Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan

Subang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang sedang giat menunjukkan eksistensi jam’iyyah yang didirikan para ulama tahun 1926 tersebut dengan motto "NU makin dikenal, dicintai, dan dibutuhkan masyarakat."

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Subang KH Musyfiq Amrullah, untuk mencapai tersebut dimulai dengan pembenahan organisasi mulai dari MWC hingga ranting-ranting.

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan

Pihaknya juga merapatkan barisan di antara pengurus NU dengan mengadakan Majelis Rabuan, pertemuan yang digelar setiap hari Rabu, tiap seminggu sekali. Tujuannya untuk saling bertukar pikiran antara Banom, lajnah, dan lembaga NU Subang.

PMII Cabang Tegal

“Mereka sudah tahu semua, IPNU, Ansor, Fatayat, IPPNU, mereka kemudian sering berkoordinasi dengan kita. Kegiatan-kegiatan kita sejalur dan terkoordinasi dengan baik,” ujar Kiai Musyfiq.

PMII Cabang Tegal

Menurut Kiai pengasuh Pesantren At-Tawazun ini, NU Subang sering mengadakan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat, misalnya dengan menyelenggarakan Yaumul Ijtima’.

“Yaumul Ijtima’ ini digelar secara periodik tiap bulan. Selain ceramah, sering diadakan bahsul masail. Tempatnya pindah-pindah dari satu MWC ke MWC lain. Biasanya dilaksanakan di masjid-masjid dan pesantren-pesantren."

Yang sudah kita lakukan antara lain, sambung Ketua PCNU yang terpilih tahun 2008, Pesantren Al-Istiqomah, Cisalak, Pesantren Al-hidayah di Pagaden Barat, di As-Salfiyah di Pantura, di SMP NU Gofarona, Pesantren At-Tawazun, sisanya di masjid-masjid.

“Yaumul Ijtima’ yang dibarengi tabligh akbar biasanya dihadiri tidak kurang seribu orang,” ujarnya.

Pihaknya juga mengadakan pelatihan-pelatihan seperti kader khotib dan mubaligh, kepemimpinan, perekonomian dan pemberdayaan umat, hingga masalah hukum.

PCNU Subang juga menjalin hubungan silaturahim dengan pemerintah dan ormas-ormas lain. “Kita pernah mengadakan protes Perda miras bersama ormas-ormas lain. Dan selama ini tidak ada semacam gesekan.”

Kiai Musyfiq menambahkan, hubungan dengan kalangan non-Muslim juga pernah dilakukan; seperti yang dilakukan GP Ansor Subang yang menjaga gereja ketika kalangan Kristiani merayakan Natalan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam PMII Cabang Tegal

Rabu, 28 Februari 2018

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Jakarta, NU Onilne. Islam Nusantara mempunyai karakter yang khas, yakni tidak homogen. Umat Islam mempraktikkan ajaran dalam bentuk yang berbeda-beda. Nilai-nilai Islam mewujud dalam bermacam-macam tradisi yang diamalkan dari waktu ke waktu.

“Jawa Tengah dan Jawa Timur saja berbeda. Apalagi sampai ke Kalimantan dan Sulawesi,” kata sejarawan pesantren Zainul Milal Bizawie dalam diskusi Islam Nusantara di kampus utama STAINU Jakarta di kawasan Matraman Jakarta Pusat, Jum’at (8/5). Diskusi rutin ini diikuti para dosen dan pimpinan STAINU Jakarta.

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)
Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Menurutnya, tradisi keagamaan yang berbeda itu tidak perlu diseragamkan. “Kalau diseragamkan ya jadinya kayak Arab Saudi,” kata penulis buku “Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad” serta “Syekh Mutamakkin” itu.

PMII Cabang Tegal

STAINU Jakarta merupakan kampus yang pertama memelopori kajian Islam Nusantara. Dalam kesempatan itu, Milal mengingatkan, Islam Nusantara di STAINU bukan sekedar obyek penelitian. Sebaliknya, Islam Nusantara menjadi subyek atau semacam pisau analisa untuk mengamati dan menilai berbagai praktik keagamaan di luar.

PMII Cabang Tegal

Milal menambahkan, salah satu karakter Islam Nusantara dalam hal keilmuan seperti dipraktikkan di pesantren adalah prosesi pembaiatan. Ini berkaitan dengan sanad keilmuan dan pertanggungjawaban moral atas ilmu yang didapatkan.

Selain itu, Islam Nusantara mengenal konsep berkah atau barokah, dalam pengertian hubungan guru dan murid tidak berlangsung secara intelektual, tetapi juga spiritual. “Barokah inilah yang sekarang dihilangkan dari dunia akademis,” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Pada hakikatnya, tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Hanya Allah SWT yang dapat mengetahui kapan hari pembalasan itu akan tiba. Tetapi, Allah telah bermurah hati memberitahukan sedikit bocoran dari sekian banyak tanda-tanda akhir zaman. Ini tentu merupakan sifat kemurahan-Nya, agar kita sebagai hamba senantiasa waspada dan segera membekali diri dengan amalan-amalan ibadah sebagai sangu (bekal) hidup di akhirat kelak.

Imam Rofi’ie sengaja menyusun buku setebal 172 halaman ini, dengan tujuan yang sangat mulia, yakni agar kita selalu menyadari bahwa hari kiamat itu pasti nyata adanya, kendati tentang kapan waktunya masih dirahasiakan oleh Allah SWT. Dan sebagai hamba-Nya yang beriman, kita dapat menelisik tanda-tanda datangnya hari kiamat tersebut melalui bukti-bukti autentik yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi.

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Hikmah dari Tanda-Tanda Akhir Zaman

Di antara tanda-tanda akhir zaman, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah; ketika amanah telah disia-siakan, seperti; menyerahkan sebuah urusan (permasalahan) kepada orang yang bukan ahlinya. Pada dasarnya, menyia-nyiakan amanah terjadi karena disebabkan beberapa faktor, antara lain; ketika seseorang memiliki ambisi yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat luas, ingin memperkaya diri sendiri, minimnya ilmu pengetahuan agama, dan lain-lain.

Di negeri tercinta ini, tentu bisa kita lihat secara kasat mata, banyak pemimpin atau pejabat yang tidak lagi bisa dipercaya. Mereka kerap “menyia-nyiakan” amanah yang telah dipercayakan rakyat kepada mereka. Menyia-nyiakan di sini memiliki makna bahwa orang yang bersangkutan memendam karakter acuh tak acuh terhadap sesama, hanya mementingkan urusan perut sendiri, tak peduli jika orang lain sengsara akibat ulahnya (halaman 27-28).

PMII Cabang Tegal

Tanda-tanda akhir zaman yang berikutnya adalah ketika kebohongan semakin merajalela. Berbohong adalah sebuah sifat sekaligus penyakit berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat. Berbohong, sebagaimana pernah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu dari tanda-tandanya orang munafik. Sementara, agama mana pun di dunia ini, mengajarkan bahwa sikap orang munafik merupakan perbuatan keji dan seyogianya kita hindari. Di zaman sekarang ini, tentu kita dapat menyaksikan aksi-aksi kebohongan telah mulai marak bahkan menjadi hal yang lumrah. Ironisnya, mereka melakukan kebohongan secara terang-terangan tanpa merasa bahwa dirinya bersalah (halaman 31-35).

PMII Cabang Tegal

Bermegah-megahan dalam membangun masjid juga menjadi pertanda bahwa hari kiamat telah semakin dekat. Maksud dari “bermegah-megahan” di sini adalah ketika seseorang membangun masjid hanya untuk kebanggaan dan kesombongan hingga terpecahnya kerukunan di antara umat. Sementara masjid tersebut kosong atau sepi tanpa diisi dengan berbagai kegiatan ibadah (halaman 44).

Agama Islam sangat memuliakan kaum perempuan dan sangat menjunjung tinggi kehormatannya. Termasuk dalam tata cara berpakaian mereka pun syariat Islam telah mengaturnya dengan bijak, dengan tujuan agar mereka menjadi perempuan yang mulia dan terhormat, baik di mata sesama manusia, terlebih di mata agama (halaman 52-53). Jika kaum perempuan sudah tak lagi memiliki rasa malu mengumbar lekuk-lekuk keindahan tubuhnya, bahkan mereka kemudian merasa bangga memamerkan aurat di depan umum, maka ini menjadi sebuah indikasi bahwa hari kiamat telah semakin dekat (halaman 57).

Masih banyak tanda-tanda akhir zaman yang dipaparkan dalam buku ini. Seperti; semakin terkikisnya ilmu pengetahuan dari muka bumi ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa menimba ilmu (terutama ilmu agama) menjadi sebuah keharusan bagi setiap individu. Namun, pada kenyataannya, ilmu-ilmu agama semakin menyusut dari waktu ke waktu. Ini bisa dibuktikan dengan ketidakmampuan umat Islam untuk melaksanakan hal-hal yang telah diajaran dalam agama Islam. 

Bahkan, yang sangat menyedihkan, umat Islam semakin sedikit yang berminat mempelajari agamanya sendiri. Mereka lebih cenderung mengikuti tren budaya Barat yang sebagian besar bertentangan dengan syariat Islam. Sementara itu, kecanggihan teknologi semakin diminati untuk hal-hal negatif dan orang-orang yang pintar dalam masalah agama semakin hilang ditelan bumi. 

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menghilangkan ilmu secara sekaligus dari (dada) manusia. Akan tetapi, Allah akan menghilangkan ilmu agama dengan mewafatkan para ulama. Ketika tiada lagi para ulama, maka yang akan menjadi pemimpin di muka bumi ini adalah orang-orang jahil (bodoh) yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga keberadaan para pemimpin yang seperti itu tergolong sesat dan menyesatkan orang lain (halaman 154-156).

Judul Buku : Kenali Peristiwa-peristiwa Tanda Akhir Zaman

Penulis : Imam Rofi’ie

Penerbit : Najah

Cetakan : I, September 2013

Tebal : 172 halaman

ISBN : 978-602-7663-66-4

Peresensi: Sam Edy Yuswanto, penulis lepas, bermukim di Kebumen

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal PonPes, Ulama, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Oleh Aswab Mahasin

Di dalam perjumpaan kebudayaan, seperti di tulis oleh Kuntowijoyo, “selalu ada kemungkinan bahwa kebudayaan atau ideologi yang lebih tinggi akan memengaruhi kebudayaan atau ideologi yang kurang kuat. Ideologi yang kuat akan mengubah ideologi yang lemah”. Pertanyaannya apakah selalu demikian?

Ini adalah kelanjutan dari tulisan saya di opini PMII Cabang Tegal dengan judul Meng-Indonesiakan Manusia Indonesia. Selain itu, merupakan momen tepat berbicara masalah ini, Indonesia sedang memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Tulisan ini akan memberikan wacana, bagaimana Indonesia dengan PBNU-nya (Pancasila, Bhineka, NKRI, dan UUD 45) mengurai benang kusut toleransi di tengah masyarakat multikulturalisme.

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia di Tengah Perjumpaan Serba Budaya

Makna yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah, perbedaan budaya, adat, kebiasaan, suku, ras, agama, dan sebagainya (multikulturalisme) di Indonesia—jangan dianggap sebagai pertentangan untuk saling merendahkan, mengunggulkan, atau bahkan merubah. Pertemuan kebudayaan di Indonesia sangat kompleks, tidak hanya sebatas satu atau dua golongan saja.

Rumusunnya begini, dalam kebudayaan tidak ada yang lebih unggul, semuanya setara. Mengaji budaya berbeda dengan mengaji ekonomi, politik, dan ilmu lainnya. Ketika kita berbicara ekonomi perbandingannya akan kentara antara bagian Afrika dan Amerika, Indonesia dan China, sedangkan dalamkebudayaan tidak ada standar mana lebih hebat. 

PMII Cabang Tegal

Semua kebudayaan luar biasa, karena setiap peradaban manusia selalu membawa kebudayaan.Di sini batasannya adalah akhlak/moral/etika, artinya, siapa saja yang bisa bergaul dengan berbagai golongan manusia, maka ia merupakan manusia berbudaya. 

Melihat dinamika Indonesia kini, pembentukan masyarakat multikurtural sepertinya kurang sehat. Gejolak di sana-sini tumbuh dengan berbagai “wajahnya”. Ada yang mengatasnamakan agama, tidak sedikit juga mengatasnamakan kesukuan. 

Berkaca pada sejarah, banyak kasus penderitaan (memakan korban) gara-gara “gagal paham” memaknai keberagamaan (pluralisme dan multikulturalisme). Pada tahun 2012 pernah terjadi konflik antar suku di Sigi, pada tahun 2013 perang suku di Papua, dan pada tahun 1996 perang suku di Sampit. Dan sekarang ini, gesekan agama sering muncul, sebagai proses perlawanan terhadap masyarakat yang dianggap kurang Islami dan kafir. 

Tidak hanya itu, ditingkat dunia—India siklus pergaulan sangat terganggu oleh perbedaan norma-norma kasta, perbedaan bahasa dan agama. Sedangkan kesatuan di tingkat Nasional terganggu juga oleh masalah kebijaksanaan bahasa nasional. Suatu masalah bahasa nasional ada juga seperti di Filipina. Dasar dari persaingan bahasa itu yakni bahasa Taglok dan bahasa Bisayan. Ilustrasi lagi negara Federasi Nigeria di Afrika Barat menggambarkan bagaimana suatu perbedaan kebudayaan antara suku-suku bangsa dan permusuhan yang bersumber kepada alasan sosial-ekonomis antara suku-suku bangsa di negara itu, dapat menjerumuskannya ke dalam suatu perang saudara (pembrontakan Biafra yang hendak memisahkan diri dari Federasi Nigeria), kejadian itu menghambat pembangunan negara Nigeria. (Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, 2007)

Dunia sedang termakan oleh buah pikiran penghuninya sendiri, posisi dunia bertarung dengan serba ideologi dan serba identitas. Anehnya, fenomena ini terlahir di dunia yang dianggap modern, di mana dunia telah melawati aura kegelapannya, dan berada pada zaman pencerahan. 

PMII Cabang Tegal

Saya sendiri lebih sepakat mengatakan bahwa pertentangan-pertentangan yang ada sekarang lebih kepada respon ideologi yang terus menerus diperdebatkan dan dianggap tidak ideal. Terlahirnya komunisme didasari atas kritik Marx terhadap kapitalisme, lahirnya demokrasi liberal didasari atas ketidakpuasan pikiran terhadap sistem yang menekan dan sistem-sistem lainnya yang dianggap tidak memberi kebebasan, dan begitupun seterusnya. Apalagi respon budaya, tentu lebih sensitif. Begitupun pertentanagan dalam agama, sama.

Di satu sisi saya meng-“amini” kekacauan dunia dilatarbelakangi atas ideologi tanpa ide, namun di sisi lain kehadiran hal tersebut wajib sebagai keniscayaan yang tidak bisa kita sumbat. Ini adalah narasi-narasi zaman yang harus kita terima.

Dinamika tersebut merupakan proses yang wajar, dan semua berhak hadir. Hanya saja, perjumpaan itu harus kita tangkap tidak hanya sebagai efek politik belaka, atau ideologi yang kaku/normatif. Melainkan sebagai pijakan ide untuk mengisi nilai tambah dalam transformasi kebudayaan dunia, khususnya Indonesia. 

Akar masalah

Kenyataan yang tidak bisa ditolak, negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok, etnis, budaya, agama dan lain-lain. Hal itu menjadi takdir pasti bagi manusia Indonesia. Kelahiran manusia ke dunia adalah keterlemparan, manusia semenjak berada di dalam perut Ibunya sudah terbeli oleh fakta-fakta, khususnya fakta yang melingkari dirinya; identitas keluarga, lingkungan, budaya, agama, dan kebiasaan.

Setiap fakta yang kita terima adalah nilai tersendiri. Pasti, standar nilai antara satu fakta dengan fakta lainnya berbeda. Dari situ tidak menutup kemungkinan ada perbedaan curam yang membuat gesekan antar setiap nilai. 

Namun, Indonesia sebagai negara-bangsa telah membangun kesepakatan objektif, dikibarkannya bendera Merah-Putih sebagai simbol jati diri bangsa, dipilihnya Pancasila sebagai filosofi, dan ditetapkannya Bhineka Tunggal Ika adalah perlambang “keperbedaan kita bagian dari kesatuan kita”, serta Undang-undang Dasar 45 merupakan tanda kemerdekaan Indonesia.

Hanya saja, keterbukaan segala rupanya pada saat ini menjadi titik tolak percampuran serba ideologi dan serba budaya. Kita tidak bisa membendung itu semua, memfilter pun kadang susah. Pada akhirnya, standar nilai yang kita miliki serasa kabur; gaya berpakaian, cara berbahasa, cara menghormati orang, dan cara mengartikan kesatuan. Efeknya, masyarakat lebih acuh dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar, didukung dengan era industri berkembang cepat. 

Pertarungan serba budaya ini menyerang dari berbagai sudut, tidak hanya kesatuan dalam arti multikulturalisme, ketahanan kebangsaan kita juga diuji oleh serentetan intimidasi kebudayaan baru yang datang, seperti; fenomena demam korea (melalui film/musik), fenomena barang bajakan (melalui tekhnologi), fenomena konspirasi pecah-belah (melalui media), fenomena pertentangan agama (melalui politik), dan masih banyak lainnya. 

Hal tersebut mungkin terlihat sepele, tapi dampak yang ditimbulkan tidak sesederhana kesan. Apalagi bagi manusia Indonesia yang kagetan. Di sini saya teringat kata-kata nyelenehseorang Penyair Ahmad Adib Amrullah mengatakan, “Indonesia tetap nomer satu, tetapi orang Indonesia entah nomer berapa”. Pesan itu menyiratkan ada salah instal budaya baru di Indonesia.

Mengakibatkan manusia Indonesia kehilangan nilai-nilai kebangsaannya, seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif dalam salah satu pemberitaan PMII Cabang Tegal yang bertajuk “Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi?”, dituliskan; salah, jika tekhnologi menjadi mercusuar dalam mengukur kemajuan sebuah bangsa, justru tidak banyak yang memahami bahwa inti dari kemajuan sebuah negara adalah bagaimana mereka mampu mempertahankan identitas kebangsaannya”. 

Terlihat jelas akar masalah dari ini semua, yaitu masyarakat Indonesia terjebak oleh gesekan serba budaya, sehingga mereka menjadi lupa untuk mempertahankan identitas dan nilai-nilai kebangsaaan. Sehingga kerusakan mental manusia-manusia Indonesia terus menjalar, sampai pada tatanan yang rapuh,  kalau kita gambarkan alurnya sebagai berikut; 

Pertama, disnilia, dalam hal ini kita telah kehilangan pijakan dasar, nilai-nilai yang kita anut sebagai cara hidup bermasyarakat sedikit demi sedikit mulai luntur, dan kehilangan nilai adalah tanda dari hilangnya identitas bangsa. Efeknya ketataan terhadap hukum, penghormatan terhadap perbedaan, kedamaian hidup berdampingan, akan terganggu.

Kedua, disorder, diawali dari hilangnya nilai, orang akhirnya tidak taat terhadap hukum. Melanggar hukum menjadi kelumrahan bagi kita, Ketiga, disharmonisasi, ketika tidak ada ketaatan terhadap hukum. Untuk merajut masyarakat yang harmoni tentu susah, masyarakat menjadi acuh.

Keempat, disorganisasi, ketidak harmonisan masyarakat, punya potensi besar untuk meruntuhkan bangunan besar perbedaan, seperti perbedaan agama, suku, ras, budaya, kebiasaan, adat, dan sebagainya, Kelima, disintegrasi. Nilai hilang, tidak taat terhadap hukum, keharmonisan sirna, kesatuan luntur, maka puncak dari semuanya adalah kehancuran, ketegangan-ketegangan akan nampak terus mengisi ruang publik. Konflik mudah terlahir. Keutuhan bangsa kita menjadi taruhannya.

Pendidikan sebagai titik temu

Memberikan penawaran solusi untuk melahirkan kehidupan selaras dalam berbangsa dan bernegara tidaklah mudah (apalagi multikulturalisme), meminjam istilah Koentjaraningrat, “Secara logika, memakan waktu banyak, dan membutuhkan perpindahan satu generasi”.

Jika kita tinjau kabar bangsa kita sekarang ini, ditingkat agama banyak pergesekan antar agama dan perbedaan pandangan (potensi gesekannya cukup lumayan), namun yang mengakibatkan hal ini menjadi masalah adalah mulai tersebarnya paham radikal dengan mengusung model dakwah arogan.

Di tingkat desa, kota, dan negara, potensi terpendam untuk konflik karena hubungan antar suku, seperti orang Jawa dan orang Sunda, suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Demikian pula tidak dapat kita ingkari, hubungan antara orang batak dan melayu di Sumatera Timur, antara penduduk asli dan orang transmigran di Lampung dan Sumatera Selatan, atau permusuhan secara adat antara rakyat dari berbagai kerajaan pribumi di Timor, dan masih banyak lainnya. (Koentjaraningrat, 2007)

Dalam hal ini, untuk menyekat atau memutus tabir konflik tidak lain melalui jalur pendidikan sebagai pemahaman awal masyarakat mengenai pentingnya hidup berdampingan. Ada hal menarik pernah dituliskan oleh Paulo Freire yang mengembangkan konsep pendidikannya bertolak dari pandangan tentang manusia dan dunia. Kodrat manusia, menurut Freire, tidak saja berada dalam dunia, namun berada bersama dunia. Manusia tidak hanya hidup di dunia tetapi hidup dan berinteraksi dengan dunia. (Siti Murtiningsih, Pendidikan Alat Perlawanan, 2004)

Hal tersebut menyiratkan pembelajaran yang ditekankan dalam pendidikan lebih dulu bertujuan membina kepribadian manusia, dan pendekatannya tidak melulu relasi antara guru dan murid, menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya hasil pemberian dari pendidik saja, namun buah dari keterlibatannya secara langsung dengan realitas yang dihadapinya.

Artinya, Freire mengedepankan pendidikan juga harus menampilkan gambaran besar mengenai realitas, untuk menanamkan rasa kebersamaan dalam menghapi kenyataan sebagai permasalahan yang harus dihadapi bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah. 

Dengan demikian, untuk membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, dan saling percaya, pendidikan tidak serta-merta mengkebiri peserta didik dalam ruanglingkup yang itu-itu saja, melainkan dibutuhkan keterlibatan nyata dari berbagai elemen dan lapisan, keluarga dan masyarakat. 

Khususnya di Indonesia, memberikan pemahaman secara langsung merupakan kewajiban, agar peserta didik sejak dini terinstal nilai-nilai kebangsaan tentang pentingnya hidup berdampingan. Dan kita semua, yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kesatuan serta keutuhan bangsa ini, harus terus konsisten mengingatkan mencontohkan, setidaknya memberikan pendidikan secara lapangan bahwa Indonesia harus dibangun dengan nilai-nilai yang luhur, nilai-nilai yang dinamis, dan nilai-nilai yang baik. Semoga Indonesia tetap menjadi bangsa dengan segudang rasanya. 

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam, Ulama PMII Cabang Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Kurangi Beban Orangtua, Pemerintah Jamin Biaya Pendidikan

Jakarta, PMII Cabang Tegal
Salah satu upaya mengurangi beban berat harus ditanggung kebanyakan para orangtua untuk menyekolahkan anaknya secara berkualitas adalah dengan jaminan riil biaya pendidikan kembali ditanggun oleh pemerintah seperti diamanatkan UU.  

"Kenapa Pemerintah tidak memberikan jaminan riil APBN dan APBD sebesar minimal 20 persen untuk anggaran pendidikan seperti diperintahkan Undang-Undang," kata Pengamat Pendidikan dari Universitas Lampung (Unila), Drs M. Thoha BS Djaya MS di Bandar Lampung, Minggu.

Menurut Thoha yang kini Pembantu Rektor III Unila itu, paling tidak di daerah-daerah, jaminan minimal 20 persen itu mulai dijalankan tanpa harus menunggu kesiapan anggaran pusat dalam APBN.

"Kebutuhan dana besar bagi pengelolaan sekolah dan pendidikan di daerah harus benar-benar ditopang oleh APBD karena kalau tidak, orangtua yang menanggung beban berat seperti sekarang ini," kata dia.

Thoha menyatakan, saat ini setelah pemerintah pusat tidak lagi menopang subsidi pendidikan seperti sebelumnya, sekolah-sekolah negeri dan swasta dituntut lebih banyak membiaya dirinya sendiri.

Padahal kebutuhan dana untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kelengkapan fasilitas pendidikan terus meningkat.

"Tidak ada jalan lain kecuali membebankannya kepada para orangtua siswa," ujar Thoha.

Tapi seharusnya selain dukungan riil 20 persen APBN dan APBD, dukungan dana pendidikan juga digali dari masyarakat secara luas, bukan melulu dipungut dari orangtua siswa.

"Kasihan orangtua yang berpendapatan rendah, sudah pasti akan minder dan berpikir dua kali menyekolahkan anaknya dengan biaya tidak terjangkau," katanya.

Pendapat serupa diungkapkan Ketua Komisi E DPRD Lampung, Ir KH Abdul Hakim Lc yang mengingatkan, di daerahnya semestinya pada APBD tahun 2004 sudah mulai direalisasikan ketentuan 20 persen untuk anggaran pendidikan.

"Paling tidak subsidi harus diberikan untuk pelaksanaan pendidikan dasar sembilan tahun di SD dan SMP yang tidak membebankan kepada orangtua terlalu berat," kata Hakim pula.

Ia malah berpendapat, idealnya dengan Program Wajar Sembilan tahun, selain penghapusan SPP, tidak ada lagi pungutan lain yang memberatkan baik di sekolah negeri maupun swasta.

"Harusnya subsidi diberikan pemerintah, tapi kenyataannya hampir tidak ada," kata Hakim lagi.

Namun begitu, dia mendesak pejabat berwenang untuk mengambil tindakan tegas terhadap keluhan besarnya pungutan dalam Penerimaan Siswa Baru (PSB) khususnya di sekolah negeri yang dinilai melampaui batas dan "mencekik leher" orangtua siswa.

"Bagaimana masyarakat yang tidak mampu bisa bersekolah tinggi walaupun pintar kalau tidak mampu memenuhi kewajiban membayar ke sekolahnya dan pemerintah tak dapat berbuat apa-apa," kata Hakim lagi.(ant/mkf)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Sejarah, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Kurangi Beban Orangtua, Pemerintah Jamin Biaya Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurangi Beban Orangtua, Pemerintah Jamin Biaya Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurangi Beban Orangtua, Pemerintah Jamin Biaya Pendidikan

Senin, 22 Januari 2018

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Batam, PMII Cabang Tegal

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta pengusaha hiburan Batam menghormati Ramadhan dengan menutup usaha selama umat muslim menjalankan ibadah di bulan suci tersebut.

“Selama 11 bulan, pengusaha mendapat keuntungan, jadi tidak ada salahnya, jika satu bulan ini aktivitas hiburan libur," kata Kiai Ma’ruf di Batam, Jumat (24/8).

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Minta Pengusaha Hiburan Batam Hormati Ramadhan

Ia mengatakan pemerintah kota pun harus bijaksana mengambil keputusan buka-tutup usaha hiburan di Batam untuk menghindari konflik antara pengusaha dan organisasi masyarakat Islam.

Menurut Rais Syuriyah PBNU itu, pemerintah kota Batam terlambat memutuskan buka-tutup usaha hiburan Batam selama Ramadhan. "Seharusnya sekarang sudah ada komitmen buka-tutup itu," katanya.

Di tempat terpisah, Walikota Batam Ahmad Dahlan mengatakan hingga kini belum ada keputusan buka-tutup usaha hiburan. "Masih dalam pembahasan awal Dinas Pariwisata," katanya.

PMII Cabang Tegal

Ia mengatakan, sebelum ada keputusan baru, maka peraturan? buka-tutup usaha hiburan mengacu masih tetap pada SK Walikota Batam No 10 tahun 2006. SK yang diterbitkan menjelang Ramadhan tahun lalu itu menegaskan penutupan usaha hiburan 15 hari ditambah dua hari sebelum bulan puasa dengan formulasi 2-8-2-5, tutup dua hari sebelum puasa, delapan hari pertama bulan Ramadan, dua hari Nuzulul Quran dan lima hari terakhir bulan Ramadhan.

Pengusaha tolak

Sebelumnya, pengusaha hiburan di Batam menolak usul Majelis Ulama Indonesia (MUI) menutup seluruh tempat hiburan malam selama Ramadhan untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah puasa.

PMII Cabang Tegal

Penolakan tersebut disampaikan pengusaha hiburan Batam kepada Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Syamsul Bahrum saat pertemuan tertutup di Batam, Kamis.

"Kata para pengusaha, supaya para pekerja tetap bekerja, dan mereka bisa memperoleh keuntungan selama Ramadhan untuk membayar gaji berikut THR," kata Syamsul di Batam, Kamis.

Menurut Syamsul, pengusaha menginginkan hanya tutup tujuh hari menjelang, saat dan usai Ramadhan. "Mereka memberikan dua formulasi 2-1-1-3 dan 2-3-1-3," kata Samsul.

Formulasi 2-1-1-3 yaitu tutup dua hari sebelum Ramadhan, satu hari di awal Ramadhan, satu hari saat Nuzulul Quran, dan tiga hari terakhir Ramadhan.

Sedangkan formulasi 2-3-1-3 adalah tutup dua hari menjelang Ramadhan, tiga hari diawal Ramadhan, satu di Nuzulul Qur’an dan tiga hari terakhir Ramadhan. (ant/lik)



Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Amalan, Humor Islam PMII Cabang Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

PMII Cabang Tegal

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Humor Islam PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock