menjadi makanan pokok bagi mereka layaknya ibarat bagi mereka yang mengarahkan pandangan kepada Allah sebagai akan dijelaskan di depan, ‘Ibarat adalah makanan pokok bagi mereka yang butuh mendengarkan. Dan kau akan mendapatkan sesuai apa yang kau ‘makan’.’ Redaksi penulis, ‘ketika memberi isyarat’, maksudnya adalah diberikan atau menerima isyarat. Sedangkan ‘Al-Arif billah itu orang yang tak perlu isyarat,’ maksudnya ia tak membutuhkan isyarat untuk dirinya, tetai untuk memberikan isyarat untuk orang lain. Ia sendiri tak memerlukan isyarat karena isyarat dan ibarat makanan orang yang lapar. Sementara ia sudah kenyang dan cukup. Kita bisa mengatakan bahwa isyarat itu mengandaikan jarak dan perpisahan. Sementara ia tetap bersatu dalam perpisahannya... Al-arif billah yang kamil menafikan jalan/isyarat karena sudah merasa cukup dengan Allah sehingga tak membutuhkan isyarat dan pemberi petunjuk. Wallahu a‘lam,” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 120-121).

Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang disebut arifin yang kamil itu mereka yang selalu menggenggam tasbih, menggelar sajadah, atau membenahi letak sorban? Apakah mereka hidup soliter menyepi? Semua itu mungkin saja, bukan pasti. Tetapi yang  pasti mereka tetap bergaul dengan manusia lain. Mereka tetap manusiawi. Mereka bisa jadi buruh tani, pekerja kasar, guru, buruh pabrik, kuli angkut di pasar, pegawai rendahan, penunggu kafe, penunggu lahan parkir liar, atau guru agama di sekitar kita. Semua itu sangat mungkin sebagai dijelaskan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Al-Arif billah adalah orang yang dengan tauhid, kepercayaan, tawakal, dan kepasarahannya kepada Allah mencapai derajat di mana kehendak-kehendaknya fana dalam kehendak/iradah-Nya, sebab-sebab atau alasan lenyap di bawah kuasa-Nya, dan semua yang tampak meleleh pada cahaya terang penyaksian-Nya. Tetapi pengertiannya tidak seperti yang kita sangka selama ini di mana al-arif billah terputus dari dunia, lalu menjalin dengan alam lain. Al-arif billah tetap berhubungan dengan dunia berinteraksi makhluk-Nya sebagaimana manusia lainnya. Ia tetap berhubungan dengan mereka seperti sebelumnya. Tetapi ketika berinteraksi dengan dunia dan sebab-sebab duniawi, ia tak melihat dirinya selain bersama dengan Allah. Ketika menangani masalahnya dengan orang lain dan beraktivitas di tengah publik dalam soal kemasyarakatan dan masalah lainnya, ia hanya menyadari bahwa ia berinteraksi bersama Allah. Al-arif billah itu seperti yang dikatakan para sufi, ‘Arasy dan bumiku ada pada satu waktu. Arasyku bersama Allah dalam perasaan dan batin. Tetapi bumiku bersama manusia dalam muamalah dan lahiriyah.’ Hal ini diungkapkan sangat baik oleh atsar dari Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq perihal dirinya sendiri, ‘Tiada sesuatu yang kulihat selain kulihat Allah bersamanya, sebelum, dan sesudahnya.’ Kondisi ini juga diungkapkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi, ‘Hendaklah kamu bersama mereka secara lahiriyah, tetapi batinmu bersama Allah.’ Inilah maqam suluk tertinggi kepada Allah setelah maqam kenabian,” (Lihat M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, cetak ulang 2003 M/1424 H, juz II, halaman 471-472).

Menurut kami, penjelasan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi cukup klir bahwa makrifatullah yang kamil itu bukan soal pakaian atau profesi, tetapi lebih pada cara pandang. Cara pandang makrifatullah ini dapat hadir pada siapapun dan mereka yang berprofesi apapun sesuatu dengan anugerah yang Allah berikan kepada mereka. Mereka dapat merasakan kehadiran Allah tanpa harus dirangsang oleh ibarat atau isyarat tertentu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, Nasional, RMI NU PMII Cabang Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat

Probolinggo, PMII Cabang Tegal. Lulusan pesantren adalah lulusan yang berkualitas, baik dalam segi keilmuan maupun akhlaknya. Kehadirannya di tengah masyarakat harus bisa menjadi pembeda sekaligus pelopor ke arah yang lebih baik.

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Menjadi Pelopor Kebaikan di Masyarakat

Hal tersebut disampaikan oleh A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin dalam kegiatan Lailatul Qiro’ah yang digelar Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Ahad (4/6) lalu.

“Perkembangan ekonomi adalah tantangan umat Islam. Sebagai santri yang telah dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, jadilah saudagar-saudagar Islam yang dermawan yang mampu berdiri tegak dan kokoh di tengah masyarakat yang murah dalam memberi kebaikan,” katanya.

Lebih lanjut Hasan mengajak kepada segenap alumni Pesantren Zaha dan segenap para pecinta Al Qur’an untuk menjadi garda terdepan di tengah masyarakat modern yang selalu sibuk dengan aktifitas dunia.

PMII Cabang Tegal

“Syiarkan Al-Qur’anul karim di tengah zaman yang sibuk seperti ini, khususnya para santri yang sedang pulang di tengah-tengah masyarakat. Ingatkan kepada masyarakat muslim bahwa sesibuk apapun kita hendaklah senantiasa membaca dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasan sangat mengapresiasi kiprah para alumni santri pesantren yang telah lulus dan tetap mengabdi kepada pesantren, khususnya yang tergabung dalam organisasi Tanaszaha (Ikatan Alumni dan Santri Pesantren Zainul Hasan), khususnya periode 2017-2022 yang baru dibai’at.

PMII Cabang Tegal

“Tanaszaha harus tetap bergerak secara sosial kemasyarakatan, Insya Allah kami selaku masyarakat akan ikut bangga bertetangga dan berinteraksi dengan para alumni Santri Zainul Hasan Genggong,” ungkapnya.

Lailatul Qiro’ah merupakan kegiatan rutin setiap malam 10 Ramadhan yang digelar oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan Nahdliyin dan pecinta Al-Qur’an yang memadati pelataran Masjid Al-Barokah Zainul Hasan Genggong.

Kegiatan yang juga untuk memperingati haul salah satu pendiri Pesantren Zaha Genggong, Almarhumah Nyai Hj Himmami Hafshawati ini diwarnai oleh lantunan indah ayat suci Al Qur’an yang dibacakan oleh para peraih prestasi dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional dan santri pilihan Pesantren Zaha Genngong.

Hadir dalam kesempatan tersebut Pengasuh Pesantren Zaha Genggong yang juga Ketua PWNU Jawa Timur KH Moch. Hasan Mutawakkil Alallah, pengurus Pimpinan Wilayah Jami’atul Qurro wal Huffadz (JQH) Jawa Timur serta sejumlah di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Batam, PMII Cabang Tegal . Selama Ramadhan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kepulauan Riau (Kepri) melalui Lembaga Dakwah NU (LDNU) menyiarkan kajian Ahllussunah wal Jamaah (Aswaja) menjelang buka puasa di Batam TV.  Tayangan disajikan secara berkala dengan topik dan narasumber yang berbeda.

Kajian Aswaja ini merupakan salah satu program Ramadhan PWNU Kepri, kata sekretaris PWNU Kepri, HM Zainuddin kepada PMII Cabang Tegal, Jumat (26/6).

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumikan Islam Ramah, NU Kepri Siarkan Aswaja di Batam TV

Zainuddin menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk membentengi radikalisme dan lebih membumikan nilai Aswaja an-Nahdliyah. Tema kajian yang disampaikan tentang Islam, nasionalisme, budaya, hakikat bidah, konsep tawazun, ziarah kubur, konsep tawassul, Islam rahmatan lilalamin dengan nara sumber para kiai dan dai muda.

PMII Cabang Tegal

Para narasumber yang dimaksud antara lain KH Nabhan (Rais Syuriah PWNU Kepri), H Ghani Lasya (Ketua Tanfidziyah PWNU Kepri), H Luqman Rifa’i (LDNU Kepri), H Ridho Amir (PCNU Batam), dan Nur Haryanto (Ketua GP Ansor Kepri).

Salah satu nara sumber, Ridho Amir, menegaskan pentingnya membentengi Kepri khususnya Batam dari pemahaman radikal yang mengancam budaya Islam tanah Melayu yang secara kultural menganut pemahaman Aswaja an-Nahdliyah. Ia berharap program tersebut dapat memberikan pemahaman Islam yang ramah, moderat, dan toleran di tanah Kepulauan Riau. (Abd Majid/Mahbib)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Abu al-Farj Ibnu Jauzi (510-597 H) mengisahkan penolakan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahu Allah untuk menjawab pertanyaan seputar wara’. Diceritakan:

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Menolak Jawab Pertanyaan

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?! ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ?.

PMII Cabang Tegal

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abdullah bin Khalid, dia berkata: “Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang masalah wara’.”

Ia menjawab: “Aku memohon ampun kepada Allah. Tidak halal bagiku untuk berbicara tentang masalah wara’, karena aku memakan hasil bumi Baghdad. Tapi, jika kau hendak mengetahuinya, Bisyr bin Harits adalah orang yang pantas menjawab pertanyaanmu. Dia tidak memakan hasil bumi Baghdad dan tidak memakan makanan yang tidak jelas. Dia pantas untuk berbicara tentang masalah wara’.” (Jamaluddin Abu al-Farj bin Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Darul Kutub al-‘Arabi, 2012,hlm 429).

****

Ulama-ulama kita di zaman dulu sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan. Mereka tidak akan menjawab pertanyaan dengan sembarangan. Apalagi jika pertanyaannya seputar praktik ibadah seperti zuhud, wara, tawakkal dan lain sebagainya. Imam Ahman bin Hanbal, dalam kisah di atas, merasa tidak memiliki kualifikasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan alasan, ia masih memakan hasil panen Baghdad, yang cara pengolahan, pendistribusian dan penjualannya tidak diketahui secara jelas:  apakah dalam salah satu prosesnya terdapat perbuatan yang dilarang atau tidak.

PMII Cabang Tegal

Satu-satunya orang yang ia yakini kewaraannya adalah Bisyri bin Harits al-Hafi (767-850 M). Disebut al-Hafi karena Imam Bisyri tidak pernah mengenakan sandal, selalu bertelanjang kaki kemana pun ia pergi.Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah melihat Imam Bisyri memakan makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Hidupnya dipasrahkan semuanya kepada Allah dan melayani orang-orang di sekitarnya.Ia hanya makan untuk memenuhi hak tubuh atas dirinya. Sekali waktu Imam Bisyri pernah mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya lapar itu dapat menjernihkan hati dan mendatangkan pengetahuan yang halus.” (Jamaluddin Abu al-Farj ibnu Jauzi, 2012, hlm 429).

(Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal)

Untuk memahami perkataan Imam Bisyri di atas, kita harus menggunakan sudut pandang pengetahuan. Lapar akan dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tapi, yang paling berpengaruh dalam pemaknaannya adalah latar belakang pengetahuannya. Orang yang berilmu dapat menjadikan lapar sebagai motivasi untuk sukses. Orang yang tidak berilmukurang mampu mendapatkan manfaat dari kelaparannya, bahkan tidak sedikit yang memilih mencuri untuk mengatasi kelaparannya.

Lain lagi dengan orang berilmu yang terus-menerus melatih hatinya agar bersih dari cela, seperti Imam Bisyri al-Hafi. Setiap kali lapar, ia mendapatkan pengetahuan baru. Bagi Imam Bisyri, kelaparan adalah guru. Darinya, ia belajar bersabar, bertawakkal, bersyukur dan lain sebagainya. Gambarannya seperti ini,tanpa lapar, mampukah kita merasakan kenikmatan kenyang; tanpa lapar, akankah kesabaran kita terlatih secara alami, dan seterusnya. Orang yang mampu bertafakkur di saat lapar, dan mengambil hikmah darinya, tentulah bukan orang sembarangan.

Imam Ahmad bin Hanbal tahu betul akan kewaraan Imam Bisyri. Karena itu,Ia berpendapatorang yang pantas berbicara tentang wara’ adalah Bisyri al-Hafi, bukan dirinya. Hal ini yang telah hilang dalam kultur beragama kita. Sekarang ini, semua orang berusaha menjawab pertanyaan, tanpa memandang kelayakan diri. Akibatnya, banyak fatwa keagamaan yang tidak sesuai dengan hukum aslinya.Hal ini diperparah oleh penggunaan fatwa-fatwa itu untuk mengadili pendapat lainnya, yang bisa jadi pendapat lain itu lebih benar. Melihat fenomena ini, kita harus kembali pada jalan yang dilalui ulama-ulama kita di masa lalu, “falyaqul khairan aw li yasmut—ucapankanlah kebaikan, jika tidak lebih baik diam.”

Tindakan menarik juga pernah dilakukan Imam Hasan al-Bashri (642-728 M). Suatu ketika sekelompok budak di Kufah menghampirinya dan meminta Imam Hasan al-Bashri untuk memberi khutbah tentang keutamaan membebaskan budak.Imam Hasan al-Bashri mengiyakan dan berjanji akan menyampaikannya di depan jamaah. Di Jum’at pertama, para budak menunggu di masjid untuk mendengarkan khutbah Imam Hasan al-Bashri, tapi dia tidak mengucapkan sedikit pun tentang keutamaan membebaskan budak.

“Mungkin Imam Hasan lupa,” kata budak itu satu sama lainnya.

Di Jum’at kedua, Imam Hasan al-Bashri tetap tidak mengungkit tentang keutamaan membebaskan budak. Begitu seterusnya hingga Jum’at keempat. Para budak sangat kecewa dengan Hasan al-Bashri. Mereka memandang Imam Hasan sebagai pembohong dan orang yang tidak menepati janji. Di Jum’at kelima, Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa salah satu misi Islam adalah membebaskan perbudakan, baik yang berasal dari tawanan perang maupun dari hasil jual beli. Orang-orang yang mendengar khutbahnya, ketika selesai shalat Jum’at, mereka berlomba-lomba membebaskan budaknya. Hari itu bisa dikatakan sebagai pembebasan budak masal di Kufah.

Para budak yang telah kecewa, terkejut dengan khutbah Imam Hasan al-Bashri. Mereka berduyun-duyun mendatangi Imam Hasan al-Bashri dan bertanya,“kenapa baru sekarang, tidak dari awal saja?” Imam Hasan al-Bashri menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ketika kalian mengatakannya padaku (aku telah setuju), tapi aku tidak memiliki budak. Aku tidak ingin memerintahkan kebaikan pada masyarakatatas sesuatu yang belum aku lakukan. Karena aku miskin, aku harus mengumpulkan harta untuk membeli budak. Lalu kubiarkan dia melayaniku beberapa hari untuk merasakan sejauh mana kebutuhanku padanya (memiliki budak). Ketika aku yakin dalam hatiku betapa besar aku membutuhkannya, aku membebaskannya dan menyampaikan khutbah ini.” (Ahmad Muhammad ‘Athiyat, al-Iqna’, ‘Amman: Amwaj, 2012, hlm 22).

Fatwa atau nasihat agama tentu akan diterima dengan berbeda oleh pendengarnya jika yang memberi fatwa dan nasihat benar-benar telah melakukannya, seperti kasus Imam Hasan al-Bashri di atas. Setelah mendengar ceramahnya, orang-orang berlomba-lomba untuk membebaskan budak.Itulah cara ulama kita di masa lalu. Mereka sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa keagamaan, meskipun pengetahuan agama mereka sangat tinggi dan diakui oleh banyak ulama yang semasa atau setelahnya. 

Semoga kita bisa melestarikan tradisi mereka dan terlepas dari berbagai fitnah zaman. Allahumma sallimna min fitnah hadzihiz zaman. Amin.

Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, Doa, IMNU PMII Cabang Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Doa untuk Lindungi Anak Kecil

Umumnya anak-anak masih polos. Ia belum bisa menjaga diri dari gangguan baik lahir maupun batin. Ia belum melazimkan wirid yang melindungi dirinya segala gangguan. Tidak heran kalau anak-anak sering menangis tanpa suatu sebab. Ia gampang ‘ketempelan’. Doa ini bisa menjadi alternatif sebagai pencegahan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa untuk Lindungi Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa untuk Lindungi Anak Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa untuk Lindungi Anak Kecil

U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmâti min kulli syaithânin wa hâmmatin wa min kulli ‘ainil lâmmatin

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Aku lindungi kamu dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan setiap setan, setiap binatang, dan dari setiap mata jahat,”(Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Karenanya orang tua juga tidak perlu ikut-ikutan polos sebagaimana anak kecil. Orang tua dianjurkan melazimkan wirid minimal wiridan setelah sembahyang lima waktu. Di samping itu para orang tua yang menyayangi anaknya perlu juga ‘memagari’ anak-anaknya dari segala macam gangguan.

PMII Cabang Tegal

Perlindungan merupakan hak dasar anak yang mesti dipenuhi. Doa ini dibaca dengan harapan Alah melindungi anak-anak mereka dari gangguan makhluk halus, sengatan serangga atau binatang kecil, dan juga mata dengki orang-orang dewasa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU

Jombang, PMII Cabang Tegal. Wakil Rais Syuriyah Pengurus Willayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Propinsi Nusa Tenggara Barat TGH Maarif Makmun menceritakan kenangannya dengan KH Bisri Syansuri, tokoh dan pendiri NU, ketika dirinya masih menimba ilmu di mekah sekitar tahun 1977-an lalu. Saat itu TGH Maarif ditugaskan untuk menghidangkan kopi/teh para rombongan haji asal Indonesia.

"Kamu anaknya Kiai?" ujar TGH Maarif di penginapan PWNU NTB di Jalan Flamboyan Jombang Jawat Timur Jumat malam (30/7) kemarin mengenang pertanyaan KH Bisri Syansuri kepada dirinya.

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan KH Bisri Syansuri kepada Warga NU

Dia pun menjawab tidak. “Saya anak Petani, lalu pertanyaan selanjutnya apakah kamu NU?” Dia pun menjawab Ya.

PMII Cabang Tegal

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Maarif Darek Praya Barat Daya Lombok Tengah NTB ini, setelah dirinya mengaku sebagai anak petani dan NU lalu kemudian KH Bisri Syansuri berpesan kepada dirinya.

Pertama, Inget jangan cari makan di NU hidupnya nanti akan lunglai, katanya mengulang pesan pertama KH Bisri pada dirinya, sembari ia menceritakan waktu itu ia tidak tahu maksud kata lunglai.

PMII Cabang Tegal

Kedua jangan keluar dari NU, membenci NU karena akan dilanda hutang besar. Ketiga Besarkan NU, ikuti program NU dan mengitu ulama hidup? akan berkah.

"Ketiga pesan ini selalu saya sampaikan kepada generasi NU, rekan-rekan pengurus NU khususnya santri di pondok agar masuk dan ikut membesaka? NU," harapnya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sunnah, Kiai, Berita PMII Cabang Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Pekalongan, PMII Cabang Tegal. Rajaban adalah istilah lain peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hampir setiap daerah memiliki tradisi yang mungkin berbeda istilah atau cara perayaannya.

Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Namun sejatinya semua memiliki esensi yang sama, yakni sebuah pengingat peristiwa agung, tatkala Nabi saw melakukan perjalanan dari Makah ke Palestina (isra’), kemudian naik (mi’raj) hingga ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Rabb-nya.

Tak terkecuali kegiatan Rajaban yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Kranji Kab. Pekalongan, Kamis kemarin (23/5). Rajaban menjadi sebuah momentum acara bersama mulai dari remaja, ibu-ibu hingga para sesepuh kampung turut menyemarakkan acara tersebut.

PMII Cabang Tegal

Semarak acara sebetulnya sudah tampak sejak hari-hari sebelumnya, dimana para remaja yang tergabung dalam IPNU-IPPNU membuka bazar. Selain mereka yang berjualan aneka makanan dan minuman, para pedagang dari luar juga turut ngalap berkah dari acara tersebut. Bermacam-macam pedagang tumpah-ruah di dekat kompleks Masjid Jami’ Kranji.

PMII Cabang Tegal

Rabu (22/5), para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari Madrasah Diniyah Nurul Anam berbondong-bondong datang ke kompleks makam. Di sana mereka mengadakan yasinan dan tahlilan sampai menjelang Maghrib. Malam harinya, diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Quran 30 juz bil ghaib.

Puncak acara peringatan Rajaban di Kampung Kranji, yakni acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Mbah Nurul Anam serta para Sesepuh Kampung Kranji diselenggarakan Kamis (23/5) lalu di kompleks pemakaman Kampung Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah, Mustofa, menuturkan dirinya bersama rombongan dari Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang selalu menghadiri Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya.

”Kehadiran kami dalam acara tersebut diantaranya adalah ngalap berkah. Selain itu juga agar dapat meneladani ulama Nurul Anam semasa hidupnya,” ujar warga Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan H. Subhan dari Cirebon Jawa Barat. Meski bersama rombongan kecil, pihaknya terus mengikuti acara Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya. “Selain sebagai pencerahan, kami juga ingin ngalap berkah,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sejarah, Kiai PMII Cabang Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Seribu Jemaah Haji Palestina Disambut sebagai Tamu Raja Saudi

Riyadh, PMII Cabang Tegal. Sedikitnya seribu anggota keluarga para pejuang Palestina yang mati terbunuh oleh pasukan Israel, menunaikan ibadah haji tahun ini. Selain menunaikan rukun Islam kelima, mereka pergi ke tanah suci juga sebagai tamu istimewa Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz.

Pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan diri menyambut kedatangan mereka, sebagaimana dilaporkan Arab News, Sabtu (12/8).

Seribu Jemaah Haji Palestina Disambut sebagai Tamu Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Jemaah Haji Palestina Disambut sebagai Tamu Raja Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Jemaah Haji Palestina Disambut sebagai Tamu Raja Saudi

Abdullah Al-Madalj, sekretaris umum Sekretariat Jenderal Raja Salman bin Abdul Aziz untuk Ibadah Haji dan Umrah, mengatakan bahwa berbagai persiapan tersebut meliputi akomodasi, transportasi, dan konsumsi.

Program yang memasuki tahun kesembilan ini, menurutnya, merupakan bentuk pengakuan terhadap kepahlawanan warga Palestina yang telah berkorban nyawa demi menegakkan hak-hak mereka.

Otoritas Arab Saudi berharap sambutan hangat ini dapat mengurangi rasa sakit mereka lantaran kehilangan orang-orang tercinta. "Ini juga merupakan bagian dari wujud dukungan Kerajaan untuk kepentingan Palestina," kata Abdullah. (Mahbib)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Kiai, Halaqoh PMII Cabang Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat

Diantara rahasia shalat adalah mengetahui hikmah dan tatacara memberlakukan diri ketika telinga mendengar adzan. Adzan seharusnya menjadi tanda panggil dari Yang Maha Kuasa, hati yang baik akan merasa terpanggil untuk menyambutnya.

Tentunya dengan perasaan yang penuh gembira dan kebahagiaan, bukan dengan perasaan yang memberatkan. Adzan ibarat panggilan dari sang kekasih yang lama telah dirindukan. Sesungguhnya mereka yang bersegera menjawab panggilan ini nanti di hari akhir akan dipanggil dengan lembut oleh Allah swt.

Adapun bersuci yang dalam fiqih disebut dengan thaharah sesungguhnya merupakan thaharah dhahiriyah yang meliputi suci badan, suci pakaian dan suci tempat shalat yang dipergunakan. Ketika thaharah secara fiqihy ini telah dipenuhi, maka usahakanlah thaharah dalam hati. Thaharah dalam hati ini berarti mensucikan diri dari segenap dosa dengan bertaubat mengakui kesalahan dan memohon ampunan atasnya. Dalam shalat hati seharus suci dan bersih, karena hatilah ruang bagi pandangan Dzat Yang Disembah.

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat

Selanjutnya menutup aurat yaitu menutup kejelekan-kejelekan diri dari pandangan-pandangan makhluk, karena jasad badaniah ini menjadi objek pandangan mereka. Sedangkan bagi Allah swt tidak ada satupun yang tertutup bagi-Nya Yang Maha Tahu. Maka bukalah aurat batin karena serapi apapun hati disembunyikan Allah Maha Tahu.

Setelah itu bersegeralah bangunkan perasaan menyesal, malu dan takut kepada-Nya sebagai wahana melahirkan kerendahan dan ketenangan hati. Jika sudah demikian maka shalat akan didirikan dengan wajah tertunduk dengan perasaan tawadhu. Merasa diri lemah, tak berdaya dan penuh dosa di hadapan Yang Maha perkasa. (red. Ulil H)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Kiai, Habib, Sunnah PMII Cabang Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Islam Nusantara Punya Masa Depan Cerah

Banjarmasin, PMII Cabang Tegal

Kekhasan Islam yang tumbuh di negeri Khatulistiwa ini tidak ada bandingnya. Dari sisi jumlah, Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Dari sisi aliran atau madzhab, Indonesia memayungi banyak aliran. Dari sisi budaya, Indonesia paling beragam, dan ramah dengan budaya serta tradisi lokal. Inilah Islam Nusantara, Islam yang memiliki masa depan cerah untuk dikaji dan menjadi rujukan kehidupan yang beradab. 



Islam Nusantara Punya Masa Depan Cerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Punya Masa Depan Cerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Punya Masa Depan Cerah

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama Republik Indonesia, Muhammad Ali dalam pembukaan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 di Banjarmasin (1/11). Hadir dalam acara pembukaan itu mantan menteri agama KH Tholha Hasan, mantan menteri sekretaris kabinet Djohan Efendi, hakim Agung Abdurrahman, dan para pejabat setempat.

Minggu, 26 November 2017

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Bandung, PMII Cabang Tegal 



Ribuan santri dan warga NU Kecamatan Margaasih mengikuti Pawai Ta’aruf Hari Santri Nasional pada Sabtu (21/10). Mereka memulai pawai dari Pondok Pesantren Darul Ma’arif menuju makam penyebar Islam KH Abdul Manaf (Mahmud), kemudian kembali lagi di pondok pesantren semula. 

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Pawai dimulai dengan penampilan drum band kolaborasi antara santri Darul Ma’arif dan para orang tua. Kemudian barisan siswa-siswi Madrasah Ibdtidiyah, para guru, orang tua, dan santri mengikuti pada barisan selanjutnya.

Kepala Sekolah MTs Darul Ma’arif Fauzi Mubarok, pihak pesantren mengerahkan sekitar 1200 santri pada pawai itu. Kemudian ditambah warga sekitar. 

Pawai ini merupakan rangkaian dari pelantikan MWACNU dan seluruh Ranting MWCNU di kecamatan Margaasih. Juga pelantikan Lesbumi Kabupaten Bandung. 

PMII Cabang Tegal

Sehari sebelumnya di pondok pesantren itu juga, Lesbumi mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Perkaya Wawasan Budaya Agar Tak Keliru Pahami Islam Nusantara

Pacitan, PMII Cabang Tegal

Konsep Islam Nusantara yang dicetuskan oleh PBNU selalu menarik untuk diperbincangkan dalam berbagai kesempatan. Baik dalam forum resmi seperti seminar ilmiah maupun dalam kajian lesehan.

Berdiskusi secara lesehan, puluhan kader Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Pacitan, Jawa Tengah dengan serius mendiskusikan Islam Nusantara sebagai upaya memperkaya wawasan budaya dan intelektualitas kader.

Perkaya Wawasan Budaya Agar Tak Keliru Pahami Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkaya Wawasan Budaya Agar Tak Keliru Pahami Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkaya Wawasan Budaya Agar Tak Keliru Pahami Islam Nusantara

Ketua Pengurus Komisariat Perguruan tinggi (PKPT) IPNU Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Pacitan, Mawan Hedianto mengatakan, wawasan para kader tentang keislaman dan politik kebangsaan harus selalu diperbarui seiring dengan berkembangnya problematika zaman. para kader tidak boleh tertinggal dengan isu-isu kekinian yang terjadi di tengah persoalan bangsa.

“Kader IPNU IPPNU juga harus mempunyai wawasan politik untuk membangun dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Tentunya dengan santun dan sesuai dengan ajaran Islam Nusantara,” katanya saat membuka diskusi di gedung MUI Pacitan, Ahad (13/3).

PMII Cabang Tegal

Pada diskusi yang bertema ‘Posisi politik dan budaya dalam Islam Nusantara” ini, Aktivis Lakpesdam NU Pacitan, Dani Patria Krisna memaparkam apa itu Islam Nusantara, bagaimana Islam Nusantara menyatu dengan budaya dan kearifal lokal serta seperti apa hubunganya dengan politik kebangsaan.

Menurut Dani, salah satu definisi Islam nusantara adalah ajaran yang memegang erat kearifan lokal. Islam dibawa masuk ke Indonesia, katanya, bukan hanya melalui ajaran syar’i saja, akan tetapi melalui nilai filosofis, toleransi, kasih sayang, dan menghargai budaya yang telah lama ada di Nusantara. Sehingga Islam dengan mudah masuk dan diterima masyarakat pribumi.

PMII Cabang Tegal

“Pelajar NU diharap lebih dalam lagi dalam menelaah konsep Islam Nusantara ini,” katanya.

Dani mencontohkan, di Pacitan saja, tumbuh bermacam-macam budaya lokal. Semuanya memiliki dasar dan nilai tersendiri. Sehingga perlu dilakukan pemahaman secara utuh agar tidak mudah memvonis budaya lokal bertentangan dengan agama. Bukan berarti budaya terdapat unsur menyekutukan Tuhan.

“Memahami budaya merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah. Tanpa kita sadari selama ini kita juga kurang, bahkan tidak bersyukur akan segala nikmatnya,” imbuhnya.

Melalui kajian ini, Dani mengajak para pelajar NU mampu menjaga dan mempelajari Islam Nusantara dalam bidang politik dan budaya, untuk menanggulangi masuknya aliran dan paham radikal di kalangan pelajar. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai, RMI NU PMII Cabang Tegal

Jumat, 17 November 2017

Kompetisi Film Pendek Dokumenter Diluncurkan

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Dalam rangka Muktamar ke-33 NU yang akan digelar di Jombang, 1-3 Agustus mendatang, panitia menggelar lomba film pendek dokumenter. Pendaftaran dibuka hingga 10 Juli 2015, dengan total hadiah 45 juta rupiah.

Kompetisi Film Pendek Dokumenter Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompetisi Film Pendek Dokumenter Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompetisi Film Pendek Dokumenter Diluncurkan

Menurut Ketua Muktamar ke-33 NU H Imam Aziz acara lomba tersebut merupakan upaya penting untuk membangkitkan film di kalangan NU, terutama anak muda.

“Ini membangkitkan nostalgia bagaimana organisasi NU, tidak hanya mengakomodasi, tapi mendorong dan menjadi pelaku gerak budaya di indonesia,” katanya pada peluncuran dengan tajuk “Peluncuran Kompetisi Film Pendek Dokumenter dan 100 Hari Wafat Alex Komang” di gedung PBNU, Jakarta, (27/5).

PMII Cabang Tegal

Ia menjelaskan, pada muktamar ke-33 nanti, NU mengemban tema yang berat, yaitu meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia.

Islam Nusantara, menurut dia, adalah islam yang melakukan “ekstraksi”, mengambil saripati dan kemudian disesuaikan dengan keadaan di mana dia tumbuh. Islam di Aceh, Sunda, Jawa, Kalimantan, Tidore memiliki warnanya sendiri.

PMII Cabang Tegal

Menurut dia, saat ini NU belum mampu melakukan koneksi intens ke budaya-budaya itu secara maksimal. Karenanya dengan mengapresiasi film ini, adalah peran NU yang merasa berkawijaban mempertahankan dan menyebarluaskan hal itu.

Ia merasa sangat senang jika kompetisi tersebut diikuti anak-anak muda NU baik di sekolah umum maupun di pesantren.

Bagi yang ingin mengikuti kompetisi tersebut, sila kunjungi situs resmi Muktamar ke-33 NU http://muktamar.nu.or.id/lomba-film-pendek/. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Warta, Pertandingan, Kiai PMII Cabang Tegal

Selasa, 14 November 2017

Kang Said: Ideologi Wahabi Selangkah Lagi Jadi Terorisme

Jakarta, PMII Cabang Tegal. “Ideologi Wahabi, satu dua langkah lagi akan menjadi terorisme,” kata KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU dalam sambutan pelepasan peserta pelatihan ‘Dauroh lil Imam wal Muazin’ di aula kantor PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (28/11) siang.

Ajaran Wahabi menurut Kang Said, memang tidak mengajarkan untuk membunuh orang kafir. Tetapi Wahabi mengajarkan pengikutnya memandang orang di luar kelompoknya sebagai orang musyrik yang halal darahnya.

Kang Said: Ideologi Wahabi Selangkah Lagi Jadi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Ideologi Wahabi Selangkah Lagi Jadi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Ideologi Wahabi Selangkah Lagi Jadi Terorisme

“Meskipun begitu, ajaran Wahabi membuka peluang bagi penganutnya untuk menjadi teroris. Penganut Wahabi yang sedang marah, lalu kalap, dan berkesempatan, akan mengondisikan dirinya menjadi teroris,” tambah Kiai Said.

PMII Cabang Tegal

Hal ini diutarakan Kang Said di hadapan sedikitnya 20 peserta utusan Lembaga Takmir Masjid NU, LTMNU. Mereka adalah pengurus masjid yang direkrut dari sejumlah wilayah dan cabang NU di Indonesia.

PMII Cabang Tegal

Sambutan pelepasan diadakan untuk menampik kekhawatiran bahwa penyusupan ideologi Wahabi diselundupkan dalam pelatihan tersebut. Karena, sebagian peserta pelatihan sempat mempertanyakan kemungkinan penyusupan.

Meski demikian, Kiai Said sempat menyebut sejumlah yayasan keagamaan yang didanai Pemerintah Arab Saudi. “Sebagian pengurus yayasan itu menjadi pelaku teror di sejumlah titik Indonesia yang ditetapkan oleh Kepolisian RI,” tegasnya.

Pelatihan diselenggarakan Pemerintah Arab Saudi di Hotel Kaisar, Duren Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan. Pelatihan manajemen kepengurusan masjid dan persoalan muazin dimulai hari ini hingga beberapa hari ke depan.

Pelatihan ‘Dauroh lil Imam wal Muazin’ diikuti oleh semua ormas Islam se-Indonesia. Peserta pelatihan berjumlah 120 orang. Dua puluh dari semua peserta, direkrut dari ormas NU melalui LTMNU.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, Kiai, Daerah PMII Cabang Tegal

Minggu, 12 November 2017

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara

Kudus, PMII Cabang Tegal

Sebanyak 1.950 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus mengikuti Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK) di GOR kampus setempat, Kudus, Jawa Tengah. Pada kegiatan yang berlangsung Ahad-Rabu (14/17/8) itu, mereka mendapat pengenalan lagu Ya Lal Wathan karya pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah dan materi tentang? Islam Nusantara.

?

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Baru STAIN Kudus DIkenalkan Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara

Menurut salah seorang panitia Muhammad Mahmud, pengenalan lagu Ya Lal Wathan dan Islam Nusantara dimaksudkan untuk membekali mahasiswa baru supaya sadar akan budaya asli Indonesia yang dikolaborasikan Islam yang menjadi karakteristik bangsa. Sebab, lagu Ya Lal? Wathan sangat tepat untuk menanamkan dan memantapkan rasa nasionalisme serta mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

?

"Dari syair yang dikarang oleh Mbah Wahab secara jelas menegaskan bahwa cinta tanah air itu sebagian dari iman. Ini bisa memantapkan nasionalisme di kalangan mahasiswa," ujarnya kepada PMII Cabang Tegal, Rabu.

PMII Cabang Tegal

(Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

Mahmud menjelaskan, mahasiswa dalam belajar di STAIN nantinya akan mempelajari dan memahami Islam Nusantara. Karena ciri khas Islam ini adalah mengenalkan tradisi dan mengajarkan agama yang rahmatal lil Alamin.

PMII Cabang Tegal

?

? "Islam Nusantara itu Islam Indonesia, bukan Islam Arab atau Islam Suriah," imbuh pengurus departemen eksternal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Kudus.

Selain itu, Mahmud mengaharapkan supaya para mahasiswa bisa menangkal radikalisme. Jika tidak dibekali keislaman dan nasionalisme, maka radikalisme akan menghampiri.

?

"Sekarang ini banyak mahasiswa? yang tidak kuat iman dan tidak kuat jiwa nasionalismenya karena mereka? mudah didoktrin oleh paham-paham radikalisme. Hal inilah yang kita antisipasi," tandas Mahmud

?

Salah seorang mahasiswi baru Chafsa Al Qudusiy merasa senang menyanyikan lagu karangan ulama besar setiap sesi sebelum materi disampaikan dalam OPAK. Menurutnya, upaya ini mampu membangkitkan rasa cinta tanah air.

?

"Sesuatu yang positif, rasa nasionalisme akan tetap tertanam dalam jiwa," ujar mahasiswi Jurusan Tarbiyah ini.

?

Dalam kegiatan OPAK yang mengambil tema “Membumikan Islam Nusantara” untuk keutuhan NKRI ini, beberapa dosen STAIN menyampaikan materi tentang Islam Nusantara. Di antaranya, Kisbiyanto (dosen/ketua ISNU Kudus) dan Abdurrahman Kasdi (dosen/ketua PC GP Ansor Demak). (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Kiai, Cerita PMII Cabang Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Sekitar 122 Ranting dan 12 MWC NU sekabupaten Trenggalek hadir di PWNU Jatim, Selasa (22/12). Mereka datang sebelum Konfercab NU Trenggalek yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Rombongan berjumlah sekitar 200 orang itu mengeluh soal pengurus ranting tidak mendapatkan hak suara di Konfercab NU Trenggalek.

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab

"Kami khawatir apabila konfercab tidak mengakomodir suara dari ranting-ranting," jelas ketua rombongan Gus Makki.

Hal itu langsung mendapatkan respon positif ? dari Ketua PWNU Jatim. "Ini merupakan suara dan dukungan terhadap apa yang telah menjadi rekomendasi PWNU kepada PBNU supaya di konfercab ranting mendapatkan hak suara," kata Kiai Mutawakkil saat ditemui di ruangannya.

PMII Cabang Tegal

PWNU Jatim mendukung penuh keputusan AD/ART hasil Muktamar Jombang yang mengatakan hak suara di konfercab hanya MWCNU. PWNU Jatim menyadari apa yang menjadi pertimbangan PBNU yaitu kondisi di luar Jawa. Antara cabang, MWCNU hingga ranting jarak tempuhnya jauh dan sulit transportasi. Kalau ranting menjadi syarat quorum, konferensi di luar Jawa akan mengalami kesulitan.

PMII Cabang Tegal

Maka dari itu, "Khusus di Jatim dan mungkin di Jawa-Jawa lain, akan meminta surat keputusan PBNU yang mengatakan ranting mendapatkan hak suara," jelasnya.

Bagimana pun ranting ini merupakan garda terdepan dalam mensosialisasikan aswaja dan program-program NU. "Karena mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah," ungkap kiai yang juga pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong itu.

Kiai Mutawakkil khawatir kalau ranting tidak dapat memilih Ketua PCNU Trenggalek dalam konfercab akan berdampak pada hubungan batin sehingga akan terjadi kesenjangan. Lebih aneh lagi, di Jatim itu ada PCNU kota madya yang hanya memiliki lima, dua dan tiga MWCNU. "Kalau hanya tiga atau lima itu bukan konferensi tapi jangongan," lanjutnya.

Di Jatim sendiri ada tujuh cabang yang akan menggelar konfrensi di bulan Desember dan Januari. "Kita akan memberikan edaran surat instruksi untuk menunda konfrencab sampai turunnya surat keputusan dari PBNU yang mengatur petunjuk teknis pelaksanaan Ahwa dan konfrensi," pungkasnya.?

Kiai Mutawakkil didampingi Prof Akh Muzakki Sekretaris, H Rasidi Wakil Bendahara dan Hasan Ubaidillah Wakil Sekretaris PWNU Jatim. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kiai PMII Cabang Tegal

Sabtu, 04 November 2017

PWNU Jatim dan Tokoh Se-Jatim Minta Pemerintah Ambil Alih Masalah Lumpur Lapindo

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Belum tuntasnya masalah banjir Lumpur di Sidoarjo menyebabkan penderitaan masyarakat semakin lama. PWNU Jatim bersama sejumlah tokoh Jatim menghadap wapres agar pemerintah mengambil alih kasus Lapindo.

“Saat ini tidak ada koordinasi antar instansi pemerintah, departemen KLH mengizinkan Lumpur di buang ke laut tapi departemen kelautan menolaknya. Bupati Mojokerto juga menolak Lumpur dibuang dilokasinya, karena itu pamerintah perlu mengambil alih tersebut dengan membentuk tim khusus agar kasus tersebut cepat tuntas,” tandas Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa kepada PMII Cabang Tegal, Jumat.

PWNU Jatim dan Tokoh Se-Jatim Minta Pemerintah Ambil Alih Masalah Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim dan Tokoh Se-Jatim Minta Pemerintah Ambil Alih Masalah Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim dan Tokoh Se-Jatim Minta Pemerintah Ambil Alih Masalah Lumpur Lapindo

Namun ditegaskannya bahwa seluruh biaya untuk menyelesaikan bencana tersebut menjadi tanggung jawab Lapindo dan BP Migas. “Ini yang kurang diketahui oleh masyarakat bahwa BP Migas sebagai perusahaan pemerintah juga ikut bertanggung jawab dalam masalah tersebut,” tambahnya.

Permintaan tersebut merupakan hasil dari kesepakatan bersama antara para tokoh Jatim dengan korban Lumpur Lapindo pada 29 Agustus lalu. Mereka sudah bosan dengan upaya penanganan yang sampai sekarang tak selesai-selesai dan ketahuan sampai kapan lagi mereka harus menderita. (mkf)

 

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian, Kiai PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock