Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan

Klaten, PMII Cabang Tegal. Momentum Hari Raya Idul Kurban dimanfaatkan Lembaga Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Klaten untuk membagikan ratusan bungkus daging kurban ke sejumlah daerah di enam kecamatan di daerah Klaten.

“Penyaluran daging kurban kita usahakan ke daerah yang tepat sasaran, khususnya daerah yang rawan aqidah dan minus ekonomi,” terang Ketua LAZISNU Klaten Muh Cahyanto, Kamis (24/9).

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Klaten Salurkan Kurban di Enam Kecamatan

Cahyanto menjelaskan melalui program “Tebar Qurban Tepat Sasaran” ini, pihaknya menyalurkan ke enam kecamatan daerah penyaluran yakni Kecamatan Gantiwarno, Kebonarum, Karangnongko, Karanganom, Jatinom dan Cawas.

PMII Cabang Tegal

“Kami bekerjasama dengan beberapa panitia kurban setempat, harapannya agar daging kurban juga dapat dibagi secara merata,” ujar dia.

PMII Cabang Tegal

Ditambahkan Cahyanto, dana pengadaan kurban serta pembagiannya ini diperoleh dari para donatur, baik warga NU sendiri maupun dari masyarakat luar, yang mempercayakannya kepada LAZISNU Klaten.

Ia berharap dengan penyelenggaraan kegiatan tahunan ini, ikut membuat gembira bagi orang lain. “Pada saat ini, Allah telah mendatangkan kegembiraan bagi mereka yang berkurban dan yang menerima daging kurban. Semakin banyak orang yang berkurban maka semakin banyak pula orang yang mendapatkan kegembiraan pada saat ini,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Tegal PMII Cabang Tegal

Selasa, 27 Februari 2018

PBNU Nilai Demokrasi Sangat Terkait Sistem Budaya

Medan, PMII Cabang Tegal

Demokrasi bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan sangat terkait dengan sistem budaya, tradisi, hukum, dan norma yang ada di masyarakat, termasuk agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat. 

"Kehadiran demokrasi di Indonesia ini, diharapkan mampu menjamin ketertiban kehidupan, menjamin kesataraan, menciptakan keadilan dan kesejahteraan yang dicita-citakan oleh agama," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj di Medan, Selasa.

PBNU Nilai Demokrasi Sangat Terkait Sistem Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Nilai Demokrasi Sangat Terkait Sistem Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Nilai Demokrasi Sangat Terkait Sistem Budaya

PMII Cabang Tegal

Orasi Ilmiah tersebut, disampaikannya pada Dies Natalis Ke-61 Universitas Sumatera Utara yang diselenggarakan di Medan.

Namun demikian, katanya, perlu diingat bahwa demokrasi sebagai suatu sarana atau alat bisa digunakan oleh siapa saja sesuai dengan tujuannya.

PMII Cabang Tegal

Bagi rezim otoriter demokrasi bisa digunakan sebagai sarana penyerahan mandat rakyat pada penguasa, sehingga tidak ada lagi hak bagi rakyat.

Demikian juga dalam masyarakat liberal kapitalis, demokrasi merupakan alat penting untuk ekspansi modal dan persaingan pasar, bahkan pemerintah menjadi alat bagi akumulasi modal.

"Demokrasi hanya menjadi alat pemilik modal, untuk merebut hak-hak rakyat dalam memperoleh kesejahteraan dan keadilan," ucap dia.

Said Aqil menyebutkan, demokrasi berkembang pesat sejak dilaksanakan reformasi yang dilanjutkan dengan amendemen Undang-Undang Dasar 1945, yang diteruskan dengan pengesahan berbagai UU tersebut.

Sebagai perwujudan dan cita-cita pelaksanaan demokrasi dalam semua sektor kehidupan, karena itu terus menerus dijalankan.

Tetapi, ironisnya, yang dikembangkan bukan demokrasi sebagaimana digariskan oleh Pancasila, melainkan demokrasi liberal yang bebas hampir tanpa batas.

Atas nama demokrasi pula, opsi perubahan dasar dan bentuk negara sebagai diam-diam dibuka lagi.Sehingga muncul berbagai gerakan yang menawarkan ideologi baru di luar pagar Pancasila dan UUD 1945.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

KH Hafidz Utsman: Aksi Perusakan Masjid Ahmadiyah untuk Pecahbelah Umat

Bogor, PMII Cabang Tegal

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Majelis Ulama (MUI) Jawa Barat KH Hafidz Utsman mengakui adanya upaya-upaya pihak tertentu untuk memecahbelah umat Islam dan menciptakan instabilitas negara dengan memanfaatkan perbedaan pandangan agama dalam masyarakat.



KH Hafidz Utsman: Aksi Perusakan Masjid Ahmadiyah untuk Pecahbelah Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hafidz Utsman: Aksi Perusakan Masjid Ahmadiyah untuk Pecahbelah Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hafidz Utsman: Aksi Perusakan Masjid Ahmadiyah untuk Pecahbelah Umat

"Aksi-aksi anarkis yang dilakukan masyarakat terhadap pengikut aliran sesat merupakan upaya provokasi pihak tertentu untuk mengganggu keamanan negara," katanya usai memberikan pengarahan dalam apel siaga Danramil di lingkup Korem 061/Suryakencana, Babinsa dan pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) se-Bogor, Sukabumi, dan Cianjur di Bogor, Kamis (27/12).

"Aksi-aksi semacam itu bukan hanya untuk memecahbelah umat Islam, tapi lebih jauh lagi untuk mengganggu keamanan negara dan menciptakan instabilitas," kata Kiai Hafidz Usman.

PMII Cabang Tegal

Namun, ia tidak menjelaskan lebih jauh kelompok yang menginginkan ketidakstabilan keamanan di Indonesia, apakah dari dalam atau luar negeri.

PMII Cabang Tegal

Terkait aksi perusakan terhadap masjid milik pengikut aliran Ahmadiyah, ia mengatakan, aksi semacam itu tidak boleh dilakukan. "Kita harus mengajak mereka (pengikut aliran Ahmadiyah) untuk kembali ke jalan yang benar dengan cara baik-baik," katanya.

Di hadapan ratusan anggota Danramil Suryakencana dan pengurus DKM, ia mengimbau para tokoh agama dan ustadz untuk menghargai perbedaan yang ada dan tidak serta merta mencap pengikut aliran yang dianggap menyimpang sebagai kafir.

Kiai Hafidz juga mengimbau masyarakat agar menyikapi munculnya aliran-aliran sesat secara proporsional dan menegaskan kembali bahwa warga tidak mempunyai wewenang untuk melakukan eksekusi hukum atas keberadaan aliran sesat tersebut. "Kita ini negara hukum, jadi aparat hukum yang berwenang menindak," katanya.

Ia memberikan contoh, di masa Nabi Muhammad SAW, penindakan atas aliran yang menyimpang dari ajaran Islam diambil setelah melalui proses pendekatan. Hukuman pancung barulah diambil setelah mereka tetap tidak mau mengikuti ajaran yang benar.

"Dalam kasus Ahmadiyah, MUI masih terus melakukan pembinaan terhadap para pengikut aliran tersebut, sementara proses hukum juga terus berjalan," katanya.

Seperti diberitakan, Masjid Al-Istiqomah milik jemaah Ahmadiyah di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pekan lalu dirusak sekelompok orang bercadar mirip "Ninja".

Seluruh kaca masjid berlantai dua tersebut hancur, sebagian genteng masjid pecah terkena lemparan batu. Perusakan disertai pembakaran itu juga menyebabkan sebagian dinding triplek pembatas ruang kelas dan seluruh rak buku pada ruangan terbakar.

Sebelumnya, aksi pengrusakan sejumlah rumah serta tempat ibadah milik pengikut Ahmadiyah juga terjadi di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Selasa (18/12).

Aksi itu, kemudian diikuti dengan penghancuran kaca jendela serta genteng tempat ibadah pengikut Ahmadiyah oleh sejumlah massa di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (19/12) lalu. (ant/sam)Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut

Medan, PMII Cabang Tegal. Pelaksanaan Konferensi Wilayah I Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara yang berlangsung pada 20-21 Juni 2012 di hotel Griya Medan berjalan dengan sukses dan menghantarkan Syafii Sitorus sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara 2012-2017.

Pembukaan Konferwil dilakukan oleh Ketua Umum PP Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa H Fuad Anwar, Rabu (20/6), dimana dalam sambutannya mengingatkan bahwa Pagar Nusa merupakan pengawalnya para ulama.

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)
Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)

Syafii Sitorus Terpilih Sebagai Ketua Pagar Nusa Sumut

"Saya mengingatkan kepada para pendekar Pagar Nusa bahwa keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat adalah pengawalnya ulama. Selain itu pendekar Pagar Nusa juga harus mampu menjaga situasi kondusif di lingkungannya masing-masing sebab sebagai pendekar kita juga bertanggungjawab menjaga keamanan di NKRI ini," ujar Fuad.

PMII Cabang Tegal

Fuad mengharapkan agar Konferensi Wilayah I Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumatera Utara menghasilkan kepengurusan yang lebih baik dan mampu membesarkan Pagar Nusa di Sumut dimasa yang akan datang.

"Saya menegaskan bahwa Pagar Nusa dibawah kepemimpinan Achmad Firdausi Hutasuhut sudah sangat baik dimana roda organisasi berjalan dengan lancar dan saat ini sudah mengakhiri periode kepemimpinnanya dengan baik yakni terselenggaranya pelaksanaan Konferwil ini," ujar Fuad.

PMII Cabang Tegal

Sebelumnya juga turut memberikan kata sambutan Penasehat Pagar Nusa Sumut H Anwar Nur Siregar, yang menegaskan agar para pendekar Pagar Nusa di Sumatera Utara lebih banyak melakukan pembinaan kepada generasi muda sehingga dihasilkan atlet-atlet pencak silat yang memiliki prestasi gemilang.

Sedangkan H Adlin Damanik yang mewakili PWNU Sumut meminta agar Pendekar Pagar Nusa Sumut memberikan pelatihan kepada santri-santri yang ada di pesantren NU yang tersebar di Sumut ini.

Sementara itu Ketua Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumut demisioner Ahcmad Firdausi Hutasuhut menegaskan bahwa kedepannya Pagar Nusa Sumut harus mampu menghasilkan atlet-atlet pencak silat yang  berprestasi dan mampu untuk membesarkan Pagar Nusa di Sumut ini.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Syafii

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pertandingan, Nahdlatul, News PMII Cabang Tegal

Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan Dengan Syarat

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Thawaf Ifadlah yang menjadi salah satu rukun dalam ibadah haji, boleh diwakilkan kepada orang lain. Namun, hukum boleh, diputuskan setelah melewati perdebatan panjang para peserta musyawarah bahtsul masail. Hukum badal Thawaf Ifadlah ini diperbolehkan dengan sejumlah syarat.

Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan Dengan Syarat (Sumber Gambar : Nu Online)
Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan Dengan Syarat (Sumber Gambar : Nu Online)

Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan Dengan Syarat

Putusan Pleno yang dipimpin Ketua LBM PBNU KH Zulfa Musthofa Rabu (3/7) pagi mengatakan, “Pada dasarnya badal Thawaf Ifadlah tidaklah diperbolehkan meskipun ada uzur karena Thawaf Ifadlah merupakan salah satu rukun haji.”

Mereka mengutip pendapat Imam Syihabuddin ar-Ramli yang membolehkan badal itu dengan sejumlah syarat. Syarat yang diajukan Ar-Ramli adalah pelaku haji merupakan orang yang madlub (orang sakit yang secara medis tidak mungkin sembuh) dan sudah pulang ke tanah airnya.

PMII Cabang Tegal

Syekh Ramli berargumen, ibadah Haji yang mencakup rukun, wajib, dan sunahnya boleh dibadalkan. Tentu Thawaf Ifadlah sebagai salah satu rukun haji, lebih boleh untuk dibadalkan.

PMII Cabang Tegal

Badal Thawaf Ifadlah merupakan satu isu yang dibahas dalam bahtsul masail Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, Selasa (2/7) malam.

Syarat itu diajukan oleh Syekh Ar-Ramli yang kemudian dikukuhkan peserta musyawarah LBM PBNU guna menghindari tasahhul, menyepelekan hukum syariah.

Peserta bahtsul masail ialah pengurus wilayah dan cabang LBM NU, Rais Syuriah PBNU, Rais Syuriah PWNU se-Indonesia, dan utusan sejumlah pesantren.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kyai, Nahdlatul, Makam PMII Cabang Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Cirebon, PMII Cabang Tegal. Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Cirebon menggelar Harlah ke-55 serta mengukuhkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) tingkat Kecamatan se-Kabupoaten Cirebon pada Ahad, (26/4) di Halaman NU Center Sumber, Cirebon.?

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Acara tersebut sangat meriah dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, H Marwan Jafar, Bupati Cirebon, H Sunjaya Purwadisastra, Ketua Umum PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah, dan Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH, Usamah Manshur, serta para tokoh NU Cirebon.

Pada kesempatan tersebut, Marwan Jafar menjelaskan, sebagai Banom NU, Fatayat bisa memanfaatkan forum pengajian ibu-ibu yang selama ini sudah berjalan secara rutin untuk melakukan pemberdayaan membangun desa.?

PMII Cabang Tegal

"Perkumpulan ibu-ibu Fatayat yang sudah berjalan rutin, bisa dimanfaatkan untuk menyosialisasikan berbagai program dan mengambil peran dalam pembangunan desa," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Marwan juga melakukan penandatanganan MoU dengan Fatayat NU untuk mengukuhkan peran perempuan dalam pembangunan desa.?

PMII Cabang Tegal

“Kementerian Desa ingin melakukan sinergi dengan kelompok perempuan dalam hal pembangunan dan pemberdayaan perempuan masyarakat desa, pembangunan kawasan ekonomi perempuan pedesaan, pemberdayaan dan pembangunan pendidikan dan kesehatan perempuan di daerah transmigrasi dan daerah tertinggal,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah mengatakan, Fatayat NU dengan usia 65 tahun harus memberikan pendampingan terhadap masyarakat agar terlepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan.

“Semoga dengan dilantiknya PAC Fatayat NU se-Kabupaten Cirebon bisa memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya bagi pemberdayaan perempuan di desa-desa,” pungkas Ida. (Ayub Ansori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sholawat, Olahraga, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Jakarta, PMII Cabang Tegal

Rencana pemerintah melalui Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Sofjan Djalil yang melakukan somasi terhadap tayangan Republik Mimpi di Metro TV mendapat perlawanan dari mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan Gus Dur sudah menyiapkan kuasa hukum dari DPP Partai Kebangkitan Bangsa untuk membela tayangan tersebut jika Sofjan Jalil serius melakukan somasi.

Demikian diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Ghazali Effendi Ghazali kepada wartawan, usai mengunjungi Gus Dur yang sedang menjalani perawatan di Ruang Cenderawasih Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (2/3) lalu.

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Siapkan Kuasa Hukum untuk Bela Republik Mimpi

Dikatakan Efendi, Gus Dur yang juga mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu mengaku terkejut dengan rencana Menkominfo yang melakukan somasi terhadap tayangan parodi tersebut. Pasalnya, para mantan presiden yang ditirukan dalam acara itu justru sama sekali tidak merasa terganggu.

Gus Dur, seperti dituturkan Effendi sangat mendukung acara parodi politik. “Parodi politik yang merupakan humor politik itu relatif tidak ada batasnya,” ujar Effendi menirukan Gus Dur. Masih mengutip Gus Dur, Effendi mengatakan, pemimpin dan bangsa yang kuat adalah mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri.

Menyoal dukungan yang diberikan Gus Dur, Effendi sendiri merasa terkejut. Karena, kata Effendi, ketika bertemu di rumah sakit Gus Dur tidak membicarakan soal bantuan kuasa hukum tersebut. “Setelah pulang dari rumah sakit, tiba-tiba Pak Ikhsan Abdullah SH (kuasa hukum Gus Dur dan PKB, red) menelepon saya dan menyatakan siap membantu jika pemerintah serius melakukan somasi,” ungkap Effendi.

Munculnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari mantan presiden tersebut membuat Effendi dan kawan-kawan tetap bersemangat menelorkan kreatifitas yang memberikan proses pendidikan dalam melakukan komunikasi politik pada era demokrasi.

PMII Cabang Tegal

“Ini hadiah dari Gus Dur untuk kreatifitas dan dukungan keluarga news.com di seluruh Indonesia. Ini betul-betul surprise. Terima kasih patut kami sampaikan kepada Gus Dur, Ibu Mega dan keluarga Pak Harto yang bisa memahami dan menerima tayangan parodi politik itu,” imbuh Effendi.

Pemerintah Telinga Tipis

Sebelumnya, pendapat senada juga keluar dari mantan Presiden Megwati Soekarnoputri. Megawati, seperti dituturkan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Pramono Anung, tak mempermasalahkan penampilan tokoh Megakarti yang menirukan sosok Megawati. Menurutnya, hal itu masih dalam batas yang wajar.

“Ibu tidak pernah komentar dan senyum-senyum saja melihat tontonan yang menampilkan sosok Megakarti,” ungkap Pramono Anung kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jumat (2/3) lalu.

PMII Cabang Tegal

Rencana somasi itu, lanjut Pramono, menunjukkan betapa pemerintah memiliki telinga tipis dan tidak siap menerima kritik. “Ini konsekuensi pemimpin dan pemerintah yang lahir dalam era reformasi yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan berekspresi. Para pemimpin itu harus siap menghadapi parodi politik seperti yang ditampilkan dalam tayangan Republik Mimpi,” papar Pramono.

Apalagi, lanjutnya, parodi yang ditampilkan itu mengungkapkan realitas yang selama ini dirasakan dalam masyarakat. Sebab itu, jika alasan somasi yang bakal diajukan pemerintah itu berkaitan dengan soal etis atau tidak etis, sebaiknya masyarakatlah yang memberikan penilaian. “Silakan tanya masyarakat dong, apa betul acara itu tidak etis. Masyarakat itu sudah pintar dan punya swa-sensor dalam dirinya untuk menentukan etis tidaknya sebuah tayangan televisi,” tandas Pramono. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Merebus Putra Kyai

Mari kita peringati Hari Pendidikan Nasional kali ini, 2 Mei, dengan membaca tulisan  berjudul Memperbaiki Pesanteren atau Pondok karya A. Karim Hasyim, yang dimuat di majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) No. 12 Tahun 9. Mengapa hari pendidikan kita bicara pesantren? 

Jawabnya, karena pesantren bagian dari dunia pendidikan yang telah tumbuh berabad-abad silam, dan sekarang masih tegak berdiri. Pesantren tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan di negeri ini. Sebelum mengemukakan isi tulisan yang terbit pada  April 1940, alangkah baiknya kita mengenal sekelumit tentang penulisnya, yaitu A. Karim Hasyim.

Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)
Merebus Putra Kyai (Sumber Gambar : Nu Online)

Merebus Putra Kyai

A. Karim Hasyim adalah putra dari salah seorang guru besar Islam di Tanah Jawa dan juga pendiri Nahdlatul Ulama Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Karim Lahir di Jombang, tahun 1919. Jaman bergolakan mengusir penjajah, ia adalah satu dari sekian pejuang berlatar belakang pesantren. Guru agama adalah rutinitas kesehariannya. Almagfurlah KH A. Karim Hasyim menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, sepinggal kakaknya, KH A. Wahid Hasyim. Seperti para sesepuh kita dahulu, A. Karim Hasyim adalah Kyai Haji, tapi ia lebih suka mengawali al-Faqir di awal namanya.

Di dalam tulisan tersebut, yang secara khusus diberi “rubrik” bernama Zelforrectie (bahasa Belanda: koreksi diri), Karim menyoroti masa depan pesantren dan para santri. Namun, tulisan tersebut melihatnya dari sisi kyai dan putranya, sebagai pengasuh dan generasi penerus pesantren. Kenapa kyai dan putranya? Ia menjawab bertanyaan ini dengan bertanya pula, “Di mana ada teluk, di situ timbunan kapal bukan?” 

PMII Cabang Tegal

Yang menarik, persis sebelum halaman yang memuat tulisan Kyai Karim, majalah Berita Nahdlatoel Oelama ini menampilkan tulisan kakaknya, Kyai Abdul Wahid Hasyim, judulnya Boeat Goeroe. Isinya, kritik tajam tentang pendidikan zaman itu. Dalam tulisannya, Kyai Wahid mengatakan, kemunduran sekolah bukan saja ada pada kemunduruan “pelajaran”, tapi juga mendera bidang “pendidikan”. 

PMII Cabang Tegal

Ada lagi kemoendoeran madaris (sekolah) kita jang lebih menjoesahkan dan lebih meroegikan, jaitu kemoendoeran dalam hal pendidikan,” tulis Kyai Wahid.

Kyai wahid mengungkapkan, sifat-sifat yang seharusnya tidak ada pada diri murid-murid dan lulusan sekolah, justru menempel erat, seperti penakut dalam segala hal, selalu bergantung kepada orang lain, mau menjual pendiriannya, menaruh kepentingan agama di belakang, cuma memikirkan kepentingan perutnya sendiri, mau menghambakan dirinya pada uang dan pangkat serta jabatan.

Tapi sifat-sifat yang seharusnya ada pada diri murid-murid dan alumni sekolah, kata Kyai Wahid, hilang. Sifat-sifat yang hilang itu adalah berani karena benar, pandai berusaha sendiri, teguh dalam pendirian, mau mengorbankan tenaga untuk agama, mengutamakan kepentingan umum, tahu akan harga diri dan lain-lain.

Kembali pada duduk perkara yang dibahas Karim. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa gelar kyai, sejak jaman dahulu, tidak mudah disematkan ke sembarang orang. Orang yang digelari kyai juga cenderung menghindar karena berat tanggungannya. 

“Tiada moedah orang akan mentjapai gelar kiai. Roh dan djiwanja harus koeat,” tulis Karim yang saat itu berusia 21 tahun.

Ia menjelaskan makna kuat itu dengan orang yang berjiwa “Islam” 100 persen, bukan berjiwa “Selam”, artinya nyesaki alam, alias hanya bikin penuh jagat raya saja. 

Ia berhujah, tanggungan yang berat pada kyai juga tidak hanya dialami semasa hidup, tapi juga ketika meninggal dunia, karena beban itu menurun pada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Di sinilah, Karim mulai mengupas putra-putra kyai, mungkin juga mengupas dirinya. Katanya, kyai muda itu kurang cakap dalam mengasuh pesantren. Sebab, kyai muda tersebut kurang mendapat asuhan dan perhatian yang sempurna. Pada saat yang sama, Karim juga mengkritik santri yang lebih takut kepada putra kyai daripada harimau, padahal putra kyai tersebut tidak lebih pandai daripada santrinya. 

Keadaan putra kyai dalam amatan Karim ini disebabkan karena beban berat serta tanggung jawab seorang kyai yang banyak, sehingga tidak dapat mengurus dan memperhatikan putra-putra sendiri.

Dikatakannya, ketidaksempurnaan dalam mengasuh anak-anak itu, bukan karena kyai itu tidak tahu menahu ujung pangkal ilmu tarbiyah (pendidikan) atau tidak pernah membaca buku para pemikir dari Eropa, tapi karena tidak punya waktu, tidak ada waktu. Semenjak kecil, kata Karim, putra kyai itu tak dapat pendidikan dan latihan-latihan yang sempurna.

“Sajang, seriboe kali sajang, mereka itoe poetera-poetera harimau, tetapi tiada bertaring, mereka itu poetera-poetera singa tetapi ta’dapat mengaoem, dan meraka itoelah poetera-poetera banteng, tetapi ta’ bertandoek."

Tentu saja, pendapat Karim di atas tidak sedang menggebyah uyah, karena mungkin kita tahu, tidaklah sedikit anak turun kyai pandai dan bijaksana. Bahkan mungkin, tanpa mengurangi rasa hormat pada orang tua, lebih pandai dari anaknya. Kita sama-sama melihat, banyak orang tua yang tidak nyantri, tapi ia berhasil memesantrenkan anaknya bertahun-tahun, jauh dari rumahnya, ke luar daerah, bahkan hingga ke Mekkah. Sekedar contoh, Gus Dur, di samping memiliki ilmu agama, juga memahami sastra, musik, hingga sepak bola, sesuatu yang mungkin tidak digeluti oleh buyutnya.

Tulisan Kyai Karim tidak lebih adalah menangkap gejala, bahwa ada di antara putra kyai, pada waktu itu, kurang mendapat perhatian. Bapaknya pergi jauh ke luar daerah, guna syiar Islam, untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama, tidak bisa pulang pada hari itu juga, karena belum ada pesawat. Kalau pun ada di rumah, para kyai sibuk mengajar anak orang lain di pesantrennya, menerima tamu, menikahkan tetangganya, mendoakan orang mati, dan sebagainya dan sebagainya. 

Hal lain yang sebetulnya sedang diutarakan Karim adalah, menasehati teman-temannya sesama kyai. Kita tahu jaman itu bangsa sedang membutuhkan orang-orang, kyai-kyai, yang mengerti tatanan sosial, mempunyai keluasan ilmu, dan ide cemerlang, dan ikhlas berjuang untuk membangun bangsa berdaulat.  

“Tapi, jangan lupa anak sendiri,” mungkin begitu peringatan Kyai Karim pada teman-teman seperjuangannya.

Kyai Karim, yang wafat di Mekkah tahun 1973, menyatakan tulisan tersebut dimaksudkan untuk turut memperbaiki pesantren kita, karena pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Ia mengaku dengan tulisannya ini memang ingin “mengganggu” para putra kyai. 

“Tapi dengan tjara itoe, boekannja penoelis bentji, atau mengandjoer-andjoerkan agar jangan kita menghormati para poetera kiai, itoe sekali-kali tidak, kita wajib hormat-menghormati dan harga-menghargai, tetapi kalau kita tahoe bahwa ada di antara kita ada jang salah, kita wadjib poela mengingatkannja, demikian poela sebaliknnya,” jelasnya.

Di akhir tulisan, Kyai Karim berkesimpulan bahwa memperbaiki pesantren harus dengan memperbaiki para santri, dan para santri itu tak dapat diperbaiki dan menjadi masak manakala para putra kyai tidak kita rebus dahulu dalam periuk pendidikan hingga masak benar. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pendidikan, Nahdlatul, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang

Jombang, PMII Cabang Tegal. Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Kabupaten Jombang, Jawa Timur akan menggelar Sekolah Kader Kopri (SKK) se-Jawa Timur pada 10-12 November 2016 mendatang di aula kantor Muslimat NU setempat.?

SKK ini adalah kegiatan kaderisasi perdana yang diselenggarakan Kopri Cabang Jombang. Ketua Pelaksana SKK, Syafik Syafaatin mengungkapkan persiapan untuk kegiatan tersebut hingga saat ini masih terus dilakukan, termasuk koordinasi antar panitia dan sejumlah Pengurus Komisariat PMII se-Jombang sebagai calon peserta. Selain itu, juga calon peserta di luar daerah.?

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Kader Kopri Perdana Se-Jawa Timur Berlangsung di Jombang

"SKK Kopri Cabang Jombang, ini baru yang pertama kali, makanya kami selaku panitia aktif melakukan sosialisasi baik kader putri dalam Jombang, maupun luar Jombang," terang Syafa, sapaan akrabnya, Selasa (1/11/2016).

Sementara untuk narasumber kegiatan, Syafa menjelaskan akan mendatangkan orang-orang yang memang dianggap kompeten di masing-masing materi SKK. Diantaranya ? Ketua Kopri PKC Jawa Timur, Nafis, Ema Umiyatul Chusnah (Anggota DPRD Jombang), Ai Rahma (Ketua Kopri PB), Aan Anshori (Gusdurian Jombang), Roy Murtadho (Islam Bergerak), Hj Istibsjaroh (Mantan DPD RI), Palupi Pusporini (Direktur WCC Jombang).

Namun demikian, sesuai persyaratan yang berlaku, sebelum digelar SKK, para peserta setidaknya pernah mengikuti Sekolah Islam Gender (SIG) atau Sekolah Kader Putri (SKP) sebelumnya. Syafa menjelaskan, dirinya sudah berkoordinasi dengan Nafis perihal SIG atau SKP.?

PMII Cabang Tegal

"Kita sudah mengkoordinasikan dengan Ketua Kopri PKC Jawa Timur, Sahabat Nafis, jika memang peserta yang mau ikut SKK, harus SIG atau SKP dahulu," imbuh Syafa yang juga Sekretaris Kopri Cabang Jombang itu.

PMII Cabang Tegal

Ia berharap dengan diselenggarakannya kegiatan ini, akan muncul kader putri PMII yang tangguh, dan sadar akan potensi dalam diri masing-masing. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Khutbah, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Soal Kemiskinan jadi Prioritas

Bandung, PMII Cabang Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, Kamis? (31/5) besok, menyelenggarakan Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) dan Konferensi Idarah Wustho Jam’iyyah Ahli Thariqah Al Mu’tabarah? An-Nahdliyyah Jawa Barat. Musyawarah akan diberlangsungkan selama tiga hari di kampus hijau Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu.

?

Menurut Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat H Surjani Ichsan yang juga Ketua Panitia acara, Mukerwil NU mengangkat masalah pemberdayaan pendidikan dan ekonomi di Propinsi Jawa Barat yang saat ini semakin memperihatinkan. Terdapat 3,5 juta keluarga miskin dari 10,5 juta keluarga dan sebagian diantara mereka adalah warga Nahdliyyin.

Soal Kemiskinan jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kemiskinan jadi Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kemiskinan jadi Prioritas

“Jumlah itu cukup memprihatinkan terutama setelah dilanda kenaikan harga bahan pokok. Sehingga jika perekonomiannya dibenahi maka akan meningkatkan mutu pendidikan anak dari keluarga mereka," katanya.

Disamping itu juga Mukerwil NU juga akan memerintahkan agar PW Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan RMI bisa menangani perihal pendidikan. Sehingga anak-anak yang orang tuanya kurang mampu akan dapat sejajar dengan mereka bisa mengenyang pendidikan.

PMII Cabang Tegal

”Mudah-mudahan melalui Mukerwil ini apa yang akan dihasilkannya menjadi diantara solusi bangsa dalam mengurangi kemiskinan dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Surjani Ihsan.

Mukerwil NU dan Konferwil Thariqot tersebut rencananya akan dibuka secara bersamaan sekitar jam 09.00 oleh Gubernur Jawa Barat dan Taushiyah umum akan disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi.

?

PMII Cabang Tegal

Peserta Mukerwil NU dan Konferwil Thariqot diikuti oleh 25 utusan cabang NU, seluruh Pimpinan Wilayah Lembaga, Lajnah dan Badan Otonom NU? tingkat Jawa Barat. (din/san)



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Kajian Islam, Budaya, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka

Bandung, PMII Cabang Tegal. Empat aktivis PMII Cabang Kabupaten Bandung mengalami luka berat akibat represi aparat keamanan saat berunjuk rasa di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, Senin (28/01).

Keempat orang itu adalah Muhsin Haitami, Hamdani Huliman, Kalis Romi Tanji dan Dhomiri Al-Ghozali. Korban aksi kekerasan tersebut dirawat di Rumah Sakit Al-Islam, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo KPU, 4 Aktivis PMII Bandung Terluka

Menurut rilis yang diterima PMII Cabang Tegal, dua di antara korban tersebut sudah pulang. Sementara sisanya masih dalam perawatan.

PMII Cabang Tegal

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Barat Edi Rusyandi, mengatakan aksi tersebut adalah menyampaikan beberapa tuntutan terhadap Ketua KPU Jawa Barat Yayat Hidayat.

PMII Cabang Tegal

Pasalnya, KPU dianggap telah gagal dalam mempersiapkan pelaksanaan Pilgub Jabar tahun 2013 yang menghabiskan dana hingga Rp 1 Trilun lebih. Diantara kegagalan tersebut adalah proses lelang surat suara, minimnya sosialisasi, serta penyusutan daftar pemilih tetap (DPT).

“Mulanya aksi berlangsung tertib. Keributan terjadi akibat provokasi aparat yang menangkap salah satu massa aksi. Padahal pada saat itu massa aksi sudah berangsur untuk membubarkan diri dari lokasi aksi," ujar Edi.

Atas dasar peristiwa tersebut, PKC PMII Jawa Barat menyatakan sikap; pertama, mengecam tindakan represif aparat polisi terhadap aksi demontrasi PMII Kabupaten Bandung di KPU Jawa Barat.

Kedua, PKC PMII Jawa Barat mendukung sepenuhnya aksi yang dilakukan oleh PC PMII Kabupaten Bandung. Ketiga, mendesak institusi polisi dalam hal ini Polrestabes Bandung dan Polda Jabar untuk menindak tegas anggotanya yang melakukan tindak kekerasan terhadap kader PMII Kabupaten Bandung.

Keempat, mendesak Kepala Polrestabes Bandung untuk menyampaikan permohonan maaf secara institusi di media baik cetak maupun elektronik selama 7 (tujuh) hari berturut-turut; Kelima, jika permintaan ini tidak diperhatikan, PKC PMII Jawa Barat akan menggelar aksi besar-besaran untuk menduduki KPU Jawa Barat. Keenam, mengintruksikan kepada PC PMII Se Jawa Barat untuk menggelar aksi solidaritas atasaksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat Polrestabes Bandung.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, RMI NU, Cerita PMII Cabang Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi

Oleh Abdullah Alawi

Facebook hari ini memberi tahu, bahwa pada 28 April 2014, saya mengunggah foto saya dengan Idris Sardi. Saya memosting foto itu saat mendengar kabar Idris Sardi meninggal pada tanggal yang sama di tahun itu.?

Foto yang diunggah itu adalah saat saya mengobrol dengan maestro piano di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Oktober 2012. Pada status itu, saya menulis demikian:

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi (Sumber Gambar : Nu Online)
Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi (Sumber Gambar : Nu Online)

Facebook, Kiai Said, dan Idris Sardi

? Yang namanya maestro, saya pikir adanya di langit dan tak terjangkau. Ia hanya ngobrol sesama dan dengan bahasa maestro saja. Tapi pada bulan Oktober 2012 saya bisa ngobrol dengannya. Ia asyik sekali. Kemudian marah karena saya menyapanya dengan "bapak". "Jangan panggil saya bapak," katanya, "tapi bang atau bung”.

Selamat jalan Bung Idris Sardi, semoga dirimu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin.

PMII Cabang Tegal

Pada waktu saya bertemu dengan Idris Sardi, saya masih belajar berwawancara. Dan sampai saat ini pun masih belajar. Saya bertemu dia dengan tidak sengaja karena tak menyangka pada acara pelantikan organisasi pencak silat, Pagar Nusa, ada seorang pemusik. Kalau pemain film lagi sih masuk akal. Misalnya Barry Prima atau paling banter George Rudy. Tapi ini maestro biola.?

Saat saya datang, acara belum dimulai. Saya hanya melihat kesibukan panitia dan seorang tua berkaos oblong putih, berkacamata, bercelana kuning berkeliling di antara sela-sela kursi yang bakal diisi hadirin. Dia berkeliling sambil menggesek-gesek biola seolah tak ada kerjaan lain. Tapi ketika saya simak, gesekannya enak sekali. Sepertinya saya pernah mendengarnya entah kapan, entah dimana. ?

PMII Cabang Tegal

“Idris Sardi,” kata panitia.?

Bukan main rasanya mendengar nama itu. Nama yang pada pikiran saya selalu berada jauh di sana. Sesuatu yang hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, apalagi mengobrolnya. Apalagi dipotret dengannya.?

Kemudian bergelegak dalam diri saya saya ingin sekadar bertanya, sejak kapan ia menyukai biola, bagaimana cara berlatihnya, dan saya ingin difoto bersamanya agar bisa dipamer di Facebook. Dengan berfoto dengannya, bukankah martabat saya akan sedikit terangkat beberapa cm?

Saya kemudian duduk di salah satu kursi bagian belakang, menonton pentas yang belum saatnya. Tapi menurut saya ini pentas juga. Karena tak ada orang lain, justru bagi saya ini adalah pentas untuk saya sendiri. Bayangkan seorang maestro yang dimiliki negeri ini pentas untuk saya sendiri. Bukankah itu suatu yang wah? Namun, sayang sang maestro tidak tahu, apalagi meniatkan pentas untuk saya. Tapi itu kan masalah dia. ?

Begitulah beberapa lagu dia mainkan melalui gesekan. Hanya saya kenal salah satu nada shalawat saja, yang lainnya lupa.?

Kemudian, acara pun dimulai. Tak perlulah saya menceritakan prosesinya. Dimana pun orang dilantik yang begitu-begitu aja. Kemudian maestro itu tampil. Awalnya duduk pada sebuah kursi, kemudian berjalan-jalan ke sana ke mari. Dan tentu saja tepuk tangan dari tangan para pendekar silat mengalir untuknya selepas pentas.?

Lalu naiklah seorang kiai. Dia belum assalamualaikum, sebagaimana para kiai memulai sebuah pidato, malah mengapresiasi gesekan sang maestro. Kiai Said Aqil Siroj, sepertinya kagum dengan dia.?

“Saya terharu, di acara seperti ini diiringi musik seperti ini. Meskipun sudah tidak muda lagi, penampilan Pak Idris sangat luar biasa!” dua kali kiai yang Ketua Umum PBNU itu bilang “luar biasa” diiring tepuk tangan para pendekar Pagar Nusa.

Kiai lulusan pesantren Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini kemudian menjelaskan musik. Ia menukil pendapat Syekh Dzu Nun Al-Mishri yang wafat tahun 221 Hijriyah.

“Musik adalah suara kebenaran yang bisa menggugah hati kita menuju Allah. Suara kebenaran, kejujuran. Kalau mulut bisa bohong, tapi musik tak bisa bohong,” katanya.

Oleh karena itu, sambung kiai yang juga doktor Umul Qurro ini, barangsiapa mendengarkan musik dengan khusyu, ia akan mencapai hakikat. Tapi barangsiapa yang mendengarkan musik dengan syahwat, ia akan menjadi zindiq, atau keluar dari Islam.

Idris Sardi juga sepertinya kagum dengan pernyataan Kiai Said tersebut. Ketika Kiai Said undur diri, Idris Sardi mengejarnya dan menyempatkan diri untuk bersalaman.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Ubudiyah PMII Cabang Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Banyuwangi, PMII Cabang Tegal



Selama bulan Ramadhan tahun ini pengurus takmir Mushala kantor PCNU Banyuwangi akan mengadakan kegiatan kajian kitab kuning secara bandongan sebagaimana dalam tradisi pesantren. Mushala kantor PCNU Banyuwangi di Jalan Ahmad Yani, nomor 59, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, menjadi pilihan tempat dalam pelaksanaan gelaran kajian rutin selama bulan Ramadhan ini.

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, NU Banyuwangi Kaji Empat Kitab Mbah Hasyim

Saat dimintai keterangan, ketua takmir mushala PCNU Banyuwangi mengatakan ada beberapa kitab yang akan dikaji. Mulai dari kitab fiqih, tauhid, sejarah, ke-NU-an dan keaswajaan, dan lain sebagainya.

"Ini sebagai upaya untuk menyambut Ramadhan dengan amaliah yang baik sekaligus memakmurkan kantor NU. Dan saya akan mengundang pengurus NU beserta banomnya di setiap tingkatan. Tak terkecuali pula masyarakat umum yang ingin menghadiri kajian ini," jelas Haikal kepada PMII Cabang Tegal di kantor PCNU Banyuwangi, Kamis (25/05) siang.

Kajian kitab dikhususkan kepada karya-karya yang ditulis oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari. "Karya Kiai Hasyim sengaja kami pilih karena memiliki makna ganda. Tidak hanya memperkuat keimanan, juga bertujuan untuk memperkuat ideologi ke-NU-an," tutur Haikal.

Secara teknis ada empat judul kitab yang akan dikaji mulai selepas shalat Ashar sampai jelang buka bersama. Kitab pertama Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, Kitab kedua At-tibyan, ketiga Muqoddimah Qonun Asasi, dan terakhir Arbaina Hadistan Nabawiyah, imbuh Haikal.

PMII Cabang Tegal

"Saya tentukan untuk kitab pertama akan dipandu oleh Katib Syuriah MWC NU Banyuwangi Fata Zamroni di setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Kitab kedua disambung oleh Wakil Rais Syuriah MWC NU Kecamatan Banyuwangi Ahmad Syakur Isnaini di setiap hari Senin dan Sabtu. Dan kitab ketiga akan dipandu oleh Direketur Aswaja NU Center PCNU Banyuwangi Kh. Abdillah Asad di hari Jumat kedua dan keempat. Terakhir Rais Syuriah MWC NU Blimbingsari Sunandi Zubaidi akan memandu kitab keempat di hari Jumat minggu pertama dan ketiga," terang Haikal.

"Sengaja pemateri kita buat bergantian harapan kami supaya lebih efektif dan para hadirin tidak merasakan bosan saat pengajian," tegas Haikal.

Haikal menambahkan, kalau ingin memiliki kitab pengajian bisa didapat di panitia dengan mengganti bisyarah lima puluh ribu rupiah. "Akumulasi biaya bisyarah penggantian kitab ini juga diperuntukkan biaya akomodasi kegiatan," terangnya.

Dan terakhir Haikal menyampaikan, para peserta yang hadir juga mendapatkan takjil gratis yang disiapkan panitia. "Para peserta atau lainnya juga bisa menyumbang takjil atau juga bahan berbuka lainnya untuk kegiatan yang disupport oleh Lakpesdam MWC NU Banyuwangi dan disiarkan langsung oleh radio PMII Cabang Tegal Banyuwangi ini," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

PMII Cabang Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Internasional, Pahlawan, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Ma’arif NU Lampung Beri Beasiswa Pendidikan kepada Para Penghafal Qur’an

Pringsewu, PMII Cabang Tegal

Ketua LP Ma’arif NU Provinsi Lampung H Fauzi adalah sosok yang sangat komit dan inten berkiprah dalam dunia pendidikan di Provinsi Lampung. Dengan keuletan dan kegigihannya, Alumni S3 Universitas Gajah Mada ini berhasil mendirikan sejumlah perguruan tinggi di beberapa Kabupaten di Provinsi yang dijuluki Bumi Ruwai Jurai tersebut.

Perguruan Tinggi yang berhasil didirikannya tersebut tidak semata diikuti oleh para mahasiswa yang hanya mampu dalam hal finansial. Dalam hal agama, Fauzi juga memberikan kesempatan kepada para Penghafal Quran (Hafiz dan Hafizah) untuk dapat mengenyam pendidikan di Peguruan Tinggi miliknya.

Ma’arif NU Lampung Beri Beasiswa Pendidikan kepada Para Penghafal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Lampung Beri Beasiswa Pendidikan kepada Para Penghafal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Lampung Beri Beasiswa Pendidikan kepada Para Penghafal Qur’an

Para Hafiz Qur’an tersebut tidak hanya dapat berkuliah dan mendapatkan ilmu sesuai dengan jurusan yang dipilihnya. Namun mereka juga mendapatkan beasiswa kuliah gratis di lima Perguruan Tinggi miliknya yang tersebar di empat Kabupaten di Provinsi Lampung.?

Menurutnya, langkah yang dilakukannya ini adalah dalam rangka memuliakan para hafiz hafizah dengan memberikan kesempatan berkiprah di dunia pendidikan. Selain itu Ia ingin keberkahan selalu menaungi Kampus yang didalamnya terdapat para Hafiz dan Hafizah.

"Saya ingin memberikan fasilitas kepada mereka untuk menekuni dunia pendidikan formal di Kampus sehingganya insyaallah akan membawa manfaat bagi mereka dan membawa keberkahan bagi kami," ujarnya disela kesibukan hariannya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Rabu (26/5).

PMII Cabang Tegal

Ditemui ditempat terpisah Wakil Ketua Bidang III STIT Pringsewu Abdul Hamid menjelaskan bahwa lima Perguruan Tinggi yang memberikan beasiswa gratis kepada para hafidz yaitu STMIK Pringsewu, STIT Pringsewu, STIT Multazam Lampung Barat, STEBI Tanggamus ataupun STIE Lampung Timur.

Abdul Hamid yang juga Hafiz Quran ini menjelaskan bahwa bagi Alumni SLTA yang sudah menghafal Al Quran dan ingin melanjutkan kuliah bisa langsung mendaftarkan diri pada Tahun Akademik 2016-2017 ini.

PMII Cabang Tegal

"Silahkan hubungi saya atau langsung datang ke kampus untuk melewati rangkaian proses yang salah satunya adalah test kemampuan menghafal Quran," kata Hamid yang juga Pengurus JQHNU Kabupaten Pringsewu.

Ia mengatakan bahwa program ini ditujukan sebagai apresiasi terhadap para penghafal quran khususnya di Provinsi Lampung. "Mudah mudahan dengan program ini banyak para pelajar yang termotivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an. Sehingga Kitab Suci kita tersebut dapat tertanam pada jiwa jiwa generasi penerus kita," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, RMI NU, Halaqoh PMII Cabang Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

Sujud adalah salah satu momentum di mana Allah SWT dan hamba-Nya begitu dekat. Rasulullah SAW memanfaatkan kesempatan ini untuk memohon ampun atas segenap kekurangannya di hadapan Allah.

Istighfar ini dibaca Rasulullah SAW di salah satu sujudnya.

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Istighfar Rasulullah SAW Ketika Sujud

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

PMII Cabang Tegal

Allâhummaghfirlî dzanbî kullah, diqqahû wa jullah, wa awwalahû wa âkhirah, wa ‘alâniyatahû wa sirrah.

PMII Cabang Tegal

Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku dari segala dosa baik kecil maupun besar, awal maupun akhir, dan dosa yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.”

Pilihan kalimat dalam istighfar di atas tampak begitu kuat dan menyeluruh. Rasulullah SAW mengajarkan istighfar ini untuk umatnya yang penuh dosa. Riwayat permohonan ampunan dosa ini disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Aswaja PMII Cabang Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Putusan Bahtsul Masail Diapresiasi Sebagai Produk Intelektual

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Katib Syuriyah PBNU KH Shalahuddin Al-Ayyubi mengapresiasi putusan bahtsul masail NU sebagai produk intelektual. Menurut Kiai Shalahuddin, putusan itu keluar dari forum diskusi ilmiah mendalam dan kritis menyangkut sebuah persoalan umat.

Putusan Bahtsul Masail Diapresiasi Sebagai Produk Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)
Putusan Bahtsul Masail Diapresiasi Sebagai Produk Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)

Putusan Bahtsul Masail Diapresiasi Sebagai Produk Intelektual

Kiai Shalahuddin dalam rapat persiapan Munas-Konbes NU 2014 di ruang Syuriyah PBNU mengatakan, “Bahtsul masail di setiap tingkat kepengurusan NU manapun harus dijunjung tinggi.”

Ia menunjuk pada forum bahtsul masail yang diadakan pengurus NU tingkat ranting hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pernyataan Kiai Shalahuddin dibenarkan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU KH Cholil Navis yang juga hadir dalam rapat.

PMII Cabang Tegal

Menurut Kiai Cholil, putusan bahtsul masail ini bernilai ilmiah. Karena, putusan bahtsul masail dirumuskan para kiai setelah mendalami dan menyerap pandangan dari para pakar yang menguasai persoalan baik kalangan akademisi maupun pejabat publik.

PMII Cabang Tegal

“Mekanisme bahtsul masail di setiap tingkatan NU juga menggunakan metodologi ilmiah yang teruji,” kata Kiai Cholil menunjuk sejumlah pasal dalam kitab Ushul Fiqih.

Forum rapat ini tengah membentuk tim untuk membuat rancangan pedoman pelaksanaan terkait mekanisme bahtsul masail yang pernah diamanahkan dalam Munas NU di Lampung pada 1992. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Khutbah, Nahdlatul, Jadwal Kajian PMII Cabang Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ menyampaikan ceramahnya dalam Sarasehan Nasional Kritik Film Senyap dan Sejarah PKI yang digelar Direktorat Sejarah Kemendikbud Jatim dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Jatim di Surabaya, Sabtu (30/5) kemarin.

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Sejarah Harus Ditulis Secara Proporsional

Menurut Mun’im simpati kepada para korban PKI jangan sampai melupakan kekejamannya. "Sejarah harus ditulis secara proporsional,” kata penulis buku Benturan NU-PKI 1948-1965 ini.

Terkait penyebaran film bertajuk “Senyap” atau The Look of Silence yang antara lain berkisah tentang kisah hidup para keluarga eks PKI, menurut Mun’im, film ini malah mengacaukan sejarah.

PMII Cabang Tegal

“Film ini lemah secara sinematografi karena alurnya jauh dari skenario yang dimaui sendiri, tak ada pendalaman peristiwa, tak ada ketegangan,” katanya.

Secara historiografi, tambahnya, film Senyap lemah karena hanya menampakkan penggalan sejarah yang tak tersambung satu sama lain. Film karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer ini tidak layak disebut film tapi reportasi jurnalistik yang gagal, katanya.

PMII Cabang Tegal

“Satu-satunya kekuatan film ini hanyalah karena mendapatkan dukungan politik dunia internasional,” kata Mun’im DZ dalam sarasehan yang dihadiri sejarawan Unesa Surabaya Prof Aminuddin Kasdi, Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia Restu gunawan dan beberapa saksi sejarah peristiwa 1965. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Habib PMII Cabang Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Muslimat NU Tingkatkan Pelayanan Kesehatan

Jakarta, PMII Cabang Tegal. Muslimat Nahdlatul Ulama terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat. Hal itu ditandai dengan digelarnya workshop peningkatan kualitas pelayanan kesehatan Muslimat NU, di Hotel Kaisar, Jakarta, 7-8 Juni.

Muslimat NU Tingkatkan Pelayanan Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Tingkatkan Pelayanan Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Tingkatkan Pelayanan Kesehatan

Workshop ini juga sebagai persiapan menyongsong pemberlakuan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) 2014 mendatang. Penyelenggara kegiatan ini adalah Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM) dan diikuti Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, YKM-NU Wilker I Provinsi, YKM-NU Wilker II Kabupaten dan Kota, dan fasilitas pelayanan kesehatan potensial di lingkungan YKM-NU.

Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, salah satu tujuan pembangunan nasional adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi menjadi tolok ukur dalam penentuan tingkat Human Development Index (HDI) suatu negara.?

PMII Cabang Tegal

“Dicanangkannya MDGs (Millenium Development Goals) makin memperjelas sangat pentingnya peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut, khususnya kesejahteraan Ibu dan Anak,” ungkapnya pada acara pembukaan workshop, Kamis (7/6).?

Menurutnya, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Karena itu, pola pembangunan yang partisipatif menjadi sangat penting. Pemerintah harus mendengar dan mengakomodir keinginan masyarakat dalam membuat suatu kebijakan publik.?

PMII Cabang Tegal

“Di lain pihak dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat harus berpartisipasi secara aktif dan tidak hanya menyerahkan semuanya kepada Pemerintah,” jelasnya.

YKM NU, katanya, saat ini telah memiliki 76 fasilitas pelayanan yang terdiri dari rumah sakit, rumah bersalin, klinik dan balai pelayanan kesehatan. Disamping itu, YKM NU juga punya 106 panti asuhan yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Tentu itu merupakan potensi yang tidak sederhana. Namun masih diperlukan konsolidasi internal, khususnya di setiap Fasyankes. Diperlukan konsolidasi antara struktur internal organisasi, yaitu Pengurus YKM NU di masing-masing tingkatan Propinsi dan Kabupaten/Kota, dan YKM NU Pusat melalui pertemuan di tingkat Nasional,” tuturnya.?

Lebih lanjut, Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur ini mengatakan, workshop kali ini diharapkan mampu mewujudkan penguatan jejaring pengurus YKM NU di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di lingkungan YKM-NU dalam menghadapi perubahan sebagai dampak pelaksanaan UU Kesehatan, UU RS dan UU BPJS.?

“Perlu ada pemahaman yang sama terhadap perubahan yang telah dan akan terus terjadi di sektor kesehatan sebagai dampak pelaksanaan UU Kesehatan, UU RS dan UU BPJS,” jelasnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru

Payakumbuh, PMII Cabang Tegal. Kader GP Ansor di Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh tengah berbenah diri. Melihat kompleksitas tantangan ke depan, Ketua baru GP Ansor 50 Kota dan Ketua GP Ansor Payakumbuh mengemban amanah meningkatkan kualitas internal di samping menebarkan benih Islam NU yang rahmatan lil alamin.

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru

Wakil Ketua GP Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman mengungkapkan hal itu pada Konferensi Cabang GP Ansor kabupaten 50 Kota di Aula TPQ Masjid Nurul Falah Nagari Taeh Baruah, kecamatan Mungka, 50 Kota, Sabtu (7/2).

Menurut Rahmat, sudah saatnya kader Ansor harus bergerak cepat. Kader harus segera membenahi organisasi sehingga mampu berbuat untuk kepentingan umat. Mereka yang menghidupkan Ansor, Insya Allah hidupnya akan berkah.

PMII Cabang Tegal

"Gencarnya gerakan Islam radikal di Tanah Air  saat ini harus dilawan dengan gerakan paham Aswaja yang mengajarkan kedamaian dalam beragama. Ansor harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi Islam garis keras yang mencoreng Islam," kata Rahmat, mantan Ketua IPNU Padangpariaman ini.

PMII Cabang Tegal

Pengurus terpilih harus fokus terhadap masalah-masalah yang dihadapi Ansor. Kader Ansor yang dominan di pedesaan dihadapkan pada masalah kedangkalan agama, terbatasnya akses ekonomi dan akses pendidikan. Kedangkalan agama ditingkatkan dengan program Rijalul Ansor, lemahnya ekonomi dengan program penguatan lembaga ekonomi syariah dan akses pendidikan ditingkatkan melalui program penguatan lembaga pendidikan, kata Rahmat.

Konfercab Ansor 50 Kota mengamanahkan Roziwan sebagai Ketua GP Ansor 50 Kota. Konfercab Ansor 50 Kota berlanjut dengan Konferensi Cabang GP Ansor Kota Payakumbuh   di aula Kantor Urusan Agama (KUA) Payakumbuh Timur. Ketua  terpilih Maulana yang sebelumnya diamanahkan sebagai Satkorcab Banser Kota Payakumbuh. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

Surabaya, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Surabaya akan menggelar malam Nuzulul Quran? dengan menampilkan sembilan Qori-Qoriah tingkat Nasional dari? Jawa Timur di Taman Bungkul Surabaya, Senin (27/6) mendatang. Acara tersebut juga bersamaan dengan peresmian mushola di wilayah Taman Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

Ketua panitia Ulya Abdillah menjelaskan, kegiatan tersebut akan diikuti kurang lebih 1000 warga dan jamaah Nahdliyin di Surabaya.

"Kami tidak mengundang jamaah NU yang begitu besar, karena kapasitas tempat yang tidak memungkinkan dan mengingat acara yang bersamaan dengan kegiatan ibadah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan," ujarnya, Jumat (24/6) saat dihubungi PMII Cabang Tegal.

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

Malam Nuzulul Quran juga akan menampilkan gema Sholawat Nabi oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama Kota Surabaya dan Group Al Banjari. Kemudian dilanjutkan ceramah Nuzulul Quran oleh KH Sholeh Sahal LC.

Lebih Lanjut, Wakil Ketua PCNU Surabaya ini mengungkapkan momen peringatan Nuzulul Quran di Taman Bungkul nanti juga sekaligus menandai status Mushola Sunan Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

PMII Cabang Tegal

Dengan perubahan status tersebut pihak PCNU Surabaya berencana akan memulai renovasi masjid di tahun ini. Selain itu keberadaan masjid ini diberharapkan area makam Sunan Bungkul sebagai tujuan wisata religi di Surabaya lebih tertata dan terpelihara secara rapi sehingga para jamaah yang berziarah lebih nyaman dan tidak terganggu keramaian.

"Oleh karena itu agar tujuan dan hajat terkabul sebelum malam peringatan Nuzulul Quran, PCNU Surabaya menggelar Khotmil Quran di Mushola, dan sekaligus pembagian tajil dan buka puasa bersama dengan para jamaah peziarah makam Sunan Bungkul yang dilaksanakan oleh LAZISNU Surabaya," pungkasnya. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Syariah, Pondok Pesantren, Nahdlatul PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock