Minggu, 04 Maret 2018

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Jakarta, PMII Cabang Tegal



Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, Selasa (3/05), sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Gelar Seminar Nasional dan Rembug Guru

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta ini adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan".?

"Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka hardiknas, semoga spirit Ki Hajar Dewantara dapat bersenyawa dengan kita, dan rembug guru ini adalah forum bapak/ibu guru untuk berjuang bersama baik itu terkait kompetensi guru maupun mengenai kesejahteraan," kata Aris Adi Leksono.

? ?

Dalam Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta hadir beberapa pembicara di antaranya H Nawawi (Anggota Komis E DPRD), Mahruz (Ketua PGMI), Amin (Kementerian Agama DKI Jakarta), Muhlis (Wakil Rektor UNJ), dan Kosman Marbun (Dinas Pendidikan DKI Jakarta).

PMII Cabang Tegal

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta Djaali dan ia merespon positif kegiatan ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Ulama PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal

Peduli Lingkungan, SMA Al-Muayyad Sambangi Kampung

Sukoharjo, PMII Cabang Tegal. Memanfaatkan jeda di akhir semester pertama ini, SMA Al-Muayyad Surakarta (SMALTA) mengadakan kegiatan kunjungan ke masyarakat. Kegiatan yang sudah berjalan untuk kedua kalinya ini diadakan di Desa Banmati, Kabupaten Sukoharjo.

Di tempat tersebut, para siswa yang notabene merupakan santri pondok, diajak untuk lebih dekat dan peduli kepada masyarakat. “Kami ingin dari kegiatan ini, para santri lebih mengenal kehidupan dan peduli dalam bermasyarakat. Sehingga nanti ketika mereka terjun ke masyarakat, mereka bisa lebih siap,” terang salah satu guru SMALTA, Muhammad Misbah kepada PMII Cabang Tegal, Senin (22/12).

Peduli Lingkungan, SMA Al-Muayyad Sambangi Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Lingkungan, SMA Al-Muayyad Sambangi Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Lingkungan, SMA Al-Muayyad Sambangi Kampung

Kegiatan yang dilakukan santri diawali dengan kerja bakti lingkungan. Para siswa ditugaskan untuk membersihkan jalanan kampung dan sebagian di halaman rumah warga. “Acara kerja bakti sampai siang kemudian bada Ashar dilanjut Muqoddaman dan bada Isya ditutup dengan acara pengajian bersama warga,” papar Misbah.

PMII Cabang Tegal

Seorang siswi, Dina Qoyyima, menuturkan, kegiatan kunjungan ke kampung ini memberikan banyak manfaat. “Semoga kelakm kami mampu mengapresiasikan apa yang telah di ajarkan di pondok pesantren sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar. Serta nilai yang terkandung dalam acara ini adalah kekeluargaan, kekompakan dan religius,” ujar siswi kelas XII IPA itu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal

PMII Cabang Tegal Lomba PMII Cabang Tegal

Sabtu, 03 Maret 2018

IPNU-IPPNU Rembang "Road Show" Sosialisasi Bermedsos yang Bijak

Rembang, PMII Cabang Tegal

Gelaran hari pertama rangkaian acara Road Show Blogger oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil mengunjungi dua sekolah, yakni MA Al-Azar Sale dan MA YSPIS Sedan. Para peserta antusias dalam mengikuti acara tersebut.

IPNU-IPPNU Rembang Road Show Sosialisasi Bermedsos yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Road Show Sosialisasi Bermedsos yang Bijak (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang "Road Show" Sosialisasi Bermedsos yang Bijak

Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengajarkan para pelajar NU untuk menggunakan media sosial (medsos) dengan bijak. Gencarnya situs radikalisme, lanjut Afaf, dalam bersosialisasi di dunia sosial harus diimbangi dengan sikap bijak dan teliti dalam menggunakan media internet.

"Tentunya dengan kematangan cara berpikir dan pola penggunaan internet yang bijak, maka para pelajar NU tidak akan mudah terprovokasi dengan adanya situs-situs radikal yang gencar dan banyak bertebaran di dunia maya," terang Afaf, Kamis (12/5) sore, di Aula MA YSPIS Sedan.

PMII Cabang Tegal

Para peserta yang mengikuti kegiatan road show blogger yang bertema, "Berakhlakul Karimah di Dunia Maya" tersebut. Gelaran road show ini direncanakan akan digelar selama 7 hari ke depan dan akan mengunjungi 8 sekolah dibawah naungan LP Maarif NU Kabupaten Rembang.

PMII Cabang Tegal

Selaku Narasumber acara M Zaim Cholil Mumtaz mengatakan, ada banyak sekali penyalahgunaan media sosial saat ini. Di antaranya adalah sebagai media sosialisasi bagi para teroris. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada tahun 2011 telah mengidentifikasi tujuh bentuk penggunaan dunia maya untuk kepentingan terorisme.

"Di antaranya propaganda, perekrutan, pendanaan, pelatihan, perencanaan, penyebaran teror, dan cyberattack (penyerangan melalui internet)," terang adik kandung H Yaqut Cholil Qoumas selaku Ketua PP GP Ansor tersebut.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir sebagai narasumber dari Gerbang atau Komunitas Blogger Rembang yang menyampaikan materi tentang penggunaan media sosial yang bijak. Mereka menyampaikan cara memanfaatkan media sosial sebagai media pembelajaran dan berwirausaha.

Pimpinan Komisariat IPPNU MA YSPIS Sedan Asiyati Ana Safitri mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini para siswa mendapatkan pengalaman dan ilmu tentang bagaimana penggunaan media dengan baik. "Jadi bukan hanya update status saja, kita juga harus bijak dan produktif dalam penggunaan media sosial," terang Asiyati yang juga salah satu peserta road show. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Pahlawan, AlaSantri PMII Cabang Tegal

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal” (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Penggagas Istilah “Halal Bihalal”

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul Halal bi Halal dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

PMII Cabang Tegal

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujzau" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq

PMII Cabang Tegal

?

KH Masdar Farid Mas’udi

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Nasional, Nahdlatul Ulama PMII Cabang Tegal

Jumat, 02 Maret 2018

Politik Pertanian

Oeh Bisri Effendy-Bagi seorang petani, menanam padi tidak sekedar menabur benih di sebuah lahan, mengairi, menyiangi, dan memanen. Ia bertemali dengan kekuatan alam lain di luar diri sang petani.

Sangiang Sri seperti yang termaktub dalam La Galigo atau Dewi Sri dalam mitologi Jawa adalah sebuah kekuatan gaib yang amat berpengaruh pada penanaman padi. Biji benih, kesuburan, dan keberkabahan dikaitkan dengan seberapa jauh kekuatan itu “turun tangan” ke dalamnya. Dalam konteks itu, kita mengenal berbagai ritual menyongsong, merawat, dan menyudahi proses penanaman padi.

Politik Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Pertanian

Beras, bagi petani, bukan hanya dilihat sebagai soal ekonomi untuk memenuhi kebutuhan kalori, protein, dan vitamin, tetapi juga merupakan tanaman firdaus yang memiliki kekuatan misterius untuk menguatkan lahir-batin. Sejumlah mitos menyatakan bahwa beras adalah “makanan Ilahiah” (rohaniah) yang dapat menimbulkan kekuatan, keberdayaan, dan mencegah kemalasan dalam meniti kehidupan sehari-hari.

Modernisasi pertanian (revolusi hijau) pada awal 70-an oleh negara yang didukung pemodal dan kaum terpelajar berupa intensifikasi menyebabkan tidak hanya perubahan jenis bibit padi dan perawatannya tetapi juga pandangan masyarakat terhadap padi dan seluruh yang berkaitan dengannya. Beras sebagai “makanan Ilahiah” dan proses produksi yang serba sakral (suci) menjadi makanan murni biologis yang profan (duniawi) dan diproduksi secara rasional tanpa kaitan dengan mahluk gaib dan upacara-upacara mistis.

PMII Cabang Tegal

Bukan hanya modernisasi, agama yang berwatak puritan (tekstualistik) berperan penting dalam mengubah religiusitas (sakralitas) pertanian. Praktik ritual pertanian yang juga amat penting dalam menjaga keimbangan mikrokosmos-makrokosmos justru dianggap menyimpang dari ajaran, bahkan sebagian kaum puritan ini memandangnya sebagai kufur dan musyrik. Dengan berbagai cara praktik-praktik ritual itu disirnakan yang menyebabkan dampak modernisasi di atas makin kuat dan terlegitimasi.

PMII Cabang Tegal

Praktik ritual menjelang tanam maupun pasca panen di sebagian daerah memang masih terselenggara, tetapi makna subtantif di dalamnya bisa dipastikan telah menghilang. Apalagi sejak ritual-ritual itu – dan ritual-ritual lain – sengaja diinvensi untuk kepentingan-kepentingan eksternal di luarnya seperti pariwisata. Sejak awal 80an, ritual pertanian yang tersisa berubah sebuah pertunjukan untuk ditonton oleh orang-orang di luar komunitas pemilik/pendukungnya.

Implikasi lebih lanjut adalah mengenai pandangan para petani terhadap tanah. Modernisasi pertanian dan pemurnian agama (dari nilai-nilai budaya lokal) perlahan mengusik dan akhirnya melenyapkan sakralitas tanah. Keyakinan petani bahwa tanah adalah suci, bagian tak terpisah dari diri manusia, dan sumber keberkahan berubah menjadi profan, duniawi semata. Dalam pandangan petani tempo dulu, mengeksploitasi, merusak, dan menodai tanah merupakan pantangan yang tak boleh dilanggar. Hubungan kultural-teologis antara manusia dan tanah menjadi lenyap bersama hilang/berubahnya ritual-ritual pertanian sebagai penanda hubungan tersebut.  

Sebaliknya, kini, para petani umumnya menganggap, seperti dianjurkan modernitas dan puritanisme, bahwa tanah hanyalah sebuah hamparan bumi yang dieksploitasi sepenuhnya untuk manusia, sesuatu yang profan, dan tidak ada kaitan teologis maupun kultural dengan manusia. Hubungan manusia dan tanah adalah hubungan temporer, penuh kesementaraan, dan tidak ajeg.

Dalam konteks seperti itu, monopoli negara atas tanah dapat diundangkan dan praktik-praktik penggusuran atau pemisahan tanah dari pemiliknya turun-temurun menjadi hal yang wajar, legal, dan dianggap bukan persoalan. Demikian pula wajar jika keteguhan dan kegigihan mempertahankan bukanlah soal teologis dan kultural tetapi murni ekonomi dan politik yang rawan konflik.

Bisri Effendy adalah budayawan, mantan peneliti LIPI         

    

        

      

    

    

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Habib PMII Cabang Tegal

Kamis, 01 Maret 2018

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan

Subang, PMII Cabang Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang sedang giat menunjukkan eksistensi jam’iyyah yang didirikan para ulama tahun 1926 tersebut dengan motto "NU makin dikenal, dicintai, dan dibutuhkan masyarakat."

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Subang KH Musyfiq Amrullah, untuk mencapai tersebut dimulai dengan pembenahan organisasi mulai dari MWC hingga ranting-ranting.

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Subang, Makin Dikenal, Dicintai dan Dibutuhkan

Pihaknya juga merapatkan barisan di antara pengurus NU dengan mengadakan Majelis Rabuan, pertemuan yang digelar setiap hari Rabu, tiap seminggu sekali. Tujuannya untuk saling bertukar pikiran antara Banom, lajnah, dan lembaga NU Subang.

PMII Cabang Tegal

“Mereka sudah tahu semua, IPNU, Ansor, Fatayat, IPPNU, mereka kemudian sering berkoordinasi dengan kita. Kegiatan-kegiatan kita sejalur dan terkoordinasi dengan baik,” ujar Kiai Musyfiq.

PMII Cabang Tegal

Menurut Kiai pengasuh Pesantren At-Tawazun ini, NU Subang sering mengadakan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat, misalnya dengan menyelenggarakan Yaumul Ijtima’.

“Yaumul Ijtima’ ini digelar secara periodik tiap bulan. Selain ceramah, sering diadakan bahsul masail. Tempatnya pindah-pindah dari satu MWC ke MWC lain. Biasanya dilaksanakan di masjid-masjid dan pesantren-pesantren."

Yang sudah kita lakukan antara lain, sambung Ketua PCNU yang terpilih tahun 2008, Pesantren Al-Istiqomah, Cisalak, Pesantren Al-hidayah di Pagaden Barat, di As-Salfiyah di Pantura, di SMP NU Gofarona, Pesantren At-Tawazun, sisanya di masjid-masjid.

“Yaumul Ijtima’ yang dibarengi tabligh akbar biasanya dihadiri tidak kurang seribu orang,” ujarnya.

Pihaknya juga mengadakan pelatihan-pelatihan seperti kader khotib dan mubaligh, kepemimpinan, perekonomian dan pemberdayaan umat, hingga masalah hukum.

PCNU Subang juga menjalin hubungan silaturahim dengan pemerintah dan ormas-ormas lain. “Kita pernah mengadakan protes Perda miras bersama ormas-ormas lain. Dan selama ini tidak ada semacam gesekan.”

Kiai Musyfiq menambahkan, hubungan dengan kalangan non-Muslim juga pernah dilakukan; seperti yang dilakukan GP Ansor Subang yang menjaga gereja ketika kalangan Kristiani merayakan Natalan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Humor Islam PMII Cabang Tegal

Rabu, 28 Februari 2018

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Jakarta, NU Onilne. Islam Nusantara mempunyai karakter yang khas, yakni tidak homogen. Umat Islam mempraktikkan ajaran dalam bentuk yang berbeda-beda. Nilai-nilai Islam mewujud dalam bermacam-macam tradisi yang diamalkan dari waktu ke waktu.

“Jawa Tengah dan Jawa Timur saja berbeda. Apalagi sampai ke Kalimantan dan Sulawesi,” kata sejarawan pesantren Zainul Milal Bizawie dalam diskusi Islam Nusantara di kampus utama STAINU Jakarta di kawasan Matraman Jakarta Pusat, Jum’at (8/5). Diskusi rutin ini diikuti para dosen dan pimpinan STAINU Jakarta.

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)
Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen (Sumber Gambar : Nu Online)

Milal Bizawie: Karakter Islam Nusantara Tidak Homogen

Menurutnya, tradisi keagamaan yang berbeda itu tidak perlu diseragamkan. “Kalau diseragamkan ya jadinya kayak Arab Saudi,” kata penulis buku “Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad” serta “Syekh Mutamakkin” itu.

PMII Cabang Tegal

STAINU Jakarta merupakan kampus yang pertama memelopori kajian Islam Nusantara. Dalam kesempatan itu, Milal mengingatkan, Islam Nusantara di STAINU bukan sekedar obyek penelitian. Sebaliknya, Islam Nusantara menjadi subyek atau semacam pisau analisa untuk mengamati dan menilai berbagai praktik keagamaan di luar.

PMII Cabang Tegal

Milal menambahkan, salah satu karakter Islam Nusantara dalam hal keilmuan seperti dipraktikkan di pesantren adalah prosesi pembaiatan. Ini berkaitan dengan sanad keilmuan dan pertanggungjawaban moral atas ilmu yang didapatkan.

Selain itu, Islam Nusantara mengenal konsep berkah atau barokah, dalam pengertian hubungan guru dan murid tidak berlangsung secara intelektual, tetapi juga spiritual. “Barokah inilah yang sekarang dihilangkan dari dunia akademis,” ujarnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

PMII Cabang Tegal Hikmah, Humor Islam, Pondok Pesantren PMII Cabang Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs PMII Cabang Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik PMII Cabang Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan PMII Cabang Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock