Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Politik Pertanian

Oeh Bisri Effendy-Bagi seorang petani, menanam padi tidak sekedar menabur benih di sebuah lahan, mengairi, menyiangi, dan memanen. Ia bertemali dengan kekuatan alam lain di luar diri sang petani.

Sangiang Sri seperti yang termaktub dalam La Galigo atau Dewi Sri dalam mitologi Jawa adalah sebuah kekuatan gaib yang amat berpengaruh pada penanaman padi. Biji benih, kesuburan, dan keberkabahan dikaitkan dengan seberapa jauh kekuatan itu “turun tangan” ke dalamnya. Dalam konteks itu, kita mengenal berbagai ritual menyongsong, merawat, dan menyudahi proses penanaman padi.

Politik Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Pertanian

Beras, bagi petani, bukan hanya dilihat sebagai soal ekonomi untuk memenuhi kebutuhan kalori, protein, dan vitamin, tetapi juga merupakan tanaman firdaus yang memiliki kekuatan misterius untuk menguatkan lahir-batin. Sejumlah mitos menyatakan bahwa beras adalah “makanan Ilahiah” (rohaniah) yang dapat menimbulkan kekuatan, keberdayaan, dan mencegah kemalasan dalam meniti kehidupan sehari-hari.

Modernisasi pertanian (revolusi hijau) pada awal 70-an oleh negara yang didukung pemodal dan kaum terpelajar berupa intensifikasi menyebabkan tidak hanya perubahan jenis bibit padi dan perawatannya tetapi juga pandangan masyarakat terhadap padi dan seluruh yang berkaitan dengannya. Beras sebagai “makanan Ilahiah” dan proses produksi yang serba sakral (suci) menjadi makanan murni biologis yang profan (duniawi) dan diproduksi secara rasional tanpa kaitan dengan mahluk gaib dan upacara-upacara mistis.

PMII Cabang Tegal

Bukan hanya modernisasi, agama yang berwatak puritan (tekstualistik) berperan penting dalam mengubah religiusitas (sakralitas) pertanian. Praktik ritual pertanian yang juga amat penting dalam menjaga keimbangan mikrokosmos-makrokosmos justru dianggap menyimpang dari ajaran, bahkan sebagian kaum puritan ini memandangnya sebagai kufur dan musyrik. Dengan berbagai cara praktik-praktik ritual itu disirnakan yang menyebabkan dampak modernisasi di atas makin kuat dan terlegitimasi.

PMII Cabang Tegal

Praktik ritual menjelang tanam maupun pasca panen di sebagian daerah memang masih terselenggara, tetapi makna subtantif di dalamnya bisa dipastikan telah menghilang. Apalagi sejak ritual-ritual itu – dan ritual-ritual lain – sengaja diinvensi untuk kepentingan-kepentingan eksternal di luarnya seperti pariwisata. Sejak awal 80an, ritual pertanian yang tersisa berubah sebuah pertunjukan untuk ditonton oleh orang-orang di luar komunitas pemilik/pendukungnya.

Implikasi lebih lanjut adalah mengenai pandangan para petani terhadap tanah. Modernisasi pertanian dan pemurnian agama (dari nilai-nilai budaya lokal) perlahan mengusik dan akhirnya melenyapkan sakralitas tanah. Keyakinan petani bahwa tanah adalah suci, bagian tak terpisah dari diri manusia, dan sumber keberkahan berubah menjadi profan, duniawi semata. Dalam pandangan petani tempo dulu, mengeksploitasi, merusak, dan menodai tanah merupakan pantangan yang tak boleh dilanggar. Hubungan kultural-teologis antara manusia dan tanah menjadi lenyap bersama hilang/berubahnya ritual-ritual pertanian sebagai penanda hubungan tersebut.  

Sebaliknya, kini, para petani umumnya menganggap, seperti dianjurkan modernitas dan puritanisme, bahwa tanah hanyalah sebuah hamparan bumi yang dieksploitasi sepenuhnya untuk manusia, sesuatu yang profan, dan tidak ada kaitan teologis maupun kultural dengan manusia. Hubungan manusia dan tanah adalah hubungan temporer, penuh kesementaraan, dan tidak ajeg.

Dalam konteks seperti itu, monopoli negara atas tanah dapat diundangkan dan praktik-praktik penggusuran atau pemisahan tanah dari pemiliknya turun-temurun menjadi hal yang wajar, legal, dan dianggap bukan persoalan. Demikian pula wajar jika keteguhan dan kegigihan mempertahankan bukanlah soal teologis dan kultural tetapi murni ekonomi dan politik yang rawan konflik.

Bisri Effendy adalah budayawan, mantan peneliti LIPI         

    

        

      

    

    

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib PMII Cabang Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan?

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Gus Dur tokoh yang kontraversial, banyak pendukung dan pemujanya, tetapi disisi lain, banyak orang yang mencaci dirinya. Toh ia santai saja atas sikap kelompok tersebut.

Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Gus Dur Sengaja Mencari Celaan?

Banyak perilakunya yang diluar standar normal. Yang paling terkenal diantaranya ketika ia menyebut “DPR seperti anak TK“ yang masih sering dikutip sampai sekarang, dan hanya memakai celana pendek ketika keluar dari istana saat digulingkan dari jabatannya sebagai presiden. Banyak orang memandangnya dengan sinis, “presiden kok begitu.“ 

Jangan-jangan ia sengaja mencari celaan dan hinaan dari publik, agar hatinya selalu dekat dengan Allah? Dalam sufi, terdapat aliran Malamatiyah, yaitu kelompok sufi yang sengaja menghinakan dirinya. Ketika orang memuji dan mengkultuskannya, ia akan melakukan tindakan kontraversial agar dicaci publik untuk menghindari penyakit hati seperti riya’ (ingin dilihat baik), ujb (kagum dengan diri sendiri) dan nifaq (munafik/penampilan lahir lebih baik dari batin). Semua penyakit hati ini bisa menjauhkan hati seorang sufi kepada Allah.

PMII Cabang Tegal

 

“Saya ngak mau kurang ajar untuk ngrasani Gus Dur. Banyak orang yang lebih nyeleneh daripada Gus Dur dalam kewalian,“ kata ulama Betawi KH Saifuddin Amsir.

PMII Cabang Tegal

Orang seperti itu, kata rais syuriyah PBNU ini, mencari celaan dan orang lain dalam upaya melatih hati untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah. Pada titik tertentu, mereka sampai merasa, dirinya lebih hina daripada orang lain, bahkan binatang sekalipun. 

Namun, aliran ini berbahaya jika salah memahaminya. Banyak orang yang ingin masuk kelompok ini dan melakukan maksiat yang berlebihan, tetapi terjebak disitu, tidak bisa membedakan antara mencari kemuliaan dan pemuja syahwat. 

“Jadi kata malamatiyah, yaitu orang yang menisbahkan diri kepada malamah, kehinaan, cercaan. Itu yang dia cari.”

Di Jakarta, ia mengenal sosok seperti itu, dalam kehidupan sehari-hari, banyak perilakunya yang kelihatannya tidak pantas dilakukan oleh seorang tokoh agama, sehingga ia banyak diejek. Tetapi di sisi lain, sikapnya sangat baik kepada masyarakat.

Suatu hari “sufi” tersebut dengan kasar meminta hampir semua uang yang dimiliki oleh pejabat yang dengan sangat terpaksa memberikan apa yang dimiliki, meskipun dalam hati menjerit, karena harta yang dikumpulkan dengan susah payah tersebut diminta, apalagi dengan cara kasar. 

Begitu mendapat uang tersebut, ia pergi ke rumah janda-janda yang membutuhkan sampai semua uang tersebut habis. Pulang ke rumah, orang tersebut masih diomeli sama istrinya, “setan loe, pulang-pulang ngak bawa uang.”

Disisi lain, pejabat yang dimintai uang tersebut mendapat ganti yang luar biasa besarnya. Peristiwa tersebut berulang kali terjadi pada orang tersebut, meminta uang kepada seseorang, kemudian ternyata tak lama kemudian, yang dimintai mendapat ganti yang lebih banyak. 

“Pada puncak ia dihina habis, sampai merasa di bukan apa-apa, kayak debu di atas meja, baru ada keberhasilan dia sebagai orang yang menjalani malamatiyah, ini sangat berat. Ini menghindari rasa riya, sombong, dan sifat hati jelek lainnya. Semuanya dipangkas habis. Ini sifat dasar manusia.”

Perilaku seperti ini tentu berbeda dengan kecenderungan manusia sekarang yang berusaha menampilkan kemegahan, citra semu agar dianggap kaya, keren atau berkuasa agar orang lain takut dan segan kepadanya. 

Idiom yang sangat terkenal tentang kewalian adalah Laa yakriful wali illal wali yang artinya, tidak tahu seseorang itu wali kecuali juga wali. Ia menjelaskan, mereka merupakan sebuah komunitas khusus, yang saling kenal dan berkomunikasi karena memiliki kualitas yang sama. “Kalau anda kenal, berarti memiliki kualitas yang sama. Mereka tidak memiliki rasa takut dan sedih, semuanya diserahkan kepada Allah.”

Kiai Saifuddin menuturkan, sufi merupakan orang yang menghargai semua makhluk hidup, termasuk binatang. Di Jakarta, tahun 1940-an, terdapat sufi yang dikenal dengan mana Guru Kholid Gondangdia. Ia berkawan dengan KH Hasyim Asy’ari. 

Ia pernah mengembalikan seekor semut rang-rang ke Cilebut, daerah dekat Bogor, tempat ia mengajar ketika pulang lewat kebun rambutan, semut tersebut menempel di jubahnya. Ia balik lagi ke kebun tersebut dan menaruh kembali semur rang-rang di pohon rambutan.

“Kalau kita sekarang, buang saja, banyak pohon rambutan di Jakarta, kan selesai. Ini sikap Guru Kholid, akan kasih sayangnya pada binatang.”(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib PMII Cabang Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

PMII Cirebon Gelar Sekolah Cinta Perdamaian

Cirebon, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon menggelar Sekolah Cinta Perdamaian (Setaman) bekerja sama dengan Fahmina Institute di Pesantren Salafiyah Bode Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (26/10). Acara ini dihadiri puluhan anggota dan kader perwakilan dari setiap komisariat dan perwakilan pesantren.

M. Yazidul Ulum, Ketua PC. PMII Cirebon, mengatakan Sekolah Cinta Perdamaian ini bermaksud mengajak para mahasiswa untuk menjadi penggerak perdamaian di lingkungan masing-masing. “Penggerak perdamaian dimulai dari lingkungan terkecil menebarkan damai, yang jika terus-menerus dilakukan akan semakin luas perdamaian yang kita harapkan,” kata Yazid.

PMII Cirebon Gelar Sekolah Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cirebon Gelar Sekolah Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cirebon Gelar Sekolah Cinta Perdamaian

Beberapa materi disampaikan dalam Setaman ini oleh KH. Marzuki Wahid, Rosidin, Alifatul Arifiati, dan Abdul Rosidi. “Lain dulu lain sekarang, dulu perbedaan dijadikan kekuatan untuk memajukan negara-bangsa, sekarang ini banyak sekali konflik kekerasan, tawuran, saling mengejek, bullying antar kelompok karena satu kelompok dianggap berbeda oleh kelompok yang lain. Seolah-olah kita sudah kehilangan akar kebangsaan kita yang menjunjung tinggi perdamaian,” jelas Marzuki Wahid yang menyampaikan materi Sejarah pembentukan Negara-bangsa Indonesia.

PMII Cabang Tegal

Sementara Rosidin, salah satu narasumber, menyampaikan, konflik yang terjadi akibat perbedaan pandangan khususnya terkait agama banyak terjadi di sekeliling kita. “Kita harus memahami konflik sebagai sesuatu yang positif. Konflik akibat perbedaan paham keagamaan? ? bisa diselesaikan. Beragam jenis kelamin, suku, etnis, bahasa justru menjadi kekuatan untuk bergandengan tangan. Kita mesti damai dalam perbedaan,” ungkap Direktur Fahmina Institute yang menyampaikan materi Memahami Konflik, Membangun Perdamaian.

Sedangkan materi Internet Positif dan Menulis Cinta Damai disampaikan oleh Abdul Rosidi. Rosidi mengatakan fenomena maraknya berita, tulisan, gambar, dan video yang berhamburan di dunia maya sangat membahayakan.

PMII Cabang Tegal

“Sudah saatnya kita menulis dan mengkampanyekan perdamaian lewat internet apalagi media sosial (medsos). Anak muda atau mahasiswa sekarang lebih memilih internet sebagai alat untuk mencari atau menrima informasi. Jadi internet ini bisa menjadi pilihan untuk menyampaikan ide-ide dan gagasan dalam mengkampanyekan perdamaian,” tandas Redaktur Fajar Cirebon Online. (Ayub Al Ansori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Lomba, Habib, Pesantren PMII Cabang Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Puncak Harlah Ke-71 Muslimat NU Bakal Digelar di Istiqlal

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-71 Muslimat NU akan digelar di Masjid Istiqlal, Jalan Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, Selasa, (28/3) mendatang.

Puncak Harlah Ke-71 Muslimat NU Bakal Digelar di Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
Puncak Harlah Ke-71 Muslimat NU Bakal Digelar di Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

Puncak Harlah Ke-71 Muslimat NU Bakal Digelar di Istiqlal

Tak kurang dari 10 ribu warga Muslimat NU se-Jawa dan Lampung akan hadir di lokasi. Tema Harlah kali ini, “Satukan Langkah Membangun Negeri, Menjaga NKRI.”

Hanya saja, puncak peringatan Harlah tahun ini tak sebesar tahun lalu di Stadion Gajayana, Kota Malang, 26 Maret 2016, yang dibanjiri sekitar 70 ribu warga Muslimat NU plus pencatatan dua rekor MURI: Jilbab putih dan rebana terbanyak. Hadir pula waktu itu Presiden Joko Widodo dan sejumlah pimpinan lembaga negara.

“Tapi kepastiannya tunggu ya. Kita baru akan rapat dengan Ibu Ketum (Hj Khofifah Indar Parawansa),” terang Sekretaris Umum (Sekum) PP Muslimat NU, Hj Ulfah Mashfufah, Sabtu (18/3) dilansir situs MPMII Cabang Tegal.

PMII Cabang Tegal

Termasuk apakah akan dihadiri Presiden Jokowi seperti lalu, Ulfah belum bisa memastikan, “Belum, belum. Tunggu hasil rapat sama Ibu Ketum ya,” tandasnya.

Puncak peringatan Harlah tahun ini akan diawali dengan pelantikan pengurus PP Muslimat NU masa khidmat 2016-2021 oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj.

“Jadi judul acara tanggal 28 itu pelantikan dan Harlah ke-71,” jelas cucu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) itu. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Habib PMII Cabang Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Muslimat NU Protes Keras Pekan Kondom Nasional

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa ? memprotes keras terhadap pelaksanaan Pekan Kondom Nasional (PKN) yang merupakan program pemerintah.?

menurutnya, PKN yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Aids sedunia yang jatuh pada 1 Desember sama dengan bencana sosial bagi negeri ini.

Muslimat NU Protes Keras Pekan Kondom Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Protes Keras Pekan Kondom Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Protes Keras Pekan Kondom Nasional

"Jika PKN ini diteruskan akan menjadi bencana baru bagi negeri yang ber-Pancasila, bertuhan dan beragama. apalagi di tengah usaha memperbaiki moral," ujar Khofifah di Jakarta, Senin (2/12/2013).

PMII Cabang Tegal

Ia menambahkan, PKN mendorong masyarakat untuk melakukan hubungan seks di luar nikah dengan membagikan kondom di ruang publik kepada masyarakat maupun remaja secara gratis.

PMII Cabang Tegal

"Jika ada pembagian kondom di jalan atau di tempat keramaian umum, lalu diterima oleh para remaja usia belasan tahun yang punya kecenderungan coba-coba, bisa saja terdorong melakukan seks bebas setelah mendapat kondom yang dibagi gratis secara terbuka," katanya.

Karena itu, Khofifah mendesak Kementerian Kesehatan mencabut program PKN dan melakukan permintaan maaf kepada publik karena telah mengambil keputusan yang membahayakan.?

Penolakan yang sama juga dilakukan oleh Ketua Lembaga Kesehatan PWNU DIY drg. H. Abdul Kadir yang? menyatakan.?

“Kita menolak keras program itu. Dalih yang ditamengkan Kemenkes mengandung ironi. Sebab, bagaimana pun juga, anggaran dalam jumlah yang tak sedikit itu bisa lebih bermanfaat jika diperuntukkan misalnya untuk program yang bisa mendatangkan kemashlahatan yang lebih nyata, misalnya untuk layanan kesehatan bagi masyarakat tak mampu, pendidikan dan lain sebagainya.”

Kadir juga menyebutkan bahwa, secara logika saja, sesungguhnya keputusan Kemenkes dan KPAN itu sudah cacat. Betapa tidak. Kita semua tentu sudah tahu fungsi kegunaan kondom, lantas mengapa kemudian alat itu diberikan kepada mereka belum memiliki kewenangan untuk menggunakannya?

“Atas dasar logika apa Kemenkes dan KPAN mengeluarkan kebijakan yang tak bijak itu? Naif sekali jika dasarnya adalah pencegahan HIV dan AIDS. Sebab, jika memang dasarnya pencegahan penularan HIV dan AIDS yang salah satu cara penularannya adalah dengan hubungan badan suami istri, lantas mengapa diberikan kepada mereka yang belum waktunya melakukan hubungan sedemikian?” tanya Kadir.?

Kendati demikian, Kadir menegaskan bahwa Lembaga Kesehatan PWNU DIY yang sejak periode 2006-2011 lalu hingga kini masih terus mendukung upaya pencegahan HIV dan AIDS, tapi tidak dalam cara-cara yang justru ambigu seperti ini.?

“Sosialisasi yang mendidik jauh lebih penting,” ujar Kadir. “Secara logika, HIV dan AIDS sendiri sesungguhnya sudah menjadi alat pencegah bagi penularannya. Artinya, keberadaan HIV dan AIDS yang masih menjadi momok bagi sebagian orang sesungguhnya bisa membuat orang untuk bertindak lebih hati-hati terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakatnya.”?

Dalam kesempatan terpisah, KH M Habib Abdus Syakur, M.Ag, Ketua Rabithah Ma’had Islami PWNU DIY, juga menyayangkan keputusan Kemenkes yang ia sebut kurang bijak tersebut.?

Dihubungi melalui telepon, 2 Desember 2013, Habib menyatakan, “Keputusan itu justru akan menimbulkan madlarat yang lebih besar ketimbang manfaatnya. Dan terkait perkara seperti ini, ada kaidah ushul fiqh dalam Islam yang menegaskan bahwa, ‘darul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih’ yang artinya, pencegahan kerusakan lebih utama atau didahulukan dibandingkan dengan pengambilan manfaat.”?

Dalam hal ini, Habib menambahkan bahwa kaidah ushul fiqh yang ia ungkapkan di atas bisa dipahami dalam bingkai bahwasanya pencegahan potensi munculnya perilaku seks bebas, akibat penyalahgunaan kondom yang dibagi-bagikan secara gratis tersebut, harus lebih diutamakan ketimbang manfaat pembendungan penyebaran atau penularan HIV dan AIDS.

“Kalau dipikir-pikir, anggaran kondom gratis yang mencapai angka milyaran itu tentu bisa memberi manfaat yang lebih besar bagi kebutuhan-kebutuhan riil lain di masyarakat, seperti pelayanan pendidikan keagamaan, misalnya pesantren yang nyata-nyata dapat menanggulangi merebaknya HIV dan AIDS,” pungkas Habib. (mukafi niam/ yusuf anas)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, Kajian PMII Cabang Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah

Jasad Syekh Abu Bakr Asy-Syibli memang terkubur dalam tanah sejak tahun 946 silam. Tapi nasihat santri Imam Junaid al-Baghdadi ini seakan terus mengalir kepada generasi-generasi sesudahnya. Salah satunya lewat kisah dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam kitab Nashaihul Ibad? karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Dalam sebuah mimpi seeseorang, Imam Asy-Syibli yang telah wafat itu ditanya Allah, “Kamu tahu, apa yang membuat-Ku mengampuni dosa-dosamu?”

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kucing Malang Pendatang Rahmat Allah

“Amal shalihku.”

PMII Cabang Tegal

“Bukan.”

PMII Cabang Tegal

“Ketulusanku dalam beribadah.”

“Bukan.”

“Hajiku, puasaku, shalatku.”

“Juga bukan.”

“Perjalananku kepada orang-orang shalih dan untuk menimba ilmu.”

“Bukan.”

Ya Ilahi, lantas apa?” tanya Imam Asy-Syibli.

Allah kemudian menjawabnya dengan mengacu pada kisah pertemuan Imam Asy-Syibli dengan seekor kucing di jalanan kota Baghdad. Kucing kecil itu loyo oleh ganasnya hawa dingin, menyudut ke suatu tempat, berharap kondisi bisa membaik.

Imam Asy-Syibli yang tergerak hatinya lantas memungut binatang malang itu, kemudian menghangatkannya di dalam jubah yang ia kenakan.

“Lantaran kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku memberikan rahmat kepadamu.”

Cerita hidup para sufi kerap menyibak hal-hal istimewa dari perkara-perkara yang tampak remeh. Sepele di mata manusia tak selalu rendah menurut Tuhan. Kisah di atas seolah mengajari kita tentang pentingnya sikap tawaduk atas segenap kesalehan ibadah betapapun hebatnya; juga keutamaan melembutkan hati dan mengulurkan bantuan, termasuk kepada binatang, apalagi manusia. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, Daerah PMII Cabang Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Probolinggo, PMII Cabang Tegal

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Nasional, pemuda Kabupaten Probolinggo yang tergabung dalam “Aliansi Pemuda Tolerasi Peduli“ menggelar aksi peduli Intan Olivia, seorang anak kecil yang meninggal karena terkena bom di Kota Samarinda.

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Probolinggo Gelar Aksi Peduli Intan Olivia

Para pemuda ini terdiri dari Gusdurian Probolinggo, Pimpinan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Inzah Genggong, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Inzah Genggong dan Bosan (Bocah Skuteris Kraksaan).

Aksi peduli ini diisi dengan acara musikalisasi puisi, pembacaan Surat Yaasin dan tahlil bersama serta ditutup dengan mengheningkan cipta di Alun-alun Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (16/11) malam.

PMII Cabang Tegal

Korlap Aksi Peduli Novan Fawaid mengungkapkan kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa toleran terhadap pemuda mengingat hari ini kita sebagai warga Negara lupa akan hakikat toleransi itu sendiri.

“Untuk solidaritas Intan Olivia, kami mengutuk keras atas kelompok yang mengatasnamakan agama yang mengakibatkan anak kecil yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa menjadi korbannya, bahkan sampai ia meninggal pun tidak ada dari mereka tahu dan bertanggungjawab,” katanya.

PMII Cabang Tegal

Melalui aksi ini Novan mengharapkan para pemuda, ormas dan kelompok apapun untuk selalu meningkatkan dan menanamkan jiwa toleransi. “Hal ini penting agar setiap pemuda bisa saling menghargai dan menghormati demi terwujudkan daerah yang aman dan konsusif,” harapnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib, News, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock